
Marya duduk di tepi jalanan, gemetar ketakutan. Meski Arch tak sakiti dirinya, Marya tak akan menghalau Elgio dari kemarahan. Ia tak punya daya, kaki-kaki melemah karena kaget dan takut. Lagipula, Arch yang teledor nyaris saja bikin Marya kehilangan kesuciannya.
"Aku hanya sedang bekerja, Tuan. Kau bisa tanya istrimu, apa aku menyakitinya?" kata Arch dengan wajah berlumur darah.
"Kau berusaha menculik istriku lagi, itu yang aku lihat, brengsek. Taruh tanganmu di belakang kepala dan berbalik ke mobil sekarang! Kau akan bawa aku pada Valerie, atau aku akan menembakmu saat ini juga!" geram Elgio.
"Baiklah, Tuan! Valerie belum tahu kalau Nona Marya kabur! Aku tak memberitahunya!"
"Sekarang ini, kau boleh istirahat," kata Elgio dan satu sabetan tepi telapak tangan memukul keras tengkuk Arch hingga pria itu hilang sadar. Arch meluruh ke aspal dan Elgio masukan Arch yang pingsan ke bangku tengah mobil setelah mengikat kedua tangan, kakinya
juga menutup mulut penjahat itu. Pintu mobil dibanting keras. Elgio terpaku beberapa detik, ia ingin melempar bajingan itu ke dasar jurang.
Tersadar, Elgio berbalik pada Marya yang terduduk lemas di tepi jalan, kekasihnya yang tampak rapuh, lusuh dan ketakutan.
"Marya?!"
"Elgio?!"
Marya menatap Elgio di ujung sana dengan kaos putih dan kedua lengan terbalut perban, matanya kabur. Gadis itu bangkit berdiri dan berlari sekuat tenaga, lupakan luka di kakinya. Ia melompat ke dalam pelukan Elgio yang juga tampak tak peduli mungkin saja jahitan di lengannya sobek.
"Marya!!!" seru Elgio memeluk kekasihnya erat-erat. "Apa kau baik-baik saja, Sayang? Apa kau terluka?!" tanya Elgio menciumi kekasihnya berulang kali. Marya tak jawab, hanya tangis sesegukkan di leher pria itu karena lewati hari yang sulit kemarin. Karena pernikahan mereka batal, karena Arumi adiknya yang jahat dan karena mereka terpisah.
Elgio menahan sakit di lengan, Marya sadari itu turun dari dekapan Elgio. Mereka duduk di jalanan dan berpelukan penuh kerinduan.
"Apa kau terluka, Sayang?!" tanya Elgio menangkup wajah Marya dan memeriksa wajah gadis itu dan seluruh tubuhnya.
"Tidak, aku baik-baik saja. Kau sepertinya yang terluka," kata Marya dengan tatapan pedih pada lengan-lengan kekasihnya.
"Apa mereka menyakitimu?" tanya Elgio mengusap air mata yang berderai di wajah pucat Marya.
Marya menangis dan mengangguk, ia hampir di perkosa. Anggukan itu berhasil buat Elgio kembali murka. Diciumnya wajah Marya bolak- balik lampiaskan kerinduan yang menghitam di dalam hatinya.
"Aku hampir diperkosa, Elgio. Gaunku dilepas dan seseorang hampir menodaiku."
Rahang Elgio mengeras. Tatapan matanya berubah kelabu. "Marya, i am so sorry. Apakah pria dalam mobil itu?"
"Tidak Elgio, bukan dia. Pria lain yang bersamanya. Aku mungkin telah jadi pembunuh untuk lindungi diriku sendiri."
Elgio tak sanggup berkata-kata. Didekapnya gadis itu dan mencium bibirnya yang terasa asin oleh air mata.
"Maafkan aku!" ucapnya penuh sesal dan sakit hati.
"Elgio, aku merindukanmu!" kata Marya terisak-isak. "Sangat merindukanmu!"
