Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 83 Pergi ke Ranjang



"Lindungi Enya! Aku akan alihkan perhatian mereka dari Enya!" seru Elgio pergi ke mobil dan bergerak ke peternakan. Tak percaya Reinha ambil alih chapter menghajar Valerie.


Lucky tembaki satu persatu penjaga yang berusaha menyerang Reinha.


Valerie di ujung tanduk, ditaklukan. Bukan Elgio Durante atau Lucky Luciano tapi Reinha Durante yang makan hati. Gadis itu masih di tengah ruangan saat seorang pria besar datang hampirinya. Pria yang menamparnya di terowongan Black hole.


"Lepaskan dia, Nona!" Tanpa basa-basi, cengkeram kuat jaket di bagian punggung Reinha dan menyeret gadis itu jauh-jauh dari Valerie sebelum lemparkan Reinha hingga terbentur tembok.


Ia datang dengan cepat, tangannya akan menyentuh Reinha ketika Lucky lepaskan satu tembakan akurasi tinggi, yang hanya bisa diakuisisi oleh seorang sniper hebat, ke arah sendi tangan si pria besar. Kaca pecah dan tembakan seorang kekasih yang marah karena berani kau sakiti kekasihnya itu, buat tangan si pria besar putus. Pria itu meraung kesakitan sementara Reinha buru-buru berdiri ngeri. Lucky menembak sekali lagi tepat di sendi lutut dan pria itu bertekuk lutut di hadapan Reinha.


"Stike!!!" guman Lucky Luciano. "Enya, aku mencintaimu, sangat mencintaimu seperti orang gila," bisiknya berharap angin beritahu Reinha, berharap Reinha di ujung teleskop dengar seruannya. "Tak ada yang boleh sakiti kekasihku! Kau setuju? Atau kita akan lepaskan sendi dari engselnya!" Lucky bicara pada si pretty girl tetapi Francis yang mengangguk.


"Setuju Bos!" Mendadak geli sendiri. Si bos-nya sudah hilang waras seribu persen gara-gara jatuh cinta pada Nona Reinha Durante.


Lucky turun dari sana, biarkan Francis tetap tinggal. Pria itu menyusul Elgio yang telah lebih dulu merusuh di peternakan. Lucky mematung sebentar lihat Elgio yang murka.


"Dia terlihat seperti cowboy sungguhan," ujar Lucky saat Elgio menembak penjaga, melempar granat dan menendang lawan dengan marah. Peternakan itu separuh hancur oleh Elgio Durante. Lucky lompati pagar pergi ke arah dapur. Ia hanya ingin bersama kekasihnya. Valerie terbaring di lantai dan Reinha menyeret wanita itu ke dekat tabung gas.


"Sayang, apa yang akan kau lakukan padanya?"


"Kakakku akan mengirimnya ke penjara, itu berarti kekasihku akan ikut! Aku tak suka itu!" keluh Reinha. Lucky perhatikan gadisnya yang sibuk dengan gas, agak bingung dengan katup-katup gas; gadis itu tidak pernah pergi ke dapur. Dia kalah di sini.


"Hei Enya?! Berhentilah! Aku akan pergi ke penjara dan menebus dosa di balik jeruji! Jangan lakukan ini!"


"Berapa lama Valerie di penjara Lucky?! Banyak petugas korup di sana, tidak ada jaminan Valerie tak akan mengacau lagi nanti," sahut Reinha. "Biarkan saja dia mati terbakar di sini. Valerie kacaukan pernikahan kakakku, ia menculik aku dan Marya."


"Kau akan jadi seorang pembunuh, Enya?!" tanya Lucky memegang lengan gadis itu. "Atau mari kita kirim dia ke kejaksaan."


Reinha kelihatan berat, ia ingin Valerie mati seperti kecelakaan, kebakaran di rumahnya sendiri. Wanita itu pasti akan kembali jika tetap diberi napas.


"Jangan kotori tanganmu dengan darahnya!" bisik Lucky mendekap kekasihnya erat, tenangkan amarah di wajah malaikat itu.


Tak sadari Valerie yang sekarat dengan napas setengah jalan menuju kematian dapatkan senjata salah satu pengawal yang terkapar di dekatnya.


Dooorrr!!!


Reinha tersadar oleh suara letusan dan terlambat sadari peluru telah melesat cepat, sangat dekat dan Lucky mendorong Reinha ke tembok, mencium gadis itu di sana dan lantas dirinya tertembak. Dekapan makin kuat.


