
***
Dirinya di sana, di hadapan altar, berucap sumpah lalu bacakan prosa indah yang ditulis, Lang Leav sementara wajah kekasih berbinar seperti mentari pagi, hangat dan menghanyutkan.
Love looks pretty on you. Makes you soft, tender, proud. Makes you sit up and take notice. Gives you a home to set down your things.
What a blessing it is, to have music and dancing and poetry. What a gift it is, to look at someone and say,
I’m so happy to have found you – at last, at last, at long, long last – you're here.
Kerudung dibuka dan Reinha yang cantik jelita dalam gaun pengantin Ballgown mewah tersenyum lembut padanya. Mereka berciuman diiringi tepuk tangan.
Berpindah ke pondokan di dalam ruangan yang dipenuhi jutaan mawar, Reinha dalam lengannya tidur dalam gelisah.
"Aku takut kau pergi dan menghilang, Lucky ...."
"Tidak akan tanpa seijinmu, Enya ...."
"Tapi di mana kau, Lucky? Jika kau tak kembali! Aku akan datang mencarimu." Berbisik lembut tetapi ketakutan.
"Jangan datang, Enya!"
"Aku mencintaimu, Lucky Luciano. Aku akan menemukanmu."
"Enya ...."
"Lucky, kembalilah padaku! Aku merindukanmu!"
Tembakkan membabi buta ke arah mobil, sangat tergesa-gesa. Mobil akan meledak, ia berlari menyilang ke pinggir hutan, hindari peluru, kehabisan amunisi. Pesawat menjauh, hatinya ikut pergi pada seorang gadis. Satu anak panah melesat.
"Enya, keberuntunganku habis. Maafkan aku!"
****
Beberapa Minggu dalam perawatan, tubuh yang tak bernyawa kembali temukan kehidupan meskipun mata belum terbuka. Tubuh Lucky Luciano ditempeli ramuan dan rempah - rempah dililit kasa putih dibungkus seperti Mumi. Infus terpasang di tangan dan pria itu perlahan membaik. Wajahnya mulai kembali dialiri darah begitu pula ketampanannya makin fantastis.
"Enya ...."
Bibir yang kaku mendesah nama Enya di antara janggut yang tubuh tak beraturan di sepanjang rahang dan pelipis. Pupil matanya berkedip.
"Dia bergerak!"
Ratruitanae tanpa sadar memekik hingga Cataleia yang masih tampak pucat oleh peluru yang bersarang di lengannya hingga sebabkan ia sekarat, menyipit curiga pada kakaknya.
"Dia bergerak!" ulang Ratruitanae sadari bahwa ia terlalu ekspresif kemudian mengubah intonasi suara hingga kembali datar seperti ia biasanya berbicara. Mudah menyerah, sebab ia akhirnya mengulas senyuman senang.
"Ya, ya, hanya menunggu waktu ia akan siuman, Nona," sahut Tabib. "Apa kau senang sekarang? Kau abaikan segala urusan hanya untuk bicara pada pria yang separuh mati!"
"Beruntung ia tak ditemukan oleh suku Wofai," sahut Ratruitanae abaikan perkataan sang tabib, ubah haluan percakapan.
Wofai, hanya berisi para wanita tanpa pria. Mereka akan dengan senang hati merawat Lucky Luciano dan jadikan pria itu "pejantan" sebelum lepaskan dia pergi. Suku itu sangat benci pada pria tetapi tetap butuh untuk hasilkan keturunan. Kelahiran bayi laki-laki akan dibuang, tetapi kelahiran bayi perempuan akan dijaga kelangsungan hidupnya dan dididik jadi petarung yang hebat.
"Sungguh diberkati, dan kau sangat gigih menemukannya, apakah demi imbalan? Aku melihat sesuatu yang lain."
"Aku harus pergi karena banyak urusan," jawab Ratruitanae tak ingin bahas lebih lanjut. Rambut gelombangnya melambai-lambai saat ia berbalik hendak pergi.
