
*******
Red Twilight ketika mentari bersinar penuh, keemasan menerpa tebing merah. Red Twilight ketika bayanganmu menepi pada bait-bait prosa. Kau adalah elegi senja, bersenandung di celah cahaya, rona semerah jingga.
Mengapa begini, Lucky? Baiklah, aku akan datang padamu. Mengapa kau selalu ingkari janji? Kau menyakitiku!
"Maukah kau jadi, kekasihku, Enya?"
Reinha menggeliat, wajah tampan sang kekasih dengan baby janggut baru tumbuh yang menggelap sepanjang rahang juga pancaran mata yang berpijar bak gaya gravitasi, menarik Reinha padanya.
"Mari menikah, Enya!"
*********
"Oh, kau brengsek sialan Lucky Luciano."
"Reinha, kau sudah siuman?"
Marya berkaca-kaca di sisi pembaringan. Kedua tangan mereka saling berkaitan. Semua orang berkumpul di kamar Reinha. Marya tak mampu tutupi kesedihannya.
Reinha bangkit dan duduk. "Lakukan sesuatu, Kak! Kau punya banyak uang, kau akan bantu aku cari Lucky Luciano! Aku tak peduli meski dia tinggal abu, bawa dia padaku!" kata Reinha satu tangan pegangi kepala yang berdenyut nyeri. "Atau aku akan pergi sendiri ke sana."
"Enya ... kendalikan dirimu! Aku sedang pikirkan cara!" sahut Elgio. Semenjak berhubungan dengan Lucky Luciano, Elgio merasa gagal jadi kakak yang baik untuk Reinha. Itu karena ia tak bisa gunakan hartanya untuk menolong adik perempuannya yang berduka. Ia tak bisa gunakan uang untuk keluarkan Lucky dari penjara sebab ia akan dituduh mendukung kejahatan, kini ia tak bisa gunakan uang cari tahu keberadaan Lucky. Sebab jika ia hubungi Thomas, bisa jadi ia akan dituduh mendukung pemberontak. Pesisir Timur benar-benar kacau kini dan ia tak mungkin biarkan Reinha ke sana.
Carlos menatap Reinha, ingin bicara namun takut Reinha kembali mengamuk lalu pingsan. Jadi, pria itu hela napas panjang berulang kali, berharap bisa hapus kesedihan di hati gadis itu. Mereka masih punya harapan sebab selama jenazah Lucky tak ditemukan, selama itu pula Lucky hanya dinyatakan hilang bukan meninggal.
"Baiklah, aku akan pergi olimpiade dan raih medali emas. Jika Lucky tak datang di hari aku menang, aku akan mencarinya sampai dapat." Reinha bicara mengancam, berapi-api, separuh menangis. Matanya bengkak sempurna. Ia tak sanggup kehilangan Lucky Luciano.
"Reinha ... dengar, Sayang, aku akan lakukan apapun untukmu." Abner pergi ke sisi ranjang dan mendekap gadis itu, tenangkan Reinha.
"Apa yang bisa kau lakukan untukku, Tuan Abner Luiz? Sedang kau tak bisa mencegah Maribella pergi! Setidaknya aku tak akan menderita sendiri nanti malam, setidaknya Bibi Mai ada untuk bantu aku lewati malam. Suamiku hilang, Maribella pergi, apa yang bisa kuharapkan darimu, Tuan?" keluh Reinha terdengar seperti omelan. Reinha Durante musuhi semua orang sore itu kecuali Marya. Abner mendesah jengkel. Mengapa semua orang berpikir ia jahati Maribella sedang yang ia lakukan adalah selamatkan kekasihnya dari penjara. Ia tak akan serius nikahi Luna. Sudahlah, biarkan orang berpikir buruk tentang dirinya. Ia mendekap Reinha makin kuat.
"Reinha, aku sedang berusaha bawa Maribella kembali. Aku janji akan bawa ia pulang nanti malam, Reinha. Hanya saja kita tak bisa memaksa Maribella." Abner menghibur gadis itu, menepuk punggungnya pelan tidak yakin Maribella mau diganggu.
