
Warning!!! Please Readers Yang Lagi Puasa, jangan baca Chapter ini!!! Kecuali mampu menahan baper. Chapter ini berdaya ledak medium.
***
Mata Reinha terbuka lantas menyipit oleh ribuan cahaya yang melayang di atas wajahnya. Setelah terbiasa, pupil bergerak-gerak menemukan ia terbaring di sebuah ruangan serba putih-putih. Tubuh kaku seperti daging mentah yang disuntik formalin disertai mual dan pusing terlebih mulutnya ngilu. Ia sangat lemas dan rahangnya nyeri seakan telah menganga selama berjam-jam. Ia kembali jatuh terlelap saat seseorang yang terlihat lebih mirip Dokter bergerak-gerak di atas bibirnya dengan peralatan medis dalam prosedur operasi.
Apa yang terjadi padaku? Apakah sindikat jual-beli organ telah menculiknya dan mengambil organ-organ dalam tubuhnya? Apakah Sunny Diomanta menculiknya karena tak memberinya informasi? Apakah mereka menjadikan tubuhnya sebagai eksperimen?
Lucky, hei ... kau di mana?!
Bukankah kau selalu mengintaiku?
Mengapa tidak datang menolongku?
Where are you now?
Kakak?! Tolong aku ... apa yang kau lakukan di Durante Land? Bisakah kau mendengar telepatiku? Tuan Abner, tolong aku ....
Ia berseru putus asa dalam hati berusaha tetap terjaga tetapi rasa kantuk mencengkeramnya semakin kuat. Reinha jatuh terlelap setelah sekian lama terhimpit ketakutan dan berharap Lucky datang menolongnya.
Entah berapa lama, Reinha tak mengira. Seseorang masuk dan menggendongnya dari tempat tidur lalu mereka menaiki mobil dan deru mobil melaju kencang. Ia bernapas di dada seseorang, berbagi irama jantung dan desah napas panjang dan berat menggema di telinganya. Kesadaran Rainha pulih perlahan, tetapi terlalu lemas untuk membuka mata.
Suara ribut-ribut orang disiksa, minta ampun. Ia digendong menaiki lift dan sisa-sisa kantuk menariknya untuk dituntaskan. Ia terbangun beberapa waktu kemudian dalam pelukan ... tepatnya ... di pangkuan seseorang. Aroma parfum dan body cream yang sama saat ia mencium wewangian itu di bis beberapa waktu lalu, merengsek rongga hidungnya. Aroma kuat glacier fire. Reinha tersenyum dan menghirup aroma tajam, sungguh aneh, sebab ia mulai mencintai aroma itu. Lucky datang menyelamatkannya. Detak jantung pria itu berdenyut di telapak tangannya, tenang dan teratur. Napas pria itu menderu di ubun - ubunnya.
"Lucky, kau-kah itu?" tanya Reinha serak.
Reinha sepenuhnya sadar dan bersyukur Lucky menemukannya. Ia berusaha bicara meskipun mulut masih terasa kaku.
"Kau sudah bangun, Enya?!" tanya Lucky.
Nada suara parau berat itu sungguh menggetarkan di telinga Reinha. Ia sibuk pada kebencian menolak menikmati keindahan padahal pria itu begitu menarik. Sedang Lucky mengeratkan pelukan, benamkan wajah di rambut Reinha dan bernapas di sana.
"Hmmm, senang mendengar suaramu. Apa kau menyelamatkanku?"
Ini seperti di film-film action-romantic, si wanita diculik dan sang kekasih datang sebagai penyelamat, mereka bahkan belum resmi sebagai sepasang kekasih.
"Tidurlah, aku akan menunggumu benar-benar siuman."
"Tidak, kantukku mulai hilang."
Reinha membuka mata. Ia duduk di pangkuan Lucky yang memeluknya erat di sebuah suit mewah, dipenuhi helaian mawar merah berbaur warna soft peach dan cream. Aroma bunga memenuhi ruangan itu sementara lilin-lilin dalam gelas-gelas kaca berpendar-pendar sangat cantik.
"Romantis sekali!" bisik Reinha.
"Kau suka?!"
"Hmmm ...."
Namun, saat matanya mulai awas, beberapa pria merusak pemandangan. Mereka berlutut separuh membungkuk ketakutan.
"Apa mereka yang menculikku?!" tanya Reinha marah, kantuknya benar-benar menguap saat melihat para preman itu. "Siapa yang menyuruh menculikku?"
"Enya ... tenanglah!"
"Lucky, hancurkan kepala mereka! Jika kau tak lakukan, biar aku saja?"
"Enya?!"
"Mana senjatamu? Aku memang tak lulus latihan menembak tetapi bisalah kalau sedekat ini!"