"Oh lihatlah! Tuan Luciano kembali bergerak." Cataleia mengangguk kearah tubuh Lucky Luciano buat Ratruitanae berhenti melangkah dan kembali menegang. "Kau berhasil selamatkan dia, Kak!"
"Kita berhasil!" ralat Ratruitanae tak ingin adiknya salah mengerti.
"Aku temukan sesuatu yang sangat indah di dadanya." Ketiga orang amati tubuh yang terbaring di atas ranjang dari jarak jauh. "Lukisan seorang wanita cantik, seorang peri," lanjut sang tabib.
"Mungkinkah istrinya? Kudengar, Istrinya sangat cantik dan masih muda belia, masih seorang pelajar menengah. Tuan Lucky bahkan menyebutnya Malaikat Kehidupan." Cataleia diam-diam mencari tahu.
"Namanya E-N-Y-A," kata sang Tabib, "tertulis di lengan dalam, buku jari dan di dadanya. Gadis itu sangat cantik. Kurasa ia sangat mencintai istrinya."
"Ya, aku dengar, Anda mengulang-ngulang soal istrinya." Ratruitanae menengok pada sang tabib.
"Itu artinya, kau wajib beritahu Tuan Costello bahwa Tuan Luciano telah ditemukan dan Tuan Costello harus kabari istrinya!"
Seseorang menyela percakapan mereka, tiba-tiba masuk dan lemparkan tatapan penuh curiga.
"Magnolio?!"
"Ya, Ratruitanae ... cukup sudah sembunyikan Tuan Lucky Luciano, harusnya kau beritahu keadaannya pada Alberth saat dia kemari!"
Magnolia bicara tidak suka pada kakaknya saat amati, baik Ratruitanae dan Cataleia bolak-balik urusi Lucky Luciano. Magnolia mengendus, semoga dua saudarinya tidak jatuh cinta pada Tuan Luciano. Ia akan awasi keduanya.
"Akan kulakukan saat dia benar-benar sembuh!"
"Baiklah! Jangan kehilangan pedoman, Ratrui! Kau dan Cataleia bisa berakhir bersama pria itu jika kau tak bisa kendalikan dirimu, Sister!"
"Magnolio, kita punya banyak urusan penting bukan?"
"Tentu saja, dan itulah mengapa kau tak harus habiskan waktu dengan terus melihat keadaannya! Apa tujuanmu sebenarnya?"
"Magnolio?"
"Jika kau tak kabari Alberth, aku yang akan lakukan itu! Aku pikir, berhentilah bermain - main dengan Tuan Luciano, Sister!" ujar Magnolio perhatikan reaksi dua saudarinya. "Aku akan pergi menjemput guru yang bertugas hari ini! Kau tahu bahwa para pembajak emas tak berhenti beraksi, mati satu tumbuh seribu. Para Suster membawa banyak bantuan buku!"
Magnolio pergi dari sana setelah beri warning pada dua saudarinya bertemu saudari lain di depan rumah tabib. Mereka hendak mengintip Lucky, Magnolio mengusir mereka dari sana.
Lucky Luciano telah kacaukan mata para gadis di desa ini sejak kedatangannya.
****
Sementara, Reinha Durante untuk pertama kali dalam hidup pergi sangat jauh dari rumah. Meskipun ia tampak pemberani, Reinha Durante hanyalah gadis berusia 18 tahun. Ia bukan gadis kaya yang suka bepergian naik kapal pesiar mewah seperti gadis-gadis kaya lainnya arungi samudera luas pergi dari satu benua ke benua lain, sebab saat liburan, kerjanya mengurusi Dream Fashion. Juga dikarenakan, Elgio dan Tuan Abner telah terapkan frugal living (hidup hemat), hanya maksimalkan uang untuk hal-hal tertentu, berfoya-foya bukan gaya mereka.
