
Flower arc, lengkungan bunga, membulat di tepian danau berhiaskan banyak bunga putih dipadu dedaunan hijau juga wisteria putih yang bergelantungan, melambai diterpa angin danau. Baby breath putih terselip di antara mawar beraneka ukuran diapiti helaian keemasan bunga-bunga ilalang ciptakan mode botanical rustic yang romantis. Setapak dermaga dipenuhi taburan kelopak mawar creamy, putih, peach, membentang menuju flower arc sementara di sisi kanan kiri jembatan payung-payung putih di posisikan terbalik dalam keadaan terbuka mendongak pada langit, berisikan banyak bunga mawar putih, ditaruh pemberat agar mampu bertahan di atas permukaan danau. Kain-kain tile bergelombang disepanjang dermaga menambah klasik suasana tempat pemberkatan.
Pondokan tepi danau akhirnya jadi saksi bisu untuk ikatan janji seorang pria yang sangat mencintai kekasihnya setelah gagal di pernikahan pertama. Elgio Durante untuk kedua kalinya menunggu Marya di altar yang telah diasapi kemenyan dan dupa di temani Padre Pio sedang Marya berdiri di ujung jembatan dengan gown putih sederhana tanpa kerudung bersiap melangkah pada kekasihnya setelah pernikahan berdarah yang masih sisakan trauma. Marya hanya kenakan A line dress putih kerah Sabrina yang simple dan mahkota bunga sementara Elgio kenakan kemeja putih dan celana berwarna broken white. Pria itu tampak gugup saat melihat Marya yang cantik dengan polesan wajah natural bersinar cemerlang dan sangat cantik.
Hanya ada orang-orang terdekat. Ibu, Aunty Sunny, Tuan Abner, Reinha, Ethan, Bibi Maribel, Claire, Queena dan Axel juga Arumi yang berada dalam pengawasan ketat Ethan Sanchez. Gadis itu benar-benar terasingkan. Ibu tak beri teguran juga tak menyapa. Aunty Sunny hanya tersenyum sekilas.
Dilly yang telah pulih berdiri di sisi Elgio dengan Azel di sampingnya. Mengapa hewan bisa bersama dengan damai sedang manusia yang punya banyak mesin kecerdasan selalu ingin jadi predator bagi sesamanya.
Carlos Adelbert ikut hadir. Pria itu keheranan saat melihat Irish Bella juga datang, turun dari mobil sembari lepas kaca mata gelapnya.
"Kau datang Irish?" Suara berat pria dewasa Carlos menyapa Irish.
"Aku diundang dan datang sebagai bentuk penghormatan," jawab Irish.
Carlos menyeringai, "Kupikir kau datang untuk merusak acara orang lain gara-gara bersih kukuh Elgio Durante milikmu di masa depan?"
"Telan ocehanmu sampai kenyang Carlos Adelbert! Aku tidak seburuk itu," sahut Irish malas-malasan.
"Belakangan kau terlihat bukan seperti dirimu saat mengejar-ngejar Elgio Durante, Irish," goda Carlos saat mereka melangkah bersama di setapak. "Kau hanya ingin penuhi egomu, sebab tak pernah ada pria yang menolak dirimu, baru Elgio Durante."
Irish berhembus kasar. "Aku tak tahu, kau juga caritahu kabar tentangku?!"
"Oriana beritahu aku, kau tak waras akhir-akhir ini, kehilangan fokus dan kekanak-kanakan."
"Oh, berlebihan sekali! Dia sangat suka lihat aku tergelincir," kata Irish berhenti dan berbalik jengkel pada Carlos. Irish harus mendongak sebab Carlos sangat tinggi.
"Kurasa dia benar."
"Oh diamlah, Carlos! Apa kau tertembak saat latihan gabungan kemarin? Sikapmu aneh." Irish sipitkan mata, tetapi yang dikatakan Carlos benar. Ia terlihat murahan saat mengejar Elgio Durante.
"Kau tahu itu tak akan terjadi, aku salah satu terbaik di dunia, Irish. Bukankah kau berulang kali hadir di penghargaan dan melihatku dapat banyak tanda jasa untuk kontribusi? Medali Silver Star, 4 Bronze Star Medal (Valor), juga 1 Navy and Marine Corps Anchievement. Bukankah kau di sana sebagai saksi?"
"Kau sedang pamer?"
