
Aruhi dan Elgio harus pergi mendadak karena urusan penting, Arumi terpaksa ikut acara hingga selesai. Diapiti Nyonya Adele dan Paman Hellton, Arumi berharap setidaknya ada Elgio Durante yang lebih paham tentang saham dan segala urusan bisnis. Dirinya bahkan dapat angka merah untuk kelas akuntansi dan diketuk bolak-balik keningnya oleh Ethan Sanchez.
Ethan?!
Arumi kulum senyuman di bibirnya. Ia segera lamun jauh. Ciuman pertama mereka sungguh timbulkan hasrat aneh dalam dirinya untuk melihat Ethan Sanchez. Ia barusan berjanji untuk tak tergoda menguntit Ethan Sanchez. Apa ini? Sangat lega saat pertemuan itu berakhir tanpa satupun yang tersimpan dalam otaknya kecuali Ethan Sanchez di segala sudut.
"Kamu masih takut padaku?" tanya Hellton Pascalito saat antarkan Arumi ke depan rumah. Archilles mengekor dari belakang.
Arumi mengangguk. "Ya, jika Uncle menatapku tajam. Aku selalu merasa Uncle mengetahui dosa-dosaku!" katanya coba tuk jujur. Siapa tahu setelah bicara dari hati ke hati dengan Paman Hellton, ketakutan pada wajah angker Paman Hellton merayap pergi.
Hellton serta merta terbahak-bahak, suara tawanya memecah keheningan peternakan. Aneh, suara tawa Paman Hellton sangat nyaman untuk didengar. Tertangkap berbeda saat diam, tersenyum dan tertawa. Arumi menyebut, keajaiban satu wajah dalam tiga emosi.
"Astaga, lihatlah bocah ini. Kau sangat menggemaskan, Arumi Diomanta."
"Apakah Irish Bella akan jadi aunty kami?" tanya Arumi hingga Hellton berhenti tertawa, kembali tersenyum misterius pada Arumi.
"Mengapa tak bertanya langsung padanya?" Hellton balik bertanya menoleh ke arah rumah, Irish di balkon lantai dua, pandangi padang rumput sementara langit mulai menggelap.
"Lupakan saja! Aku harus pulang. Sampai jumpa, Uncle Hellton ... " lambai Arumi buru-buru angkat kaki ke arah mobil, kakinya sedikit pincang.
"Lihatlah gadis itu!"
Archilles membungkuk, "Kami harus pergi, Tuan Pascal."
"Archilles Lucca," tegur Hellton, "lindungi Aruhi, ponakanku! Aku tak bisa mendukungnya sebab ia bersih keras akan lakukan sebuah pembalasan dengan caranya sendiri. Kau tahu bahwa ia mungkin akan bertindak yang dapat bahayakan dirinya sendiri. Meskipun aku yakin, Aruhi akan sangat mematikan seperti Salsa Diomanta, aku tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Aruhi. Jaga dia dengan nyawamu dan hubungi aku jika kau dalam kesulitan!"
Archilles membungkuk sekali lagi, "Yes, Sir. Anda bisa andalkan aku."
Archilles pergi dari sana setelah menerima banyak file digital target yang dibutuhkan Aruhi. Ia masuk ke mobil dan sedikit terkejut temukan Arumi duduk di bangku depan, di sampingnya.
"Anda bisa duduk di belakang, Nona," saran Archilles.
"Em, aku tak suka duduk sendirian di belakang. Kau tak nyaman aku duduk di depan?" tanya Arumi.
"Bukan begitu, Nona."
"Lupakan! Archilles Lucca, aku ingin pergi ke kafe."
"Baik, Nona!"
"Kau tak protes?" tanya Arumi gugup sendiri dapati ia baru saja melanggar janji untuk tidak mengintip Ethan Sanchez. Oh, mengapa pria itu semacam candu untuknya. Arumi berbalik menatap Archilles yang terperangah. "Bukankah kau harus melarang aku dekati Ethan Sanchez?"
Archilles menarik napas panjang dan kuat segera starter mobil.
"Nona ... Anda tak boleh menguntit Tuan Ethan lagi. Biarkan Anda menjaga harga diri Anda dan biarkan Tuan Ethan mengejar-ngejar Anda." Archilles mengerut serba salah. Benar kata Tuan Elgio, ia mengawal seorang yang sangat bawel tapi seperti kata Tuan Hellton, Nona Arumi sangat menggemaskan.
