
Tak bisa jatuh tertidur walaupun mencoba pejamkan mata. Itulah yang dialami Reinha selama satu Minggu setelah Lucky Luciano pergi ke penjara. Ia tidur tengah malam untuk belajar kimia, terus belajar agar bisa lupakan kesedihan, tetapi ia malah dapati dirinya tersangkut insomnia parah. Jadi, ia terus belajar sepanjang malam menjelang pagi, memaksa otaknya amnesia sejenak soal suaminya. Sayang sejuta sayang, ketika ingatannya kembali pada Lucky, ia dapati semakin jatuh cinta pada suaminya itu.
Tak mungkin jalani hari dengan biasa-biasa saja, ia terpisah dari Lucky dan pria itu tak tampak bahkan dalam mimpi. Reinha mencoba pergi ke balik selimut, bergelung dibaliknya dan merindukan kekasihnya. Aroma glacier Lucky penuhi ruangan kamar. Ia menyempot lagi beberapa tetes di tubuhnya.
"Suamimu berandalan sejati, penjara bukan kondisi rumit untuknya. Sabar saja, relakan dia pelajari sesuatu di sana. Dia akan kembali dan hidup terhormat di sisimu. Aku akan mendukung pernikahan kalian," kata-kata Elgio adalah penguatan untuknya.
Pagi sesudah malam pengantin di pondokan, Lucky memanggul senjata di punggungnya sementara Reinha memikul kotak makanan, telusuri pesisir hutan pinus lalu masuk ke dalam remang-remang, mereka pergi ke sisi barat hutan. Ia ikuti Lucky dari belakang, jatuh cinta pada langkah-langkah panjang yang pria itu buat seakan Lucky mengenal lekukan hutan dengan baik. Jatuh cinta pada fitur tegap tubuh kekasih dan biarkan hatinya berdarah-darah menginginkan pria itu. Saat Lucky berbalik padanya dan mengerling jenaka tanpa beban, ulurkan tangan dan bantu ia menaiki bebatuan licin, Reinha terenyuh, tahu bahwa ia akan segera sekarat tiap hari karena rindukan bibir seksi dengan satu lesung pipi yang apik itu. Mereka berciuman di atas batu saat Reinha terengkuh ke dalam lengan-lengan Lucky yang tidak ingin buang kesempatan. Satu ciuman bernyawa yang panjang, dalam dan bergairah sebelum menuntun Reinha lalui hutan penuh batu-batuan licin oleh lumut, pohon-pohon tumbang, akar-akar tua yang menjalar penuhi tanah. Perjalanan cukup rumit, sepertinya Lucky ingin bilang, kita sedang lewati rintangan dan pada akhirnya akan sampai di sebuah tujuan yang indah selama kita saling memiliki.
"Apa yang akan kita lakukan, piknik sambil berburu?"
"Berburu rusa, Enya!"
"Emm, aku tak suka menembak hewan. Itu mengganggu sisi feminimku," keluh Reinha. "Apakah wilayah ini aman Lucky untuk berburu?"
"Ini properti pribadi, Enya. Milik Viktor Mendeleya. Kita tak perlu ijinan untuk berburu di sini."
Begitulah akhirnya mereka bersembunyi di balik pepohonan tumbang dan menunggu si rusa atau kijang datang. Pantas saja Lucky Luciano punya kontrol diri yang baik. Mereka menunggu dalam hening dan Lucky terlihat tak bosan sedang Reinha mulai jenuh. Tak ada apa-apa di sini.
"Apa hutan ini benaran ada rusa?" tanya Reinha setelah menunggu satu jam dan merasa mereka buang-buang waktu. Ia menguap sekali, dua kali dan mengganggu Lucky.
"Ya, tetapi aroma Jasmine mu buat kita kurang beruntung," sahut Lucky alihkan perhatian dan mencium Reinha yang tak sabaran. "Kau tahu, berburu adalah sesuatu yang bisa kau lakukan untuk mengontrol emosi dan melatih kesabaran."
"Aku tak percaya seseorang gunakan kata 'menunggu penuh kesabaran untuk sebuah sensasi yang menantang'. Sungguh aneh, habiskan honeymoon dengan berburu sementara kekasihku akan masuk bui beberapa jam lagi."
Lucky abaikan Reinha yang menggerutu serius amati teleskop.
"Kemarilah Enya, kita beruntung. Lihat ini!" bisik Lucky dan biarkan Reinha di teleskop. Di balik sebuah pohon, seekor kijang bertanduk indah tampak melangkah tanpa curiga.
"Kau akan menembaknya? Dia cantik sekali. Oh Lucky, mereka sedang pacaran di tengah hutan." Reinha berbisik pelan, bersemangat lihat dua kijang.
