Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 78 Heart Darkness ....



Reinha siuman di atas ranjang di sebuah ruangan sederhana. Kepalanya masih pening dan pipi yang terkena tamparan mulai bengkak dan membiru. Seorang pria sedikit pincang, berdiri tak jauh darinya. Menghadap ke luar jendela dan melamun jauh. Pria itu telah seperti itu selama hampir setengah hari Reinha bersamanya. Mereka tak banyak bicara, Reinha ketahui pria itu Axel Anthony, ayah dari bayi Queena.


Pintu diketuk dan seseorang masuk.


"Tuan Axel, Nona Queena telah tiba."


Napas Axel memburu. "Apa Lucky Luciano bersamanya?!"


"Tidak, Tuan. Nona Queena bersama dua orang asisten pribadi Lucky Luciano."


"Bawa dia kemari, tahan asisten Lucky di luar!"


Lima menit berlalu, Queena datang dan masuk. Gadis itu sapukan pandangan ke seluruh ruangan.


"Reinha?!" Queena segera datangi Reinha. "Apa kau baik saja?"


Reinha mengangguk. "Di mana Lucky? Apa dia pergi bersama kakakku?" tanya Reinha berat. Matanya terus saja kantuk tak habis-habis.


"Ya, mereka pergi ke tempat Valerie. Mengapa wajahmu memar, Reinha?"


Reinha baru akan menjawab ketika Queena berbalik pada Axel yang berdiri bengong di sudut ruangan seperti anjing melihat tulang tapi tak berani menyambar, takut si tulang merobek mulutnya. Ia hanya amati Queena, saat gadis itu melangkah padanya, ayunkan satu tempelengan keras di wajahnya.


"Kau tak perlu sakiti dia. Aku sudah bilang akan datang."


Reinha yang mabuk tidur berdecak, pegangi kepalanya yang sakit hebat. Valerie jalang sialan, berani sekali perempuan gila itu memajang keperawanannya di situs jual beli online dewasa Black Hole.


"Hei Pequeena, bukan dia yang merusak wajahku!" seru Reinha dari atas tempat tidur sambil mengurut kepala. "Aku berterima kasih, Tuan Axel, keluarkan aku dari situs itu meski tujuannya untuk bikin perhitungan dengan kekasihku dan denganmu."


Menjadi kekasih seorang berandalan sejati seperti Lucky Luciano repot juga, ya. Tak terhitung berapa banyak masalah yang timbul karena pria itu. Semoga mereka segera bertemu, Reinha akan mencambuk pria itu dengan cemeti kuda sampai Lucky kesurupan. Bagaimana nanti kehidupan akan berjalan? Sejak bertemu Lucky Luciano, dia berulang kali dibius, bolak-balik diculik dan malah diperdagangkan seperti produk di fashion outlet, nyaris hilang kesucian.


Suara Axel buyarkan lamunan Reinha. Ia bersyukur, tak berhenti bersyukur, Axel keluarkan dia dari etalase perdagangan manusia. Jika tidak, Reinha bergidik ngeri.


"Apa kabarmu?!" tanya Axel pada Queena, linglung.


"Kenapa kau tak mati saja waktu itu? Harusnya aku biarkan saja, Lucky Luciano lubangi matamu!"


"Kau mencegah pria brengsek itu! Kau menyesal sekarang?"


Mengapa Lucky Luciano identik dengan brengsek? Pikir Reinha. Si brengseknya yang paling tampan satu daratan. Apa dia baik-baik saja? Reinha rindukan pria itu, sangat-sangat dan tak ada satu kata paling tepat pun mampu ekspresikan rasa rindunya pada Lucky.


"Ya, kau tahu apa yang kau lakukan? Duniaku telah porak poranda tanpa tersisa." Suara Queena berisi getaran mematikan yang bisa bumi hanguskan jiwa seorang pria.


Beberapa Minggu lalu, saat pulang bekerja, Ayah Ibunya menghilang secara misterius dari rumah. Tengah malam, rumahnya diserang oleh Axel Anthony. Ia diculik dan di bawa pergi ke sebuah tempat yang sangat asing, yang tak tak pernah terbayangkan sebelumnya. Tersekap di sebuah kamp, di kamar Axel beberapa hari sebelum Lucky Luciano datang selamatnya. Axel Anthoy terus bicara soal Ayahnya yang terbunuh oleh Ayah Queena dan Lucky Luciano; kehidupan tenang dan damai Pequeena Mendeleya selama 23 tahun berakhir. Ia pikir ia adalah gadis dari keluarga terhormat.