"Oh tidak, bagaimana ini? Aku ingin melihatnya?" tanya Arumi cemberut. "Ethan Sanchez kerubuti kepalaku. Dia sedang berbisik padaku? Memangnya aku bisa berhenti suka padanya? Ya Tuhan, aku harus bagaimana?" Arumi ricuh sendiri.
"Anda akan melihatnya sebentar dari mobil dan pergi sebelum kepergok. Kurasa tak mengapa," usul Archilles.
"Kau cerdas, Archilles," sahut Arumi, "aku suka gayamu." Arumi tersenyum lebar.
"Silahkan dipakai sabuk pengamannya, Nona!"
Mereka berkendara dalam diam keluar dari peternakan, sedang langit mulai menggelap sempurna.
"Apakah Ethan masih di kafe?" tanya Arumi seakan-akan Archilles punya ceklist jadwal Ethan Sanchez.
"Tuan Ethan sangat giat bekerja, kurasa beliau masih ada di kafe."
Lewati wahana, Arumi melengkung senyuman. Ia sukai hantu mesum yang mencumbunya dalam kegelapan. Hatinya berdebar-debar mengingat ternyata hantu itu adalah Ethan Sanchez. Ia mengetuk telunjuknya pada tepian kaca mobil, nikmati detak jantung berirama. Ethan selalu bersama Sarah tetapi Ethan selalu manis padanya. Hatinya selalu berbunga-bunga, merekah tanpa aturan. Apa ini?!
"Ceritakan padaku tentangmu, Archilles!" Arumi halau pikirannya tentang Ethan.
"Apa yang ingin Anda ketahui?"
"Berapa usiamu? Sekolahmu?"
"Aku 26 tahun Nona dan bekerja sebagai pengawal Nona Arumi Chavez."
"Ya ya ya. Baiklah. Apa pendidikan terakhirmu?"
"Sarjana Ekonomi."
"Sarjana Ekonomi? Ka, Ka, kau sarjana Ekonomi?" Arumi terbelalak, tak menduga pria itu seorang sarjana. Itukah alasan, Archilles bisa menghapal hipotesis Karl Max hanya dengan sekali dengar?
"Ya, aku dulu bekerja sebagai akunting di sebuah minimarket 24 hours. Lalu Valerie merekrut untuk bekerja padanya. Sebenarnya aku punya banyak Tuan, bukan hanya Valerie. Aku akhirnya jadi penjahat yang bekerja demi bayaran tertinggi."
"Aku tak pernah melihatmu saat aku ke mansion Valerie?"
Archilles mengangguk. "Anda benar. Aku a**nimous hidden, Nona, tanpa identitas. Tak boleh terlalu terekspos. Mirip Paman Anda, Tuan Hellton Pascalito."
"Apa kita pernah bertemu?"
Archilles menggeleng. "Tidak, tetapi aku pernah sekali melihat Anda di mansion saat aku dipanggil untuk sebuah tugas. Nyonya Valerie sangat menyayangi Anda. Ia sering bicarakan Anda."
"Ya," sahut Arumi sedih. "Tetapi ia sakiti keluargaku."
"Dia pantas mendapatkannya, Nona. Jika Valerie tak mati, Anda mungkin akan hidup di bawah pengaruh buruknya."
"Ya, aku bersyukur." Ia sukai kehidupannya yang sekarang bersama Aruhi yang sangat menyayanginya.
"Kita hampir sampai, aku akan parkir agak jauh."
Arumi kembali bersemangat. "Tidak, parkir saja di seberang jalan. Aku tak bisa lihat dia jika kau parkir terlalu jauh," seru Arumi kumat cintanya pada Ethan. Berdebar-debar teringat ciuman Ethan padanya.
"Kurasa Anda bisa melihat Tuan Ethan dari sini, Nona. Anda bisa pura-pura ingin beli minuman."
"Oh tidak, jangan konyol. Ia akan langsung tahu, aku merindukannya."
Kafe sepi atau kafe ditutup oleh Ethan, entahlah, sebab tak ada pengunjung lain. Ethan terlihat duduk bersama Sarah dekat kaca, mereka sedang merangkai sesuatu. Sarah mencatat dan Ethan mengamati Sarah, mereka terlihat berdiskusi dan adu telapak tangan mungkin ketika temukan solusi. Sarah sesekali mencuri pandang pada Ethan, mengangguk-angguk. Bisa ditebak, gadis itu juga sama sepertinya tergila-gila pada Ethan Sanchez. Jika, Sarah terpana karena kecerdasan Ethan, Arumi hanya sukai Ethan Sanchez tak peduli pria itu pintar atau bodoh, kaya atau miskin, hanya sukai Ethan.
