
"Hei Abner Luiz?!" Elgio mengerut pada walinya. Abner selalu bijaksana persis para Ayah tetapi seharian ini ia lakukan banyak hal aneh, kencani Luna yang beda karakter dan menyerang Maribella.
Bukan tak cocok dengan Abner, hanya Luna di luar gaya Abner. Dari sudut pandang para wanita, Abner Luiz menarik perhatian seseorang dari kedewasaan, kebijaksanaan, kecerdasan di atas rata-rata, sikap mental serta low profile yang mencintai kedamaian. Abner juga matang tenang, sangat tenang, pembuat keputusan terhebat tetapi bisa kejam, tegas, disiplin, otoriter dalam waktu bersamaan. Ia lebih dari sekedar bayangan Elgio Durante sebab Elgio sendiri bergantung pada Abner untuk segala keputusan yang ia buat. Elgio tumbuh di bawah didikan Abner yang berusia lebih tua darinya hanya beberapa tahun.
Leon Durante tak salah memilih wali untuk Elgio Durante padahal Leon bisa saja memanggil paman-paman ..., adik-adik dari Ibunya ..., untuk jadi wali Elgio. Tetapi, semua keluarga dari Ibunya ditendang menjauh dari Durante Land dan Leon Durante sendiri tak pernah bahas tentang Ibu dengan Elgio. Mereka menganggap wanita itu tak pernah ada meski Elgio sangat penasaran. Jadi, saat Leon meninggal dan mandat wali jatuh pada Abner, Elgio yakin Ayahnya tahu apa yang ia lakukan. Sejak itu, Abner tak pernah pergi dari sisi Elgio seberapa buruknya tingkah laku Elgio.
Abner miliki gayanya sendiri juga karakter original yang memukau. Bicara soal The Durante Company, orang akan menyoroti Elgio Durante tetapi lebih dari itu mereka akan membahas Abner Luiz, si sopir pengganti yang berubah jadi wali Durante dan memegang kendali di sisi Elgio Durante.
Sedang Luna Hugo?
Luna Hugo, si seksi nan menggoda dengan lirikan mata manja separuh genit, bertubuh sintal dan ia ada di perusahaan karena lulus seleksi dengan skor tertinggi, memang menggiurkan iman para pria. Ia cepat populer karena ..., tahulah ..., seksi dan montok, cekatan, ambisius, lebih mudah diingat ketimbang wanita yang rate-nya biasa saja. Luna seperti itu. Ia wanita karir sejati dalam balutan kemeja putih dan rok span hitam dengan blazer biru tua; Luna adalah si semok yang bisa buat para pria lupa daratan dan bola mata mereka bisa selebar keranjang pakaian saat Luna lewat sedang dua bokongnya bisa bikin getaran yang menakjubkan. Wanita itu persis salah satu model wanita dari majalah dewasa, hot and burning your brain, beibe. Meski demikian, Luna tak sembarang pacari pria. Satu perusahaan tahu prinsip pacaran ala Luna; pria matang, mapan dan single man. Seberapa menariknya seorang pria tetapi sudah berstatus, Luna tak akan ladeni ..., nilai plus untuk Luna Hugo hingga semakin digilai para perjaka satu kantor. Namun, sumpah demi apapun, Elgio menggeleng frustasi, em, Luna bukan wanita yang tepat untuk Abner. Elgio harus lakukan sesuatu sebab Luna terlihat ingin menyeret Abner pergi ke ranjang sesegera mungkin.
Oh Abner, apakah walinya itu ingin buat Maribella cemburu? Sedang Maribella?Maribella tampak tak peduli sedikitpun pada Abner dan Luna, malah terus tersenyum geli lihat tingkah Luna yang melengket seperti lem nasi pada lengan Abner.
Maribella bersahaja tetapi tetap bersinar layaknya wanita sejati saat memakai celemek dan menghipnotis mereka dengan masakannya hanya tampak seperti yang Reinha bilang, "Peri Pengasuh". Bukan sekedar Peri Pengasuh tetapi "Peri Pengasuh yang Istimewa". Maribella adalah "Malaikat tak Bersayap" untuk Reinha, Elgio dan Marya. Sekali lagi, Leon Durante tinggalkan mereka di tangan wanita yang benar.
"Kau selalu menjunjung tinggi kesucian meja makan, apa yang sedang kau lakukan sekarang?" tuding Elgio lupa bahwa mereka punya tamu. Well, tamu di meja makan adalah keluarga dekat Durante Land.
"Apa aku katakan sesuatu yang salah, Elgio?" tanya Abner lekas naik pitam.
