Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 75 Aku Pria Romantis ....



"Apa yang terjadi?"


Tadinya, mereka bersantai usir gugup setelah minum teh hangat, masih saling bergenggaman tangan ketika wajah Reinha terpecah dan buyar.


"Reinha, aku tak bisa melihat jelas wajahmu. Aku merasa sangat pening dan ngantuk," kata Marya kesulitan bicara.


Reinha pererat pegangan. "Apa karena kita terlalu bahagia, ya? Aku juga mengantuk." Reinha menguap. "Jangan lepaskan tanganmu, Marya!"


Keduanya terlelap di sofa, tak ingat apa yang terjadi setelah minum teh.


Marya menggeliat akibat sesuatu yang sangat keras menusuk punggungnya, ia terbaring di atas benda keras dan bergerigi, entah apa. Marya tak sanggup bangun, ia merasa sangat mengantuk.


"Oh ada apa ini? Di mana aku? Mengapa aku tidur di hari pernikahanku? Elgio pasti menungguku di altar. Apa yang terjadi?"


Marya susah payah buka mata. Mereka di dalam sebuah mobil, melaju kencang dan gaun pengantinnya telah bertukar jadi gaun putih biasa.


"Apakah aku bermimpi?" Marya berusaha bangun. "Reinha?" Tak jauh darinya Reinha meringkuk di pojok mobil. "Reinha, bangun!" Marya menguap sebelum jatuh tertidur kembali.


Saat keduanya kembali sadar, mereka terbaring di sebuah ruangan kumuh, lembab, bau dan dindingnya penuh coretan.


"Marya?! Heiii ... kurasa seseorang telah menculik kita," kata Reinha coba atasi sisa-sisa kantuk.


Marya siuman meski masih pening dan merapat pada Reinha. "Apa yang terjadi, Reinha? Aku sangat gelisah."


"Kurasa adikmu mencampur sesuatu di teh kita, ini buruk sekali."


Langkah-langkah kaki terdengar dari luar ruangan, pintu terbuka dan beberapa orang masuk. Wajah mereka kejam dan sangar, Reinha mengaitkan jemarinya pada Marya.


"Siapa mereka Reinha? Mengapa mereka menculik kita? Apa yang mereka inginkan?" tanya Marya mulai ketakutan.


"Aku tak tahu, Marya. Mereka sepertinya bekerja atas perintah seseorang," balas Reinha coba pahami situasi. Kepalanya terasa nyeri dan pening. Harusnya tak percaya pada Arumi. Ketakutan tiba-tiba menyergap, para lelaki di depan mereka terlihat sangat tak bersahabat bahkan mirip pembunuh berdarah dingin.


"Jangan cemas, Elgio pasti akan datang! Kau tahu, Lucky Luciano akan temukan kita. Jangan kuatir!" ucap Reinha tenangkan Marya dan dirinya-sendiri.


Salah seorang di antara mereka mendekat dan meraih Marya kasar.


"Apa yang kau lakukan?" Reinha berdiri meski limbung menahan tangan Marya satunya. "Jangan ganggu dia!"


Salah seorang pria berbadan kekar datangi Reinha dengan tatapan dingin sebelum bergerak cepat dan menampar Reinha sangat keras hingga gadis itu tersungkur seketika. Gusi serta gigi bagian belakangnya serasa retak dan ngilu mungkin berdarah sebab ia merasa sesuatu yang asin di sana. Marya yang melihat itu jadi histeris.


"REINHA?! Apa yang kalian lakukan?" Berusaha meraih Reinha. "REINHA?"


Salah seorang yang lain mengangguk dan Marya dipanggul paksa, dipisahkan dari Reinha.


"Lepaskan aku!" teriak Marya, napasnya sesak. Ia merasa akan segera mati karena jantungnya berdetak liar dan hampir meledak karena panik.


"REINHA?!"


Marya kembali tak sadarkan diri.


"Marya!"


Entah berapa lama Reinha tergeletak di lantai setengah pingsan. Sepatu high heels berdetak di lantai yang dingin. Reinha yang tak berdaya akibat masih terpengaruh minuman beracun dan tamparan keras, coba untuk bangkit, ia terjatuh kembali ke lantai. Saat menoleh, di hadapannya, Valerie duduk silangkan kaki dengan angkuh. Wajah itu tersenyum lembut dan ia menyapa Reinha pelan.


