
"Abner ..., apa kau pernah tidur dengan seorang wanita?"
"Tuan Nakamura belum merespon Lucky Luciano dan Beliau dijadwalkan ada di Bali untuk pernikahan anaknya dalam beberapa hari mendatang. Tuan Nakamura salah satu partner yang harus kita pertahankan. Apa kau berminat pergi ke Bali dan memperjuangkannya?"
Abner tak hiraukan pertanyaan Elgio meskipun kuping tegak menangkap gelombang kegelisahan nada itu. Ia pura-pura tenggelam dalam file sementara Elgio mulai mengambang sempurna.
"Aku akan mengatur jamuan makan malam sederhana, jika kau setuju. Beliau adalah orang Jepang yang low profile dan sederhana tetapi sangat loyal, pergilah ke sana dan ambil hatinya sebelum Lucky meretas peluang ini."
"Abner ...."
"Aku bisa siapkan perjalananmu."
"Baiklah. Aku akan pergi ...."
"Bagus." Abner berseri-seri. Elgio mulai waras.
"Bersama ... Marya."
Abner sontak mengangkat wajah dari berkas file dan memandang Elgio stress. Gusarnya meningkat dua kali lipat.
"Please, fokus!"
"Apa kau pernah tidur dengan seorang wanita?"
"Itu pertanyaan yang tidak sopan!"
"Jawab saja!"
"Ada dua prinsip hidup yang kupegang teguh. Pertama, tidak berhubungan **** sebelum menikah. Kedua, hanya 'melakukannya' dengan istriku. Apa kau bertanya karena ingin tidur dengan Marya? Gadis itu masih 17 tahun."
Elgio melempar Abner dengan buku agenda dan hampir mengenai wajah pria itu.
"Bisakah aku membawanya ke altar? Bukan untuk tidur dengannya tetapi aku ingin memilikinya utuh."
"Lalu ...."
"Lupakan!"
Abner bersandar pada sofa dan menyilangkan kaki, bertingkah persis emak-emak sebelum meletuskan omelan pada anak remaja yang meminta ijin untuk "WaKunCar".
"Baiklah, tunggulah Nona Marya di altar setelah ia lulus sekolah."
"Itu terlalu lama, Abner."
"Nikmatilah! Kencan dalam penantian ... itu indah. Kau akan menyadari bahwa kau tidak akan tertarik padanya hanya karena fisik. Kau bersedia menerima kekurangan dan kelebihannya dan kalian akan bersama sampai maut memisahkan. That's perfect."
"Percaya atau tidak, cintaku tulus padanya. Aku sangat mencintainya."
Abner berdecak meskipun ia tahu pasti Elgio tidak membual.
"Umm ... tampak jelas. Apa kau bisa bedakan cinta sejati dan hasrat penuh gairahmu padanya saat ini? Ketertarikan fisik tak akan bertahan lama." Abner mencemooh.
"Aku sungguhan jatuh cinta padanya. Ya Tuhan, kupikir kau mengenalku dengan baik. Sudahlah! Kau tak akan mengerti sampai tiba giliranmu jatuh cinta. Semoga kau lebih parah dariku," gerutu Elgio bersumpah serapah. Perkataan Elgio membuat Abner geli.
"Ngomong-ngomong ..., mengapa bibi Maribel belum bawakan kita minuman dan camilan?Atau Bibi Maribel bisa meminta Ma ...."
Ekor mata Elgio melirik pada jam sedang Abner perhatikan Elgio yang bergerak gelisah mirip ngengat tanpa cahaya. Pemuda itu terbungkus kabut cinta hampir ditiap jengkal tubuhnya.
"Aku akan kembali!" Elgio bermanuver cepat, melompati sofa manfaatkan kelengahan Abner yang sempat melamun. Tangannya menyerupai pistol menodong Abner yang akan buka mulut.
"Diam di tempat atau kau kutembak!"
Lalu menghilang cepat menuruni tangga. Di lantai bawah kaki-kakinya bergoyang meniru gerakan Ne-Yo di lagu One in Million. Tertular Reinha. Ia bahkan bersenandung kecil.
Girl you're so one in a million
You are
Baby you're the best I ever had
Best I ever had
And I'm certain that
There ain't nothing better
No there ain't nothing better than this
Ya, ada jutaan gadis dan Marya adalah satu dari sejuta, terbaik yang ia miliki dan tak ada yang lebih baik. Tangannya terayun ke depan dan berhenti serentak saat Azel mengeong padanya di pintu menuju dapur. Kucing itu sedang menggigit sesuatu dan makanan terlepas dari mulutnya mungkin kaget melihat Elgio.
"Marya! Eh ... Nona Marya, jangan lupa diangkat tempura-nya! Aku harus menangkap Azel dan masukan ke kandang sebelum kucing itu merusak acara memasakku."
Bibi Maribel terdengar menjauh sambil bersungut-sungut di antara aroma lezat dalam minyak panas. Marya sibuk meniriskan peixiohos da horta di atas penggorengan kemudian mengeringkan si camilan renyah sebelum menata rapi di piring ceper. Ia ingin mencomot satu untuk mencicipi rasa camilan gurih itu tetapi diurungkan. Jadi, ia meneguk ludah kemudian mendongak hendak mengambil cangkir untuk mengisi saos tomat pedas yang akan dijadikan teman si camilan.