"Kijang biasanya berkeliaran berpasangan. Aku akan menembak satu." Lucky berjongkok dengan cepat, menopang siku dengan lutut untuk posisi stabil. Tangan bersiap menarik picu mengarah ke sasaran.
"Oh tidak, jangan Sayang. Kasihanilah mereka," pinta Reinha saat melihat posisi siap sedia Lucky. Reinha loloskan kepalanya di bawah lengan Lucky yang bersiap menembak. Kepalanya terkulai di paha si pria hingga fokus Lucky terpecah-belah."Ia akan terpisah dari kekasihnya dan berjalan pulang ke rumah mereka sendirian, Lucky. Apakah menurutmu itu tidak sedih?"
Lucky mendesah frustasi. Wanitanya punya hati selembut kapas. Ia bahkan tak berani membunuh seekor hewan.
"Baiklah, sepertinya aku tak sanggup menembaki kijangnya karena kekasihku yang murah hati ini akan terluka. Ia juga sudah siapkan kompensasinya," gerutu Lucky, letakan senjatanya, menunduk dan mencium Reinha, mengunyah sang kekasih seakan-akan Reinha Durante sejenis buble goom blueberry yang lezat.
"Mari pergi!" ujar Lucky susah payah akhiri ciuman mereka, mendekap kepala kekasihnya, sebab tak ingin Reinha lihat, kemalangan yang bisa diungkapkan matanya.
Perhentian terakhir mereka adalah sebuah padang rumput luas yang dipenuhi kembang-kembang liar di tepiannya. Beralaskan rumput hijau dan langit berawan menjelang siang, keduanya terbaring menatap langit.
"Berapa lama kau akan ditahan, Lucky?" Getaran suara berisi sesuatu teramat sangat pilu, abu-abu seperti awan di atas sana. Mereka sampai pada bahasan yang mengerikan ini.
"Entahlah Enya, 5 atau 10 tahun," sahutnya pendek meraih Reinha dalam pelukan, mengecup mata gadis yang mulai tampak sayu. Ia tak akan pernah lakukan itu lagi besok, seminggu, sebulan, setahun, bertahun-tahun. Ia akan rindukan umpatan, senyuman, cumbuan dan ia hanya ingin memeluk Reinha sebanyak yang ia bisa seperti saat ini.
"Aku akan merindukanmu," kata Reinha akhirnya tak mampu membendung tangis, ia terisak-isak, menggeliat oleh sakit hati.
"I am so sorry, my dear."
***
Sementara Francis seperti biasa, berdiri berjam-jam di depan box bayi. Rahasia Tuhan ketika bayi itu alami perkembangan pesat dan signifikan, Francis mengangkat keningnya tinggi.
"Apakah aku boleh pindahkan bayinya?" tanya Francis berkonsultasi dengan dokter.
"Resikonya tinggi, tetapi jika peralatan penunjang untuknya memadai, Anda bisa membawa bayi Anda pulang, Tuan."
Francis telah sediakan tempat di sebuah Villa untuk bayi dan September. Keadaan sangat tidak kondusif dan Irish yang terus bergerak seperti api dalam sekam bisa buat situasi Nona Reinha dan Bos Lucky bisa bertambah rumit. Francis telah menyusun rencana. Beberapa hari ini September diterapi untuk sindrom baby blue dan Francis akan manfaatkan situasi.
September demam tinggi semalam akibat berendam air danau. Pasrah ketika Francis separuh menyeretnya kembali ke rumah sakit. Tanpa buang waktu Francis bertemu Dokter dan minta ijin separuh meyakinkan dokter untuk membawa September dan sang bayi pulang. Dokter akan pertimbangkan permintaan Francis.
Francis pergi ke kamar September dan para pengawal terlihat berjaga-jaga di sana. Irish Bella bertamu.
"Harusnya kau juga pergi ke balik tahanan. Kau kaki tangan Lucky Luciano!" sambut Irish tak bersahabat di sisi September yang terbaring dalam selimut dengan wajah pucat. Entah sampai kapan, Francis akan urusi September sedangkan Double L juga butuh perhatian.
"Sayangnya aku tetap di sini untuk mengurusi beberapa masalah," sahut Francis dingin.
"Apakah Reinha Durante baik-baik saja?" tanya Irish terlihat kuatir hingga Francis mengernyit. Jika Nona Durante patah hati, pihak yang paling diuntungkan adalah dua manusia di hadapannya. Ia berdecak.