"Senang bertemu denganmu, Reinha Durante!"


Reinha tersenyum sinis. Bekas-bekas tangan si pria besar terukir di pipi kuning keemasannya. Bengkak dan membiru.


"Jadi, ternyata kau dalangnya. Mengapa aku tidak terkejut?" Reinha berdecak penuh ejekan. "Kau memang pecundang, bisanya curang. Pantas saja Lucky Luciano tak tertarik padamu!"


Valerie tersenyum sakit. "Kau memang pemberani!"


"Apa yang kau inginkan? Jika kau tersinggung karena aku membuatmu mengisap banyak sup di restoran waktu itu, berarti, kau hanya harus berurusan denganku, Valerie. Lepaskan istri Kakakku!"


Valerie mainkan kedua jari-jarinya, berpikir keras, wanita itu melipat kening.


"Pikirkan dirimu sendiri, Nona! Kau tak takut pada apa yang akan kulakukan padamu?"


Reinha tersenyum mengejek. "Lakukan sekarang! Apa yang kau tunggu? Kau tahu Lucky Luciano akan segera temukan aku."


Valerie tertawa sumbang. "Sayang sekali. Pria-mu itu sedang sibuk Reinha. Ia tak bisa datang seperti harapanmu!" Mengangkat ponsel dan tunjukan siaran langsung Lucky Luciano sedang menemani Walikota yang memberi kata sambutan di acara launching produk Double L.


"Dia akan segera datang!" kata Reinha penuh keyakinan.


"Kau terlalu percaya diri! Bangunlah! Kau harus bertemu seseorang!"


Valerie mengangguk pada pria kasar tadi yang lantas langsung menyeret Reinha bangun. Mata Reinha bersinar penuh kemarahan. Ia ingin pengaruh obat tidur segera menguap agar bisa menyerang Valerie tetapi tanpa diduga satu suntikan dileher dan ia tak sadarkan diri.


****


Di Kapel, semua orang menatap nanar pada Arumi, tak percaya gadis polos itu berkomplot dengan penjahat untuk menodai hari suci kakaknya sendiri.


"Arumi, di mana Kakakmu?" tanya Sunny berulang kali. Kesabarannya setipis kabut saat Arumi menggeleng lesu. Memang Arumi tak punya jawaban, ia hanya ikuti perintah, menghapal teks dan bermain drama. Ethan Sanchez berdiri tak jauh dari Arumi yang tergeletak di lantai. Raut muka Ethan Sanchez pandangi gadis itu tanpa ekspresi tetapi matanya terpancar antara marah, kesal, mengutuk dan jijik.


"Mengapa kau lakukan ini pada kakakmu sendiri?" tanya Salsa tak usai histeris pegangi dadanya yang kesakitan.


"Ibu .... A,A,A-ku ... Valerie bilang, jika aku tak lakukan, Ibu dan Aunty Sunny akan dihabisi diam-diam!" ujar Arumi takut-takut. Ia mulai terisak. "Maafkan aku, Ibu. Katanya Ibu akan dihukum karena membangkang."


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanan Arumi dan gadis itu meringis kesakitan.


"Valerie? Kau bonekanya sekarang, Arumi? Apa kau pernah lihat aku lakukan hal buruk pada adik perempuanku atas perintah orang lain?" tanya Salsa murka napasnya tersengal-sengal dan wanita itu melotot dengan saraf-saraf mata memerah hingga Arumi tak berani menatap wajah Ibunya. "Sunny, cari Puteriku, cari Aruhi! Lakukan sesuatu! Mari kita pergi pada Valerie, aku yakin Aruhi ada di sana," jeritnya masih separuh histeris.


Sunny memeluk kakaknya. "Kakak, jangan panik! Tenanglah! Kita sedang berusaha mencarinya."


