
Malam yang indah di tepi danau ketika semua orang berkumpul mengelilingi api unggun, tak ada yang ingin beranjak pergi dari sana. Elgio dan Marya berdansa diiringi lagu Beauty in White dan berputar-putar di sisi api unggun, berbagi dekapan dan ciuman. Semua orang terlihat bahagia kecuali Arumi, masih menyendiri. Ditambah ada Dilly yang terus-menerus menggeram padanya, Arumi makin tak berkutik. Maribel terpaksa menyeret Dilly dan mengikat lehernya. Irish Bella telah lama pergi setelah ucapkan selamat pada pengantin sedang Carlos masih tetap tinggal dan mengobrol. Dari Carlos, Marya tahu bahwa Arch yang dulunya penjahat diampuni nyawanya oleh Elgio dan dikirim pada Carlos untuk dididik dengan keras untuk jadi abdi negara. Marya memuja Elgio Durante dan kemurahan hatinya itu. Pria itu adalah suaminya kini.
Sementara Ibu, Aunty dan Tuan Abner mengobrol ringan dalam pondokan. Mereka terlihat bahagia terlebih Ibu, saat tahu Marya mungkin hamil. Wanita itu tak berhenti menangis sejak pagi.
"Rahangku mulai kejang, Marya. Bagaimana kalau kita pulang dan tidur?" tanya Elgio menguap, berharap bisa memeluk Marya di ranjang dan tidur dengan nyaman karena gadis itu telah jadi miliknya secara sempurna.
"Lihatlah Elgio, semua tampak bahagia," sahut Marya dan berputar. "Aku ingin di sini lebih lama," tambahnya lagi.
"Baiklah. Bukankah saatnya kau berdamai dengan Arumi? Lihatlah dia dikucilkan, Marya!" kata Elgio. Arumi menatap langit dan menghitung bintang dalam kesendirian. Sedih untuk dilihat sedang Ethan Sanchez mengobrol riuh rendah bersama Claire dan Abram Hartley yang akhirnya ikut hadir di pernikahan setelah malam mulai naik.
"Biarkan dia merana dan mulai miliki aku sebagai kakaknya, Elgio. Ia mulai luluh padaku. Arumi akan jadi adikku yang kusayangi."
Ikatan Dilly tiba-tiba terlepas dan anjing itu larikan diri menuju ke dermaga pada Arumi yang tampak tak sadari. Dilly tampakkan taring dan menggonggong hingga semua yang ada di sana panik.
"Ya Tuhan Elgio, Arumi bisa digigit," seru Marya lepaskan pelukan dan berlari sekuat tenaga. "Dilly?! Hei berhenti," teriak Marya.
Dengar teriakan Marya, suasana berubah kacau. Arumi tersadar dan langsung pucat berlari di dermaga ketakutan dan terjebak antara danau dan Dilly. Anjing itu menggonggong dan melompat untuk menerkam. Arumi yang ketakutan langsung terjun ke danau di dekat lengkungan bunga.
"Ibuuuuuuuu tolong aku!!!" teriak gadis itu panik dan dengan cepat tenggelam.
"Arumi?!" Sunny berlarian. "Dia tak bisa berenang, Elgio," pekik Sunny.
"Elgio?!"
Entah suara siapa lagi saling berteriak. Marya ikutan terjun ke danau, berenang di bawah permukaan air yang hangat dan mencari Arumi. Marya sendiri tak pandai berenang, oleh kasih sayang pada adiknya, gadis itu ikut terjun ke danau.
Ia melihat Arumi di bawah sana. Marya pergi makin ke dalam. Kaki Arumi terjebak di antara akar-akar tanaman dalam danau. Marya berusaha menggapai tangan adiknya yang ketakutan. Lama-lama dalam air napas Marya mulai habis dan ia panik sebab Arumi terlihat melayang dalam air seperti pingsan. Tak lama Ethan terlihat samar-samar dan Elgio di belakangnya.
Entah apa yang terjadi selanjutnya, Marya ditarik ke permukaan danau sedang Ethan menyeret Arumi ke pinggir dan Lucky Luciano menggendong gadis itu, baringkan ia di dermaga. Queena dengan tenang memeriksa pernapasannya, kemudian denyut nadinya. Gadis itu tak bernapas. Queena akhirnya mengompresi dada berikan bantuan napas buatan.