Ia sebenarnya kurang pergaulan. Sahabat satu perguruannya adalah Claire Luciano, Ethan Sanchez juga Abram Hartley. Sama sepertinya Claire habiskan liburan untuk bekerja. Ethan Sanchez hobi bekerja dan punya banyak tempat kerja. Sedangkan Abram Hartley, si berandal, tanpa kerja tapi selalu tampak sibuk bekerja. Sekalinya mereka pergi jauh, ketika mereka ikutan kemping musim panas ke Vicetin Beach.
Reinha berjanji setelah bertemu Lucky, mereka akan pergi mengunjungi Guadalest di Spanyol. Ingin habiskan hari yang menyenangkan, berciuman dengan Lucky Luciano dari atas tebing-tebing kapur putih Sierra d'aitana, memandang ajaibnya laut lepas Mediterania. Pertama, ia harus temukan suaminya.
Naik pesawat militer, Reinha Durante berkerudung Suster dan gunakan name tag dengan nama, Sr. Gemma Bernadeth. Ia bersama para Suster lain akan di antar ke sebuah Parroquia (Paroki) yang ada di kawasan Pesisir Timur dan mulai bertugas untuk layanan kesehatan, pendidikan juga kegiatan kemanusiaan lainnya. Ia telah banyak download video model pembelajaran untuk anak-anak sebab ia akan mulai menyusup ke desa Thomas dan mengajar di sana.
"Oh ya, Mr. Luciano, kau bermasalah kini," guman Carlos perhatikan Reinha Durante, terus menerus mendesah berat sebab ia yakin jika sesuatu yang buruk menimpa Reinha maka ia akan berakhir di tangan Elgio Durante dan Abner Luiz. Dibalik kerudung, Reinha bahkan terlihat kelewatan cantik dan Carlos benar-benar takut Reinha akan dapat masalah karena kecantikannya itu. Tidak heran, Lucky Luciano sangat memuja istrinya.
"Aku hanya bisa temani-mu sampai ke perbatasan, Reinha. Ya Tuhan, mengapa kau sangat nekat? Aku mungkin akan mengirim seseorang untuk menjagamu. Kau tahu bahwa wajahku terlalu fenomenal. Jika aku ikut dirimu bisa jadi kita tak akan berhasil temukan Lucky Luciano!"
"Bisakah aku lolos, Carlos. Aku bawa Matakia Mou. Aku tak bisa biarkan dia merana tanpaku, mungkin aku butuh dia saat tersudut atau aku butuh dia untuk lubangi jantung Lucky Luciano jika kudapati dia bersama Puteri Thomas Adolfus."
"Reinha?! Senjata dilarang masuk kawasan itu? Lagipula para sukarelawan tak boleh bawa-bawa senjata."
"Kau akan atur itu untukku, Carlos. Aku tinggalkan 'matakia mou' padamu dan kau akan kirimkan dia saat aku sampai di Biara. Aku akan hubungimu ketika aku berhasil temukan Lucky. Berjanjilah kau akan datang untuk menjemput kami. Jangan buat alasan Carlos Adelberth, kau akan datang seperti saat kau pergi untuk bawa Oriana kembali."
Matakia Mou (Mata Kecilku), samaran Reinha untuk Barret M82, miliknya.
Carlos lagi-lagi hempaskan napas berat. "Baiklah, aku mungkin tak bisa jalankan tugas dengan benar sebab terus memikirkan keselamatanmu! Kirimkan aku jadwal kegiatanmu, Reinha! Hubungi aku kapan saja, aku akan segera datang!"
Carlos tak tahu harus bicara apa. Tetapi Reinha benar, para penambang liar kadang datangi posko sukarelawan untuk menjarah stok makanan, Reinha mungkin bisa lindungi dirinya sendiri saat terdesak.
Di sanalah Reinha akhirnya.
Pesisir Timur, wilayah yang diagungkan Lucky Luciano sebagai rumah sejak kecil, benar-benar hanya belantara, rimba luas di mana embun menetes jatuh ke atas harta Karun dan air mengalir di sela-sela bebatuan tempat fosil melapuk jadi sumber minyak. Tempat indah tetapi terdapat banyak kebengisan dibalik-balik pohon-pohon tua dan besar.
