Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 67 Sindrom Single Kiss ....



"Kau terlihat suram hari ini? Sia-sia saja mentari bersinar cerah."


Ethan Sanchez bergabung dengan Marya Corazon di atap sekolah. Sejak tadi Ethan diam-diam perhatikan Marya yang tampak rapuh dan sendu, berdoa semoga Elgio putus dengan Marya.


"Apa yang sedang kau lihat hingga-hingga hampir menangis?" tanya Ethan ikuti arah pandang Marya, mengernyit keheranan. "Arumi?! Apa Arumi mengganggumu?"


Marya menggeleng. "Tidak, Ethan."


Aruhi bukan satu-satunya yang menderita, Arumi juga. Sekalipun Ayah Arumi, Tuan James Chavez, datangi Paviliun Diomanta setelah pernikahan Ibu dan Tuan Conrad gagal dan memaksa menikahi Ibu, Arumi tidak lagi kekurangan kasih sayang. Berbeda dengannya. Marya melayang makin jauh.


*Tadi pagi Marya siapkan sarapan dan matanya beradu pandang dengan mata penuh sesal Ibu. Marya tak sanggup bicara. Namun, ia beri senyuman terbaik agar Ibu tahu bahwa Marya bersiap menerima Ibu, menyokongnya untuk keluar dari masa lalu kelam.


"Ibu, bisakah kita bertemu Padre Pio nanti sore? Aku akan bawa Ibu bersantai di Biara," ujar Marya ceria.


"Baiklah," sahut Salsa pendek terdengar tidak yakin tetapi bergairah. Sepertinya Aruhi bukakan jalan baginya untuk memulai pertobatan*.


"Kau mendung sekali, ada apa? Apa kau putus dengan Elgio Durante?" tanya Ethan lagi, suaranya beralih semangat. "Tolong nyalakan lampu hijau untukku. Lampu kuning juga boleh, aku bisa maju meski hati-hati."


"Berisik sekali! Aku tak akan putus dari Elgio Durante sebab kami sudah menikah," sahut Marya.


Bayangan Elgio semalam dan cumbuan penuh gairah buat Marya tanpa sadar senyum-senyum sendiri, ia menutupi setengah wajahnya. Ethan berdecak keras perhatikan kuping Marya yang memerah terang. Telapak tangan Ethan terangkat dan menyentuh dahi Marya seperti hendak mengukur suhu tubuh Marya. Ia naikan satu bibir.


"Oksitosin, Dopamin, endorfin ... ya, ya, indikasi reaksi hormon saat pria dan wanita berciuman. Ya ampun, kau ini, aku bisa mati karena cemburu pada Elgio Durante," keluh Ethan tidak suka. Ia menopang dagu lesu.


Marya mengusap wajahnya mengusir bayangan Elgio Durante. Bukannya pergi pria itu malah menempel di ujung pelupuk mata. Senyumannya, sorot matanya, aroma kulitnya. Mereka bermalam di sofa, Elgio mendekapnya hingga pagi bahkan hampir kesiangan. Bukan yang pertama kali tetapi seperti baru pertama kali. Ia memegangi dadanya yang berdebar-debar sedang raut malu-malu telah merona penuh.


"Ya, Tuhan, Marya. Aku pergi saja. Bisa-bisanya kau memikirkan kekasihmu di siang bolong begini," seru Ethan berbalik hendak pergi.


"Eh, jangan pergi Ethan!" Marya tersadar buru-buru menangkap pergelangan tangan Ethan. "Aku ingin bicara."


Ethan perhatikan tangan Marya yang menahan tangannya, berharap tangan itu jadi miliknya. Ia pernah memegang tangan Marya saat mereka di perpustakaan lalu ketika di pekan raya. Ia berharap Marya tak lekas menarik tangannya.


"Ada apa? Katakan!"


Jangan lepaskan tanganmu!


"Bisakah kau jadi guru les privat untuk Arumi?" tanya Marya sembari lepaskan tangan dari Ethan. Cowok itu mendesah kecewa, menatap nanar.


"Tidak bisa," tolak Ethan tegas.


"Ayolah Ethan ... bantu aku sekali ini saja."


Marya Corazon memohon, katupkan dua tangan dan memelas. Jika saja Marya memohon untuk jadi kekasihnya? Sesuatu yang sangat mustahil, pikir Ethan murung.


"Yang lain saja, Marya. Minta yang lain. Aku bahkan akan ke bulan ambilkan batuan di sana untukmu, jangan Arumi. Terus terang aku tidak menyukai Arumi sedikitpun. Aku sakit mata lihat rupa adikmu itu," keluh Ethan Sanchez.


"Ethan, please. Aku sudah katakan pada Ibu akan membawamu jadi guru les Arumi."


"Maafkan aku. Arumi bukan gadis yang mau belajar dan sepertinya otak adikmu itu merayap. Kau tahu aku, kan? Aku suka gemas pada gadis yang bodoh."