"Lucky, apa kau baik-baik saja?" tanya Reinha kuatir.


"Uhh, sakit juga ya?" Lucky tersenyum penuh cinta pada Reinha yang ketakutan. "Aku tak akan mati hanya karena peluru bersarang di rusukku, Enya!"


Elgio muncul dari arah berlawanan menembak Valerie di kening, hingga wanita itu tewas dengan mata terbuka lebar.


"Aku tak akan mau satu tim dengan kalian berdua jika benaran pergi berperang!" gerutu Elgio. Bagaimana bisa keduanya berciuman di rumah musuh, dengan banyak mayat penjaga bergelimpangan? "Bawa Lucky ke mobil! Kita tak punya alasan untuk mengirim wanita ini ke penjara sebab dia sudah mati," kata Elgio lagi.


Reinha menahan darah di sisi tubuh Lucky yang mulai merembes keluar dari jaket pria itu. Ketiganya keluar dari rumah, naik mobil dan saksikan tempat itu meledak dan hancur berkeping-keping. Elgio ambil alih kemudi dan melaju dengan kecepatan tinggi kembali ke kota sedang Francis buntuti dari belakang.


"Bawa aku pulang ke rumahku, Elgio!" ujar Lucky Luciano.


"Tidak, kita akan ke rumah sakit!"


"Queena akan keluarkan peluru dari tubuhku! Bawa saja aku pulang!" Napas Lucky mulai tersendat-sendat.


"Tidak, bawa dia ke Rumah Sakit, Kak. Queena masih magang, belum benar-benar berpengalaman."


"Aku percaya padanya!" protes Lucky.


"Tidak!" seru Reinha tak mau dibantah. "Akan kupukul kepalamu hingga kau pingsan jika masih keras kepala!" ancam Reinha galak. Lucky tersenyum tanpa daya hingga Reinha merasa bersalah."Aku bohong!" katanya lagi peluk Lucky erat-erat, menciut lihat Lucky semakin sempoyongan.


"Mengapa kau bandel sekali Enya?!" tanya Lucky. "Kau bisa terluka?"


"Jangan banyak bicara! Ada Kakak dan juga kekasihku di sana, mengintai dari balik pohon. Itu yang buat aku nekat dan berani," sahut Reinha membelai rambut Lucky Luciano.


"Jangan coba-coba sogok aku, Enya! Benar kata Lucky kau bisa tertembak!" seru Elgio gusar.


"Berjanji, kau tak akan seperti itu lagi, Enya!" desak Lucky tengadah pandangi Reinha. Matanya sayu-sayu sedikit lagi terkatup. Aroma Jasmine Reinha benar-benar memabukkan, tubuh dan jiwa gadis itu seakan pas dengannya, tercipta untuknya. Kekasihnya yang luar biasa.


Enya, apa yang harus aku lakukan? Seorang wanita sedang mengandung bayiku. Aku berdosa padanya dan padamu!


Napas pria itu berhembus susah payah dan berat. Ia mulai merasa kesakitan. Darah makin banyak mengalir. Reinha tenang di sampingnya menahan luka meski raut wajah menampung sejuta gelisah, mulai gentar.


"Jangan pikirkan apapun!" kata Reinha pelan.


"Kau tahu apa yang kupikirkan?" tanya Lucky heran.


"Jangan tidur Lucky, tetaplah bersamaku! Aku akan selalu bersamamu, aku akan fokus belajar, kuliah. Kau selesaikan urusanmu dengan semua wanita itu! Hanya itu satu-satunya cara agar kita bisa bersama!" Reinha mengecup kening Lucky Luciano yang mulai hilang sadar. "Dan kau Kak, jika Marya melihat Irish Bella seperti tadi, dia bisa terluka! Apa maksudnya bawa-bawa bunga merah lambang cinta membara untukmu?" serang Reinha bikin Elgio terkejut.


"Aku tak mengerti! Bukan aku yang memintanya datang. Sebaiknya kau tutup mulutmu, jangan beritahu Marya!"


"Jangan biarkan Irish berkeliaran di dekatmu, Kak! Memangnya kau manusia setengah dewa, bisa tahan godaan?"


"Aku hanya tertarik pada Marya. Berhentilah mengomel!" gerutu Elgio ketus. "Kita tak akan pernah berjumpa dengannya lagi!"


"Sebaiknya begitu!"


Sesampainya di rumah sakit, Lucky langsung dibawa ke ruangan operasi. Reinha lepaskan tangan dengan berat hati, meski begitu, ia tersenyum penuh dukungan untuk Lucky.


