
Enya, aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.
Enya ....
***
Reinha terbangun dan pegangi pipi yang berdenyut perih. Ia menangis lantaran terluka oleh kata-kata Elgio yang sangat menyakiti perasaan, lantas tertidur berlinang air mata. Betapa ia menyayangi Elgio, ia tak mungkin jatuh cinta pada ....
Sialan ....
"Apa tadi?" desahnya tak karuan. Ia cuma tertidur sebentar saja tetapi ia melihat Lucky Luciano dalam mimpi. Pria itu memeluknya sembari ucapkan kalimat paling tidak masuk akal yang pernah ia dengar.
Aku mencintaimu, Enya.
Apa?!
Aku mencintaimu, Enya?!
Pria itu sudah gila, dia sungguh gila. Bagaimana bisa ia katakan, "Aku mencintai Enya" pada Elgio.
"Baiklah Enya, kau mulai ketularan gila. Mari kita pindah ke Ibukota dan sibuk di Dream Fashion sebagai cleaning service sesuai keinginan Kakak. Siapa tahu menggosok lantai bisa membuat otakmu kembali pulih?"
Gadis itu bangkit berdiri, buka lemari dan meraih koper. Ia mengisi pakaian ke dalam koper, tak ingin teringat pada kata-kata Elgio yang sangat menyinggung atau kenangan fantastis pada pelukan Lucky Luciano. Tidak harus menunggu sampai Tuan Abner memesan tiket pesawat. Ia akan pergi hari ini dengan bis. Elgio tak ingin dengar penjelasannya karena sangat marah dan ia harus menghindar. Ini semua gara-gara ....
"Tuhan, bisakah kau cabut saja nyawa Lucky Luciano? Tuhan berikan saja nyawanya pada orang lain yang membutuhkan dan ubah dia jadi rayap. Aku akan membalas-Mu dengan bekerja sebagai sukarelawan di negara-negara yang butuhkan perhatian dunia."
Pakaian dijejal ke dalam koper, sambil berdoa.
Kau yakin, Enya? Bukankah kau mulai jatuh hati padanya? Tatapan lembut itu ....
Shhitsss!!!
Reinha melempar sweater kasar ke dalam koper kemudian penutup koper dibanting, ia sangat gusar. Hari ini sungguh buruk padahal yang ia inginkan hanyalah bekerja dengan damai di The Windows.
Ponselnya berdering dan nama Claire Luciano tertera di screen ponsel. Suara cemas gadis itu menyapa di ujung sambungan.
"Apa kau baik-baik saja Reinha? Kau di mana? Bisa beritahu aku, apa yang terjadi? Apa aku bolehmenjengukmu? Aku ingin tahu keadaanmu. Apa Elgio menyakitimu?"
Claire menguntai pertanyaan seperti membaca teks pidato.
"Apa Lucky memaksamu menghubungiku, Cla? Masih berani dia?" tanya Reinha setengah melengking.
"Bukan begitu, aku sungguh cemaskanmu keadaanmu. Apa kau baik-baik saja?"
"Tentu saja, Cla," jawab Reinha sinis. "Gara-gara Lucky ... Kakakku sangat marah padaku dan mengurungku di Durante Land sampai waktu liburan selesai. Aku tak boleh keluar rumah juga tidak boleh menerima kunjungan, jika tidak, ia akan patahkan kaki-ku."
Reinha berbohong. Reinha Durante yakin, Lucky Luciano berdiri bersama Claire di ujung telpon untuk cari tahu keadaannya.
"Kakakmu itu brengsek sialan. Dia mengacaukan hidupku. Matilah ia di neraka!" Reinha mengumpat marah. Ia meraung pada ponsel berharap makiannya didengar Lucky bila benar pria itu bersama Claire.
"Lalu, mengapa kau tak menolak pelukanku? Kelihatannya kau sangat menikmati didekap?"
Suara berat Lucky tiba-tiba menyambar dari seberang seperti tebakan Reinha. Namun, diluar dugaan nada pria itu sama sekali tidak menyesal.
"Kau maniak sinting. Aku matikan ponselku dan akan blokir nomer ini." Reinha menggeram kearah ponsel.
"Coba saja! Aku akan mendatangimu ke Durante Land dan mengaku pada Elgio, kau juga mencintaiku. Aku akan tunjukkan foto kita di The Windows. Kita bisa sekarat berdua, uh, menggairahkan."
Reinha yakin pria itu sedang mengejeknya bahkan menertawakannya. Itu membuat kemarahan Reinha melonjak maksimal.
"Kau sialan. Harusnya Elgio benamkan wajahmu ke tembok hingga hancur lebur," rutuk Reinha.
"Aku mencintaimu, Enya."
Reinha melempar ponsel frustasi. Mengerikan dengar Lucky sebut-sebut namanya begitu intim.