"Butuh bantuan?" tanyanya berdiri tepat di belakang Marya membuat gadis itu terlonjak kaget.
"Eh?!"
Tumit Marya tak sengaja berpijak pada punggung kaki Elgio. Ia tak berani berbalik sebab Elgio menempel di belakangnya seperti perangko dan jantung pria itu berirama di punggungnya. Kuduk Marya meremang.
"Ya Tuhan, kau mengagetkanku!" seru Marya seraya memukul dada coba kendalikan debaran jantung. Itu sia-sia, ia seperti memiliki dua jantung. Mereka berdebar bergantian seperti genderang bertalu mau perang. "Ca, ca-ngkir itu terlalu tinggi."
Marya mulai tak karuan. Napasnya memburu makin kencang tak beraturan bahkan nadi di pelipis berdenyut saat wajah Elgio bersarang di kepalanya.
"Baiklah. Aku akan menolongmu. Kau merapalkan mantra seakan kau kekasih goblin. Luar biasa, padahal kau cukup memanggilku saja." Elgio berbisik menggoda.
Bukannya mengambilkan cangkir dengan postur tinggi tegapnya itu, Elgio malah melingkari kedua lengan di pinggang Marya erat.
"Eh?!"
Ia mengangkat tubuh Marya hingga naik meninggi lewati tempat cangkir bertengger.
"Hei?! Apa yang kau lakukan?"
"Sudah kubilang sedari tadi, aku menolongmu ... membuatmu jauh lebih tinggi. Ambil cangkirmu, kecuali kau suka digendong?"
Marya mengambil cangkir tetapi Elgio tak juga menurunkannya. Pantulan wajah Marya di kaca laci bersemu merah mirip peixiohos da horta yang digoreng terlalu matang.
"Bisakah turunkan aku?" tanya Marya.
"Kau hanya mengambil satu cangkir?"
"Ya ...."
"Ambilkan satu lusin cangkir!"
"No, Elgio. Aku cuma butuh satu cangkir untuk menaruh saus."
"Bagaimana jika aku ingin satu lusin cangkir penuh saus?"
"Berhenti bercanda! Turunkan aku!"
Elgio terpaksa menurunkan Marya meskipun ia ingin menggendong gadis itu sepanjang hari. Lengannya masih bercokol di pinggang Marya membuat Marya gerah. Jantung gadis itu seperti musik up beat, penuh semangat berdetak tanpa mau dihentikan.
"Bisakah kau lepaskan aku?!"
"Tentu saja ... " desah Elgio berat. "Aku ingin mengambil camilanku."
"Sedang kusiapkan."
Marya berpindah menjauh mengambil piring ceper berisi camilan dan saos.
"Mau coba?" tanya Marya mengengadah kedua telapak tangannya menyangga piring camilan dan saus.
Elgio memandangi peixiohos da horta di telapak kanan Marya dan saos di tangan kiri lalu pada Marya. Pria itu membuat keputusan dan Marya segera menyadari kekeliruannya. Elgio mendekat dengan langkah panjang, menangkup jemari Marya yang memegang piring camilan dan saos dengan kedua telapak tangannya, membuat jarak cukup lebar sebelum mengisi celah. Ia menunduk dan mengecup bibir Marya.
"Hei?!"
"Ini lebih menggoda ...." ujarnya menatap Marya dalam.
"Kau seperti pencuri, Elgio." Rona merah tanpa malu-malu bertamu di wajah Marya membuatnya semakin menggoda. Ia menjadi gugup.
"Berbanggalah, pencurinya sangat tampan." Percaya diri Elgio kumat begitupula sisi romantis pria itu.
Ia kembali mendarat di bibir Marya agak lama. Elgio tak pernah menyangka jika jatuh cinta seperti ini rasanya. Lebih dari itu rasa sayang yang mendalam pada Marya melampaui seluruh gairah. Api asmara bersesakkan dan menyala berkobar-kobar setiap kali melihat Marya.
"Aku berharap rasa di antara kita tidak hanya sementara," kata Marya lirih.
Marya ketakutan pada emosi penuh gairah dan hasrat yang meluap-luap meskipun itu sangat romantis. Keduanya saling menerawang.
"Aku sungguh-sungguh jatuh cinta padamu bukan tentang ketertarikan fisik atau dorongan hormon. Aku membangun cinta untukmu sejak lama. Jadi, wajahmu atau lainnya cuma bonus," kata Elgio mesra.
"Brigado pelo carinho, Elgio!" balas Marya. Terima kasih untuk kasih sayangmu.
Seseorang pernah bilang padaku, "Tunggu saja sampai kau jatuh cinta dan aku tak menyangka bakalan begini rasanya."
***
Brigado pelo carinho (Terima kasih atas kasih sayangmu).
Maaf sebesar-besarnya sebab Author jarang balas komentar untuk saat ini.
Makasihhh terdalam untuk Readers tercinta yang begitu setia.
The Next Chapter, apakah Elgio akan ijinkan Salsa bertemu puterinya?!