"Arumi?!" Salsa mencoba tak panik.
Uhuk uhuk uhuk uhuk .... Menyemburkan banyak air dan terbatuk-batuk.
"Kau tak apa?" tanya Salsa lagi dan lega gadis itu baik-baik saja. Salsa menoleh ke dermaga, Marya di atas jembatan dan Elgio di sisinya memeluk gadis itu dan tampak begitu cemas, begitu manis.
Mata Arumi memerah dan Sunny membungkus tubuh dengan selimut dan membawanya ke pondokan. Ethan berdiri basah kuyup menatap nanar pada Arumi, terlihat sangat gelisah.
"Marya?" Reinha berlari dengan selimut dan menyelimuti tubuh Marya. "Kau baik-baik saja?"
"Ya, Reinha. Terima kasih."
"Mari ke api unggun," ajak Reinha.
"Tidak, Enya. Kami akan pulang. Kau juga, jangan coba-coba bermalam dengan Lucky di sini," kata Elgio keras.
"Meski kami bersama, Lucky bisa menjagaku dengan baik," sahut Reinha muram. Mereka baru saja bersama. "Apa-apaan kau, Kak?"
"Baiklah, terserah kau saja. Kami akan balik lebih dulu," kata Elgio mengacak-acak rambut adiknya yang cemberut. "Berdansa-lah sampai pagi."
Elgio dan Marya kembali ke Paviliun. Meskipun sangat capek dan lelah, istri yang cantik dan sedikit basah membuat pria itu tergoda.
Kamar telah dihiasi banyak bunga mawar putih yang semerbak dan lilin-lilin dalam cup kaca. Ranjang bertaburan banyak kelopak bunga. Di bawah lampu temaram, baju-baju dilepas dan pria yang mabuk cinta pada istrinya membawanya ke balik selimut, berdekapan erat tetapi malah langsung mendengkur akibat letih.
Sayang sekali ....
***
Marya ... Marya ... Marya ....
Ayah Benn berdiri di ujung sebuah taman berisi bunga-bunga Krisan yang sedang mekar, melambai padanya. Kedua sayapnya bersinar cemerlang.
"Ayah?!"
Marya datangi Ayah Benn yang sangat tampan.
"Ayah, aku merindukanmu sangat Ayah," kata Marya.
"Ayah juga Sayang. Kemarilah!"
"Aku menikah Ayah dengan Elgio Durante. Aku melangkah padanya sendirian."
"Lihat ini, Marya." Benn bentangkan telapak tangan. Marya terlihat di dermaga dengan gaun putih dan Ayah Benn ada di sana, melangkah bersamanya menuju Elgio.
"Kau di sana, Ayah?"
"Ya, aku selalu bersamamu," kata Ayah Benn memeluk Marya erat. Ayah Benn kembali tunjukan sesuatu. Kali ini Ibu yang menangis sedih saat Marya mengucap janji. Ayah Benn memeluk Ibu dengan sayap-sayapnya.
"Ayah ...."
"Aku selalu mencintai Ibumu, karenanya aku mendapatkanmu. Cintai suamimu seperti janji pernikahanmu, Marya. Setia padanya dan kasihilah Elgio Durante. Oh ya, Ayah punya hadiah untukmu!"
"Ayah?! Apa ini?!"
"Merpati jantan. Kau lihat ini, Marya?! Sayapnya sangat indah dan suaranya sangat merdu. Selamat untuk pernikahanmu, Sayang. Puteriku yang cantik."
"Aku Sayang Ayah."
***
Jam 11 pagi menjelang siang ketika Marya menggeliat bangun dalam dekapan Elgio.
"Bangunlah, Marya! Kita telah lewatkan sarapan pagi dan ini hampir siang, hampir jam makan siang."
