Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 132 Unlucky Condition ....



Thomas Adolfus mengernyit saat temukan Lucky Luciano hadir di meja sarapan dengan bekas luka memanjang di bawah lehernya. Melihat reaksi Ratruitanae dan Cataleia yang saling mengekor mata, Thomas Adolfus punya kesimpulan. Kedua Puterinya telah menyerang Lucky Luciano.


"Ada apa dengan lehermu, Tuan?" tanya Thomas melirik tajam Ratruitanae juga Cataleia yang terlihat cemas.


"Bukan apa-apa, aku dan Francis bertarung semalam akibat tak bisa tidur. Ini tidak di sengaja," sahut Lucky melambai tangan depan wajah.


"Cukup mencurigakan," balas Thomas melirik pada kedua puterinya yang tahan napas.


"Kurasa kita perlu bicara sesuatu yang sangat serius, Thomas," kata Lucky Luciano selepas sarapan. Hanya makan sekeping roti tawar dari plates yang sama dengan Thomas sebab ia curigai dua Puteri Thomas.


"Sepertinya ini tujuanmu berkunjung, Tuan Lucky Luciano?" tebak Thomas.


Sebelum sempat bicara, Oriana terlihat lebih dulu mengambil alih percakapan.


"Tuan Thomas Adolfus, aku minta maaf sebelumnya tentang artikel bodohku soal kejahatan kemanusiaan yang Anda lakukan di Pesisir Timur. Aku merilis artikel berdasarkan temuan bukti, laporan saksi tentang keterlibatan Anda dalam memberi dukungan, izin logistik - finansial, terhadap perekrutan anak-anak di bawah umur. Aku yakini kini, temuan dan keterangan saksi adalah bukti palsu untuk lengserkan Anda. Aku sesali keputusanku untuk merilis artikel itu tetapi sungguh aku bersyukur lantaran aku akhirnya diculik dan tahu kebenaran, kondisi yang terjadi di sini," kata Oriana panjang.


"Ya ya ya, Nona Oriana. Konflik sebenarnya tidak perlu terjadi jika Pemerintah adil pada Pesisir Timur. Jika saja, kami diijinkan mengelola sumber daya alam secara masif di bawah pengawasan ketat pemerintah untuk kesejahteraan kami dan juga negara ini, Anda tahu, konflik tak akan terjadi. Tetapi pemerintah seolah-olah mengeruk harta kami untuk kesejahteraan pihak lain dan biarkan kami tetap terbelakang. Bukankah ini tidak adil? Tinggal menunggu waktu, perang terjadi di antara suku oleh sebab keinginan untuk kuasai harta karun di tanah ini. Konflik mungkin makin meluas dan memburuk ketika tentara nasional ikut terlibat di antara kami. Bisa jadi melebar jadi pertempuran dan pertikaian antar suku dan pemerintah turunkan militer yang akhirnya terlihat seperti akulah penjahat dan harus dibasmi."


"Aku mengerti. Biarkan aku pergi dan aku berjanji akan berjuang bersama Anda."


"Nona, bebaskan dirimu bukanlah perkara mudah. Kami telah lalui negosiasi panjang dan tak bertemu jalan keluar. Aku ingin tebusan, salah besar jika berpikir aku membeli senjata untuk menyerang pemerintah. Pesisir Timur adalah daratan luas dan 200 ratus suku hidup di pedalaman-pedalaman ini, menjaga kelangsungan generasi tiap hari dari pembantaian oleh pihak-pihak tertentu yang inginkan tanah ini. Tanah-tanah kami dieksploitasi dengan liar ditambah pemerintah yang tak bisa mengerti, lihatlah saja contoh paling simple, betapa kami menderita tanpa listrik sementara kami punya triliunan dollar di bawah tanah yang kami pijak."