Sementara Lucky terbaring pasrah dengan para dokter bedah, Elgio pergi ke ruang perawatan lain untuk mengganti perban di lengan-lengannya yang berdarah. Cukup lama hingga hari menjelang sore. Terlalu banyak gerakan yang buat otot-ototnya terus kontraksi tanpa jeda.


"Tak ada yang bisa kulakukan untukmu, Enya! Aku harus bertemu Marya," kata Elgio saat kembali. "Jangan terlalu cemas, kekasihmu itu berandalan sejati. Kurasa satu peluru tak akan buat dia mati!" kata Elgio mengelus pundak adiknya.


"Pergilah, aku akan menunggui Lucky di sini! Lagipula jangan buat Marya gelisah," sahut Reinha.


"Kau sudah makan?"


"Aku tak lapar, Kak. Pergi sana!" usir Reinha lagi. Marya pasti kuatir tak dengar kabar dari Elgio.


"Baiklah! Hapus riasan wajahmu itu, ya ampun, kau seperti penyihir saja." Mengeluh.


"Aku harus ikuti trend, Kak. Ini namanya make up bold untuk gadis-gadis sepertiku!"


"Terserah kau saja, jangan ajari Marya berdandan seperti itu, aku bisa sakit kepala," keluh Elgio sebelum pergi dari sana.


Elgio menyetir pelan menyusuri jalanan kota pergi ke kediaman Diomanta. Ia menyetel radio di mobil.


"Ledakan keras terjadi di sebuah pertanian di KM 34 barat daya kota, diduga terjadi akibat kebocoran gas. Akibat ledakan, dua bangunan hancur total dan menewaskan pemilik pertanian Valerie Aldes beserta beberapa pengawalnya. Irish Bella, melaporkan dari TKP."


Elgio matikan radio. Nama Irish Bella buatnya merinding ngeri, wanita itu tunjukan rasa suka tanpa malu-malu, terang-terangan. Benar kata Reinha, jika Marya lihat Irish bisa jadi gadis itu akan sangat bersedih. Tidak, tidak boleh. Marya tak boleh bersedih, apapun yang terjadi! Semoga dia dan Irish Bella tak perlu bertemu lagi. Ia memacu mobilnya kencang berubah pikiran. Ia tak mungkin bersua Marya dengan noda darah penjahat tertempel di pakaiannya.


Elgio mampir ke Double L, gunakan salah satu bathroom di sana untuk mandi juga membeli pakaian baru.


Sedangkan Marya mondar-mandir gelisah di teras rumah Ibunya, tampak sangat cantik dalam balutan midi dress milk silk di bawah lutut dengan kerah sabrina yang sedikit pamerkan bahunya. Pengawal berjaga di mana-mana, Abner serta Sunny terlihat kewalahan membujuk Marya yang cemas. Saat melihat mobil Elgio, Marya langsung memekik senang. Pintu mobil terbuka dan kekasihnya yang sangat tampan turun dari sana tanpa lecet. Gaya rambutnya telah kembali dan wajahnya licin dengan rahang paling indah yang pernah dilihat Marya. Everyday she love him. Jatuh cinta berulang kali.


"Elgio!!!" Gadis itu berlari kencang turuni tangga nyaris tersandung jatuh dan langsung meloncat ke pelukan Elgio. "Kau buat aku ketakutan!" bisik Marya menahan tangisan. "Apa kau baik-baik saja?"


"Hei, Sayang. Sudah berakhir kini! Kekasihku sangat cantik," jawab Elgio berusaha meredam kegelisahan Marya.


Elgio bernapas di rambut gadis yang gentar itu.


"Kau akan turun atau harus ku-gendong ke dalam Marya?"


Marya lekas turun, buru-buru perhatikan lengan Elgio tetapi tak temukan apapun sebab pria itu telah memakai jas.


"Bisakah aku periksa lenganmu?" tanya Marya, matanya bergerak-gerak risau. Tangannya digenggam erat.


"Ya, nanti saja!"


Mereka naik ke teras. Abner hembuskan napas lega saat melihat Elgio.


"Kau terlihat seperti pria sungguhan tadi pagi saat terbaring di rumah sakit dengan rambut acak-acakan dan kedua lengan terluka, Elgio Durante!" sambut Abner.


"Memangnya selama ini aku apa, Abner?" Elgio berdecak.


"Syukurlah kau selamat, aku mencemaskanmu."