Raut sedih Marya menular. Pria itu mengangkat wajah Marya, mengecup.mata, hidung, seluruh wajah tak luput sedikitpun.
"Mari kita pulang!"
Mereka pergi ke Biara, ucapkan berlimpah terima kasih sebelum berpamitan. Suster Zelinda pakaikan skapulir yang telah diberkati dengan air suci di leher Marya untuk menjaga gadis itu dari orang-orang jahat sebelum mengantar mereka hingga kembali ke parkiran depan Desa Kuno.
Keduanya naik mobil pulang ke kota dengan Arch di belakang yang pingsan. Elgio ucap syukur telah bersama Marya tetapi ia bendung luapan marah di hatinya karena perlakuan buruk yang diterima Marya. Elgio menelpon Lucky.
"Bersiaplah! Kita akan hancurkan Valerie hari ini!"
Sepanjang perjalanan, Elgio tak melerai pelukan. Didekapnya Marya erat-erat. Meringis tahan sakit saat lengan-lengannya nyeri.
"Apakah lenganmu kesakitan? Kau bisa ajari aku mengemudi, Elgio."
Elgio mengelus lengan Marya hangat, "Baiklah. Menyenangkan saat aku jadi instruktur untuk istriku. Kemarilah! Kau tahu aku hampir mati karena memikirkan keadaanmu."
Marya bersandar padanya. "Aku memikirkanmu juga. Kemarin itu buruk sekali! Bagaimana keadaan Reinha, Elgio? Apakah dia baik-baik saja? Apa Ibuku baik-baik saja?"
"Temui Ibumu, Marya. Kesadarannya menurun sejak kemarin."
"Aku tak ingin berpisah darimu, Elgio!" bisik Marya di lengan Elgio. Seharian kemarin cukup buruk, meski Ibu alasannya. Marya masih gelisah, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Elgio Durante.
"Aku ada urusan sedikit, Marya," kata Elgio tersenyum pada kekasihnya. "Aku akan kembali untuk menjemputmu nanti malam."
"Apa kau akan pergi ke tempat Valerie?" tanya Marya tanpa sadar bergidik.
"Emm, aku akan kembali secepatnya. Kau harus temani Ibumu," bujuk Elgio. Abner akan menjaga Marya di Paviliun Diomanta. Mereka akan serahkan bukti kejahatan Valerie pada kejaksaan tetapi Sunny dan Lucky Luciano kemungkinan akan terseret dan pergi ke balik bui juga. Abner akan temukan cara untuk selamatkan keduanya.
Elgio dan Lucky bertemu di tempat yang mereka sepakati, menunggui Arch hingga pria itu siuman untuk dapatkan lokasi Valerie.
"Katakan padanya, kau akan mengantar Marya sekarang!" todong Lucky dengan pistol teracung di kepala Arch.
"Wanita itu biasanya video call, Tuan!" jawab Arch.
"Cari cara Lucky, aku tak bisa bawa Marya ikut dengan kita sebab terlalu berbahaya."
"Aku akan gantikan Marya!" kata Reinha tiba-tiba.
"Tidak, Augusto akan bawa kau pulang ke Durante Land!" seru Elgio. Lucky mengangguk sepakat.
"Ini sangat bahaya Enya, kau tak boleh ikut! Valerie mungkin bersiap dengan jebakan lain." Lucky pandangi Reinha tak setuju dengan ide gadis itu. Tidak, ia tak akan sanggup jika Reinha terluka. Pipi gadis itu masih bengkak dan Lucky gemas ingin segera tahu siapa yang berani lakukan itu pada kekasihnya. Ia akan patahkan tangan orang itu. "Augusto akan membawamu pulang. Kita bisa pergi ke Red Twilight setelah itu, Enya. Tunggu aku di rumah!"
Reinha mengangguk setengah hati bertepatan dengan panggilan telpon Valerie pada Arch. Semua orang menahan napas.
