
"Aku ingin melihat Ibuku, Elgio."
Ucapan lirih tetapi bernada memaksa Marya menghentikan aktivitas Elgio. Ia berbalik ke arah Marya yang berdiri di ambang pintu. Tubuh dan raut gadis itu benar-benar gelisah. Ini pembicaraan kesekian kali setelah pesan-pesan dari Salsa juga kedatangan Sunny.
"Aku tak ijinkanmu, Marya. Tidak akan, sampai semuanya jelas," jawab Elgio tegas dan tetap konsisten untuk menolak permintaan Marya.
"Tidak akan jelas jika aku hanya berdiam diri di Durante Land, Elgio. Aku akan menemui Ibu dan tahu kabar tentangnya," ucap Marya lagi. Terlepas dari Ibu sakit atau tidak, Marya ingin melihatnya secara langsung.
"Baiklah, lakukan sesukamu," pungkas Elgio.
Harusnya ia biarkan saja Aruhi menyimpan benci mendalam pada Salsa. Ia tak menyangka penguatan dan penghiburannya pada Marya beberapa waktu lalu menjadi bumerang untuk mereka kini. Ia hanya ingin Marya tahu bahwa ia sangat mencemaskannya, tetapi Marya terlihat abaikan itu meskipun Elgio mengirim sinyal kuatir secara jelas.
"Elgio ...."
"Bagaimana jika ini akal-akalan Sunny, Marya?!"
"Kita akan tahu dan aku akan memutuskan hubungan kami. Aku berjanji."
Marya terlihat bersungguh-sungguh dan Elgio tak punya pilihan lain saat ini.
"Elgio, Sunny Diomanta mengincar Nona Reinha. Wanita itu berniat menculik Nona dan menukarnya dengan Aruhi." Abner masuk dan menyela percakapan mereka di ruangan kerja.
Mata Elgio menggelap, ia mengepal tangan kuat. Perang ini tak akan berakhir dengan mudah jika Diomanta terus memprovokasi Durante. Ia menggeram keras.
Hubungan Durante dan Diomanta tidak pernah baik atau berjalan menuju kebaikan semenjak tragedi penjegalan Diomanta terhadap Ayahnya dan Ebenn. Segala sesuatu berjalan penuh curiga. Elgio tidak suka perkelahian meskipun ia suka meledak-ledak. Namun, Diomanta adalah musuh kebuyutan. Elgio ingin maafkan mereka untuk perbuatan dan tindakan keji tetapi lebih dari itu, ia ingin mengajak mereka ke tempat yang tenang, lalu melampiaskan dendamnya di sana.
"Kirim pengawal tambahan untuk menjaga Reinha, Abner! Aku akan hancurkan Diomanta jika mereka berani menyentuh adikku. Apa berkas kejahatan Diomanta yang kuminta kau selidiki telah siap? Mereka harus secepatnya dikirim ke penjara."
"Ya sedang kusiapkan. Elgio, kau tak akan percaya jika kukatakan ini ... " ucap Abner ragu, menimang berita yang akan dikabarkan pada Elgio. Suasana hati Elgio sangat suram beberapa hari belakangan oleh sebab ketakutannya akan kehilangan Marya. Sesuatu yang belum tentu pasti terjadi.
"Aku mendengarkanmu."
Abner menghela napas panjang dan berat, "Lucky Luciano memonitor Nona Reinha dengan laras panjang dari hotel Highland Park. Ia di sana lebih dari sepekan dalam pengintaian tanpa mendekati Nona Reinha. Kupikir kau harus tahu."
Abner menunggu reaksi Elgio sedang Elgio entah mengapa tidak terkejut. Ia seolah bisa menebak hubungan mereka dari sudut tak kasat mata. Ia mengerut kening.
"Aku tidak terkesan."
"Pria itu menghalau Sunny menjauhi Nona Reinha," sambung Abner.
"Mereka itu bersengkokol Abner. Jangan percaya padanya. Kau tahu harimau berbulu domba?" tanya Elgio gusar, "Lucky Luciano persis begitu. Di mana instingmu?"
Tanpa sepengetahuan Elgio, Abner menghubungi Lucky Luciano semalam secara pribadi dan bicara serius tentang tujuan Lucky mendekati Reinha. Abner memberi peringatan keras tetapi Lucky secara blak-blakan menyatakan jatuh cinta pada Reinha dan siap untuk semua kemungkinan serta resiko. Abner tak bisa melerai orang yang sedang jatuh cinta. Lucky bersedia dicungkil matanya oleh Abner jika ia memiliki maksud terselubung pada Reinha.
