
Marya membungkuk di atas westafel kamar mandi, terserang rasa mual parah dan mulai muntah-muntah. Morning sickness bertamu.
"Oh, Elgio. Aku harus ke sekolah, untuk wawancara. Apa yang harus aku lakukan?"
Marya setengah panik sebab ia telah dua jam duduk di kamar mandi oleh rasa tidak nyaman yang menyiksa sedang Elgio temani Marya di samping memijat punggung istrinya dengan lembut, berusaha tenang walaupun dirinya sendiri kebingungan. Ini pengalaman baru dan meski telah banyak baca buku, artikel dari blog-blog, pria itu tetap kewalahan.
"Dokter akan segera tiba, bisakah kau bertahan sebentar, Sayang?" tanya Elgio mendadak gelap. Semuanya telah dimulai, Marya menjadi tidak stabil, bahkan moodnya berubah buruk. Ia cepat sekali pusing, mual dan muntah, cepat murung juga sangat sensitif. Kekasihnya ketakutan bayangkan akan pergi ke sekolah dengan perut membengkak tetapi di lain waktu ia kedapatan sangat bahagia karena Marya sangat ingin punya bayi.
"Tak perlu panggil dokter, Elgio. Aku akan baik-baik saja."
"Bisakah kau tak perlu ikut wawancara, Marya?" bujuk Elgio.
"Tidak, ini wawancara penting. Jika aku tak datang, Irish Bella akan berpikir, pernikahan dini-lah penyebab aku tak bisa sekolah. Ia mungkin akan mengada-ada soal absennya aku di wawancara. Kau mungkin juga akan disorot, Elgio," keluh Marya lagi. Sensitifnya kembali mengorek harga diri.
"Baiklah, mau kembali ke kamar?"
Marya mengangguk dan Elgio menggendong kekasih yang semaput itu, kembali ke ranjang.
"Aku ingin aroma lemon, Elgio. Bisakah? Kurasa aku menyukainya dan juga aroma cologne-mu," keluh Marya terbenam di ranjang. Satu jam lagi dia harus ke sekolah. Anehnya, meskipun ia sangat-sangat terganggu soal mual-mual dan pening, Marya sangat suka belajar. Ia juga menyukai aroma buku lapuk di perpustakaan dan ia sangat disiplin saat bantu Arumi belajar.
"Baiklah, tunggu di sini dan aku akan ambilkan lemon untukmu. Okay?"
Pria itu berlarian ke dapur. Beberapa Minggu setelah mereka tidur bersama, Marya dinyatakan mengandung. Elgio sangat bahagia tetapi seperti yang Abner takutkan kondisi mental Marya bisa memburuk. Marya cemaskan banyak hal, termasuk bagaimana nanti ia harus ke sekolah? Apakah ia bisa belajar dengan bayi dalam perutnya? Marya lekas uring-uringan tetapi lekas bahagia bayangkan akan punya bayi. Ia ingin bersembunyi tetapi takut tidak lulus sekolah. Hari-harinya diisi dengan kebingungan dan Elgio jadi tempat pelampiasan paling nyaman untuk Marya. Elgio sering tergesa-gesa dari kantor ke sekolah Marya dan pria itu jadi laki-laki tersibuk abad ini dikarenakan istrinya yang masih belia sedang mengandung tetapi juga harus bersiap untuk ikut olimpiade Nasional.
Elgio kembali dengan cepat dari dapur dan memeluk Marya di atas ranjang. Belakangan Elgio Durante tak perlu capek-capek jogging 5 putaran di Broken Boulivard, ia telah lakukan hal sejenisnya untuk ikuti keinginan Marya. Seperti tebakannya Marya sangat bawel saat mengandung. Marya terlihat membaik setelah hirup aroma limun dan cologne Elgio.
"Kau tidak harus pergi ke sekolah, Sayang."
"Tidak Elgio, aku baru beberapa bulan suka pada sekolahku, teman-temanku."
"Baiklah, apa yang harus aku lakukan agar kau bisa nyaman ke sekolah?"