"Kau bisa bawa gadis itu kemari?! Aku akan kirimkan lokasi!"
"Baik, Nyonya. Dia sudah dibius," jawab Arch meyakinkan. "Anda bisa alihkan ke panggilan video untuk melihatnya."
"Tidak perlu, bawa saja dia kemari!" pinta Valerie dari sebelah dengan nada lembut. Semua yang ada di sana bernapas lega.
"Baik, Nyonya."
Lokasi dikirim dan Arch kembali diborgol.
"Apa yang akan kita lakukan padanya?!" tanya Lucky.
"Biarkan saja dulu dia! Aku akan pikirkan cara untuk singkirkan dia, nanti!"
Reinha kembali bersama Augusto, setidaknya itu yang terlihat, sedang Elgio dan Lucky naik mobil menuju lokasi Valerie. Francis menyusul dengan mobil di belakang bawa serta senjata kesayangan Lucky.
"Apa mereka sakiti Nona Marya?" tanya Lucky ketika wajah Elgio tampak murung.
"Ya," jawab Elgio pendek. "Aku akan serahkan bukti kejahatan Valerie dan itu berarti kau serta Sunny akan ikut terseret."
"Jadi, kau murung soal itu? Apa kau mulai suka aku jadi kekasih Enya? Aku rela pergi ke penjara dan kembali untuk mulai hidup yang baru."
Elgio angguk-angguk. Lucky Luciano punya karakter yang unik, kuat dan bagus, hanya saja mungkin lingkungan tempat ia dibesarkan tidak mendukung.
"Aku tahu kau punya banyak kisah liar, Lucky Luciano. Meski kau berubah kini, Enya mungkin akan sangat kesakitan ketika banyak wanita dari masa lalu-mu muncul!"
Gantian Lucky yang angguk-angguk. Ia tetap menyetir dengan tenang sambil menyimak Elgio.
"Ya, aku paham," keluh Lucky berat.
"Jika semua orang putih bersih, tempat kita berpijak ini namanya Surga. Kenyataan, banyak pendosa bertobat karena temukan cinta sejati. Aku percaya kau salah satu yang dapat pencerahan itu," kata Elgio, melirik buku-buku jari di tangan Lucky. Bertuliskan nama Enya bahkan dadanya ditato dengan wajah Enya. Pria itu benar-benar takluk dan terjebak pada adiknya.
Lucky menghela napas berat. "Aku berharap bisa pantas bagi adikmu, karena aku sangat mencintainya, tetapi kau tahu sendiri, masa laluku sangat buruk. Terima kasih kau tak hakimi aku."
"Masalah moral, itu urusanmu dengan Tuhan. Hanya Tuhan, bisa jadi hakim yang adil, manusia boleh menilai dari sudut pandang mereka masing-masing tetapi tidak berhak menghakimi meski hanya sebatas kata. Belum tentu yang terlihat bersih benar-benar tahir di mata Tuhan. Aku akan biarkan kau bersama Enya, syaratnya tak berubah, jangan sakiti adikku!"
Bagaimana caranya tak sakiti Enya? Ada wanita lain yang diam-diam mengandung bayinya, lebih buruk lagi ia tak ingat wanita yang mana. Ia telah menabur angin dan kini ia akan menuai badai. Lucky mengurut kening dengan sebelah tangan sedang tangan lain tetap menyetir. Ia akan bertemu wanita itu dan lihat keadaannya. Ini buruk sekali. Habislah sudah! Kali ini mungkin ia akan benar-benar lepaskan Reinha agar kekasihnya itu pergi dengan pria yang lebih pantas. Bukan karena ia menyerah tetapi karena cinta yang terlalu besar dan mendalam pada Reinha, ia akan biarkan Reinha bahagia meski tak bersamanya. Apakah ia bisa lepaskan Reinha pergi dengan sukarela? Helaan napas berat saat hatinya terasa perih, ia tak akan sanggup.
