
"Mengapa Arumi sangat kasar pada Ibu?"
Keduanya tak bisa tidur, hanya bolak-balik gelisah oleh banyak perasaan, pikiran, entah oleh campur aduk berbagai emosi. Salsa menatap Marya, sejak tadi mata wanita itu basah. Akhirnya sampai di sini mereka, tentang Arumi. Ia belum bicara tetapi telah mulai terisak.
"Aku pantas menerimanya, Aruhi. Aku juga punya dosa pada Arumi," jawab Salsa melirih, tampak ingin katakan banyak hal. Ia akan mengaku dosa pada dinding-dinding hati Aruhi dan lihat sejauh mana Aruhi akan mengampuninya, ia telah siap-sedia untuk sebuah konsekuensi walaupun berupa tulah yang sadis.
Salsa kembali mengelus pipi Marya, seolah kartu mujurnya akan segera expire, seolah ia tak akan pernah diberi kesempatan langka itu lagi, tak akan ada keajaiban lagi. Setelah pengakuan dosa terdalam pada Aruhi tentang Arumi dan kejahatan demi kejahatan, ia pesimis apakah Aruhi sungguh-sungguh bisa menerima dirinya kembali? Banyak kefasikan dari masa lampau yang bahkan secara pribadi buatnya sulit untuk berdamai dengan dirinya sendiri.
Salsa hidup dalam penyesalan berkepanjangan dan rasa bersalah, dua hal yang lebih menyakitkan ketimbang kematian walaupun keduanya datang saat nyawanya tercekat di ujung leher. Ia menyiksa diri untuk penebusan tetapi masih tak cukup.
"Kau tidak ingin bertanya, mengapa kau punya adik berusia dua tahun lebih muda darimu?!"
Salsa terbaring di bantal, urat wajah telah tersembul di bawah remang lampu kamar, di wajah yang mulai berisi. Kembali dari bantal, dipandanginya Marya dengan raut kesakitan mendalam, seperti penjahat mengemis pertobatan akibat kemungkaran tetapi, seakan selaksa maaf tak pernah pantas.
Marya tidak ingin dengar, ia benamkan wajah di bantal berharap Ibu menghalau percakapan itu darinya. Marya bukan gadis bodoh ia hanya terlalu sibuk bahagia berjumpa Ibu, lewatkan hal penting tentang Arumi. Mereka cuma selisih dua tahun. Itu berarti .... Apa Ibu berselingkuh dari Ayah dan punya anak lain?
"Aku tidak ingin dengar," keluh Marya menggeleng sedih.
Aruhi kecil tahu, Ibunya punya banyak pria. Saat Ayah tak ada, Ibunya pergi bersama pria lain dan jadi bahan gunjingan tetangga. Ibu kadang hilang berhari-hari. Ia sering ditinggal dengan pengasuh sedang Ayah sibuk bekerja pada Tuan Leon.
"Aku punya banyak pria saat masih bersama Benn."
"Aku tidak ingin dengar Ibu, tolonglah!" Marya mulai terisak, menggeliat menahan perih. Berapa banyak lagi siksaan? Tetangganya bilang Ibu menjual diri. Marya sesegukan makin keras walau tanpa suara. Kerongkongannya telah tersumbat dan kering kerontang.
"Aku kepincut pada atasanku, bos tempatku bekerja dan terbuai padanya, Ayah Arumi; suamiku saat ini. Kami habiskan banyak waktu bersama sampai aku memiliki Arumi di dalam tubuhku." Tertawa getir tetapi terus menangis, tak berhenti mencela diri sendiri. Betapa laknatnya ia di masa lampau.
Ratapan Marya kian pilu, berkubang air mata di bantal. Betapa malang Ayahnya, sungguh sangat malang. Itukah mengapa Ayah selalu katakan, jangan benci Ibu tetapi jangan percaya padanya. Apakah Ayah tahu?! Beruntunglah Ayah telah bersemayam dalam keabadian, jadi tak perlu rasakan kepedihan ini. Marya akan menanggungnya.
"Ibu, aku tak ingin dengar. Aku tak peduli pada masa lalu yang tidak dapat kita ubah, Ibu. Penderitaan dari masa lalu tak akan pernah putus dan penyesalan akan membuat kita merasa bersalah tanpa ujung jika terus dikenang," kata Marya bergetar suaranya berakhir seperti lolongan makhluk dalam sakrat maut. Ia mulai mual.
