
"Menyingkir dariku!"
Dua kata diiringi desisan, Irish mengusir pria itu pergi darinya. Bagaimana bisa keparat sialan ini masuk ke apartemennya? Bagaimana dia tahu sandi masuk? Irish menggeram marah. Tentu saja dia tahu, pria ini penjahat kelas kakap. Membobol sistem keamanan seseorang bukan hal rumit baginya.
"Tolong pergilah!" Tubuh pria itu didorong tapi tak cukup kuat untuk buatnya bergeser.
"Harusnya aku tak melepasmu pergi! Aku tak punya pilihan sebab kau terlihat sangat ingin lari dariku!" balas Hellton tenang.
Ia meredam perlawanan lemah Irish hanya dengan satu tangan dan saat Irish meringis ketika pergelangan tangannya dipegang, Hellton menggapai untuk perhatikan secara seksama. Ia mendesah jengkel saat memar sendi tangan tampak cukup jelas di atas permukaan kulit. Sedikit kecupan di sana seolah mampu hilangkan memar sebelum mengangkat kepala Irish yang lemah dan kalungkan tengkuk Irish. Satu kali sentakan pada lengannya, Irish terlempar kuat ke dalam pelukannya. Ia sukai wanita keras kepala seperti Irish sebab segala hal jadi lebih menantang.
"Oh kau iblis laknat, sialan, pergilah dari sini!" seru Irish geram. Ia ingin sembunyikan wajah dibalik bantal tapi yang ia temukan adalah lengan keras Hellton. Dengan angkuh ia mendongak menatap Hellton. Mata pria itu bersinar sangat tajam di bawah keremangan lampu ruang tidur, tak ingin ditantang dan tak suka ditolak. Keangkuhan tak tertandingi. Ingatkan Irish pada Salsa Diomanta, cantik dan anggun dengan segala keangkuhannya.
"Apa maumu?" keluh Irish, kantuknya lekas buyar. Ia menggigil makin marah saat pria itu dengan berani mengelus wajahnya. "Aku tak akan menyeretmu atau keluargamu, aku telah berjanji padamu, lepaskan saja aku!" Irish menghindar, berusaha tidak gelisah oleh sentuhan itu.
"Aku kemari karena kau membawa jaketku!" kata Hellton terdengar hanya alasan.
Irish berang. "Jangan membual! Pergilah! Jaketmu sudah kubuang di tempat sampah. Aku tak menyimpan benda dari seorang penjahat sepertimu!" Dan aroma maskulin jaket Hellton buatnya mual-mual. Bayangkan jaket itu milik pria yang merenggut dirinya buat Irish ingin muntah. Terlebih saat pria itu bergerak di atasnya tak peduli pada setiap derita yang pria itu ciptakan.
"Aku ingin tahu kabarmu, lagipula kau berkata akan kirimkan aku profil anak yang hilang tapi kau menghilang. Jadi, aku perlu lihat keadaanmu." Pria itu akhirnya mengaku meski campur adukan alasan. Hellton tak terlihat ingin minta maaf sekalipun lihat sendiri keadaan buruk Irish. Atau pria itu tak tahu cara minta maaf.
"Pergilah! Aku bisa tambah sekarat denganmu di sini!"
"Kau selalu memancingku datang Irishak Bella!"
"Pergilah!" desak Irish berusaha menolak pria itu. "Aku benci padamu, kau hanya orang jahat yang melukaiku kemarin."
"Kau demam tinggi, Irish! Berhentilah memaki yang tak penting! Tidurlah! aku tak akan kemana-mana!" kata si pria memaksa.
Irish coba untuk lepaskan dirinya, ingin bergulingan tapi ia tak mampu lakukan itu sebab pahanya sakit, lengan dan separuh tubuhnya ngilu-ngilu. Teringat pada ponsel, tangannya meraba-raba dan meraih benda itu tapi tangan Hellton malah dengan cepat merampas ponsel Irish dan lemparkan jauh ke sofa di dalam kamar itu.
"Apa kau sudah minum obat?" tanya si pria.