"Satu kilometer lagi, kita sampai, Lucky!" kata Elgio pecahkan lamunan Lucky Luciano.
Kecepatan mobil ditambah dan saat hampir mencapai lokasi yang tertera di ponsel Arch yang mereka sita, keduanya sedikit heran.
"Apa benar ini lokasinya?" Mereka parkir agak jauh dan awasi keadaan sekitar.
Tempat itu hanya sebuah peternakan yang tenang dan damai. Para sapi merumput di padang luas. Sebuah bangunan modern minimalis berdiri di tengah peternakan, persis seperti rumah Edward Cullen, si vampire. Tak banyak tembok hanya kaca.
"Benar ini," sahut Lucky. "Aku akan mengintai. Bagaimana kalau ini jebakan dan ternyata warga sipil di dalam?"
"Aku tak suka jika ada Irish Bella di dalam," keluh Elgio mulai kesal.
"Ada apa dengan wanita itu,?" tanya Lucky heran. "Jika Nona Marya melihatnya tadi, istrimu akan berpikir kalian punya hubungan."
"Diamlah! Dia suka muncul di waktu yang tidak tepat dan mengacau!"
"Tidak untukku!"
"Semoga saja!"
Elgio siapkan senjata dan Lucky Luciano pergi ke mobil di mana Francis membawa "kekasihnya" si pretty girl.
Pria itu panjat pohon dengan lincah dan mengintai, tak lewatkan satu inci pun. Velerie terlihat di dapur sedang memanggang sesuatu.
"Target terdeteksi."
Lucky menunduk beri kode pada Elgio bahwa benar tempat itu karena ada Valerie terlihat di dalam bangunan. Lucky amati situasi keliling. Pengawal di mana-mana meski tak begitu banyak dan saat ia hendak kembali ke Valerie ketika sesuatu menarik perhatiannya.
Seorang wanita mengendap-endap dari pepohonan cemara, berpakaian hitam-hitam dengan rambut dikuncir tinggi. Lucky menjauh dari teleskop sebelum kembali. Si gadis merayap pelan tapi pasti di antara ilalang dekat bangunan menuju kandang kuda.
"Elgio Durante?! Kau tak akan percaya saat kau lihat ini?" kata Lucky cukup keras hingga didengar Elgio.
"Ada apa?"
"Tamu tak di undang," ujar Lucky menyeringai. Ia tak habis pikir.
"Siapa?"
"Aku melihat Enya di kandang kuda Valerie," kata Lucky Luciano gelisah. "Bawa senjatamu sendiri! Aku mungkin cinta gila pada Enya hingga lihat dia di mana-mana," gerutunya antara cemas dan lain-lain.
"Apa yang dia lakukan di sini? Ya Tuhan, kenapa dia bandel sekali?" keluh Elgio pergi ke pohon lain dan mengintai. "Apa dia pikir bisa memukuli penjahat dengan jurus Muay Thai-nya yang tidak seberapa itu?"
"Tenanglah! Kita akan beri dia waktu! Mungkin Enya sakit hati pada Valerie!"
"Tapi itu sangat berbahaya, Lucky!"
"Kita akan menembak siapa saja dari sini yang berani melukainya!"
"Baiklah!"
Francis juga bersiap dengan laras panjang. Elgio amati teleskop. Adiknya memakai riasan wajah aneh, matanya hitam seperti penyihir, ya Tuhan, apakah gadis itu punya kepribadian ganda? Ia benar-benar terlihat seperti campuran bad girl dan wonder woman. Terakhir kali ia melihat Reinha begitu beberapa waktu lalu yang ia ketahui Reinha pergi ke Puri Luciano untuk menghajar Lucky.