"Berikan aku uang yang banyak, aku akan beli senjata biokimia dari pasar gelap dan hancurkan Pesisir Timur jika sesuatu terjadi pada Lucky!" Terdengar sungguh-sungguh dengan kata-katanya.
Saat tatapannya membentur Carlos yang tegak seperti patung, Reinha jadi semakin sakit hati tetapi ia tak bisa mengusir pria besar itu pergi. Ia punya permintaan pada Carlos dan butuh pria itu.
"Carlos, bawa aku pada Francis. Aku harus lihat keadaannya. Kau akan penuhi permintaanku."
Francis punya gadget yang terkoneksi dengan chips di gigi Lucky Luciano. Jika beruntung, Reinha akan tahu lokasi suaminya. Tapi hanya kalau Francis bangun dari kritis sebab gadget itu ada pada Francis dan harus pecahkan sandi super ribet yang hanya bisa diselesaikan oleh Francis.
"Hei Enya?! Pesisir Timur sedang bergejolak, bagaimana bisa kau ingin pergi ke sana?" Elgio coba untuk bersabar.
"Aku tak peduli. Carlos akan lindungi aku, sebab ia harus bertanggung jawab padaku. Jika bukan karena kalian, aku tak akan kehilangan suamiku, aku akan pergi ke sana. Aku akan pergi mencarinya!" jeritnya putus asa. "Aku tak bisa menyerah begitu saja. Selama aku tak lihat jenazahnya aku tak ingin percaya dia mati, aku tak percaya dia hilang. Lucky mungkin hanya tersesat, aku akan menemukannya!"
"Hentikan Reinha Durante! Jangan keras kepala!" hardik Elgio kasar, Reinha kedapatan seperti akan hancurkan bumi demi Lucky Luciano. "Kau akan ada dalam pengawasanku selama 24 jam. Carlos akan lakukan kewajibannya temukan Lucky Luciano. Kau, diamlah di sini dan jangan coba-coba hilang dari pandanganku. Aku akan mengurungmu jika kau macam-macam! Kau akan ikut olimpiade dan sekolah seperti biasa sebab aku yakin berandalan itu pasti akan kembali. Liburan musim panas, kau akan berada di Dream Fashion dan bekerja. Jangan berpikir aku akan biarkan kau pergi ke wilayah konflik. Aku akan cari cara lain bantu Carlos untuk dapatkan informasi, saat ini, kau fokuslah pergi kompetisi." Elgio bicara semakin tegas tak mau dibantah sebelum keluar dari sana. Marya lekas bangun dan menyusul Elgio.
"Elgio, apa yang kau lakukan? Jangan meneriakinya! Reinha sedang sangat sedih!" pinta Marya. "Jika aku ada di posisi Reinha, aku juga akan pergi mencarimu!"
Elgio berbalik pada istrinya. "Jangan mendukung hal yang mungkin nanti akan buat kita sesali, Marya. Berjanjilah, kau akan beritahu aku jika Reinha berusaha pergi ke Pesisir Timur. Kau tahu di sana sangat bahaya." Elgio menyipit tajam pada Marya, pegangi kedua bahu istrinya kuat. "Kau dengar aku, Marya?" Elgio lebih keras saat Marya tampak berpikir.
Marya dan Reinha saling mendukung dalam segala cuaca, keduanya terlihat dewasa tapi terkadang mereka cuma remaja 18 tahun yang duduk di sekolah menengah tingkat akhir yang bisa saling menyimpan rahasia dan saling melindungi. Marya mengangguk takut-takut sebab Elgio Durante benar-benar bicara keras padanya. Suasana rumah jadi sangat buruk. Maribella pergi, Lucky Luciano menghilang. Entah apa yang terjadi.
Abner keluar dari kamar Reinha, ia akan menemui Maribella dan bawa wanita itu kembali. Keadaan rumah benar-benar kacau tetapi lebih dari itu, Abner ingin tahu keadaan Maribella. Ia terus gelisah sejak pagi ingin lihat Maribella. Augusto tak beritahu di mana Maribella hanya katakan akan antarkan Abner temui Maribella.