"Aku paham, kau akan kembalikan aku dan aku akan menulis kisah-mu! Kita bisa buat segala hal jadi mudah dan aku yakin keinginan Anda akan dapatkan jawaban setimpal," rayu Oriana. "Aku akan bantu Anda dapatkan popularitas bagus alih-alih dianggap sebagai pelaku kejahatan dan pelanggar Hak Asasi Manusia."


"Tak semudah itu!" Hardik seseorang dari luar. Ia masuk dengan langkah angkuh seperti seekor banteng masuki arena laga dan saat melihatnya, yang hadir di ruangan itu membungkuk. Oriana tampak tak suka ketika melihat sang pria masuk. Keduanya bertatapan sangat tajam. Carlos mencerna hal itu dan melihat konflik mendalam di antara keduanya, dugaan Carlos, si pria yang baru datang adalah pria yang menculik Oriana dari dermaga beberapa waktu lalu.


"Magnolio ..., kau di sini?" tanya Thomas segera berdiri menyambut Puteranya.


"Ini putera tertua-ku, Magnolio Jose," kata Thomas dan Magnolio amati Oriana tajam. Mata hitam si pria menusuk pada Oriana, dan tingkahnya hampir berhasil memancing Carlos untuk menerjang dan patahkan leher pria itu.


"Pemerintah tak akan bayar berapapun yang kau minta," ujar Oriana balas dengan tatapan sengit, menukik pada Jose. "Negara sedang krisis."


"Kau bukan lagi prioritas, Oriana Fritelli. Aku akan kirimkan rambut, kuku dan darahmu pada kekasih bodohmu dan katakan kau sudah mati. Kau lihat, dia bahkan tak datang mencarimu," sahut pria itu penuh hinaan hingga Oriana bergetar oleh marah. Tetapi Oriana tak mudah digertak. Sedang Carlos tampak tenang. Wanita yang disukainya tampak sangat emosional pada pria pemberontak di hadapannya. Sesuatu pasti terjadi di antara mereka, pikir Carlos murung.


"Baiklah, aku tak begitu peduli, kau boleh sandera aku sepanjang yang kau suka. Kau boleh mutilasi aku seperti keinginanmu dan jika kau sudah selesai denganku, permusuhan ini akan terus berlangsung. Kau akan lahirkan bayi-bayi hanya untuk mengisi pikiran mereka dengan amarah, melatih mereka berperang untuk dendam dan lakukan itu selama berabad-abad!"


"Sayang sekali, kau mungkin benar."


"Aku bicara dengan bahasa yang mudah kau pahami, kau akan lepaskan aku dan aku akan menolongmu."


"Jangan berharap pergi dari sini semudah yang kau inginkan."


"Apa maksudmu Magnolia Jose tentang Nona Oriana bukan lagi prioritas?" serang Cataleia pandangi kakak lelakinya.


Lucky melirik Francis waspada. Sesuatu yang buruk akan terjadi, itu pasti.


"Aku menculik 18 orang tim ekspedisi dari base camp mereka di hutan selatan," kata Magnolia dalam satu tarikan napas dan semua yang hadir menahan napas tercekat di tenggorokannya.


"Magnolia? Apa maksudmu?" seru Ratruitanae gusar. "Siapa mereka?"


"Harusnya kau tahu lebih awal bahwa ada sekelompok ilmuwan masuki pesisir timur, wilayahmu sendiri. Mereka adalah gabungan arkeolog yang dipandu anak kepala suku yang berkhianat dan Arkeolog serta para peneliti Sumber Daya Alam dan Mineral. Mereka mengincar tanah kita. Beberapa di antara mereka adalah warga asing, Denmark, Jerman dan Inggris. Kita akan disorot dan mau tidak mau pemerintah akan penuhi tuntutan kita. Saatnya pembebasan wilayah dan kemerdekaan kita, Ratruitanae," kata Magnolia Jose dengan rasa bangga yang dimiliki seorang prajurit sejati.


