Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 37 Menjauh Dari-nya....



"Sepertinya Anda akan sangat sibuk, Nona."


Reinha berkerut keheranan di muka jalan menuju The Windows saat melihat antrian panjang membludak di dalam toko bahkan beberapa pengunjung menunggu giliran di luar.


Apa mungkin Tuan Lucas memutuskan untuk mengobral semua buku? Tanpa memberitahunya terlebih dahulu? Ia bisa datang lebih pagi untuk beres-beres.


Reinha menghembuskan napas berat, "Kau benar Augusto ...."


"Sementara Anda di toko, bolehkah aku pergi membelikan obat untuk nenekku? Beliau ingin obat herbal dari toko Cina di pusat kota."


"Hmmm, apa sakitnya parah?"


"Cuma rematik, Nona. Beliau tak suka obat kimia."


"Baiklah Augusto."


Reinha tergesa melangkah mendatangi toko dan bola matanya segera berputar jengkel. Di meja kasir, Lucky Luciano tegak sigap ditemani Tuan Lucas. Entah mengapa, Reinha tak terkejut melihat sikap pria itu. Ia mendorong kaca, masuk ke dalam toko dan menemukan kejutan lain.


"Hai Reinha ... nice to see you." Claire melambai dengan nada riang dari pojok toko dengan tumpukan buku di tangannya membuat Reinha berpikir semakin keras. Apa hal kali ini? Meski demikian, tak dipungkiri, Reinha senang melihat Claire Luciano. Disangkanya hubungan mereka benar-benar telah berakhir. Ia sangat merindukan sahabatnya itu.


"Hai ... " balas Reinha tersenyum lebar. Ia lalu beralih pada pemilik toko The Windows. "Ada apa ini, Tuan Lucas?"


Tuan Lucas menepuk bahu Lucky pelan memberi dukungan sebelum menemui Reinha. Sementara Lucky, meskipun tahu kedatangan Reinha, ia tak gubriskan. Ia terlihat sangat sibuk menikmati peran sebagai pramuniaga toko. Lucunya, ia terlihat seperti pria baik-baik. Reinha mencibir dalam hati.


Para gadis dalam antrian berbisik-bisik dan mencuri pandang pada Lucky dan tentu saja itu membuat Reinha mual. Lucky menjual buku dan ketampanan sekaligus meskipun yang dilakukan pria itu sedari tadi merengut.


"Nona Reinha, aku juga tidak paham pada apa yang sedang terjadi. Tuan Lucky kemari pagi-pagi buta dan memaksa membuka toko. Ia juga memaksaku mengajarinya menscanner buku sekalipun telah aku tegaskan padanya bahwa aku tak akan menjual toko ini sekeras apapun ia mencoba. Tetapi, ia seperti tak peduli."


Wajah Tuan Lucas sama sepertinya, kebingungan.


"Baiklah, Anda tenang saja. Aku akan mengurusnya. Bisakah Anda memberitahuku ... mengapa Anda meminjam uang darinya?"


"Hmmm, masalah itu. Maafkan aku sebelumnya. Istriku sedang sakit dan butuh uang untuk transplatasi sumsum tulang belakang. Meskipun sekarang sudah pulih, kami masih tetap melakukan perawatan intensif. Aku tak punya pilihan lain. Maaf membuatmu terlibat dalam masalahku."


"Tak apa Tuan Lucas, semoga Nyonya Lucas segera sembuh. Istirahatlah, Anda tampak sangat lelah."


Reinha pergi ke kasir setelah Tuan Lucas naik ke lantai dua sedang Lucky sibuk dengan mesin scanner barcode, laci uang dan pembeli. Ia terlihat seperti store assosiate sungguhan, melayani dengan lincah.


"Apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Reinha pada Lucky sementara Claire mendekat dengan menggendong dos buku yang masih disegel. Ia tebarkan senyuman khas seorang Claire Luciano yang ceria dan supel.


"Hai, Reinha ... apa kabarmu? Senang melihatmu lagi." Claire menaruh dus di lantai.


"Hai Claire ... aku merindukanmu." Keduanya saling berpelukan melepas rindu.


"Biarkan aku bicara pada Lucky," ujar Reinha.


"Kau tak akan menggigitnya seperti terakhir kali, kan?" tanya Claire kerucutkan bibir dibalas senyuman ala kadar oleh Reinha.