"Tidak juga, kau lupa, jadi aku peringatanmu. Aku tak mudah ditembak. Kembalilah berprestasi Irish. Kita ditakdirkan seperti itu. Sensasi ..., hanya buatmu terlihat gampang dikalahkan oleh Oriana."
"Jangan mengadu domba kami, Carlos."
"Aku suka saat Oriana berhasil kalahkanmu di penghargaan tahun ini. Awasi langkahmu Irish!"
Carlos sedikit membungkuk sebelum pergi tinggalkan Irish yang termangu oleh kata-kata pria itu. Carlos benar, ia mulai tidak waras. Beberapa orang di dunia memang berkelebat di sekitarmu dan datang sebagai peringatan dini.
Acara pemberkatan dimulai ....
Tangan Elgio menangkup tangan Marya dan bersatu oleh lilitan kain putih, diperciki air suci sambil mengucapkan ikrar pernikahan, sehidup semati sampai maut memisahkan.
"Di hadapan Tuhan, Imam, para orang tua, para saksi, aku Elgio Durante, dengan niat yang suci dan ikhlas hati telah memilihmu Marya Corazon Aquino menjadi seorang istri bagiku. Aku berjanji untuk selalu setia kepadamu dalam untung dan malang, dalam suka dan duka, di waktu sehat dan juga sakit, dengan segala kekurangan dan kelebihanmu. Aku akan selalu mencintai dan juga menghormatimu sepanjang hidupku. Aku bersedia menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak yang akan dipercayakan Tuhan kepada kita."
Pria itu berucap dengan penuh penghayatan tinggi dan berkaca-kaca hingga membuat Marya terharu dan meneteskan air mata. Ia mengucapkan janji yang sama, ia menikahi Elgio Durante di usia 17 tahun dan mencintai pria itu dengan sepenuh hati.
Pemberkatan berlangsung khidmat dan cincin pernikahan disematkan di jari-jari yang sempat alami hari yang melelahkan akibat kejahatan pada cinta.
Reinha berdiri di antara Irish dan Claire, dengan keinginan hati kuat untuk bertanya pada Claire, di mana kekasihnya berada. Ingin tahu apa yang pria itu lakukan? Apakah prianya habiskan waktu bersama September dan bayi mereka?
"Jangan menunggu kekasihmu, Nona Reinha!" sapa Irish berbisik condongkan kepala pada Reinha. "Dia tak akan datang sebab si bayi butuh Ayahnya. Aku kagumi pria itu. Lucky Luciano di sana saat Ibu September meninggal, ia begitu peduli saat September pingsan," kata Irish lagi.
Reinha tersenyum kecut dalam hati biarkan Irish bicara sesuka hati. Meski ia terluka dengar kata-kata Irish, gadis itu menyimak Marya dan Elgio Durante seksama. Reinha yakin Lucky akan datang dan mereka akan berdansa sampai pagi.
"September alami kontraksi palsu siang tadi dan tuan Lucky datang dengan segera untuk membawanya ke rumah sakit," sambung Irish lagi ingin buat Reinha makan hati. Kendatipun, Reinha tampak tak menggubris, Irish yakin gadis itu kesakitan di dalam sana.
Reinha terlihat berkaca-kaca saksikan kakaknya yang sangat tampan di depan lengkungan bunga bulat. Elgio mencium Marya dengan sopan. Reinha berdecak. Well, tak ada yang tahu apa yang pria itu lakukan ketika cuma berduaan dengan Marya. Istrinya yang polos itu harus selalu siaga dan waspada pada Elgio Durante sebab Elgio kadang suka menerkamnya diam-diam. Reinha tersenyum bahagia untuk mereka berdua.
"Aku terkejut kau hadir di pernikahan Kakakku, Irish? Hatimu sungguh luar biasa," ujar Reinha manggut-manggut dan melirik Irish. Wanita itu sungguh cantik dan elegan dalam balutan v neck dress creamy sesuai konsep pernikahan.
"Aku diundang oleh kakak iparmu yang jenius," sahut Irish.
"Trims, kau sudah memujinya dengan tulus," balas Reinha bertepuk tangan saat Elgio dan Marya berciuman, Irish menonton dengan pandangan kosong.
"Tentu saja, Marya ringankan pekerjaanku dengan berikan banyak bantuan informasi." Irish terlihat setengah hati dalam pernyataan itu.
