Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 100 Linglung ....



Elgio dan Abner terburu-buru datang ke Kapela atas permintaan Lucky. Elgio menerima panggilan Lucky dan pria itu tak tahu harus bertindak bagaimana untuk kisah cinta adik perempuannya. Situasi rumit sepertinya telah dialami dua orang itu hingga buat keputusan menikah tengah malam. Elgio siapkan banyak jawaban antara tidak dan iya, turun berperang dalam otaknya. Ia tak mungkin pisahkan keduanya.


Saat sampai di Biara, Reinha tampak berdiri tidak tenang di belakang Lucky Luciano. Tangan mereka terjalin erat dan Lucky tak berhenti mengecup punggung tangan Reinha yang tampak linglung. Wajah Lucky berantakan.


Reinha berharap kekasihnya segera waras akan apa yang akan dia lakukan, menelpon Elgio serta seluruh orang rumah dan memaksa ke Kapela tengah malam, tanpa basa-basi berkata akan menikahinya.


Ekspresi Elgio tak terbaca saat mereka berhadapn di ruang tamu biara. Padre Pio terangkan situasi.


"Apa maksudmu Lucky?!" tanya Elgio tajam.


"Aku sungguh-sungguh mencintai adikmu. Biarkan aku menikahi, Enya!"


"Tidak sekarang!" sahut Elgio dingin. "Kami mungkin menikah muda, tetapi aku berharap adikku tidak jalani hal yang sama sepertiku. Marya mengandung dan ia mungkin akan berhenti sekolah dan mengurus anak. Apakah kau ingin Reinha seperti itu juga?"


"Aku tak akan menyentuhnya, aku bersumpah demi Tuhan. Kau boleh penggal aku, jika aku berdusta!" sahut Lucky pasti. Ia memang menggebu-gebu bersama Reinha tetapi ada sesuatu di antara mereka yang lebih murni daripada sekedar gelora membara. Cinta yang dalam dan tulus, ia yakin akan menjaga Reinha dengan baik.


"No no no, Lucky Luciano, tidak sekarang!" erang Elgio serba-salah. Pria itu berbalik pada Abner yang menggeleng. Reaksi Abner kira-kira ingin berkata, tolong pertimbangkan. Lucky genggam tangan Reinha kuat, mengecupnya oleh rasa cinta mendalam.


"Mudah saja katakan hal seperti, kami berjanji begini dan begitu, tetapi pada kenyataannya ketika kau mungkin takut kehilangan kau akan keliru dalam tindakan. Aku dan Marya lewati itu," kata Elgio terdengar seperti pengakuan dosa.


"Lucky, mari kita pulang. Kita akan bicarakan ini di rumah!" kata Abner tegas. "Bukan begini caranya, Lucky. Lagipula, apa kita keluarga vampire, menikahkan anak gadis di tengah malam buta? Mari pulang ke rumah!"


Reinha berdiri dengan gelisah.


"Tuan Abner, aku selalu ketakutan kehilangan Reinha tiap hari dan itu buatku gila," keluh Lucky Luciano bersih keras. Ia kedengaran memaksa dan menikahi Reinha adalah sesuatu yang mendesak seperti manusia yang butuh pengurapan karena tahu ajalnya sudah dekat.


"Enya?!" panggil Elgio menatap adiknya yang kebingungan di sisi kekasih. "Apa kau akan diam saja?"


Reinha menoleh pada Lucky, kembali pada Elgio lalu pada Abner yang palingkan wajah. Rahang kakaknya kaku, tetapi Elgio tak tampak marah, hanya menunggu jawaban. Reinha jadi bimbang. Menikah secepat ini? Lucky menoleh kekasih yang gelisah dan sepertinya, Reinha pertimbangkan banyak hal. Tahu bahwa Reinha menolak ide menikah muda. Pria itu segera hancur lebur.


"Enya?!" Lucky lepaskan tangan lemas dan sangat terluka, bangkit berdiri dan hendak pergi.


"Hei, Lucky Luciano! Enya adalah adik perempuanku satu-satunya. Aku tak mungkin nikahkan kalian dalam situasi sunyi-senyap, jangan salah paham."


"Keadaanku buruk, Elgio. Meskipun aku punya harta untuk berpesta seperti pernikahan dari negeri dongeng, tapi situasiku sangat tidak mendukung saat ini. Tetapi, sepertinya Enya tak ingin menikahiku malam ini, maaf buat kalian repot."


Lucky pergi dengan gontai sementara kotak cincin di tangan. Ia akan pahami Reinha yang tak ingin terikat pernikahan di usia muda. Hanya saja, ia tak punya cara untuk lindungi Reinha kini. Jika mereka menikah, masa lalunya tak akan mengganggu Reinha. Para wanita dari masa lalu tak akan mungkin menyentuh Reinha karena ikatan suci di antara mereka.


