Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 123 Because of Love ....



Suasana ruangan saat sarapan pagi di rumah keluarga Durante begitu suram di pagi hari. Reinha hembuskan napas berat berulang kali dan ia terlihat tak bersemangat. Ia ingin tahu kabar suaminya tetapi tak berdaya.


"Aku akan antarkan kalian pergi ke sekolah. Dengar Enya, suamimu itu ...."


"Berandalan sejati dan dia akan baik-baik saja," potong Reinha terdengar bosan. "Ya, baiklah. Aku akan menyetir sendiri ke sekolah bersama Marya. Bukankah kakak ada rapat penting pagi ini?"


"Ya, kau benar tetapi aku tak sanggup lihatmu uring-uringan, Reinha Durante. Aku akan antar kalian berdua ke sekolah dan menjemput kalian nanti."


Maribella masuk ke ruangan makan sedikit merengut saat melihat Abner teringat pertengkaran mereka semalam. Marya amati kedua orang itu tak mampu melengkung senyuman geli saat mengingat celotehan Maribella soal Abner dan Luna Hugo. Ia akhirnya meledak tawa tanpa diduga sehingga semua orang perhatikan dirinya.


"Marya?!" tegur Reinha kebingungan.


"I am so sorry, Enya. Maafkan aku. Aku hanya menonton sesuatu yang sangat lucu semalam dan tak berhenti merasa lucu hingga pagi ini. Aku akan kembali nanti," kata Marya membungkuk minta maaf dan kabur saat tatapan Abner menghujam tajam padanya.


"Eh?! Marya?! Kau harus sarapan! Ada apa dengannya?" tanya Elgio keheranan dan lihat wajah masam Abner juga Maribella, Elgio yakin Marya ketahui sesuatu.


"Tuan muda, aku sudah siapkan beberapa menu dan aku ingin tahu apakah Tuan Muda sepakat denganku atau tidak," ujar Maribella saat layani sarapan berharap Elgio berpihak padanya sebab Abner terlihat benar-benar akan mencekiknya.


"Maribella, sejak kapan aku protes pada masakanmu? Hmm?" tanya Elgio pada Maribella tapi menyipit pada Abner. "Apakah kau bertengkar dengan Abner semalam, Maribella? Kalian tampak seperti musuh kebuyutan?" selidik Elgio lagi saat lihat mimik Maribella yang sama sekali tak memandang Abner, tak bertegur sapa padahal mereka hampir bersentuhan.


Maribella tak menyahut, diam seribu kata. Elgio mengernyit dan berpaling pada Abner.


"Abner?" Menuntut jawaban.


"Apa kita perlu berdebat di pagi hari, Elgio Durante?" serang Abner. Belakangan sikap temperamental dirinya menular pada Abner. "Kita akan ke kantor mulai rapat dan audit keuangan beberapa divisi. Kau tahu pendapatan kita menurun Minggu ini secara drastis tetapi aku yakin seseorang sedang mengeruk dana da ...."


"Apa kita akan bahas ini di meja makan, Abner?" serang Elgio tajam dan seakan tak puas ia bertanya lagi terdengar memaksa dapat jawaban. "Apakah kau dan Maribella ribut semalam, Abner Luiz?"


"Aku tak heran sih, ku yakin Marya mengetahui sesuatu," tambah Reinha mulai makan.


"Ya persis," keluh Abner datar. "Kau bisa tanya istrimu, Elgio Durante!"


"Oh tolonglah, Tuan Abner. Kau tak perlu libatkan Nona Marya dalam perdebatan kita. Lagipula, celotehan bodoh itu berasal dari mulutku!" Maribella menaruh nasi berbumbu dengan cincangan daging dalam daun kubis di hadapan Reinha, mengangguk pada gadis itu menyuruhnya segera makan sebelum serius menantang Abner.


Abner mengoceh. "Tepat sekali, celotehan-mu yang sangat bodoh - sangat tidak senonoh, yang kau anggap biasa saja tetapi sangat lukai harga diriku sebagai seorang pria baik-baik. Aku tak percaya kau katakan hal tidak layak dan sadis macam begitu dalam percakapanmu."


"Aku hanya ...." Maribella pikirkan jawaban dan Abner memotong perkataannya.


"Apakah kau sangat kesal padaku dan Luna, Mai? Kau tahu bahwa yang kau katakan semalam itu body shame, Maribella! Kau menyerang kekasihku secara verbal," ketus Abner dan mereka terlihat tak ingin hindari pertengkaran lagi.