"Aku mengikat perutku dan minum banyak obat-obatan keras untuk membunuhnya, tetapi tak terduga ia lahir prematur. Sangat kecil seperti botol bir. Aku ketakutan dan tinggalkan bayi itu pada Ayahnya," ujar Salsa mengejek dirinya sendiri.
"Kau bisa berhenti, Ibu. Hari esok menunggumu. Biarkan saja masa lalu terkubur di belakang sana," keluh Marya semakin kesakitan. Matanya berkunang-kunang.
"Aku melahirkan seorang malaikat, kau gadis yang sangat hebat, tapi kau harus dengar pengakuan dosa dari iblis terkutuk sepertiku. Tentukan intensi dan aku akan berpuasa untuk menebusnya atau kau bisa meminta Tuhan turunkan tulah untukku." Salsa menangis, melengkung dalam selimut.
"Aku tak ingin dengar, aku ingin masa lalu itu berakhir dan mulai dengan lembaran baru. Aku telah ampuni Ibu sepenuh hati tak peduli buruknya Ibu di waktu Itu. Tolonglah Ibu."
"Itulah mengapa kau harus tahu betapa aku hanya pelacur dari masa lalu, aku membuang Arumi dan ia menderita dalam inkubator selama berbulan-bulan. Betapa jahatnya aku. Benn bahkan tak tahu aku mengkhianatinya."
Marya berguling turun dari tempat tidur, tak sanggup lagi. Bernapas tersengal-sengal, Marya sempoyongan terseret ke kamar mandi, mengunci pintu dan mulai muntah-muntah di sana. Kepalanya berputar pening, serangan itu kembali. Ia tak mampu menjawab panggilan Salsa yang panik. Marya nyalakan shower dan meringkuk di bawahnya.
Marya pikir sakitnya pada Ibu bisa diredam oleh waktu, terkikis sedikit demi sedikit sementara jarum jam bergulir lambat tetapi pasti sembuhkan luka, kini ia terkejut ..., hatinya berdarah-darah.
"Aruhi? Apa kau baik-baik saja?" panggil Sunny panik. "Apa yang kau lakukan padanya, Kak.
Marya mengerang kesakitan. Apakah kita bisa kembali ke masa lalu dan perbaiki takdir? Mengapa tidak hentikan saja penyesalan, ampuni kesalahan, jadikan kenangan pahit lelucon dan melangkah ke depan?
"Sunny, panggil Elgio!" pinta Salsa ketakutan, tak menyangka pada reaksi Aruhi. Gadis yang terlihat tenang, mendayu dan penuh kasih sayang itu .... Salsa memukuli dadanya sendiri kuat. Ia terus saja membuat luka untuk gadis itu.
Sementara Elgio mengebut di jalanan kota yang mulai sepi, betulkan insting, betapa keputusan yang salah tinggalkan Marya di Paviliun Diomanta. Laju mobil tak terkendali disemati pikiran buntu. Bayangan raut basah Marya ketakutan di kamar mandi saat pertama kali mata mereka bertemu, menghantuinya. Marya telah pulih mental dan psikis, mengapa down dengan mudah? Apa terjadi sesuatu?
Seakan tak ingin kekasihnya sekarat lebih lama, pria itu menerobos malam. Harusnya ia tak tinggalkan Marya di sana. Ia sungguh keberatan tadinya tetapi Marya ingin tinggal.
Waktu berputar lebih lambat dan jalanan kosong bentangkan kehampaan. Panggilan hati Marya, "Elgio selamatkan aku!" bergema di kepalanya. Ia berpacu lebih cepat dan menikung tajam hingga ban-ban mobilnya berdecit di halaman Paviliun Diomanta.
"Apa yang terjadi?!" tanya Elgio pada Sunny yang berdiri gelisah.
"Aku tak tahu pasti. Aruhi ada di kamar mandi Ibunya."
Elgio perhatikan jam, 30 menit sejak panggilan telpon Sunny. Itu berarti Marya telah lebih lama dari 15 menit. Hampir tiga kali lebih lama.
"Marya?!" Elgio mengetuk pintu kamar mandi pelan. "Are you okay, honey? Bisakah kau buka pintunya?"
Tak ada jawaban. Elgio hilang sabar.
"Elgio, ini kunci serep. Desain pintu kamar mandinya gunakan tombol tetapi dalam keadaan darurat kita bisa gunakan kunci dari luar."
