
Menelusuri geliat malam jalanan kota, Ethan hentak-hentakan pedal rem dan menarik gas agar Arumi merapat padanya. Tersenyum puas ketika Arumi tak punya pilihan selain memeluk tubuhnya erat, bukankah ini yang ia inginkan? Ethan meraih tangan Arumi dan letakan di dadanya, seakan minta Arumi rasakan sendiri detak jantung yang berdegup maksimal. Arumi bersandar di punggung Ethan, tempelkan pipinya. Akh, ini indah sekali. Pria itu berhenti di depan toko sepatu. Menengok pada kaki Arumi yang polos tanpa alas kaki.
"Arumi Chavez, mari beli sepatu!" kata Ethan seraya menolong Arumi turun dari motor.
Arumi amati tangan mereka yang saling terjalin dan biarkan Ethan menuntunnya ke dalam toko. Arumi sukai sikap Ethan yang manis dan penuh perhatian padanya. Bukankah Ethan selalu begitu sampai-sampai hatinya salah paham?
Dan Archilles juga. Tak bisa dipungkiri, sedikit aneh bagi Arumi saat menoleh ke belakang dan melihat pengawalnya berdiri mematung, tak ada ekspresi. Atau ungkapan terpendam seakan gelisahkan sesuatu.
Mengapa ia memikirkan Archilles Lucca? Arumi menggeleng mengusir bayangan Archilles.
Mereka lewati etalase.
"Apa kau tak suka sneaker?" tanya Ethan, hindari wilayah heels. Ethan tak mengerti mengapa, para gadis suka menyiksa kaki mereka dengan high heels.
Arumi menggeleng, "Aku suka. Aku akan pakai apa saja yang kau belikan untukku." Ethan terus menggenggam tangannya.
Pilihan Ethan jatuh pada high sneakers, model sepatu tinggi jauh di atas mata kaki berwarna Tan. Minta bawakan sesuai ukuran kaki Arumi, Ethan pakaikan sepatu untuk Arumi dan ikatkan tali sepatunya. Archilles juga selalu ikatkan tali sepatu untuknya, pastikan ia tak akan tersandung ketika berjalan.
Mengapa serempet ke Archilles?
Ethan buka sepatu lamanya dan berganti dengan sneaker yang serupa dan sewarna dengan Arumi. Mereka couple-an sekarang. Well, mereka jadian. Arumi tak berhenti berseri-seri, menikmati jatuh cinta pada Ethan Sanchez meskipun sedikit cacat. Dadanya benar-benar dipenuhi sesuatu yang sangat indah, bermekaran. Sebatas itu. Tak segila kemarin-kemarin. Ketika ia ingin terus melihat Ethan Sanchez dan mencuri ciuman dari pria itu.
Mereka pergi ke wahana, naik bianglala, nikmati pemandangan indah kota di malam hari. Ethan Sanchez telah menolongnya di banyak keadaan, tetapi lebih dari itu, ia sukai Ethan saat kejam padanya. Mereka berpindah naik komedi putar, bersenang-senang. Mampir di parkiran membeli permen kapas. Suatu waktu Arumi pernah makan permen kapas dengan Archilles, cukup dekat untuk membuat Ethan Sanchez cemburu.
Archilles?!
Lagi?!
Arumi kebingungan, mendesah gusar sebab ia terus saja mengingat Archilles. Oh Tuhan, ada apa dengannya?
Tangannya digenggam erat oleh Ethan dan hati berisi ribuan debar yang berkecamuk aneh, Arumi mulai bingung, dapati rasa sukanya pada Ethan tidak seekstrim beberapa hari lalu saat ia kepergok mengintip Ethan. Lebih tepatnya, ia tak begitu inginkan Ethan Sanchez sejak Ethan tak ingin kencan. Ethan rapatkan jaket dan mengusap rambutnya pelan.
"Ya Tuhan, susah juga untuk bertahan tak menyentuh gadis bodoh ini yang telah kacaukan aku. Tapi aku telah berjanji!" keluh Ethan pada angin malam.