"Kau tahu apa yang mereka kerjakan? Mungkinkah itu tembaga dan telurium yang Sarah maksud? Proyek cinta pakai logika?"
Archilles menggeleng. "Tidak Nona!"
Arumi memangku dagu di atas lengan dan bertumpu pada dashboard, amati Ethan Sanchez yang serius merangkai replika bola-bola molekuler kimia.
"Aku tak akan sanggup pacaran pakai logika dengannya," keluh Arumi. Betapa tampannya Ethan Sanchez terlihat.
Sebuah motor datang dari arah berlawanan. Seorang gadis bawakan sesuatu. Bahkan dari jauh Arumi dapat mendengar lengkingan suara sang gadis.
"Ethan Sanchez!!! Aku bawakan pesananmu!"
Ethan tinggalkan Sarah pergi keluar kafe, buru-buru turuni tangga datangi si gadis.
"Itu adik perempuan Tuan Ethan, namanya Dandia."
"Oh, ya aku tahu dia! Em, suaranya aku kenal!"
Terlihat Dandia sodorkan sesuatu dan minta bayaran. Ethan mengetuk kening adiknya keras hingga si gadis menjerit kesakitan. Arumi meringis. Sepertinya Ethan suka mengetuk kening orang-orang didekatnya kecuali Sarah. Ethan mengangguk ke dalam kafe, menyuruh adiknya turun dan antarkan makanan ke dalam. Saat berbalik, Ethan tak sengaja melihat mobil Arumi, tajamkan penglihatan, amati mobil. Pria itu masukan tangan ke saku celana, ia melangkah pelan curiga ke arah mobil. Keningnya berkerut.
"Oh, he is so cute ... " guman Arumi bolak-balik kagumi Ethan Sanchez.
"Nona ... " panggil Archilles berpaling pada Arumi yang tampak sumringah melihat Ethan.
"Oopss ... " rutuk Arumi beberapa saat kemudian. "No no no!"
"Sepertinya Anda telah kepergok, Nona!"
Archilles beri peringatan. Arumi segera tersadar dan berubah panik, sangat panik.
"Akkhh, Arch ... Archilles, mari kita kabur! Ayo kabur! Jangan sampai aku ketahuan sedang menguntitnya," seru Arumi kelabakan. "Cepatan!" Arumi pukuli lengan Archilles keras, matanya terus awasi Ethan Sanchez.
"Ini terlalu telat, Nona! Anda telah kepergok Tuan Ethan."
"Oh ya Tuhan, ya Tuhan, ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?!" Arumi menoleh ke jok belakang, cari tempat bersembunyi. Melompat ke belakang? Terlalu ribet. Ya Tuhan, ia menunduk, turun ke bawah dashboard, bersembunyi di sana tapi tak nyaman. Segera bangkit dan kembali duduk sementara Ethan seberangi jalanan yang tak seberapa ramai.
"Archilles, jas-mu ... jas-mu! Kemarikan jas-mu, cepat!" Arumi menarik jas si pengawal tak sabaran.
Archilles geleng-gelengkan kepala, lepaskan jas buru-buru dan berikan pada Arumi. Menahan senyuman geli saat Arumi selubungi kepala gunakan jasnya sisakan dua mata. Kaki-kakinya berbunyi di atas karpet mobil, bergerak gelisah.
"Oh, ya Tuhan, dia mendekat. Apa yang harus kulakukan? Aku ketahuan menguntitnya lagi. Oh, ya Tuhan. Bodoh sekali kau, Arumi Chavez!"
Ethan mendekat. Arumi sekonyong-konyong, membungkuk ke samping berhimpitan dengan tuas mobil, ke arah Archilles saat Ethan semakin mendekat. Mengumpet di atas paha Archilles hingga buat si pengawal otomatis sesak napas, lekas-lekas angkat kedua tangan kebingungan macam orang menyerah saat ditodong senjata.
"Nona Arumi?! Apa yang sedang Anda lakukan di bawah sana? Anda bisa pergi ke belakang!"
"Katakan pada Ethan Sanchez, tak ada aku!" sahut Arumi.