"Arumi, kau sungguh keterlaluan. Sejak saat ini, kau adalah anakku yang terbuang. Harusnya aku membuangmu saja bukan Aruhi. Ya Tuhan, sia-sia aku melimpahimu kasih sayang. Ini balasanmu? Sunny, usir Arumi dari Paviliun Diomanta dan biarkan dia luntang lantung di jalanan!" kata Salsa dengan kemarahan mencapai puncak.


"Ibu?!"


"Mari kita cari Aruhi, Sunny! Mari temukan Puteriku sebelum sesuatu yang buruk menimpanya! Temukan Puteriku. Ya Tuhan, hukum aku saja. Aku saja, jangan Puteriku," raung Salsa dipapah Sunny. Mereka keluar dari Kapela. Orang-orang memandang Arumi dengan wajah marah dan kesal, sebagian melempar tatapan miris sebelum pergi dari sana. Tersisa Arumi dan Ethan. Pernikahan itu telah sepenuhnya berubah jadi pernikahan berdarah.


"Arumi, aku tahu kau bodoh. Aku berharap kau hanya bodoh," kata Ethan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku tak percaya kau lakukan hal serendah ini pada kakakmu. Kau tidak hanya bodoh tapi kriminal, Arumi."


Arumi menangis sesenggukan. Sementara Ethan berjongkok di satu kaki, menjepit dagu Arumi dan pegangi kuat hingga mata mereka bertemu. Tatapan Ethan berubah lembut meski menikam tajam pada manik mata Arumi.


"Bagaimana kalau kau beritahu aku, di mana Marya dan Reinha? Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Ethan. "Kau akan beritahu aku, kan?"


Mata Ethan setajam elang mengulitinya hingga ke tulang-tulang, pancaran patah hati, depresi, kesakitan, marah dan terluka.


"Aku sungguh tak tahu di mana Aruhi?"


"Kau yakin?" tanya Ethan penuh intimidasi. Ia tersenyum kejam. "Kau tahu Arumi, jika sesuatu yang buruk terjadi pada Marya, aku akan dengan senang hati menyiksamu. Bukan rapikan buku, bukan kerjakan soal; aku akan benar-benar menghukummu hingga kau akan rasakan derita lebih parah dari yang kau timpakan pada Marya. Elgio mungkin tak akan lakukan, tetapi aku akan buatmu membayar perbuatanmu hari ini."


Ethan menghempas dagu itu kuat.


"Aku sungguh tak tahu Aruhi dan Reinha dibawa kemana," seru Arumi. Ia tanpa perlindungan Ibu dan Aunty saat ini, dan semua orang akan mengejarnya. Elgio Durante, Lucky Luciano dan kini Ethan Sanchez.


"Apa yang kau lakukan pada mereka?" tanya Ethan pelan mengusap air mata. Ethan menangis.


"Kau menginginkan Elgio Durante, oleh sebab itu kau membunuh kehidupan kakakmu. Kau benar-benar penjahat, Arumi."


"Tidak, aku tak sengaja lakukan itu!"


Arumi menangis di depan altar dan Ethan pergi dari sana. Masih tak percaya Arumi lakukan hal terkonyol dan terbodoh yang pernah ia lihat. Gadis itu tak terselamatkan.


****


Sementara Lucky Luciano di atas podium, Francis berdiri kaku pandangi gadget ikuti sinyal Nona Reinha Durante. Mengapa sinyal itu berkedip-kedip bergerak cepat ke arah luar kota. Apa yang terjadi? Francis menelpon ke Durante Land dan pengawal itu seperti dicekik. Ia longgarkan jas-nya, tak mungkin mengganggu Bos saat ini. Mereka sedang di puncak acara.


Walikota beri sambutan di depan dan Lucky Luciano berdiri tegap di samping walikota terima banyak sanjungan. Pria itu tersenyum pamerkan satu lesung pipi. Dari ruangan atas Distro, Queena perhatikan situasi di mana acara sedang berlangsung, di taman bagian dalam Distro. Ia juga hadir membantu Lucky persiapkan hidangan untuk Walikota yang tidak lain adalah Om kandungnya, adik bungsu Ayah-nya. Sedang Claire mengikuti pernikahan teman sekelasnya.


"Bos, aku punya kabar buruk?"


