
"Kau absen hari ini?" tanya Reinha heran pada Marya yang terlihat sangat kasual dengan celana jeans, kaos dan jaket. Ia juga memakai sneakers.
"Ya, kami akan pergi ke suatu tempat."
"Baiklah. Nikmati kencanmu, Marya. Terima kasih untuk semalam. Aku benar-benar bisa mengandalkanmu."
"Tetapi itu yang terakhir, Reinha." Marya peringatkan Reinha dan dibalas tangan terangkat "Ok" oleh Reinha.
Elgio dan Marya naik mobil sebelum mentari meninggi di Durante Land ke sebuah tempat pertapaan. Mereka terus saja jatuh cinta satu pada yang lain tak sisakan ruang sedikitpun kecuali untuk rasa-rasa manis setara cinta dan kasih sayang. Selalu ada getaran ditiap lirikan dan tatapan, berlangsung tanpa jeda.
Mereka sampai di sana ....
Di lembah sebuah pedalaman di antara lebat hutan, terbenam sebuah pemukiman kecil, kira-kira 30 rumah tua dan kuno mengapit dengan pertapaan di ujung ladang luas dan kastil tegak di puncak perbukitan, berdiri kokoh, diselubungi kedamaian.
Telaga mengalir tenang membelah rerimbunan menuju ke hutan lainnya di rangkaian bukit yang dihuni oleh pepohonan oak dan maple. Pemukiman di mana, tangan nakalmu dididik tak boleh menyumbang plastik pada alam dan dilarang keras mencemari keluguan dan kemurniannya. Kamu hanya boleh berkunjung, diperiksa dengan ketat di portal masuk pemukiman, mana tahu, kamu membawa sesuatu yang merusak tatanan kehidupan di sana. Hebatnya mereka memelihara kehidupan dengan baik, mungkin satu dari kehidupan kuno yang tersisa di bumi sedang lainnya telah ternodai. Daerah dengan bahasa diam, tanpa kemarahan dan bingar bingar, tanpa kebobrokan tingkah laku. Tak ada kata yang mampu mengilustrasikan dengan cukup bagus keindahan yang dipertontonkan kecuali dalam dua kata, Surga Dunia.
Melangkah melalui plot-plot sejarah arsitektur menawan, didesak oleh kedamaian batin, Elgio menggenggam tangan mungil Marya dalam kantong mantelnya, menyusuri setapak yang seakan-akan mengajak mereka hanya untuk diam dan mengheningkan cipta. Tempat yang tenang itu tak ada bising deru mesin atau suara klakson bahkan dari mesin pemotong rumput, tak ada kendaraan bermotor yang melintas dan mengebut. Hanya ada kesunyian di atas kesunyian.
Pengunjung dibatasi. Seorang reporter wanita bicara di depan kamera terlihat meliput semacam berita dokumenter tentang perjalanan penuh meditasi dan refleksi diri. Ia terlihat persuasif dan penuh percaya diri ditiap kata-katanya.
Di ujung jalan menuju gerbang kastil, di sebelah Barat menuju perempatan Desa Tua, menjelang siang, seorang pria tua bertopi sibuk menggerakkan pensil konte di jemarinya yang mulai keriput menggurat alur sketsa wajah di atas kanvas. Gerakannya berhenti sebentar saat mata rabunnya setajam belati merekam citra wajah seseorang yang duduk di bangku taman yang tak jauh darinya. Ia kemudian kembali menari di atas permukaan kanvas.
Pria tua berjuluk Al Siva itu dengan gemulai, jemarinya melintasi benak hasilkan sebuah pigura yang disebut-sebut, mahakarya. Bukan mahakarya biasa sebab ia dianugerahi bakat untuk melukis raut seseorang, misteri pada raut tersebut termasuk masa depan jodoh seseorang. Harmoni dari meditasi dan pertapaan panjang, iman dan perbuatan, mungkin, cara ia diberkati dengan bakat itu. Ia menerima upah seberapa saja, tak menuntut, ia hanya seorang pelukis sejati.
"Duduklah, Honey! Aku ingin melihatmu dalam lukisan tetapi kita tak benar-benar tahu apa yang akan pelukis itu hasilkan. Terkadang ia melukis jodoh alih-alih wajahmu," pinta Elgio.
"Mengapa bukan kita berdua?" tanya Marya.
