Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 44 Menemukan Aruhi & Menembak Target....



"ARUHI?! ARUHI?! ... KAU DI MANA SAYANG? KELUARLAH!"


Seminggu yang tenang pecah berantakan di pagi yang hening oleh gelegar suara Sunny Diomanta yang menerobos masuk ke dalam Paviliun Durante. Maribel yang ketakutan coba menghalau di depan pintu rumah tetapi didorong kasar hingga Maribel terseret beberapa langkah.


Elgio dan Abner yang sedang membahas segmentasi penjualan dan target pencapaian, menajamkan indera. Elgio melihat gadget di hadapannya dan dari CCTV terlihat Sunny Diomanta berdiri angkuh di tengah ruang tamu. Mantel bulunya berkibar-kibar. Wanita itu sangat menarik jika saja tidak bertingkah seperti jelmaan iblis.


"Kekasihmu datang, Abner!" ujar Elgio tidak suka.


Abner menautkan alis, "Mantan kekasih ... kau jangan memancing emosi."


"Urus dia Abner! Aku tak akan mengintip," ujar Elgio mengangkat bahu cuek, kehilangan minat untuk berdebat.


Ia memikirkan Marya yang sedang menjalani terapi di Paviliun Barat. Ingin cepat-cepat selesaikan kerjaan dan mengikuti gadis itu ke sana. Dendam Aruhi pada Ibunya musnah tanpa jejak hanya dengan mendengar kabar, "Ibu Sekarat". Elgio yakin, jika ia tak menahan, gadis itu akan berlari keluar menemui Ibunya tanpa pikir panjang. Tanpa pikirkan resiko dan kemungkinan, maksud lain dari pesan-pesan itu.


Elgio sedang mencari cara paling mematikan untuk memusnahkan Diomanta. Ia ingin mendorong mereka melakukan kejahatan secara terang-terangan sehingga mereka mudah ditahan pihak berwajib dan ia tak perlu kotori tangannya. Ia menggebu-gebu padahal Elgio yang melarang Marya untuk membalas dendam tetapi membayangkan Marya mungkin saja akan meninggalkannya dan pergi pada Ibunya, membuat Elgio kehilangan pegangan.


"Aku muak pada keluarga itu. Mari menutup perang, Abner. Siapkan berkas, aku akan menendang mereka ke balik jeruji."


"Baiklah, tetapi jangan gegabah. Kau tahu, kita berurusan dengan gembong mafia yang tak punya aturan untuk menghabisi nyawa orang. Mereka bahkan memiliki orang-orang korup di pemerintahan. Aku akan mempelajari situasi dan kita akan mengambil tindakan. Tetapi tidak sekarang Elgio," jawab Abner mengingatkan Elgio dengan tegas sebab pria muda itu masih sangat labil jika berurusan dengan emosi apalagi menyangkut Aruhi.


"ARUHI???!!!" teriak Sunny makin keras.


"Pergilah Abner sebelum genderang telinga kita pecah oleh suaranya."


Elgio bicara tak alihkan wajahnya dari berkas file yang ia teliti. Kondisi Marya pulih dengan baik setelah menjalani psikoterapi selama seminggu, tetapi Marya belum siap menemui Sunny maupun Salsa. Elgio cemas mereka menghasut kekasihnya itu.


Sementara Abner kesulitan mengirim mata-mata ke Paviliun Diomanta, jadi, mereka masih ragu tentang kondisi Salsa yang sesungguhnya. Wanita itu mungkin sungguhan sekarat, entahlah.


"Aruhi, ponaanku, dia ada di sini kan?" serang Sunny saat melihat Abner menuruni tangga.


Abner melihat pada Sunny dengan ekspresi datar.


"Sejak kapan, Aruhi jadi ponaanmu? Apa kau tak malu menerobos kediaman orang lain dan membuat keributan?" sahut Abner.