"Oh tolonglah, itu percakapan pribadi antara aku dan Puteriku, Tuan Abner. Bisa dibilang kau menguping. Sedang saat kau menyerang aku dan Hansel kau lakukan itu di ruangan makan, di hadapan banyak tamu," balas Maribella setajam pisau potong daging.


Abner menghela napas panjang. "Aku mengawasimu hari ini Maribella dan kau tahu akibatnya jika kau berani salah satu jengkal saja, aku akan menghabisimu."


"Lakukan saja sesukamu, Tuan! Aku akan pergi dari sini dan kau bisa bawa kekasihmu kemari! Lagipula anak-anak sudah besar dan mereka telah menikah untuk mengurusi diri mereka sendiri. Masalah kita selesai." Jawaban sengit Maribella berhasil memancing Reinha yang melongo sedari tadi. Seumur-umur kedua pengasuhnya tak pernah bertengkar. Barusan hari ini buntutnya mungkin dari kemarin.


"Eh, ada apa dengan kalian berdua?" tanya Reinha sedang Elgio kehilangan selera makan. Ia perhatikan dua orang dewasa yang tiba-tiba mirip anak remaja saling berengut dan saling mencecar berhadap-hadapan dan mungkin bisa berakhir dengan kericuhan.


"Bibi Mai?" tegur Elgio tak habis heran. "Apa kalian masih berantem?"


Napas Maribella terlihat memburu tahan kesal sedang Abner berseru garang padanya.


"Habiskan saja sarapanmu!"


"Abner?!"


"Mari kita pergi, aku akan makan di kantin!" kata Abner dingin dan bangun dari sana.


"Oh, tolonglah! Aku tak percaya kedua waliku berkelahi saat sarapan dan hancurkan selera makan kami," tatap Reinha kesal pada Abner. "Aku baru ditinggal suamiku pergi dan aku ingin mengisi perutku, tapi sepertinya aku akan pindah ke flat saja dan mulai hidup sendiri."


Reinha bangkit berdiri dan hendak berlalu dari sana dengan wajah cemberut.


"Reinha," seru Abner memanggil nama gadis serba salah. "Aku akan pergi, duduklah dan sarapan-lah!"


"Oh tidak, maafkan aku," seru Maribella mengikuti Reinha dengan wajah bersalah. Menghadang gadis yang merajuk itu.


"Suamiku pergi dan kau akan pergi juga, Maribella?"


"Oh tidak, aku hanya sedang kesal. Lagipula, kemana aku akan pergi Nona? Aku tak punya rumah," sahut Maribella raih tangan Reinha dan mengecupnya pelan untuk redakan marah gadis itu. "Aku siapkan 5 kotak mongolian beef untukmu, Nona Marya, Nona Arumi, Nona Claire dan Tuan Ethan Sanchez yang tampan. Kalian harus makan siang dengan baik. Hmm?" tambahnya mengelus punggung tangan Reinha.


"Sekalian saja kau buatkan untuk satu sekolah, Maribella," gerutu Abner dari sebelah.


Maribella menatap Abner tajam tak ambil pusing atau mereka akan mulai lagi. Ia menggiring Reinha.


"Aku akan sarapan di sekolah saja, Bibi Mai."


"Baiklah, aku bungkus-kan Sarmi dan roti daging untukmu dan Marya. Dimakan ya, maafkan aku buatmu kesal, Nona."


Maribella mengikuti Reinha ke mobil dengan banyak bekal makanan dan banyak pesan.


Sedangkan Elgio berdecak lihat sikap Abner Luiz. Elgio melipat dua lengannya dan pandangi Abner tanpa kedip. Walinya itu mendadak aneh dan sangat emosian.


"Apa ada yang salah?" tanya Abner.


Elgio tak menyahut, dipandangi raut Abner yang terlihat sangat bijaksana saat ia berpikir sangat serius.


"Apa aku perlu ke kantor sendirian? Kau terlihat bermasalah Abner Luiz dan kurasa kau perlu perbaiki itu dengan Maribella. Bicaralah padanya dan selesaikan urusan kalian. Aku merasa sangat terganggu lihat dua pengasuhku bertengkar."


"Jangan konyol! Habiskan sarapanmu, bangunlah dan kita harus segera ke kantor! Staf manajemen sedang menunggu."


"Abner, kau tampak sangat posesif pada Maribella. Itu terlihat jelas di raut wajahmu? Kalian bertengkar sejak Tuan Hansel membawa Maribella untuk berkencan."


Abner pandangi Elgio, apakah dirinya tampak seperti itu? Ia menolak asumsi Elgio.


"Dengar bocah! Aku sedang berkencan dengan Luna Hugo dan tak tertarik pada pengasuhmu, okay? Ini juga akan jadi sarapan terakhirku bersama kalian. Aku akan bersama Luna mulai besok."