"Kurasa aku akan terbiasa setelah minggu-minggu awal yang sulit. Maafkan aku jika aku mungkin membuatmu tidak nyaman."
"No Marya, ini salahku. Maafkan aku," ujar Elgio penuh penyesalan. Mereka tak menolak bayi tetapi seandainya pengendalian dirinya bagus, mereka bisa menunda setidaknya hingga Marya lulus sekolah, seperti yang dikatakan Reinha. Tidak, ia tak akan sesali hari yang indah kala itu. Ketika mereka berlarian bersama dalam hasrat yang besar untuk saling memiliki.
"Elgio, bayi adalah anugerah Tuhan, hadiah dari Surga. Kita akan merawatnya mulai sekarang dengan bahagia," kata Marya.
"Ya, mari buat bayi kita bahagia. Apa yang kau inginkan saat ini?" tanya Elgio tersenyum. "Tahukah kau, Marya. Mual-mual diawal kehamilan itu bagus, pertanda bayinya berkembang baik."
Dielusnya rambut yang kepalanya terbenam di bantal dengan banyak aroma lemon segar.
"Ya, aku tahu dari artikel. Aku harus bersiap-siap ke sekolah Elgio. Topik wawancara diganti soal kompetisi nanti."
"Baiklah sayang, ayunkan otakmu dan aku yakin kau akan jadi nomer 1."
"Kurasa cintamu padaku, Elgio Durante, akan menyokongku raih medali emas."
***
Hari-hari sibuk dengan belajar sebab ketiga sahabat akan ikut olimpiade Nasional. Mereka tekun habiskan banyak kasus dan soal yang seakan tak habis-habis.
"Kita akan bertemu Irish Bella untuk wawancara," kata Ethan Sanchez.
"Kota ini kehabisan jurnalis, lagi-lagi Irish," guman Reinha gusar.
"Kalian berdua tak suka padanya? Aku tertarik pada Irish. Dia pintar, blak-blakan juga tajam."
"Itu dulu, aku juga kagum padanya," kipas Reinha. "Kini tidak lagi, Irish merusak reputasi dan image para jurnalis. Wanita itu mengacau," keluh Reinha.
Saat Irish Bella masuk ke ruang perpustakaan tempat mereka akan di wawancara, Marya dan Reinha saling pandang. Seakan bertanya, haruskah kita kerjain dia? Oh tidak, pak Jerry berdiri tak jauh dari tempat mereka duduk, awasi ketiganya dengan tatapan memuja. Mereka tak akan khianati Pak Jerry seperti yang sering dilakukan si kucing Tom. Marya yakin sesuatu sedang bercokol di otak Reinha, terlihat dari cara gadis itu mengangkat keningnya tinggi.
"Bisakah kita mulai?" tanya Irish tersenyum cerah pada ketiganya. "Kalian terlihat sangat kompak," katanya lagi. "Salah satu dari kalian bisa ambil satu kesempatan secara bergantian untuk menjawab pertanyaan." Irish serius, melirik Pak Jerry juga Kepala Sekolah.
"Baiklah," sahut ketiganya barengan.
"Ini pertanyaan pembuka dariku. Bagaimana Anda mempersiapkan kompetisi? Apakah ada persiapan khusus? Tahulah, peraih medali emas dalam kompetisi ini akan ikut dalam olimpiade internasional di Jerman."
"Kami bersenang-senang saat belajar, tak ada yang serius pikirkan kompetisi." Marya dan Reinha sibuk pacaran dan kasmaran tiap detik. Ethan hampir saja keceplosan bicara. "Marya tak punya persiapan khusus. Kurasa ia akan memenangkan olimpiade Fisika tahun ini. Reinha akan dibimbing seorang profesor jenius. Sedangkan aku akan ikut olimpiade Matematika meski Marya jauh di atasku. Jadi, persiapanku hanyalah kalahkan Marya Corazon. Saat aku menang darinya, aku yakin dapat singkirkan siapa saja di kompetisi."
Irish mengangguk-angguk. Ethan sangat serius atas jawabannya, terlihat sangat memuja Marya.