"Bilang padanya, Cla! Aku sedang sibuk," jawab Lucky menyahuti pertanyaan Reinha, tak alihkan pandangan dari komputer. Ia melakukan pencarian judul buku di sana.


Claire mengangkat bahu. Lucky banyak berubah belakangan setelah mengenal Reinha Durante. Kakak laki-lakinya itu tak pernah lagi mabuk-mabukkan dan paling mencengangkan, ia menolak semua wanita bahkan mengusir mereka satu-persatu dari kehidupan pribadinya. Ia juga lebih banyak merenung. Beberapa bisnis yang melanggar HAM ditutup, tak terasa dampaknya saat ini, tetapi keputusan Lucky banyak membuat geram pihak lain yang selama ini mendapat keuntungannya darinya. Luar biasa lagi, perubahan Lucky itu hanya dalam waktu beberapa hari. Claire menduga Lucky sungguh-sungguh jatuh hati pada Reinha Durante. Tentu saja, Claire akan mendukung sepenuh hati meskipun Claire tahu pasti, hampir mustahil bagi Lucky mendapatkan gadis itu.


"Dengarkan aku Lucky! Tuan Lucas ... tidak akan menjual toko ini jika tujuanmu adalah menarik hatinya."


"Bilang padanya, Cla! Aku sedang sibuk meningkatkan penjualan agar bisa membayar utang pada rentenir, induk semang dari rayap. Jika tak keberatan, kemarilah dan input buku-buku yang baru datang ke dalam sistem."


Lucky bicara sambil mengerutkan kening ketika salah masukan angka.


"Aku ingin beli buku ini!" seseorang yang terlihat sangat preman berdiri di antrian terdepan dan mengangkat buku tentang 10 Ide Wirausaha Brilian.


"Ya, itu cocok untukmu," sahut Lucky. "Kemarilah!"


"Baiklah."


"Kau tak butuh buku lain? 100 Hari Mencari Cinta, misalnya? Itu bagus untuk anak muda sepertimu." Lucky bahkan memberi saran.


"Kedengarannya bagus, tetapi aku akan membaca yang satu itu sebelum membeli yang lain. Terima kasih sudah mengajak kami kemari," katanya sopan.


"Tentu, berhentilah jadi sampah dan mulailah hidup baru yang lebih baik. Kau bisa pergi ke perbukitan Tuscany dan bertapa di sana untuk mengubah kualitas dirimu. Jangan sia-siakan hidupmu untuk hal tak berguna dan berhentilah jadi preman. Jika kau butuh bantuan, kau bisa datang padaku." Lucky bicara panjang lebar. Ekor mata menangkap Reinha yang mematung di seberang sana, gadis itu menaruh curiga penuh padanya. Biarkan saja. Tangan Lucky terus bergerak di keyboard komputer.


Reinha perhatikan Lucky dan menghembuskan napas yang tertahan sejak tadi. Pria itu seperti kerasukan arwah para filsuf.


"Aku mau ini, Tuan." Seorang gadis menyodorkan buku Love Looks Pretty On You karya Lang Leav. Lucky mengernyit melihat buku itu. Teringat puisi At Last yang ia bacakan untuk Reinha.


"Emmm, sabar sebentar ya," katanya sopan. Ia menandai buku tersebut dan melihat di mesin pencarian, tersisa dua pcs buku dalam display. Ia lupa menyimpan dua buku itu untuk dirinya.


"Bisakah kamu memilih yang lain? Buku ini sudah kosong sedang yang ini telah sobek kertas pembungkusnya dan terlihat seperti buku bekas."


"Emm, tapi aku suka," ucap si gadis. Ia terlihat berpikir sejenak. "Baiklah, aku akan menggantinya, tetapi bolehkah kita berfoto?" tanyanya merona simpul.


Lucky tersenyum menawan pamerkan satu lesung pipi yang melengkung dramatis semakin membuat si gadis mesem-mesem.


"Tentu, kau bisa pamer pada teman-temanmu bahwa 'aku kekasihmu tetapi hubungan kita telah berakhir karena aku brengsek'," jawab Lucky santai.


Si gadis langsung memutar ke belakang meja kasir, padahal tertulis 'selain karyawan dilarang masuk'. Ia tersenyum manis, mendekat cepat, menempelkan kepalanya di dada Lucky dan mencapture momen. Secepat kilat tanpa bimbang.


Reinha berdecak. Pria yang tak masuk akal.