"Marya Corazon memang luar biasa dan gadis itu sahabatku, kakak iparku kini," jawab Reinha tersenyum kecil. Konyol sekali, gara-gara Ethan Sanchez, Reinha pernah tak suka pada Marya. Kini mereka bertiga bersahabat dekat, sangat dekat untuk buat kekasih-kekasih mereka cemburui Ethan Sanchez.
"Kau tahu, Irish?! Marya adalah pemegang medali olimpiade Fisika tahun lalu. Ia akan lakukan lagi tahun ini meski sedang hamil bahkan kejeniusannya semakin meroket," kata Reinha terang-terangan memuja Marya yang begitu cantik saat tersenyum malu-malu pada Elgio.
"Hamil?!" tanya Irish seakan baru saja kena lemparan batu danau di wajahnya.
"Em, ya ... kakakku punya pengendalian diri buruk pada Marya. Elgio tak tergoda pada wanita lain tetapi Marya berhasil membuatnya seperti singa lapar, bukan rahasia lagi bagi kami," kata Reinha senang lihat Irish Bella patah hati. "Sekarang kau jadi tahu rahasia dalam keluarga kami. Welcome to Durante Familly," kedip Reinha lagi sengaja buat Irish makin merana.
"Apa kau balas dendam padaku soal September?! Oh ayolah ...."
"Tentu saja tidak. Aku bicara kenyataan manis yang harus kau dengar. Elgio kadang menculik Marya saat gadis itu sedang melangkah tanpa curiga dalam rumah dan menyeretnya ke dalam kamar. Tak heran kalau Marya hamil bahkan belum sampai 2 bulan setelah bertemu Kakak," decak Reinha. "Marya dan Elgio terikat sejak mereka masih bocah. Meskipun kau sangat hebat, kau tak akan mampu kalahkan kekuatan cinta Marya pada Elgio. Kakakku hanya luluh pada Marya dan menyerah padanya."
"Bagaimana denganmu, Reinha?" tanya Irish tidak lagi ingin dengar Reinha bahas tentang Elgio Durante. Wanita itu tampak uring-uringan pada Reinha. Satu keluarga Durante agak aneh.
"September dan kekasihku tak punya hubungan. Satu-satunya ikatan adalah karena ada bayi."
"Lucky Luciano serius urusi September. Ia rela buat kekasih mudanya gundah gulana, aku sungguh respek padanya." Irish mulai lagi, pikir Reinha.
"Tentu saja, ia harus bertanggung jawab pada bayinya Irish, tetapi, Lucky Luciano tak akan menikahi September sekeras apapun wanita itu pasang jebakan. September telah mulai keluarkan trik untuk merayu kekasihku, sangat murahan. Aku percaya Lucky akan mampu atasi," ucap Reinha terdengar antara mual dan muak. "Baiklah, nikmati pesta ini Irish. Aku harus berfoto bersama para pengantinku, sampai nanti."
Reinha tinggalkan Irish saat Marya melambai padanya minta Reinha ikut bergabung, tak ingin dengarkan apapun lagi dari wanita itu. Oh, mengapa Irish bertingkah memancing perseteruan? Keluh Reinha merasa buruk. Ia tersenyum ke kamera, menangis sedih untuk Elgio Durante yang akhirnya menikah dan untuk hatinya yang rindukan kekasih, berpelukan dengan Marya dan berlinang air mata.
"Apakah Tuan Lucky tak datang?" tanya Marya ikut galau. Sebulan ini, Reinha adalah bagian lain dari dirinya. Mereka berbagi hari, berbagi canda dan berbagi loyalitas. Dari Reinha, Marya belajar untuk berani meski itu berarti harus melawan arus. Ia sangat menyayangi gadis itu.
"Ya Tuhan, aku menangis sebab kau akhirnya menikah Marya. Kita telah lalui banyak hal menyedihkan. Terima kasih Tuhan, akhirnya kau menikahi Elgio. Aku tak percaya takdir membawaku padamu."
Mereka berpelukan dan berfoto bersama. Ethan ikut bergabung, mengucap selamat pada Elgio Durante dengan ekspresi datar.
"Aku tak berhasil dapatkan Ibunya, kuharap kau dan Marya punya anak perempuan untuk kunikahi, Elgio Durante," kata Ethan Sanchez adu kepalan tinju dengan Elgio.
"Ya, boleh saja. Silahkan menunggu Ethan. Tetapi saranku, bagaimana kalau kau didik saja adik perempuan Marya? Jika dipoles sikap dan tingkah lakunya, kau mungkin beruntung temukan gadis yang mirip istriku," saran Elgio tak lepaskan matanya dari Marya dan memeluk gadis itu erat. Arumi duduk di tepian danau, mengunyah makanan sambil menendang-nendang air dengan raut kelam.