"Kau bisa jelaskan padaku, apa yang aku lihat Lucky?" tanya Elgio gelisah. Reinha mengendap di kandang kuda menuju dapur sementara Valerie terlihat di dapur. Seorang penjaga muncul di kandang kuda. Reinha menembak senjata kejut listrik di dada pria itu hingga si pria terjatuh beberapa saat kemudian. Ia menyeret si penjaga ke kandang kuda dan mengikat kedua tangan pria itu juga membungkam mulutnya.
"Mengapa bertanya padaku? Dia itu adik perempuanmu!" sahut Lucky heran. "Aku baru satu bulan mengenalnya!"
"Aku tak bisa diam di sini, Lucky!"
"Dengar Elgio! Jika kau ke sana sekarang, Enya bisa jadi dalam bahaya. Ia akan disandera!"
Reinha sampai di dapur setelah menembak tiga penjaga. Valerie terlihat bergerak gemulai di dapur dalam kesendirian tak sadari kedatangan Reinha atau dia tak menduga Reinha Durante si gadis yang belum cukup umur 18 tahun punya nyali seluas samudera sedang membawa mangkuk berisi sup kematian di tangannya. Valerie kenakan lingerie sexy dengan lipstik merah terang, seperti biasa ia terlihat. Reinha menutup pintu dapur pelan di belakang Valerie, saat wanita kejam itu mulai mengunyah makan siangnya. Sedang Reinha melipat kedua tangan dan bersandar di pintu.
"Augusto tak bisa dipercaya," dengus Elgio kesal.
"Francis, amankan lokasi dan biarkan Nona Reinha tanpa ada interupsi dari penjaga!" perintah Lucky.
"Dengan senang hati!"
Elgio masih geleng-geleng lihat adik perempuannya.
Sementara Reinha menunggu Valerie dengan sabar hingga wanita itu selesai makan dan berbalik ke wash back piring kotor.
"Hai Valerie, apa kabarmu?!" sapa Reinha ketika Valerie kedapatan terkejut.
"Kaget?!" tanya Reinha lagi.
"Ba, ba, bagaimana bisa?!" Valerie benar-benar tak bisa sembunyikan ekspresi kagetnya.
"Katupkan mulutmu, Val. Lalat bisa masuk ke sana!" ujar Reinha. "Apa kau sengaja pakai lingerie sexy untuk menggoda kakakku?! Sayang sekali dia tak suka pada wanita sexy," kata Reinha lagi.
"Apa yang kau lakukan di sini?"
"Merobek mulutmu! Aku tak lakukan itu terakhir kali karena kekasihku sekarat." Reinha tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya. "Aku ingin lakukan sekarang!"
"Nyalimu luar biasa juga, ya? Buat aku terkagum-kagum."
"Kau pasti tak menyangka?!"
"Ya, kupikir kekasihmu yang datang?! Aku suka buat goresan di dadanya seperti saat aku menculikmu waktu itu," kata Valerie sensual.
"Sayang sekali, sepertinya dia menolakmu!"
Valerie tersenyum sedikit, pergi ke wash back, bersihkan piring, mangkuk dan gelas dengan lembut. Wanita itu tiba-tiba berbalik dan melempar piring dengan gerakan permainan melempar bola bisbol. Reinha menunduk dan bergulingan ke tengah ruang.
Praaanggg!!!
Piring melayang di tembok hasilkan bunyi yang berhasil memancing penjaga Valerie segera berdatangan. Reinha pergi ke tiap pintu di ruangan itu dan mengunci pintu dari dalam.
"Jadi, kau ingin bertarung?!" tanya Valerie meraih pisau dapur dan lontarkan satu lemparan. Hampir saja, Reinha memutar tubuhnya, bersalto ke belakang hingga pisau menancap di pintu.
"Itu gerakan sulit!" seru Lucky Luciano.
"Ya benar, kayang di udara? Aku tak tahu, dia pandai lakukan itu? Dia itu adikku kan?" tanya Elgio tak habis heran.
"Sayangnya begitu!" sahut Lucky tersenyum sumringah.