Sementara Francis patuh di antrian berikut, sodorkan buku Cara Praktis Pintar Matematika, membuat Lucky mengernyit sempurna.


"Apa kau tahu setiap angka yang berpangkat nol hasilnya sama dengan satu?" tanya Lucky pada asistennya itu.


Si asisten menatap Lucky lalu kepada buku yang akan ia beli.


"Tidak, Bos."


"Apa kau tahu ... setiap angka yang berpangkat satu hasilnya adalah angka itu sendiri?"


"Tidak, Bos Lucky, aku tak pandai matematika. Itulah kenapa aku hanya hidup andalkan ototku," jawab Francis. "Apakah nol berpangkat nol hasilnya sama dengan satu?" Francis tiba-tiba tertarik membahas nol dan satu. Nalarnya jalan juga.


Lucky melipat kening, "Hasilnya tak tentu. Carilah buku lain! Kau tidak cocok belajar Matematika!"


"Ini untuk adikku. Aku ingin dia jadi ahli Fisika alih-alih jadi seperti aku. Ia bisa belajar tentang nuklir dan atom."


"Mulia sekali kau, Francis." Lucky sipitkan satu mata mendengar penuturan Francis. "Kau tidak menyuruhnya jadi ahli bom, kan? Itu kejahatan. Berhentilah berpikir jadi sampah, kau akan susah menemukan kekasih nanti." Lucky melirik pada Reinha yang sedari tadi berdiri mengamatinya, antara muak dan kesal.


Francis terkekeh, tebakan Lucky sepertinya benar. Francis ingin adiknya merakit bom dan meledakan kepala tuannya yang mulai kehilangan arah agar kembali ke jalur yang benar.


"Apa maksudmu? Aku bukan angka."


"Tolong kembalilah jadi dirimu! Anda membuat kita dalam masalah setelah ini. Anda akan segera di keluarkan dari Familly Club' karena membangkang. Capo (Tetua) memanggil Anda menghadap. Apakah anda serius ingin menerima 'Ciuman Kematian'?"


Lucky berhenti mengetik. Ia menatap tajam pada Francis yang langsung membungkuk dalam meminta ampun.


"Hey, hentikan! Bisakah kau menyingkir dari sana?" tanya Reinha.


"Mengapa? Aku sedang melakukan kebajikan."


Lucky menatap Reinha tajam, sudut bibirnya naik dan alisnya terangkat. Reinha melambai seperti orang kepanasan. Mengibas wajah dengan jemarinya.


"Aku tak terkesan."


"Aku sama sekali tidak ingin membuatmu terkesan, Enya. Kau terlalu besar kepala."


"Hari ini adalah hari peringatan kematian kedua orang tua kami, Reinha. Kami sepakat mengubah konsep berderma dengan amal sosial untuk menyemangati Nyonya Lukas." Claire membawa dos berikutnya, melerai perang dingin itu. "Kami membuat selebaran tadi pagi untuk diskon 25% hari ini dan menyebarkannya sejak kemarin."


"Cepat sekali kau berubah jadi baik?!" Reinha bertanya. Sangsi pada niat terselubung Lucky Luciano.


"Kau mengubahku dalam banyak hal. Bisakah kau kemari dan mulai menginput kode buku daripada mematung di sana dan mengganggu jalan pelanggan? Kami juga menyumbangkan scanner barcode terbaru agar performanya lebih bagus." Lucky mengamati Reinha seksama. Ia jelas-jelas memberi perintah. Tak ada pilihan lain, Reinha terpaksa bekerja bersama Lucky di kotak sempit di belakang meja kasir.


Harus sengaja bersentuhan dengan Lucky membuat Reinha tak nyaman. Tiap kali pria itu bergerak, mereka bersentuhan. Reinha menjadi dongkol. Entah mengapa, ia selalu alergi tiap berdekatan dengan Lucky.


"Aku akan pergi ke gudang dan monitoring ketersediaan stock produk." Reinha berkata ketus, pergi tinggalkan kerjaan yang sama sekali belum mencapai setengah jalan.


"Aku akan ikut," timpal Claire.


"Tidak, Cla. Periksa display dan kemarilah, gantikan tempatnya," seru Lucky gusar.


Reinha mengangkat bahu. Ia keluar dari toko dan pergi ke gudang di ujung jalan itu. Di sana ada sebuah bangunan kosong bertuliskan "The Windows The Shadows", bangunan tua sama tuanya dengan The Windows.