"Ya, tetapi tidak jika ia jatuh cinta pada Nona Reinha ... kupikir ... ia akan melindunginya."
"Berhenti bicara omong kosong Abner!" sergah Elgio gusar. Hanya karena bedebah sinting itu memantau adiknya bukan berarti Elgio harus berhenti waspada padanya. Elgio tak mempercayai Lucky meskipun ia meragukan keyakinannya sendiri. Lucky sungguh-sungguh saat ungkapkan, mencintai Enya dan Elgio tak menyangsikan itu. Cinta saja tidak cukup. Latar belakang kehidupannya jadi masalah di sini. Ujung-ujung, itu akan menyakiti Reinha.
"Baiklah, kau ini pemarah sekali. Jika kau terus berteriak padaku, kau urusi saja hidupmu sendiri, Elgio Durante!" balas Abner tak kalah galak.
"Tuan Abner, aku akan menemui Ibuku dan mereka mungkin akan berhenti mengganggu Elgio dan Reinha. Bagaimana menurut Anda?" tanya Marya pelan menengahi perdebatan Elgio dan Tuan Abner.
"Marya, ini terlalu beresiko. Kita tidak tahu apa yang sedang direncanakan Sunny. Aku mengenal wanita itu dengan baik. Ia akan lakukan apapun untuk mencapai tujuannya."
"Tapi Tuan ...."
"Kita bicarakan ini nanti besok."
Elgio melempar berkas di tangan, bangkit dan keluar dari ruang kerja menuju kamarnya. Ternyata, dirinya saja tidak cukup untuk Marya. Itu membuat Elgio meradang. Bisakah ketulusannya dihargai? Elgio hanyalah jiwa yang tidak memiliki ketetapan dalam hal kesabaran.
Mendengar Ibu sekarat, Aruhi melupakan segala penderitaan jiwanya selama hampir 17 tahun. Di satu sisi Elgio mencintai Marya yang seperti malaikat tetapi di sisi lain ia berharap Marya tidak melupakan begitu saja kesakitan yang dideritanya. Elgio hanya berharap bisa melakukan yang terbaik untuk Marya.
***
Mentari meninggi di Durante Land, Marya tersadar dari lelap oleh belaian halus di wajahnya. Saat matanya terbuka, Elgio sedang memujanya dari sisi pembaringan. Pria itu mencerna raut muka bertatap sama yang selalu membuat Marya merona. Mereka mulai bertengkar semalam, perihal yang sama. Marya ingin bertemu Ibu. Dia hanya ingin tahu apakah Ibu benar-benar sakit? Hanya untuk memastikan tetapi Elgio berkomitmen tidak mengijinkannya pergi.
"Kau sudah bangun? Maafkan aku soal semalam. Aku hanya takut terjadi sesuatu padamu," kata Elgio lembut.
Marya tersenyum, mengecup punggung tangan pria yang sangat ia cintai itu. Ia sepenuhnya membaik berkat Elgio dan ia merasa mulai pulih seutuhnya, kini. Bersyukur pemulihan terjadi lebih cepat dari yang diprediksi. Tanpa Elgio ia tak akan pernah tahu, nasibnya jadi macam apa.
"Berapa lama kau menungguiku?" tanya Marya.
"Belum lama." Pria itu berbohong. Ia telah habiskan waktu di sisi ranjang Marya sejak pukul tiga pagi dan memandangi Marya, merajut angan tentang "mereka" di masa depan.
"Apa kau takut aku akan berlari pada Ibuku, Elgio?" Marya mengelus tangan Elgio. Bekas luka pada tangan pria itu belum benar-benar sembuh. "Maaf jika aku tidak peka. Aku akan tinggal di sampingmu sebab aku tak bisa hidup tanpamu. Tidak akan ada yang berubah Elgio," ujar Marya lagi lebih pelan.
Pernyataan manis Marya sedikit melegakan. Elgio daratkan kecupan di kening Marya dan mendekapnya hangat. Marya dan matahari punya sebuah kesamaan, sama-sama bersinar di pagi hari, rupawan dan menawan. Ia mengelus surai senada madu itu, pelan. Ia tersenyum, wajahnya kembali ceria. Meski demikian hati yang lega diselingi siap-siaga. No one knows about the futures brings.