"Aku akan jemput Maribella, Elgio!" kata Abner pada Elgio yang melamun di ruang tengah menatap hampa pada taman belakang dari balik kaca. Sementara Marya di sisi pria itu terlihat seperti habis dimarahi, setengah merajuk. Tak bisa ikut campur urusan kedua orang itu, sebab Elgio dan dirinya satu pemikiran; Marya dan Reinha akan berbagi ilmu sembunyikan rahasia satu sama lain. Akan sangat berbahaya nantinya. Kedua gadis telah lakukan hal-hal semacam itu selama mereka bersama. Marya buat Elgio Durante sibuk agar Reinha bisa kelayapan dan pacaran dengan Lucky Luciano. Keduanya bahkan kompak, sengaja buat Elgio dan Lucky cemburu. Abner mendesah panjang.
"Boleh aku ikut, Tuan Abner?" tanya Maria penuh harap. Ingin ikut tapi terus melirik ke kamar Reinha.
"Tidak, Marya. Temani Reinha. Siapkan saja makan malam. Kurasa semua orang kurang makan hari ini."
"Baiklah, Tuan Abner."
"Satu lagi, jika, aku dapati kau bersekongkol dengan Reinha untuk sesuatu. Aku akan mencambuk suamimu hingga wajah tampannya berubah penuh korengan." Abner tak mampu untuk tidak mengancam. Elgio mendelik pada Abner, pandangi walinya atas bawah. Heran saja, mengapa Abner libatkan dirinya? Belakangan Abner suka lampiaskan kemarahan padanya.
"Aku memang mendukung Reinha tetapi aku tak mungkin biarkan dia terluka dan lakukan sesuatu yang berbahaya," jawab Marya pelan tetapi terdengar ragu-ragu.
"Kau bisa katakan sekarang! Tetapi, aku yakin kau akan lupakan kalimatmu barusan saat Reinha mengemis padamu!"
"Aku janji tak akan lakukan itu!"
"Ya sebaiknya, aku serius akan menyiksa suamimu jika kau lakukan itu!" angguk Abner sebelum menghilang dibalik pintu tinggalkan Marya yang gelisah
****
Biarkan Augusto mengemudi, Abner layangkan pandangan keluar kaca mobil. Musim panas yang indah dan pernikahannya dengan Maribella di depan mata. Mungkin saja, mereka telah menikah jika saja angin topan tak meliuk, hancurkan kisah mereka.
"Augusto, mampir di toko bunga."
"Baik Tuan."
Masih tak dipercaya, kediaman keluarga Durante berubah kelabu. Cobaan demi cobaan, Abner berkhayal ingin berakhir dengan damai. Ia bersama Maribella mengurusi Marya dan Elgio sedang Reinha bisa mandiri bersama suaminya Lucky Luciano di Faith Hill. Tetapi, sepertinya akan kacau saat ini. Buruk sebab Lucky Luciano tak diketahui kabarnya. Mereka mampir ke toko bunga dan Abner belikan kembang mawar putih. Augusto kembali mengemudi. Pertama yang harus ia lakukan adalah bawa Maribella pulang. Rumah kacau terutama disebabkan Maribella yang seperti nyawa dan anak-anak Durante seperti tubuh. Saat Maribella pergi, mereka benar-benar seperti tak bernyawa. Itulah mengapa, Maribella tak boleh pergi. Mereka tak sadari kemarin-kemarin karena Maribella ada di Durante Land, tak kemana-mana. Kini, saat wanita itu tak ada, mereka benar-benar paham arti Maribella, si Peri Pengasuh bagi mereka.
"Kita sudah sampai, Tuan," kata Augusto bubarkan lamunan. Abner mengernyit heran.
"Apa kau yakin di sini?"
"Ya Tuan Abner. Maribella daftarkan diri di Rumah Sakit ini tadi pagi untuk diopname. Aku memeriksanya ke bagian resepsionis."
Abner waspada. Apa sakit Maribella sangat parah? Pria itu semakin kacau, ikuti Augusto dari belakang seperti tersisa kerangka kosong. Isi otaknya tiba-tiba saja menghitam. Begitulah ia setiap berurusan dengan Maribella, isi otaknya kadang-kadang gelap gulita. Harusnya setelah antarkan Luna, ia bertemu Maribella dan tanya keadaan wanita itu alih-alih menahan diri sekuat tenaga, langsung menuju ke kamarnya untuk istirahat. Ia hanya takut saat melihat Maribella, ia hilang kendali. Ia sungguh menyesal. Jika saja ia pergi pada Maribella malam itu. Sesuatu yang sangat disesali.
