Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 73 Pertunjukan Segera Dimulai ....



"Bergabunglah bersama kami, Ethan," undang Elgio seraya memesan dua cappucino.


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada kerjaan. Jika selesai di sini, aku harus selesaikan kerjaan di pojok sana!" Ethan menyahut sambil anggukan kepala ke arah Arumi yang tampak hanya raga saja ada di sofa kafe sedang jiwanya pergi entah kemana.


"Apa kau sakit mata melihat kami bermesraan?" tanya Elgio tanpa bermaksud mengejek. Sempat terpikirkan untuk bikin Ethan Sanchez cemburu berat padanya tetapi tak ada untung.


"Baiklah," jawab Ethan cepat. "Aku selesai beres-beres dan bergabung. Jangan salahkan aku jika kencan kalian berubah huru-hara."


"Tak masalah, ini bukan lagi kencan," sahut Elgio mengambil pesanannya. "Kau tidak taruh obat sakit perut atau obat ngantuk di dalamnya kan?" Selidik Elgio.


Ethan menyipit. "Mengapa tak kepikiran ide itu ya, dari tadi? Aku bisa buatmu merem melek macam ayam penyakitan dan aku bisa merayu Marya," ujar Ethan penuh penyesalan mendalam.


Elgio menahan napas, ladeni Ethan lama-lama bisa gila sendiri.


"Kafe ini telah dibooking olehku, kau bisa berhenti bolak-balik bersihkan pantry dan bergabung bersama kami," tukas Elgio sembari pergi.


Di sanalah akhirnya Ethan duduk dengan wajah datar di antara dua pasang kekasih yang kasmaran berat. Lagu Better Man beralun dan mereka menikmati minuman sembari terhanyut dalam lagu.


Meski Elgio Durante tak lakukan tindakan atau perbuatan provokasi pada Marya, hatinya yang sakit buat Ethan Sanchez mulai hilang ketenangan perlahan. Marya selalu menatap Elgio penuh cinta dan gelora yang tak tanggung-tanggung, begitupula sebaliknya. Tiap kali Marya bicara, Elgio Durante berbinar-binar, mengelus wajah Marya dan memeluknya erat seakan tak bisa hidup tanpa gadis itu. Mata Elgio berkerut saking gemas pada Marya. Ethan meringis dalam hati. Sudah saatnya ia mengevaluasi hati dan keluarkan Marya dari sana. Gadis itu akan jadi milik orang lain, ia tak bisa terus stuck pada Marya.


Teringat dirinya dan Abram Hartley sering kerjain Marya Corazon saat mereka di tingkat satu, Ethan kembali nelangsa. Seandainya waktu itu, ia nyatakan cinta pada Marya alih-alih mengerjainya, mungkin sekarang ia tak akan gigit jari.


"Maaf, aku sering kerjain kamu saat kita di tingkat satu," kata Ethan pada Marya hingga Marya menoleh padanya dan sinar mata terang yang selalu lembut itu tersenyum padanya. Okay, Ethan, nikmati saja dan mari biarkan gadis itu bahagia.


"Aku penasaran mengapa kau dan Abram sering kerjain Marya?" tanya Reinha ikutan nimbrung. Ethan tersenyum pada Reinha yang berseri di samping kekasihnya.


"Kau sangat cemburu pada Marya waktu itu karena aku selalu memandanginya," sahut Ethan Sanchez hingga Reinha Durante katupkan mulut. Ethan tak peduli pada raut murka Reinha.


"Oh kau memang sialan Ethan Sanchez," umpat Reinha. Lucky miringkan leher pada Reinha.


"Itu dulu, aku hanya memikirkanmu saja saat ini," guman Reinha pada Lucky yang menuntut. Ingin pergi ke sana dan mendarat di bibir pria itu jika saja tak ada Elgio di depan mereka.


"Aku menyukai Marya," lanjut Ethan. "Aku mengikutinya selama dua tahun. Saat pagi, Marya naik bis dari perkebunan Murbei Durante Land ke sekolah lewat halte Broken Boulivard, saat di kelas, saat ia pulang dari sekolah tergesa-gesa ke Laundry," keluh Ethan.


Remaja itu benaran tak peduli pada raut Marya yang tidak tertebak sementara Elgio di luar dugaan menyimak Ethan. Sulit bagi Ethan menyukai Marya. Elgio akan mengingat keberuntungannya. Keputusan tepat ajak Ethan Sanchez bergabung, Elgio akan tahu apa mau remaja itu. Ia tak mampu menghakimi Ethan untuk rasa sukanya itu.