Mereka tidak berciuman dan kendatipun Ethan terlihat buka peluang bagi Arumi untuk mengecupnya, Arumi sama sekali tak mencuri kesempatan seperti yang sudah-sudah. Apakah karena ia over dosis menyukai Ethan Sanchez tetapi terlanjur patah hati saat Ethan tak ingin mereka kencan?
Apakah mereka jadian?
Arumi bingung. Ethan tak tanyakan lagi pertanyaan itu, maukah kau jadi pacarku? Tetapi, Arumi yakin mereka mengubah status kini. Ethan sebutkan beberapa peraturan, tak bisa sering bertemu, tak boleh terlalu berkencan tetapi wajib bertukar kabar. Tak boleh terlalu mengekang dan bicarakan salah paham. Satu lagi, jika Arumi kedapatan malas belajar, mereka akan langsung putus. Pacaran dengan Ethan Sanchez syaratnya lumayan bikin Arumi pusing.
Arumi pulang diantar Ethan Sanchez.
"Kirimkan tugasmu padaku, jangan terlalu mengisi otakmu dengan cinta, kau dengar aku, Arumi Chavez?" Ethan mengacak rambut Arumi sebelum pergi dari sana.
Arumi masuk ke dalam rumah, tidak heran temukan rumah sepi dan kosong karena Ibu dan Aunty masih di kediaman Durante. Ia melangkah berjinjit ke dalam rumah dan berputar-putar di ruang tamu sebelum terhempas ke sofa.
"Nona, Anda sudah kembali?" tanya Archilles dari arah luar hingga Arumi kaget. Tak ayal ia senang melihat pengawalnya. Pria itu sedang berkeliling menjaga rumah kosong.
"Oh Archilles, kau juga telah kembali, apa pestanya tak menyenangkan? Bukankah kau harusnya di sana saja dan mengajak seseorang berdansa?"
"Emm, tidak, aku langsung kembali ketika Anda pergi bersama Tuan Ethan," sahut Archilles berbohong. Ia mengikuti Arumi dari belakang, tuntutan pekerjaan. Meskipun Tuan Ethan Sanchez akan menjaga Nona Arumi lebih baik darinya, tetap saja, jadi pekerjaannya mengawasi Arumi Chavez. Melihat Nona Arumi bahagia bersama Tuan Ethan, ia merasa ikut senang. Semoga Nona Arumi berhenti persuasif padanya lagi untuk pancing-pancing cemburu Tuan Ethan.
"Baiklah, aku ingin masak spaghetti. Apakah kau ingin satu porsi?" tanya Arumi bangkit berdiri. Amati kakinya yang memakai sepatu pemberian Ethan, kembali berputar-putar sebelum jatuhkan diri sekali lagi di sofa. Ia akan tidur dengan sepatu barunya malam ini dan akan bermimpi melihat Ethan.
"Tidak, Nona. Terima kasih untuk tawarannya. Aku ingin istirahat."
"Emm, baiklah, aku makan nanti besok saja. Selamat malam Archilles, trims for today."
Arumi bangkit ingin segera ke kamarnya. Makan sendiri tidak seru lagipula ia tak mungkin tawari Archilles sedang ia sendiri tak pandai masak. Para asisten dikirim ke Paviliun Durante untuk bantu-bantu di sana. Sisakan satu asisten tetapi sepertinya wanita itu telah tidur tak sadari bahwa Arumi pulang lebih awal.
"Nona ..., baiklah. Mari makan spaghetti," kata Archilles tak bisa biarkan Arumi tidur dengan rasa lapar dan mungkin akan mengganggu dirinya tengah malam.
"Kau memang terbaik, Archilles."
Arumi pergi ke dapur mengekor di belakang Archilles. Pening dengan isi barang-barang di dapur Arumi cemberut di depan peralatan memasak.
"Sabar di sini ya, aku akan panggilkan Nona Alishe untuk buatkan Anda spaghetti."