Maribella tak pernah menggodanya seperti wanita kebanyakkan tetapi Abner selalu tersungkur oleh hasrat menyala pada wanita itu. Augusto bukakan pintu ruangan, Abner pandangi sesosok tubuh tipis yang berbaring di atas ranjang. Maribella di rumah sakit di ruang perawatan kelas ekonomi, bergabung bersama beberapa pasien, hanya dibatasi sekat tirai. Wanitanya itu terlihat sangat lelap tidur di atas tempat tidur rumah sakit dengan infus di tangannya. Wajahnya pucat dan letih serta kepala, leher terbalut perban begitupula kakinya. Apa yang terjadi? Abner cengkerami buket bunga erat.
"Augusto, pindahkan Maribella!" perintah Abner di antara rahang-rahang yang mengejang.
"Baik Tuan."
Maribella yang habis menerima banyak suntikan obat tak sadari bahwa ia dipindahkan dari ruangan kelas ekonomi ke ruangan kelas VIP Superior, one room one patient, di mana, ruangan itu sangat luas dan benar-benar mewah.
"Tuan Abner Luiz? Apakah Nona Luna kembali jatuh sakit?"
Dokter Ishak keheranan saat dapati Abner Luiz mematung di ruangan superior. Tetapi Abner Luiz tatapi seorang pasien yang lelap dan itu bukan gadis cantik yang beberapa Minggu lalu dibawa akibat keracunan. Wanita cantik lain tetapi tampak begitu sederhana dengan wajah lembut berbanding terbalik dengan wanita cantik yang sangat menggoda beberapa waktu lalu.
"Seseorang yang berharga. Aku ingin tahu kondisinya."
"Baiklah Tuan. Apakah Nona ini ...."
"Dia kekasihku," potong Abner tak alihkan pandangan. "Namanya Maribella Wiliams."
Dokter Ishak tampak sedikit terkejut, mungkin berpikir Abner Luiz, playboy. Kencani gadis seksi dan gadis sederhana di waktu yang hampir bersamaan.
"Bisakah aku terima visum? Kurasa ia menerima banyak luka akibat kekerasan."
Percakapan tertunda, seorang dokter lain masuk.
"Nah, Anda bisa bicara pada Dokter Jason Cassano. Aku pamit, Tuan Abner." Dokter Ishak pergi dari ruangan.
"Abner Luiz?! Aku tidak tahu bahwa Maribella Wiliams adalah kerabat Anda."
"Jason Cassano?! Apa kabarmu? Kau bertugas di sini?" Abner menyapa Jason, dokter bedah paling tampan satu rumah sakit Regina Caeli. Mereka berteman baik saat di sekolah menengah hingga saat ini.
"Ya, baru beberapa Minggu pindahan. Aku melihatmu seminggu lalu bersama seorang wanita cantik tetapi tak sempat menyapamu."
"Luna, dia salah satu stafku. Tapi yang ini, kekasihku," angguknya kearah Maribella. "Mengapa ia tidur sangat lama?" tanya Abner gelisah perhatikan jam tangan sebab hampir 30 menit dan Maribella masih tidur lelap.
"Hasil pemeriksaan radiologi, pasien alami cedera tulang tengkorak, pendarahan, pembengkakan otak, trauma tulang selangka, tulang kaki retak. Banyak luka juga memar hampir di seluruh tubuh. Pasien tak ingin bicara darimana ia dapatkan luka dan sebagainya, hanya diminta merawatnya saja. Ia mengaku tak punya keluarga, jadi, ia katakan hanya ingin pulihkan diri sebab katanya harus mengurus dua bocah. Aku ingin tahu, apa yang terjadi padanya?"
"Maribella baru dua hari keluar dari penjara," sahut Abner kelam, terdengar kesakitan. Itu berarti wanitanya telah disiksa selama di penjara. "Maribella dituduh racuni Luna, wanita yang beberapa waktu lalu dirawat sini, wanita yang kau lihat bersamaku."