"Magnolia Jose?! Kau bahayakan suku-mu sendiri!" seru Thomas. "Mereka mungkin hanya ilmuwan biasa untuk tujuan penelitian."


"Cukup sudah, Ayah! Kita akan berjuang sampai mati untuk pertahankan tanah kita dari kapitalisme. "Ratruitanae?!" panggil Magnolio menatap kakaknya minta pendapat.


"Jangan sakiti mereka Magnolia Jose, kau tahu bahwa pasukan elite Inggris akan habisi kita. Harusnya bicarakan denganku sebelum kau ambil keputusan!" Wanita itu marah pada adiknya tetapi ia terlihat mencari jalan keluar.


"Kau terlalu lamban bertindak dan kita kehabisan waktu! Aku telah ikuti mereka selama 3 bulan," sahutnya cepat. "Kekayaan bumi ini telah terakses satelit, tinggal tunggu waktu, banyak orang asing kemari dan kau akan lihat pembantaian tak berkesudahan. Apa aku salah Ratruitanae?"


"Magnolia, kurasa kau tahu apa yang harus kau lakukan!"


"Ya, semua wanita dan anak-anak akan diungsikan. Tiga pria yang kau anggap teman itu bisa jadi mata-mata Carlos Adelberth," serang Magnolia pada Lucky.


"Magnolia, jaga ucapanmu!" bentak Thomas.


"Aku telah memeriksanya, dia tak kemari dengan tujuan licik," sahut Ratruitanae.


"Ya, Kakak benar," tambah Cataleia dan Magnolia pandangi kedua saudarinya mengerut.


"Kau salah sobat, Carlos Adelberth adalah pria yang datang di hari pernikahanku dan menangkapku di hadapan istriku. Kita punya dendam yang sama," sahut Lucky tenang. "Boleh kuberi saran, Ratruitanae?"


"Kau tak akan dengarkan orang asing, Ratruitanae!" seru Magnolia menolak keras.


"Katakan!" Abaikan Magnolia semakin buat Magnolia Jose geram tetapi hanya diam.


"Jika adikmu menculik orang asing maka urusanmu bukan lagi dengan pemerintah kita. Kau tahu bahwa Denmark dan Inggris punya pasukan elite terbaik di dunia? Mereka akan segera kemari dan tidak akan buang-buang waktu untuk operasi senyap. Anda bisa tahu kemana akhirnya, Anda seorang prajurit."


"Saranku, lepaskan para sandera saat perundingan dan biarkan Oriana mengekspos keinginan kalian pada Dunia Internasional dan kalian akan dapat dukungan penuh untuk merdeka. Aku yakin Carlos Adelberth sedang ambil tindakan saat ini."


"Jangan dengarkan dia, Ratruitanae!"


"Periksa barisan depan, aku yakin pasukan perintis sedang dikirim kemari untuk mulai bersihkan lintasan," tambah Lucky dan menoleh pada Thomas. "Jangan tanya kekuatannya, kau tahu, jika kau menculik warga asing?"


"Magnolia! Pergilah dan segera ungsikan seluruh warga!"


Magnolia pergi dari sana dengan wajah kecewa. Seakan ucapan Lucky Luciano benar, seorang prajurit datang dengan wajah cemas.


"Tuan, 100 orang prajurit perintis 360 km dari posko kedua, terdeteksi. Pesawat tanpa awak pindai lokasi ini."


"Eagle bawa semua orang ke tempat persembunyian. Secepatnya!"


"Belum terlambat untuk bebaskan sandera, Ratruitanae." Lucky Luciano mendesak.


"Jangan ikut campur Lucky Luciano, pergilah selagi bisa," balas Ratruitanae tajam.


"Aku akan menolongmu," kata Lucky pandangi wanita itu serius. Carlos tampak ingin bicara tetapi mereka telah sepakat akan biarkan Lucky jadi negosiator.


"Kau pasti menuntut balasan besar."