"Enya?!" panggil Elgio saat Reinha tampak linglung, duduk seperti manekin di etalase Dream Fashion.


Memang linglung, apakah kau akan biasa saja saat kekasihmu tiba-tiba menyeretmu tengah malam buta untuk menikah di hari ulang tahunmu yang ke-18? Bukan lamaran tetapi menikahimu tanpa planning. Hanya menikah.


Reinha tersadar. "Kakak ..., Tuan Abner ..., ijinkan aku menikahi Lucky. Aku akan buat janji pranikah. Ijinkan aku tetap tinggal di rumah kakakku sampai aku siap pergi dengannya. Aku akan mengurus Dream Fashion dan kuliah! Kami akan tinggal terpisah. Biarkan kami menikah," kata gadis itu akhirnya, tak tahu apa yang akan terjadi esok tanpa Lucky. Dia tak bisa menyerah sekarang, tidak, saat pria itu serius akan menikahinya.


"Tapi tidak bisa sekarang, Enya. Menikahlah besok saat matahari telah terbit atau sebelum matahari tenggelam."


"Baiklah. Apa aku dapat ijinan?" tanya gadis itu berseri-seri lalu bangkit saat dapat anggukan dari Elgio juga Abner. "Aku harap ini keputusan yang tepat. Aku sangat sayang pada kalian berdua."


Reinha separuh berlari mengejar Lucky Luciano ke parkiran tinggalkan Elgio juga Abner yang saling pandang. Lagi-lagi buntu.


"Ini tetap private wedding Elgio," kata Abner. "Reinha akan siap-siap alami keadaan terburuk. Apakah kita akan biarkan saja? Kau tahu, seseorang dari kejaksaan bocorkan informasi, Lucky Luciano akan segera ditangkap untuk banyak kasus kejahatan yang selama ini mereka lakukan."


"Abner? Irish benar-benar bertindak?"


"Ya. Irish ditugaskan keluar negeri, sebelumnya ia telah mengirim semua berkas ke pihak berwenang, perburuan telah berakhir dan mereka akan menindak Lucky Luciano juga Diomanta, Elgio. Tak lewatkan satupun detil tentang Familly club'. Siapkan saja Nona Marya juga Reinha. Kepolisian akan segera bergerak. Kurasa Lucky Luciano sudah tahu hal ini pasti akan terjadi."


"Apa kita bisa lakukan sesuatu?"


"Tidak!" sergah Abner tegas. "Kau tahu Durante Land tak boleh terlibat dalam kejahatan ataupun dengan mafia, Elgio. Kendatipun kita terseret kini dengan keduanya, kita tak boleh lindungi mereka. Kau tahu aku juga sangat ingin lindungi Sunny tetapi kita tak boleh korbankan Durante Land. Penghuni tanah ini hanya orang-orang sederhana yang ingin hidup dengan damai tanpa konflik. Aku yakin walikota akan lakukan sesuatu untuk Lucky Luciano. Meskipun penjahat, saat krisis, beruntungnya pria itu berdiri di depan untuk mengirim kota bantuan demikian Diomanta. Aku yakin, walikota akan lakukan sesuatu untuk berikan bantuan, tetapi kau tahu bahwa kejahatan tetaplah kejahatan."


"Mari pulang, lihatlah apa yang akan kita lakukan untuk keduanya?" ujar Elgio gundah gulana dan berpamitan pada Padre Pio.


Sementara Reinha menuruni tangga depan Biara tergesa-gesa. Lucky Luciano telah mencapai mobil. Reinha tersandung jatuh di tangga terakhir akibat tak hati-hati.


BUG!!!


"Lucky?! Jangan pergi!" pekiknya.


"Enya?!" Lucky berbalik saat dengar jeritan keras Reinha dan berlarian dengan cepat. "Apa yang terjadi?"


"Aku tersandung karena mengejar kekasih yang merajuk," sahut Reinha bersungut-sungut mengurut kakinya yang sakit.


Lucky berjongkok di depan gadis itu, memeriksa kaki sang gadis dan memijat pelan. Reinha perhatikan Lucky Luciano dan tampang uring-uringannya. Di bawah lampu-lampu biara, pria itu sangat tampan. Pantas saja ia sangat digilai banyak wanita. Reinha hembuskan napas kasar.


"Apa kau marah karena aku tampak ragu ingin menikahimu?"


Lucky menggeleng. "Tidak. Aku patah hati. Kupikir kau langsung mau bersamaku. Aku kelewat percaya diri."


"Aku hanya bingung, Lucky. Spontanitasmu bikin aku shock berat," jawab Reinha jujur.