Sunny tergopoh-gopoh sedang Salsa mematung di tempat tidur tanpa daya. Pintu berhasil dibuka dan Elgio lega sebab gadis itu hanya terpaku di bawah shower. Elgio menutup pintu kamar mandi, matikan tombol shower dan bergabung dengan Marya di bawah shower. Ia melepas mantel selimuti Marya yang basah kuyup dan berikan pelukan hangat.
"Apa yang kau lakukan? Kau bisa masuk angin." Elgio mengecupnya. "Beritahu aku, apa yang kau rasakan?"
"Elgio ... bisakah kita pergi ke masa lalu? Apakah kita bisa mengubah takdir, memperbaiki kesalahan?"
Elgio menghela napas berat. "Bagaimana kalau kita keluar dan pulang ke Durante Land? Bibi Mai buatkan-mu rendang. Hmm?!"
Marya menggeleng lesu, "Bisakah kau tinggal denganku malam ini di sini? Ibuku butuh bantuan untuk hilangkan penyesalan masa lalu dan hapus kesalahan. Ibu butuh seseorang untuk temani ia melangkah di jalan yang benar. Aku bertanggung jawab padanya dan tak bisa tinggalkannya begitu saja."
"Baiklah, mari kita keluar. Kau bisa sakit, Marya."
Elgio menggendong gadis itu keluar kamar mandi dan Sunny telah bersiap dengan selimut hangat, wajah wanita itu mengerut cemas. Pelayan dengan cangkir cokelat panas berdiri di belakang Sunny.
"Apa dia baik-baik saja?!" tanya Salsa pelan hampir berbisik.
"Ya. Aku akan membawa Aruhi ke kamarnya dan akan menginap di sini malam ini."
"Apa kau merasa sesak napas?" tanya Elgio sementara Marya terbungkus rapat dalam selimut setelah bertukar pakaian. Elgio membantunya minum cokelat hangat, keduanya duduk di atas sofa ruangan kamar itu.
"Tidak, aku hanya mual dan muntah-muntah. Kupikir aku harus hadapi trauma agar aku benar-benar bisa lihat seberapa jauh aku telah pulih."
"Kau merasa baikan sekarang?" tanya Elgio singkirkan helaian rambut di kening Marya.
"Aku merepotkanmu lagi."
"Tidak, aku menyayangimu dan tidak bisa tidur karena memikirkanmu."
Elgio memeluknya makin erat. Tidak ingin bertanya mengapa dan kenapa atau bagaimana bisa. Ia hanya beri pelukan hangat dan biarkan dadanya untuk Marya bersandar.
Sunny kembali dengan mesin pengering rambut di tangannya.
"Kepalamu nanti sakit, basah-basahan. Aku akan keringkan rambutmu, Aruhi."
"Biar aku saja." Elgio lepaskan pelukkan dan ulurkan tangan. Sunny naikan kening sebelum mengangguk setuju. Benda itu berpindah tangan.
"Kau boleh panggil aku jika butuh bantuan. Aku akan menunggu di ruang tamu."
"Pergilah tidur, Sunny. Aku akan mengurusnya," tukas Elgio. Sunny terdiam untuk sesaat sebelum manggut-manggut, kagumi betapa pria itu sangat mencintai Aruhi. Selepas Salsa pergi Elgio hidupkan mesin pengering rambut.
Hairdryer bergerak di helaian rambut Marya sesekali Elgio mengelus kepala gadis itu coba untuk membuatnya nyaman. Marya terpesona oleh hal sederhana itu, ia begitu tak beruntung dengan masa lalu, tetapi masa depannya sungguh buat jantungnya berdebar-debar.
"Kau pandai sekali gunakan itu, Elgio?"
Elgio tersenyum, "Ini lebih mudah dari mesin cukur. Kemarilah, poni-mu itu butuh pengering juga. Ya Tuhan, mirip kumis kambing saja." Pria itu mengacak-acak poni Marya membuat gadis itu tertawa kecil.
"Elgio kumis kambing tak selembut ini. Kau mengada-ada saja."
"Poni ini mengganggu! Ucapkan selamat tinggal, aku akan hilangkan dia dari wajahmu nanti malam."
"Baiklah, teman-temanku bilang aku sangat cantik tanpa poni," goda Marya masih tersenyum.
"Oh no. Kalau begitu biarkan saja poni-mu panjang menutupi mata. Hanya saja tolong jangan berkeliaran tengah malam. Aku bisa mati ketakutan," keluh Elgio.
Marya mengangkat wajah memandangi Elgio yang kumat bawelnya.