"Bersiaplah. Aku akan menemanimu bertemu Ibumu."
"Benarkah?"
Elgio mengangguk. Ia tak berani biarkan Marya pergi sendirian. Abner telah menghubungi Sunny dan mereka akan pergi ke Paviliun Diomanta.
Marya bergegas bersiap-siap, sedang Elgio menunggunya di depan kamar. Pria itu mondar-mandir karena gelisah.
"Berhenti mondar-mandir seperti itu Elgio, kau membuatku bertambah pening."
Abner menggeleng keheranan. Pria ini jatuh cinta setengah mampus pada Marya tetapi ia meragukan gadis itu tiap saat. Ia mencintai Marya sangat kuat sebanding dengan kerapuhan hatinya.
"Abner, aku akan menikahi Marya Minggu ini. Aku tak peduli. Aku akan segera menikahinya."
"Ya, baiklah. Aku juga memikirkan itu."
Marya keluar dari kamar mengenakan celana jeans dan kaos putih. Rambutnya diurai dan ia berdandan tipis-tipis. Elgio manggut-manggut melihat kekasihnya yang sangat cantik itu. Mereka berdua menuruni tangga dan sedikit terkejut saat Bibi Maribel mempersilahkan dua orang masuk. Marya refleks bersembunyi di belakang Elgio namun terlambat Ethan Sanchez telah melihat Marya tanpa hoodie.
"Pagi Tuan Elgio ...."
"Ethan?!" tanya Elgio heran. Apa yang membawa pemuda itu pagi-pagi ke Durante Land. "Ada urusan pentingkah?"
"Hai, Tuan Elgio Durante. Aku Abram Hartley, teman Reinha juga Marya Corazon. Turut bahagia mendengarmu menikahi Marya. Aku menyukai Marya sebagai sahabat. Aku berharap kalian bahagia sampai maut memi ... " sapa Abram dan berhenti saat Ethan menyikut keras, "memisahkan," lanjutnya sebelum tersenyum lebar.
"Bisakah kamu tidak bersembunyi Marya? Aku pernah melihat wajahmu banyak kali. Aku membawa undangan untukmu dan Reinha. Juga Anda, Tuan Elgio. Pak Jerry ingin Anda dan Tuan Lucky hadir di sekolah. Untuk lebih jelas, Anda bisa membaca undangan ini."
Ethan bicara tanpa jeda. Wajahnya datar tetapi tidak tampak bermusuhan, tidak seperti terakhir kali. Ia begitu tenang tanpa emosi keutuhan karakter yang sangat bagus. Pantas saja ia populer di sekolah dan digandrungi gadis-gadis bahkan Reinha juga. Jika bersanding dengan Reinha, Ethan akan sangat cocok. Ais, mengapa Lucky Luciano? Ada apa dengan Reinha?
"Baiklah. Aku akan melihat undangan itu nanti."
Bertanya-tanya dalam kepala, mengapa harus ke sekolah dan bersama Lucky? Bukankah sudah sepakat mata pelajaran ekstra itu akan di bagi per jam antara dirinya dan Lucky? Bertambah rumit saja. Tetapi membayangkan akan mengajar di depan Marya membuatnya gugup.
"Marya dan Reinha diundang untuk berpartisipasi dalam kepanitiaan penerimaan siswa baru periode ini. Apakah keduanya mendapat ijin Anda, Tuan?" tanya Ethan terlihat was-was dan berbinar-binar walau hanya samar saat Elgio mengiyakan.
"Baiklah, Marya dan Reinha akan ikut."
"Itu kabar yang sangat bagus, Tuan," seru Abram Hartley riang mewakili perasaan Ethan.
"Tetapi aku tak yakin, aku bisa datang bersama Lucky. Itu undangan yang sulit."
Elgio tidak tahu, apakah semua akan berjalan lancar saat Lucky memancing emosinya? Pria itu suka begitu dan Elgio, entah mengapa, mudah terpancing untuk melenyapkan Lucky Luciano.
"Hai Ethan ... Abram ... " sapa Marya keluar dari persembunyian tetapi tangannya bertaut pada jemari Elgio kuat. Ia melihat pada Elgio yang mengangguk memberi dukungan.
