
"Ja -, jadi kekasihmu?" ulang Reinha.
Ketakwajaran pada sikap percaya diri Lucky membuat bola mata Reinha membulat dan melempar tatapan seolah pria itu sudah sungguhan gila. Reinha Durante perlu beritahu Lucky Luciano, pemikiran tentang prinsip hidup secara radikal yang dianutnya yang lebih tinggi di atas prinsip para "wanita" Lucky. Reinha hanya inginkan seorang pria baik-baik tanpa noda seperti Elgio dan Lucky tidak termasuk hitungan. Mungkin ia agak berlebihan, tetapi ia meniru Elgio yang sangat menghargai sebuah hubungan, menjaga martabat seorang gadis dan kesucian fisik. Jika Elgio tercipta untuk Marya Corazon maka Reinha yakin di belahan bumi lain, Tuhan menyiapkan seseorang dengan karakter berkualitas sama seperti Elgio untuk dirinya dan pria itu bukan Lucky.
Lucky Luciano yang populer akan kehidupan percintaan urakan dan norak, menganggap wanita seperti makanan murah di kaki lima; perlakukan mereka untuk pemuasan hasrat; berkehendak bebas ... bukan lelaki impian Reinha. Walaupun pria itu begitu seksi dan mempesona secara fisik, idaman para belia, gadis muda, wanita matang, janda bahkan mungkin lansia tetapi tidak dengan Reinha. Postur tubuh Lucky sangat ideal dengan bentuk perut berkotak-kotak kering, lengan cukup kekar dan tubuh yang cukup berotot berwarna kecokelatan serta senyuman cool yang memikat ... Lucky memang mempesona.
Wajahnya sangat tampan, dengan rahang tegas dan jantan, rambut hitam pekat berombak serasi dengan warna kulit cokelat terang kemerahan. Mata kelabu yang menawan dan setiap ia tersenyum, satu lesung pipi melengkung dramatis. Siapa pun perempuan yang melihat Lucky Luciano pasti memiliki satu keinginan, "jadi kekasihnya". Jika menjadi kekasihnya terlalu berlebihan, maka cukup mengisi angan mereka dengan bayangannya tetapi Lucky tak terlalu mulus pada Reinha.
"Sayang sekali ... aku bukan gadis sembrono yang menyukai hubungan-hubungan percintaan liar. Bagiku kau adalah barang bekas, rusak dan hancur ... aku tak akan pernah jadi kekasihmu. Kau bahkan tak boleh mengkhayal 'aku kekasihmu' hanya untuk memuaskan ego-mu sebab kita berbeda."
Kalimat-kalimat persepektif penuh keangkuhan itu meletus begitu saja dan Lucky sama sekali tak terkejut. Ia sunggingkan senyuman lembut mendengar penuturan Reinha, paham maksud gadis itu hanya saja ia menolak peka dan menjadi idiot gara-gara terpesona pada Reinha. Sorot mata Lucky menghangat dan Reinha sangat terganggu. Ia lebih suka jika Lucky melihat mesum, jadi ia punya alasan untuk menyepak pria itu.
"Aku memang kotor, tak termaafkan tetapi kau bertanggung jawab padaku karena telah miliki aku secara emosional sejak kau menyentuhku. Aku terkena 'ciuman kutukan' yang membuatku tak bisa memikirkan wanita lain selain dirimu," kata Lucky berat.
"Milikmu secara emosional? Kau gila!" tukas Reinha mencemooh.
Mereka saling menatap dalam diam sedang Reinha lantas mengerutkan kening. Lucky sengaja mengorek ingatan. Terbersit sekilas bayangan ciuman yang tak biasa itu, Reinha benar-benar bergidik. Rasanya ingin mengoleskan salap anti gatal ke seluruh badannya.
"Bodoh sekali aku, mengapa harus menyentuhnya waktu itu. Ini seperti senjata makan tuan."
"Tentang hak mencintai, Your Right to Love di halaman 47 buku prosa yang tadi kau baca. Tidak akan ada larangan untuk menyukaiku, tetapi aku punya standar radikal mengenai seorang kekasih masa depan ... sayangnya ... kau tidak termasuk dalam kriteria itu. Tak ada tempat untuk pria sepertimu," ulas Reinha sembari mengulas senyum penuh penolakan.
"Pria seperti apa yang kamu inginkan, Enya? Mungkin, mungkin saja ... " tanya Lucky mendalam. Lengan kirinya berpegang pada rak, menahan Reinha agar tak bisa lari. Reinha mendengus kasar.
"Pria yang tidak brengsek, mesum, gila, bukan pria maniak sepertimu. Pergilah bertapa ke perbukitan Tuscany dan dapatkan kualitas dirimu kembali, aku mungkin akan menurunkan standar."
Reinha melotot tajam pada Lucky ingin Lucky menangkap keseriusan pesan pada kata-katanya. Reinha tidak nyaman berdekatan dengan pria itu, ingin sekali membuat Lucky cidera.
"Nah, Tuan Lucky Luciano, bisakah kau menyingkir sekarang? Kami harus bekerja agar bisa membayar utang pada rentenir."