"Sungguh mencintaimu nyaris gila," teriak Lucky lagi, lebih keras.
Reinha kembali meraih ponsel hendak matikan ponsel dan memblokir nomer telpon Claire. Tangan-tangannya gemetaran karena marah saat mengetuk ponsel.
"Coba saja blokir nomer ini, coba saja kau matikan ponselmu, aku akan ke Durante Land dalam hitungan ke 100. Jangan matikan ponselmu! Kau tahu aku sungguhan akan berlari padamu, Enya. Tertarik mencoba?" serang Lucky dari seberang.
"Tidak, kau tak akan lakukan itu. Aku punya Barret M82, aku akan menembak kepalamu sebelum kau mencapai Durante Land. Ya Tuhan, senang jika melihat otakmu tercecer di jalanan."
"Baiklah, kalau begitu. Sampai jumpa di sana, aku mencintaimu."
"No no no no, kau brengsek sinting! Aku tak akan memblokir nomer Claire. Tolong jangan datang, Elgio benar-benar sangat marah saat ini. Ia akan membunuhku. Bagus jika cuma kau saja yang dibunuh. Ia bisa berikan potongan tubuhmu pada Azel dan Dilly meskipun mereka pasti jijik memakan dagingmu. Ya Tuhan ..." Ia berbalik ke arah cermin dan temukan sudut bibirnya berdarah, terasa perih akibat terlalu banyak membuka mulut. "Atau kau boleh datang terserah kau saja. Semoga Elgio patahkan tulang-tulangmu. Kau brengsek sialan."
Lucky tertawa garing di ujung sambungan membuat Reinha bertambah dongkol.
"Kau masih bisa tertawa, matilah kau! Awhhh ... awhhhh." Reinha meringis kesakitan saat sobekan di sudut bibirnya makin lebar.
"Enya, ada apa denganmu?! Kau baik-baik saja?" Suara Lucky berubah panik. "Enya?!"
Reinha matikan ponsel dan melempar benda itu ke tempat tidur. Ia mondar mandir gelisah di dalam kamar. Bagaimana jika Lucky Luciano sungguhan datang? Pria itu cenderung pragmatis, tak mau berpikir panjang, hanya bertindak praktis, andalkan insting.
"Reinha?! Ini aku ...."
Marya Corazon memanggil dari balik pintu. Apa Marya mendengar percakapan anehnya dengan Lucky? Reinha pergi ke pintu dan temukan Marya membawa nampan makanan.
"Ini sudah sore, kau melewatkan makan siangmu. Jadi, aku antarkan kamu makanan."
Reinha melihat pada makanan lalu pada Marya Corazon. Jadi, ia telah lama tidur dan mimpinya beberapa jam hanya tentang Lucky. Ia menggeleng tanpa sadar.
"Apa Kakak masih marah padaku? Ya Tuhan, bilang padanya ia salah paham. Pria brengsek itu memelukku tanpa ijinan," keluh Reinha gundah gulana.
"Tenangkan dirimu dan makanlah dulu. Kau akan bisa berpikir jernih jika perutmu kenyang."
"Aku tak lapar, Marya. Aku tak ingin makan sampai Kakak bicara padaku."
"Reinha, kau lebih mengenalnya dibanding aku. Makanlah dan kita cari cara agar dia bicara padamu."
"Tidak, aku tak lapar. Aku sangat marah saat ini."
"Kau mau kemana dengan koper itu?"
"Aku akan pergi ke Dream Fashion dengan bis sore dan bisa sampai pagi hari untuk langsung bekerja. Marya, jangan pergi keluar rumah tanpa ada yang menemani. Di luar sangat berbahaya untukmu."
Marya mengangguk. Ia tidak mengerti saran Reinha tetapi berterima kasih pada kepedulian gadis itu. Seandainya ada yang bisa ia lakukan untuk perbaiki hubungan kakak beradik yang sedang marahan itu?
Reinha menatap Marya, pada bibir Marya. Ia berdecak.
"Kau sendiri ... ada apa dengan bibirmu Marya? Mengapa bengkak seperti tersengat tawon?"
"Aku?!"
Marya masuk, bercermin lalu terpana. Ia segera menaruh nampan di atas meja di kamar itu kemudian menangkup bibir dengan dua tangannya. Tawon jadi-jadian itu adalah Elgio Durante.
"Aku pergi! Semoga perjalananmu menyenangkan, Reinha."
***************************
Elgio memegang tangan Marya dan keluar dari ruang makan. Abner mencegat mereka di sana.
"Kalian mau kemana? Waktu bersenang - senangmu habis, Elgio Durante. Kita akan pergi ke laboratorium sore ini," seru Abner tegas. "Lepaskan tanganmu!" Abner menggulung kertas file di tangannya jadikan tongkat dan memukul tangan Elgio keras hingga pegangannya pada Marya terlepas.
