Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 22 Badai Kiriman ....



"Sebaiknya kau bersiap-siap, Elgio!"


Abner mendekat sedikit membanting berkas di atas meja kerja Elgio pertanda kekesalan yang tak jua mereda. Tanpa minat, Elgio meraih dan membacanya sembari mengelus kening.


"Apa ini?!"


"Peringatan dini!"


"Umm?!"


"Prakiraan cuaca ... potensi terjadinya badai 'La Nina' kiriman Lucky Luciano yang sedang berputar menuju kita. Kecepatan 90 km per jam disertai petir, geledek dan semburan partikel inti bumi - kuharap kau waspada."


Elgio letakkan berkas kehilangan animo akan bisnis kemudian menyender di kursi kerja menyimak Abner. Terlebih untuk penjelasan ilmiah yang terdengar seolah penutur asli ilmuwan Meteorologi.


"Kau tak ingin lihat?" Abner berdecak ingin bilang ia mendapatkan informasi akurat itu susah payah, perlakukan dengan baik.


"Kau menyadap Lucky?"


Abner abaikan pertanyaan Elgio. Jika ia tak lakukan itu, Durante dalam bahaya. Ia menaruh bokongnya hati-hati di lengan sofa dan melipat tangannya di sana.


"Aku tak habis pikir, mengapa mengajaknya ribut? Itu bukan hal bagus buat kita, Elgio!"


Sudah sejak kemarin Abner tak henti mendakwa. Ia melanjutkannya pagi ini. Elgio tak bisa hindari kemarahan atau sekedar membela diri, ia hanya manggut-manggut sesekali melamun. Ia lebih tertarik mencari cara untuk beritahu Reinha tentang Aruhi ..., tentang Marya. Elgio belum terbiasa dengan Marya Corazon.


"Pria itu konsisten berkontribusi untuk kemajuan kota. Kau salah telah memulai perang konyol ini."


Elgio tergugah gerah. Abner lebih ributkan dampak dari perang yang dianggapnya konyol ketimbang mengungkit asal-muasal tersulut perang. Ia menatap Abner sabar.


"Abner, pria itu hanya sampah. Terlebih sampah itu dan mata brengseknya telah melecehkan adik perempuanku."


Abner menghardik. "Kau bukan sembarang pria, Elgio Durante. Belajarlah kendalikan diri seperti Tuan Leon! Bagaimana bisa terkecoh segampang itu? Lucky Luciano jelas sedang melempar umpan, memanas-manasimu agar bisa menjeratmu. Kau tahu Lucky itu mafia dan penjahat. Ia pasti sedang rencanakan sesuatu."


Mulut Abner nyaris berbuih satu baskom saking terus mengecam tindakan Elgio.


"Berhentilah mengomel, urat lehermu bisa putus Abner. Tolong, cari pengawal terbaik untuk menjaga Reinha. Lucky mungkin akan dekati adikku juga. Aku juga harus memberitahumu tentang sesuatu."


"Aku tak ingin dengar celoteh bodohmu tentang sesuatu itu, Elgio. Kau tahu Lucky mulai beraksi pagi ini, melemparkan intrik pada relasi bisnis kita. Tinggal menunggu waktu, proyek kerja sama kita batal dan media elektronik bergerak serentak untuk menyoroti kita."


"Aku akan atasi dia."


"Ya ... ya ... bagaimana caranya? Adu jab dan hook lagi? Bikin keributan lain?"


"Kita hanya perlu untuk tidak terjebak dan bersikap rasional. Bukankah kau sangat pandai dalam solusi kasus?" Elgio kembali mengelus keningnya. "Aku minta maaf karena tak bisa kendalikan diriku dan sangat menyulitkanmu. Bisakah berhenti mengeluh? Kau hanya buat keningku semakin keriput!"


"Itulah mengapa aku bilang Lucky gunakan 'intrik', Elgio. Kau tidak tahu bahwa pelaku intrik sedapat mungkin mengundang atensi khayalak agar mendapat simpati dan dukungan dari pihak lain. Ia tampil kemarin sore di acara sosial untuk kumpulkan dana bagi penderita katarak dan miopi. Jadi donatur tunggal."


"Kita tak lakukan kejahatan. Biarkan saja dia tampil di media dan menarik simpatisan. Mengapa kamu takut? Apa bisnis kita ilegal?"


Sementara dari luar, Reinha Durante yang ingin menemui Elgio karena penasaran pada video ciuman Marya yang jadi trending topik berdiri menyerap isi percakapan itu. Ia sangat geram mengetahui sebab - musabab Elgio murka adalah Lucky telah melecehkannya secara verbal. Niat untuk memarahi Elgio buyar dan tentang Marya ... masih bisa dipending. Sepertinya hari ini, Reinha akan pergi ke rumah Claire dan buat perhitungan dengan Lucky Luciano. Jika boleh, Reinha ingin bawa obeng bunga dan mencongkel mata Lucky Luciano. Ia berbalik pergi ke kamarnya. Dari lantai bawah terlihat Bibi Maribel menapaki tangga dengan nampan teh dan camilan di tangannya.