Di kamp itu Queena baru tahu bahwa ayahnya seorang Mafia dan Valerie bukan sekertaris Ayah di perusahaan, tetapi istri kedua Ayah; sesuatu yang sangat menyakitkan. Di kamp Queena baru tahu bahwa Lucky Luciano adalah anggota dalam Family Club dan Ayahnya adalah si Capo Tua, salah satu mafia yang paling disegani. Mereka banyak lakukan pekerjaan kotor untuk hasilkan banyak uang. Jadi, ia bersekolah kedokteran dari uang haram Ayahnya. Ironi, ia tak berani ke Rumah Sakit dan hadapi teman-teman sejawatnya. Axel Anthony yang marah salah alamat, merenggut kesuciannya di kamp itu dan Queena kehilangan masa depan secara tragis. Kematian sesungguhnya bagi Queena adalah saat tahu Ayahnya penjahat, Ibunya yang terkasih lenyap entah di mana, ia dinodai dan sekarang mengandung bayi seseorang; bahkan bukan cinta satu malam tetapi tragedi satu malam.


Queena ingat Axel dan kemarahan tak terbendung, menyeretnya ke kamp dan ingin balas dendam atas kematian sang Ayah dengan cara menodai dirinya, Puteri tunggal Viktor. Meski demikian, Axel merasa itu tak akan sepadan sebab Ayahnya tak akan kembali.


Kini pria itu kembali secara ajaib setelah Queena yakin, Axel ikut meledak dalam peristiwa penyerangan Lucky ke kamp mereka waktu itu. Queena adalah seorang Dokter dan di dalam tubuhnya ada seorang bayi, darah daging Axel Anthony. Memasuki trisemester awal, ia ngidam sesuatu yang sangat aneh, saat hormon progesteron dan estrogen meningkat, sesuatu dalam dirinya ngidam, ingin bersama Axel Anthony. Queena coba alihkan dengan menatapi poster Akihiro Sato, model yang ketampanan Jepang - Brazilnya bikin jantung wanita bisa meledak tetapi ia malah muntah-muntah. Tubuhnya tanpa disadari inginkan Axel Anthony. Ia ngidam ingin melihat pria itu.


Tanpa sadar Queena mundur menjauh dan pegangi perutnya yang tiba-tiba berkontraksi. Ia tak harus turuti keinginan jabang bayi. Ini gila. Harusnya ia tak terpengaruh Lucky Luciano. Harusnya ia gugurkan kandungannya selagi bisa. Ia akan jadi Ibu yang jahat selagi orok itu tak tahu dan jalani hidup seolah tak terjadi apapun. Ia akan pacaran dengan salah satu dokter mapan di rumah sakit dan menutupi masa lalu kelamnya.


"Apa sesuatu terjadi?!" tanya Axel seakan dia berhak tahu.


Queena tersadar, ia harus pergi sekarang. Wanita itu kembali ke ranjang, meraih Reinha yang lemas dan menyokongnya.


"Mari pergi! Aku akan membawamu dari sini."


Reinha menyipit dan segera bangun ikuti Queena meski ingin bilang, "sepertinya kalian butuh bicara". Axel hanya diam perhatikan wanita itu pergi. Sesuatu terjadi di antara mereka. Queena meraih pintu tapi terkunci.


"Buka pintunya, Axel!"


"Tidak, kita belum bicara!"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan."


Reinha yang masih pening karena obat ... pening karena rindukan Lucky Luciano, bertambah pening lihat kedua manusia di ruangan itu. Ia terseok pergi ke sofa, setengah terkatup dan perhatikan keduanya dari sana.


"Harusnya kau bersyukur, aku tidak kejam padamu waktu itu, Queena!" kata Axel memancing gadis itu bicara.


"Menggelikan," geram Queena. "Bukan Ayahku yang membunuh Ayahmu, bukan Lucky Luciano tetapi Valerie. Tetapi, kau menodaiku, seakan aku pantas membayar dosa padamu!"


Axel mendekat tidak sabaran, meraih Queena keras hingga gadis itu berbalik padanya.


"Tolong jangan kasar padanya, Axel! Dia sedang hamil, ya Tuhan!" seru Reinha dengan suara seret, bibirnya susah bicara. "Kaulah brengsek sialan itu, bukan Lucky Luciano. Gara-gara kau, kekasihku hampir saja menikahi Queena. Aku nyaris saja mati bunuh diri kehilangan seseorang yang sangat aku cintai. Kau lebih brengsek darinya, kurasa," omel Reinha panjang lebar. Suaranya aneh berasal dari tenggorokan seeprti suara orang baru bangun tidur.


Axel Anthony bukan Mafia seperti Ayahnya, pria itu hidup dengan bisnis yang jujur. Ketika Ayahnya dieksekusi padahal telah berikan banyak informasi yang mendukung pemerintah saat itulah Axel yang murka gunakan kekuasaan Rocco Anthony yang tertinggal untuk memburu Family Club, memburu Viktor juga Lucky Luciano.