"Aku lebih tertarik pada adik ipar Marya," sahut Ethan mengedip genit pada Reinha. "Mumpung kekasihnya tak datang, aku akan coba peruntungan, merayunya malam ini. Tetapi sebelum itu, kau akan ijinkan Marya berdansa denganku, Elgio Durante. Aku tak akan macam-macam, masa berlaku cintaku padanya sudah berakhir. Meski nanti kalian berantem akibat masalah rumah tangga yang ribet, aku tak akan menolongnya," sambung Ethan lagi, ulurkan tangan pada Marya. "Aku tak percaya ini, berdansa dengan gadis yang kusukai di hari pernikahannya," keluh Ethan berdecak, kasihani dirinya sendiri.
Marya terkekeh geli. "Sahabat jauh lebih baik untuk kita. Tak perlu ada salah paham dan berantem karena cemburu."
Reinha tersenyum perhatikan kebahagiaan dan keramaian, terus-menerus melirik jam. Hari masih terlalu sedu, ia akan menunggu kekasihnya.
"Anda terlihat sedih, Nona," tegur Carlos. "Apakah kekasih tampan Anda sedang sibuk? Ia tak terlihat di sini?" tanya Carlos lagi.
Reinha mengangguk. "Ya Carl, apakah misimu selesai?"
"Um ya ... mau berdansa denganku?"
"Ayolah," kata Carlos lagi dan mereka berdansa akhirnya. "Berhentilah sedih, Nona! Rautmu buat Irish Bella senang."
"Eh?! Apa kau melihatnya tadi?" Apakah raut sedihnya sangat kentara. Ya ampun, Irish pasti akan berbagi kabar gembira dengan September. Semoga Irish kembali normal dan menjaga martabatnya. Jika ia tak lakukan itu, Reinha akan bikin perhitungan dengannya juga September.
"Ya, semua di sini tahu Anda sedang bersedih."
Reinha tersenyum getir. "Aku bisa apa? Tak ada rahasia untuk aku simpan sendiri."
Elgio kembali berdansa dengan Marya, memeluk pinggang gadis itu dan berdansa lembut.
"Aku mencintaimu, Marya? Bisakah kita kembali ke Durante Land lebih cepat?" tanya Elgio bersinar-sinar.
"Tidak, Sayang. Kita akan berdansa sampai pagi dan duduk di samping api unggun bersama yang lain," sahut Marya mengecup Elgio.
"Sayang sekali. Bunga di kamar bisa layu jika menunggu besok," ujar Elgio cemberut.
"Tak ada besok Elgio, kita tak akan melakukannya lagi," jawab Marya geli.
"Oh apa ini, kau telah jadi istriku sekarang. Baiklah, aku akan coba lagi besok," sahut Elgio mengecup kening istrinya hingga Marya tersipu-sipu.
"Ya Tuhan, mereka manis sekali. Elgio Durante, pria yang romantis," kata Queena saat Elgio berdansa dengan Marya, membelai rambut pengantinnya, mengecup gadis itu berulang kali dan lemparkan kata-kata mesra hingga Marya bersemu kemerahan bak senja di ufuk barat. Mereka berciuman dan Elgio mendekap kekasihnya seakan tak ingin lepaskan Marya bahkan untuk berfoto bersama. Axel melirik Queena yang terpukau pada tingkah Elgio Durante yang sangat romantis. Queena mulai kumat lagi. Apa Queena ingin rambutnya dibelai seperti itu? Oh yang benar saja?!
"Apa kau ingin berdansa Queena? Aku bisa lakukan itu sambil membelai rambutmu," kata Axel Anthony dengan ekspresi; "semoga kau menolak". Mengapa orang bisa sangat mesra terang-terangan di depan umum? Mengapa ia geli lakukan itu? Ia menodai Queena waktu di kamp akibat marah tetapi setelah menenggak minuman keras cukup banyak.
Queena datangi Axel Anthony, memeluk pinggang pria itu dan mengajaknya berdansa.
"Kau sama sekali tak punya nyali untuk lakukan itu, kecuali minum banyak alkohol dan memanas. Aku akan menikahi pria kaku, beruntung aku sangat romantis," kata Queena sedikit berkeluh, ia mengecup Axel hingga pria itu menegang.
