
Dua Minggu setelah mendekam di penjara, Maribella dijemput oleh Elgio di sore hari. Ia dibebaskan bukan karena tuduhan tak bersalah, tetapi karena pihak pelapor mencabut berkas tuntutan.
"Maribella ...." Elgio tersenyum haru dan memeluk pengasuhnya erat-erat. Maribella menahan sakit di tubuhnya. "Maafkan aku sebab aku biarkanmu menginap di penjara lebih lama. Aku sangat kesal karena tak bisa keluarkanmu lebih cepat, Bibi Mai." Elgio memeriksa pengasuhnya. Maribella tampak pucat dan sakit. "Apa kau baik-baik saja, Maribella? Perlukah kita pergi ke dokter?"
"Terima kasih Tuan Elgio atas perhatianmu. Aku hanya tak terbiasa tidur di penjara. Meskipun aku hanya seorang pelayan, aku diperlakukan seperti Ibu Ratu oleh anak-anak asuhku. Penjara buatku tertekan. Syukurlah, aku dikeluarkan dari sana. Bisakah kita pergi saja?" keluh Maribella menengok penuh kengerian pada gerbang penjara.
"Baiklah. Mari kita pulang ke rumah, Maribella."
"Apa Abner pergi ke Bali?" tanya Maribella saat tak lihat Abner datang bersama Elgio.
Pintu mobil dibuka Augusto dan Elgio temani Maribella di belakang, memeluk pengasuhnya dalam perjalanan pulang. Mereka tak temukan bukti yang bisa ringankan Maribella. Satu-satunya cara, meminta Luna mencabut tuntutan. Tentu saja sulit temukan bukti, pelaku yang menjebak mereka pasti seseorang yang sangat cerdas juga sangat berpengalaman. Meski di kantor suasana kembali tenang, Elgio diam-diam selidiki semua orang.
Elgio hembuskan napas berat. Ia ingin beritahu Maribella bahwa Abner selalu bersama Luna sejak gadis itu di rumah sakit hingga Luna kembali ke kediaman orang tuanya. Abner ikuti kemauan Luna Hugo agar keluarga Luna menarik berkas laporan dan mencabut tuntutan pada Maribella. Hanya itu satu-satunya cara untuk saat ini. Potasium sianida dilarang penggunaannya pada makanan dan Maribella akan menerima hukuman mati jika terbukti bersalah, Abner hindari itu terjadi. Elgio yakin Abner sedang rencanakan sesuatu, jadi, Abner relakan dirinya sambil mencari bukti untuk pulihkan nama baik Maribella dan agar Maribella segera keluar dari penjara.
"Kalian akan bicara setelah berjumpa, Bibi Mai."
Maribella mengangguk penuh kecemasan. Ia tersiksa selama berhari-hari sebab Abner tiba-tiba tak berkunjung. Mungkin Abner pergi ke Bali sesuai jadwal untuk bertemu Tuan Nakamura ataukah Abner sibuk bebaskan dirinya. Hanya pengacara saja yang berkunjung dan kabari kondisi Luna membaik. Maribella tak mengerti tentang sianida potasium yang mereka bicarakan, hanya dari pengacaranya, Maribella ketahui bahwa racun itu adalah racun tikus.
"Apakah Marya dan Reinha makan dengan baik, Tuan Elgio?" tanya Maribella tiba-tiba muram. Saat Elgio mengusap lengannya, Maribella meringis tahan perih di kulit-kulit lengannya. Dibalik sweater tebal, lengan-lengannya memar parah.
"Tidak, meskipun aku berusaha sekuat tenaga. Kau tahu, kedua gadis kita itu tak bisa hidup tanpamu. Mereka memaksa ikut tapi mereka ada kelas tambahan selama seminggu ini."
Maribella mengangguk lesu. Ia merasa sedih untuk dirinya dan ketika sampai rumah, ia tiba-tiba tak ingin memasak hanya merenung di hunian sepanjang sore pikirkan hal yang tak terduga yang mendadak saja menimpanya. Ia dituduh racuni seseorang, pembunuhan berencana. Hanya gara-gara ingin berbaikan dengan Luna. Ia memeriksa lengannya yang membiru, juga lehernya dipenuhi bekas cekikan dan kuku-kuku yang tenggelam dalam daging timbulkan luka dan nyeri. Perutnya sedikit bengkak ditambah kakinya terkilir sehari sebelum ia pergi ke penjara dan semakin meradang karena tak dapatkan perawatan. Betapa ia alami hari yang buruk dalam penjara. Beberapa wanita dalam sel menindasnya dan saat ia melawan, ia malah disiksa opsir penjara. Tubuhnya dipukuli dan ditendang. Mereka lakukan hal-hal agak keji menurut Maribella, ludahi makanannya hingga akhirnya ia tak makan dan penjaga laporan ke sipir penjara bahwa ia mogok makan. Maribella memakai sweater kerah tinggi untuk tutupi luka di tubuhnya.