Lucky Luciano mengamati Reinha ketika ia keluar dari toko. Sikap acuh Reinha benar-benar menarik untuk disimak. Namun, siapa itu?


Seorang wanita bersama dua orang pengawal turun dari sebuah mobil, yang entah sudah berapa lama, parkir di sana. Lucky amati tingkah orang-orang itu. Sungguh mencurigakan, mereka mengikuti Reinha. Lucky mengenali si wanita itu. Raut mukanya berubah kaku.


"Claire, bisakah kau gantikan aku? Francis awasi toko!"


Lucky bergerak cepat tinggalkan kasir bahkan sebelum Claire menjawab pertanyaannya. Sebelum Francis paham maksud Lucky.


Sementara Reinha melangkah tanpa curiga di jalanan yang kosong melompong. Aneh saja, mengapa ia tiba-tiba gelisah pada kelakuan Lucky. Jika begini terus, ia akan berhenti dari The Windows dan mencari kerjaan lain. Mungkin ia akan pergi ke Fashion Outlet dan sungguhan menjual bikini. Bagaimana jika Elgio tiba-tiba membawa Marya ke The Windows, bisa jadi perang akan pecah lagi.


Huufttt ....


"Aruhi?!" panggil seseorang dari belakang. Reinha cukup kaget mendengar nama Aruhi dipanggil sementara tak ada orang lain di jalanan hanya dirinya sendiri. Reinha sontak berbalik.


"Aruhi?!" Seorang wanita mendekat, "Bisakah kita bicara?"


"Aku?!" Reinha menunjuk dirinya sendiri. Ia melongo bingung.


"Kamu ... Aruhi kan?"


Reinha terdiam. Aruhi? Dari sudut mana? Tawanya tiba-tiba meledak. Ia terbahak-bahak di jalanan.


"Ya Tuhan, siapa itu Aruhi? Aku rasa kalian salah orang?"


"Lalu mengapa Anda berbalik?"


"Reinha berhenti tertawa, "Itu karena aku sendirian di jalan dan aku tak sengaja berbalik karena ingin tahu siapa yang kalian panggil?Namaku Reinha. Kalian pasti bukan dari kawasan ini? Sebab tak ada yang bernama Aruhi di sini."


Batin Reinha jadi waspada. Bagaimana bisa mereka mengira dirinya Aruhi? Apakah orang-orang ini adalah orang-orang Diomanta?"


"Maafkan kami. Aku keliru." Sang wanita membungkuk santun, "Bolehkah aku bertanya?"


"Tentu saja .... "


"Apakah kebetulan Anda mengenal seseorang bernama Aruhi?"


Reinha berpikir sejenak amati wajah wanita di depannya yang terlihat menunggu penuh harap.


"Tentu. Aku mengenal satu."


"Benarkah?" Si wanita berbinar-binar.


"Ada seseorang gadis bernama Ruhi dari drama India Mohabbatein, kalau aku tak salah," jawab Reinha. Si wanita berpaling menahan kesal di wajah.


"Jika tak keberatan, aku harus pergi sebab aku banyak kerjaan."


Reinha pergi dan merasa senang bisa membuat wajah si wanita seakan menelan kain kasa satu rol. Ia masuk ke gudang.


"Aku penasaran, mengapa kalian membuntuti sesesorang?" Lucky bicara dari arah belakang membuat ketiganya berbalik.


"Wah, lihat siapa ini? Lucky?!"


"Sunny ...."


Si wanita mengulum senyum, "Hal paling menarik hari ini, Lucky Luciano berhimpitan dengan Reinha Durante di sebuah toko buku dan mengabaikan panggilan Tetua. Kau sudah bosan hidup?"


Sunny Diomanta memandang sinis pada Lucky sementara rahang Lucky membatu.


"Jangan ganggu gadis itu! Kalian tahu, Elgio Durante akan habisi kita."


Sunny berdecak, ia mendatangi Lucky, memandangnya lalu menggelengkan kepalanya.


"Siapa yang paling berbahaya ketika Reinha aku culik, Elgio Durante atau ... dirimu, Lucky Luciano?"


"Aku tidak main-main, Sunny. Menjauh darinya!"


***


Beri tanggapan untuk 4 chapter ini yah... Apakah Readers nyaman chapter panjang atau pendek?


Jangan lupa like-nya...