"Ini masih hari Minggu, kami akan pergi ke taman belakang dan menghirup udara segar! Kencan kami tadi batal, ya ampun, kau ini. Mengapa suka sekali merusak kesenanganku? Aku sedang kesal, jadi, tak bisa berpikir sama sekali," keluh Elgio jengkel. Mengapa Abner harus memaksanya bekerja di hari Minggu, seperti tak ada hari lain saja.
"Tidak bisa. Kalian telah berduaan sepanjang siang di dalam kamar. Kau pikir aku tak melihatmu menculik Nona Marya tadi?" Abner pukuli lengan Elgio banyak kali, menyuruhnya menjauhi Marya.
"Ruang kantorku akan pindah ke Paviliun Barat!" Elgio bersungut-sungut. Bagaimana bisa Abner juga tahu, ia menyeret Marya ke dalam kamar.
"Ya, kau pindahan sendiri. Aku akan tetap berkantor di tempat biasa, di seberang kamarmu." Ia berbalik pada Marya. "Nona, bisakah siapkan jasnya? Kami akan pergi setengah jam lagi."
"Baik, Tuan Abner." Marya mengangguk patuh dan pergi diiringi tatapan tak berdaya Elgio.
"Tolonglah Abner sekali ini saja." Elgio mengerang sempurna.
"Dengar Elgio, pengiriman kita tinggal beberapa hari lagi. Beruntung Tuan Nakamura menunda mengunjungi Bali. Jadi, bereskan saja kerjaanmu sebelum kau menikah dan kau bisa liburan panjang bersama istrimu di Bali."
Elgio tampak keberatan, ditambah tangan kanannya terluka. Ia benar-benar malas bergerak.
"Abner, kau boleh ambil mobilku. Aku akan pergi bersama Marya."
"Tidak, jangan menyuapku. Cepat ke atas! Kau harus tanda-tangani berkas produksi." Abner menggeleng gigih. Ia menatap tajam pada Elgio hingga pria itu tak punya pilihan. Elgio mendengus dan naik ke lantai dua ogah-ogahan. Pintu kamar Reinha terbuka dan gadis itu keluar dari sana seraya menarik koper. Wajahnya masih merah dan sudut bibirnya luka.
"Apa tanganmu baik-baik saja, Kak?" tanya Reinha pelan curi pandang pada tangan Elgio yang terbalut perban. Elgio palingkan wajah tidak ingin anggapi Reinha tetapi ia tidak pergi, ingin tahu Reinha mau kemana? Reinha menunduk sedih.
"Kau mau kemana, Nona Reinha?" tanya Abner keheranan.
"Aku telah memesan bis dan akan pergi ke Dream Fashion sore ini. Aku akan tiba besok pagi dan langsung bekerja sebagai cleaning service seperti yang diperintahkan!" jawabnya melirik cemberut pada Elgio.
"Tetapi, aku memesan tiket untukmu nanti besok?"
"Aku akan naik bis saja, Tuan Abner."
"Baiklah ... Augusto akan mengawasimu," ujar Elgio kaku. Ia menatap tajam pada Reinha.
"Sudah kubilang, Kakak salah paham. Lucky memelukku tanpa ijin dan brengsek itu telah mengacaukanku hari ini. Aku hanya ingin bekerja dengan baik dan membantu Tuan Lucas di The Windows tetapi dia datang sebagai donatur dan mengirim banyak buku untuk semangati Nyonya Lucas yang sedang sakit. Kau tahu, aku sama sepertimu ingin ledakkan kepalanya?"
Reinha bicara menahan kesal terlebih teringat tamparan kasar Elgio padanya. Sikapnya membuat Elgio mengangkat satu alis tinggi.
"Oke ... Oke .... Baiklah. Tenanglah, Nona. Kakakmu memang sangat pemarah. Bisakah kau pergi nanti besok?" bujuk Abner.
"Tidak. Bis-ku sudah datang dan aku ingin sendiri. Aku tidak ingin dikawal, kau bisa menitipkan aku pada kondektur bis juga pada seluruh penumpang bis, jika kalian mau."
"Nona Reinha ...." Abner mendekatinya. "Augusto akan menemanimu. Perjalanannya terlalu jauh."
"Ya, terserah kalian saja sekalian pasangi kamera pengintai pada kancing baju Augusto. Mana tahu aku mungkin bertingkah rendahan. Jadi, kakak boleh menamparku lagi nanti."
Elgio ingin pergi pada Reinha dan memeluknya tetapi harga diri lebih besar dari rasa sayangnya. Meskipun begitu, ia tidak mungkin salah ambil tindakan atau menarik hukuman. Lebih baik Reinha pergi ke Dream Fashion dan tidak bertemu Lucky.