Ketukan di pintu dan Maribel segera berdiri di ambang, sudahi obrolan panjang Elgio dan Abner.


"Anda memanggil saya, Tuan Muda?"


"Kemarilah Bibi Maribel. Aku punya kabar untuk kalian berdua. Tetapi, sebelum itu ... bagaimana persiapan jamuan makan malam besok? Apakah Anda tak apa bekerja sendirian?"


Maribel mendekat, sedikit curiga pada raut wajah Elgio. Wanita itu berumur 28 tahun, tetapi lebih dewasa melebihi angka itu. Mungkin karena ia selalu berkerudung dan serius. Ekor mata Abner awasi Maribel waspada. Ini karena tampang Elgio berubah drastis. Ada makna tersirat dari sorot mata dan pertanyaannya.


"I-tu, eh, Tuan Muda jangan kuatir! Aku telah persiapkan segala hal dan terbiasa bekerja sendirian," jawab Maribel gelisah.


"Aku telah menikahi Aruhi ... kemarin pagi."


Pernyataan Elgio sekonyong-konyong mengguncang Abner. Teh panas tumpah ruah tanpa sengaja sirami jemari tangannya yang memeluk kuping cangkir. Seketika cangkir meluncur turun terpental di atas karpet. Ia berdiri dan menjerit kepanasan. Wajah Maribel memerah coba menahan tawa sembari palingkan wajah.


"Yah, Tuhan Elgio. Makin hari kau makin tidak waras. Apa lagi sekarang? Apakah kita kembali saja ke New York?"


Ia gusar pada Elgio sembari mengipasi celananya dengan tangan.


"Abner, itu pertanda bagus." Elgio mengangguk pada celana bagian depan Abner yang sepenuhnya ternoda teh membentuk pulau. Abner menarik helaian tisu kasar, berbalik ke dinding dan melap celananya.


"Apa maksud Anda, Tuan? Apakah Anda telah bertemu Aruhi?" tanya Maribel. Elgio amati asisten rumahnya tajam.


"Anda lebih tahu, Bibi Maribel. Anda sembunyikan seseorang di rumahku selama bertahun-tahun dan merahasiakannya dariku?"


"Siapa yang kau sembunyikan?" Abner keheranan dengan percakapan dua orang itu.


Maribel seketika berlutut. Ia mengatupkan kedua telapak tangan memohon ampun.


"Maafkan aku, Tuan. Aku lakukan itu agar Marya terlepas dari bahaya. Orang-orang Nyonya Salsa terus memburunya setelah tahu ia selamat dari kebakaran. Jadi, Tuan Ebenn mengganti nama Nona Aruhi dan memohon aku merawatnya, jika sesuatu yang buruk menimpa Tuan Ebenn. Aku sungguh tak bermaksud bohongi Anda."


"Aku atau Marya?" tanya Elgio dengan nada dingin untuk menggertak Maribel. Tak ingin bahas pleidoi Maribel dan itu buat sang asisten terperanjat, katupkan mulut rapat. Ia tak mungkin memilih di antara keduanya.


"Hei, apa yang kalian bicarakan?"


"Bibi Mai? Aku atau Marya?"


Maribel mengangkat wajahnya. "Maafkan aku. Marya sudah kuanggap Puteriku sendiri. Ia telah lalui banyak hal buruk dan kenangan buruk. Aku tak tahu bagaimana caranya ia bisa tumbuh sebesar sekarang. Sebab kehidupannya sungguh malang."


"Marya?! Siapa Marya?!"


Elgio seakan puas dengan jawaban Maribel. Gadis itu tak sendirian.


"Aku punya kabar baik untuk kalian berdua. Aku menikahi Marya Corazon, Puteri angkatmu, kemarin pagi."


"APAA?!" Mulut Maribel dan Abner kompak membulat.


Maribel lekas menutup kedua mulutnya dengan tangan setelah sadar kelakuan itu tak pantas di depan sang majikan. Matanya berbinar gembira. Sementara Abner makin tidak bisa mencerna. Ia seakan baru saja kena sembelit.


"Marya Corazon?!" Abner menekuk wajah. Kesalnya meruncing. "Katakan dengan jelas mengapa kau mencari Aruhi dan menikahi seorang wanita lain bernama Marya Corazon?"


"Siapkan saja 'itu-mu', Abner. Aku telah menikahi Aruhi kemarin pagi. Kau memang tak pernah mencari Aruhi. Kau hanya membuat laporan palsu."


Abner ingin menyangkal. Namun ....


Gemuruh raungan mesin Lamborghini Aventador yang menyalak di garasi membuat ketiga orang dalam ruangan terperangah. Derunya menggebu-gebu gambarkan suasana hati penunggangnya. Abner segera mendekat ke jendela mengintai ke arah garasi.


"Nona Reinha?! Hendak kemana dia?"


***


Dukung Senja Cewen selalu.


Like, vote, fave, rate, komentar dan mari saling mengirim dukungan.


Harus baca bagaimana aksi Reinha beri pelajaran pada Lucky. Next Chapter.