Semalam hari yang indah, mereka berdansa di samping api unggun terus tersenyum dan berciuman hingga rahang mengejang. Semua terlihat bahagia kecuali Arumi yang terus bersembunyi di sisi Ethan dan Lucky Luciano saat Dilly terus menggeram padanya bahkan setelah Dilly membuat gadis itu sekarat dalam danau. Arumi perlahan tersenyum dan bergabung saat semuanya terlihat tak ingin bahas soal masa lalu. Meski demikian, Ibu tetap tak ingin ia pulang ke rumah. Tinggal di luar dalam pengawasan Ethan Sanchez, Arumi terlihat mulai mandiri dan dewasa. Salsa dan Sunny mengangguk-angguk. Saat Ethan bicara, Arumi menaruh atensi besar meski samar dan Ethan tampak tak peduli sama sekali padanya.
Marya tersenyum saat ingat mereka kembali ke Durante Land, mungkin ada hasrat tetapi mata terlalu mengantuk untuk bercinta dengan kekasihmu. Ia akhirnya mendengkur halus di dada Elgio.
"Aku masih ingin tidur," keluh Marya semakin tergelung dalam selimut. "Aku ingin bersama Ayah sebentar lagi, Elgio. Aku sangat rindu padanya."
"Benn?!"
"Ya," jawab Marya tak ingin bangun. "Kau tahu Elgio, Ayahku di sana, di tengah hutan saat aku lari dari penjahat. Ayah sembunyikan aku dalam sayap-sayapnya dan menjagaku hingga pagi. Kemarin Ayah bersamaku saat aku melangkah padamu," ujar Marya lagi antara sedih mendalam dan bahagia.
"Aku yakin Benn memberitahumu bahwa kita akan punya seorang anak laki-laki," tebak Elgio. Setelah mereka menikah, Elgio malah berharap Marya benaran hamil.
"Elgio, aku masih mengantuk," kata Marya lagi. "Bisakah aku tak makan hari ini?"
"Kau harus makan sesuatu, Marya!"
Pria itu turuni tangga, satu tangan Marya tergantung lemas. Elgio begitu terkejut lihat siapa yang menunggu di ruang tamu rumah.
"Lucky? Kau di sini?" tanya Elgio saat dapati Lucky Luciano duduk termenung di rumahnya dengan jaket kulit hitam yang separuh terbuka dan tak ada atasan dibaliknya hingga wajah Enya terpampang di sana.
"Em, ya. Aku sudah sejak pagi di sini," sahut Lucky Luciano tidak heran saat lihat Marya di punggung Elgio, masih ngantuk karena mata gadis itu masih terpejam. "Kalian terlihat seperti Dilly dan Azel?"
"Aku terpaksa menyeretnya, karena sarapan pagi telah lewat dan hampir jam makan siang," kata Elgio betulkan posisi Marya yang melorot.
"Elgio, aku ingin tidur lebih lama lagi," kata Marya berat jatuh bangun di pundak suaminya.
"Ya, kau benar Elgio. Halo, Nyonya Durante?" sapa Lucky melambai pada Marya.
"Halo Tuan Lucky. Enya pasti belum bangun, silahkan pergi ke kamarnya!" kata Marya serak, satu tangannya terangkat menunjuk kamar Reinha.
"Eh?!" Lucky mengernyit keheranan.
"Ya, pergi saja ke kamarnya dan bangunkan dia, Lucky Luciano!" tambah Elgio Durante.
"Apakah boleh?"
"Ya, aku sedang sibuk mengurus istriku! Kau lihat sendiri! Urus saja kekasih masing-masing, okay?"
Lucky Luciano mendongak ke lantai dua pada kamar Reinha, bimbang. Ia merasa gugup akan pergi ke kamar kekasihnya tanpa sepengetahuan Reinha.
"Hei Elgio Durante, kau tidak mabuk-kan?"
Elgio berdecak tak sabaran, "It's okay man, kau bisa duduk menungguinya seharian di sofa. Aku harus menyuapi istriku. Kau boleh bergabung jika lapar. Kami ada di ruang makan," tambah Elgio lagi.
"Tidak Elgio, aku akan bangunkan Enya. Aku ingin mengajaknya ke suatu tempat."
Lucky buru-buru tapaki tangga sebelum Elgio Durante berubah pikiran, mengetuk kamar gadisnya dan menunggu, tak ada jawaban. Ia mengetuk sekali lagi.
"Masuk saja Lucky! Dan bangunkan dia!" seru Elgio dari bawah lalu membawa Marya ke ruang makan.