Irish tak menjawab, katupkan mulut dengan rahang membatu dan tak ingin ladeni Hellton berharap Carlos datang.
"Carlos, tolong Kemarilah!" bisik Irish sangat putus asa. Ia tak mungkin tidur, kini. Kepalanya bertambah nyeri. Ia pejamkan mata oleh sakit yang sangat menyiksa.
"Aku mengganti sandi masuk apartemenmu dengan sandi lahirku. Kau boleh ke apartemenku dan coba tanggal lahirmu di sana," kata Hellton.
"Apakah kita sangat dekat untuk berbagi sandi tempat tinggal?" sergah Irish take percaya Hellton paksakan kehendak.
"Kita tidur bersama dua hari lalu! Itu sangat intim."
Irish ingin menampar Hellton hingga otak kecil pria itu pindah alamat.
"Kau sakit jiwa!"
"Tidurlah, Irish! Kau akan segera baikan besok."
"Tidak, aku bisa tidur kecuali kau pergi!"
Mereka berdebat soal itu hampir 20 menitan. Hellton akhirnya turun dari ranjang tetapi ia tak pergi. Seseorang bunyikan bel masuk dan pria itu pergi ke pintu.
"Apa yang terjadi, Hellton?"
Seseorang bertanya. Suara wanita. Irish pegangi kepalanya yang nyut-nyutan, betapa keparat itu mengganggu ketenangannya.
"Dia sakit, Anna." Terdengar gusar.
"Kau lakukan sesuatu lagi padanya?" tanya si Dokter dengan nada curiga. Sepertinya ia tahu apa yang terjadi dan ia mengenal Hellton dengan baik.
"Tidak," jawab Hellton tegas. "Aku baru kemari kira-kira 30 menit lalu."
"Aku akan periksa keadaanya!"
Si dokter yang bernama Anna, masuk ke kamar Irish, mengerut pada tubuh lemah tanpa daya yang terbaring di atas ranjang.
"Aku sudah minum mefenamic, tolong pergi saja dan bawa Iblis itu sekalian!" pinta Irish tak ingin menatap dokter wanita yang dipanggil Hellton.
"Akan aku coba, tetapi pria itu sangat sulit diajak kerja sama. Dia sangat ambisius," keluh si dokter. "Kau harus makan, Irishak. Berhenti minum mefenamic saat perutmu kosong atau hanya sedikit makan, lambungmu akan terganggu."
Irish tak menyahut, ia hanya ingin sendirian dan berharap mereka segera pergi. Hellton antarkan Anna keluar.
"Hellton Pascalito, kau sangat sadis. Wanita itu memar di mana-mana. Ya Tuhan, apa kau sungguhan iblis? Kau tidak harus menyiksanya!"
"Tidak seperti itu, Anna. Tanganku hanya terlalu besar dan kuat untuknya," bantah Hellton tak suka dengar kata menyiksa tetapi serius pikirkan kata menyiksa.
Anna berdecak. "Aku tak menyangka kau bisa sekejam itu pada seorang wanita?"
"Oh hentikan, Anna! Sudah kubilang aku tak sengaja lakukan itu!"
"Ya, bisa kulihat," sindir Anna tajam. "Kau gila, Hellton!" seru Anna makin runcing.
"Aku akan merawatnya!"
"Sebaiknya! Agresif dan pemarahmu itu menakutkan tetapi aku tak percaya kau terapkan padanya," keluh Anna.
"Dia menggiring ego-ku, Anna. Aku tidak harus berada di sini tapi ia memancingku kemari. Jadi, aku datang penuhi undangannya!"
"Kau buat aku pening! Apa kau masih di sini?"
"Ya."
"Masakan dia sesuatu besok pagi, sup iga, sesuatu dengan daging merah dan paksa dia makan. Jika keadaannya tak berubah setelah minum obat yang kuberi, bawa dia ke klinik. Untuk saat ini biarkan dia istirahat. Berhenti mengganggunya! Aku pergi," kibas Anna tak ingin lama-lama dengar pembelaan diri Hellton.