"Ethan benar, perpustakaan tempat kami habiskan waktu selesaikan soal dan kasus tanpa banyak beban. Guru beri kami sangat banyak kebebasan untuk belajar." Marya mengangguk pada Kepala Sekolah dan Pak Jerry.
"Lagipula, tidak ada metodologi khusus untuk pemecahan kasus sama seperti tidak ada metodologi khusus untuk menulis puisi," sambung Reinha.
"Apa yang Anda lakukan jika Anda menemukan kasus yang tak mudah diselesaikan?"
"Tak ada kasus yang tak dapat diselesaikan. Jika buntu, kami akan berhenti, menunda cari jawaban dan bersenang-senang sebelum kembali beberapa saat kemudian," jawab Reinha cepat.
"Apakah kalian bertiga saling membantu?" tanya Irish lagi. "Siapa yang paling cepat selesaikan kasus dan jadi bala bantuan? Paling bisa diandalkan?"
"Marya ...." sahut Ethan.
"Ya, Marya ...." Reinha benarkan sahutan Ethan.
"Dia jenius, Anda tak akan percaya ada seseorang dengan IQ terbaik seperti Marya."
"Ya, kita beruntung berada sekelas dengan Marya," tambah Reinha lagi-lagi setuju dengan Ethan.
"Baiklah, aku akan traktir kalian selepas ini!" sambung Marya dan mereka semua terkekeh kecuali Irish yang hanya senyum.
Pak Jerry mengangguk-angguk dan seorang siswi datang memanggil Pak Jerry juga Kepala Sekolah ke ruang kepala sekolah. Irish mengatur posisi duduk saat Pak Jerry pergi.
Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba. Irish manfaatkan situasi. Ethan Sanchez melipat kening di sebelah Marya. Sedang Reinha menyipit. Ah, si betina sialan ini cari-cari masalah saja. Apakah ia serius akan mulai perang terang-terangan? Tangan-tangan Marya keram-keram, mengapa Irish selalu out of konteks? Melenceng keluar jalur. Mood-nya lagi buruk dan wajah cantik Irish bikin Marya ingin muntah.
"Apa ini ada hubungannya dengan prestasi kami di sekolah? Aku berharap Oriana yang wawancarai kami," serang Reinha, tak percaya ada pertanyaan semacam itu di tengah teks.
"Tidak apa, Reinha. Aku tak masalah dengan pertanyaan itu," sahut Marya coba tenang.
"Kita perlu saling mengenal lebih dekat, agar lebih nyaman saat wawancara. Kalian terlalu tegang. Santai saja Nona Durante. Aku hanya ingin cairkan suasana di antara kita, lagipula ini bukan siaran langsung!"
"Apa Anda masih kesal padaku soal Artikel Elgio Durante? Anda tampak kesal padaku soal cinta yang tidak kesampaian?" tanya Marya tersenyum lembut. Mereka saling menikam manik mata. Irish berpikir Marya Corazon terlihat mirip psikopat, malaikat separuh iblis dari cara bicara lembut dan tatapan mata tak berdosa tapi pertanyaannya sangat menyinggung. Hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang dengan kepribadian ganda. Tak pernah berpikir bahwa kelinci yang lemah sekalipun saat diserang akan unjuk gigi.
"Kisah kita bertiga sudah berakhir, Marya!" sahut Irish datar. "Tak perlu ada yang dikesalkan!" tambahnya tersenyum.
"Kisahmu berakhir Irish, kisahku dan Elgio masih berlanjut," bantah Marya berubah dingin hingga Ethan menoleh pada sahabatnya yang tidak biasa. "Aku turut menyesal untuk hatimu. Harusnya sedari awal tak menaruh interpretasi besar pada khayalanmu. Terus terang, aku tak menyangka akan menikah di usia masih sangat muda. Kami bersama sejak kecil dan kemudian bersama di Durante Land, meski ia tak sadari keberadaanku." Marya tersenyum. Okay, Elgio adalah moodboster. Matanya bersinar terang saat bicara soal Elgio. "Anda tahu Nona, banyak wanita cantik saat ia di New York, wanita-wanita hebat sepertimu, tetapi ia rela di cap deviasi seksual karena terobsesi menemukanku. Kami berciuman di Broken Boulivard saat bertemu pertama kali setelah sekian tahun dan Elgio berkata, itu yang pertama kali baginya. Non sense-lah, seorang pria hampir 24 tahun tak pernah berciuman karena menungguku." Marya pegangi dada yang bergetar mengingat first kiss-nya itu. "Terus terang pernikahan kami tak mengganggu proses belajarku, Nona Irish."