"Oh tidak," keluh Elgio. "Sebaiknya kau jangan menghilang di pagi hari dan di malam hari saat makan. Atau kami bertiga akan mengganggu kencanmu, Abner Luiz."


"Ada apa dengan kalian? Sudah saatnya aku berkencan dengan serius."


"Tidak dengan Luna!"


"Apa yang kau takutkan, Elgio Durante?"


"Luna menggodamu, itu pasti!"


"Aku punya prinsip dalam sebuah hubungan dan selama aku pegang teguh dua prinsip itu, aku akan baik-baik saja."


"Bagaimana kalau Luna merayumu Abner Luiz? Jangan sesumbar!"


"Abner, kita adalah makhluk visual. Aku tak yakin kau tak menyerah pada hasrat saat Luna menggodamu dengan bra berenda?"


"Apa kau akan tergoda jika Luna lakukan itu di depanmu Elgio?" serang Abner tanpa basa-basi.


"Tidak, aku punya seseorang yang lebih menggoda," geleng Elgio cepat dan sangat yakin.


Abner menatap Elgio tajam. "Begitupula aku, Elgio Durante!"


"Jadi ... ?!" terka Elgio.


"Bangunlah pemalas! Atau kau akan rapat sendirian bersama para arwah pekerja kantoran," sahut Abner bikin Elgio tambah penasaran.


Mereka berangkat ke kantor untuk rapat sedang Marya juga Reinha pergi ke sekolah dan Maribella sibuk siapkan makanan untuk rapat nanti siang. Karena rapat ini akan dihadiri banyak orang, Maribella terpaksa meminta seorang gadis dari Durante Land datang ke dapur paviliun Durante untuk bantu-bantu.


Ketika bel pintu rumah berdering, Maribella keheranan. Terlebih saat buka pintu dan Hansel Adelio berdiri di sana dengan wajah berbinar-binar ungkapkan isi hatinya.


"Aku tak sabar ingin berjumpa denganmu, Maribella."


"Aku sedang sibuk, Tuan Hansel," kata Maribella lekas merona.


"Ya, aku datang untuk melihat, mungkinkah kau butuh bantuan Maribella? Kita bisa selesaikan kerjaanmu lalu aku ingin kau membantuku di restoran. Kita bisa berkencan setelah itu," tawar Hansel Adelio.


Maribella pandangi Hansel dan pikirkan tawaran itu. Hansel adalah gurunya di kelas pastri dan pria itu mengelola restoran keluarga.


"Pekerjaan akan mudah diselesaikan dengan empat tangan. Aku akan melihat menu dan kita bisa bagi dua pekerjaan," katanya lagi saat Maribella terlihat bimbang.


"Emm, baiklah."


Hansel Adelio membaca menu pada list yang dibuat Maribella.


"Aku sedang memanggang paprika untuk ditambahkan pada salad shopska sebagai hidangan pembuka," ujar Maribella saat mereka tiba di dapur.


"Baiklah, aku akan buat sup mentimun."


Hansel kemudian bergerak lincah di dapur di samping Maribella. Meski Hansel tampak sangat menawan saat di dapur, entah mengapa Maribella memiliki perasaan yang amat sangat ganjil. Ia perhatikan Hansel dan seriusnya pria itu saat mencincang bumbu, mengolah rempah dan saat ia membuat krim.


"Maribella, kapan kau akan selesai jika kau terus pandangi aku?"


Maribella merona malu sebelum lanjutkan pekerjaannya.


Sementara dua orang itu sibuk di dapur, Abner kembali ke Paviliun karena harus mengambil beberapa berkas yang tertinggal dan ia serius pikirkan kata-kata Elgio, ia ingin berbaikan dengan Maribella. Suasana rumah tidak kondusif gara-gara pertengkaran keduanya sementara Marya butuh ketenangan dan Reinha butuh dukungan.


Abner langsung menuju kantor di lantai dua memeriksa beberapa berkas sebelum putuskan ke dapur mencari Maribella. Ia tak tahu cara berbaikan tetapi semoga saat lihat Maribella ia berhenti kesal.


Ooopss .... Abner menahan napas berhenti di pintu menuju dapur. Ada si Sopan Hansel di dapur dan pria itu terus pandangi Maribella yang sibuk mengaduk sesuatu dalam panci.


"Bisakah Anda cicipi rasa saus krim ini, Tuan Hansel?" tanya Maribella pelan menyendok satu cup kecil saos dan berikan pada Hansel.