Reinha ambil posisi tegak sebelum salto ke depan dua kali, loncatan terakhir, satu tangannya menyangga tubuh di atas meja makan, kakinya berputar cepat menyambar leher Valerie hingga wanita itu terbanting.
"Ugghhh, leher Valerie bisa jadi patah," seru Elgio pegangi lehernya sendiri.
"Itu keren sekali!" Francis manggut-manggut.
"Dia kekasihku!" ujar Lucky bangga.
"Em, maaf saja. Dia itu adikku! Kalian bisa putus, tetapi Enya tetap adik perempuanku sampai kapanpun."
"Asal kau bahagia saja," sahut Lucky dari seberang. "Para penjaga melongo di luar! Jika hadapi Valerie semudah itu, kenapa tak biarkan saja Enya beraksi?!" Lucky berdecak. "Francis, awasi musuh!"
"Dilaksanakan!"
Valerie bangkit, meluncur di atas meja makan dan mendarat di tengah ruangan. Wanita itu akan membalas Reinha.
"Jadi, kau cuma seorang wanita yang bisa menyeduh racun untuk pria yang tak ingin tidur denganmu?"
"Harusnya kau bersyukur, kau dan Lucky jadi lebih dekat berkat aku!" Pelajari gerakan Reinha dan waspada. Terlihat tak punya persiapan.
"Baiklah, trims untuk partisipasinya. Kau terlalu tua untuk menggoda kekasih orang lain, Valerie!"
Valerie lancarkan pukulan dalam jarak dekat langsung ke arah kepala Reinha, yang langsung mengelak. Valerie terus bergerak maju, menyerang langsung. Tangan kiri lepaskan jab pendek serta tajam dan tangan kanan pukulan kuat. Reinha sedikit defensif sisakan celah bagi Valerie hingga telak kenai wajahnya. Reinha terdorong ke belakang. Hidungnya berdarah.
"Wanita matang lebih menggoda dibanding gadis ingusan!" ejek Valerie senang bikin Reinha terluka.
"Tentu saja, mereka kadang terlalu bersemangat hingga terlihat murahan," balas Reinha tersenyum sengit.
Ia mengontrol emosi. Reinha ayunkan satu serangan langsung ke dada Valerie, tak beri ruang pada Valerie, mendesak wanita itu hingga lakukan kesalahan. Satu pukulan cepat dari Valerie. Namun, berhasil di block, tangan Valerie tertangkap. Reinha pelintir tangan itu hingga tubuh Valerie ikut terjungkal. Wanita itu berdiri dengan cepat, tetapi Reinha bersiap. Ia melompat dan gunakan serangan lutut secara langsung tepat di dagu Valerie hingga wanita itu jatuh terduduk, sudut bibir Valerie pecah dan keluarkan darah. Tanpa ampun Reinha menyepak keras wajah Valerie hingga jatuh telentang, ujung bibir Valerie sobek makin lebar. Reinha menyeret kaki wanita itu.
Penjaga menembaki pintu. Satu, dua ,tiga tembakan.
"Garakanmu terbaca oleh gadis ingusan, kau lakukan kesalahan yang sama, Valerie! Sayang tak ada sup panas di sini dan vas bunga. Kita bisa reka ulang adegan," olok Reinha. Gadis itu taklukan Valerie di lantai, duduk di atas punggungnya dan mencekik Valerie kuat.
"Lepaskan dia, Nona!" seorang penjaga bersiap menembak, tetapi ....
Dooorrr!!!
Satu letusan, dua letusan, tiga letusan, rangkaian letusan. Sapi-sapi berlari pergi ke hutan cemara. Elgio turun dari pohon.
"Mari selesaikan ini! Enya buat kita terlihat payah!"
***
Jujur padaku?! Siapa yang kalian sangka akan menghajar Valerie?! Elgio Durante atau Lucky Luciano?!
Cintai Aku dan aku mencintaimu....
Tinggalkan komentar dengan bahasa yang sopan ya!!!