Marya, kau ingin menampar Irish tapi aku yang kena. Keluh Ethan Sanchez sesak napas.
"Ya, dia bersembunyi di Durante Land dan aku mengintai tulang rusuk milik Elgio Durante tiap hari," sambung Ethan.
"Dan kau tahu, tapi kau merahasiakan dariku Ethan. Tak bisa dipercaya," sesal Reinha meninju lengan Ethan pelan lalu berbalik pada Marya. "Saat aku dapati kamu dan Elgio malam-malam ketika Elgio melamarmu, sebenarnya aku tak percaya, yang kulihat adalah dirimu, Marya. Ya Tuhan, Ethan. Mereka berdua mengendap-endap pergi ke kamar Elgio tengah malam. Itu kali pertama kali aku melihatnya dengan sangat jelas."
"Tidak heran kau cepat hamil, Marya," keluh Ethan.
"Senang bertemu kalian berdua!" kata Marya berseri-seri.
"Bukankah gila, Marya bersama kami di Paviliun selama bertahun-tahun dan aku tak sadari itu sama sekali? Elgio mencarinya bertahun-tahun."
Mereka mengobrol ngalor-ngidul lupakan Irish Bella, mengulang kisah aneh di antara mereka. Hingga sampai di mana Irish menyela.
"Apakah kehamilanmu tidak mengganggu kegiatan belajar di sekolah? Meski Anda sangat pintar tetapi Anda bukan contoh yang baik untuk ditiru." Irish tersenyum lembut.
"Sebenarnya Nona Irish, kemana arah wawancara ini?" tanya Reinha. "Anda ditugaskan untuk wawancara mengenai prestasi atau kehidupan pribadi kami?"
"Ini bukan bagian dari wawancara cuma selingan, Nona Muda Durante. Anda terlihat tak bersemangat, apakah ... ?!"
Reinha bisa menebak kemana pembicaraan itu berlangsung.
"Oh hentikan Irish! Tahulah batasan di mana kau mengganggu anak remaja. Apakah kau tak punya kekasih hingga kau recoki urusan orang lain?" Reinha benar-benar bicara dingin dan kasar beruntung Pak Jerry telah pergi tinggalkan ruangan. Jika tidak, pak Guru Jerry akan melotot padanya hingga bingkai kaca matanya pecah.
"Anda terlihat tak bersemangat, apakah karena saingan Anda di Olimpiade Kimia adalah Charles Vasco?" ulang Irish senang lihat Reinha Durante salah kira. "Orang-orang juluki Tuan Vasco sebagai titisan Jhon Dalton. Apa kamu merasa gugup?"
Fix, Irish sakit jiwa. Pikir Reinha dan dia tak pantas jadi reporter saat ini sampai jiwanya sembuh.
"Don't worry, aku tidak perlu cemas pada hal yang belum tentu terjadi. Pada Charles Vasco juga. Aku hanya perlu andalkan otakku."
Irish mengangguk-angguk sepakat. "Kau yang terbaik Nona Durante. Nah, bisakah kita mulai lagi? Aku masih punya 20 pertanyaan."
Ngomong-ngomong soal tak bersemangat, Reinha Durante memang tak bersemangat. Bagaimana tidak, ia mendorong Lucky malam itu untuk temui September. Mereka bersih tegang. Bukan tanpa alasan, Reinha pikirkan keselamatan bayi. Lagipula, mereka tak mungkin bersama sementara Lucky terlihat sangat frustasi. Reinha tak bisa menghibur kekasihnya yang penuh dilema dan terpaksa dengan kuat-kuatkan hati memaksa Lucky pergi pada September. Sungguh buruk karena Lucky Luciano tak ingin temui September, pria itu kesal pada keadaan dan melangkah tanpa banyak kata.