"Kau tak harus menyinggung Maribel di sini?" tegur Elgio tidak senang dan Abner menggeram padanya. Apakah orang memang akan kelihatan bodoh saat jatuh cinta?
"Aku akan bicara dengan Bibi Mai," Marya berdiri. Melihat Bibi Mai sedih, Marya jadi ikut-ikutan sedih. "Silahkan mulai makan, Tuan-tuan sebelum makanannya dingin."
"Aku juga," sambung Reinha bangkit berdiri kehilangan selera makan. "Anda bisa mulai makan sampai kenyang bersama Nona Luna Hugo, Tuan Abner Luiz," sindir Reinha dan berlalu. "Jika butuh lilin untuk tambah kesan romantis aku bisa ambilkan lilin big size di lantai atas? Lilin itu bisa dipakai untuk terangi hatimu juga isi kepalamu, Ayah. Jika butuh bunga, aku bisa ambilkan untukmu dari taman belakang? Hmm?" serang Reinha lagi separuh kesal, menatap Abner menukik tajam. Ia tak pernah lakukan itu pada Abner seberapa marahnya dia. Tetapi Tuan Abner telah mengganggu Maribella. Reinha tak sukai itu.
Abner pegangi tengkuknya. Dia baru saja mengajak penghuni Durante berperang. Ia akan lewati malam yang berat nanti terlebih jika tiga kepala bocah jenius bersatu, bisa jadi Luna akan kapok padanya besok pagi.
Mereka mulai makan dengan suasana canggung sebab Tuan rumah kedapatan seperti kekasih yang pencemburu berat. Elgio terus-terusan menatap Abner curiga. Sementara Marya dan Reinha memilih bersama Maribella yang murka di dapur.
"Bibi Mai, apa kau baik-baik saja?" tanya Marya.
"Kurasa Ayah angkatku itu ada rasa untukmu, Maribella," ujar Reinha terus terang.
Maribella mengangkat wajahnya. Apakah terlihat seperti itu? Tuan Abner permalukannya di depan para tamu, Maribella sangat kecewa padanya. Bagaimana Nona Reinha menyebut itu "rasa"?
"Ya, kurasa begitu," sambung Marya.
"Maafkan Tuan Abner, Maribel. Mungkin Tuan Abner tak tega melihatmu menunggu di halte," pinta Reinha.
Maribella menggeleng, "Tuan Abner tak harus menyinggungku di ruang makan. Ia bisa bicarakan padaku secara pribadi. Kalian pergilah makan malam! Aku akan baik-baik saja."
"Oh tak akan terjadi, mari kita ke hunian belakang, menonton berita gosip sambil makan camilan," kata Marya. "Reinha akan temani tamu kita makan. Lagipula, Tuan Lucky sangat ingin bersamamu. Pergilah! Aku akan temani Bibi Mai."
"Begitukah?"
"Panggil aku jika makan malam telah selesai, aku akan bantu beres-beres."
"Baiklah." Reinha menoleh pada Maribella. "Hei Peri Pengasuh, pergilah kencan dengan Tuan Hansel kalau kau merasa cocok dengannya. Jangan dengarkan Tuan Abner, okay? Buat pria itu patah hati jika benar-benar menyukaimu!" Reinha semangati Maribella yang terlanjur malu oleh Tuan Abner sebelum kembali ke ruangan makan.
Suasana telah kembali pulih dan para pria mengobrol santai sehabis makan kecuali Luna yang tak bisa nikmati makanannya. Gadis itu cepat tanggap kalau Abner mengencaninya untuk pelarian. Tetapi, masa bodoh sebab ia jadi salah seorang dekat Durante Land kini. Itu lebih hebat.
Reinha bawakan dessert box, summer dessert dengan gumpalan ice cream murbei yang lezat dan kopi culture untuk Carlos yang masih ingin minum kopi. Elgio, Francis juga Carlos memilih pergi ke ruang kerja Elgio, menikmati kopi di sana. Sedang Lucky tak mau beranjak, sedari tadi cermati Reinha.
"Apa makanannya enak, Luna?" tanya Reinha tersenyum pada Luna abaikan Abner yang menyipit padanya. Reinha punya tingkat kecerdasan di atas rata-rata dan kemampuan bicaranya bisa sehalus kapas dan setajam samurai dalam waktu bersamaan. Abner curiga.
"Apa kau suka memasak?"
"Tidak, Reinha. Oh, aku tak suka dapur. Aku terlahir sebagai wanita karir. Ibuku tak ijinkan aku pergi ke dapur. Mengapa repot-repot masak kalau kita bisa pesan makanan atau menyewa pembantu?"
