Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 87 Campakkan Aku Sekarang ....



Cast for Marya Corazon Aquino


My Lovely Aruhi....




Sore merambat malam, kedua pria, Elgio Durante dan Lucky Luciano datang hampir barengan ke kafe, parkir mobil di seberang dan menonton ke dalam kafe. Ethan, Marya dan Reinha terlihat asyik bermain domino, sementara Arumi ambil alih pekerjaan; layani pelanggan, bersihkan kaca, mengepel lantai berulang-ulang. Sesekali melirik pada ketiga orang yang terlihat tak perduli.


Ketiga sahabat bermain domino sembari saling mengetuk kening dan tertawa seru. Lebih banyak kening kedua gadis itu diketuk Ethan. Ketika ditelpon, baik Marya maupun Reinha hanya pandangi ponsel dengan malas dan tak hiraukan. Marya bahkan matikan ponselnya, mungkin malas repot terima panggilan Elgio. Marya tak pernah marah dan terluka, tetapi sepertinya kejadian tadi di kantor telah membuatnya sangat kecewa.


"Aku penasaran, apa masalahmu dengan Enya?!" tanya Elgio Durante pada Lucky Luciano.


Lucky menghela napas berat. "Salah paham. Seperti yang kau prediksi, masa lalu mengejarku kini. Meski aku dan Enya sepakat akan bersama dan aku selesaikan masa laluku, tetapi, ia melihatku hari ini," keluh Lucky muram. "Sepertinya aku tak sendirian. Kau juga terlihat sedang bermasalah. Aku penasaran masalahmu apa? Kau bukan badboy sepertiku dan bukan pria sembrono. Aku ingin tahu, apa yang kau lakukan pada Nona Marya hingga Ethan menyebutmu, pria bodoh?"


"Pria bodoh?" sergah Elgio makan hati. Ethan tak berhenti mengatainya bodoh seakan dia saja yang paling jenius.


"Ya, jangan cemas, kau tak sendirian. Aku juga dikatanya pria bodoh. Kita berdua, pria-pria bodoh," sahut Lucky Luciano tersenyum beri semangat. "Jadi, apa masalahmu dengan Nona Marya?"


"Salah paham, sama sepertimu!"


Elgio meraih ponsel coba hubungi tetapi nomer di luar jangkauan. Lucky lakukan hal yang sama dan coba menelpon Reinha tetapi gadis itu tak merespon.


"Tidak diangkat?" tanya Elgio.


"Em, ya. Ia tak marah tetapi malah lebih menakutkan. Kau tahu, aku siaga satu sejak siang tadi seperti siap-siap hadapi letusan gunung berapi." Lucky Luciano mengeluh.


"Kau punya ide?!" tanya Elgio buntu, tak percaya ia bertanya pada si berandalan yang bertobat, di sebelahnya tentang ide membujuk kekasih.


Sial sekali hari ini, ia tak menyangka Marya datang dan melihat adegan yang akan bikin siapapun wanita di dunia ini, salah paham pada kekasihnya. Elgio menggigit bibir bawah bertambah jengkel campur gemas.


"Ada ... " sahut Lucky. "Tapi tidak gratis, katakan padaku apa masalahmu?"


"Irish Bella tak sengaja menciumku saat wawancara dan Marya datang di waktu yang tepat untuk melihat."


Lucky berdecak. "Aku sudah peringatkan kau sebelumnya, hati-hati dengan Irishak Bella. By the way, ada banyak jenis ciuman tetapi yang bikin salah paham, pastilah ..., aku tak ingin tahu," ujar Lucky Luciano ngeri jika itu terjadi padanya. Bisa jadi Reinha akan menjahit bibirnya. "Oh sial sekali kau, Sobat! Tamatlah riwayatmu."


"Marya tak percaya kalau aku tak menyukai wanita lain selain dirinya, mudah sekali terprovokasi. Katakan, apa idemu?"


"Pergi kemping. Jika kita pergi bersama, kita hanya akan berbaikan."