Reinha duduk dengan malas di perpustakaan setelah Irish pergi. Buku kimia terbuka di hadapannya tapi pikirannya melayang jauh.
"Reinha, kau tahu ... kau akan dibimbing Profesor Muda Samael untuk ikut olimpiade. Bukankah kau sangat beruntung?" Ethan Sanchez bergabung dengannya.
"Lalu?"
"Kau tahu, usianya baru 27 tahun tetapi dia punya banyak gelar dan bahkan masuk dalam nominasi Nobel, keren bukan?"
"Lalu?"
"Apa wanita itu melahirkan? Apa dia tak mau berikan bayinya padamu? Kau semangat sekali bikin box untuk bayi orang lain, kurasa otakmu perlu dicungkil, Reinha Durante gunakan linggis dan paku anti karat, ditempatkan kembali pada posisi semula." Ethan mengacak rambut gadis itu gemas. Reinha sepertinya hanya sebongkah daging kosong tanpa jiwa.
"Ethan, tutup mulutmu, please!"
"Kau akan bertemu profesor Samael lusa, Reinha Durante. Dia akan datang dari Amerika dan langsung jadi mentor-mu. Aku iri padamu! Kau tahu saat usianya 25 tahun setelah dapat gelar doktor di bidang Chemical and Process Engineering, is diangkat menjadi asisten profesor di Lehigh University. Hebat bukan? Aku akan seperti itu nantinya!"
"Kalau begitu kau saja yang ikut olimpiade kimia, aku tak berminat, Ethan," sahut Reinha terus melamun.
"Oh ayolah, Reinha. Coba kembali fokus! Jika kau terus memikirkan kehidupan cintamu, Charles akan kalahkanmu nanti!" bujuk Ethan.
"Apakah profesor Samael tampan? Aku akan pergi kencan dengannya," kata Reinha terdengar putus asa.
"Ya, sangat tampan. Apa kau sungguh-sungguh akan lepaskan Lucky Luciano? Oh, kupikir kau wanita yang setia dalam suka dan duka?"
"Berisik!"
"Usia profesor Samael sama dengan walimu, Tuan Abner dan dia belum punya kekasih. Kau bisa maju, meski lampu kuning. Saat ia menua dan sekarat, kau bisa jadi janda kuncup."
"Doamu terkabul Ethan Sanchez, aku akan pergi kencan dengannya jika beliau setuju, dan kami akan menggendong buku-buku kimia kemana-mana sambil kencan," sinis Reinha. Lebih bagus ketimbang bawa-bawa senjata. Pikirnya lagi lebih murung.
Ia ingin pergi dengan Lucky ke dalam hutan dan menembaki musuh seperti yang mereka lakukan tempo hari di hutan pinus. Reinha akan bertanya pada Francis, apa mungkin mereka bisa lakukan hal gila semacam itu lagi?
Ia merindukan Lucky Luciano. Cinta mereka bukan cinta dangkal yang gampang putus. Ia akan hadapi September secepatnya dan harus selamatkan Lucky Luciano dari kejahatan September. Lucky hanya punya itikad baik pada bayi September, ia lemah sebab bayi itu. Tetapi September telah kelewat bermain-main. Reinha dan Lucky mencintai si bayi tetapi September ciptakan rentang untuk kebencian tumbuh. September merusak kasih sayang seorang pria pada bayinya.
Reinha akan menunggu momen tepat untuk hadapi September.
***
Chapter ini sebenarnya sangat panjang, aku bagi dua. Reinha akan hadapi September di chapter 97, sambungan dari chapter ini. Aku gak bisa bikin sesuatu yang gregetan sebab besok pagi harus rias pengantin pagi buta.
Mohon jaga bahasa saat komentar. Jangan lupa vote Heart Darkness...