Lucky menatap Reinha hingga gadis itu merasa akan segera meleleh.


"Enya, kau tahu, aku terkenal karena playboy dan bepergian dengan banyak wanita. Menetap dengan satu wanita, kupikir, tidak cocok denganku. Aku bahkan tertawakan ide tentang menikah dan punya keluarga. Aku sinis pada pria yang menangisi cinta mereka, tak menyangka, saat aku jatuh cinta padamu, aku kepayahan. Duniaku hanya kembali padamu. Aku tak bisa lakukan hal dengan benar sebab terus memikirkanmu. Bisakah kau berikan aku kesempatan, aku akan berikanmu cinta terbaik yang kupunya. Kau mengambil napasku," bicara pria itu panjang.


"Lucky ...."


"Sssshhh, aku akan melamarmu dengan benar pada keluargamu dan ...."


"Mari menikah besok," potong Reinha balas menatap Lucky dengan pandangan sayu. "Mari menikah Lucky Luciano, di sini, pagi hari setelah matahari terbit. Jangan berpisah malam ini, bawa aku bersamamu. Aku tak percaya jika kulepaskan kau pergi malam ini, Lucky! Kau mungkin tak akan datang ke pernikahan!"


"Enya ...."


"Enya ...."


"Ya, mari pulang ke rumah dan kita bicarakan pernikahan," sambung Abner dari belakang. "Kurasa kau ingin mengikat Reinha, jadi kita akan bikin perjanjian. Kau tahu Lucky, aku akan jadi jahat jika itu menyangkut Reinha. Dia seperti Puteri bagiku tetapi aku benar-benar kagumi cinta dan pendirian kalian. Hanya aku berharap kau punya pengendalian diri yang bagus. Aku tak mau ada perlombaan bikin bayi, bagaimanapun, Puteriku itu masih gadis kecil," tambah Abner.


***


Di rumah sakit, setelah Francis menerima pesan bahwa Reinha Durante telah dibawa Bos Lucky pergi dari flat Seoza, Francis pergi ke ruangan bayi. Berdiri di sana tanpa bayangan apapun berkelebat di langit-langit otaknya.


Ia hanya seorang penjahat dan bayi prematur yang hanya sebesar dua telapak tangannya yang bersatu tampak tak punya harapan hidup. Jadi ia berdiri di sana, berharap bayi itu kembali pada Tuhan. Jika bayinya terus hidup berarti ia akan menikahi September. Ia tak mungkin membunuh Puteri dari bosnya. Meski tak ingin bersama September, bayi itu berharga bagi Bosnya, Lucky Luciano dan Puteri Durante.


Di antara semua teman kencan bosnya, hanya September yang didapati Francis sangat lugu dan polos. Mereka bertemu di sebuah acara amal. September tampak tergila-gila pada Bos. Bukan hanya September semua wanita yang hadir jatuh cinta setengah mati pada bosnya yang sangat tampan. Awalnya ia berpikir September akan cocok dengan bos Lucky. Tetapi, ternyata bos Lucky menganggap September biasa saja. Kencannya berakhir singkat. Namun, singkat yang menghasilkan bayi.


Entah berapa lama ia berdiri di sana, tak ingin melihat September sebab ia sangat muak padanya hingga seorang perawat datang.


"Nyonya September tak ada di kamarnya, Tuan Francis."


Francis mendesah jengkel, dengar kata perawat tetapi abaikan. "Mungkin sedang hirup udara segar," sahutnya. "Apakah bayinya baik-baik saja?" tanya Francis pada perawat.


"Anda pernah dengar tentang keajaiban, Tuan? Sejauh ini, ia baik-baik saja. Cinta orang tuanya sepertinya telah hangatkan hatinya," sahut perawat. "Ayahnya terus menunggui sepanjang saat, kupikir si bayi akan merasa senang," tambah perawat salah sangka.


"Dia bu ...."


"Nyonya September tak ada di ruangannya. Kupikir dia sedang bersama Anda di sini?" potong perawat cepat seakan ingat tujuannya datang.


Francis kembali mendesah jengkel sebelum tinggalkan ruangan bayi. Gila saja harus menikahi mantan kekasih bosnya akibat keteledorannya. Oh, ya ampun dan si pembuat masalah itu menghilang. Apakah ia melarikan diri dari tanggung jawab sebagai Ibu dari seorang bayi? Apakah September kabur darinya? Yang benar saja. Pria itu langsung pergi ke atap rumah sakit. September tampak putus asa,.patah hati dan kelam, atap rumah sakit menurut Francis sangat pas untuk September.


"Kau di sini? Ingin bunuh diri? Aku bisa menolongmu agar lebih cepat mati! Bagaimana kalau aku bawa saja kau ke danau 30 km dari sini dan tenggelamkan kau di sana, Nona September?"