"Di mana? Hampir malam begini?"


"Percaya saja padaku, pikirkan cara menyeret mereka dari sana!"


"Jangan sampai Ethan ikut! Suasana bisa jadi aneh," kata Elgio menatap lurus Ethan yang bersiap mengetuk kening Marya. Masih tidak nyaman melihat cara Ethan pandangi Marya. Lelaki itu jelas akan langsung membawa kabur Marya jika ia berani sakiti Marya. No no no ....


"Berterima kasih padanya! Dua gadis itu kelihatan baik-baik saja berkatnya. Lagipula, Ethan sepertinya sibuk jadi pengasuh Arumi." Lucky mengangguk ke kafe, sejak mereka amati kafe, Ethan ladeni Marya dan Reinha tetapi tetap menunjuk sini-situ pada Arumi dan gadis malang itu lakukan segala hal sambil bersungut-sungut. Ethan Sanchez telah menyiksa Arumi berjam-jam, bahkan sengaja tumpahkan kopi ke lantai dan menyuruh Arumi menggosok lantai lebih keras.


"Aku tak perlu ambil tindakan pada Arumi," putus Elgio. Ethan telah bertindak mewakilinya. Padahal ia merasa mulai dekat dengan Arumi, tetapi Arumi merusaknya. Masih tak sangka Arumi tega pada Marya.


Lucky mengangguk. Arumi tak berani menyapa nya seperti dulu, sebisa mungkin menghindar. Lucky menelpon Francis dan beri instruksi ini itu secara detil sebelum ajak Elgio datangi kafe sambil curhat.


"Keningmu Reinha Durante, kemari kau," seru Ethan senang saat Reinha kalah. "Kau juga Marya, kemari keningmu!"


"Eh?! Kenapa begitu?"


"Tadi kan kau juga kalah, tetapi karena rasa cintaku yang besar padamu, aku tak mengetuk keningmu. Aku berubah pikiran. Kemarikan keningmu, Nona!"


"Ethan, tolonglah! Jangan keras-keras, tanganmu tak ada lemak dan tulang jarimu benar-benar bikin sakit," keluh Reinha tadah keningnya.


"Lalu?!"


"Pelan-pelan saja!" rengek Reinha.


Ethan tersenyum usil. "Tutup mata kalian! Dasar cengeng!"


"Kau pasti curang, dari tadi tidak pernah kalah," gerutu Marya menutup matanya. Untung ia punya poni, keningnya sedikit terlindungi. Gadis itu manyun-manyun jengkel bersiap kena ketuk. Tetapi keningnya malah dielus dan diusap pelan. Marya memegang tangan Ethan.


"Kau tak boleh lakukan itu, Ethan! Jangan menyentuhku, Elgio tak akan suka!" seru Marya buka mata dan menarik diri. Mata berubah suram saat lihat Elgio duduk di depannya bukan lagi Ethan. Sama halnya dengan Reinha saat lihat siapa yang duduk di seberangnya, Lucky Luciano.


Marya rapikan poni. Saat pandangan naik ke bibir Elgio, bayangan sentuhan intim Irish tadi menyentil ingatan dan ia langsung patah hati.


"Aku akan tidur di rumah Ibuku malam ini, Reinha," ujar Marya langsung bangkit berdiri terlihat ingin larikan diri. Elgio ikutan bangun hadang gadis itu hingga bertubrukan dengannya.


"Tidak bisa," cegah Elgio tajam, pegangi tangan Marya erat.


Marya mendongak pada Elgio antara kecewa, marah, cemburu. "Kau berciuman dengan Irish di kantormu dan semua orang melihatnya! Ya Tuhan, itu buatku mual-mual!" seru Marya tak lagi peduli bahwa mereka tak hanya berdua.


"Itu tak disengaja, Marya! Kau berlebihan! Wanita itu terjatuh dan aku menangkapnya. Bukan sesuatu yang disengaja, aku bersumpah demi Tuhan," jawab Elgio.