"Tuan Abner, aku sangat menghormati Anda, tetapi sekarang katakan padaku ... di mana Aruhi? Aku tahu dia ada di sini."


Sunny dan wajah keras kepala yang tidak ramah sekali itu berbicara dengan nada ketus dan memaksa.


"Pergilah Sunny! Kau mengganggu ketenangan orang lain."


Abner menghembuskan napas kasar. Ia nyaris terjebak pada Sunny dalam kencan buta dan nyaris berakhir dengan cinta satu malam.


"Kita butuh bicara!" putus Sunny.


"Tak ada yang perlu kau dan aku bicarakan."


"Tuan Abner, kakakku sekarat dan ia mungkin tak punya banyak waktu. Ia sedang menunggu Puterinya. Aku tahu Aruhi ada di sini, ia menyebut akan menikahi Elgio Durante."


Sunny merendahkan suara terlihat sangat putus asa. Abner menatap sinis padanya sebelum berdecak panjang. Ia tak mempercayai Sunny sejengkal kuku-pun.


"Orang yang tak mengenalmu akan berpikir, akulah penjahat di sini. Aku adalah wali resmi Aruhi dan kami tidak ijinkan Aruhi pergi menemui Ibunya yang telah menelantarkannya. Kau boleh pergi!"


Abner berbalik dan melihat jam tangan, 30 menit lagi mereka akan berangkat ke Laboratorium.


"Tidak!" seru Sunny bergerak kearah tangga dengan cepat. High heels berdetak di lantai rumah. "Aku harus bertemu dengannya, sebab Kakakku sekarat dan ingin memohon ampun pada Aruhi. Bisakah kau berbaik hati pada kami? Aku tidak bercanda."


Sunny memegangi pergelangan tangan Abner, memaksa pria itu berpaling padanya. Abner menggeleng gregetan melihat tingkah Sunny, sungguh tidak masuk akal.


"Apakah menurutmu masuk akal. Pertama, Diomanta menelantarkan gadis itu, meninggalkannya saat usia anak itu masih balita. Kedua, Diomanta menolak mengakui keberadaannya dan memburu seolah Aruhi seekor kijang. Ketiga, Diomanta membunuh Ayahnya dengan kejam dan sekarang Diomanta menginginkan Aruhi untuk sebuah penebusan rasa bersalah?" Abner menghentak tangan hingga pegangan Sunny terlepas. Ia menggertak gigi. "Kalian tidak manusiawi. Perlakuan buruk Ibunya terkenang hingga detik ini. Pergilah, sebelum aku menjadi sangat kasar."


Mereka bertatapan dan Abner benar-benar sangat marah. Raut wajah pria itu menegang.


"Biarkan Aruhi yang putuskan."


"Keputusanku adalah keputusan Aruhi. Pergilah dan jangan muncul di hadapanku. Aku sungguh muak berurusan denganmu."


Sunny mengibas mantel bulunya. Ia mengancing rahang hingga Abner bisa melihat tulang-tulang rahangnya mengeras.


"Baiklah, jika itu maumu. Kau membuatku terpaksa mengambil tindakan keras."


Sunny berbicara sebelum berbalik pergi sementara Abner mengangkat bahunya tak peduli. Ia telah bersiap menghadapi Salsa dan Sunny meskipun nyawa taruhannya. Ia akan melindungi Durante sampai titik darah penghabisan. Abner tersenyum bangga saat interpretasikan dirinya ksatria dari jaman baheula dengan pakaian baja dan pedang terhunus di tangan, menunggangi kuda dan melindungi rajanya.


"Kau terlihat bahagia," sambut Elgio menghancurkan senyum bahagia Abner.


"Ya, aku bahagia sebab bisa melindungimu, Elgio Durante."


"Oh kupikir kau bahagia sebab bertemu dengannya."


Abner ingin menimpuk kepala Elgio dengan tatakan cangkir, alih-alih bertanya alihkan perhatian.