Mereka naik perahu berjam-jam, tak bisa naik pesawat lantaran sedang terjadi aksi balas dendam antara warga dan para penambang liar. So many resistance, Dan menurut Carlos kadang tak terduga. Mereka tak bisa ambil resiko. Reinha telah pelajari peta Pesisir Timur dan temukan bahwa dari Biara ke kediaman Thomas hanya berjarak 2 jam naik perahu motor dan satu jam menyusuri lereng. Atas bantuan me-lobi Padre Pio, Reinha akan jadi guru untuk anak-anak di desa Thomas. Reinha yakin bahwa Lucky Luciano ada di tempat itu. Hatinya seperti kompas terus berkibar ke sana.
"Suster Bernadeth, Anda dijadwalkan mengajar anak-anak di Desa Tuan Thomas Adolfus 3 kali seminggu." Suster Teresa, kepala biara, bicara dengannya di ruang makan. "Tetapi karena Anda masih baru, Anda akan ditemani Sr. Felicitas."
Senin pagi ketika aktivitasnya dimulai, tak bisa dipungkiri, beraninya sedikit menciut bahwa ia mungkin akan berhadapan dengan orang-orang pedalaman yang primitif. Wanita pedalaman Pesisir Timur terkenal dengan warna mata biru mereka yang sangat cantik dan memikat tetapi kaku dan kikuk. Mereka hidup dalam kesulitan, dididik keras untuk jadi prajurit. Pada umumnya warna kulit mereka kuning kecokelatan dengan rambut gelombang yang indah, terlebih wajah mereka yang berkarakter kuat dan tegas.
Salah satu suku Pesisir Timur adalah Suku Kaum Wanita, di mana, tak ada pria di suku itu. Jika ingin keturunan, mereka akan mengintai pria perkasa dan menculiknya untuk dijadikan "Teman Tidur Satu Malam" sebelum dikembalikan ke tempat asal si pria. Jika si gadis hamil dan lahirkan bayi laki-laki, maka bayinya akan dibuang di hutan sedang kebalikannya jika bayi perempuan maka akan dipelihara dengan baik dan dilatih setangguh prajurit. Membaca sejarah wilayah itu, Reinha pening sendiri. A lot of problem dan siapapun pemimpin negara tak pernah berhasil selesaikan permasalahan di Pesisir Timur.
Di tengah perjalanan, perahu yang ia naiki dibuntuti sebelum mepet pada perahu mereka.
"Oh siapa mereka?" tanya Reinha saat melihat sebuah perahu berisi para pria dengan banyak senjata dan pengikat kepala.
"Mengapa mereka menghadang kita?"
"Mereka ingin menjarah kalau-kalau kita mungkin saja membawa senjata atau makanan."
Dua orang melompat ke perahu mereka sedang kapal melaju, mereka dibajak.
"Kapal ini hanya berisi buku!" seru Suster Felicitas di antara deru perahu.
"Geledah perahu ini!" perintah seorang pria paling besar dari perahu sebelah.
Anak buahnya dengan gaya urakan memeriksa kapal, menendang sesuka hati, membongkar paketan buku. Beberapa ikat buku dilempar ke sungai.
"Hei, itu hanya buku untuk anak-anak!" jerit Reinha tanpa sadar. Suster Felicitas pegangi tangannya kuat, minta untuk kendalikan emosi. Si penambang liar berbalik padanya, mendekat.
"Perahu ini milik kami, Suster!"
"Tolong, jangan lakukan ini, Tuan."
Reinha tak percaya ia baru akan jalankan misi dan telah dihadang masalah. Tak mungkin melawan sebab mereka terlihat sangat buas dan tak main-main.
"Tuan, Anda boleh mengambil perahu kami tetapi biarkan kami menepi." Suster Felicitas bicara dengan halus dan lembut, mereka dilatih untuk tenang dan mengasihi sesama meskipun nyawa adalah taruhan. "Anda tahu bahwa penyerangan terhadap pendidik juga Biarawati seperti kami akan akibatkan kecaman luas dari negara dan dunia pada kalian?"