"Kalian bersentuhan lebih dari 10 detik, Elgio. Itu lebih dari cukup untuk buktikan ada rasa di antara kalian," tuduh Marya bernapas pendek dan sesak.


Elgio mati langkah, antara marah dan entahlah, gadis itu begitu detil hingga menghitung detik.


"Ya Tuhan, Marya ... lihat aku, apa aku bisa hindari sebuah kebetulan?" tanya Elgio gemas. Harusnya Marya menonton adegan hingga selesai, bagaimana ia jatuhkan Irish tadi? Irish bisa jadi patah tulang pinggang karena Elgio mendorongnya kasar hingga tersungkur di lantai. Elgio makin yakin pada hatinya, ia tak bisa jatuh cinta pada wanita manapun di dunia ini kecuali pada Marya.


Mereka bertatapan dalam marah dan salah paham. "Baiklah, aku akan kebetulan jatuh tersandung, Ethan akan menangkap aku dan kami akan bersentuhan sepuluh detik, di bibir lalu saling pandang. Mumpung kau di sini, kau akan lihat dan perhatikan hatimu baik-baik, apakah kau akan menontonnya dengan rasa biasa saja? Jangan marah, karena itu cuma kebetulan." Amarah Marya memuncak.


Ethan berdecak dari balik counter. "Gadis ini, yang benar saja! Hei Marya Corazon jangan bawa-bawa aku untuk urusan kalian! Meskipun aku senang tanpa sengaja berciuman denganmu, Marya." Ethan lagi-lagi berdecak,"Atau biarkan saja kami berciuman, Elgio, dan kau menonton seperti yang Marya inginkan. Kalian bisa segera putus, aku akan menikahi Marya besok!" tambah Ethan kelewat bersemangat.


Elgio mendelik dengan rahang kaku pada Ethan yang langsung kunci mulut, pura-pura sibuk dengan mesin pembuat kopi takut Elgio Durante yang pemarah menggilasnya bersama biji-biji kopi.


"Marya, semua yang kamu lihat itu tak disengaja," keluh Elgio mulai stress.


"Mereka bahkan merekam adegan itu, Elgio. Ponsel dengan gambarmu ada di sana," kata Marya mulai menangis. "Kalian berdua terlihat sangat mesra dan dekat, begitu cocok, ini buruk. Aku tak bisa kendalikan suasana hatiku! Aku akan pulang dan tidur!" kata Marya lagi coba lepaskan tangannya dari Elgio. Pria itu merengkuh Marya ke dalam pelukan, terbenam di rambut gadisnya yang cemburu buta.


"Kau juga, Kak. Memangnya reporter di dunia ini habis hanya perempuan sialan itu?" tanya Reinha kasar. "Apa tak ada wartawan lain selain dia?"


"Diamlah, Enya! Jangan panas-panasi Marya!" bentak Elgio murka pada adiknya.


"Tutup saja mulutmu, Enya! Kau juga sedang bermasalah, bagaimana kalau kau urus saja masalahmu sendiri?" balas Elgio tajam.


"Ya, kau benar, Kak. Satu-satunya masalahku adalah aku jatuh cinta pada pria dengan masa lalu buruk, dan kini aku terseret dengannya. Aku akan saksikan kekasihku urusi wanita dari masa lalunya yang sedang hamil, antarkan ke dokter, pilihkan pakaian bayi, ladeni mood wanita itu yang mau ini-itu, harus begini-begitu karena perubahan hormon dan bisa jadi, aku akan kehilangan dia di akhir cerita karena kemungkinan wanita yang sedang mengandung itu coba bunuh diri agar bisa bersama ayah dari bayinya. Ia akan buat jebakan agar kekasihku tak bisa datang padaku. Menyedihkan." Reinha berapi-api, tumpahkan isi hati dan pikirannya yang mengarang bebas sebab hanya itu yang bisa buatnya merasa lebih baik. Ia yakin September akan lakukan itu jika Lucky beri lampu hijau terlalu terang.