Lucky Luciano mengantar Walikota, bukakan pintu mobil dan melepas beliau pergi setelah perjamuan singkat dan kembali ke ruangan kerja. Ia tersenyum hangat pada Queena yang beres-beres, mengangkat jempol memuji masakan wanita itu.


"Kau yang terbaik, Dokter!" Dibalas senyuman terima kasih Queena. Gadis itu siapkan camilan untuk dibawa ke ruang kerja Lucky.


"Ada masalah apa?" tanya Lucky melempar dirinya ke sofa. Pegal juga berdiri di podium. Lebih baik merayap di hutan daripada berdiri lama macam patung hidup dan tersenyum hingga bibirnya kejang-kejang.


"Bos, Nona Marya dan Nona Reinha menghilang."


Satu kalimat dan jantung Lucky Luciano berhenti berdetak. Ia kehilangan napas selama beberapa detik. Saat kembali, Lucky berdiri dengan raut wajah menegang.


"Apa maksudmu? Francis, apa maksudmu?" Mata Lucky berkilat-kilat. Ia bergerak ke sana kemari dengan gelisah. "Kapan?"


"Pukul 09.30 tadi pagi, Bos sebelum acara pemberkatan dimulai. Sinyal Nona Reinha terdeteksi di terowongan Black Hole dan sinyal itu lenyap di sana."


Lucky Luciano memeriksa ponsel dan riwayat panggilan tak terjawab memanjang seperti daftar pesanan di kittir distro,dari Elgio Durante.


"Francis ... kenapa baru katakan sekarang?!"


"Bos ... Anda perlu melihat ini!" Francis ragu-ragu sodorkan gadget dan mata Lucky Luciano menyipit.


"Foto-foto Nona Reinha dipajang di situs dewasa Black Hole, dijual kepada penawar tertinggi, Bos. Anda harus segera bertindak. Aku rasa Anda perlu menghubungi Tuan Elgio memintanya untuk tidak buat laporan pada pihak berwajib sebab jika Tuan Elgio lakukan itu, kita tak akan punya celah untuk menyelamatkan mereka."


Lucky mengeram dan menggampar meja kerjanya penuh murka.


"Aku harus tenang, ini yang Valerie inginkan. Membuatku lakukan kesalahan. Aku akan membunuh Valerie, Francis! Aku akan mencincangnya hidup-hidup. Mari kita pergi," ujar Lucky berapi-api kehilangan kendali perlahan.


Francis menahan bos-nya itu. Napas sang pengawal tercekat di tenggorokan.


"Bos ... Nona Reinha baru saja dibeli oleh seorang penawar tertinggi," ujar Francis mengernyit.


"Apa yang mereka lakukan pada kekasihku? Caritahu, siapa? Bersiaplah Francis! Aku akan membunuh siapa saja yang telah menyentuh kekasihku hari ini. Aku akan meledakan Black Hole. Siapa Francis?!" seru Lucky Luciano bergetar oleh amarah.


"Axel Anthony, Bos."


Ponsel Lucky berdering dari saluran pribadi. Lucky lepaskan jas, menukarnya dengan jaket kulit hitam dan celana jeans warna senada dengan sobekan menganga di lutut. Pria itu memakai banyak gelang hitam di tangannya. Well, he is the real bad boy. Pria itu memakai topi sebelum terima panggilan.


"Lucky Luciano?!" sapa pria di ujung saluran.


"Axel Anthony?!" tebak Lucky Luciano dan itu benar. "Apa kabarmu, Axel? Kejutan kau tidak jadi debu waktu itu? Harusnya aku menembak matamu dan biarkan kau sekarat!"


Lucky bicara setenang mungkin. Loud speaker dihidupkan dan ia beri sinyal pada Francis segera melacak panggilan.


"Aku tak mudah terbunuh. Ngomong-ngomong, kau menyimpan milikku yang berharga, Lucky Luciano. Mari bertemu. Aku tak akan menyentuh gadis cantik-mu ini! Kau tahu, kuhabiskan separuh harta untuk 'membeli' wanita cantikmu ini. Kurasa ini akan jadi pertukaran yang sangat adil."