"Ya, aku akan bawa Oriana bersamaku. Sebagai gantinya, aku akan kirimkan senjata seperti yang kau inginkan tetapi kau benar-benar harus berjanji bahwa kau tak akan menyerang pemerintah."


"Thomas? Kurasa aku tak bisa bicara dengan Puterimu."


"Keputusannya sekarang mutlak, Lucky!"


"Thomas, pemerintah menutup akses masuk ke Pesisir Timur dan melarang pengiriman senjata sementara para penambang liar berkeliaran di sini dengan senjata di tangan bersiap untuk membunuh keluargamu satu-persatu. Apakah Oriana bermanfaat jika di sandera dan tak hasilkan apapun?"


"Bagaimana cara kau kirimkan kami senjata? Sedang Anda kemari tak bersenjata karena razia?"


"Carlos Adelberth yang akan urusi itu, nanti! Aku berjanji, Ratruitanae." Lucky berbalik pada Oriana Fritelli. "Nona Oriana?"


"Biarkan aku bebas dan aku akan lakukan sesuatu untuk Pesisir Timur. Aku akan pastikan Carlos Adelberth mengirim bantuan sebagai ucapan terima kasih."


"Jadi, Dugaanku benar, Carlos Adelberth mengirim kalian?" curiga Ratruitanae.


"Tidak, aku akan buat penawaran menarik dengan pria itu!" balas Lucky Luciano.


Ratruitanae amati Lucky Luciano mulai menimbang. Thomas serahkan sepenuhnya pada Ratruitanae dan percaya pada keputusan gadis itu.


"Baiklah," angguk sang wanita, "tetapi jika kau coba-coba berbohong Lucky Luciano, aku akan menemukanmu!" ancam Ratruitanae tajam.


"Kurasa, kita berteman baik, Nona. Saranku, bebaskan tawanan yang kalian sandera. Aku tak ingin melihat pesisir ini hancur oleh pesawat tempur canggih milik Inggris atau Denmark. Belum terlambat, Nona!"


Lucky Luciano dekati Thomas dan pamitan.


"Kami pergi, Thomas. Aku akan kembali kemari bersama istriku saat kondisi tanah ini kondusif. Dia pasti menyukai belantara indah ini."


"Baiklah, Lucky Luciano. Pesawat akan antarkan kalian sampai bandara. Sering-seringlah berkunjung kemari, Lucky!"


Lucky mengerut. "Ya, ya, baiklah."


Mereka akhirnya pergi dari desa Thomas. Cataleia mengemudi dengan tenang lewati jalanan bebatuan. Mobil lain di belakang mereka dengan tentara bersenjata.


Sebuah pesawat Twin Otter DHC- 6 bersiap di landasan berumput. Cataleia antarkan mereka. Carlos segera turun dan mengawal Oriana tetapi belum setengah jalan menuju pesawat. Satu tembakan meletus, diikuti tembakan lain. Para tentara Thomas terkejut, ambil posisi dan mulai balas menembak.


Baku tembak terjadi sementara pesawat sedang bersiap untuk segera lepas landas. Carlos menggiring Oriana kembali ke balik mobil sebab jarak ke pesawat terlalu jauh. Cataleia bergerak cepat buka kap mobil dan mengambil senjata.


"Alberth, kau duluan bersama Nona Oriana. Aku dan Francis akan lindungi kalian. Bawa dia dengan selamat!"


Sementara Lucky dan Francis akhirnya ikut menembak sebab penyerang sungguh banyak.


Carlos terlihat ingin membantah tetapi Lucky menatapnya tajam.


"Baiklah, berikan aku senjata juga, Bos!"


Carlos menggiring Oriana sambil menembak dan berhasil amankan Oriana. Ia mulai ikut menembak.


"Siapa mereka Cataleia?" tanya Lucky yang berlindung di balik mobil di antara bising peluru.


"Aku tak tahu, kurasa salah satu suku yang inginkan Nona Oriana atau para penambang liar. Pergilah, Tuan Lucky, kami akan lindungi Anda!" desak Cataleia.