"Setidaknya Marya, kakakku hanya mencintaimu saja. Kau tak perlu takut Elgio akan jatuh cinta pada Irish, itu tak akan terjadi. Kau hanya harus menjaga agar Irish tak dekat-dekat dia untuk bikin kerusuhan," keluh Reinha menyangga dagu, bicara dengan tatapan lurus pada Lucky Luciano.


"Jadi, apa maumu Enya? Bisa beritahu aku? Kau tak ingin kita putus, tetapi sikapmu juga menyiksaku," keluh Lucky Luciano. "Aku hanya lakukan sesuatu yang jadi kewajibanku untuk perbaiki keadaan. Kau tak percaya aku mencintaimu, meski, aku lakukan banyak hal untuk buatmu percaya." Pria itu berkata emosional antara merana, kecewa, putus asa dan patah hati.


"Ya Tuhan, hentikan! Kalian akan terus ribut dan tak akan ada penyelesaian jika sama-sama egois." Ethan Sanchez membawa nampan berisi kopi dan camilan. Ethan berpikir untuk tidak pacaran, karena ribet. "Tenangkan diri kalian, aku semprotkan bubuk cinta di dalamnya untuk redakan amarah dan mengisi es batu agar hati panas membara lekas adem. Berhentilah berdebat! Sungguh merusak pemandangan saja."


Ethan menaruh kopi di meja.


"Kau ini aneh, Marya. Cemburu itu wajar, pertanda cinta, tetapi dia kan sudah bilang berulang kali itu sentuhan tanpa disengaja."


"Eh?! Mengapa jadi kesal padaku, Ethan?" gerutu Marya di antara isaknya menepis di peluk Elgio, berdiri serba salah.


"Kau ingat? Kita tak sengaja berpegangan tangan saat di rumahmu dan Elgio marah-marah waktu itu, cemburu buta padamu. Kurasa, kalian impas sekarang. Saranku, berhentilah berlebihan! Kalian sama sekali tidak dewasa dalam cinta, hanya sekumpulan orang aneh, kaku dan mengekang. Jika tak ingin ada kejadian tak sengaja, kau pindahkan kantor Elgio ke rumah dan Elgio carikan guru untukmu. Kalian bisa saling pandang sampai keriput dan ubanan di Paviliun Durante. Tak akan ada kesalahpahaman. Bereskan?!"


Elgio memandang Marya layu, tak tahu cara merayu Marya. Apa ia perlu menyeret Marya pergi ke ranjang lagi? Lupakan, bodoh!


Ethan berdecak berbalik pada Reinha. "Kau juga Reinha. Kalau tak bisa terima keadaanya, kau bisa pergi dan mengejar profesor muda berbakat dan terhormat di Civic Center alih-alih terjebak dengan pria masa lalu bejat sepertinya. Sikapmu ambigu!"


"Eh?! Sebenarnya kau sahabat siapa?" Reinha melotot pada Ethan sembari cemberut.


"Jika dia lebih perhatian pada bayinya, kau hanya harus mengalah, tinggalkan saja dia, sebab kau tak akan menang lawan seorang Ayah dengan rasa sayang tinggi pada bayinya! Mengapa kau makan hati karena cinta bodohmu itu, Reinha? Ya Tuhan, kau gadis pintar. Seleramu dulu itu aku, Reinha Durante, sangat tinggi. Kau tergila-gila padaku! Jika kau mau, tinggalkan saja pria di sebelahmu dan datang padaku. Kau tahu aku tak punya masa lalu buruk dan masa depanku cerah. Kita bisa bersama. Aku tak setampan dia, tapi kau tak akan makan hati bersamaku. Aku janji akan buatmu bahagia, kita bisa mulai malam ini."


"Issh, ini bocah," desis Reinha ingin sekali meninju wajah Ethan.


"Saat kau turunkan standarmu pada badboy sepertinya, kau harusnya tak setengah-setengah." Ethan kasih petuah setengah merusuh, semakin keruh saja.