Archilles segera menghilang sementara Arumi tak menyerah. Ia baca resep di dinding kulkas yang ditempel oleh kakaknya, resep sederhana yang akan menolongnya jika ia kelaparan tengah malam. Arumi mulai kumpulkan bahan-bahan; spaghetti, garlic, bawang bombai, jamur champignon, saos bolognese siap pakai.
"Ladanya kemana?" tanya Arumi pada diri sendiri, berjinjit perhatikan rak di kitchen set paling atas. Tangannya menggapai susunan stoples kaca. Ada banyak bubuk bumbu kering di sana. Ia dapatkan satu, coba meraih namun benda itu segera tergelincir.
"Nona ...?!" seru Archilles yang baru masuk. Ia melesat cepat ke arah Arumi, meraih tubuh si gadis, segera berbalik dan mendekap Arumi kuat, sembunyikan Arumi di dadanya tepat saat bubuk lada tumpah ruah dari atas rak, segera terhambur sirami punggung Archilles.
"Apa yang Anda lakukan, Nona?" tanya Archilles agak keras.
"Aku mau ambil lada," sahut Arumi ingin bergeser dan saat mata lewati bahu Archilles, stoples lada yang tidak seimbang sedang menggelinding ke sana kemari dan akan jatuh menimpa kepala pengawalnya.
"Archilles ... awas kepalamu!" seru Arumi panik menarik dasi sang pengawal kuat ke arahnya. Tak bisa dihindari pertemuan wajah mereka. Mata Archilles melebar oleh terkejut, bibirnya mendarat di rahang Arumi. Ia ingin lari tapi dasinya terjebak pada tangan Arumi. Ia menekuk makin dalam, di leher Arumi. Stoples jatuh membentur keras bagian atas punggungnya hingga tubuhnya tersentak. Benda itu bergulingan turun dan jatuh di lantai.
Praaangggg .... Pecah berkeping-keping.
Arumi pulih dari situasi, ingin lepaskan diri tetapi sang pengawal yang kesakitan terbenam padanya. Memeluknya sangat kuat.
"Apa kau tak apa, Archilles?" tanya Arumi berusaha tak gugup tetapi saat mata mereka bertemu, Archilles menegurnya kikuk.
"Nona, tolong jangan lakukan ini padaku!"
"A ... ku, hanya selamatkanmu dari stoples. Kepalamu jelas terluka jika aku tak menarikmu," sahut Arumi merasa sangat aneh pada sorot mata kaku Archilles.
"Aku tak akan mati oleh benda itu!"
"Baiklah, lain kali, aku akan biarkan saja otakmu memar," ucap Arumi tiba-tiba gugup, salah tingkah dan tak tahu berbuat apa ketika Archilles menatapnya. Ia kelimpungan sendiri. "Aku makan nanti besok saja, maafkan aku. Semoga punggungmu tidak terluka." Sekonyong-konyong lepaskan diri dari Archilles, ingin segera pergi ke kamarnya.
"Nona ... " panggil Archilles meraih tangan Arumi. "Tinggallah sebentar, aku akan buatkan Anda spaghetti."
Itukah mengapa Ibu tak menyukai Archilles? Arumi perhatikan tangan besar Archilles, tangannya sendiri, tiba-tiba merinding. Bagaimana bisa emosi kasih sayang dan kebaikan pria itu pengaruhi dirinya, menjalar di sana. Ia seakan diliputi sesuatu yang sangat misterius pada Archilles.
"Nona Alishe sedang sakit kepala, tolong duduk saja."
"Aku akan bersihkan pecahan kaca," kata Arumi buru-buru mencari sapu, berlagak tenang dan se-rileks mungkin. Tak bisa kenali sesuatu yang merayap di hatinya. Seperti penyamun menyergap hatinya. Oh konyol sekali.
"Akan aku bereskan nanti, Nona. Tolong duduk saja," balas Archilles buka kulkas dan keluarkan daging sapi.
"Gunakan sarung tangan, Nona!" Archilles menyerah segera lepaskan jasnya dan memakai celemek. Ia putar kenop pengaman gas kemudian nyalakan api dan menjerang panci berisi air untuk merebus spaghetti.