"Pequeena, aku seperti keju dalam microwave."
"Kau ternyata sangat kikuk, Axel Anthony. Ya ampun, betapa bodohnya aku! Harusnya aku merayumu di kamp. Kau terlihat seperti bajingan sejati saat menculikku dan memaksaku berserah padamu," kata Pequeena agak menyesal.
"Aku minum banyak waktu itu. Dalam keadaan waras, aku ragu akan bertindak sembrono," kata Axel Anthony jujur. Ia mengejar gadis itu ke hutan, berlari dalam mabuk dipenuhi hasrat pada Queena.
"Ya, jika aku tahu lebih awal, aku akan menikam lehermu dengan spoit bius dan menodai-mu lebih dulu sebelum kau lakukan itu padaku," sahut Queena terus terang hingga Axel kesedak liurnya sendiri, bayangkan Queena menodainya. Apa yang wanita itu coba bicarakan? Queena terlihat seperti seorang Mafia Queen saat bicara begitu. Axel berdecak. Apakah bayinya seorang lelaki? Apakah akan tumbuh jadi bajingan seperti Lucky Luciano sebelum tobat? Sebab Queena sangat-sangat terampil menggodanya. Oh tidak, jangan sampai!
Axel terus-terusan tercengang pada Pequeena. Pequeena bangun di pagi hari, sediakan sarapan, umum dilakukan oleh seorang wanita. Tetapi, sudah beberapa pagi sejak ia membawa Queen pulang, wanitanya itu punya cara unik untuk bangunkan ia di pagi hari. Pequeena akan oleskan busa milk cleanser ke seluruh wajah, memijat pelan sambil ciumi bibirnya. Axel benar-benar dibuat meleleh. Hubungan mereka berkembang pesat seperti sebaran spora di musim hujan, tumbuh dengan manis. Keputusan tepat menculik Queena.
"Oh, terus terang Axel, aku sedih melihat Reinha," kata Queena pelan saat perhatikan Reinha yang cantik, tak ingin lama-lama berdansa dengan Tuan Carlos. Gadis itu lantas mengobrol dengan Claire tetapi terlihat tak bersemangat sebelum akhirnya masuk ke dalam pondokan.
"Well, tiap orang punya masalah masing-masing. Kau hampir menikahi Lucky Luciano. Aku masih merasa buruk. Jika itu terjadi, aku mungkin akan membunuh Lucky dan menculikmu sekali lagi," ujar Axel. "Apakah berandalan itu hamili semua wanita yang ia tiduri? Itulah mengapa, seorang pria tak boleh kelewat romantis."
"No no no, ia mungkin bejat di masa lalu, tapi Reinha Durante buatnya bertobat! Kau tak boleh kasar pada Lucky, dia sangat membantuku saat kau tak ada," ujar Queena tak suka. "Ngomong-ngomong, kau terlihat tampan dengan wajah berkilau. Aku akan pakaikan kau masker wajah dan rapikan alismu. Oh aku tak sabar ...."
"Rapikan alis? Maksudmu mencabuti alis mataku?" tanya Axel bergidik ngeri spontan melirik alisnya.
"Ya," kata Queena menyusuri alis pria itu sampai di matanya. "Kau punya bola mata innocent tetapi alis matamu terlalu tebal. Akan kuhilangkan mereka besok."
"Jangan coba-coba Queena! Atau aku akan ...."
Membungkam Axel hingga diam.
Sementara Reinha pergi ke belakang pondokan, perhatikan raut malam hutan-hutan pinus, gelap dan mencekam, persis seperti hatinya. Di dalam sana, suatu waktu mereka pernah berciuman dengan panas dibalik batu. Mereka lalui banyak hal berdua, hal romantis yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya akan dilakukan bersama Lucky Luciano. Apakah ia akan bertahan saat Lucky mengambil alih tugas sebagai pria siaga untuk wanita dari masa lalunya yang sedang mengandung. Oh ini buruk sekali. Di tengah keramaian ia merasa sepi sendiri memikirkan pria itu, merindukannya.
"Wah, lihatlah dia, merenung sendirian, terlihat rindukan kekasihnya setengah mati tetapi sangat nyaman berdansa dengan pria lain?"
Lucky Luciano muram berdiri di ambang pintu. Reinha berbalik cepat tak mampu sembunyikan rona gembira. Sedih samar-samar pergi. Dalam balutan jas hitam hitam, man in black, dan bercukur rapi; dia benar-benar sangat tampan.