"Apa aku terlihat peduli, Suster? Kami akan bunuh Anda di sini, dan limpahkan kesalahan pada Thomas Adolfus."
Para pengikutnya terkekeh senang oleh ide bosnya. Reinha dan Sr. Felicitas saling menggenggam tangan. Reinha menggigit bibir menahan tangisan. Mungkin ia tak akan temukan Lucky, ia akan berakhir di tangan penambang liar. Ia tak bawa senjata, meskipun ia punya, mereka terlalu banyak. Ia tak ingin mati sia-sia sebelum bertemu suaminya. Apakah kau ingin seperti ini Lucky Luciano?
"Anda akan turun sendiri ke sungai ataukah butuh pengungkit?" tanya si pria dengan wajah mengerikan. Moncong senjata terarah pada mereka.
Suster Felicitas terlihat gelisah melirik pasa sungai yang tampak tenang, lepaskan genggaman, mengangguk pada Reinha agar mereka turun saja ke sungai, mundur ke ujung kapal tanpa sengaja tersandung tali dalam dek perahu hingga terjerembab dan jatuh ke sungai.
"FELICITAS?!"
Reinha memekik. Oh ya Tuhan, ini tidak benar tetapi tak bisa ambil resiko, ikut melompat ke sungai berenang ke arah Suster Felicitas. Meraih temannya saat itulah sebuah helikopter menderu di atas mereka, terbang dengan cepat. Eurocopter yang luar biasa mempesona, Reinha tahu siapa yang datang. Para penambang liar tembaki benda yang tampak angkuh melayang di udara. Tak tinggal diam, sekali lepas dua buah rudal meluncur dari kedua sisi dan segala macam peluru melesat turun, hancurkan perahu para penambang liar. Seketika perahu para penambang liar meledak. Para pria yang selamat di sungai bahkan ditembaki dari atas. Benda itu terbang rendah, memutar sedikit miring dan Carlos kirimkan tanda cinta dari atas sana, awasi Reinha. Sebuah perahu datang dari arah berlawanan.
"Itu milik Tuan Thomas. Kurasa Tuan Magnolio, datang menjemput kita, Suster. Ya Tuhan kurasa kita harus cepat naik ke perahu, Suster Bernadeth. Darah di air akan memancing segerombolan ikan monster datang dan memakan habis daging tubuh kita."
"Mari kembali ke perahu!"
Susah payah berenang cepat kembali ke perahu ketakutan pada ikan monster sedang perahu Tuan Adolfus mendekat. Senjata para prajurit terarah pada helikopter dalam posisi siaga tapi tak menembak hanya bersiap menyerang. Sepertinya mereka tahu bahwa helikopter dikendarai petugas patroli. Beberapa orang pria ingin membantu Reinha juga Sr. Felicitas naik perahu tetapi Reinha berhasil kembali ke perahu dan menarik temannya. Mereka harus menjaga diri untuk tidak bersentuhan dengan para pria.
"Apa Anda baik-baik saja Suster Felicitas?" tanya Reinha. Jubah dan kerudung mereka basah kuyup.
"Sepertinya kau terluka, Suster Bernadeth?" Suster Felicitas hendak memeriksa Reinha.
Reinha menggeleng lesu, "Tidak. Aku bisa obati nanti!"
Carlos beri hormat pada Magnolio dan pergi dari sana sisakan Magnolio yang mengerut amati benda itu menjauh. Lewati satu rintangan, seperti mimpi, Reinha memeluk tubuhnya, sembunyikan wajahnya di pangkuan dan terisak sangat pelan di balik tumpukan dus-dus buku. Saat ia hadapi Valerie, sangat besar kepala sebab Elgio, Lucky dan Francis ada di sisinya. Ia sok berani karena tahu ketiga pria itu akan lindunginya. Meskipun ketiganya tak ada hanya Carlos Adelberth tetapi tetap saja hatinya berlubang di banyak tempat. Reinha mengusap air mata tak ingin ada yang tahu ia bersedih, mencoba tegar, berjanji akan selipkan pistol di paha ketika ia datang lagi meskipun mungkin akan melanggar aturan kesucian jubah yang ia pakai.