Reinha tersenyum lebar, "Kau benar. Aku juga tak pandai memasak tetapi suamiku bukan penuntut. Ia akan makan apa saja yang aku masak," tambahnya menatap Lucky Luciano sementara si suami yang tidak penuntut tersenyum penuh makna dengar bualan Reinha. Mereka akan pergi ke dapur memasak sesuatu sambil berciuman dan begini ... juga begitu. Pasti menyenangkan.
"Kuharap Tuan Abner juga begitu," ujar Luna pandangi Abner yang tahan napas.
"Oh tidak, Luna. Kau tahu, Tuan Abner-ku itu selalu ribut soal makanan. Tempat tersuci di dunia ini setelah Rumah Tuhan baginya adalah meja makan. Ia tak akan makan kalau makanannya tidak enak." Reinha sedikit berbisik "Ia sangat suka makanan rumahan yang dibuat dengan penuh cinta."
"Benarkah?" tanya Luna gelisah. Gadis muda itu mengangkat jemarinya dan pandangi kukunya dengan rasa sayang. Mungkin ia bayangkan akan masak di dapur, ia menggeleng ngeri.
Abner melototi Reinha dari ujung meja dan berjanji akan menjewer kuping gadis itu nanti setelah dapat kesempatan. Beraninya menakut-nakuti Luna.
"Luna, maafkan aku. Kami ternyata harus meeting tengah malam dengan Tuan-Tuan ini. Aku telah panggilkan taxi untuk mengantarmu pulang," kata Abner lekas-lekas selesaikan sesi menakuti Luna oleh Reinha. Ya Tuhan, ia jadi wali untuk tiga bocah jenius yang terlihat jauh lebih dewasa dari usia mereka mungkin karena mereka kurang di manja atau kehilangan orang tua dalam usia sangat belia hingga banyak buat keputusan sulit dan berjuang sendiri menempa kedewasaan. Maribella salah satu pihak berandil paling besar dalam kedewasaan Reinha juga Marya. Lihat saja gadis itu sekarang, bahkan disandingkan dengan Luna yang berusia 26 tahun, gadis kecilnya itu lebih dewasa. Seakan Luna satu tahun di bawahnya.
Luna tampak keberatan dan tak suka pulang sendirian. Ia bermanja-manja di lengan Abner dan sorot tajam Reinha kuliti Abner hingga ke tulang-belulang.
Luna mengangguk dan tersenyum, tahu mengambil hati Abner.
"Baiklah!"
Tetapi Abner berubah pikiran dengan cepat saat merasa ia tak ada bedanya dengan si sopan Hansel. "Atau, maukah kau tinggal di apartemenku sementara waktu sambil aku rapat?"
Tawaran Abner itu terlihat sangat menggiurkan.
"Tuan Abner Luiz?" tegur Reinha angkat bahunya bertanya. Apakah wali itu serius akan bermalam dengan Luna? Oh, Reinha yakin Abner tak akan selamat sebelum burung gagak bernyanyi tengah malam.
"Baiklah, aku akan antar Luna pulang, kalian bisa menungguku di ruang kerja. Kau beres-bereslah dan jangan coba kabur saat aku kembali. Kau dengar aku Reinha Durante?" Abner menatap Reinha tajam.
Reinha cemberut padanya tanpa mengangguk setuju. Bukankah Reinha yang harusnya marah, Tuan Abner menyinggung Maribella?
"Mau kubantu Sayang?" tanya Lucky perhatikan Reinha yang cemberut. Manis sekali dia.
"Oh tidak, duduklah. Aku akan selesai dengan cepat dan kita bisa bersama," sahut Reinha bergerak dengan lincah. "Oh semoga, Tuan Abner mengantarnya pulang alih-alih menginap di apartemennya. Jika itu terjadi, aku akan menahan Tuan Abner di sini malam ini. Ia tak boleh bersama Luna."
Reinha berceloteh sendirian tak berharap suaminya dengar. Tetapi Lucky amati tingkahnya, memujanya sedari tadi, ingin berdansa dengan Reinha dan menghirup aroma Jasmine gadis itu.
"Lucky?!" Reinha sadari kehadiran pria itu.
"Em, sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan denganmu."
"Ya, Tuan Carlos dan aku," sahut Lucky pelan. Harusnya ia menghilang diam-diam, tetapi Istrinya mesti tahu. Reinha mulai waspada.