"Aku akan berduaan dengan kekasihku, tolong jangan menyela! Kami butuh banyak waktu untuk bersama."


"Tentu saja, kami akan pergi sebentar lagi. Nyonya Salsa sedang istirahat. Gunakan waktu sebaik mungkin," goda Abner kedipkan sebelah mata.


Elgio menyipit, "Kalian berkencan Abner Luiz?"


"Ais, bocah ini!" seru Abner ingin menjewer kuping Elgio yang buru-buru menyeret Marya pergi dari sana.


"Aku lapar dan ingin tidur!" ujar Elgio.


"Ada makanan! Kau boleh duluan ke kamar dan beristirahat sejenak. Aku akan bawakan makananmu ke atas," usul Marya di tengah ruang.


"Tidak!" kata Elgio. Kehilangan Marya kemarin buatnya sangat frustasi dan ketakutan. "Jangan menghilang dari pandanganku!" sambungnya memeluk gadis itu dari belakang.


"Baiklah, kalau begitu! Kau bisa terus memelukku sambil aku sediakan makanan untukmu," sahut Marya. Ia juga enggan berpisah dengan Elgio walaupun cuma 20 langkah.


Jadilah Marya siapkan makanan sementara Elgio melekat di belakang bak perangko, memeluk pinggangnya erat. Pria itu terseret kesana-kemari ketika Marya bergerak, sesekali mengecup pipi Marya, rambut, punggung; recoki gadis itu.


"Aku serasa bawa-bawa bayi besar di punggungku," keluh Marya pura-pura kesal.


"Bayi yang sangat tampan ... " guman Elgio di tengkuk Marya, daratkan satu kecupan di sana, pada lekukan yang sangat indah dan menggiurkan. Elgio singkirkan semua rambut dari sana, kembali berlabuh lebih lama.


"Hentikan!" seru Marya. Kuduknya tanpa ampun meremang, pipi-pipi menghangat dan mulai memerah.


"Tidak akan!" Elgio menggeleng, makin intens bergerilya. Pelukannya makin kencang. Meniup pelan hingga Marya bergerak resah.


"Hei, Elgio! Kita bisa pecahkan mangkuk Ibu. Tolonglah!" Tangan-tangan Marya mulai gemetar terpancing tindakan provokatif itu.


"Kurasa Ibumu tak akan keberatan," sahutnya berpindah ke pucuk telinga Marya. Sentuhan lembut, satu gigitan kecil dan isapan, Marya nyaris gila. Pria itu menggodanya di ruang makan. Ia sulit fokus lagi memegang mangkuk.


"Elgio?!"


"Hmm? Ada apa?!" tanya Elgio pura-pura bodoh, berbisik dramatis di dalam telinganya. Sangat bersyukur Marya baik-baik saja.


"Apa yang kau lakukan?" Napas Marya tercekat di ujung kerongkongan.


Suara merdu Marya berubah seksi di telinga pria yang sedang mabuk cinta. Aroma manis sang gadis terhirup di antara jiwa yang terbakar rindu, dengan cepat mengisi celah, bangkitkan naluri yang pulas.


Elgio sampai di rahang sang gadis, cicipi pelan tulang lembut, pelesiran ke pundak Marya yang mulus, bergelung di puncak-puncak bahu. Kecupan diulang-ulang makin lama makin dalam hingga menjelma jadi cumbuan penuh gelora. Mendesah ditiap inci.


"Baiklah, jika itu maumu," ujar Marya berbalik, menghadap kekasihnya dan meraup bibir Elgio, dan balas menyerang. Lambat dan lembut. "Kupikir kau lapar ... " guman Marya pelan dengan napas memburu, berhenti di tengah jalan buat Elgio semakin penasaran. Tangan terjalin di tengkuk Elgio. Pria itu menggendongnya hati-hati biarkan ia duduk di kursi tinggi di mini bar ruangan makan.


"Ya, tetapi ada serangan rasa lapar jenis lain dalam diriku," kata Elgio mabuk kepayang. "Biarkan saja aku Marya!" Nyaris merengek dengan mata kelabu yang bersinar sendu.


Menyentuh kekasih di bibirnya yang penuh dan lembut turun ke leher ... romansa sebenarnya telah diekspresikan secara eksklusif. Dengan Marya yang rapuh dan polos, pelukan di tengkuk yang terkunci penuh gairah biarkan hasrat tanpa malu-malu bergejolak; tak pikirkan hal lain lagi.