Abaikan komando Archilles, Arumi segera berjongkok dan memilih pecahan kaca, sangat hati-hati tetapi memang lagi apes. Tangannya tertusuk beling. Ia berbisik pada jarinya yang berdarah.
"Ghost damn, so dummy Arumi!" Mengeluh. Ethan benar, ia sangat bodoh.
"Nona ... ?!" Archilles ikutan berjongkok saat dapati Arumi malah bengong sedang Arumi sembunyikan tangannya yang berdarah. "Tangan Anda berdarah?" tanya Archilles temukan bercak darah di atas lantai.
"Hanya sedikit tergores!"
"Coba kulihat, Nona!"
Archilles tak sabaran saat Arumi gigih, menolak diperiksa. Namun, tak ingin bertingkah tidak sopan, ia menunggu Arumi sodorkan tangan. Meraih tangan Arumi.
"Syukurlah ini cuma tertusuk sedikit, bahkan tak terlihat," ujar pria itu menarik Arumi berdiri pergi ke bawah keran air mengalir dan bersihkan luka. Ia segera mencari bubuk kopi dan taburi di atas luka Arumi. "Duduklah saja, Nona!" Mendorong Arumi pergi ke bangku.
Seakan tersihir, Arumi perhatikan pria itu bergerak di dapur, saat ia mencacah bombai di atas talenan dan mencincang daging. Arumi menahan napasnya. Sadari sepenuhnya bahwa ada sesuatu yang salah dengannya, ia baru saja merasa berdebar-debar bersama Ethan Sanchez dan belum sampai satu jam ketika ia merasa kesetrum saat disentuh oleh Archilles. Oh, ini gila. Ia akan mulai belajar yang keras besok dan mengisi otaknya dengan hipotesis ilmu sosial.
"Apa kau punya pacar?" tanya Arumi tanpa sadar.
"Aku tak pacaran, Nona," sahut Archilles masukan spaghetti ke dalam panci.
"Mengapa? Kau bukan anak-anak. Apa karena kau ingin pergi ke biara?"
Archilles menumis bawang putih tambahkan lada sebelum menaruh daging sapi. Aroma lezatnya langsung tercium ke segala arah. Terlihat sangat terbiasa memasak.
"Apakah Nona dan tuan Ethan jadian?" tanya Archilles mengaduk daging, menutup sedikit panci, mengaduk spaghetti di tungku lainnya.
"Ya," sahut Arumi. Apakah karena ia terlalu lelah mengejar Ethan Sanchez? Hingga saat mereka jadian ia merasa sangat senang dan bahagia, berbunga-bunga tetapi tak ada yang lebih spesifik hanya bermekaran. Tak segila sebelum Ethan katakan tak ingin pacaran. Oh, sungguh, ada apa dengannya?
"Kami punya aturan kencan yang sangat ketat."
"Sudah kuduga," sahut Archilles.
"Kau tahu bahwa teman-teman cewek tak menyukai aku karena kedekatan aku dan Ethan. Mereka terus mengolok-olok aku, kata mereka, aku tak cocok untuk Ethan."
"Semangatlah. Apakah Anda ingin belajar akuntansi denganku besok? Aku bisa ajari Anda jika Anda berkenan?" tanya Archilles tiriskan spaghetti. Ia masukan jamur, paprika, bawang bombai lalu saus di teflon cincangan daging sapi. Tambahkan garam dan cabe bubuk. Aduk-aduk sebentar.
"Ya, kau benar. Aku tak bisa permalukan Ethan Sanchez dengan nilai burukku."
Dua piring tersaji.
"Makanlah Nona!"
"Kau luar biasa hebat, Archilles," puji Arumi. Mengambil garfu.
"Aku cemas, Anda kelaparan tengah malam dan mengganggu sementara aku tidur nyenyak," kata Archilles.
Arumi melilit pasta pada garfunya hingga mengembung.
"Kau tahu mengapa Ibuku tak menyukaimu?" tanya Arumi masukan gulungan pasta dalam mulutnya. Mengangguk-angguk suka akan rasa yang sangat lezat, makan dengan lahap. "Uh, kau pandai sekali membuat ini. Aku akan belajar darimu." Minum air seteguk.