"Ma, Ma-ryaaa?! Kaukah itu?!" Abram ternganga di tempatnya berdiri. "Ya Tuhan. Benarkan itu kau?! Aku pikir kau sangat jelek sehingga terus bersembunyi dibalik hoodie, ternyata kau gadis tercantik di sekolah. Woow, Nona Durante dan Nyonya Durante benar-benar cantik bahkan Bibi pengasuh Durante juga cantik."
Abram mulai melantur.
"Hai, Abram. Apa kabarmu?"
"A, ak-akuu baik saja, Marya. Tetapi hatiku mungkin akan terkena liver akut setelah melihatmu," sahut Abram Hartley terlalu jujur sembari memegangi dadanya.
Marya tersenyum sedikit.
"Kami permisi, Marya. Sampai jumpa di sekolah. Jangan pakai hoodie-mu, kau pasti akan membuat semua anak lelaki tergila-gila padamu dan anak-anak cewek cemburu."
Ethan meninju lengan Abram Hartley menyuruhnya tutup mulut.
"Ups, aku akan mengawasi Marya untukmu Tuan Elgio," tambahnya seakan baru tersadar ucapannya bisa membuat Elgio Durante kesal.
Elgio melirik pada Marya yang terus tersenyum.
"Sampai nanti, Abram ... Ethan ...."
Marya butuh sedikit waktu untuk pulihkan kepercayaan dirinya, ia hanya butuh pergi ke lingkungan di mana prestasi dan "atribut" kepribadiannya dihargai.
***
Abner dibalik kemudi, melajukan mobil berkecepatan sedang sembari memutar radio dan menyimak berita. Tangan Elgio terus menggenggam tangan Marya, menyesali sikap buruknya semalam. Elgio hanya tidak tahu bagaimana caranya mengatasi gejolak perasaan di lubuk hati terdalamnya. Ia ingin bersama Marya hingga akhir.
"Elgio, apa kita kembali saja?" tanya Marya ragu. Marya mulai gelisah.
"Kita sudah setengah jalan, Marya."
"Baiklah. Tempat itu mengingatkanku pada Ayahku," ujar Marya risau.
"Ya, Anda benar Nona Marya. Kita akan kembali di hari di mana kau dan aku melihat Ayahmu disiksa," sahut Abner dari bangku depan. Pria itu keceplosan bicara dan memukul bibirnya ketika melihat ekspresi memucat Marya.
Sikap Marya timbulkan kecemasan. Elgio memeluk Marya erat, menjalin jemari mereka dan menciumi kepala gadis itu memberi suntikan ketenangan.
"Jika kau merasa gugup, ingat untuk menarik napas dalam-dalam dan mengontrol dirimu. Hmmm?! Aku di sini dan akan selalu menemanimu."
Marya mengangguk lesu, bersandar pada Elgio dan berusaha menggali ketenangan dalam dirinya.
Mereka sampai di Paviliun Diomanta. Tidak ada yang berubah dengan Paviliun Diomanta, semuanya masih sama kecuali cat rumah yang terlihat masih baru. Lebih dari itu semua masih sama, seperti baru kemarin. Marya turun dari mobil. Di lantai dua kala itu, ia melihat Ibunya minum anggur dengan seorang pria. Ia berlari pada Ibu dan di sanalah ia melihat Ayah dipukuli tanpa ampun. Napas Marya tercekat di ujung tenggorokan, ia memegangi dadanya yang terasa sakit. Air mata mengucur deras, ia menangis tanpa diduga.
"Jangan pukuli Ayahku, tolong Tuan ... semua ini salahku. Jika aku tak merengek pada Ayahku, kami tak akan kemari. Biarkan kami pergi!"
Marya memegangi Elgio, semaput oleh ingatan yang mengerikan mulai mual dan pening. Darah Ayah terlihat jelas dan wajah luka Ayah menyakitinya.
"Ayah ...."
"Marya?!" seru Elgio mencoba tetap tenang. Jika ia panik, keadaan Marya mungkin akan semakin buruk.
"El-gio, biarkan saja wanita itu mati. Mari kita pergi. Aku tak mau bertemu dengannya. Bisakah kita pergi?" Ia bicara terbata-bata.
"Marya, Sayang. Tenangkan dirimu!"
Marya menggeleng sedih, "Mereka memukuli Ayahku, Elgio dan aku tak bisa menolongnya."
"Kemarilah, Sayang!" Elgio memegang bahu Marya. "Tenangkan dirimu! Tarik napas dalam-dalam." Elgio menuntun gadis itu untuk mengendalikan dirinya sendiri. Marya mengangkat wajah, ia menggeleng.
