
"Tutup matamu!"
Elgio menuntun Marya memasuki kamar. Sementara setelah perdebatan panjang, Reinha Durante mengekor dari belakang seperti kepala sipir di sebuah lapas. Ia tak banyak tanya sekalipun ia punya banyak pertanyaan. Wajah Elgio terlihat sangat bahagia dan pria itu terus tersenyum hingga sudut-sudut matanya berkerut. Reinha tak sanggup merusak suasana hati kakaknya yang penuh gelora.
Mereka sampai di dalam kamar dan Marya dipersilahkan membuka mata. Sedang Elgio pergi mengambil sesuatu. Marya berkaca-kaca dan bersedih tanpa ijin dirinya sendiri mengingat Aruhi pernah menangis sendirian di kamar ini suatu waktu, saat Ayah sekarat.
"No, Honey. No ... no ... not Now!"
Elgio kembali dengan cepat dan memeluk Marya, tertekan. Ia menyesal sebab terlambat menyadari dan mencegah Marya menumpahkan air mata. Pria itu lantas berusaha membujuknya. Dengan hati yang sakit tanpa sisa, selama lima menit mereka berpelukan sementara air mata Marya berlinang. Elgio mengelus rambut gadis itu pelan kemudian dengan tangan yang sama menepuk bahunya memberi penghiburan.
Lalu ... ketika Marya telah tenang, perlahan -lahan Elgio melepas pelukan dan mengangkat wajah Marya. Tak disangka mata Elgio telah sepenuhnya basah.
"Elgio," bisik Marya tertahan dengan suara kecil dan lemah.
"Maafkan aku, tidak menemukanmu lebih cepat. Maaf karena tak bisa menjagamu dan menyelamatkanmu lebih cepat. Aku sungguh menyesal."
"Elgio ...."
Marya menyentuh pipi Elgio diikuti oleh bibir bergetar saat ia berkata, "Elgio, aku merindukanmu hingga hampir gila. Aku sangat mencintaimu. Kau adalah pangeran impianku dan aku memilih untuk mengasihimu dengan sepenuh hatiku! Aku menantikanmu bertahun-tahun."
Elgio terdiam oleh untaian kata-kata termanis dan paling menyejukkan yang pernah didengar oleh telinganya. Ia membungkuk mengecup kening Marya sebelum melepas ring tempat gantungan kunci dari jari Marya. Ia meringis ketika melihat jari gadis itu agak merah akibat ring yang dipaksa mengecil agar pas dengan jari Marya.
"Maafkan aku ...." Mengecup jemari Marya sekali lagi dan menghapus bekas air mata di pipinya lalu di pipi Marya. Jika saja ia pulang lebih cepat ke Durante Land dan mencari Marya. Tak guna menyesal, mereka telah bersama kini. Hanya Tuhan yang bisa pisahkan mereka.
"Aku gantikan dengan ini."
Elgio membuka kotak cincin berkubah Limas yang dipegangnya sedari tadi. Benda itu berbahan kaca bening transparan dan dua buah cincin bisa terlihat jelas dari luar. Ia mengambil hati-hati sebuah cincin bergaya vintage elegan yang sangat feminim dan mengalungkan cincin itu di jemari kiri Marya. Model cincin berbentuk mahkota dengan satu mata berlian besar yang diapit dengan dua mata berlian kecil, sungguh indah.
"Sangat indah ... " guman Marya terpukau. Kesedihannya perlahan pergi. Ia berbunga-bunga oleh perlakuan Elgio.
"Dan cantik sepertimu."
Cincin itu melekat sempurna di jari Marya seakan memang tercipta untuknya.
"Aku memeterai cincin ini dengan doa dan ketulusan cinta seorang suami. Berbahagialah selalu," ujar Elgio mulai melankolis.
Wajah Marya merona merah. Ia merekah bahagia. Di kamar besar dan luas, di mana Aruhi pernah bersedih, Elgio melamarnya lagi. Kamar ini telah jadi kamar Elgio.