"Tidak, aku ingin lukisan wajahmu."
Pria itu pergi ke bangku taman perhatikan Marya. Di tengah kedamaian, Marya yang lembut dan rapuh, berwajah kuning pucat dan berambut cokelat tua, yang tergerai; begitu pas dengan tempat ini. Elgio tak lepaskan mata dari gadis itu meski hanya untuk berkedip. Sedang Marya duduk kikuk sementara jemari si Pak Tua terus menari-nari di atas kanvas. Tak butuh waktu lama bagi Pak Tua untuk melukis.
"Kami akan ambil hasilnya nanti, Tuan. Kami akan berkunjung ke biara terlebih dahulu," kata Elgio pelan.
Si pria tua mengangguk dan mulai melukis lagi, si reporter yang tadinya meliput berita, yang kemudian duduk dengan anggun di kursi. Elgio kembali menggandeng Marya, mereka pergi menemui Suster Zelinda.
"Padre Pio menghubungi kami bertanya, mungkinkah saya bisa memasak rendang?Saya orang Indonesia satu-satunya di wilayah ini. Ia memberitahu saya, seseorang sangat ingin makan rendang dan kebetulan saya dibekali rendang kaleng oleh sahabat saya ketika akan kembali kemari. Sungguh tersanjung Anda menyukai Rendang, Nyonya."
Suster Zelinda berparas sangat Indonesia dengan keramahan orang Indonesia yang tiada dua, tak berhenti tersenyum penuh ketulusan. Ia bicara dengan sangat sopan membuat Marya merasa nyaman sebab merepotkan orang lain.
"Anda sungguh murah hati, Suster," kata Elgio membalas ketulusan wanita berkerudung itu.
"Anda bisa memasak Rendang gunakan bahan baku daging kambing atau domba selain sapi, Nyonya. Gunakan teknik recheado (meramu bumbu dan mencampurnya dengan daging) lalu buisado (merebus) hingga bumbunya meresap. Orang Indonesia memasak daging dalam coconut milk dan dimasak hingga bumbunya meresap."
Suster Zelinda berkaca mata dan bicara fasih menjelaskan resep membuat Rendang dan Marya yang sangat tertarik mencerna dengan baik. Gadis itu terlihat ingin cepat-cepat kembali ke Durante Land, menangkap seekor domba dan membuat Rendang meskipun ia telah memeluk dua kaleng Rendang.
"Terima kasih untuk kebaikanmu, Suster."
Mereka meninggalkan Suster Zelinda setelah bertukar nomer ponsel. Marya berbinar-binar. Ia menyukai hari ini untuk Rendang, Elgio dan perjalanan penuh suntikan energi positif dari semesta.
"Belum hamil saja, ngidamnya aneh apalagi nanti jika benaran hamil?" Elgio menggerutu tanpa sadar.
"Apa kau mengatakan sesuatu, Elgio Durante?" tanya Marya menengok Elgio.
"Oh ... apa aku bilang sesuatu?"
"Ya, kau terdengar mengeluh."
"Aku menyukai perjalanan bersamamu ini, Marya."
Elgio menautkan jemari mereka dan memeluk Marya di tengah-tengah jalan, di antara keheningan paling syahdu yang pernah mereka hirup. Ia menyukai perjalanan sejuk ini dan akan membawa Marya nanti setelah menikah. Mereka susuri setapak kembali untuk mengambil lukisan Marya.
"Kau tak ingin dilukis?" tanya Marya. "Aku akan menyimpannya sebagai kenangan."
"Apa satu majalah penuh fotoku belum cukup untuk kau pandangi tiap malam? Jika kau ingin memujaku, kau bisa datang ke kamarku dan menatap aku sebanyak yang kau mau."
Samar semburat tersipu mampir di raut muka Marya, Elgio tahu ia sering ketiduran dengan katalog wajah Elgio Durante padahal ia melihat pria itu sepanjang hari.
"Elgio, aku akan membeli minuman ... bisakah kamu duluan ke sana?"
Marya mengangguk ke arah sebuah kedai konvensional, satu-satunya kedai yang ada di sana.
"Baiklah."
Mereka berpisah puluhan langkah, Marya memilih minuman dan tertarik membeli makanan. Kagumi minuman dan makanan yang sepertinya terkemas dari material yang mudah terurai. Sementara Elgio menyodorkan sejumlah uang pada Pelukis Tua, berbasa-basi, mengucap terima kasih dan mengambil hasil sketsa.