"Kenapa tak menelpon Nona Durante untuk bertanya? Nona sedang giat belajar untuk ikut olimpiade mewakili kota ini. Jika ia kalah dalam kompetisi, orang akan berpikir masalah suaminya jadi penyebab ia kalah. Jadi, ia sedang menempa diri," jawab Francis asal bunyi. Ia menatap Irish sangat serius. "Apakah niat Anda sudah mantap untuk membuka aib sahabatmu, Nona Irish? Saat Anda membongkar skandal mereka, media akan dengan senang hati menelan keduanya bulat-bulat bahkan bayi yang sedang sekarat akan jadi tontonan publik." Francis menggeleng heran. Entah apa yang merasuki Irish Bella?
"Apa aku salah? Saat seorang korban terekspos, korban lain akan menuntut pertanggung jawaban. Kita akan lihat seberapa brengseknya seorang Lucky Luciano."
Irish balas menatap Francis lebih tajam. Putuskan tak suka pada ajudan Lucky Luciano yang angkuh dan aneh ini.
"Aroma balas dendam yang kental," ujar Francis mendengus.
"Aku tahu apa yang aku lakukan! Kau tak bisa menjebak Septembe dengan pernikahan konyol. Kau hanya sampah sialan yang tak beradab," maki Irish Bella geram. Lucky Luciano adalah mafia, penjahat wanita dan sungguh aneh jika ada yang membela pria itu mati-matian dan menyudutkan Irish seolah-olah Irish bersalah dan perusuh.
"Lakukan sesukamu, Nona. Hanya saja, aku menunggu hari itu datang. Aku akan dengan senang hati mempermalukanmu," sahut Francis datar.
Irish Bella menatap Francis menyipit. Ragu-ragu saat berucap. "Ya, kita lihat saja nanti!"
"Tentu saja, saat publik tahu kebenarannya, Anda dan September dalam masalah besar. Sebaiknya pikirkan matang-matang sebelum bertindak. Aku tak akan ijinkan seorang gadis berusia 18 tahun bernama Reinha Durante hadapi gosip murahan tentang skandal ini. Aku akan kotori tanganku untuknya," ancam Francis hingga Irish menengok September yang murka dalam kebingungan. Francis pandai memanipulasi seseorang hingga hal yang benar akan terlihat salah.
"Sesuatu yang tak kau bayangkan," sahut Francis tampak jenuh. "Istirahatlah, September. Kau butuh banyak energi nanti!"
"Irish bisakah kau pergi? Aku ingin bicara dengannya," guman September. "Aku akan menghubungimu nanti."
Irish pergi setelah lemparan tatapan tajam menikam pada Francis yang sama sekali tak terpengaruh. Kedua wanita itu terlihat tak waras baginya.
"Apa yang ingin kau dengar, Septie?" tanya Francis muak. "Apa yang akan aku lakukan?" tanyanya lagi.
"Kau tak akan main-main dengan bayiku," geram September emosional.
Francis mendesah. "Kau tampak tak waras. Kondisi mentalmu terganggu. Bayimu tak aman bersamamu, Septie. Kau manfaatkan bayi yang tak berdosa untuk memeras dan mengancam seseorang. Aku tak suka mengulang peraturan tetapi perjanjiannya sudah sangat jelas. Aku akan membawanya bersamaku. Istirahatlah! Pulihkan dirimu, September." Pria itu berbalik pergi.
"Berhenti kau keparat!" jerit September marah meraih vas bunga di almari rumah sakit dan melempar keras hingga menghantam bagian belakang kepala Francis. Pot bunga jatuh berkeping-keping. Francis segera memegang tengkuknya yang berdarah menahan kesal. Tapi ia bukan orang yang sabaran. Berbalik, mendekati September, ingin rasanya mencabik wajah wanita itu. Namun, Francis menekan tombol darurat untuk memanggil petugas rumah sakit.
"Apa yang kau lakukan?" September berseru marah saat Francis menahan kedua tangannya di atas tempat tidur rumah sakit dan beberapa perawat berlari-lari masuk, Dokter di belakang mereka.
"Tuan, apa yang terjadi?"
"Bantu aku, Suster. Ia mengamuk dan melukai kepalaku dengan vas bunga, tolong lakukan sesuatu!" sahut Francis panik dibuat-buat. Saat mata mereka bertemu, Francis menyeringai sangat jahat, mirip seorang pria sakit jiwa hingga September merinding ketakutan. "Lakukan sesuatu, Suster!"
"Dia bohong!" seru September marah.
Satu suntikan dan September segera tenang.
"Aku rasa kita perlu bicara serius tentang kondisi pasien ini," kata Dokter yang bertugas menangani September.
"Ijinkan aku membawanya pulang, ia mungkin akan membaik setelah menghirup udara rumah yang nyaman. Tolong pertimbangkan. Aku juga telah siapkan peralatan medis untuk merawat bayi kami," jelas Francis dengan tatapan sedih.