"Apa kau bisa lepaskan Marya sekarang?" tanya Elgio bicara dari hati ke hati.


Ethan menyengir. "Apa daya? Tetapi kau tahu kan jika coba-coba sakiti Marya? Aku akan dengan senang hati bersamanya."


"Itu tidak akan terjadi, Ethan!" ujar Elgio beralih dari Ethan ke Marya. "Aku menunggunya selama bertahun-tahun." Elgio menyeruput kopinya, berganti topik. Ethan terlihat sangat menderita meski diselubungi sikap cool-nya.


"Apa Reinha juga ikut mengganggu Marya?" tanya Elgio pada Ethan, penasaran.


"Ya, dia otaknya," sahut Ethan mengada-ada. Senang berhasil bikin Reinha Durante kelabakan. Gadis itu mendelik padanya.


"Apa yang kau lakukan Ethan Sanchez?" keluh Reinha mulai emosi. "Itu tidak benar, itu fitnah!"


"Bawa kemari keningmu, Enya! Berani sekali kau ganggu kakak iparmu?"


Reinha serta merta sembunyi dalam pelukan Lucky mencari perlindungan. Manis sekali saat ia ketakutan seperti ini, pikir Lucky.


"No no no. Aku saja Elgio, kau boleh lubangi keningku! Kau tak boleh menyentuh kekasihku," kata Lucky keberatan.


"Kekasihmu itu adikku, Kemarikan dia! Berani sekali dia pada istriku!" seru Elgio pura-pura marah. Marya tertawa geli, bergelayut pada Elgio, berhasil bikin Ethan pecah berkeping-keping.


Dekapan Lucky Luciano makin kuat. Pria itu temukan kesempatan bagus seakan dapat posisi strategis untuk menembak.


"Teruslah sembunyi, Enya. Kakakmu sedang marah. Oh astaga, matanya memerah, kepalanya membesar dan rambut-rambutnya menegang oleh marah! Tetaplah di situ, Enya," ujar Lucky dramatis di atas puncak kepala Reinha. Menikmati aroma manis dalam dekapannya. Bisakah ia menikahi Reinha Durante meski nanti, setelah gadis itu pergi ke Universitas? Ia akan biarkan Reinha mengejar mimpi ke Ibukota tetapi tetap setia di samping sebagai pendukung sejati.


Lucky Luciano sadari beberapa waktu lalu saat Reinha terbangun pagi hari di atas ranjangnya dan bergabung bersamanya di ruang makan, gadis itu seakan tercipta untuk berada di sisinya. Bisakah mereka terus bersama? Bisakah Tuhan merestui mereka? Bisakah Tuhan lupakan saja dosa-dosanya dan biarkan Reinha tetap bersamanya? Ia menginginkan Reinha di Puri Luciano.


Lamunan Lucky berakhir bersama senyuman lebar Ethan Sanchez. Suasana mencair sebab Ethan tampak abaikan rasa tidak nyaman. Tak ada yang bisa menebak masa depanmu, dengan siapa takdirmu akan kau genggam. Ethan Sanchez berdecak oleh tayangan di depannya. Melirik Arumi yang tertidur di atas meja kafe, tidak ingin pergi ke sana tetapi tidak ingin berada di tengah-tengah romansa penyebab ia patah hati ini.


"Berhentilah menghasut kakaknya yang sangat pemarah ini, Ethan. Baiklah, aku akan panggilkan Arumi bacakan kau syair yang indah," ancam Lucky. "Kau tahu, bisa jadi Arumi adalah takdir masa depanmu!"


Ethan terkekeh, "Meski wanita satu dunia habis, aku akan terbaring kaku dalam peti mati dan menjadi perjaka saat pergi ke kayangan."


"Kau jahat sekali pada adikku Ethan," erang Marya dan memukul jidatnya sendiri menengok Arumi yang terlelap di atas meja kafe. Arumi tersadar lalu berpindah ke sofa kafe yang nyaman dan tidur di sana.


"Kau tidak akan datang ke pernikahan?" tanya Reinha pada Lucky dari balik dada pria itu. Ia tak akan pergi dari sana. "Sia-sia saja aku tampil cantik di hari itu," tambahnya gundah gulana.


Lucky mengelus rambut gadis itu perlahan.