Untuk sesuatu yang tidak diketahui, Lucky masih bisa melihat harapan. Axel Anthony menginginkan Queena dan ia tak akan sakiti atau menyentuh Reinha. Lucky mencari cara agar ia bisa selamatkan Reinha tanpa harus serahkan Pequuena yang sedang mengandung pada brengsek macam Axel Anthony.


"Kau masih berpikir?" tanya Axel.


"Di mana kau?"


"Bawa wanitaku kemari! Aku akan kirimkan lokasiku. Jangan coba-coba licik, Lucky! Jangan coba kelabui aku, kau tahu resikonya buatku marah. Hmm?!"


Francis menggeleng, panggilan itu tak terlacak. Lucky mematung sejenak.


"Ijinkan aku bicara padanya, Axel!" kata Lucky masih dengan emosi terkontrol. Ia tak akan pancing-pancing lagi, Axel Anthony bisa marah dan bertindak kasar pada Reinha.


"Bawa Queena padaku dan kau bisa bicara pada kekasihmu! Kau tahu aku, Lucky Luciano, aku berbeda darimu. Aku tak akan menyentuh wanita yang bukan milikku."


Queena mendadak muncul, letakan nampan camilan di meja kerja Lucky dan merebut ponsel Lucky Luciano. Wanita itu dengar isi percakapan tanpa disadari Francis atau Lucky.


"Aku akan datang Axel, jangan sakiti gadis itu!"


Lama terjeda sebelum nada suara dari seberang tertahan penuh gairah. "Queena?! Senang bisa mendengar suaramu! Aku merindukanmu, Sayang."


Abaikan pria penjahat itu, Queena menahan murka. "Kau tak akan menyentuh atau sakiti gadis itu! Aku akan datang padamu!"


"Baiklah, aku beri ijin Lucky bicara pada kekasihnya."


Napas Lucky Luciano tercekat di ujung kerongkongan.


"Lucky?!" panggil Reinha seperti baru bangun tidur. Suara itu berat dan ia ingin masuk dalam ponsel dan datangi suara itu.


"Apa dia menyakitimu?" tanya Lucky pelan, pejamkan mata mengisi bayangan gadis itu dalam pikirannya, terbakar mencintai Reinha Durante.


"Tidak," sahut Reinha tanpa tekanan. "Ia hanya duduk di pojok melamun seperti pria idiot," tambah gadis itu kedengaran ugal-ugalan tanpa rasa takut. Gadis itu memang kekasih sejati seorang badboy sepertinya.


"Baiklah! Apa ia menakutimu?"


"Tidak, Lucky! Kau pernah lihat burung yang kehilangan satu kaki? Nah, pria ini persis seperti itu," kata Reinha lagi. "Apa kau akan datang Lucky? Pernikahan kakakku kacau dan Marya terpisah dariku, Valerie membawanya Lucky, aku ingin mencekik Arumi. Kau harus menolong Elgio mencari Marya, Lucky." Reinha tumpahkan isi hatinya.


"Tenanglah, Reinha! Dengarkan aku!" Lucky menghela napas panjang. "Red Twilight ketika mentari bersinar penuh, keemasan menerpa tebing merah. Red Twilight ketika bayanganmu menepi pada bait-bait prosa. Kau adalah elegi senja, bersenandung di celah cahaya, rona semerah jingga."


Lucky dapat melihat senyuman kecil Reinha, tak peduli pada tatapan mual-mual Francis dan Queena yang melongo bingung seakan ia sudah gila.


Axel Anthony berdecak dari ujung sana, menarik ponsel dari Reinha. "Bisa-bisanya kau berdeklamasi di saat begini? Apakah kau pikir ini lelucon Lucky?"


Lucky menyerang Axel penuh cemoohan. "Apa kau ingin aku bacakan satu puisi untukmu juga, Axel? Aku pria yang romantis pada kekasihku. Aku tak memaksa gadisku tidur denganku dan menodainya! Aku selalu minta ijin, aku berbeda denganmu!"


"Terserah kau brengsek, bawa wanitaku kemari, sebelum pikiranku berubah!"


***


Wait me up!


Kasih komentar ya, apa Anda menyukai Chapter ini? Tolong agak panjang komentarnya! Jangan pelit-pelit padaku.


Hehe ....


Cintai saja aku... Aku mencintaimu .....