"Itu punyaku ... " seru seorang wanita tiba-tiba merebut hasil lukisan dari tangan Elgio.
"Eh?!" Elgio terkejut dan keheranan. Ia berbalik dan temukan wanita, si reporter menatapnya kesal. "Anda mungkin salah, Nona." Elgio meminta kembali hasil sketsa dari tangan si wanita.
"Ini punyaku Tuan ... " katanya lagi menolak berikan pada Elgio.
"Lukisan itu punya istriku. Bisakah kita lihat bersama?!" Elgio mencoba bersabar pada si reporter yang tadinya duduk di bangku untuk dilukis setelah Marya.
"Ini pu-nyaku," katanya mulai ragu. Ia melirik hasil lukisan, pada pelukis yang masih fokus melukis sepasang kekasih.
"Bisa perlihatkan?"
Si wanita enggan mulanya, ia menyodorkan lukisan dan wajah Elgio terlihat di sana. Elgio tersenyum penuh kemenangan.
"Bagaimana bisa ini punyamu sedangkan ini adalah lukisan wajahku? Aku bersama kekasihku tadi, ia sedang membeli minuman. Aku meminta melukisnya tetapi hasilnya adalah wajahku."
Elgio kegirangan sebab kekasih masa depan Marya adalah dirinya. Berbeda dengan Si reporter yang tampak cemberut sebab ia telah salah alamat.
"Ini hasil lukisan punya Anda, Nona. Yang tadi itu punya gadis sebelum Anda." Pak Tua melerai keduanya. Ia menyodorkan amplop cokelat pada si reporter. "Anda bisa lihat nanti dalam perjalanan pulang, kekasih masa depan Anda."
Si wanita membungkuk minta maaf berulang-ulang pada Elgio dan pergi dari sana dengan wajah malu. Ia memegang erat amplop tua di tangannya seakan tak sabar ingin melihat siapa pria di dalam amplop cokelat itu. Jadi, ketika ia melongok ke dalam amplop, matanya terbelalak. Ia berhenti di tengah-tengah jalan dan berbalik keheranan pada seorang pria yang terlihat melambai pada kekasihnya. Sebab pria masa depannya ....
Marya berlari pada Elgio dengan dua botol minuman di tangannya. Elgio lambaikan hasil sketsa pada Marya membuat Marya semakin berbinar-binar setelah melihat siapa wajah dalam lukisan. Ia memeluk Elgio kuat-kuat.
"Aku menyayangimu, Elgio Durante ...."
Pelukis yang melihat kedua insan yang berpelukan menatap misterius. Untuk pertama kali ... tangannya menari di atas kanvas melukis rupa seorang pria, satu raut, untuk dua gadis berbeda.
***
Reinha memasuki ruang kepala sekolah ketika tiba-tiba Pak Jerry memanggilnya.
"Bisakah salah seorang di antara kalian pergi ke kediaman Tuan Lucky Luciano dan mengantar berkas materi ini? Aku telah selesai menyortir dan kita lihat apakah beliau akan setuju? Dia tak bisa datang sebab ada urusan penting."
"Aku saja, Pak!" kata Reinha bersemangat. Pak Jerry menengoknya dari ujung kaca- mata.
"Ya ya ya, bisa kulihat kau tergila-gila pada Tuan Lucky Luciano, Reinha Durante. Jangan sampai nilaimu anjlok karena sibuk terpesona padanya," sergah Pak Jerry.
"Tak akan terjadi, Sir. I promise you."
"Ya, kuharap begitu."
Reinha mengambil file-file yang telah dibagi dua untuk Elgio dan Lucky Luciano dan berkendara dengan Lamborghini Aventador-nya menuju Puri Luciano. Bukankah ini terlalu cepat untuk melihat Lucky? Apakah ia menelpon Augusto saja, memintanya ke Puri antarkan berkas? Ia baru melihatnya semalam?
"Aku punya alasan ... atas perintah Pak Jerry," katanya pada diri sendiri.
Reinha Durante duduk di belakang kemudi dan menyalakan musik. Ia menikmati irama lagu Senorita. Tak butuh waktu lama untuk mencapai Puri.
Penjaga rumah membiarkannya masuk sebab mereka tahu, gadis itu adalah kekasih Bos mereka.