"Sial sekali punya teman macam kau, Ethan!" Reinha mengeluh pada celotehan Ethan Sanchez.


Lucky berdecak. "Kau kasih nasihat, mau pamer atau apa Ethan Sanchez?"


Lucky Luciano menyangga kening di meja, pening dengar Ethan Sanchez terang-terangan merayu kekasihnya, ajak Reinha pacaran di depannya. Lucky memang Ayah dari seorang bayi tetapi ia mencintai orang lain bukan ibu dari bayi itu. Nasibnya sungguh sial sebab saat ia temukan seseorang yang benar-benar ia cintai malah begini jadinya. Pada dasarnya, ia tak pernah bahagia hidup di bumi sejak orang tuanya dibunuh, ia dibuang dan jadi penjahat, hidup dengan kejam sejak kecil dan tak pernah paham tentang rasa bahagia. Baginya, bahagia itu ... hanya jika perut kenyang, Claire tak menangis dan ada uang di tangan. Bahkan ketika ia pergi ke pelukan banyak wanita, ia tak pernah bahagia, tak pernah mengikat diri dengan mereka, sampai ia temukan Reinha Durante. Gadis itu adalah sekeping bahagia dalam arti sesungguhnya. Lucky merasa hidup dan berarti saat bersama Reinha, merasa benar-benar manusiawi dan dicintai. Tetapi kini ia terancam kehilangan kekasihnya, tak pernah merasa segundah ini.


Suasana jadi hening hanya musik mengalun sangat pelan. Elgio masih berdiri menegang bingung hadapi Marya yang merajuk. Dirinya bahkan dianggap homoseksual gara-gara menolak banyak wanita, banyak cinta yang mendekati, tetapi, ia hanya pikirkan seorang gadis dengan poni mirip kumis kambing. Jatuh cinta sejak usianya 11 tahun pada seorang bocah perempuan, menjaga dirinya dengan baik agar bisa bersama Marya. Tetapi kekasihnya salah paham padanya kini bahkan berpikir bahwa mungkin saja cintanya bisa beralih ke lain hati. Sesuatu yang tak akan pernah terjadi.


"Minumlah dulu," kata Ethan pandangi empat orang yang diam-diaman itu.


"Benar, Marya! Minumlah! Mungkin kita bisa bicara setelah itu dengan lebih tenang," kata Elgio berusaha redakan sedih Marya. Tatapan Marya beralih dari kopi di tangan Elgio dan pada pria itu. Tatapan galau Elgio dan teringat bagaimana mereka berlarian di rumah Ibunya dan berakhir di ranjang, mereka saling memiliki jiwa dan raga. Aroma kopi tercium oleh hidungnya, tiba-tiba ia merasa mual. Marya menggeleng kuat saat cup kopi diangkat dekat padanya, ia segera berlarian ke toilet dengan wajah ingin muntah.


"Eh, ada apa?" Elgio keheranan pada kopi di tangannya dan ke arah Marya menghilang.


"Apa kau taruh sianida di dalam Ethan?" tanya Reinha.


"Kenapa?!" tanya Ethan kebingungan pergi ke meja dan memeriksa kopi yang diseduhnya, cicipi sedikit. Tak ada keanehan.


Reinha bangkit, dekati Arumi yang bengong lihat Marya berlarian. Reinha menatap Arumi murka, apakah gadis jahat itu menaruh sesuatu lagi dalam minuman? Masih trauma.


"Apa kau taruh sesuatu dalam minumannya?" serang Reinha meneliti Arumi yang langsung ketakutan.


"Demi Tuhan, aku tak tahu."


"Kau tahu kalau kau bohong kali ini?"


"Hei hentikan, Reinha! Aku yang buat kopinya bukan Arumi!" Ethan datang dan berdiri di depan Arumi halangi Reinha yang curiga. Arumi berlindung di belakang Ethan ketakutan hampir menangis. Ia tak akan lakukan apapun lagi untuk sakiti Kakaknya. Bahkan ketika Marya menangis, Arumi ikutan sedih. Ia mulai mencintai kakaknya itu, berawal dari rasa bersalah.