"Ada apa? Apakah ini berhubungan denganmu? Apakah kau memukuli narapidana lain di penjara? Apakah kau bertingkah Lucky?" tanya Reinha menginterogasi.
"Oh ayolah, aku tak lagi urakan seperti itu Enya."
"Katakan ada apa?"
Reinha telah selesai dengan peralatan makan dan Lucky mendorong gadis itu ke ruang kerja Elgio.
"Reinha, aku akan bawa Lucky Luciano bersamaku untuk mencari Jurnalis kita yang diculik sepa****tis di pesisir timur," kata Carlos saat mereka sampai di ruangan kerja Elgio. "Situasi ini sangat rumit sebab ...."
"Tidak! Aku tak ijinkan suamiku pergi!" geleng Reinha tak ingin dengar sampai selesai kalimat Carlos dan menatap Lucky tajam.
"Enya ..., kami akan pergi selama 72 jam dan bawa wartawan itu kembali. Hukumanku akan diringankan. Aku akan dibebaskan."
"Kau bahkan belum disidang, Lucky Luciano. Bagaimana kau bisa tahu hukumanmu diringankan?" tanya Reinha keras. "Beberapa anggota militer kita ditembak mati dengan kejam di wilayah itu dan kepala mereka dijadikan peringatan untuk negara. Apa kau ingin aku melihat hal itu menimpamu?"
"Hei Enya ...," panggil Elgio saat raut Reinha berubah keruh.
"Kau mendukung mereka, Kak?" Reinha beralih menatap kakaknya tajam.
"Reinha, setidaknya dengarkan penjelasan ...."
"Baiklah, dia brengsek dan berandalan sejati, tak akan sesuatu yang buruk terjadi pada Lucky Luciano? Begitukah Kak?" serangnya marah.
"Hei Enya," keluh Elgio. "Baiklah." Berpaling pada Lucky Luciano yang menatap nanar pada Reinha. "Kau tak boleh pergi Lucky! Kau akan tetap di penjara dan tak perlu bantu negara, tak perlu pulihkan keadaan juga nama baikmu, tak perlu kompromi soal masa tahananmu, tak perlu lakukan apapun agar lebih cepat bersama adik perempuanku. Hanya ..., tinggal saja di penjara dan jangan keluar dari sana!"
"Enya ...." Lucky dekati Reinha dan rengkuh ia ke dalam pelukannya. Membelai rambut Reinha perlahan pahami kegelisahan hati gadis itu, cuma sebentar. Sebab Reinha kemudian menolaknya. Ia tahu Lucky sedang membujuknya.
"Aku akan temani, Bos ..., Nona Reinha. Jangan kuatirkan keselamatannya!" Francis ikut bersuara.
"Kalian berdua tak boleh pergi!" jawab Reinha tegas kali ini tatapannya menikam Francis. September sepertinya mulai bergantung pada Francis, bagaimana jika wanita yang baru pulih dari depresinya itu kembali menggila? Lebih dari itu Reinha tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Lucky atau Francis. "Apakah negara kehabisan orang? Kalian hanya warga sipil biasa meski kalian bisa memegang senjata."
"Enya ...."
"Kau akan tinggal di penjara 5 atau 10 tahun, aku bersedia menunggu. Aku akan kunjungi suamiku setiap Sabtu dan tabah. Aku tak ijinkan kau pergi meskipun bayarannya adalah kebebasanmu. Bagaimana jika kau terluka di sana? Tidak ..., bagaimana jika sesuatu yang buruk terjadi padamu? Bagaimana jika kau menghilang dalam misi? Apakah negara akan menggantimu dengan yang baru untukku?" tanya Reinha tajam.
Situasi di pesisir Timur bergejolak hebat untuk pemisahan dan korban berjatuhan tiap hari. Reinha tak berharap Lucky pergi ke sana. Jadi ini alasan pria itu berkeliaran di kota. Ia akan dibebaskan bersyarat untuk misi penyelamatan seorang reporter. Ia menggeleng. Lucky seorang prajurit dalam tanda kutip, ia bisa ugal-ugalan dulu tetapi tidak sekarang saat mereka telah menikah. Reinha tak ingin ambil resiko.
"Itu tak akan terjadi, aku akan pergi bersama Carlos dan dapatkan kebebasanku, Enya."
"Tidak Lucky. Aku akan kuliah sambil menunggumu, aku akan bekerja dan tersiksa karena merindukanmu tetapi aku tahu kau ada di penjara."
"Siapa yang hilang?" tanya Elgio.
"Apakah Irish Bella?" Abner yang baru bergabung menyambung, berusaha tak menengok Elgio tetapi ia malah lakukan itu.