"Maribella ...?!"
Reinha dan Marya berteriak haru biru di hunian dan memeluk pengasuh mereka lama-lama seakan takut Maribella menguap dan menghilang. Maribella menahan sakit agar dua gadis di depannya tak resah.
"Oh aku merindukan kalian berdua."
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Marya berkaca-kaca sebelum menangis. Gadis itu memang paling cepat meluruh dengan air matanya. "Aku gelisah hingga tak cukup tidur karena pikirkanmu."
"Maribella, kurasa kau harus kuat menerima kenyataan." Reinha memeluk Maribella erat, ciumi pengasuhnya berulang kali. "Tuan Abner akan menikahi Luna Hugo." Dekapan Reinha sisakan nyeri hingga di tulang-tulangnya.
Seakan dapat cambukan cemeti duri, Maribella menggigit bibirnya kuat. Tak menduga begini akhirnya. Marya malah mulai sesegukkan di sisinya. Mungkin karena hamil, gadis itu jadi sangat sensitif.
"Apakah Nona Luna baik-baik saja?" Itu yang terpenting pikir Maribella. Jika Luna mati, ia mungkin tak akan pernah pulihkan nama baiknya.
"Ya, ia telah pulih sepenuhnya menurut Augusto. Tuan Abner selalu bersamanya," lapor Reinha dengan nada miring.
"Baiklah. Yang penting Luna selamat."
"Untungnya Maribella, racun yang masuk dalam tubuh Luna dalam dosis sangat kecil. Jika dosis besar, lambungnya bisa rusak karena pembekuan darah dan dia bisa mati. Aku yakin Tuan Abner dan kau telah dijebak, Maribella," ujar Reinha mulai berspekulasi.
"Cuma ada dua kemungkinan dari kasus ini, Luna Hugo racuni dirinya sendiri agar bisa buatmu jadi tersangka lalu di penjara," sambung Marya akhiri tangisan sebab suasana jadi tambah sedih untuk mereka. Dari Elgio mereka tahu bahwa Luna dan Maribella bertengkar di kantor Abner bahkan Maribella melawan Luna dengan tegas. "Atau salah satu teman kantor Luna dan Tuan Abner yang tak suka pada mereka berdua menaruh sianida sebelum dimakan Luna."
"Oh kau tahu, kita bisa pelajari ini dari serial Detektif Conan."
"Benar Reinha, seri ke 26. Kohei Kamata keracunan setelah minum es cola yang dibawa Mai Kogami."
"Apa kita perlu selidiki, Marya? Kita bisa ajak Ethan Sanchez! Makanan apa saja yang kau berikan pada Luna?"
"Oh hentikan, kalian berdua. Biarkan pengacara pecahkan kasus ini. Kalian harus fokus ikut kompetisi!"
"Maribella, misalkan tak racuni diri sendiri kemungkinan Luna tidak hanya makan makanan darimu. Ia mungkin juga minum sesuatu misalkan kopi atau es yang diberikan oleh seseorang. Mereka harus selidiki itu." Marya mulai lagi dan kedua bocah itu benar-benar seperti detektif.
"Kita harus lihat waktunya juga Marya. Selang waktu sejak Maribella berikan makanan pada Luna sampai Luna keracunan."
"Waktunya sangat dekat. Kami baru selesai makan ketika seseorang katakan Luna keracunan di kafetaria. Di sana banyak pegawai. Luna bergabung di kafetaria langsung buka kotak makan siang dariku dan mulai makan. Beberapa suapan ketika Luna mengeluh makanannya terasa tak enak dan sangat buruk. Ia kemudian pusing, mual dan muntah-muntah lalu pingsan." Maribella akhirnya berikan penjelasan pada Marya dan juga Reinha yang sangat penasaran.
"Kurasa ia menaruh bubuk sianida saat di lift."
"Tapi di sana ada kamera pengawas, Reinha."
"Bagaimana kalau ia kembali ke kabinetnya dan menabur sianida di kotak makan dibalik kabinet yang tertutup?" Reinha mengerut, keduanya saling pandang persis detektif wanita.