Francis tersenyum manipulasi untuk kendalikan September saat wanita itu tertatih susah payah di sepanjang tembok pembatas rumah sakit.


September tak hiraukan perkataannya. Wanita itu terus bergerak di sana.


"Apa kau ingin bunuh diri? Em, aku bisa menolongmu!" tawar Francis lagi.


"Jangan ganggu aku, kau hanya manusia rendahan. Kau dan Lucky, kalian berdua, semoga dapat kutukan dari Tuhan," ujar September dengan napas tercekat penuh marah.


"Aku telah dapat kutukan sejak lahir. Jadi, aku tak peduli pada kutukan Tuhan. Mau ku bantu, Septie? Pembatasnya cukup tinggi, kau tak akan sanggup naik. Aku bisa mendorongmu pada kematian. Lagipula, jika kau mati, aku tak perlu repot-repot menikah denganmu. Aku akan dengan senang hati membawa bayimu pada Nona Durante. Gadis 18 tahun itu sangat peduli pada bayimu!"


September terpancing, berbalik pada Francis dan menatapnya marah.


"Kau tak boleh menyentuh Puteriku!"


"Kenapa tidak? Aku menyentuhnya, mengambil sedikit rambutnya untuk tes DNA. Kau akan segera kuhabisi jika kudapati bayi itu milik orang lain."


"Kau memutar balikan fakta? Kau tampak tidak rasional, tidak masuk akal!"


"Jika kau bisa lepaskan pengaman saat bercinta dengan bosku, haruskah aku percaya, kau tak tidur dengan pria lain selain dengannya. Apa aku terdengar tidak masuk akal? Ahhh ..., apakah kau sengaja ingin punya bayi agar menikah denganku? Dalam dokumen perjanjian, ketika kau kedapatan hamil dan punya bayi maka kau akan menikahiku bukan dengan bosku."


Francis mengira-ngira, bicara pada September yang memandangnya dengan tatapan benci, berkobar-kobar dalam kemarahan.


"Lucky .."


"Berhentilah! Lucky Luciano tak akan kemari! Mandatnya telah jatuh padaku. Jadi, apa kau mau bunuh diri atau kembali ke ruanganmu, menunggui bayimu? Atau kita bisa pergi ke danau? Aku bisa menembakmu diam-diam lalu tenggelamkan kau di danau? Pilih mana saja yang menurutmu paling mudah."


September mengumpat marah, meraih pembatas tembok. Francis tak sabaran. Pria itu mendekat dengan langkah panjang, menarik tangan September keras.


"Apa yang kau lakukan?"


Francis tersenyum datar seperti psikopat sebelum habisi korbannya. Ia menggendong September yang memaki marah dan naik ke atas pembatas tanpa takut. Mereka di atas ketinggian, satu kesalahan cukup untuk mengirim mereka ke neraka.


"Apa yang kau lakukan?" jerit September ngeri. Angin malam berhembus kencang. Francis tampak tak peduli pada keseimbangannya. September tak ingin bergerak takut ia buat Francis hilang seimbang. Apa yang pria gila itu lakukan?


"Jangan buang waktuku! Kau ingin mati? Aku bisa lemparkan kau ke bawah!" Francis mendorong lengannya, mengancam.


"Kau psikopat, apa yang kau lakukan padaku?"


jerit wanita itu saat Francis benar-benar nyata akan biarkan ia jatuh.


September menangis ketakutan memeluk leher Francis erat-erat. Sekali pria kejam itu lepas tangan, tubuhnya akan melayang dan hancur di parkiran rumah sakit. Ia bergidik ngeri, hampir mati lemas. Semakin erat kaitkan lengannya di tengkuk Francis. Sementara Francis hembuskan napas kasar, datar dan arogan. Kepala September pening berputar-putar ketika menoleh manusia di bawah sana tampak merayap seperti semut bahkan lebih kecil dari itu.


"Lepaskan tanganmu dariku, Septie! Aku telah banyak membunuh banyak orang. Tambah kau seorang, bukan masalah buatku."


"Aku akan membalasmu suatu waktu, kau lihat saja nanti!"


"Baiklah, kalau begitu jangan bunuh diri malam ini. Jika kau mati, tak ada yang balaskan dendammu padaku!"


***


Wait me Up .... Entahlah, saya lagi handle banyak pernikahan, nulis ini buru-buru. Suami hampir aja sita ponsel. Mau nulis karakter utama gak dapet feel-nya sama sekali. Mau nggak update tapi tadi dapat notif promosi banner hari ini. Tolong beritahu aku, apakah kalian suka chapter ini?


Wedding buket by me....