"Irish Bella menghilang beberapa hari ini." Reinha berbisik pelan. Saat menyebut nama Irish ia menyerang Elgio tajam. Kesal sebab kakaknya itu diam-diam sembunyikan Irish.
"Oriana Fritelli," sahut Carlos mendung. "Aku tak gunakan seragamku untuk selamatkan Oriana. Terus terang Reinha, negara tak bisa bayar tebusan untuk Oriana karena kita baru selesai dengan krisis berkepanjangan. Meski atasanku tahu misi penyelamatan ini tetapi kami bertindak bukan sebagai militer. Aku berjanji, suamimu akan dibebaskan setelah misi ini selesai."
"Bagaimana jika gagal?" lirih Reinha pada dirinya sendiri.
"Tidak akan gagal, Enya. Aku akan kembali padamu, aku janji!"
"Kapan kalian akan pergi?" Reinha terguncang ia sangat berat biarkan Lucky pergi. Bagaimana bisa begini akhirnya? Mereka bersama sebentar lalu Lucky akan tinggalkan dirinya. Baiklah, 72 jam dan pria itu akan kembali padanya. Mereka tak akan terpisah lagi oleh dinding penjara.
"Apakah Anda ijinkan Lucky ikut denganku, Nona?" tanya Carlos formal.
Reinha tidak mengangguk atau menolak, ia berbalik pergi tepat saat air matanya merekah jatuh. Oh, mengapa firasatnya buruk. Bagaimana jika Lucky tak kembali?
"Enya ...." Lucky mengikutinya dari belakang berusaha menggapai kekasihnya dan berhasil meraih Reinha di ujung tangga.
"Bagaimana jika kau tak kembali?"
"Sudah kubilang aku akan kembali padamu! Aku memilih jalan ini agar kita bisa bersama, Enya."
"Ini terlalu berbahaya. Firasatku sangat buruk, Lucky. Aku tak bisa ijinkan kau pergi! 72 jam menghilang tanpa diakui negara? Itu misi bunuh diri Lucky!"
"Baiklah, mari bersama. Jangan merusak malam ini dengan firasat burukmu. Mari kita lupakan. Hmmm?!"
Lucky menggiring Reinha pergi ke kamar. Di sanalah akhirnya mereka menonton film dengan kalut. Berpelukan di sofa. Usianya baru 18 tetapi ia punya kisah cinta dan kehidupan yang rumit. Bagaimana nanti saat ia berusia 25 tahun? Reinha menoleh pada Lucky yang duduk dengan tenang di sisinya. Pria itu tak pernah terlihat takut. Saat-saat paling menakutkan bagi Lucky Luciano adalah buatnya marah.
"Enya ...," panggil Lucky mendekapnya hangat. "Aku terbiasa dalam bahaya sejak aku kecil. Mengapa pikirmu aku tak akan kembali? Lagipula aku bersama Francis dan Carlos. Kami hanya akan bersenang-senang sebentar. Aku akan datang padamu Sabtu sore dan kita bisa pergi kencan di hari Minggu. Bagaimana kalau kita pergi pada Al Shiva dan minta buatkan lukisan?"
Lihatlah dia dengan na'if-nya ucapkan "bersenang-senang". Ya Tuhan, suaminya memang berandalan sejati.
"Al Shiva melukis Elgio untuk Irish dan aku tak suka jika tiba-iba ia melukis wanita lain untukmu," tolak Reinha.
"Tetapi Al Shiva tidak sepenuhnya salah. Dalam beberapa kejadian, Elgio selamatkan Irish dan maksud Al Shiva mungkin itu. Beliau mungkin hanya salah soal 'kekasih masa depan'. Kurasa pria tua itu maksudkan, 'orang dari masa depan, Irish'. Kita tak akan minta lukisan masa depan, kita hanya akan meminta lukisan kita berdua dalam ukuran besar untuk dipajang di kantormu dan kantorku? Hmmm?"
"Baiklah, janji kau akan kembali Lucky! Aku akan menunggumu. Jika kau tak kembali aku akan menyusulmu ke sana!" ancam Reinha akhir ketenangan di wajah tampan Lucky Luciano.
"Oh, tidak. Jangan mengancamku, Sayang. Aku akan kembali. Tak akan kubiarkan kau pergi ke tempat berdarah itu!"
"Aku akan mengikutimu ke sana, jika kau berani-berani tak kembali."
"Enya, ayolah ...."
"Ingat saja itu, Lucky Luciano!"
***
Wait me up ....