"Itu berarti ia telah rencanakan akan racuni diri sendiri tinggal menunggu waktu tepat untuk eksekusi. Luna telah lebih dulu siapkan bubuk sianida. Tuan Abner hanya perlu menggeledah kabinet kerja Luna atau memeriksa apakah ada residu yang tertinggal ataukah ada paket yang diantar ke kantor atas nama Luna setelah kalian cekcok. Bisa saja ia membeli pesanan itu secara online. Apakah ada kemungkinan ia kembali ke tempat kerjanya ke kabinet setelah menerima bekal makan-mu bukan langsung turun ke kafetaria kantor?"
"Ya ya ya, itu benar sekali. Ia mungkin pura-pura memakai blazer atau mengambil kartu tanda pengenal kantor sambil sirami makanan dengan racun."
"Atau memeriksa berkas, cek email. Semoga tak ada insiden di mana kamera pengawas di ruangan tiba-tiba blank."
Ketiganya terdiam. "Aku berharap seseorang yang tidak menyukai Luna atau Tuan Abner racuni Luna sebab jika ia racuni diri sendiri ..., Reinha ..., kita tak bisa biarkan pernikahan Tuan Abner dan Luna terjadi." Marya menggeleng. "Luna mungkin psikopat."
"Kau benar. Oh, buruk sekali. Mereka akan makan malam di sini, Maribella. Ini sungguh buruk. Luna tahu kau dibebaskan hari ini, dan ia memaksa untuk ikut makan malam. Mengapa aku selalu terlibat dengan wanita cantik yang gampangan?" rutuk Reinha geram.
"Aku tak bisa memasak untuk mereka," geleng Maribella menolak keras. "Bagaimana jika Luna keracunan lagi?"
"Kau tak boleh menghindar, Maribella. Jika kau bersembunyi, Luna mungkin senang sebab ia merasa menang." Reinha semangati Maribella.
Begitulah akhirnya semua orang berkumpul di ruang makan dalam situasi rumit. Luna masih tampak pucat dan Abner di sisinya terlihat penuh perhatian. Maribella menolak keras bergabung meski ia akhirnya memasak becalhau grelhado, merebus macam-macam sayuran yang disiram dengan minyak zaitun dan menyusun dalam nampan bersama roti boa. Ia kemudian hanya tinggal di hunian.
"Apa Anda punya alergi tertentu, Nona Luna? Atau mungkinkah anda alergi ikan cod?" tanya Reinha siapkan piring. "Aku takut di penjara jika kamu kedapatan menggelepar di ruang makan kami." Reinha adalah penyerang yang baik, pikir Elgio dan terlihat dua gadis itu akan lakukan sesuatu untuk pisahkan Luna dari Abner.
"Ya benar, beritahu kami jika kau punya riwayat alergi!" tambah Marya menyendok nasi. Marya sengaja masak sup sayuran, menanak nasi dan memanggang daging persis yang dimakan Luna sebelum keracunan untuk lihat reaksi Luna.
"Bukankah, Nona Maribella telah keluar dari penjara? Di mana dia?" tanya Luna pelan pandangi nasi dan daging panggang ngeri.
Marya dan Reinha saling pandang. "Maribella sedang istirahat di hunian."
Marya perhatikan Abner yang tampak teduh seperti biasa, seakan tak terganggu pada apapun atau pria itu berpura-pura.
"Bisakah kita mulai makan?" tanya Abner.
Maribella tak diduga bergabung, sepertinya ia memikirkan perkataan Reinha.
"Nona Luna, apakah Anda baik-baik saja?" tanya Maribella penuh perhatian tak berani melihat pada Abner di sisi Luna. Jika ia lakukan itu ia yakin akan menangis. Hatinya yang lembut sungguh terluka karena pria itu berkorban untuknya.
"Nona Maribella, ya aku pulih dengan cepat berkat Tuan Abner."
"Ya, baiklah. Silahkan makan malam."
Luna makan sedikit, mungkin karena baru sembuh sakit, ia terlihat tak sukai rasa makanannya.
"Apa terasa aneh?" tanya Abner seakan masih trauma.