Lucky menolak bergeser, ia suka obrolan mereka barusan. Ia suka berdekatan seperti ini dan suka mendengar umpatan dari bibir mungil Reinha. Ia berdebar-debar oleh kedipan mata Reinha yang mulai bosan dikungkung oleh tubuhnya. Sementara Reinha berpikir untuk memancing Lucky ke tempat yang lebih luas. Ia ingin menyundul kepala Lucky dan menendang selangka** pria di hadapannya saking gemas.
Lucky makin merapat, tangan satunya mengeluarkan ponsel. Ia tersenyum menggoda dan Reinha refleks berpaling saat Lucky hendak menyentuhnya, bibir pria itu bersarang di lehernya.
Ceklek ....
Kamera menyala. Lucky membidik senyuman senang. Pria itu memanfaatkan kondisi Reinha yang tak bisa bergerak banyak.
"Kau maniak sinting. Menjauh dariku! Apa mau-mu?"
Tangan Reinha mendorong pria itu menjauh tetapi Lucky kokoh seperti penyangga jembatan.
"Mengobrol denganmu!"
"Kau idiot?! Tidak mengerti bahwa aku sangat mual padamu?" seru Reinha garang dan betul-betul tersiksa, ingin menggaruk lehernya yang mulai gatal-gatal. Namun, kedua tangannya hanya mengepal di sisi tubuh.
"Aku terbentuk dari kata dan pemikiranmu. Jika kau mengatakan aku brengsek, idiot, mesum, maniak ... maka seperti itulah aku. Kau tidak pernah melata dalam duniaku dan mencoba mencari tahu tentangku"
Reinha menggeram, "Apa aku kelihatan tertarik padamu? Berhentilah bercanda dan keluar dari sini. Kami sedang buka."
"Toko ini sedang tutup."
Lucky mengangguk ke arah pintu toko, tulisan open tertempel di bagian dalam, itu berarti close terbaca di luar. Reinha meringis jengkel, terlebih melongok keluar menerjang bahu Lucky, Augusto sedang merokok bersama Francis. Mereka bercanda seakan mereka sekawanan serigala sementara Tuan Lucas hanya melamun sisi mereka.
"Baiklah jika kau memang begitu," ujar Lucky pergi ke salah satu sudut. Ia menyentuh susunan buku yang menjulang tinggi itu. Reinha berbalik mendengar nada suara Lucky yang mengandung ancaman.
Pria itu menepuk-nepuk susunan buku lalu ujung sepatu meniru gerakan Reinha saat menyentuh guci di rumahnya. Guci yang ia dapatkan susah payah di sebuah pelelangan barang antik yang dengan mudah dipecahkan gadis itu. Satu dorongan, buku-buku itu akan jungkir balik ke lantai.
"Setidaknya, nasib mereka lebih bagusan dibanding guci- ku yang malang."
Reinha meangap-mangap seperti akan tenggelam ke sungai penuh buaya.
"No no no!!! Kaaa, kaaauuuu sialan," umpat Reinha geram. Ia mendekat depresi dan raut wajah Reinha begitu menggelikan saat ia ketakutan. Kedua tangannya terangkat memohon Lucky untuk tidak merubuhkan susunan buku itu.
"Apa mau-mu?" Reinha gusar.
"Nomer ponselmu!" Lucky menyodorkan ponsel.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Mendekatkan jarak."
"Jangan konyol, aku membenci semua tentangmu. Matamu, hidungmu dan seluruh tentangmu. Berhenti menggangguku!"
"Baiklah, nomer ponselmu!"
Reinha terpaksa mengambil ponsel Lucky dan mengetik sederet nomer lalu kembalikan pada Lucky. Pria itu mengernyit.
"Nomermu tak terdeteksi. Itu bukan nomer ponsel hanya sederet angka."
"Aku tak bawa ponsel saat bekerja lagipula aku tak hapal nomerku sendiri."
"Baiklah kalau begitu, aku akan kirimkan foto ini pada Elgio. Aku akan menulis, hai kakak ipar . Bagaimana menurutmu? Aku bisa tambahkan, jaga sikapmu padaku."
Reinha mendelik dongkol. Ingin rasanya hancurkan wajah Lucky sementara Lucky tersenyum geli saat Reinha mengumpat terang-terangan. Melihat gadis itu kelabakan dan memerah akibat marah membuat Lucky gregetan untuk terus menggodanya.
"Kau bisa minta pada Claire."
"Untuk apa? Kau ada di sini, kan?"
Reinha menarik ponsel Lucky kasar lalu mengetik nomer. Ia melirik Lucky yang terus mengawasinya.
"Tolong pergilah!"
Lucky menekan calling pada nomer itu dan menyeringai senang saat ponsel Reinha bergetar. Ia mengetik nama kontak dan memperlihatkan pada Reinha.
My Darling Enya ....
***
Akutuh gimana ya, gak bisa nulis lanjut soal Elgio setelah baca chapter 32. Jadi, Author putuskan nulis tentang Enya.
Agak banyak umpatan di sini. Maaf ya .... Habis kesal ni Enya sama Lucky.