Archilles menegang, merapat pada sandaran mobil, menahan napas. Bosnya memang benar seperti kata Tuan Ethan, gadis bodoh nan konyol. Apa bersembunyi dibalik jas, merunduk di atas pahanya bisa buat dia hilang seperti Harry Potter dalam mantel ajaib?
"Apa dia datang?" tanya Arumi semakin cemas. "Ya Tuhan, ini semua salahmu. Aku akan mengetuk keningmu nanti, Archilles! Harusnya kau kabur selagi bisa!"
Arumi mengomel dan Archilles betul-betul tak berdaya dibuatnya. Takut salah bergerak. Pahanya benar-benar kejang. Dengan pasrah turunkan kaca saat Ethan membungkuk di sisi mobil. Satu tangan Archilles masih terangkat, jika ia turunkan maka akan terlihat sesuatu yang tampak masuk akal di pikiran pria dewasa.
"Archilles?!" Ethan segera menyipit ke pangkuan Archilles, pada seseorang yang terlihat menutup kepalanya dengan jas hitam. "Arumi?!"
Ethan gregetan lantas berdecak sambil geleng-gelengkan kepala.
"Oh astaga, aku bisa gila lihat kelakuanmu Arumi Chavez!" Ethan kehabisan kata-kata. "Archilles bukankah sudah kubilang, ketuk keningnya dengan keras jika dia bertingkah konyol?"
"Nona! Kurasa Anda tak perlu sembunyi lagi!" sambung Archilles dengan wajah kikuk. Lebih gampang berkelahi daripada disuruh menjaga seorang gadis bernama Arumi Chavez. Arumi selalu berlari ke dalam pelukannya, memeluknya, bersembunyi dibelakangnya, lingkari lengannya, kini baringkan kepala di atas pahanya. Arumi selalu bertindak provokatif pada tubuhnya.
Apa Nona Arumi Chavez berpikir dirinya benda mati, tak punya saraf?
Seakan tersadar bahwa ia tak mungkin tertolong, Arumi segera naikkan kepala perlahan dan cengengesan ketika matanya membentur mata Ethan yang sedang menatap padanya berkilat-kilat, entah oleh emosi jenis mana. Arumi pikirkan dirinya sendiri yang kepergok Ethan Sanchez sedang mengintai pria itu. Tak ada pikiran lain berbeda dengan dua pria di depannya. Archilles yang mematung dan Ethan yang murka.
"Apa yang sedang kau lakukan? Aku belum pernah bertemu gadis sebodoh dirimu Arumi. Kau mengintip pria lain dan apa yang baru saja aku lihat ini? Menyelinap di atas paha pria lainnya? Ya Tuhan, apakah ada sesuatu yang akan seekstrim ini nanti?"
"Itu?!" Baru mengerti maksud Ethan. "Eh, itu ... bukan seperti itu," ujar Arumi gagap. Oh yeah, Ethan salah paham. Ia hanya bersembunyi tanpa pikir panjang.
"Apa yang kau pikirkan Ethan?" berengut Arumi. "Kau sendiri bagaimana? Kau menciumku di rumah hantu, dibalik buku tetapi kau terus berkeliaran dengan gadis lain. Kau terus buatku salah paham. Jika kau tak menyukaiku, kau bisa katakan padaku!"
"Aku sering bilang tak menyukaimu! Kau tak peduli!"
"Lalu mengapa kau terus menciumku dan sangat manis padaku, Ethan?!"
Ethan terdiam, tak punya jawaban. Suasana berubah hening, hanya kendaraan sesekali lewat di samping mereka.
"Archilles bisakah kau turun? Aku ingin bicara dengan Arumi," minta Ethan pelan tanpa alihkan matanya dari Arumi.
"Tidak, diam di tempatmu Archilles!" hardik Arumi keras.
Keduanya saling menjegal dengan gusar sementara Archilles terjebak di tengah serba salah.
"Turunlah! Mari kita bicara!" kata Ethan dengan nada dingin, putari mobil ke sisi Arumi, bukakan pintu mobil dan meraih lengan Arumi.
"Berhenti menyentuhku!" Arumi menolak tangan Ethan.
"Kalau begitu berhenti gunakan dua matamu untuk meneropongku! Berhenti menguntitku, berhenti mengekor aku, Arumi!" balas Ethan tajam. "Atau sebaiknya, kau turun dan mari kita bicara sebelum aku marah, Arumi Chavez.!"