Elgio ikuti Marya ke toilet dan berdiri di luar pintu saat Marya muntah-muntah di dalam. Apakah sosiofobia-nya kembali? Tidak masuk akal. Marya telah benar-benar pulih. Apa ada sesuatu dalam kopi? Tidak. Ethan tak mungkin racuni Marya.


Marya terdengar kepayahan. Elgio tak tahan, ia masuk tanpa ijin dan membungkuk di atas Marya yang masih terus muntah-muntah, memijat punggung gadis itu pelan.


"Kau bahkan belum minum kopinya," bisik Elgio. "Ada apa?"


Marya pasti tak makan sejak siang. Elgio merasa sangat bersalah. Marya bangun dan sempoyongan, ingin menolak Elgio tetapi menyukai aroma tubuh pria itu. Suka jika Elgio peka dan benamkan ia dalam mantelnya. Oh ada apa dengannya? Mengapa rasanya sungguh tak enak?


"Kemarilah! Ayo kita cari makanan! Kau pasti belum makan sejak siang tadi?" Elgio memeluk gadis yang pucat pasi itu keluar.


"Bawa dia Elgio, Queena telah siapkan makan malam untuk kita," kata Lucky Luciano saat lihat Elgio memapah Marya. "Mau ikut Ethan? Kau bisa tutup sementara waktu," kata Lucky lagi.


"Kau mengajakku, tak takut aku mengganggu?!"


"Tidak. Kita hanya akan nikmati makan malam," sahut Lucky. "Kau bisa ikut."


"Tidak!" jawab Ethan lagi. Ia tak mungkin tinggalkan Arumi sendirian. Sekarang ia punya tambahan hewan peliharaan, na'as sekali.


"Kau bisa bawa Arumi! Aku yakin kau tak ingin pergi karena tak bisa tinggalkan Arumi sendiri," tebak Lucky Luciano.


"Bisa jadi, tapi akan pening aku kalau kalian terus ribut. Bisa jadi, ada perang dan air mata, aku tak bisa jadi hakim garis yang adil."


"Aku akan pulang duluan!" kata Reinha ambil tasnya.


"Tidak, kita belum selesai! Jangan coba-coba kabur dariku," cegat Lucky Luciano halangi jalan gadis itu. "Aku tak tahu apa maumu, tetapi jangan coba lari dariku tanpa selesaikan masalah, Enya!"


"Aku bermasalah dengan diriku sendiri, menyingkirlah Lucky!"


"Aku hanya mencintaimu, tidakkah kau paham?" tanya Lucky Luciano. "Aku tak punya penjelasan kenapa aku mengurus pakaian bayi, karena aku akan selesaikan dosaku itu. Bagaimanapun bayi itu anakku dan aku lebih berdosa jika membuangnya?" Matanya berkilat-kilat sedang Reinha tertekan.


Lucky memegang tangan gadis itu dan pegangi erat. Pria itu menangis oleh sesak di hati. Dia tak pernah keluarkan air mata seumur hidup setelah kematian tragis kedua orang tuanya. Kini ia menangis sakit hati pada hidupnya yang terlihat akan membaik setelah ia jatuh cinta pada Reinha, karena mencintai gadis itu. Bukan Reinha masalahnya, tetapi ia yang terlalu tinggi, mengkhayal tentang kehidupan lebih baik bersama gadis itu.


"Campakkan aku sekarang dan kau boleh pergi!"


***


Cintai aku ya, sepenuh hati. Jangan lupa kirim vote, tinggalkan komentar!


Aku menulis banyak karakter di dalam sini bukan untuk diperdebatkan. Marya gak kuberi banyak tantangan sebab ia sudah sangat menderita sejak awal Novel ini ditulis. Bukankah Author terlihat sangat kejam padanya jika sakiti ia berlebihan?!


Rimagazi....