"Jika saja tahu bahwa Maribella kekasihmu, aku akan segera menghubungimu."
"Maribella tahu aku sedang banyak masalah. Sama sepertiku, wanita ini adalah wali Elgio Durante."
Dokter Ishak manggut-manggut amati kondisi Maribella yang memprihatinkan.
"Harusnya Dokter Largus yang tangani kekasihmu tetapi ia berhalangan jadi ia minta bantuanku. Pasien baru saja minum obat, jadi, ia akan tidur dalam waktu yang cukup lama untuk mulai proses pemulihan tubuhnya."
"Separah itukah?" guman Abner porak- poranda. Rasakan jantungnya seakan berdetak dibawah cengkeraman duri-duri tajam.
"Cideranya cukup berat meski demikian beruntung tak ditemukan cairan dalam jaringan otak jadi tak ada pembedahan. Aku hanya berikan obat anti kejang dan obat diuretik untuk kurangi tekanan dalam otak. Juga obat agar ia bisa tidur lebih lama hingga beban kerja otak berkurang. Ia hanya perlu istirahat dan mungkin akan diterapi setelah sembuh untuk kurangi trauma."
"Trims Jason."
"Kendatipun demikian, Maribella tak boleh keluar dari sini sebelum ia benar-benar pulih. Tak boleh bebankan banyak masalah dan beritahu aku misalkan ia tiba-tiba punya keluhan. Atau mungkin jika kau merasa dia tiba-tiba melupakanmu."
"Bukankah itu sangat serius?" keluh Abner murung. Sebagian dirinya mati rasa.
"Abner Luiz, kekasihmu menerima banyak pukulan benda tumpul. Kurasa ia sangat kesulitan selama rentang waktu yang cukup lama yang berlangsung secara konsisten, sebab memarnya sangat parah. Lengan dan perutnya tak luput, banyak pembuluh darah kecil yang pecah di bagian itu." Jason hela napas berat. "Kau berhak laporkan pada aparat tentang penganiyaan yang terjadi pada kekasihmu sertakan bukti visum et repertum sebab ini adalah tindak pidana. Pelakunya harus menerima ganjaran. Kupikir ini, tidak manusiawi dan tak boleh dibiarkan."
"Ya, aku akan pastikan itu!"
Tidak, ia tak akan buat laporan. Ia hanya akan caritahu siapa pelakunya dan lakukan hal yang sama seperti yang Maribella dapatkan. Pria itu bersumpah dalam hati. Keduanya mengobrol sebentar dan Jason berjanji akan kembali nanti setelah makan malam untuk observasi. Abner mengangguk. Ia menelpon seseorang.
"Tango, datang dan temui aku! Lakukan sesuatu untukku!"
Selebihnya ia tak sanggup berpikir karena otaknya mendadak korslet, hanya tatapi wajah yang tidur pulas, merana sendiri dalam hati, sangat-sangat terluka dan berakhir pada amarah. Ia akan habisi siapa saja yang dengan berani telah menyentuh Maribella dan menyakitinya. Ia mengelus wajah yang tampak kurus, mengusap kelopak mata juga tulang pipi dengan Ibu jari dan benar-benar terpukul. Bagaimana bisa lukai hati yang seputih salju ini dan bagaimana bisa Maribella menanggung sakit sendirian? Tanpa sadar ia menangis dan tetesan air mata yang jatuh pada tangan Maribella kembalikan kesadaran wanita itu.
Perlahan Maribella rasakan napas seseorang menderu di wajahnya, berat dan hangat bahkan bergetar di atas tubuhnya. Ia seolah kena tetesan air hujan dari atap rumah. Maribella buka kelopak mata hati-hati, terkejut saat tangannya digenggam erat dan kening terus dikecup. Sebuah kepala terapung di atas dadanya. Keheranan saat dapati dirinya tak lagi di ruangan dengan banyak pasien. Apa ia mati sebab ruangan itu sangat indah. Ketika lebih jelas ia temukan wajah Abner Luiz menatapnya gundah gulana, bermata basah.