"Ya ya ya, baiklah!" Mengalah. Arumi akhirnya turun. Terseok-seok di belakang Ethan. Sedikit pincang saat berjalan sebab tadi ia hentakan kaki terlalu kuat hingga nyeri kakinya kembali. Sadari itu, Ethan menoleh.
"Kakimu masih sakit?" tanya Ethan kuatir. "Sudah lewat beberapa hari?"
Mereka di depan kafe sedang Sarah dan Dandia amati dari dalam kafe.
"Apakah itu si gadis bodoh kaya raya yang dia asuh?" tanya Dandia penasaran. "Terlihat seperti seseorang yang tak asing."
"Apa maksudmu? Gadis itu, Arumi Chavez."
"Oh benaran Arumi Chavez? Si artis remaja?" Dandia menganga. "Jadi, gadis itu, Arumi Chavez? Kena kau Ethan Sanchez, kau tak bisa ketuk keningku lagi. Jadi, malam itu kau tak pulang karena kau bersamanya sepanjang malam dan menyumpalku dengan banyak uang untuk tutup mulut karena si bodoh cantik itu.?" Dandia bicara lagi sepertinya punya ide cemerlang untuk kerjain kakaknya.
"Sepanjang malam? Memeluknya? Mereka?" guman Sarah pelan perhatikan bagaimana Ethan perhatian pada Arumi. Lalu ke arah mobil, pada pengawal Arumi Chavez yang keluar dari mobil, memakai jas dan bersandar pada bagian depan Mobil perhatikan Ethan dan Arumi.
Sementara Ethan menggiring Arumi duduk di bangku depan kafe. Merunduk sembari nyalakan senter pada ponsel karena lampu depan kafe sangat redup. Ia lepaskan flatshoes dari kaki Arumi lantas meneliti.
"Kau punya banyak uang, Arumi. Pergilah ke dokter tulang dan lakukan pemeriksaan secara detil. Jangan sampai tulang kakimu retak."
"Sudah kulakukan, Ethan."
"Apa kata dokter?"
"Bukan sesuatu yang buruk, hanya keseleo."
"Arumi ..., aku menyukaimu," kata Ethan terus terang. Ia harus akui meski level suka pada Arumi tak sebanding saat sukai Marya, Ethan harus mengakui bahwa ia menyukai gadis bodoh nan cantik di hadapannya. Sangat-sangat tak suka melihat Arumi berbaring di atas pangkuan Archilles. Tetapi ia tak bisa terjebak pada Arumi.
Arumi menatap Ethan tergores keceriaan. Namun, sebentar saja.
"Tetapi aku tak bisa pacaran atau terikat. Tak ada kencan yang libatkan banyak sisi emosi. Denganmu, dengan Sarah atau dengan gadis lain. Tahu kenapa?" Ethan menghela napas panjang. "Karena, Ibuku janda dan aku harus bekerja keras untuk kehidupan empat adikku. Aku adalah tulang punggung keluarga dan harus berada di peringkat bagus agar tetap disponsori sebuah yayasan. Maafkan aku karena terus menciummu. Janji, tak akan aku lakukan lagi. Belajarlah yang rajin dan berhentilah berpikir untuk pacaran, Arumi!"
Arumi terang-terangan patah hati, hanya terpekur menatap Ethan, tak punya kata untuk diucapkan. Nasihat Ethan benar. Sekalipun sangat sayang pada Aruhi, Arumi tak ingin berakhir seperti kakaknya.
"Ethan, maafkan aku. Apakah aku buatmu kesulitan?"
Ethan berdiri setelah pakaikan kembali Arumi flatshoes, amati gadis di depannya, ulurkan tangan, menarik Arumi bangkit, pererat genggaman tangan.
"Pulanglah!" Abaikan pertanyaan Arumi seraya melambai pada Archilles agar segera datang. Berbalik pada Arumi. "Aku akan kembalikan uang Nona Sunny yang diberikan sebagai upahku dan berhenti jadi guru privatmu. Mari berhenti bertemu, Arumi!"
Kesedihan Arumi berlipat ganda. Sesuatu terasa sangat sakit di dalam pergelangan tangannya. Tak berkencan tak apa, tapi tak boleh bertemu? Apakah bisa begitu. Meski demikian, Arumi mengangguk lunglai.