Hansel meraih tangan Maribella, oleskan sedikit jempol wanita itu ke dalam cup dan cicipi saus dari jempol Maribella. Itu sesuatu yang cukup buat Maribella terkejut. Wanita itu refleks menarik tangan dan sembunyikan di belakang tubuhnya sedang wajah Maribella berubah merah bata tua jingga kelabu.


"Kau luar biasa Nona Maribella. Aku benar-benar terpesona padamu," ujar Hansel berikan dua jempol untuk rasa saus abaikan raut Maribella. "Kau memang yang terbaik," sambungnya.


"Aku berharap Tuan Abner menyukai makanannya," ujar Maribella hembuskan napas berat.


"Oh, mengapa kau tak percaya diri Maribella. Masakkanmu sangat enak. Tak ada bandingannya. Yakinlah, Tuan Abner akan sangat menyukainya."


"Baiklah," angguk Maribella tapi tetap murung.


"Aku cemburu pada Tuan Abner, kau terlihat pikirkan pendapatnya secara serius," kata Hansel tambahkan keju putih kemudian mengaduk salad sebelum tatapi Maribella yang langsung berhenti beraktivitas. Mereka bertatapan di dapur di antara letupan saus dalam panci dan aroma segar sayur-sayuran.


"Aku menyukaimu, Tuan Hansel," sahut Maribella seakan takut Hansel salah paham. Pernyataan itu buat bibir Hansel tersenyum lebar tetapi lantas tak percaya.


"Kau katakan menyukaiku tapi kau kedapatan sangat gelisah dengan kata-katamu sendiri, Maribella," balas Hansel intens amati wanita di hadapannya. Maribella terdiam. Ia tak pandai berbohong juga tak pandai sembunyikan rasa. Ia terus saja katakan suka pada Hansel tapi ia lebih tahu bahwa itu bohong dan ia merasa berdosa pada Hansel Adelio. Hansel dekati Maribella, menyentuh dagu wanita yang melamun itu dan berkata, "Kita akan tahu jawabannya, Maribella sebab ciuman tak dapat berbohong," tambahnya menunduk.


Maribella menutup mata rapat-rapat, sentuhan jemari Hansel di ujung dagunya terasa sangat salah saat menyentuh kulit. Jadi, sebelum pria itu menyentuh bibirnya, Maribella berpaling. Hansel akan tahu bahwa ia memikirkan orang lain. Saat itulah Maribella temukan Abner mengambang di muka pintu dapur. Maribella segera terpaku dan meremas celemek-nya kuat sementara Hansel mendesah kecewa di pelipis Maribella.


Berikutnya adalah keheningan jangka panjang.


"Tu,Tuaan Abner?!" bisik Maribella pelan. Mata mereka bertemu dan Maribella yakin ia melihat sekilas kilatan kemarahan di mata Abner yang selalu teduh.


"Mai ... aku kembali karena akan mengambil berkas yang tertinggal."


"Aku ...."


"Kurasa masakannya pasti akan sangat lezat karena dimasak dengan penuh cinta," kata Abner.


"Itu ...."


"Tuan Abner, aku mampir karena kupikir Maribella butuh bantuan," sapa Hansel. "Kami akan selesai dalam dua jam dan antarkan makanan sebelum pergi kencan."


Abner mengangguk-angguk paham tak berkedip menatap Maribella yang tampak sangat cemas.


"Baiklah, kuharap kau tak tinggalkan Maribella di halte lagi, Hansel," ucap Abner.


"Ibuku sakit saat itu dan butuh bantuan. Aku sangat sesali kejadian itu," sahut Hansel.


"Aku akan kembali sebelum makan malam," kata Maribella kedapatan salah tingkah.


Abner naikan sudut bibirnya, bicara pelan. "Mai, kau boleh kencan sampai malam. Tak akan ada yang melarangmu. Anak-anak sudah besar dan mereka bisa buatkan makan malam sendirian. Lagipula, aku telah putuskan untuk tak terlalu merepotkanmu. Aku akan makan di apartemen mulai malam nanti."


"Abner ...."


"Aku pergi, semoga harimu menyenangkan Mai," katanya pada Maribella. "Tuan Hansel ... kuharap makanannya datang tepat waktu."


"Baiklah, Tuan Abner. Kami akan selesai."


Abner mengangguk sebelum pergi dari sana sedang Maribella masih terpaku setelah Abner pergi. Mengapa ia merasa sedih?


***


Wait me up ....


Menulis soal apa yang dilakukan Lucky Luciano di kamp pemberontak, Author butuh konsentrasi tingkat dewa sedang aku lagi banyak kerjaan.


So, cintai saja chapter ini dulu ya!