"Dan aku akan pergi dengan pria lain jika kau tak datang malam ini," ancam Reinha merekah senyum. "Aku akan pacaran dan lupakanmu," kata Reinha lagi.
Lucky mendekat, meraih gadis itu ke dalam pelukan dan terbenam di lehernya.
"Kau tak akan lakukan itu. Kita berdua sama-sama tahu, di mana hati kita digenggam? Apakah kau berpikir aku jatuh pada September hingga kau sangat suram? Tak akan terjadi, tak akan pernah. Hatiku sangat gersang dan hampa tanpamu. Kau adalah tetesan bening, penghalau kekeringan. Aku selalu kembali padamu dan rindukanmu tiap detik. Sungguh rindu berat, bertahan padanya lebih terpukul."
Lucky menaruh Reinha di pangkuannya dan memeluk gadis itu, nikmati lagu dan gelapnya hutan belakang pondokan.
"Apa bayinya sehat, Lucky?" tanya Reinha mendekap kekasihnya erat, menikmati aroma glacier yang sangat ia rindukan. "Irish bilang ada kontraksi tadi siang."
"Ya ... tapi bayinya baik-baik saja." Berpikir betapa langka seorang Reinha Durante dan ia tak habis bersyukur miliki Reinha.
"Apa kamu temani September untuk pergi ke rumah sakit dan bertemu dokter kandungan? Apa kau dengarkan detak jantung bayi? Banyak pasangan lakukan itu?"
Reinha terdengar penasaran dan gundah gulana dalam waktu bersamaan, pergi ke balik punggung pria itu dan tak ingin dengar jawaban. Ia malah hampir menangis.
"Kami bukan pasangan. Pasanganku adalah dirimu, Enya. Francis pergi bersamanya dan mengirim detak jantung si bayi padaku. Aku akan lakukan hal-hal seperti itu hanya denganmu nanti. Aku tak bisa terus temui September dan bertanggung jawab secara emosional padanya, aku punya seorang kekasih yang berharga. Lagipula, aku sibuk di kantor, kau tahu Double L mendapat atensi luar biasa dari masyarakat. Aku Memang ke rumah sakit antarkan September tetapi sisanya diurus Francis. September sangat ketakutan pada Francis, entah apa yang dilakukan pria itu padanya? Mereka punya perjanjian yang tidak kuketahui."
"Kau tak tanya Francis?"
Lucky menggeleng. "Aku akan tanya dia nanti. Ada waktu besok, Enya?! Aku ingin lakukan sesuatu denganmu?"
"Apa itu?"
Sesuatu menurut Lucky Luciano pastilah yang tidak mudah ketebak oleh Reinha. Apa itu?
"Entahlah. Aku belum tahu apa itu? Aku ingin habiskan waktu bersamamu. Trims sudah jadi gadisku yang sangat luar biasa hebat. Jangan lepaskan aku, Enya!" Mata pria itu berpijar redup di bawah lampu belakang pondokan menatap kekasihnya yang bercahaya seperti peri.
"Bisakah kita berdansa sampai pagi, Lucky?"
Ponsel Lucky berdering. Pria itu mengambil ponsel dan ada nama "The Baby" di sana. Napas Reinha tercekat di kerongkongan. Ia bahkan belum 5 menit bersama dengan Lucky.
"Angkat saja, Lucky. Mungkin itu penting?" Reinha melirih meski ingin pria itu tinggal. Bagaimana jika September butuh bantuan?
Lucky menolak panggilan dan matikan ponsel. Francis ada di sana dan wanita itu tahu Lucky akan bersama Reinha malam ini di pernikahan Elgio Durante. September mulai mengusik.
"Aku telah lakukan apa yang harus kulakukan, Enya. Tak bisa lebih banyak lagi," sahut Lucky tegas. "Aku punya seorang lain yang sangat berharga bagiku."
"Kau bisa pergi jika itu panggilan mendesak, kita bisa bersama besok."
"Tidak. Aku rindu padamu dan akan habiskan malam bersamamu di samping api unggun. Kau tahu Enya, jauh darimu, aku seperti dedaunan gelap di sana, gulita tanpa cahaya, kering tanpa embun. Aku dikutuk oleh banyak wanita."
"Kutukan?"
"Terbelenggu padamu."
***
Semoga suka ya .... Ada banyak karakter di Chapter ini sebab ini adalah pernikahan seseorang.
Tinggalkan komentar ya ....