"Di mana Tuan Lucky?"
"Di taman belakang, Nona. Mari aku antar."
"Tidak perlu, terima kasih. Aku akan pergi sendiri."
Reinha melangkah ke halaman belakang ikuti petunjuk asisten rumah, mengendap-endap untuk memberi Lucky Luciano kejutan. Bukankah pria itu selalu punya kejutan untuknya? Ia akan membalas pria itu sekarang. Taman belakang kosong tanpa pengawal dan Lucky berdiri kaku sementara tak jauh, gadis yang Reinha lihat di teleskop tempo hari, Queena, berdiri memeluk lengan. Ia sedang terisak dan bahunya terguncang.
"Apa aku kembali saja nanti, ya?" Reinha berdiri bimbang amati berkas di tangannya. Mengapa juga Pak Jerry tidak kirimkan saja lewat email? Alih-alih mencetak berkas dan mengirimnya seperti ini. Mereka mulai percakapan cukup kuat untuk didengar. Tidak, Reinha akan menunggu mereka selesai bicara baru akan menyela.
"Aku tak bisa menerima kenyataan ini, Lucky. Terlalu berat untukku. Ayah dan Ibuku dibunuh. Aku hamil oleh bedebah gila itu dan aku sama sekali tak mau bayi ini." Queena mulai menangis sementara Lucky membisu. "Aku akan menggugurkannya," kata Queena lirih dan sakit hati.
"Hei ... Pequuena. Kau seorang dokter, bagaimana bisa kau katakan hal-hal buruk semacam itu? Kau tak akan lakukan hal bodoh pada nyawa yang sama sekali tak berdosa." Lucky mendekat pada Queena memutar tubuh gadis itu setengah lingkaran sebelum memberi dekapan penghiburan.
"Aku tak ingin bayi pria jahat itu. Ya Tuhan, ini sungguh mengerikan. Aku tak percaya, ia meninggalkannya di dalam tubuhku. Pria itu telah menghancurkanku. Bagaimana aku akan hidup?" Gadis itu terdengar sangat putus asa.
"Tidak. Kau tak akan membunuh bayi itu!" seru Lucky, matanya menyipit. Lucky berpikir terlebih dahulu sebelum menguntai pernyataan yang mencengangkan. "Jika kau tak keberatan, ijinkan pria tidak jelas ini untuk menikahimu dan menjadi Ayah dari bayimu."
Queena mengangkat wajah, menatap Lucky berlinang air mata. Bahkan Reinha mampu melihat tatapan mata tulus Lucky dan dari nada suaranya yang pelan tapi penuh tekanan. Ketulusan yang menggugah Queena tetapi telah membuat Reinha remuk redam.
Queena masih terisak, "Tak perlu berkorban untukku. Apa yang akan kita lakukan? Kita bahkan tak saling mencintai. Bagaimana dengan kekasihmu?"
"Aku akan menyelamatkanmu dari rasa malu, Queena, jangan bunuh bayi itu. Kita bisa membesarkannya bersama-sama dan dia tak perlu tahu, siapa ayah biogisnya, hmmm?!"
Reinha mendengar percakapan itu, berharap itu cuma drama dan terpaku di tempat ketika sadar itu adalah pertunjukan realitas. Ia tak salah dengar. Reinha merasa sesak napas, seakan sesuatu menghimpit jantung keras hingga ia akan mati kehabisan oksigen. Kekasihnya akan bertanggung jawab pada wanita lain yang dihamili oleh pria lain. Baru semalam ia berteriak "I love you, Baby?!". Mereka berciuman delapan baris dan pria itu begitu manis. Bagaimana bisa ia berkata seenaknya akan menikahi wanita lain? Mereka bahkan belum putus.
Apa tidak sebaiknya dia menikahi seluruh janda dan wanita hamil tanpa ayah? Reinha memegangi hati yang terasa perih. Jadi ketika ia jatuh cinta pada pria itu, sebenarnya ia memberi Lucky senjata dengan moncong mengarah tepat di jantungnya dan berdoa pria itu tak menarik pelatuk tetapi Lucky sedang lakukan itu sekarang meski ia tak sadar. Ya Tuhan, apa yang barusan terjadi?!
"Reinha?!"