"Kenapa tidak pakai mobil saja, Augusto akan mengemudi?"
"Aku pergi ke Ibukota dan tinggal di Dream Fashion. Aku tak butuh mobil. Akan aneh jika seorang babu menaiki mobil sporty mewah."
"Baiklah ... kabari kami jika sudah sampai ya."
"Ya ... aku pergi." Ia melihat pada Elgio. "Aku menyayangimu, Kak. Semoga tanganmu cepat sembuh."
Ia menahan tangis dan menarik koper menuruni tangga tepat saat bis datang.
"Bibi Maribella aku pergi, sampai jumpa lagi nanti. Aku titip Kakakku ya, Marya!"
Elgio merana menatap Reinha yang merajuk. Bertanya-tanya, apakah ia perlu menahan adiknya ataukah bagaimana? Mengapa jadi Reinha yang galakkan?
"Augusto?! Cepatlah, bis sudah datang!"
Reinha berteriak keras saat pintu bis terbuka. Ia terdengar sangat tertekan. Asisten kondektur menaruh koper Reinha di bagasi dan Reinha naik bis pergi ke bangku kosong di tengah bus. Ia duduk di sisi jendela, memasang head set dan pejamkan mata.
"Hei Abner ... mengapa Enya jadi galak begitu? Bukankah aku yang harusnya marah? Dia dan Lucky Luciano berpelukan di gudang."
"Kau saja yang terlalu over sensitif. Reinha sudah bilang, Lucky memeluknya tanpa ijin. Mungkin itu gerakan refleks. Mungkin seperti yang kau lakukan pada Nona Marya tadi siang. Mencungkil saat ia tidak sadar kemudian mencumbunya dengan beringas." Abner berdecak dan pandangi Elgio dari ujung kepala hingga kaki. Abner merinding. "Hasratmu itu sangat menakutkan."
"Kau mengintipku? Kau psikopat, Abner." Elgio bercekak pinggang. Ia memandang Abner tak percaya pria itu tahu apa yang dilakukannya dibalik kamar.
"Ya Tuhan, kau pikir aku buta, Elgio? Bibir gadismu tidak seimbang, memble bagian bawah," kata Abner majukan bibir bawahnya memberi contoh. "Bocah ini ....ingin kucambuk kepalamu pakai tongkat golf. Kau malah terlihat lebih mirip maniak ketimbang Lucky Luciano."
"Kurang ajar sekali mulutmu itu Abner." Elgio merengut jengkel. Ia jadi ingin melihat Marya dan minta maaf karena berlaku sangat kasar.
"Ya ... ya ... terima kasih untuk sanjunganmu."
"Mengapa Lucky ada di The Windows, mereka pasti berkencan di sana?" curiga Elgio.
"Jika mereka berkencan di The Windows ... Reinha tak akan menyuruhmu dan Nona Marya datang ke sana. Otakmu belakangan mampet seperti selokan kotor karena yang kau pikirkan cuma 'berduaan dengan Nona Marya'. Mulai besok, Nona Marya akan pindah ke paviliun barat dan aku akan menjagamu 24 jam, seolah kau bayi 4 bulan."
"Aku ingin menyepakmu, Abner!"
Sementara bis yang membawa Reinha keluar dari Paviliun Durante memasuki Broken Boulivard. Augusto duduk di bangku paling belakang. Bis berhenti di halte Broken Boulivard, entah siapa orang dari Durante Land yang pergi ke Ibukota di sore itu selain dirinya dan Augusto. Pintu bis tertutup dan melaju meninggalkan Durante Land. Reinha menarik head set kesal tanpa membuka mata dan menghentak kakinya masih marah pada hari ini. Setengah jam perjalanan ia mulai mengantuk. Bis kembali berhenti di halte terakhir dan penumpang menuju Ibukota mulai mengisi bangku satu-persatu. Reinha pejamkan mata saat seseorang mengambil tempat duduk di sampingnya. Aroma parfum dan body cream yang lumayan wangi langsung menyentak hidungnya. Orang gila mana yang naik bis dan membaui satu bis? Hari ini sungguh buruk.
Pintu bis tertutup dan sinar matahari keemasan menembus kaca. Senja dari balik jendela bis, bukan sesuatu yang buruk tetapi Reinha memilih hanya nikmati cahaya hangatnya yang menerpa wajah. Seseorang itu yang duduk di sampingnya, menyenggol lengannya dan menyodorkan ujung earphone. Ia bicara parau padanya.
"Mau dengar lagu ini, Enya?"
***
Dukung aku selalu yah .... Oh iya, Reinha dibaca lurus dalam bahasa Indonesia adalah Reinya (e murni) ....