Patuhi kata-kata Ethan mungkin benar adanya. Ia masih seorang pelajar di bawah umur. Belakangan ia mabuk kepayang tak jelas pada Ethan Sanchez hingga bertingkah seperti fans radikal.
"Tak perlu kembalikan uangnya. Kau bisa berikan aku outline materi juga tugas. Aku akan kirimkan padamu lewat email. Kau tak perlu kehilangan pekerjaanmu sebagai guru les-ku dan kita tak perlu bertemu."
Saat patah hati, Arumi tiba-tiba pintar. Tangan mereka terlepas enggan ketika mobil datang. Ethan bukakan pintu mobil. Menuntun Arumi kembali ke dalam mobil dan pasangkan sabuk pengaman, menatap Arumi seakan ingin pastikan keputusannya tepat untuk mereka berdua. Ia kemudian melambai pada Arumi tanpa kata, mengepal tangan-tangan ke dalam saku celananya.
Dari balik cermin mobil, Ethan masih tak beranjak bahkan ketika mobil mereka menjauh. Ethan terlihat samar-samar. Si gadis mendadak menangis sedih, sesuatu tiba-tiba menyiksa hatinya.
"Aku benar-benar bodoh!" keluhnya, bersandar pada jok mobil dan terisak-isak. Ia hanya menyukai Ethan Sanchez dan terkejut ketika hatinya tertangkap basah sangat terluka pada satu kalimat, "Mari berhenti bertemu!"
"Dia benar, kau tahu, aku seperti kecanduan padanya. Aku bertemu dengan banyak pria di tempat syuting, bertemu banyak musisi dan anak para politisi, kolega Ibu, tapi tak ada yang bisa buatku tergila-gila seperti padanya."
Arumi mengadu persis gadis remaja saat patah hati. Archilles mengemudi bertemankan isak halus dari bangku sebelah. Ia meraih tisu, sodorkan pada Arumi. Tanpa berani menyahut, takut timbulkan masalah. Jangan sampai Nona Arumi tiba-tiba berlari ke pangkuannya lagi dan merengek di dadanya.
Entah apa yang dilakukan Tuan Ethan Sanchez hingga Nona Arumi sangat bersedih. Mungkinkah kata-kata yang sering menyakiti hati seorang gadis? Misalnya, aku tak menyukaimu atau sejenisnya. Archilles mengira-ngira. Saat sebaya Arumi, ia dan beberapa teman gadisnya sibuk bekerja serabutan di perkebunan agar bisa beli sesuatu yang mereka inginkan. Tak paham soal patah hati. Nona Arumi sangat luar biasa, bisa pacaran dengan rajin di usia belia. Pria itu punya gagasan yang melintasi kepalanya.
"Apa Anda ingin sesuatu agar merasa baikan?" tanya Archilles prihatin. "Drive in Cinema di Cen**tral P**ark sedang ada pemutaran film Me Before You. Maukah Anda nonton sebentar? Siapa tahu, Anda terhibur dan menyukainya?" tanya Archilles ingin hentikan tangisan Arumi. Tak ada sahutan. Arumi hanya menangis.
"Ethan benar tetapi mengapa susah untuk menerima?" Bicara sendiri. Tatapan matanya sendu pada lampu-lampu malam kota, sibuk dengan patah hati berkelanjutan.
Tanpa menunggu persetujuan, Archilles membawa Arumi pergi ke Central Park. Film tengah malam akan segera dimulai.
Me Before You ....
Si Pengawal pergi ke minimarket dan belikan beberapa cokelat, popcorn, beberapa camilan, segera kembali dan berikan pada Arumi. Tanpa sepatah kata, Arumi mengunyah cokelat sedang film mulai diputar.
"Aku sudah menonton ini dua kali," ujar Arumi dan mulai tersedu-sedu lagi. "Akhirnya tak bagus. Seperti aku dan Ethan."
"Apakah kita pulang saja?" tanya Archilles serba salah. Ya Tuhan. Apakah perlu hubungi Tuan Ethan dan minta datang untuk menonton film bersama? Siapa tahu keduanya kembali dekat?
"Tidak." Arumi menggigit cokelat di antara air mata. "Suatu waktu jika kau bertemu seorang gadis lalu temukan kau menyukainya, apakah kau akan tetap pada ketetapan awalmu? Atau kau akan mengubah keputusanmu?" tanya Arumi. Sebab Me Before You adalah film dengan akhir sedih di mana si pria tetap memilih "bunuh diri" lewat sebuah organisasi dignitas karena tak sanggup hidup di kursi roda selamanya dan tinggalkan si wanita sendirian untuk lanjutkan hidup.