Cinta mereka tumbuh liar tanpa pupuk dan rangsangan selama bertahun-tahun. Tumbuh begitu saja. Menemukan Aruhi untuk harta cuma akal-akalan Elgio dan bersyukur Marya terlahir untuknya.
Elgio sempat cemburu pada Ethan Sanchez ketika didapatinya remaja lelaki itu terus melirik pada Marya di hari perwalian. Elgio bahkan dengan bodohnya telah membandingkan Ethan dan dirinya. Ia meringis geli, itu sangat kekanak-kanakan. Ia persis remaja belum dewasa dalam pemahaman cinta, yang penuh harap dan memperjuangkan hubungan yang aman tanpa bisa menebak isi hati gadis di hadapannya. Harusnya ia percaya diri pada kedewasaan cinta di antara mereka.
"Elgio," tanya Marya malu-malu. "Siapa sajakah gadis yang kau kencani selama ini?"
"Um, hei ... " sahut Elgio gelisah. "Bagaimana kalau bicaranya tentang kita saja?"
"Apa mereka cantik-cantik?" tanya Marya ingin tahu. Elgio sangat tampan, tak mungkin tak pernah berkencan.
"Umm ... " jawab Elgio canggung. "Sebenarnya tak pernah ada yang kukencani."
"Apa tak ada gadis di sekelilingmu?"
"Um, ada. Mereka jelek," jawab Elgio bersyukur ia tak mengenal satupun gadis jelek yang ia bicarakan hanya untuk membuat Marya gembira, sehingga tak akan ada wanita yang tersinggung.
Rasa percaya diri Elgio pulih cepat akan pengakuan cinta Marya dan ia bicara dengan tegas dengan disertai sorot mata dimabuk cinta.
"Tidak ada yang aku kencani karena tujuan cintaku hanya padamu. Dan tak ada satupun wanita di sekelilingku lebih cantik darimu!"
Marya memerah dan gadis itu mengambil cincin polos berbahan sama dengan dengan cincin miliknya tetapi lebih glossy dan menyematkannya pada jari manis Elgio sebelum mengecup tangan pria itu hangat. Marya berlabuh di dada Elgio dan disambut dekapan cinta.
Sementara Reinha memandangi dua orang itu takjub. Ia diminta jadi saksi untuk -entah- apa namanya? Ia menggaruk ujung kuping dan sesekali pegangi bibir yang bengkak akibat terlalu sering digosok. Bibirnya telah menebal sekian inci seperti penghapus papan akibat alergi pada bibir yang ia gigit kemarin. Tiap ingat kejadian itu, ia menggosok bibirnya ngeri.
Reinha hanya menonton drama romantis tanpa berniat bersuara bahkan ia menahan angin tornado di dalam perut yang telah berputar sejak tadi, agar tak meletus dan mencemari suasana.
"Apa kalian sudah selesai? Aku pegal karena harus berdiri seperti nyamuk tak bersayap. Kau bisa tidur di kamar sebelah, Marya! Dan kalian bisa saling berbisik, mengirim puisi atau bersenandung tentang cinta lewat tembok sepanjang malam. Cinta kalian mungkin bisa merobohkannya. Aku harus kembali ke kamarku!"
Reinha mengarahkan dagu ke tembok. Ia memutar tubuh langsing hendak pergi. Seakan melupakan sesuatu ia berbalik dan tatapannya menukik tajam pada Marya.
"Aku punya banyak pertanyaan dan kau akan ikut kuis di meja makan besok pagi, Marya Corazon. Aku jadi sangat bersemangat menyusun pertanyaan."
***
Mohon dukungannya selalu...
Pekerjaan Author di dunia nyata adalah seorang wedding planner dan penata rias untuk Bridal yang Author bangun sejak 4 tahun lalu. Minggu ini, beberapa pernikahan memaksa Author harus fokus. Tetap update hanya mungkin lelet. Mari saling mendoakan....
Bonita (cantik)
Mi Menge (Manis)
Bella (Cantik)
Obrigada, Rimagazi (Terima kasih)