Matahari bersinar terang, cukup hangat untuk mengusir dingin. Mereka dipindahkan ke perahu Thomas Adolfus dan diberikan mantel dari bulu yang hangat.
"Apakah Anda serius bahwa banyak ikan monster di sungai ini?"
Suster Felicitas mengangguk. "Ya, meski populasinya berkurang jauh tapi tidak aman berada di sungai. Biasanya kita gunakan pesawat kecil, Suster, tetapi situasi sedang kacau saat ini."
Mereka masih harus naik mobil selama 40 menitan menyusuri lereng. Jika ia datang untuk liburan, suasana hijau yang ia lihat sungguh indah. Tetapi hatinya sangat gelap, ia mulai terserang pesimistis. Mereka tiba dengan cepat dan digiring ke perumahan komunal, dijelaskan tentang kehidupan Thomas dan keluarganya. Anak-anak Thomas sisakan keheranan tanpa batas bagi Reinha. Komunitas berisi anak-anak yang punya pupil mata banyak warna begitupula kulit mereka yang beragam, punya umur dan tinggi beragam berdiri seperti susunan tangga dan menurut Sr. Felicitas, mereka bersekolah reguler dulunya sebelum sekolah mereka dihancurkan oleh penambang liar. Krisis kemanusiaan.
"Tuan Magnolio, ini Sr. Gemma Bernadeth yang akan mengajar adik-adik Anda bersamaku."
"Selamat pagi, Tuan," sapa Reinha. Meskipun mantel bulu domba menyelimuti tubuhnya tetapi tak buat ia kering. Kerudungnya basah.
Alih-alih membalas sapaannya, Magnolio malah mengawasi seakan-akan ingin menguji kedalaman jiwa, mencari tahu seberapa bisa Reinha dapat dipercaya. Itu buat Reinha sangat tidak nyaman. Pria itu telah awasi dirinya sejak dari perahu tadi.
"Mengapa Anda terlihat sangat gelisah, Suster Gemma Bernadeth?" tanya Magnolio terlihat senang berhasil menggertak. Bola mata biru-nya menghujam Reinha tajam.
Ya Tuhan, terkutuklah kau Lucky Luciano.
"Maafkan aku, Tuan. Aku mungkin gugup karena ini pertama kali aku bertemu para penambang liar, nyaris dibunuh beruntung petugas patroli selamatkan kami. Maafkan kami, buku-buku yang kami bawa sebagian dibuang ke sungai."
Reinha temukan jawaban acak di antara isi otaknya.
"Keringkan tubuh Anda, didekat perapian, Suster. Anda bisa mengajar setelah tubuh Anda kering." Magnolio dan mata tajamnya berhasil temukan bahwa Suster Gemma Bernadeth terluka, darah mengalir turun dari betisnya.
"Ijinkan aku antarkan Anda pada tabib kami, Suster."
Reinha menggeleng. "Aku akan obati diri sendiri, Tuan, saat kami kembali ke Biara."
"Mari ikut aku!" Nada perintah. Pria itu tak suka ditolak. Reinha terpaksa mengekor di belakang Magnolio pergi ke sebuah rumah penyembuhan di ujung komunitas itu sementara Suster Felicitas keringkan tubuhnya.
"Kau masih di sini?" tanya Magnolio menyipit tidak senang dapati Cataleia keluar dari sebuah ruangan dalam rumah itu.
"Ya, sebab Tamali harus keluar mencari beberapa tanaman, aku ditugaskan sementara waktu!"
Tatapan Magnolio flat saat Cataleia mengangguk ke ruangan Lucky Luciano yang tertutup tirai tebal. "Ini Suster Gemma Bernadeth, bisakah kau merawat lukanya? Beliau ini guru baru yang bertugas."