"Apakah Anda dan Tuan Ethan berhenti dekat?" tanya Archilles menoleh sejenak pada Arumi yang basah kuyup oleh lelehan air mata. Tetapi terus mengunyah. "Menurutku, Tuan Ethan hanya ingin Anda belajar dengan rajin, menimba ilmu, nikmati pendidikan terbaik sebab pacaran usia dini bisa sangat mengganggu fokus dan juga bukan prioritas. Bukankah itu berarti Tuan Ethan sangat-sangat sayang dan peduli pada Anda serta pikirkan masa depan Anda?" hibur Archilles. Arumi Chavez muda, cantik, menggemaskan dengan kekonyolan tak terukur, mengalahkan luas semesta.
"Begitukah?"
"Ya, Nona! Jika Anda berhasil dengan sekolah Anda, aku yakin Tuan Ethan dan Anda akan bersama di waktu yang tepat."
Arumi pikirkan kata-kata Archilles secara serius. Mereka akhirnya menonton dalam diam, kisah romantis berisi adegan bittersweet (pahit manis) di Skylight Cinema. Separuh film ketika Arumi tertidur, masih terisak-isak pelan. Archilles Lucca, turunkan sandaran agar Arumi dapat tidur dengan nyaman, mengusap bekas air mata dengan tisu kemudian lepaskan lagi jasnya selimuti gadis yang patah hati itu. Ia berkendara pulang sebelum melihat akhir dari film. Kembali bingung saat sampai di rumah sebab Arumi hanya menggeliat di bangku mobil tanpa mau bangun. Ia akhirnya menggendong si gadis ke dalam rumah, tidak pergi ke kamar Arumi.
"Nyonya Salsa, bolehkah aku masuk?"
Ia berdiri di pintu kamar Salsa, sedang Arumi masih sesegukkan halus dalam lengannya. Seseorang segera bukakan pintu, dua pengawal keluar dari ruangan kamar itu. Salsa sedang duduk dibalik meja dengan banyak berkas. Ia menyipit saat Archilles masuk.
"Anda belum tidur Nyonya?" sapanya pelan.
"Ya, aku masih ada kerjaan, Archilles. Ada apa dengannya?" Salsa keheranan. Apakah Hellton buat Arumi ketakutan sampai pingsan? Salsa menyipit pada Archilles, masih tak nyaman dengan pria itu.
"Aku tak begitu paham masalah Nona Arumi tetapi Nona tertidur dalam perjalanan. Anda bisa bertanya padanya besok, Nyonya. Aku akan baringkan Nona Arumi di sini."
"Mengapa tidak dibawa ke kamarnya?" Salsa bertanya terdengar seperti mencobai Archilles.
"Nona sedang sedih, kupikir lebih baik Nona Arumi di sini, Anda bisa menenangkannya," sahut Archilles. Dalam fakta, ia segan pergi ke kamar Arumi. Ia sebenarnya digaji untuk jadi bodyguard bukan nanny. Tetapi, kenyataan di lapangan, ia mirip pengawal rangkap pengasuh Nona Arumi Chavez.
"Terima kasih."
Banyak harapan ini bukan akhir untuk kisah cinta Nona Arumi yang menggilai seniornya. Arumi dibaringkan di atas ranjang, sedang sang pengawal coba untuk lepaskan jas dari tubuh Arumi tetapi gadis itu memeluk jasnya kuat. Jadi, ia pamit pergi dari sana.
"Archilles, aku sedang mencari pengawal wanita untuk Puteriku. Ini tidak sesuai dengan kontrak kerjamu. Kami akan bayar penalti pada perusahaanmu. Aku harap kau tak keberatan."
Archilles mengangguk pasrah. "Baiklah, Nyonya. Aku paham."
***
Maaf ya, keluargaku dirundung duka tiga harian ini. Mood Ku buruk sangat, nge-hang karena harus hadiri banyak . Jadi, aku nulis Arumi sebab gak terlalu banyak mikir. Lagipula, tak bisa ceritakan chapter berikutnya tanpa chapter ini sebab chapter berikutnya Archilles harus temani Marya. Sedang Elgio pergi bertemu Hedgar.
Cintai aku .... Aku mencintaimu ...