Lucky memutar gagang pintu dan masuk dengan ragu-ragu. Ia berdiri canggung, malah gelisah di ambang pintu. Reinha tidur belakangi pintu dalam kamar beraroma jasmine lembut dan glacier.
Glacier? Aromanya tercium penuhi kamar?
Reinha sepertinya tidur sangat pulas ditandai dari tak ada gerakan sama sekali hanya napas yang teratur. Pria itu dekati ranjang, tetapi mendadak berhenti, berpikir untuk kembali dan menunggu di bawah saja.
"Lucky ...."
"Eh?!"
"Lucky ...."
Terkejut, namanya disebut, Lucky pergi ke ranjang dan dapati Enya lelap dalam mimpi. Gadis itu mengigau dan tak bisa dipungkiri Reinha bermimpi tentangnya, Lucky Luciano berbunga warna-warni. Seakan terhipnotis, ia bergabung ke balik selimut bersama Reinha, mendekap gadis itu dari belakang kemudian segera sesak napas. Reinha sama sekali tak berpakaian dalam selimut persis seperti yang ia lihat di kamar gadis itu di Dream Fashion dari balik teleskop, ketika Reinha pergi ke ranjang; tanpa piyama tanpa bra. Kepala Lucky Luciano kosong seketika.
"Hei Enya, kau dalam bahaya. Pintu kamarmu tak di kunci dan kau tidur seperti ini?" keluh Lucky tak senang cara Reinha tidur sangat sembrono. "Bagaimana jika ada perampok?"
Reinha berbalik dan merapat padanya.
"I hear your voice. Mimpiku indah sekali," ujar Reinha di antara mabuk dan kantuk. Lucky julurkan lengan dan biarkan gadis itu menggeliat di sana. Tangan Reinha memeluk lehernya erat, mengelus tengkuknya. Gadis itu meringis sakit saat kancing jaket Lucky menusuk kulit. Lucky bangun dan lepaskan jaket. Ia bentangkan kembali lengan dan biarkan Reinha berbaring di sana.
"Aku menyemprot terlalu banyak glacier," guman Reinha parau dalam pelukan Lucky. Di samping gadis itu buku Love Looks pretty On You tergeletak bersama parfum glacier. Jadi, Enya tidur dengan aromanya, baui bantal, selimut bahkan dirinya sendiri. Sungguh sangat manis dan setia.
"Begitu cintanya-kah kau padaku?" bisik pria itu mengelus kelopak mata yang hanyut dalam pusaran mimpi.
Dekapan semakin erat, tak sisakan celah untuk angin lewat. Sentuhan kulit, aroma manis dan kekasih kuning keemasan yang tersesat dalam mimpi, begitu indah untuk dinikmati. Hati sang pria berdebar saat dada mereka bertemu oleh irama detak yang sama. Tak ada dalam bayangan, ia akan memeluk kekasihnya dalam kamar sang gadis.
"Enya, kau harus bangun! Jam makan siang hampir dekat," kata Lucky meskipun ia ingin terus mendekap Reinha yang polos dan kagumi kecantikan bak Dewi dari patung-patung jaman kuno, feminim tetapi tegas, halus tetapi mematikan. Semakin dipandang semakin ia jatuh cinta pada gadis itu. Namun, bukan hanya kecantikan fisik, gadisnya itu luar biasa miliki hati yang baik.
Reinha kembali lelap. Sesuatu dalam mimpi lebih menarik. Tubuh gadis itu menegang, pupil matanya bergerak-gerak, bibir tipis mengumpat. Apakah ia bermimpi meninju wajah seseorang? Hidung tinggi yang sempurna di atas bibir tipis yang selalu bicara lurus, keinginan untuk mencium Reinha bangkit. Coba ditahan-tahan, nyatanya susah. Jempol dan telunjuk pria itu di sana mengelus pelan coba singkirkan gairah. Sayang, seluruh sel-sel tubuh bereaksi, ketika ia fokus pada wajah tanpa riasan yang hanya sisakan sedikit gincu merah pudar di bibir. Lucky sudutkan kepala, merengkuh wajah Reinha hingga tengadah padanya. Ia tak tahan godaan dan menunduk menuju kecupan. Meskipun Reinha menyemprot glacier di sekelilingnya, aroma Jasmine lembut malah terhirup lebih kuat oleh Lucky. One kiss, sensor tubuh merespon. Gelombang listrik tingkatkan aliran darah hingga tubuh dalam dekapannya mengencang. Pria itu akhirnya mencumbu bibir si gadis.