Ya Tuhan, banyak sekali badboy di dunia ini dan mereka itu makhluk buas yang sangat sensitif jika menyangkut cinta, lihat saja Lucky Luciano yang tiba-tiba melankolis tak tertolong dan sekarang Axel Anthony yang nyawanya mengambang.


"Hamil?" Axel lepaskan tangannya sedang Queena berpaling.


"Buka pintunya, Axel! Lucky akan bicara padamu!"


"Tidak, kita memang harus bicara!"


Wajah sangar pria itu menghilang, ia terdiam beberapa langkah dari Queena.


"Aku akan segera gugurkan kandunganku," kata Queena tiba-tiba.


"Tidak! Kau tak akan lakukan itu pada bayiku atau aku akan membunuhmu, Queena!"


***


Sementara kembali pada Elgio dan Lucky ....


Elgio yang hampa akan kehilangan Marya berkubang dalam luka di hatinya abaikan Lucky Luciano yang bicara padanya. Sementara Lucky menambah kecepatan mobil berlomba dengan waktu. Mobil itu meraung marah di jalanan.


"Setidaknya cegah darah itu! Atau kau akan kehabisan darah sebelum bertemu Nona Marya!" kata Lucky lagi tak tahu cara menghibur.


Butuh waktu 3 menit, Elgio akhirnya lepaskan kemeja. Lucky tiba-tiba bertanya saat melirik Elgio tanpa atasan.


Elgio menoleh pada berandalan di sampingnya yang tampak terus ungkit masalah orientasi seksual. Elgio berdecak keheranan dengar pertanyaan Lucky, jadi, Lucky benar-benar serius tanggapi bualan itu. Konsentrasi sedihnya sedikit teralihkan.


"Kau penasaran sekali soal itu?"


Elgio balik bertanya seraya meraih kotak obat di jok belakang dan mulai obati lukanya sendiri. Ia kesulitan sebab dapat luka sobekan lumayan lebar di satu lengan dan ada peluru di lengan satunya. Terlebih luka sebenarnya ada di dalam hati. Jantungnya seakan dihancurkan saat lihat Marya tadi.


Aku akan datang, Marya. Kita akan segera bersama. Tunggu aku!


"Aku suka tipe-tipe sepertimu, Lucky Luciano. Yang agak urakan," lanjut Elgio dengan nada muram. Ia sengaja bikin Lucky Luciano merinding ketakutan, bersyukur Lucky ikut dengannya.


"Oops, kurasa aku harus turun di depan. Aku juga harus pergi selamatkan kekasihku!" Lucky geli. "Dan harus jaga jarak."


Elgio meringis. Lucky Luciano pandai sekali merubah situasi jadi kondusif padahal dia tak harus melawak di suasana tegang begini. Lucky dan Abner mirip, jiwa humoris mereka agak-agak sinting.


"Apa kau sudah dapat kabar soal, Enya?!" Berganti kaos putih polos.


Lucky menggeleng. Ia ingin tahu kabar Enya tetapi ia harus fokus dulu bersama Elgio. Reinha pasti baik-baik saja.


"Kau benaran sudah tidur dengan adikku?" tanya Elgio lagi lebih tajam. "Di hotel? Apa saat dia tak pulang waktu itu?!"


Lucky gagap. "Ti,ti,ti-dak benar. Itu hanya akal-akalan aku saja." Aku sesali sekarang, harusnya aku tak menahan diri. "Kau tahu, Enya, gadis yang luar biasa. Dia tak menyerah padaku begitu saja, hanya karena aku bacakan banyak sajak jatuh cinta. Bagaimana denganmu?" tanya Lucky makin ngebut. 10 menit berlalu. Ia sengaja memancing Elgio bicara banyak agar pria itu tidak terlalu gundah- gulana.


"Apa kita sangat dekat untuk bahas masalah ranjang dengan pasangan?! Lagipula, tidakkah menurutmu aneh, bicara soal itu dengan kakak dari kekasihmu?"


"Anggap ini semacam konseling," sahut Lucky Luciano saat pelabuhan lama dengan banyak gudang tua di tepian dermaga mulai tampak.


Elgio hembuskan napas berat. "Saat pertama kali aku temukan Marya kembali, hasratku padanya menggebu-gebu, tetapi ketika aku benar-benar bersamanya, aku hanya ingin dia bahagia."


"Reinha bilang pengendalian dirimu buruk. Jadi, Nona Marya selalu waspada padamu!"


"Adikku memang blak-blakan."


"Baiklah. Mari kita selamatkan gadismu dan aku harus pergi pada kekasihku. Biarkan kami bersama malam ini, Elgio." Aku sangat merindukannya nyaris gila.


Mobil sampai di pelabuhan dan Lucky langsung menuju gudang penyimpanan yang di maksud Valerie.