"Kau tak ingin melihat Nona Marya?"


"Tidak."


"Betul juga. Jika kau pergi, kau mungkin akan merusak hari kerja kita yang panjang."


Elgio berhenti bekerja ia bersandar pada kursi mencari kenyamanan.


"Apa Enya baik-baik saja?"


Abner mengedipkan bahu, "Ya ... aku rasa. Aku biarkan ia mengambil alih Dream Fashion. Jika kita membebani Nona Reinha dengan tanggung jawab maka ia akan berpikir ribuan kali sebelum bertindak ceroboh. Cleaning service bukan ide bagus, jadi aku menempatkannya di kursi tertinggi."


"Kau benar-benar bisa diandalkan. Bagaimana dengan Lucky?"


Abner menatap Elgio, memikirkan jawaban. Haruskah ia beritahu bocah pemarah ini soal Lucky dan Nona Reinha. Mereka sepertinya semakin dekat. Jika ia memberitahu Elgio, bisa dipastikan jadwal kerja mereka seminggu ke depan bakal kacau. Abner telah menerima informasi bahwa selama seminggu Lucky tidak ada di Faith Hills tetapi pria itu tak terlihat sama sekali berkeliaran di sekitar Nona Reinha. Mungkinkah Lucky sedang menerima "Ciuman Kematian"?


"Abner?"


"Ia sedang sekarat Elgio."


"Kita perlu membeli jas hitam baru. Semoga ada pemakaman dalam waktu dekat," sambut Elgio senang.


"Kita langsung ke bandara. Aku harus pergi ke Ibukota untuk bertemu seseorang."


Salsa semakin hari semakin layu. Ia hanya menginginkan Aruhi. Ditambah tingkah Arumi yang sangat menyebalkan, Salsa semakin terkungkung pada keinginan untuk memohon pengampunan pada Aruhi.


Ada cara lain agar Abner Luiz melepas Aruhi dan negosiasi alotnya dengan Abner membuatnya terpaksa memilih tindakan ini.


****


Jauh di Ibukota ....


Lucky Luciano berpakaian serba hitam bertopi yang juga berwarna hitam, berdiri di kaca jendela suit mewah di salah satu lantai sebuah gedung hotel. Ia memantau situasi Civic Center yang tampak lengang gunakan teropong pengintai. Ia siap beraksi.


"Francis, bawakan 'tirai' kemari," ucapnya dengan nada memerintah dan terdengar sangat dingin.


Francis dengan cepat menenteng sesuatu di tangannya, sebuah benda yang disebut 'tirai' oleh Lucky Luciano. Pria itu lantas mendorong meja ke arah kaca, bentangkan tas berisi 'tirai' lalu keluarkan si 'tirai' dari bag penyimpanan. Mengutak-atik benda tersebut, merakitnya menjadi satu-kesatuan. Ia mengelus benda tersebut sebelum mengecup penuh perasaan.


Kaki-kaki dudukan dipajang di atas meja lalu ia menaruh benda itu di atasnya. Benda yang dimaksudkan adalah senjata laras panjang, Sako TRG 42 berwarna dessert tan yang moncongnya kemudian diarahkan ke seberang jalan. Ia condongkan tubuhnya ke depan, seperti posisi sniper saat mengintai, membidik ke bangunan yang tampak sangat jelas isinya. Ia mengamati keadaan sekitar, mengatur akurasi zoom pada teleskop senapan runduk itu.


"Apakah Rocco akan mengunjungi bangunan itu, Bos?" tanya Francis keheranan sembari menggeser gadget di tangannya mencari tahu posisi Rocco Anthony. Ia lantas mengerut bingung saat GPS pelacak menunjuk lokasi pasti Rocco Anthony, diluar radius bahkan sangat jauh.


"Apakah kau tahu lokasi persisnya? Bekerjalah lebih keras, Francis. Apa kau mau aku ditembak mati diam-diam?" kata Lucky dengan suara khasnya.