Reinha terbangun saat dapat tekanan di bibir yang penuh gairah. Inderanya dipenuhi oleh aroma tubuh kekasih dengan perut kotak-kotak keras yang tersentuh jemari. Tangannya meliuk di sana, mendesah karena pria itu sangat seksi tanpa dilihat mata telanjang sekalipun. Kekasih dengan pancaran daya tarik kimia kuat yang buat tubuhnya bergairah tanpa diminta.
"Lucky?!" erang gadis itu separuh tak percaya, antara mimpi dan delusi. "Kaukah itu?!"
"Ya," sahut Lucky Luciano kembali pada bibir gadis yang sangat ia puja, dalam dan hangat. Kepekaan pada situasi sekitar mereka seketika lenyap, mata hanya fokus pada kekasih.
"Aku bermimpi indah dan aneh." Reinha berusaha buka mata. "Aku melihat kita dalam mimpi."
"Ya, teruskan saja! Aku akan menunggumu, tetapi jangan lama-lama, Enya!" ujar Lucky kembali lagi ke bibir, cari peluang, lebarkan celah dan segera bolos saat gadisnya merespon sinyal. Mereguk manis, mengajari gadis itu menari bersama.
Ketika ciuman adalah sebuah ungkapan cinta yang menyenangkan, Reinha membalas pria itu. Mata-mata masih terpejam, bayangan Lucky dalam pikirannya, cool dan tampan dengan rahang kecokelatan persegi yang kokoh, ia terlena pada pesona jantan yang sangat indah. Reinha mencumbu pria itu di antara sisa kantuk, menggigit pelan di antara helaan napas berat dan simponi tenggorokan. Tempo jantung meningkat, dan ciuman semakin buru-buru, penuhi desakan diri. Mereka berpagutan di pagi hening antara mimpi dan nyata, berbagi desah napas hingga tubuh rileks sebelum berpetualang dengan irama liar yang romantis. Dua hati bertemu, mengikat diri secara emosional.
"Aku tak bermimpi?!" tanya Reinha saat kepalanya berputar-putar oleh efek ciuman yang meledak. Rasa bahagia menjalar hingga ke seluruh tubuh, menjamahnya. Dengan lembut gadis itu menggigit dan dibalas, akhirnya ia biarkan Lucky Luciano bertindak dan merajai. Kata-kata berlarian meloncat keluar dari mulut ketika cinta bersatu dalam momen ciuman. Mereka saling bertatapan, menghitung kekuatan rasa dan temukan mereka jatuh cinta lagi dan lagi.
"Bangunlah, aku tak tahu apa yang akan aku lakukan padamu jika terus tenggelam dibalik selimut, Enya!"
"Aku sangat mengantuk, Lucky! Kau datang ke kamarku? Apakah Elgio tahu?"
"Ya atas seijinnya. Dengar Enya! Jangan pernah tidur seperti ini, bagaimana jika ada orang jahat masuk? Kau bahkan tak kunci pintu kamarmu?!"
"Aku terlalu mengantuk tadi pagi, Lucky. Bisakah kau tak mengomel?"
"Bangunlah! Aku tak bisa terus tahan godaan, aku bisa kalap mendekap kekasihku yang tanpa busana. Aku bukan Superman," katanya rapatkan pelukan. "Aku akan menunggumu di bawah!"
"Tidak, jangan pergi! Sebentar saja, ini luar biasa menyenangkan, denganmu di sisiku, di kamarku. "
"Enya ...." Pria itu terdengar putus asa saat Reinha memeluknya makin erat, tak ingin lepaskan ia pergi sementara api asmara bergelora dalam dirinya.
"Enya, aku bisa hilang kendali!"
***
Love me always....
Jangan lupa dukung Senja Cewen, klik favorit, like, komentar, share, rate bintang lima yah di atas kalau menganggap novel ini bagus dan jangan lupa kirim vote. Aku mencintaimu....