Seorang prajurit melapor. "Nona, kita telah dikepung."


"Siapa mereka? Bagaimana bisa terjadi? Mengapa kalian lengah?"


"Belum bisa dipastikan, siapa mereka, Nona. Seseorang khianati kita!"


"Lindungi para tamu!" Berbalik pada lucky. "Pergilah!"


"Ayo Francis!" Lucky dan Francis segera berlari ke pesawat sambil menembak. Cataleia menjaga mereka dengan senapan Laras panjang di tangannya. Namun, hujan peluru terjadi. Saat Lucky berbalik, Cataleia telah tertembak dan kemudian tak diduga, peluru melesat, Francis tertembak.


"Akkhh ...." Francis pegangi lengannya yang tertembak dan satu tembakan lagi perut bagian bawahnya tertembus timah panas.


"Francis?!" seru Lucky saat pria itu meluruh ke rerumputan. Carlos semakin gencar menembak.


"Bawa Francis, Lucky! Musuh terlalu banyak!"


Para tentara Thomas telah banyak tertembak mati dan Cataleia telah tumbang. Peluru terus mendesing di antara seruan gegap gempita untuk terus menyerang.


"Francis?! Terus berjalan."


"Pesawat tak bisa terbang jika serangan terlalu banyak," teriak pilot dari dalam.


"Carlos bawa Francis! Aku akan menahan mereka sampai pesawat lepas landas!" seru Lucky melihat peluang yang tersisa.


"Tidak, mari pergi bersama!" tolak Carlos.


"Pergilah sekarang! Harus ada yang tinggal untuk menahan mereka. Pergilah! Atau pesawat ini akan ditembaki hingga meledak. Aku akan cari jalan keluar dari sini. Bawa Francis, dia terluka parah Carlos dan harus segera dapatkan pertolongan."


Lucky mendorong tubuh Francis ke pesawat dan memaksa Carlos lakukan pertolongan pertama untuk selamatkan Francis.


"Bos, aku akan tinggal denganmu," kata Francis tersendat-sendat menahan luka dengan tangannya yang bebas.


"Aku akan ikuti kalian lewat sungai. Bawa Francis, Carlos! Percayalah, aku harus kembali untuk bawakan sejuta kembang. Reinha akan meraih medali emas olimpiade Kimia. Aku telah janji untuk datang di hari itu," teriak Lucky Luciano yakinkan Carlos.


Lucky mendorong penutup pesawat dan pilot segera terbangkan pesawat sementara Lucky kembali ke balik mobil. Cataleia telah dibawa beberapa tentara Thomas yang berhasil lolos dari peluru, berlindung dibalik hutan. Lucky memeriksa mobil temukan beberapa peluru.


Ia mulai tembaki penyerang yang berusaha jatuhkan pesawat. Pria yang tertinggal itu terus menembak dengan cepat hingga Twin Otter take off, terbang tinggi membelah angkasa, berharap Francis segera dapatkan pertolongan, lupa pada sumpahnya untuk menjaga diri dengan baik demi seseorang. Francis yang terluka parah buat Lucky Luciano meradang.


Sementara Carlos memeriksa luka Francis dibantu Oriana yang segera mencari kasa untuk menahan luka pria itu. Dari jendela pesawat, Lucky Luciano terlihat dibalik mobil sibuk lumpuhkan lawan yang coba jatuhkan pesawat. Carlos kembali pada Francis, memeriksa denyut nadi Francis.


Pesawat mengudara makin jauh dan ketika Carlos menengok ke landasan, Carlos langsung tertunduk lemas. Mobil tempat Lucky Luciano bersembunyi meledak tinggal puing-puing dan asap hitam tebal membumbung tinggi.


"Enya, sepertinya keberuntunganku habis ...."


***


Wait Me Up!!!


Terima kasih untuk dukungannya pada Heart Darkness ....