"Gara-gara aku, Ayahku menderita. Bisakah kita pergi saja?!"
"Abner, ayo kita kembali!" seru Elgio sembari membimbing Marya kembali ke dalam mobil. Ia membawa Marya dalam dekapan hangat hingga napas gadis itu kembali normal.
"Elgio ... maaf aku menyusahkanmu."
"Ssstttt ... it's okay honey. Mari kita pulang."
Sunny yang awalnya berseri-seri melihat kedatangan Elgio dan Abner berubah panik. Wanita itu terperangah melihat Elgio memapah seorang gadis yang ketakutan kembali menaiki mobil. Abner memutar setir, hendak berbalik arah. Sunny sekonyong-konyong berlarian seperti orang gila tanpa alas kaki dan menjerit histeris.
"Tolong jangan pergi! Tolonglah! Kasihanilah Kakakku! Ia menunggu Aruhi! Abner, tolong jangan lakukan ini!"
Wanita itu menghadang mobil saat Abner menginjak pedal gas untuk berbalik. Abner menginjak rem mendadak tetapi terlambat. Moncong mobil menabrak Sunny keras hingga tubuh Sunny terdorong jatuh. Abner mengumpat kewalahan, ingin abaikan Sunny. Wanita itu jago akting tetapi saat melihat Sunny tidak berdaya, ia bergegas turun.
"Apa kau ingin mati?!" seru Abner marah. Ia memeriksa Sunny yang kesakitan. Wanita itu tiba-tiba memegangi perut dan memuntahkan darah. Namun, Sunny masih bicara.
"Jangan pergi, tolonglah!" Sunny telah sepenuhnya menangis. Ia memegangi tangan Abner memelas."Jangan pergi! Kakakku sedang sekarat."
"Sunny ...."
"Bawa Kakak kemari!" Sunny memekik kalut ke dalam rumah. Ia menahan sakit dan darah yang terus muncrat dari mulut membuat Abner panik.
"Berhenti berteriak!" bentak Abner.
Sementara Salsa duduk di atas kursi roda didorong tergopoh-gopoh oleh seorang perawat mendatangi mobil Elgio. Salsa Diomanta hampir tak dikenali saking kurusnya tubuh itu. Salsa separuh menangis, melambai ke arah mobil.
"Aruhi, jangan pergi. Ibu mohon! Ampuni aku, Aruhi?!"
Ia berusaha bangun dari kursi roda, tangannya menggapai-gapai sebelum tersungkur dari kursi roda. Marya yang menyaksikan kejadian itu, segera melepas pelukan Elgio, membuka pintu mobil dan susah payah berlari menjangkau Salsa.
"Ibu ... " jerit Marya dan memeluk tubuh ringkih sisa tulang belulang yang dalam sekejab terkulai padanya. Seminggu lalu, wajah anggun dan cantik itu masih tampak sangat angkuh. Kini, Ibu tersisa kerangka kosong. Tulang selangka menyembul terlalu menjorok keluar. Ia seperti penderita Anorexia akut.
"Aruhi?!" bibirnya bergetar menyebut nama itu.
"Ibu, ini aku ... apa yang terjadi padamu?!" Marya menangis, memeluk Salsa yang tersenyum senang.
"Jangan pergi!" pinta Salsa memohon.
Air mata Marya berjatuhan di atas wajah Salsa bergabung dengan air mata Salsa yang menggenang di cekung matanya. Marya menatap buram pada wajah kuyu layu dalam pelukannya. Ibunya yang cantik telah berupa seonggok tulang tanpa daging.
"Syukurlah kau datang, kupikir aku tak akan bisa memohon ampun padamu. Maafkan aku karena membuatmu sangat menderita. Aku memikirkanmu Aruhi tetapi jadi pengecut. Kau pasti sangat membenciku," ucapnya lirih, terbata-bata dengan napas tersengal-sengal dan menahan sakit.
Marya menggeleng kencang.
"Aku tidak membencimu, Ibu. Aku rindu Ibu ...
aku sangat merindukanmu. Aku menyayangimu, Ibu."
"Aruhi, Puteriku yang malang ... maafkan Ibumu yang laknat ini."
Salsa kehilangan kesadaran dalam pelukan Marya yang menangis sejadi-jadinya.
***
Beritahu Author, pendapat Reader tentang Chapter ini ....