
Francis kembali ke peternakan malam itu terdorong oleh sesuatu yang ia sendiri tidak pahami. Ia sampai di sana tengah malam langsung mandi dan berpakaian rapi kemudian pergi ke ruangan bayi. Lengannya mulai terasa sakit. Ia mampir ke tempat Pequeena siang tadi untuk dapatkan beberapa suntikan dan kini ia baru rasakan nyeri.
September berbaring dekat box, tidur lelap di atas sofa sementara mesin dari inkubator berbunyi halus dan teratur. Irama aneh yang terekam dalam ingatan, bangkitkan sisi lembut dalam diri yang berulang kali ia sangkal tetapi malah terdengar seperti melodi dari si bayi untuknya.
Merenungi si bayi yang terlihat sangat lelap, Francis menghela napas panjang dan kuat sebelum hembuskan perlahan. Ia memikirkan nama untuk si bayi dan temukan satu yang sangat cantik, Amora Shine, berarti cinta yang bersinar terang. Tak tahu bagaimana akhir dari kisah mereka yang tak berawal dan berakhir, Francis hanya ingin bayinya bersinar terang dengan penuh cinta. Kisah halus dan indah ini tentang Francis dan Amora Shine bukan tentang Francis dan September, pikirnya. Ia tersentak saat teguran menyapanya pelan.
"Kau sudah pulang?"
September tiba-tiba bangkit berdiri. Sedikit limbung.
Francis mengangguk. "Ya. Tidurlah saja! Aku akan segera pergi ke suatu tempat mungkin untuk waktu yang agak lama. Aku datang untuk pamitan," jawab Francis dan merasa aneh. Ia akhirnya punya seseorang untuk pamitan.
"Kemana?" tanya September dan Francis tak menghindar untuk menatap wanita yang bernada kuatir itu.
"Menjemput seseorang, Septie."
"Berapa lama?" Terdengar ketakutan.
"Mungkin satu Minggu. Em, kau tampak pucat?"
"Tidak, aku baik-baik saja," sahut September cepat. Tetapi, raut kesakitannya tak bisa disembunyikan. Francis tanpa sadar mendekat.
"Apa karena tanganmu?" tanya-nya ulurkan tangan tetapi mengambang di udara. Keraguan timbul di hati untuk menyentuh September. Namun, abaikan rasa tidak nyaman, ia memeriksa September.
"Kau demam. Apakah kau merasa sakit di suatu tempat? Kupikir kau mungkin terkena luka goresan entah di perut atau punggungmu," kata Francis mengerut. "Mungkin saja."
"Tidak, aku baik-baik saja. Aku akan minum obat, Francis."
"Apa kau sudah makan?"
"Aku menunggumu," jawab September cepat.
"Baiklah, mari kita makan. Aku juga kelaparan," ajak Francis padahal perutnya terisi banyak makanan, kentang, salmon, banyak dessert dan kopi.
"Apa kau sudah ke dokter, Francis?"
Mereka beriringan ke ruang makan. Suasana peternakan sunyi senyap menjelang tengah malam. Bintang bersinar sangat jauh di atas sana. September melangkah di belakangnya, untuk sesuatu yang tak diketahui, Francis berharap wanita itu pegangi ujung jasnya seperti siang tadi.
"Ya," sahutnya pendek.
Lilin masih menyala di ruang makan dan baby breath masih segar mungkin baru dipetik. Mereka makan berdua dalam situasi paling canggung yang pernah terjadi di antara mereka. Tiap hari mereka berdebat, bertengkar dan saling mengancam tanpa canggung. Malam ini, mereka hanya makan, melihat satu sama lain masih dengan canggung. Francis tak pernah kompromi dengan hati soal wanita. Ia tak lakukan itu karena sibuk mengurusi ini-itu yang tak habis-habis, juga wanita sangat merepotkan baginya.
Kini, tak terelakkan ia belokkan aturan. September di ujung meja diliputi pantulan cahaya lilin, agak pucat, tampak letih dan setelah lima menit yang terasa sangat menyiksa, Francis akhirnya bicara.
"Aku tak bisa menyangkal diriku bahwa aku menginginkan bayimu sebagai Puteriku." Menghela napas lagi. "Apa aku boleh berikan nama untuk si bayi?"
September mendadak berhenti makan, alihkan mata dari piring pada Francis, tak menutupi cengang. Francis berucap tanpa keraguan sedikitpun hingga September terpukau pikirkan betapa bodohnya ia ingin lari dari pria kejam, angkuh tetapi ternyata Francis adalah seorang yang berbeda dari yang ia lihat. Betapa bodohnya ia berpikir merajut kisah dengan Lucky Luciano dengan biarkan bayi pria itu di dalam dirinya. Lucky dan dirinya tanpa janji, tanpa ikatan, tanpa cinta hanya gairah konyol dan ia sungguh murahan karena mengikuti hawa nafsu pada ketertarikan fisik. Bukan suatu yang abadi dan ia mengejarnya seperti wanita gila. Saat melihat Francis di ujung meja dengan sisa-sisa keangkuhan terselip di wajah datarnya tetapi inginkan Amora dengan pasti, September temukan hal sederhana; pria itu sempurna sebagai seorang Ayah.