"Makananmu dimasak oleh Tuan Hansel, Nona Luna. Aku buatkan ikan cod untuk orang-orang rumah tetapi tak berani memasak untukmu. Aku takut akan sungguh-sungguh taburi racun tikus di atas makanannya dan buat Anda benaran pergi ke neraka." Perkataan Maribella sangat tajam, sarkas dan mengandung elemen sadisme, hingga semua orang berpaling pada Maribella. "Kurasa harusnya aku benar-benar menaruh racun di makananmu agar aku tidak sia-sia mendekam di penjara."
"Kau sangat kasar, Maribella." Luna duduk tak tenang.
"Mai ...."
"Kurasa bukan aku pelacur murahan tetapi dirimu sendiri, Luna. Kau akan nikahi Tuan Abner dan Elgio Durante akan berikan dirimu tas termahal di dunia sebagai hadiah sedang dua puteriku akan hadiahkan mantel keluaran terbaru juga dress edisi terbatas sebab kurasa itu tujuanmu ...."
"Maribella, bukankah kau keterlaluan?" Luna memandang Maribella jengkel. "Harusnya kubiarkan kau membusuk di penjara."
"Ya kau benar, harusnya kau lakukan saja itu! Well, semoga kau bahagia setelah menjebak aku." Maribella tersenyum getir.
"Omong kosong apa yang kau katakan Maribella? Apa kau pikir aku sengaja racuni diriku sendiri?"
"Kurasa kau lebih tahu jawabannya, Luna sebab bukan aku yang racuni-mu. Baiklah, lupakan saja! Aku berharap suatu hari kebenaran terungkap. Nikmati makananmu."
Maribella yang sakit hati itu terlihat sangat kesal hingga rasanya ingin lempari Luna dengan sesuatu. Ia keluar dari ruangan makan hendak pergi ke hunian belakang. Saat membuka pintu dapur, Hansel berdiri di sana, baru selesai antarkan dessert. Mengerut saat lihat mata basah Maribella, tak menunggu untuk memeluknya. Maribella menangis marah.
"Jangan menyerah Maribella. Kau tahu, kadang cinta itu butuh pengorbanan. Maaf aku baru tahu kalau kau di penjara. Jika Tuan Abner mencintaimu, kau hanya harus percaya padanya. Hmm?!"
Maribella menangis terisak-isak oleh sakit hati.
"Mau jalan-jalan sebentar?" tanya Hansel. "Kurasa kau belum makan malam."
"Aku ingin sendirian."
"Ayolah, Nona Maribella. Bukankah kita berteman? Kau tak bisa simpan sendiri lukamu."
Maribella terlihat kurusan dan pucat. Tangannya bahkan sangat dingin. Apakah sesuatu terjadi pada wanita itu di penjara? Ia terlihat punya luka di pangkal lehernya seperti bekas cengkeraman dan saat bicara tangannya terus pegangi leher, suaranya berubah serak atau mungkin karena menangis. Jalannya juga agak pincang.
"Ayolah!" desak Hansel pegangi bahu Maribella dan wanita itu menolak saat disentuh. "Apa sesuatu terjadi?" tanya Hansel akhirnya memaksa.
Maribella berpikir, ia tak mungkin bergabung di ruang makan sedang Luna di sana tetapi tak benar pergi dengan Hansel. Tak menyangka Luna akan selicik itu. Luna pasti batalkan tuntutan asalkan Abner menikahinya. Maribella yakin seperti itu.
"Ayolah, kita akan makan sesuatu agar kau merasa baikan. You know, blueberry dessert in jar dan malas-malasan," bujuk Hansel.
"Terima kasih atas perhatianmu Hansel. Aku hanya ingin sendirian."
"Baiklah, tetapi kau harus makan sesuatu!"
Maribella menolak pergi bersama Hansel dan kembali ke hunian. Menolak buka pintu saat Reinha dan Marya datang sedang Abner antarkan Luna pulang. Terdengar dari klakson mobil pria itu saat hendak tinggalkan halaman rumah. Maribella hanya tengkurap di atas ranjang sebab punggungnya sangat sakit. Ia demam semalaman dan mengerang kesakitan. Meski demikian, pagi-pagi hari sekali, Maribella siapkan sarapan seperti biasa, mengaturnya di meja makan, mengisi vas dengan dandelion kering dari kebun belakang yang ia patahkan jelang pagi. Ia kembali ke dalam hunian, menulis sepucuk surat dan titipkan pada Natalea untuk diberikan pada Reinha dan Marya. Ia mendorong koper menuju taxi yang menunggu tanpa menoleh, tinggalkan Paviliun Durante.
***
Like me, Like this Chapter....
After this, kita akan tahu kabar dari Carlos untuk Reinha....