Claire menghampiri dengan cepat. Mata Claire kuatir dan ketakutan, ia melebarkan kedua tangannya dan memeluk Reinha yang shock. Sementara Lucky berbalik dan tertegun melihat Reinha. Ia tak mungkin menarik kata-katanya pada Queena.
"Hai Cla ... aku mengantarkan paket dari Pak Jerry untuk kakakmu," katanya beberapa saat setelah sadar, berusaha memegang kontrol diri. Reinha meraih tangan Claire dan menaruh berkas file di tangan Claire.
"Enya?!" Lucky dan kaki-kaki panjang, mendekat. Reinha mundur beberapa langkah seakan tak ingin Lucky menyentuhnya. Kisah manis mereka di ujung tanduk saat pria itu melamar wanita lain di depannya. Atau mungkin berakhir. Reinha tak ingin dengar alasan, ia tak ingin tahu. Lucky telah melukai tanpa tahu seberapa parah lukanya. Lucky bisa katakan putus sebelum membuat keputusan penting untuk hubungan mereka.
Ya, Reinha lupa. Pria itu memang brengsek sejati. Reinha ingin menangis tetapi ia menggigit bibirnya kuat hingga terasa asin. Mata Lucky terlihat lembut, putus asa dan juga menderita. Tidak berarti, ia boleh menyeret Reinha ikut serta dalam kesakitan itu.
"Aku atau dia, Lucky?!" lirih Reinha tanpa basa-basi, ia tak bisa sembunyikan cemburu, marah dan sakit yang berbaur dalam kepedihan.
"Enya ...."
"Jawab saja aku! Apa kau akan memberitahuku jika aku tak datang hari ini? Apa kau akan menghilang tiba-tiba dan membuatku menunggu sedang kau bersama wanita lain?"
"Enya ...."
"Aku atau dia?"
Lucky Luciano berdiri di tengah jalan antara kepedihan mata Reinha dan Queena yang gelisah. Pria itu terpaku seakan kata-katanya kemarin, "aku ingin bersamamu Enya" hanya sebatas kata yang diucapkan karena terburu-buru. Mata mereka bertemu dan dia brengsek jika tak bisa melihat kesakitan di bening iris mata cokelat yang mulai kabur.
"Aku akan membuatnya mudah bagimu." Reinha mendekat dan berjinjit, setelah yakin Lucky menyerah lebih cepat pada cinta mereka. Ia mengecup pria itu untuk penghabisan. Tangannya terulur menuruni lengan meraih tangan tak berdaya Lucky, menaruh cincin yang pria itu berikan padanya di Civic Center dan menutup jemari Lucky Luciano. "Terima kasih untuk cinta dan kasih sayangmu untukku. Mari kita putus ...."
"Enya ... hei ... " erang Lucky frustasi tetapi ia tak mampu pergi lebih jauh saat bayangan Queena tertangkap oleh sudut matanya.
"Semoga beruntung, Lucky Luciano. Kau akan memikirkanku sepanjang waktu, aku menempel tepat di belakangmu, menjeratmu dengan kenangan kita hingga kau tak ingin hidup tapi tak bisa mati. Itu akan jadi kutukan dariku untukmu."
Reinha pergi dari sana sementara Lucky menatap nanar punggung gadisnya yang menjauh. Ia tak berusaha mengejar sebab ia telah jatuhkan pilihan. Meskipun keputusan berat itu seperti bom yang meledak dari dalam dan hancurkan dirinya sendiri hingga berkeping-keping.
Reinha menaiki mobil, memakai kacamata gelap, tersenyum pada Francis yang terlihat datar. Ia memutar mobilnya cukup kasar hingga bagian belakang mobil menabrak lampu hias taman, yang lantas ambruk dan pecah berantakan. Mereka adalah dirinya. Mobilnya meraung-raung saat gerbang belum terbuka dan ia melesat cepat seperti anak panah yang terlepas dari busur ketika gerbang itu menganga di hadapannya.
Pria itu membuatnya sekarat semalam karena terlalu mencintainya, tak diduga Lucky benar-benar membunuhnya hari ini. Bagaimana bisa berakhir seperti ini?!
***
Oh aku tak akan bertanya seperti biasa, apakah kalian menyukai chapter ini, sebab pasti banyak yang protes.....
Aku naruh NB di sini, di negara tempat Elgio hidup, pernikahan poligami tidak diijinkan .... Jadi, tidak membuat kesimpulan.