"Kami ada launching produk, Enya. Aku tak bisa tinggalkan kerjaanku tetapi aku akan datang setelah urusanku beres."


"Kupikir kau menghindar karena tak tahan memegang sangkar merpati," sambung Elgio. "Menyingkir dari situ, Enya? Kau ingin cangkir kopi ini berakhir di kepalamu?"


Lucky angkat satu tangan minta ampun pada Elgio dan kembali membelai rambut Reinha. "Aku akan datang dan berdansa denganmu sampai matahari terbit. Aku akan datang."


Reinha mengangguk paham. "Baiklah, aku akan menunggu hari itu datang. Sebenarnya aku penasaran pada bisnismu dan ingin temani kau di sana. Namun, Kakakku akhirnya akan menikah, aku tak sabar ingin melihatnya di hari ia menikah."


"Kau akan datangkan Ethan?" tanya Marya, wajah temannya itu cepat berubah-ubah dan saat Ethan tanpa ekspresi, Marya curiga Ethan rencanakan sesuatu. Lebih baik mengajak Ethan mengobrol agar temannya itu tidak diam-diam pikirkan cara untuk jahili mereka.


"Tidak, aku tak mungkin datang ke pernikahan seseorang yang aku suka. Itu namanya bunuh diri," kata Ethan terus terang. "Sejak kapan kau menyukai Marya? Aku sangat penasaran," tanya Ethan tiba-tiba pada Elgio.


"Kami punya kisah masa lalu yang rumit. Kau tahu kalau namanya Aruhi bukan Marya. Aku bertemu dengannya sejak ia bocah kecil cengeng dan menyebalkan."


Ethan menghela napas panjang tidak ingin dengar cerita Elgio. Marya dan Elgio sepertinya terikat emosi voltase tinggi hingga tornado tak mampu pisahkan mereka. Ethan alihkan perbincangan.


"Aku pergi, lihatlah Arumi tidur tanpa beban! Ingin sekali mengetuk kepalanya dengan obeng."


Lalu menyingkir selamatkan hatinya yang sisa seper-empat potong akibat ditinggal menikah oleh Marya. Kesalnya bertumpuk dapati Arumi yang mendengkur keras seakan ia tertidur di atas tempat tidur empuk. Ethan geleng-geleng. Digoyangnya lengan gadis itu.


"Arumi, bangun!"


Arumi balas dengan satu tarikan mendengkur yang sangat keras. Ethan Sanchez garuk-garuk kepala. Disobeknya sedikit kertas, diguling-guling hingga terbentuk gulungan memanjang mirip korek api, lalu dicoloknya pada hidung Arumi. Pelan-pelan berputar di dalam rongga hidung Arumi. Remaja itu berdecak saat Arumi tak bangun-bangun tetapi tak kurangi intensitas gerayangi Arumi, makin lama ... makin lama ... Arumi menggeliat langsung ....


"Haaaaaatttttttccczzzzyyyy!!!"


Gelegar bersin Arumi penuhi kafe. Gadis itu bersin-bersin satu rangkaian panjang tanpa ampun dan tersiksa. Matanya sampai berair, ia kucek-kucek hidung sembari terus bersin-bersin tiga empat ayat sementara Ethan memeriksa kerjaan Arumi tanpa dosa. Pura-pura serius. Ada kemajuan meskipun 30 menit hanya selesai satu soal dengan jawabannya melenceng satu angka.


"Kau hanya bikin virus saja, Arumi!" tegur Ethan.


"Hampir 45 menit, aku pulang," kata Arumi bahagia, muka baru bangun tidurnya benar-benar menambah derajat kebodohan.


"Aku berharap kau hanya bodoh dan bukan kriminal," ujar Ethan sebab sempat didapatinya Arumi melamun dengki pada Marya. "Kau boleh pulang setelah selesai 20 soal. Ini baru satu soal, mau jadi apa?"


"Apa kau bilang tadi?" tanya Arumi ketus.


"Apa?"


"Tadi?"


"Aku berharap kau hanya bodoh!"


Arumi melipat kening dan menatap Ethan Sanchez serius. "Ethan, apa kau kebetulan menyukaiku?" tanya Arumi. "Kau senang sekali menyiksaku?"


"Aku menyukai kakakmu dan kau tak sebanding bahkan seujung kuku dengan Marya. Lihatlah kakakmu, cerdas, pintar, rupawan, lembut dan dia cantik seperti malaikat. Sempurna. Nah, kau itu kebalikannya!"


