
"Hallo, Kak ...."
Satu tangan Reinha melambai dari lantai atas. Satu alis terangkat tinggi saat ia bicara, "Bisa beritahu aku, apa yang sedang kakak lakukan? Kakak, mengendap-endap tengah malam ke dalam rumah membawa seorang gadis, kau seperti bukan Elgio Durante."
Reinha bicara setengah membungkuk dan bersandar santai di atas handrail, kedua lengan menyiku untuk menyangga tubuh. Ia menonton dari sana dengan posisi nyaman seperti menonton atraksi dance di Heiyo Mall Center.
"En, En-ya?" Elgio gagu. "Kau belum tidur?" tanya Elgio berupaya keras menjaga suaranya agar tak kedengaran canggung.
Setelah Elgio kembali dari New York, Reinha pindah ke rumah utama dan menempati salah satu kamar di lantai dua, satu lantai dengan Elgio.
"Belum ... sebab aku penasaran. Kakakku pergi ke hunian Bibi Maribel dan keluar dari sana dengan seorang gadis."
Reinha bergerak ke arah tangga dan menuruni tangga dengan gerakan luwes ala-ala Michael Jackson. Girang membuat Elgio salah tingkah.
"Apa kamu sembunyikan sesuatu dariku, Kak?" Reinha berhenti meliuk lalu bersandar pada railing tangga dan mulai mengetuk benda itu pelan. Bibirnya manyun beberapa inci dan sudut bibir miring.
"Kakak berutang penjelasan padaku ... mengapa mencium dan memeluk Marya Corazon di kelasku seakan-akan telah pacaran dengannya? Bagaimana ini? Aku sangat kesal, kupikir kakak pergi ke perwalian karena aku. Aku tak menduga bahwa kakak sunguh-sungguh penasaran pada Marya Corazon. Aish, kakak ini!"
"Lalu, bagaimana jika aku beneran suka dengan Marya?" tanya Elgio dari bawah.
"Aneh ... suka Marya tapi membawa gadis lain ke rumah? Ya Tuhan, aku jadi cemburu sekarang. Marya Corazon tak pernah tampakkan diri, tetapi Ethan Sanchez sangat tergila-gila padanya. Lalu, kakakku sendiri .... Aku merasa kalah sejuta kali dari Marya. Gadis itu seperti matahari, terlalu silau untuk dilihat tetapi semua orang memujanya," celoteh Reinha panjang lebar. Ia segera terbangun, "Jangan coba alihkan aku! Siapa gadis di belakangmu itu?"
Dagu Reinha terangkat mengarah ke belakang Elgio sementara jemari kiri Marya mengeratkan cengkeraman pada baju Elgio. Kening Marya menyentuh punggung Elgio, bertalu-talu di sana perlahan. Seakan mengirim sinyal bahwa ia sungguh gelisah. Tangan kanan Elgio menggenggam tangan Marya kuat. Membalas Marya, tanda "tenang saja!".
"Umm ... " guman Elgio kebingungan, mencari jawaban. Reinha Durante sangat kritis dan cerdas. Lagipula ia tak akan mundur dengan mudah sebelum rasa ingin tahunya terpuaskan. Elgio baru pikirkan cara sampaikan pada Reinha tentang Aruhi tetapi duluan ketahuan. Sungguh na'as.
"Umm ... ?!" Reinha miringkan kepala dan bersidekap.
"Umm ... dia istriku, Kakak Iparmu," jawab Elgio tak panjang akal. "Tunjukkan sopan santunmu!" Elgio memaksa dengan nada keras dibuat-buat.
Reinha terdiam sebelum meledak tawa. Ia mencibir geli, "Menikah? Sejak kapan? Kau tak mengundangku? Apa kakak melarikan anak gadis orang ke Durante Land lalu ngaku-ngaku telah menikah?"
Reinha melontarkan banyak pertanyaan, menginterogasi seperti seorang polisi.
"Kau ini ... aku tak serendah itu!"
"Jadi, siapa dia? Apakah salah satu gadis pekerja kita?" Keningnya berkerut. Ia berpikir keras. "Kau memacari salah satu gadis pekerja kita? Ya Tuhan, Kak. Kenapa tidak kencani saja salah satu model papan atas atau penyiar berita? Aku berharap kakak sungguhan dengan Marya Corazon kini, sebab aku ingin kakak ipar yang lebih pandai dariku tetapi tidak lebih cantik dariku. Aku bisa mengimbanginya. Jadi, siapa gadis di belakangmu itu?"
Reinha berharap bisa tahu dengan cepat siapa gadis yang dibawa Elgio. Terpikirkan untuk menuruni tangga seperti di rumah Lucky. Jika hitungannya tepat, ia akan mendarat tepat di belakang gadis dibalik punggung Elgio.
"Aku akan memberitahumu jika waktunya tepat," ujar Elgio berdiplomasi.
"Oh yeah? Sekaranglah waktunya. Kau telah kedapatan olehku. Apa kata Tuan Leon dari atas sana saat melihat anak lelakinya diam-diam menyelundupkan gadis ke dalam rumah?"