Beberapa detik kemudian September masih terdiam karena terpukau, sebelum mengangguk dengan wajah semakin mengkilap oleh sinar lilin.
Seakan obrolan itu sangat menarik, September telungkupkan senduk makan. Meski ia belum seberapa banyak makan, ia merasa sangat kenyang. Ia tersenyum lebar, sangat tergugah.
"Amora Shine ... sungguh indah," angguk September penuh haru. Matanya diselimuti ketakjuban pada Francis. Sungguhan takjub sebab bola mata cokelatnya menyala terang. "Aku sangat menyukainya, Francis."
"Jangan lakukan hal buruk saat aku tak ada. Jaga saja Amora!" ujar Francis makan telur kukus sesuap agak gugup berusaha keras menahan sesuatu sangat indah, yang secara ajaib buat tubuh seakan bernyanyi ketika September mengatakan menyukai nama yang ia berikan bagi si bayi.
Suasana mencair hingga Francis kembali membuka percakapan.
"Septie, jika aku tak kembali ..., mungkin saja. Kau akan tetap tinggal di sini sampai cukup kuat dan baru boleh pergi. Nona Reinha dan Nona Claire akan membantumu."
"Kau mau kemana?" tanya September tiba-tiba sangat mendung.
"Em, menjemput seseorang."
"Kami tak akan kemana-mana. Kami akan tetap di sini dan menunggumu kembali, Francis. Kami akan pergi jika kau mengusir kami," kata wanita itu dengan bibir bergetar.
"Baiklah, maaf karena buatmu gelisah. Aku hanya akan pergi sebentar dan kembali untuk pembaptisan Amora."
September mengangguk dan percakapan itu berakhir di sana. September kembali ke ruangan bayi sementara Francis berkemas. Sedikit kesulitan karena lengannya sakit. Ia akan menunggu subuh sebelum pergi menjemput Bos Lucky Luciano dan pergi ke titik pertemuan dengan Carlos. Memikirkan Lucky Luciano, Francis ragukan Nona Reinha akan ijinkan pria itu pergi. Orang tampak bodoh saat jatuh cinta dan Bos seperti itu beberapa bulan ini. Ia mungkin akan segera menyusul Lucky Luciano, tampak kebodoh-bodohan di atas wajah datarnya.
Francis kembali ke ruangan bayi setelah berpenampilan hitam-hitam, rapatkan resleting jaket kulit dan memakai topi. Dirinya dan Lucky Luciano suka berpenampilan hitam-hitam saat pergi "bersenang-senang" dan kali ini ia akan pandangi Amora Shine sampai puas karena ia tak akan lakukan itu lagi selama beberapa hari.
Dengan lembut dan penuh kasih sayang pandangi Amora yang terlelap sementara September bersandar penuh saat temukan kenyamanan di sofa, rapatkan selimut dan jatuh bangun dalam kantuk. Malam semakin menghitam dan ketika waktunya akan pergi ia bicara perlahan untuk pertama kalinya bersuara setelah sekian lama hanya menatap si bayi selama berhari-hari.
"Jangan buat Ibumu cemas saat aku tak ada ..., Amora."
September di sofa tak mampu menahan kantuk tetapi bangkit berdiri saat ia hendak pergi, mengekor dari belakang saat ia keluar dari pintu.
"Aku pergi," kata Francis dan September mengangguk tanpa kata. Francis melangkah ke parkiran, sedikit hembuskan napas berat dan benarkan topi.
"Francis," panggil September saat ia lewati taman mawar yang tidak seberapa besar, dan aroma bunga yang mekar tengah malam semerbak mewangi lembut. Francis menoleh ketika akan meraih pegangan pintu mobil.
"Kembalilah padaku!"
Francis terpaku, tak pernah ada yang katakan padanya kalimat penuh penantian penuh harap bahkan orang tuanya. Hati pria yang selalu datar itu menghangat. Ia mengangguk kecil pada wanita yang bersandar di pintu dengan gestur suram.
"Goodbye, September ...."
***
Huufttt ... Wait Me Up ....
Cintai aku, aku cintamu Readers. Jangan lupa ngirim vote ya .... Betapa aku sangat hargai bantuan dan dukungan untuk Heart Darkness.
Ja'o Mora Ne'e Miu (Aku Cinta Kamu)