Selepas si dokter pergi, Irish berharap pria itu juga lenyap. Tetapi ternyata dia masih di sana, duduk di atas sofa dan mengawasinya. Irish menarik selimut dan tutupi diri. Mereka saling mengawasi dari jarak dekat. Irish waspadai pria aneh yang menerobos masuk ke ruang tidurnya dan si pria awasi Irish seakan takut Irish kabur.
Entah berapa lama, Irish tak tahan mengantuk. Ia jatuh tertidur. Sempat tersadar saat ia rasakan sesuatu yang dingin di pergelangan tangannya, leher juga pahanya. Samar-samar ia melihat Hellton tempelkan sesuatu pada memar-memar di tubuhnya. Irish menghalau bantuan, disentuh seperti itu buatnya insecure tetapi tangannya ditahan dengan kuat dan Hellton adalah pria pongah yang tak suka ditolak. Irish akhirnya pasrah. Semakin ditolak pria itu semakin berani, attitude mafia pada umumnya. Sepertinya Irish tak bisa menunggu Carlos kembali, ia akan segera menghilang ke Islandia saat ada kesempatan.
***
Sementara di Durante Land ....
Abner Luiz dan Elgio Durante beriringan menuju ke kamar makan untuk sarapan di pagi hari Minggu yang cerah.
"Kemana para wanita Durante?" tanya Elgio pada Abner yang hanya kedipkan bahu.
Makanan mengepul dalam mangkuk-mangkuk di atas meja makan pertanda baru disajikan dan aroma banana pancakes panas sungguh lezat.
"Ada rencana apa hari ini?" tanya Abner pada Elgio. Ia tak ingin memaksa Elgio bekerja. Mereka hanya akan bersenang-senang hari ini meski banyak masalah di kantor.
"Aku akan temani Marya," sahut Elgio. Mereka akan belajar di taman belakang sambil menghirup udara segar.
Abner sorongkan piring berisi pancakes pada Elgio yang langsung makan tanpa pamit. Abner berdecak meski akhirnya ikut makan. Terdengar celotehan ringan penuh semangat dari arah dapur dan ketiga wanita durante bergabung. Marya, Reinha dan ... dan ... siapa itu?!
Abner dan Elgio berhenti makan, melongo keheranan lalu saling pandang.
"Apa yang terjadi denganmu, Bibi Mai?" tanya Elgio Durante mengangguk pada pengasuhnya yang tidak tampak tua malah tampil sangat fresh menjelang usia 30 tahun.
"Well, apa yang terjadi?" tanya Elgio pada Marya juga Reinha setelah berhenti shock. "Anda terlihat sangat berbeda, Nona Maribella?"
"Tuan Hansel Adelio mengajak Bibi Maribel untuk berkencan hari ini," sahut Reinha berbinar-binar. "Cantik bukan? Oh, kau sangat cantik, Peri Pengasuh!" tambah gadis itu kegirangan.
"Hansel Adelio?" tanya Elgio lagi.
"Em, kami bertemu di kelas pastri, Tuan Muda. Ia mengajakku pergi piknik hari ini," jawab Maribel malu-malu.
"Oh, baiklah Bibi Maribel. Apa Tuan Hansel akan kemari?" Elgio terlihat sangat penasaran sedang Abner tampak tak begitu ambil pusing, meski terlihat mengernyit pada makanan.
"Ya, Tuan Muda. Sedikit lagi," sahut Maribel tampak gugup.
"Well, kau rencana pergi kencan dan pasti bikin sarapan buru-buru. Rasanya aneh," keluh Abner mendorong piring pancakes-nya yang sisa setengah.
"Eh?!" Maribel keheranan, dekati meja makan lalu cicipi sarapan yang ia buat.
"Apa kurang sesuatu, Tuan Abner? Ini sarapan seperti biasa yang sering aku buatkan tiap pagi selama belasan tahun," jawab Maribel.
"Kau lebih tahu, Maribella. Rasanya aneh, seperti mengunyah sponge pencuci piring," gerutu pria itu lagi.