"Jangan menatapku seperti itu, kau tahu akhirnya bisa berbahaya." Elgio meringis berusaha tak menyentuh meski ia sangat ingin. Sebagai ganti pria itu beri kecupan di puncak kepala Marya. Rambut Marya benar-benar kering dan lembut di tangannya. Pria itu mengusap gemas.
"Selesai. Kemarilah, aku akan memelukmu sampai kau tertidur."
"Terima kasih kau datang," ucap Marya dekatkan diri.
"Aku bukan Superman tetapi kau bisa panggil namaku dan aku akan datang padamu meski tak bisa dalam sekejab mata."
Pria itu mengatur selimut dan Marya tertidur di dada Elgio, temukan kedamaian di atas jantung yang berdetak teratur. Marya pejamkan mata. Elgio Durante adalah kenyamanan sejati untuk ia yang rapuh.
Lampu kamar dimatikan, hanya terang dari lampu balkon, Elgio jatuh tertidur dengan Marya di pelukannya. Mereka tidak beralih dari sofa. Entah berapa lama ia bermimpi hingga tubuhnya merasa memeluk angin, sangat dingin. Elgio menggeliat di sofa, segera terkejut saat Marya tak ada dalam dekapannya. Kalahkan kantuk, Elgio berusaha bangun. Ia temukan pintu keluar ke balkon terbuka sedikit dan tirai melambai ditiupi angin malam. Apa yang gadis itu lakukan tengah malam di luar sana? Elgio berdebar kecemasan pergi ke balkon. Langit menggelap hanya jutaan bintang kerlap-kerlip di atas sana.
"Marya?!" panggil Elgio pelan.
Tak ada jawaban, balkon kosong melompong. Tak ada jua suara atau bebunyian dari kamar mandi. Apa dia pergi ke dapur? Elgio menutup pintu balkon dan satukan tirai. Ia berbalik saat pintu kamar terbuka. Gadis itu berdiri di sana dengan poni anehnya melompat seperti vampir di film Cina, mendatanginya dengan cepat. Elgio terkejut berlari ke sofa dan bersembunyi dibalik selimut sementara Marya tertawa keras saking lucu.
"Kau masih takut hantu? Sayang sekali padahal kau hampir 24 tahun?" seru Marya kegirangan berhasil jahilin Elgio Durante. Marya mendekat dan selimut Elgio ditarik.
Kejutan ....
Elgio langsung menerkam Marya. "Kubalas kau sekarang juga ...." Pria itu menggelitik Marya hingga gadis itu berderai tawa tak henti. "Berhentilah berkeliaran dengan poni kambingmu itu, kau mirip adik tiri Sadako. Ya Tuhan, bikin kaget saja!"
"Ya ya ya, baiklah. Lepaskan aku," erang Marya saat Elgio mengunci-nya di atas sofa.
"Tidak bisa, kau sudah hancurkan kantukku. Kurasa kau harus rela dihukum. Kau tak bisa lari dariku!"
Marya tertawa sambil meronta lepaskan diri dari Elgio tetapi tak berhasil. Pria itu mengungkungnya dalam lengan-lengan kokoh, membawa Marya berputar-putar dalam kamar.
"Hentikan!"
Marya tertawa lepas dan memeluk leher Elgio erat-erat. Mereka berakhir di atas sofa tautkan kaki-kaki. Pria itu menggesekkan hidungnya pada hidung Marya, lambangkan perasaan cinta sangat mendalam. So cute, so romantic. Sedang Marya menutup mata dan rasakan napas Elgio yang menghangat di wajahnya. Poni-nya digeser dan jari-jari itu bergerak di sana, usapan demi usapan, tak terburu-buru.
"Buka matamu, please!" pinta Elgio. Marya menggeleng, pejamkan mata makin kuat. Elgio tersenyum, "Baiklah. Aku jadi lebih mudah bekerja."
Pria itu menunduk mendarat mulus di kelopak mata Marya, susuri hidung, elusan di pipi oleh luapan kasih sayang dan berakhir menggoda Marya dengan ciuman sensual di bibir gadis itu; mereguk manis. Bibirnya berkelana di sana, di antara desahan napas serta ritme jantung. Tubuh yang bergetar dalam kepasrahan adalah irama yang menggairahkan.
"Kau tak boleh hilang dari pandanganku, Marya. Aku bisa mati gelisah."
Elgio tidak akan akhiri itu dengan cepat, mereka akan mengisi malam yang sunyi dengan cinta yang manis, semanis satu cangkir cokelat hangat.
***
Semoga Readers menyukai Chapter ini.
Aku mencintaimu Readers ....