Arumi makin menekuk wajahnya kesal. "Aku pulang!"


"Duduk Arumi! Aku akan membantumu selesaikan 20 soal agar kau lekas pulang. Aku tak biasa makan gaji buta. Lama-lama melihatmu, otakku bisa korslet," gerutu Ethan sembari meraih lembar kerja Arumi dan mulai menyelesaikan soal sementara Arumi duduk menopang dagu. Aneh sekali tiba-tiba ia menyukai Ethan Sanchez dan tingkah laku kejamnya. Mengapa Ethan sangat populer padahal laki-laki itu bengis dan kejam? Ia tak pernah tersenyum tetapi saat bersama Reinha dan Marya, Ethan tampak sangat supel. Saat bersamanya, Ethan sangat-sangat kasar.


"Kau suka padaku?" tanya Ethan tak alihkan wajahnya dari lembar kerja.


"Apa?!" Arumi berpaling pada buku pelajaran.


"Kau kedapatan menatapku," bisik Ethan mengerut. Tangannya sibuk menulis.


"Eh?! Kau percaya diri sekali, kau bukan tipeku. Maaf saja!" ujar Arumi salah tingkah.


Ethan menghela napas panjang lalu hembuskan perlahan.


"Ya, tipe-mu pastilah yang satu


server denganmu. Kau bisa pacaran dengan kambing di rumahku, sepertinya kau tipe-nya. Hanya bisa mengembik."


"Trims untuk hinaannya. Kau jahat sekali Ethan Sanchez. Apa aku terlihat seperti kambing betina?" protes Arumi kesal.


"Ya, sama bodoh ... persis seperti itu."


Sementara sebuah mobil parkir di seberang jalan perhatikan suasana kafe yang lengang berisi 6 orang manusia di dalamnya. Mereka terlihat sangat bahagia tanpa curiga tentang hari-hari di depan mereka. Bagaimana Lucky Luciano memeluk Reinha Durante dan tertawa bahagia? Bagaimana tatapan Lucky pada gadis itu membuatnya terbakar cemburu meski wajahnya tetap lembut seperti biasa.


"Apa rencana Anda, Nyonya?" tanya seseorang dari bangku depan.


"Aku yakin Lucky Luciano belum menyentuh gadis itu." Suara halusnya terdengar merdu tetapi mematikan. "Buat Lucky Luciano sibuk. Cari cara, aku tak peduli, bawa Puteri Durante dan Aruhi Diomanta padaku, apapun yang terjadi. Lucky Luciano dan wanita-wanita Diomanta main-main denganku, kita lihat nanti, siapa yang akan mengemis pada siapa?" ujarnya penuh dendam kesumat.


Reinha Durante dalam pelukan Lucky Luciano yang telah melenceng dari jalur, buat ia harus hadapi banyak tekanan dari Family Club. Kini waktunya tiba untuk jatuhi pria primitive itu hukuman yang berat.


"Apa rencana-mu untuk istri Elgio Durante?"


Si wanita tertawa kecil. "Jangan sentuh dia! Kita hanya akan buat kesepakatan dan pertukaran adil dengan Elgio Durante dan Salsa Diomanta terlebih dengan Sunny."


"Nyonya kita punya masalah lain. Lalat pengganggu. Irish Bella terus mengawasi kita? Ia menemukan paket kita dan mengintai di dermaga beberapa Minggu ini."


"Biarkan saja gadis itu lakukan hal yang dia suka. Beri dia celah dan giring dia padaku. Buat dia melambung. Mereka semua akan bertemu di satu tempat dan aku akan sangat mudah menjegal leher mereka satu per satu. Menyenangkan sekali melihat mereka memelas padaku nanti! Bukankah Irish Bella telah berlebihan lewati batas?" Tersenyum sakit di atas lisptik merah terang.


"Aku penasaran, apa yang akan Anda lakukan pada Reinha Durante?"


"Bukan apa-apa, hanya sesuatu yang menarik! Gadis itu akan menyesal karena telah menghinaku. Mari kita pergi, pertunjukan akan segera dimulai."


****


Well, aku akhirnya akan menulis badai. Tetap saja tak akan ada perpisahan, kematian dan hal-hal yang menyakitkan sebab aku jatuh cinta pada semua karakter yang Author ciptakan dan tak ingin sakiti mereka.


Cintai saja aku .... Aku mencintaimu....