"Aku akan buatkan lagi, Tuan Abner, maafkan aku!" kata Maribel kembali ke dapur.
"Abner, apa kau rasa pancakes ini berbeda? Mengapa aku malah rasa ini enak sekali?" tanya Elgio keheranan.
Tingkah Abner buat Reinha dan Marya pergi ke meja makan dan untuk pertama kali mengira-ngira rasa makanan yang dibuat Bibi Maribel. Mereka beri penilaian dan saling pandang. Reinha menggeleng lalu mengangkat satu alisnya tinggi.
"Kau tak suka Bibi Maribel pergi kencan Tuan Abner Luiz?" selidik Reinha mengerut padanya.
Abner yang minum jus jeruk langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Ketiga kepala mengarah padanya dan menyipit.
"Jus jeruk juga rasanya aneh. Kalian tidak rasa?" tanya Abner. Keheranannya bertambah saat ketiga kepala itu menggeleng.
"Tidak ada yang aneh. Dadarnya malah sangat enak," kata Reinha gigit sepotong lalu ludeskan sisanya. "Ini yang terbaik dari Bibi Maribel."
"Tuan Abner benar, aku terburu-buru tadi buatnya. Silahkan dicoba yang ini, em, aku harus pergi sebab Tuan Hansel menungguku di depan," kata Maribel hendak buru-buru pergi sebelum Abner sempat komentar.
"Eh, Bibi Maribel, tunggu!" panggil Reinha.
"Ada apa, Nona?"
"Duduklah di sini! Aku akan mengundang Tuan Hansel untuk sarapan bersama kita," kata Reinha seraya bangkit sedang Marya menggiring bibi Maribel untuk duduk.
"Eh, Nona tak perlu begitu!" Maribel merona malu.
Namun, Reinha telah pergi ke depan dan dengan segera membawa Tuan Hansel masuk. Maribel berdiri saat pria itu masuk, canggung dan tidak duduk jika Marya tak menarik tangannya.
"Halo, aku harap tak mengganggu sarapan kalian, aku hanya ingin membawa Maribella menghirup udara sebentar," kata Hansel Adelio sedikit membungkuk.
"Ya, tapi sarapanlah dulu bersama kami!" tawar Elgio dan Abner tampak tak suka pada Elgio yang sangat murah hati.
"Aku sungguh sangat tersanjung," sahut pria itu sopan.
Elgio bangkit berdiri. "Duduklah di sini, Tuan Hansel," tawar Elgio lagi berikan bangkunya hingga Abner ingin menimpuk kepala Elgio dengan piring.
"Apa kau harus kelewat ramah begitu?" Kira-kira begitulah Abner ingin berteriak padanya. Elgio tampak sengaja lakukan itu.
"Terima kasih, Elgio."
Hansel menyapa Abner sebelum duduk di sampingnya dan Maribel yang salah tingkah buat ketiga bocah menahan senyum. Hansel Adelio tidak begitu tampan dengan rahang kurus dan wajah sedikit lonjong tetapi sangat good looking, dan sangat sopan.
"Maaf, aku tak bawakanmu bunga Maribella," kata Hansel memandang Maribel. Tampaknya pria itu juga pemalu.
"Anda tak perlu bawa bunga untuknya, Tuan Hansel," potong Abner. "Di taman belakang banyak bunga, kalian bisa ke sana dan memetik bunga sambil berkencan." Nadanya sumbang hingga menarik perhatian Elgio begitupula Reinha. Sedang Marya gantikan Maribella jadi pelayan untuk tamu mereka.
"Terima kasih, Tuan Abner. Aku akan ingat saran Anda. Jika nanti sempat, kami akan lakukan hal seperti itu di kencan berikutnya, jika Anda berkenan," sambut Hansel terdengar antusias dan Abner berhenti makan. Bingung mengapa Elgio dan Reinha lempar tatapan curiga padanya?