Cataleia tersenyum kikuk. "Hai Suster. Mari ku obati! Apakah terjadi serangan?"
"Ya," sahut Reinha naikan ujung jubah dan terlihat betisnya tersayat sesuatu. "Aku tak sadari saat terluka tadi."
"Tunggu sebentar, ya! Aku akan siapkan obat. Kami gunakan banyak ramuan herbal. Apa Anda tak keberatan?"
Reinha mengangguk saja, amati ruangan perawatan di mana Cataleia keluar. Terhipnotis ke arah tirai yang tertutup sebab ia mendengar lamat-lamat seseorang menggeram kesakitan, sangat samar, hanya sebentar. Hatinya tiba-tiba menderita. Apakah karena kejadian tadi, hatinya terus berdenyut sakit? Seperti tersihir, Reinha bangun dan bergerak ke arah tirai. Tangannya ingin menyentuh Tirai.
"Suster?" panggil Cataleia keluar dari ruang penyimpanan ramuan dan tertegun dapati Reinha di depan tirai. "Apa yang Anda lakukan?"
"Aku seperti mendengar seseorang mengerang kesakitan. Maafkan aku," sahut Reinha kembali ke tempatnya. "Aku hanya tak tahan," kata Reinha dengan sorot mata sedih.
Cataleia sepertinya maklumi, para Biarawati seperti Gemma Bernadeth punya kelebihan cinta kasih dalam diri mereka hingga mereka sangat sensitif pada kesakitan, kelaparan dan kebodohan; pada kaum marginal.
"Begitukah? Akhirnya dia siuman."
"Siapa dia kalau boleh kutahu?"
"Kerabat kami, Suster! Kembalilah duduk, aku akan obati kaki Anda."
Kakinya dilumuri sesuatu yang sangat dingin kemudian dibungkus dengan rapi. Tak ada lagi suara mengerang.
"Aku akan antarkan Anda kembali ke tempat adik-adikku belajar." Cataleia bicara memegang lengan Reinha dan ia digiring keluar dari sana.
Begitulah hari itu, Reinha semangati dirinya sendiri. Jika tak ada di desa Thomas, ia akan mencari Lucky di desa lain. Ia akan pelajari situasi, masih banyak waktu sebab menurut Carlos, jenazah Lucky tak pernah ditemukan. Meskipun optimisme kadang seperti roller coaster, cepat membumbung tetapi saat turun, lemparkan dirinya langsung ke titik nol. Ketika gilirannya tiba untuk mengajar, Reinha kuatkan hati. Ia sudah melangkah sejauh ini, sangat jauh, tak boleh menyerah begitu saja. Setelah perkenalan dan ia kesusahan mengeja nama anak-anak Thomas yang terdengar unik, Reinha ajarkan mereka sesuatu. Salam pembuka dalam bentuk sebuah puisi.
"Jadi, sebelum aku mulai mengajar Tuan-Tuan dan Nona-Nona, aku ingin Anda pelajari sebuah puisi pendek sangat indah, tolong hapalkan puisi ini dan bacakan nanti sebelum kelasku dimulai dan saat kelas berakhir. Apakah kita sepakat?"
"Yes, Mam!" jawab mereka serempak. Menurut Suster Felicitas, anak-anak itu suka menyanyi juga sesuatu yang baru.
"Baiklah, dengarkan aku dan hapalkan liriknya! Bisa juga dibacakan untuk saudara kalian sebagai tanda cinta kasih. Apa kita sepakat?"
"Yes, Mam!"
"Dengarkan aku, baik-baik ya!"
**Red Twilight ketika mentari bersinar penuh, keemasan menerpa tebing merah.
Red Twilight ketika bayanganmu menepi pada bait-bait prosa.
Kau adalah elegi senja, bersenandung di celah cahaya, rona semerah jingga.
***
Wait Me Up!
Komentar readers berikan Author dukungan +1 dan +1M semangat..
Aku mencintaimu Readers....