Reinha hampir sampai ke tempat mereka berdiri dan dia menjadi sangat bawel.
"Tolong Enya. Tidak sekarang!"
"Baiklah kalau begitu. Kita akan berdiri di sini sampai ayam berkokok. Aku tak akan bergeser sebelum kakak memberitahuku. Lagipula, aku tak bisa tidur karena penasaran."
Reinha berusaha mengintip ke balik bahu sang kakak. Ia cemberut lantaran tak berhasil.
"Ngomong-ngomong, mengapa kamu pergi ke Faith Hill dan mencium Lucky dengan gigimu? Apa kau minum alkohol dan pergi ke sana? Kau berutang penjelasanku padaku."
Pertanyaan Elgio membuat Reinha mati langkah. Ia terperanjat dan menatap kakaknya gelagapan.
"Kakak tahu?"
"Tentu saja, aku tahu. Mata-mata Tuan Abner mengabarinya."
"Ya ... dengar Enya. Lucky Luciano itu bukan sembarang penjahat. Berubah jadi cat woman dan pergi ke sarang penjahat untuk membasmi mereka, hanya bualan dalam film. Sekalipun ada, mereka adalah orang terlatih dalam bertarung. Kau membahayakan dirimu dengan pergi menemui Lucky sendirian. Aku akan mencambuk kakimu dengan cemeti kuda jika kau berani melakukannya lagi."
"Tapi Kak ...."
"Kamu akan dikawal 24 jam mulai besok dan ikuti kelas Muay Thai agar bisa melindungi dirimu," potong Elgio tak ingin ladeni penyangkalan atau pembelaan diri Enya.
"Kakak, aku tak suka pengawal! Aku bisa menjaga diriku sendiri!"
"Enya, kau itu adikku. Bagaimana jika hal buruk menimpamu? Jangan bertingkah konyol lagi! Pergilah tidur! Aku menyayangimu."
Nada Elgio tak ingin dibantah tetapi Reinha terlihat gregetan. Ia tak mudah diusir.
"Tidak ... aku ingin berkenalan dengan gadismu, Kak. Ayolah!"
"Enya ... dia sangat pemalu."
"Aku akan pacaran dengan Lucky Luciano jika kakak tak mau kenalkan aku pada gadismu!"
"Ya Tuhan, kau ini .... coba saja! Sebelum itu ucapkan 'say goodbye' pada kedua kakimu. Pergi sana!"
Reinha menggeleng keras. Elgio berdecak jengkel. Suasana menjadi hening, hanya suara binatang malam terdengar mengerik di luar sana. Bola mata cokelat Reinha menyala dan berkilat-kilat mengedip pada Elgio, penuh penantian. Elgio menelan ludah.
Tiba-tiba sebuah suara berbicara lirih dari balik punggung Elgio.
"Hai Reinha ... apa kamu sudah baikan? Ini aku ...."
Reinha terperanjat lalu menajamkan pendengaran. Mulutnya menganga tak percaya. Ia tanpa sadar berucap, "Obrigada?! Kaukah itu? Jadi, kau serius pacaran dengan Kakakku?"
"Ya ...."
Marya melongok takut-takut di sisi Elgio dan Reinha Durante hampir tergelincir saking terkejut melihat wajah Marya yang cantik jelita.
"Apa kamu sudah baikan?" tanya Marya lagi.
"Ma, Ma-rya Corazon? Sungguh kaukah itu? Mengapa ...."
"Kami telah menikah," potong Elgio cepat seraya menarik tangan kiri Maria dan mengangkat tangan kirinya pamerkan cincin dari "ring lemari" bangga.
Reinha masih menganga di tempatnya berdiri. Tak diragukan lagi, ia shock berat. Reinha terbangun setelah berhasil memulihkan kesadarannya dan memberikan respon.
"Well, aku merasa bertambah buruk sekarang."
"Maaf ... aku tak berniat ...."
"Itu urusan kalian! Akupun tak ingin kakak campuri urusanku jika nanti aku punya kekasih. By the way, cincin pernikahan kalian ... itu seperti ring kunci dari kandangnya Azel. Miskin sekali kau, Kak! Tidak heran kucing itu sering hilang."
"Jika kau tak keberatan, kami harus pergi!" Elgio memberi isyarat pada adiknya untuk segera menyingkir.
"Kemana?" Reinha menatap kakaknya tajam. "Jangan coba-coba membawa gadis ke kamarmu, Kak! Kau tahu jika dua manusia sedang kasmaran berduaan dalam kamar, orang ketiganya pasti setan."
"Kau ini .... Kau lebih mirip setan saat ini dengan bibir bengkak seperti itu!"
*****
Dua hari ini, nulisnya buru-buru sebab kerjaan di dunia nyata (ala kak Lizbeth) menumpuk... Tetap usahakan update tiap hari.
Obrigada, Rimagazi (Terima Kasih).