"Bukan begitu, Bos. Rocco tidak terdeteksi ada di Civic Center saat ini. Ia ada di kediamannya bersama anak dan cucunya. Aku akan mengecek ulang."


Lucky melakukan akuisisi target, deteksi dan identifikasi lokasi meskipun target belum terlihat. Ia mulai merinci untuk memungkinkan penggunaan cara menembak yang akurat dan mematikan.


"Kondisi sempurna untuk pengambilan gambar jarak jauh, tidak ada angin, cuaca sedang, jarak pandang yang jelas. Butuh dua tembakan untuk mencapai target dengan sukses."


Ia menggunakan estimasi jangkauan target untuk menguntit bangunan lantai lima berkaca transparan itu menggunakan teleskop berakurasi tinggi laras panjangnya. Ia memutar zoom in - out pada senjata.


Lantai satu terpantau sepi. Tak banyak aktivitas, hanya beberapa pegawai sibuk mempersiapkan produk, sebagian mengeluarkan banner, beberapa orang dengan notes berkeliling display. Beberapa teller berbagi pallete make up, mereka berdandan. Pelanggan mulai berdatangan. Wanita-wanita kelas atas dari penampilan mereka yang fashionable dan glamour, juga ada seorang pria tua menggandeng wanita yang sangat muda, mungkin selingkuhannya; memasuki gedung.


"Target tak dikenali," bisiknya pada diri sendiri. "Where are you? Where are you? Show me yourself!" Ia mulai gugup.


Ia menajamkan penglihatan. Pupil matanya persis seperti elang saat mengintai ikan di permukaan air di film-film dokumenter tentang animal. Lucky naikan teleskop ke lantai dua. Beberapa pegawai sibuk dengan manekin, men-drapping kain pada manekin, mendandani patung tersebut dan mengatur ke bagian depan outlet agar terlihat dari luar. Ia beralih ke lantai tiga, kembali mengamati dan melengkung senyum.


"Target terkunci ... kena kau, " bisiknya sumringah. "Good morning, my angel."


Di moncong teleskop, berdiri gadis yang sangat ia puja, mengenakan atasan blus putih dipadu luaran blazer biru dongker dengan color highlight putih dan celana berwarna biru dongker yang senada dengan warna blazer. Gadis itu menggelung rambut di kepala, menarik beberapa helaian agar terlihat natural dan memakai sepatu formal; heels berwarna hitam. Sungguh memukau, gambaran sempurna The Real Executive Woman ketimbang gadis remaja tingkat tiga.


"So pretty ...."


Reinha Durante mematut diri di depan cermin. Ia memoles lip balm pada bibirnya, memakai eyeliner dan kembali gunakan lip cream berwarna merah. Seakan tak yakin pada penampilannya, ia kembali mematut diri depan cermin, menyemprotkan parfum di sendi tangan lalu menghirup. Ia mengembungkan pipi dan menghembuskan perlahan, terdeteksi sangat gugup. Ia kembali pada cermin dan miringkan kepala. Buru-buru membongkar rambutnya dan mengikat ulang. Dilihatnya mungkin terlalu rapi, dia menggelung sekali lagi sebelum angguk-angguk kecil. Tatapannya turun ke dada, ia melirik keluar ruangan sebelum tangannya dengan cepat menata cup bra dan busungkan dada. Lucky Luciano menyeringai.


"Apa itu? Apa yang sedang ia lakukan?" Lucky menjauh dari teleskop, melipat keningnya. Lalu kembali mengintai. "Kau seperti berdandan untuk bertemu seseorang yang spesial di hati?" ujarnya tidak suka.


Seorang gadis muda masuk, bicara pada Reinha dan mempersilahkan Reinha keluar ruangan. Sepertinya itu asisten Reinha. Bibirnya terbaca,


"Nona, rapat akan segera dimulai. Silahkan ke ruang rapat. Semua orang sudah berkumpul."