Sebuah mobil lain ikut dari belakang dan Sunny turun dari sana. Wanita yang selalu modis dengan gaya rambut Bob dan smokey itu, terlihat acak-acakan. Riasan wajah berantakan.


"Valerie mengirim lokasi ini padaku! Aku langsung kemari!" ujarnya dengan nada gelisah.


Mereka amati gedung.


"Aruhi?!" pekik Sunny saat menoleh ke atap gudang.


"Marya?!" seru Elgio panas terbakar amarah.


Marya di sana dengan kepala tertutup, terikat pada sesuatu. Gaun putihnya melambai tertiup angin. Elgio meradang. Sunny dan Elgio berlari ke arah gudang. Belum sampai 10 langkah, gudang itu tiba-tiba meledak dahsyat. Elgio terlempar menabrak mobil dan Sunny terjungkal di tepian dermaga. Wanita itu hampir pingsan di sana. Bibirnya terus berucap "Aruhi, sayangku. Aruhi ...."


Sementara Elgio terpaku di samping mobil menatap nanar pada bangunan yang sudah setengah jalan terbakar.


"Marya?!"


Tidak mungkin.


"Marya?!"


Tidak mungkin.


"Tuhan, apa yang terjadi?!"


Pria itu mati rasa, tegak seperti patung hidup tanpa ekspresi.


Seseorang bersiap, entah dari mana, merekam kejadian dan seorang reporter mulai untuk siaran.


"Ledakan terjadi di sebuah gudang penyimpanan di dermaga pelabuhan tua dan seorang gadis yang diduga adalah kaki tangan gembong Mafia, tewas dalam kebakaran itu."


Elgio yang sakit hati, terluka, marah dan kecewa, datangi kameraman lalu porak-porandakan peralatan yang dibawa kru televisi tersebut. Pria itu merengkuh kemeja sang reporter.


"Wanita itu, istriku! Hentikan berita konyolmu! Atau kau dan stasiun TV-mu akan aku tuntut," pekiknya marah.


Si reporter menatap Elgio sama marahnya.


"Kenyataannya, gadis itu adalah kaki tangan Mafia, Tuan. Kami telah mengikutinya selama berbulan-bulan!" jawab si reporter. "Irish Bella tak ada di sini untuk konfirmasi berita ini, tetapi kau boleh hubungi dia untuk bertanya langsung."


"Hentikan omong-kosongmu. Aku bersama gadis yang kau tuduhkan itu 24 jam di Durante Land dan dia bukan penjahat bahkan dia menderita Sosiofobia. Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau berani merilis sembarang berita tentang istriku?!"


Lucky Luciano mendekat, pegangi pria yang sedang murka itu.


"Elgio, tenanglah! Aku pikir, wanita itu bukan Nona Marya! Hanya seseorang yang mirip dengannya. Dia bukan Marya, Elgio."


Ponsel Lucky Luciano kembali berdering dari private number.


"Lucky ... apa Elgio Durante dan Sunny Diomanta suka kejutan dariku?!" tanya Valerie dengan nada senang dari seberang. Wanita itu memang psikopat. Setelah kaki dan tangannya cidera, bisa-bisanya tertawa ceria.


"Aku akan membunuhmu, Valerie!" desis Elgio renggut ponsel dari Lucky. Pria itu menahan semua kecamuk emosi dalam dirinya yang mencambuknya dengan sadis.


"Tentu saja, mari bertemu besok pukul 09.00 pagi. Aku akan kirimkan lokasi. Bersyukurlah aku bosan bermain-main, kau akan berjumpa istrimu yang sangat cantik seperti Ibunya ini. Bawa, apa yang aku minta, Elgio Durante!"


Panggilan berakhir diikuti sebuah pesan gambar masuk dan Marya duduk di sebuah ruangan, meski tidak tampak terluka secara fisik, raut gadis itu sangat sedih.


Elgio berteriak putus asa di tengah pelabuhan sementara asap api membumbung tinggi, bangunan itu segera musnah terbakar. Pria itu menangis kesakitan.


"Aku akan membunuhmu, Valerie. Aku bersumpah."


***


Sebenarnya ada part-part dengan judul, Tragedi Satu Malam. Tetapi ternyata terlalu Vulgar (tahulah kalau penculikan dan penodaan, sadisnya gimana gitu meskipun aku tampilkan sisi romantis dramatis hingga dikau bisa juga tergila-gila pada si Axel) dan waktu itu kita lagi di minggu-minggu puasa, jadi aku skip 3 chapter itu setelah susah payah bikin gambaran yang indah (Ciaah muji diri sendiri :D).


Well, tinggalkan komentar. Wajiblah! Habis ini ada chapter yang haru biru dari Aruhi yang coba selamatkan diri dan Arumi yang terbuang....