Reinha melotot marah pada mereka dan para pria itu menunduk takut.
"Umm, Enya ... sebenarnya ... " ujar Lucky ragu-ragu. "Maafkan aku, Enya. Anak buahku salah terjemahkan pesanku."
Lucky bersuara rendah nyaris berbisik. Perilaku itu membuat Reinha mengangkat alis keheranan. Otaknya bekerja dengan cepat dan matanya melebar separuh tak percaya.
"A, a-a-a-pa maksudmu?! Mereka anak buahmu?" tanya Reinha terbata-bata.
Melihat Lucky Luciano yang tidak mengelak, Reinha benar-benar shock. Ia memekik marah, "Apa kau yang menculikku?! Ya Tuhan, kau benar-benar maniak paling sinting di dunia."
Reinha hendak meloncat turun. Inikah pria karismatik yang berhasil membuatnya jatuh cinta? Pria ini tak lebih dari seorang penjahat. Lucky mengeratkan kaitan lengannya, menolak Reinha pergi.
"Aku bisa jelaskan, Enya."
Reinha memukul pria itu marah. "Bagaimana bisa? Aku nyaris mati kehabisan napas dalam kantong sempit. Aku hampir semaput karena serangan jantung." Reinha menahan napas, ia bicara tersnegal-sengal, "Lucky, ini konyol dan tidak lucu. Aku akan pergi."
Lucky seperti biasa tak menghindari kepalan tangan Reinha. Ia berpaling, bicara pada para preman yang dia kata anak buahnya itu.
"Katakan, apa bunyi pesanku pada kalian?" tanya Lucky menahan emosi. Nyalinya menciut tak berani menatap Reinha yang murka.
"Kami menerima misi yang sangat jelas Bos. Menculik Nona Durante dari perjamuan Gustav dan membawanya ke lokasi kencan. Misi selesai dan berhasil," jawab salah seorang di antara mereka tanpa dosa. "Apa kami salah?"
Lainnya mengangguk-angguk setuju. Francis memukuli kepala mereka satu persatu dengan stik alumunium. Mereka menahan sakit, tidak meringis sedikitpun meski kepala itu telah berdarah, meleleh di pelipis bahkan ada darah telah mengering di sana. Sepertinya mereka telah dipukuli sejak tadi.
"Ais, begundal-begundal bodoh ini. Kalian membuatnya ketakutan! Apakah kalian harus lurus-lurus menculiknya? Maksudku pergilah ke sana dan 'mengawal' Nona Reinha kemari. Kalian bisa perkenalkan diri sebagai suruhanku dan membawanya kemari alih-alih menculiknya," hardik Lucky.
"Ampuni kami, Bos! Kami tidak bermaksud membuat Nona Durante takut, kami hanya tidak tahu cara lain untuk membawa Nona Durante kecuali gunakan cara paling praktis."
Mereka membela diri. Menculik dengan membius adalah cara paling praktis untuk membawa seseorang, Lucky menggaruk kening. Jawaban yang masuk akal tetapi Lucky tak mau disalahkan.
"Bawa mereka pergi dan gantung mereka semalam penuh, Francis. Bagaimana caramu mendidik dan mendikte mereka?"
"Maaf, Bos. Aku akan menggantung mereka menyerupai kelelawar. Kami akan pergi. Semoga Bos berdua menikmati kencan dan makan malam yang berharga ini."
Francis keluar dan bicara pada para berandalan itu, peraturan bos dan bawahan. Pasal satu, Bos selalu benar. Pasal dua, bawahan selalu salah. Pasal tiga, jika Bos salah aturannya kembali ke pasal satu. Jadi, peraturan itu intinya cuma satu yakni; Bos selalu benar. Jika ada perintah menculik, konfirmasi terlebih dahulu, kendatipun Francis geli, sejak kapan ... kata menculik sinonim dengan mengawal?
Sementara Reinha menegang marah. Penculikannya sangat dramatis khas *******. Kencan dan makan malam?
Mereka?!
Pria ini penjahat, gangster, mafia ..., makan malam seperti apa yang disiapkan Lucky Luciano untuk dirinya? Apakah makan malam sembari ditodongi senjata? Apa Reinha akan minum anggur sementara jantungnya nongkrong di bawah teleskop dengan proyektil lapua magnum berkecepatan 0,001 m/dt yang siap merobek jantungnya?
Reinha mendongak kepala agak menjauh dan menatap Lucky saat ruangan sisakan mereka berdua. Reinha kehilangan kata-kata terlebih rahang gusinya yang masih menebal dan terasa ngilu tiap kali ia bicara. Apakah pria dengan maskulinitas tinggi seperti Lucky Luciano cenderung "mall-praktik" sikap? Lucky memang pragmatis, agresif, liar, tak terduga tetapi Reinha tak mengira akan se-anarkis ini.