"Baiklah." Reinha menghela napas dan melangkah penuh confident.


Tak berapa lama Reinha terlihat menaiki tangga di sebelah ruangannya dan pergi ke lantai empat.


"Well, we will see ... siapa yang akan kau temui?" Lucky berdebar-debar melihat Reinha yang sangat rupawan, bersinar seperti rembulan di malam purnama. Sungguh menggetarkan lubuk hati. Valerie yang terkenal sangat arstitik tak mampu kalahkan aura lembut dinamis Reinha Durante. Terlepas dari itu, sikap angkuh dan terus terang Reinha Durante berhasil membuat Lucky bertekuk lutut padanya. No one like Reinha Durante.


"Haruskah kupecahkan kaca untuk memberitahunya, aku ada di sini?" Ia bicara sendiri.


Tingkah Lucky mendorong Francis pergi ke arah jendela, ikutan mengintai meski tak jelas apa yang ia lihat. Francis hanya ikut mematung keheranan pada Tuannya yang tampak bodoh. Tuannya membidik senjata ke arah Dream Fashion Outlet, pada Puteri Durante. Ia mempertanyakan kewarasan Lucky?


"Em, jadi ... gadisku berdandan untuk menarik perhatian pria lain?" Ia bertanya pada si senjata. "Bisakah kau mendeteksi denyut nadinya? Apakah tak beraturan seperti saat aku memeluknya di bis? Laporanmu kutunggu."


Seorang pria berdiri saat Reinha masuk. Lucky mengenalinya, CEO muda tampan dan kaya raya, Giuseppe Gustav, pencipta aplikasi Flamingo Shopping. Mereka berjabat tangan dan Giuseppe terang-terangan terpesona pada Reinha Durante. Ia menjabat lama tangan Reinha dan tersenyum penuh kekaguman.


"Haruskah kutembak kepalanya? No no no, kuhancurkan saja tangannya."


Mereka duduk dan Reinha membuka laptop. Ia melempar senyuman manis pada Gustav dan tirai ruangan tiba-tiba tertutup.


"What???!!! Mengapa tirai itu tertutup?" Lucky mengumpat kesal.


"Mereka mulai presentasi, Bos. Itu yang terjadi di ruang rapat," sahut Francis tak bisa menahan geli tetapi tak mampu menyengir takut Lucky melubangi kepalanya.


Seorang pelayan mendorong troli penuh makanan dan membungkuk memberi hormat.


"Sarapan Anda sudah siap, Bos. Apakah Anda sarapan dulu atau ... ?!"


Anda akan membidik tirai hingga terlepas? lanjutnya dalam hati. Bosnya telah sepenuhnya keluar arena.


"Sarapanku terlalu banyak, Francis. Beberapa orang di luar sana kekurangan makanan tetapi kalian mencoba menjejal berkilo-kilo kalori ke dalam perutku?"


Lucky menyahuti ajudannya itu. Ia melempar topi gusar.


"Baiklah, pelayan akan membuang si - "


"Kau tidak peka, Francis," potong Lucky cepat. "Arah jam 2 Dream Fashion, seorang pria menyeret kakinya dalam kelaparan. Bawakan dia makanan dan pakaian yang layak. Temuilah Augusto, bilang padanya, jangan biarkan orang asing mendekati Nona Reinha."


"Baik, Bos."


"Jika dia tak becus jadi pengawal, aku akan melubangi kepalanya dari sini."


Francis membungkuk sebelum keluar dari kamar suit Lucky.


*****


Maaf ya, sambil menunggu Aruhi terapi, Author menulis kisah tentang Lucky.


Setelah menulis chapter soal terapi dan aku membaca sekali lagi, nggak sreg gitu, jadi kuputuskan melepaskan chapter itu di draft.


Beritahu Author jika kalian suka Chapter ini?