"Silahkan di makan," kata Abner lagi. Biasanya Elgio, Marya dan Reinha mencuri perhatian di ruang makan tetapi pagi ini, sarapan tak begitu diminati. Ketiga bocah hanya sibuk menyelidiki Maribella dan Hansel yang tampak malu-malu, curi-curi pandang. Tentu saja ditambah Abner yang tampak sangat aneh.
"Ke mana kalian akan pergi?" tanya Abner ingin tahu.
"Hanya piknik di suatu tempat, Tuan Abner."
"Baiklah, Anda akan bawa Maribel pulang sebelum sore. Kau lihat tiga manusia di sebelah sana itu, Tuan? Mereka bisa mati kelaparan tanpa Maribel."
"Oh tidak perlu, aku dan Marya akan masak makan malam. Kau bisa berkencan sampai sore, Peri Pengasuh," potong Reinha cepat buat Maribel berseri-seri.
"Nona?!"
"Ya, Enya benar. Pergilah kencan dan dua bocah perempuanmu ini akan kuasai dapur nanti malam."
"Elgio benar," tambah Marya. "Semoga kencan Anda berdua berjalan baik, Tuan."
Abner menatap ketiga kepala yang secara ternag-terangan berperang dengannya.
"Silahkan makan, Tuan Hansel! Makanan nanti bisa beku jika hanya terus dipandangi!" pinta Elgio tapi ia menyindir Abner. Tak percaya hari ini tiba, saat Abner tampak berat ijinkan Maribella pergi kencan. Elgio benar-benar dapati ekspresi tak senang Abner pada Hansel di sebelahnya.
"Ya, silahkan makan!" tambah Abner keram-keram seluruh otot wajahnya tahu bahwa ia dikerjain anak-anak. Ia akan jewer kuping mereka nanti karena berani membantahnya di hadapan orang asing.
Selepas Maribella pergi, Elgio menengok walinya curiga. Reinha lakukan hal sama kecuali Marya yang bersikap netral.
"Apa apa?" tanya Abner pada ketiga wajah di depannya. "Kalian mendorong Maribel untuk berkencan lalu pacaran dan menikah. Ia akan pergi ke rumah suaminya dan apa aku yang akan gantikan dia untuk memasak bagi kalian?"
Ketiganya bergeming seakan katakan, kau bohong Tuan Abner.
"Ya, istrimu akan jadi Ibu wali kami," sahut Reinha akhirnya. "Kuharap dia bisa memasak."
Seakan tersadar oleh kata-kata Abner, Reinha jadi panik. "Oh apa yang akan kita lakukan Marya? Aku tak ingin kehilangan Bibi Maribel."
"Tenanglah, Enya! Mereka cuma kencan, bukan menikah! Aku yakin Tuan Abner tak akan ijinkan Maribella pergi," sahut Elgio menatap Abner lurus, menduga-duga.
Reinha mulai murung. Ia telah terbiasa hidup bersama pengasuhnya itu. Bibi Maribel buatkan sarapan, temani ia tidur, bacakan dongeng dan merawatnya hingga sebesar ini. Padahal saat ia datang ke Durante Land, Bibi Maribel masih sangat muda, mungkin belasan tahunan. Belakangan bibi Maribel temani ia tidur sambil merajut sweater couple untuk ia dan Lucky pakai.
"Baguslah kalau kau sadar, Enya! Jangan suruh aku carikan pengasuh baru yang bisa masak sesuai lidah kalian! Aku lepas tangan!"
"Yakin, hanya itu alasannya?" goda Elgio."Kau terlihat tak ingin Bibi Maribella pergi kencan, Abner Luiz! Terkadang kita baru akan rasa seseorang itu sangat berharga saat ia tak bersama kita." Elgio mulai berfilosofi.
"Aku akan ingat filosofi bodohmu itu nanti Elgio Durante, saat kau temukan bahwa tak ada satupun yang pandai bikin perutmu kenyang seperti Maribella," decak Abner Luiz.
"Oh tidak, bersiaplah untuk kelaparan jangka panjang!"
***
Wait me up, ya! Aku akan bikin kalian deg degan nanti, saat ini nikmati chapter ringan ini....
Cintai aku, aku cinta dikau .....