"Kita akan observasi kondisinya besok. Aku baru akan buat keputusan."
"Baiklah, Dokter!"
Francis melirik jam dan ia punya janji temu dengan Tuan Abner sebelum jam makan siang. September tampak lelap dan Francis mengerut.
"Apa kabar Nona Reinha?" tanya Francis berekspresi datar saat duduk berhadapan dengan Tuan Abner di sebuah toko bunga yang agak terpencil.
"Linglung," sahut Abner singkat. "Apalagi jika kasus Lucky dan September terungkap ke publik."
"Itu tak akan terjadi Tuan Abner, Irish hanya akan permalukan dirinya sendiri," sahut Francis pasti. Asisten Lucky Luciano itu mengangkat keningnya tinggi.
"Apa kau lakukan sesuatu?"
"Ya, aku tak bisa tinggal diam. Hasil tes DNA telah keluar."
Abner menghela napas panjang. "Apakah ....?"
"Anakku!" sahut Francis pendek sodorkan amplop cokelat berisi hasil tes DNA.
"Kau merubah data? Kau tahu itu sangat berbahaya?"
"Tak masalah. Saat ini sudah cukup buruk, September tak bisa mengacau lebih jauh. Nona Reinha akan ikut Olimpiade. Bos pergi ke penjara cukup buruk bagi Nona, ditambah September. Bos-ku sangat menderita sebab terpisah dari istrinya. Ia bisa bertahan pada hal-hal kejam tetapi Puterimu benar-benar buat Bos Lucky tak berdaya. Aku bersama Lucky Luciano bertahun-tahun, hanya Reinha Durante, satu-satunya wanita yang berhasil taklukan Bos Lucky. Ia akan sangat-sangat tersiksa karena merindukannya."
"Trims, kau sangat perhatian pada Reinha."
"Hanya itu yang bisa kulakukan untuk Nona. Aku berharap mereka segera bisa bersama lagi. September menjebak bos saat mereka kencan. Ia berikan banyak obat tidur dan lepaskan pengaman. Bayi itu milik Lucky Luciano, tak bisa dihindari. Kita tak bisa menentang media jika sampai diinvestigasi. Jadi, aku mengubah hasil. Bayi itu adalah Puteriku dan aku akan menikahi wanita itu sebelum kasusnya meledak."
Abner manggut-manggut. "Kau luar biasa. Aku tak akan lakukan hal semacam itu meski aku sangat sayang pada Elgio Durante."
"Aku mendorong Bos pada banyak wanita, kurasa, kami sedang dituntut untuk penebusan. Aku juga biarkan Bos Lucky jatuh cinta pada Nona Reinha. Kau tahu, aku sangat loyal pada Lucky Luciano sebab kami berdua terikat oleh banyak hal."
"Apakah wanita itu setuju untuk menikahimu?"
"Aku tak bisa menunggu dia untuk setuju, ada dokumen resmi yang mengurusi pernikahan kami. Ku rasa aku akan menculik bayinya."
"Dia akan buka mulut nanti, kau bisa bahaya."
"Tidak akan terjadi. Aku merekam pengakuannya."
Ya, Francis menemui dokter dan bicara tentang pentingnya psikolog juga ahli terapi untuk September. Perubahan suasana hati September yang berubah-ubah dari perasaan sedih, menangis berhari-hari, cemas, gelisah hingga akhirnya depresi memaksa Francis memanggil ahli terapi. Tetapi Francis sedang lakukan sesuatu pada September. Dengan bantuan seorang ahli, ia gunakan tipe terapi hipnosis pada September. Dari hasil terapi, September membuat pengakuan seperti dugaan Francis. September tergila-gila pada Lucky Luciano dan ingin punya bayi dengan bosnya itu.
Terapi masih berlanjut dan Francis akan masuki alam bawah sadar September, berikan sugesti tertentu termasuk mengganti keyakinan September bahwa bayi itu milik September dan dirinya. Oleh sebab itu September harus keluar dari rumah sakit. Francis menghela napas panjang. Beruntung ia tak punya kekasih jadi tak ada alasan untuk tidak menikahi mantan kekasih bosnya.
"Bagaimana dengan Tuan Elgio? Jaksa penuntut umum akan memanggilnya sebagai saksi. Nona Irishak menyeret Tuan Elgio bersamanya."
"Entahlah, Francis. Kami belum temukan cara untuk hadapi ini!"
***
Aku nulisnya sambil mengantukkk parah banget.... Akan aku revisi chapter ini. Aku hidup di sekeliling orang-orang yang bersedia berkorban untukku. Chapter ini aku dedikasikan untuk semua kesetiaan terbaik yang pernah kita peroleh dari orang-orang di sekitar kita.
Kirim vote ya.... Aku mencintaimu....