"Bisakah kita pergi ke ranjang?" tanya Elgio parau. Ia lepas kendali dan tersesat dalam keindahan tanpa ingin akhiri keintiman mereka.


Marya mengangguk, melompat turun dari kursi, raih tangan Elgio dan menuntun pria itu berlarian menuju kamar di lantai atas, lupakan makanan yang tentu saja akan dingin jika mereka sibuk di atas ranjang.


Ckckck ....


Pintu tertutup di belakang mereka, Marya melepas jas Elgio, tak sabaran dengan kancing kemeja pria itu. Wajah keduanya sama-sama bergairah tetapi juga gugup.


Fix, aku rasa dua orang ini lupa soal 21 tahun. oh, siapa peduli?


Sementara kancing kemeja dilepas satu persatu, Elgio mencumbu Marya dengan deburan asmara membara laksana ombak menghantam karang, berirama di pantai, pecah dan berbuih ciptakan melodi berbusa menakjubkan.


Pria itu terbenam di ceruk leher kekasihnya yang indah, menggelitik hingga Marya mengerang sejadi-jadi menahan sesuatu yang meledak-ledak di dalam dirinya.


"Elgio ... " desah sang gadis di antara mata terpejam dan tangan-tangan dengan segepok kenikmatan di baliknya. Napas terengah-engah, nikmati petualang baru yang menggetarkan.


Entah bagaimana, dress telah tertanggal jatuh dan terkulai di lantai, tak ada tersisa untuk disembunyikan akibat api gairah dan cinta yang seperti dikipasi agar makin membara.


Marya digendong dan dibaringkan hati-hati di ranjang sebelum Elgio kembali berkubang di leher Marya, sepertinya itu jadi tempat favorit Elgio. Napas berhembus hangat dan cepat, godaan paling romantis dengan bibir basah dan sedikit jilatan yang bikin Marya sesak napas, gambaran gairah kekasihnya yang berkobar-kobar.


Marya memeluk leher Elgio tak tahu cara ladeni pria itu, jemarinya bergerak gelisah di lembaran rambut-rambut, meremas kuat. Bibir pria itu jelajahi dagunya kembali pada bibirnya.


"Mari bercinta, Marya," erangnya berat berisi rayuan mematikan, sebelum menjepit bibir bawah Marya dengan kedua bibirnya, mengunyah gadis itu pelan, mendesak masuk dan berperang di dalam sana, bersenang di setiap jengkal.


"Jika kau ingin berhenti?!" tanya Elgio sedikit cemas dan masih gugup, takut gadis itu kesakitan. Ini pertama kali bagi keduanya, to the point bukan ide yang bagus. Ia menatap Marya yang terpejam. Tidak sanggup memeluk gadisnya karena kedua lengan yang masih sakit tetapi masih cukup kuat untuk bertumpu.


"Apa kau bisa berhenti?!" balik bertanya.


"Lihat aku!" pinta Elgio pergi ke lengkungan kelopak mata Marya. "Buka matamu, Marya!"


Mata gadis yang cokelat keoranyean itu pasrah sepenuh hati. Tak patuhi aturan, kehilangan kontrol, tanpa batasan dan tak ada akal sehat, hanya terbakar cinta di atas cinta yang sangat kuat tanpa banyak kata-kata. Tak ada yang terlintas di pikiran kecuali pergi lebih jauh.


"Aku mencintaimu, Elgio ...."


Tatapan mata tertaut mendebarkan, berpegangan satu sama lain, terkunci pada ciuman, bibir yang saling terbungkus, Elgio mendorong dirinya, menyatukan tubuh mereka dan mengukur kedalaman. Marya menggigit bibir kuat menahan perih. Cengkeraman jemari pada rambut kekasihnya semakin brutal akibat sensasi yang akan dikenang sebagai sentuhan termanis. Lambat laun ritme terindah dimulai, bernapas lebih dari erangan, dicambuk emosi sensasional, mendaki lebih tinggi, semakin membumbung, lebih cepat dan semakin cepat, kepala berputar-putar, hasrat membuncah diiringi bisik-bisik liar, tak bisa berhenti.


"Tuhan, aku sangat mencintaimu!"


Kemudian tubuh meledak dalam pelukan kekasih.


"Marya ... kau milikku."


***


Chapter Ini 2621 kata, tega kali kalo nulis komentar cuma satu kata.


Dosa tanggung masing-masing, hiks ... sekian dan terima kasih.


Jangan lupa ngirim Vote ya...