"Abner?! Mengapa kau menangis? Apa aku sungguh sudah mati?" tanya Maribella pelan. Abner terlihat sangat kacau, belum pernah dilihatnya pria itu berantakkan sebab Abner selalu rapi. Abner akhirnya temukan dirinya, padahal, ia berusaha agar Abner fokus selesaikan masalah.
"Mai, maafkan aku," jawab Abner lara bergetar nada suara tetapi lega Maribella tak gegar otak atau mendadak amnesia. "Apa aku menyakitimu? Maafkan aku."
"Jangan menangis, kau buatku sedih!" kata Maribella. Tangannya terangkat hapus lelehan air mata di wajah yang semerawut tapi sangat ia cintai itu. Nyala api menyala semakin kuat, seakan ia mampu lewati ribuan rintangan hanya dengan melihat wajah teduh itu.
"Mengapa kau di sini? Bagaimana dengan anak-anak?"
Bibir wanita itu terasa dingin saat dikecup.
"Mereka baik-baik saja. Hanya berharap kau pulang," sahut Abner. Tidak mungkin katakan Reinha pingsan dan menderita karena Lucky hilang kontak. Abner menahan segala emosi yang memuncak dan hendak meletus di kepalanya, naik ke ranjang berbaring miring di samping Maribella yang bernapas tenang dan teratur, genggam jemari Maribella yang mungil. Darinya banyak sekali makanan lezat tercipta.
"Mai, maafkan aku ... maafkan aku." Sejuta maaf seakan tak sanggup mengusir sesak di hatinya yang perih.
"Abner?!"
"Mai ...?! Apa yang kau rasakan?!" Ingin bertanya; siapa bedebah yang berani sebabkan kau menderita luka dan kesakitan, Maribella? Tetapi takut ia malah buat Maribella bertambah sakit.
"Abner, terima kasih telah keluarkan aku dari penjara. Terima kasih telah berkorban untukku."
"Semua kemalangan ini salahku. Maafkan aku, Mai. Aku akan menjagamu. Jika tak keberatan, beritahu aku siapa yang lakukan ini padamu?" tanya Abner hati-hati, oleh rasa gusar akhirnya ia bertanya dengan mata gelap.
"Sudahlah Abner! Yang penting aku keluar dari penjara. Kau tak terlahir untuk kotori tanganmu dengan darah para pecundang."
"Aku hanya ingin tahu."
"Opsir penjara, Abner dan teman-teman satu sel. Mereka tahu kasus yang menimpaku dan berpikir aku benaran racuni seseorang dengan sianida. Aku disuruh mengakui kejahatan yang tak kulakukan!"
"Mengapa tak beritahu pengacara saat berkunjung?"
"Aku menunggumu untuk beritahu kau, Abner. Tetapi, kau tak pernah datang."
"Maafkan aku, Mai."
"Aku mengerti, kau berada di sisi Luna agar aku bisa keluar dari penjara." Maribella menutup mata seakan menahan nyeri. Abner meremas jemari tangan erat.
"Baiklah, Sayang. Istirahatlah, aku akan di sini sampai kau pulih. Lupakan hal buruk! Jangan pikirkan apapun dan tidurlah! Aku akan bangunkan kau saat makan malam."
Mimpi hampir berakhir indah untuk mereka, hampir mencapai akhir, bahkan hampir terlihat ujungnya ketika badai datang dan tak ada yang menduga akan berakhir tragis.
Saat Maribella terlelap, ia turun dari ranjang dan minta Augusto masuk.
"Kembali ke rumah! Aku akan tinggal di sini untuk sementara waktu. Beritahu Elgio keadaan Maribella tetapi jangan biarkan Reinha dan Marya tahu."
"Baik, Tuan."
Selepas Augusto pergi. Abner kembali ke ranjang.
"Abner ... " panggil Maribella lirih nyaris berbisik saat rasakan tangan Abner memeluknya.
"Mai?! Apa kau ingin katakan sesuatu?!"
"Mereka disewa pengacara Luna Hugo untuk menyiksaku."
"Aku akan mengurusnya! Tidurlah, Sayang!"
*****
Bakalan Up lebih dari satu chapter! Tetapi mungkin agak sorean. Jangan lupa vote-mu ya readers.