"Well, aku akan masukan itu dalam jadwal Anda. Bukankah seorang gadis setidaknya harus tahu memasak sesuatu yang sederhana," sahut Archilles ringan. "Jadi, mengapa Ibu Anda tak menyukaiku?"
"Kau tak tahu?"
"Ya, meskipun aku tahu, aku tak bisa sembarang menduga." Kisah si pengawal yang kabur dengan anak majikan cukup banyak terjadi. Kisah Salsa Diomanta dan Benn Amarante jadi salah satu kisah yang paling sering diceritakan.
"Kau membuat Ibuku teringat pada Ayah Benn, Ayah Aruhi - Kakakku. Ibuku seumuranku dan ia jatuh cinta pada pengawalnya."
"Lalu?!" tanya Archilles menahan desakan untuk meraih tisu dan menghapus noda saos di pinggir bibir Arumi. Pria itu meremas gelasnya kuat, minum satu teguk untuk alihkan perhatiannya. Ketika akhirnya tak tahan, ia meraih tisu dan sodorkan pada Arumi. Namun, si gadis tak peka sibuk mengunyah hingga si pengawal gemas sendiri.
"Ayah Benn cukup berani membawa kabur Ibuku dan kau tahu akhirnya, Kakekku memburu mereka. Ayah Benn kemudian meninggal dalam sebuah kecelakaan oleh ulah kakekku. Ibuku terpisah dengan anaknya."
"Lalu?! Apa hubungannya denganku?" Archilles akhirnya tak tahan, ia meraih tisu dan mengusap noda di sudut bibir Arumi. Seakan tak ingin disentuh, Arumi buru-buru merebut tisu dan bersihkan sendiri.
"Ibu takut peristiwa dirinya dan Ayah Benn terulang lagi. Ibu kuatir kita punya hubungan dan aku kabur denganmu," kata Arumi, makan suapan terakhir, kembali bersihkan bibirnya, minum air dan menoleh pada Archilles. "Hal-hal semacam itu!" tambahnya lagi.
Archilles mendorong piringnya yang telah kosong, kerutkan kening dan menatap Arumi tajam.
"Apakah Anda akan kabur denganku jika aku mengajak Anda, Nona?" tanya Archilles.
Tak pelak pertanyaan itu bikin Arumi tersedak liurnya sendiri. Ia terbatuk-batuk keras. Archilles sorongkan segelas air, memukul pelan pundak Arumi. Meraih beberapa lembar tisu dan berikan pada Arumi.
"Kabur denganmu? Kau minta lehermu aku gunting, Archilles?" tanya Arumi melotot pada pengawalnya.
"Oleh sebab itu, tak perlu cemaskan itu, Nona! Sampai beberapa bulan kemarin, aku hanyalah seorang penjahat. Aku tak punya harta dan kedudukan, aku hanya datang untuk bekerja, dapatkan uang untuk kehidupan yang lebih baik."
"Ya, aku percaya padamu," angguk Arumi. "Yakini saja Ibuku!"
"Hanya saja Nona ..., beritahu aku jika suatu waktu ... mungkin saja Anda menyukaiku," ujar Archilles.
"Aku tak akan lakukan itu! Jangan kuatir," guman Arumi terdengar tak yakin. "Aku mungkin akan menyukai Anda jadi pengawalku, tidak lebih Tuan!" Segera yakin.
"Aku percaya pada Anda."
"Sebaliknya, bagaimana jika kau menyukaiku suatu waktu? No body knows, apa yang akan terjadi di masa depan, Archilles Lucca."
Archilles menghela napas panjang.
"Jika suatu waktu aku dapati diriku jatuh cinta pada Anda ... Aku akan menghilang diam-diam."
***
Arumi terjebak antara Ethan dan pengawalnya.
Author nanti akan terjebak antara Fans Ethan dan Fans Archilles.
Komentar di bawah ini, dengan siapa Anda ingin Arumi Chavez berakhir?!