"Aku di bawah ke ruang operasi tadi. Katakan
... apa yang kau lakukan padaku? Benarkah kau yang menculikku? Ya Tuhan ... Apa kau mencuri hatiku dan menjual di pasar gelap?"
Reinha membuka kancing-kancing depan dressnya memeriksa kalau-kalau ada bekas jahitan di sana. Sementara Lucky berpaling menahan napas. Raut muka memerah begitupun kupingnya. Reinha segera sadar dan buru-buru mengancing kembali dressnya.
Ia melotot pada Lucky. Sorot mata tajam Reinha berhasil bikin Lucky terpojok. Apakah ia harus memberitahu Reinha bahwa gigi bungsu gadis itu dicabut diganti dengan gigi palsu berisi alat pelacak? Gelang pelacak tidak efektif dan mudah dikenali, tetapi sesuatu yang ditanam dalam tubuh tidak akan mudah terdeteksi. Lucky cemas sesuatu yang buruk menimpa Reinha. Ia menghela napas berat.
"Saat kamu dibius, otakmu bekerja secara random menghasilkan banyak mimpi. Kurasa kau hanya bermimpi. Mereka membawamu kemari dan aku telah menggendongmu sangat lama."
Reinha menolak Lucky, berdiri walau limbung. Ia menyapu pandang ke sekeliling ruangan. Dalam keadaan biasa, tempat ini sangat romantis.
"Aku akan pergi! Kau pria sakit jiwa akut. Aku akan melupakan bahwa aku pernah terpesona pada bujuk rayumu." Reinha melangkah menjauh.
"Enya, tolonglah. Aku telah siapkan jamuan makan malam untukmu," desis Lucky mulai frustasi.
Reinha tertawa sinis, air mata telah menggenang. Ia memandang Lucky buram, "Aku bahkan tak tahu, apa yang akan terjadi setelah aku makan. Terima kasih untuk tawaranmu."
"Enya ... " Lucky mendekat ulurkan tangan.
"Menjauh dariku brengsek! Berani sekali kau menyuruh orang menculikku? Aku harus makan malam dengan Gustav, berkatmu proyek kami akan gagal."
"Apa kau sangat menyukai Gustav?! Ini sudah jam 11 malam."
"Jangan konyol Lucky Luciano, kami bekerja sama. Aku menyukaimu tetapi kau mengacaukannya. Terima kasih, ya. Aku akan pergi."
"Enya ... "
"Menjauh dariku, kau brengsek!" Reinha meledak dan menangis. Ia merosot di pintu menangkup kedua wajah dan menjerit di sana. Ya Tuhan, apa yang pria ini lakukan padanya? Ia nyaris mati ketakutan.
"Enya ...." Lucky berlutut di depan Reinha dengan raut wajah sedih. Ia bersila di sana, lebih suka jika Reinha memukulinya ketimbang melihatnya menangis.
"Kau bisa mengirimku pesan untuk makan malam alih-alih menculikku."
"I am so sorry. Maafkan aku," ucapnya pelan.
Lucky menyingkirkan beberapa helaian rambut yang jatuh di kening Reinha dan mengusap air mata. Reinha begitu ketakutan, bagaimana nanti jika benar-benar diculik dan jadi sandera oleh seseorang yang membenci Lucky?!
Tangis Reinha mereda. "Aku harus pergi."
Lucky memegangi lengan Reinha, menggeleng kuat dan memaksa gadis itu tengadah padanya. Iris Lucky menerkam Reinha saat berkata penuh emosional.
"Apa kau akan memilih kencan denganku atau makan malam dengan Gustav? Undangan siapa yang akan kau penuhi?" tanyanya menyipitkan mata. "Kau akan mengabaikan aku, kan?"
"Bukan berarti kau berhak menculikku?" balas Reinha sengit.
"Baiklah, aku akan hancurkan kepala para begundal bodoh yang telah menculikmu, jika itu bisa membuatmu berhenti marah. Mari kita pergi. Aku memang layak sekarat karena terlalu mencintaimu."
Lucky menggenggam tangan Reinha dan hendak mengajaknya pergi tetapi Reinha tak bergeming. Tatapan mereka bentrok oleh emosi terpendam tak terungkap lewat kata-kata. Mata Lucky ungkapkan seberapa berarti Reinha untuknya? Ia melewati banyak kesulitan agar bisa bersama Reinha. Saat mata mereka bertemu, Reinha menemukan kebenaran yang luar biasa, hatinya telah tanpa ijin menginginkan Lucky.
"Kau membuatku gila, Enya."
Lucky menyambar gadis itu, mengaitkan kedua lengan pada pinggang Reinha, mengangkatnya seberangi setengah ruangan dan tempatkan gadis itu di atas meja. Reinha mengejek dirinya sendiri, betapa ia telah terperangkap pada Lucky Luciano. Pada tatapan daya tarik manly yang sangat kuat, tulang pipi tinggi, alis tebal dan tulang alis yang menonjol, pria itu benar-benar memikatnya. Reinha telah menyadari sedari awal saat Lucky melamarnya di toko buku untuk jadi kekasihnya. Mata Lucky sepenuhnya gelap saat bersuara meminta ijin.
"Can I kiss you, Reinha Durante?" Mereka bertatapan dalam dan diam.
Reinha menutup mata sebagai jawaban dan Lucky menunduk. Ia menyentuh gadis itu pelan.
"Apa kau masih alergi padaku?" Ia mengusap bibir Reinha pelan, bertanya ragu.
Reinha tersenyum sedikit. "Aku tak tahu, kini. Kau menyentuh banyak wanita, itu membuatku alergi."
"Tidak lagi, Enya. Tidak pernah setelah kau menyerang aku di Faith Hill."
"Aku terkesan."
"Maukah kau jadi kekasih dari seorang pendosa sepertiku, Enya?"
Sorot mata indah Reinha menjawab pertanyaan penuh harap itu. Serasa mendapat komando untuk menembak, Lucky kembali berlabuh padanya beri tekanan samar, permintaan untuk terima pribadi tidak sempurna.
Ini ciuman pertama Reinha dan ia tak menyangka akan berakhir bersama Lucky Luciano, kakak laki-laki Claire Luciano, sahabatnya. Terlebih Lucky adalah musuh kakaknya. Ia tak mengira ciuman pertamanya diawali drama, dilakukan oleh pria yang ia panggil brengsek. Reinha menutup mata pasrah pada Lucky yang bertindak sangat halus di bibirnya, seakan ia adalah guci tua antik. Pria itu bergerak dengan lembut dan penuh perasaan seakan menuntut Reinha mengukur perasaan cintanya yang besar.
Reinha merasakan ketulusan mendalam pada cinta yang tidak dibuat-buat. Bukan hasrat atau gairah yang menggebu-gebu. Tak ada dahaga liar seperti yang sering ia tuduhkan pada pria itu saat perburuan bersama wanita lain. Bersamanya, Lucky adalah sosok yang berbeda.
Ketika bibir Lucky menyusuri sudut rahang dan berlabuh di lehernya, ia tahu pasti mereka akan berakhir di ranjang bertaburan mawar. Reinha mengutuk diri yang tak bisa lari. Ia hendak mendorong Lucky tetapi ketika tangannya sampai di dada pria yang entah sejak kapan telah melepas kemejanya, ia malah terjerembab semakin dalam. Reinha berpikir untuk kembali tetapi sesuatu bergumul di benak, membujuk ia melekat pada Lucky, meniadakan jarak dengan pria itu. Tangannya menyusuri belikat Lucky, kagumi keindahan karakter tubuh dan pada tulang selangka yang tercetak pudar di bawah kulit kecokelatan yang eksotis.
Mereka di atas ranjang kini. Reinha yang polos dan murni terbaring di antara jutaan helaian mawar. Ketika Lucky sampai padanya Reinha terkesiap. Ia tersadar oleh kekeliruan bahwa cinta tidak harus berakhir di atas ranjang. Bagaimana ia akan bertanggung jawab pada Tuan Abner yang sangat mempercayainya? Pada Elgio, kakaknya. Terlebih Elgio akan melubangi mata Lucky, kekasihnya kini.
Ia menggeleng penuh penolakan, menahan Lucky dan mendorong pelan hingga Lucky bergeser. Ia menggigit bibirnya kuat agar segera tersadar.
"Maafkan aku," sesal Lucky sopan mengunci diri, tak menutupi gairah di wajahnya tetapi menghormati keputusan Reinha.
Lucky mundur, menarik bad cover putih polos kemudian menyelimuti Reinha seperti membedong bayi baru lahir. Ia mengecup Reinha lama, hentikan debaran berdaya ledak tinggi dibalik rusuk-rusuknya lantas pergi kearah kaca. Ia menempelkan telapak tangannya di sana, menenangkan diri, merutuk diri sebab hampir saja menodai gadis yang sangat dicintainya.
***
Aku sangat-sangat sibuk dan harus buru-buru nulis chapter ini sebelum jam 8 malam.
Aku padamu, Readers....