Mereka di atas gedung sekolah, tempat di mana Ethan pernah katakan menyukai Marya, tempat yang sama Arumi ketakutan pada ular.


"Cari orang lain saja, Marya!"


"Ayolah, Ethan ...."


"Aku punya pertanyaan untukmu. Ini diluar konteks," kata Ethan Sanchez terlihat ragu, kumpulkan keberanian. Ia menoleh pada Marya menatapnya sangat serius, "Jika kau tak pernah bertemu Elgio, apakah mungkin kau akan suka padaku?"


Marya pandangi taman sekolah. Suasana di jam istirahat terakhir malah tak begitu banyak aktivitas di halaman sekolah. Jikalau ada, mereka berkumpul di bangku halaman dengan buku di tangan. Arumi duduk mematung di bangku taman, entah apa isi pikirannya.


"Kau bisa merusak persahabatan kita, Ethan. Kau tahu, Elgio sangat-sangat tak menyukaimu. Jika tahu kau bertanya seperti ini, Elgio tak akan ijinkan kita berteman. Aku mungkin akan benaran belajar dari rumah," jawab Marya lirih. Sepertinya jadi sahabat Marya saja tidak cukup untuk Ethan.


"Bagaimana denganmu?"


"Aku menyukaimu sebagai temanku, kau harus tahu, aku tidak bisa hidup tanpa Elgio Durante. Aku sangat mencintai Elgio Durante."


Setiap menyebut nama Elgio, wajah Marya bercahaya. Ia bahkan rapalkan nama Elgio penuh penjiwaan.


"Ya, terlihat sangat jelas. Lupakan! Aku harap bisa berjumpa gadis sepertimu di suatu tempat. Mari bersahabat karena sahabat tak akan pernah ada kata putus." Ethan mengepal tinju dan sodorkan pada Marya. Keduanya adu tinju pelan dan tersenyum.


"Jadi, bagaimana? Apakah kamu mau jadi guru les privat Arumi?" tanya Marya penuh harap.


Ethan Sanchez melamun jauh pada Arumi, penuh selidik. Gadis itu tanpa teman, tanpa tujuan, tanpa arah. Mungkinkah Arumi bisa tertolong?


"Baiklah. " Ethan Sanchez tersenyum kecut tak mampu lihat wajah penuh harap di depannya. Ethan menghela napas berat. "Aku akan jadi guru les-nya."


"Benarkah?!" tanya Marya tak dapat sembunyikan sukacita. Gadis itu tak sadar melompat kegirangan. Ethan Sanchez perhatikan tingkah Marya dan iri hati pada Elgio Durante. Betapa beruntungnya pria itu.


"Kau sangat senang, seakan menang undian?"


Marya mengangguk, "Ya, aku bisa tenang sebab Arumi sangat ketakutan saat kukatakan bahwa kau akan jadi guru les privat."


"Aku setuju karenamu."


"Terima kasih Ethan. Kapan bisa mulai?"


"Aku harus sesuaikan jadwal-ku juga Marya. Kau tahu kalau aku juga guru les di lembaga privat khusus."


"Kau luar biasa."


"Tidak cukup luar biasa untuk kalahkan Elgio Durante," katanya muram. "Masih 15 menit sebelum masuk kelas, maukah pergi ke perpustakaan denganku? Ajak Reinha juga, kita harus melihat beberapa materi mikrobiologi."


"Sebenarnya kita diijinkan untuk tidak ikut kelas terakhir untuk selesaikan pembahasan karya ilmiah kita," kata Marya.


Jadilah mereka di sana, bergabung di perpustakaan. Reinha terus melirik jam.


"Ada bau-bau gelisah di sekitar sini?"


Ethan mulai usil saat melihat Reinha tidak konsentrasi pada materi paper di depan mereka.


"Apa kau janjian dengan Lucky Luciano?" tanya Ethan penasaran. "Kau terlihat seperti lagi kasmaran berat?"


Usaha Reinha untuk tidak kentara merindukan Lucky Luciano rupanya tak berhasil. Wajahnya memerah, kemarin sore mereka, em, .... Ia menepuk-nepuk pipinya untuk kembalikan kesadaran.


Ethan bersandar di kursi sambil berdecak melihat kedua temannya yang sama sekali tak fokus belajar.


"Apa kita lagi diserang wabah 'sindrom berciuman'?"


Reinha memutar bola mata, "Makin hari kau makin berisik, Ethan!"


"Fokuslah Reinha Durante!" Ethan mengetuk kening Reinha keras.


"Awwwhhh ... Ya ampun, Ethan sakit." Reinha merengek kesakitan sementara Marya tak mampu tahan tawa kecil.


"Apa yang kau lakukan pada kekasihku, Ethan Sanchez?" tanya Lucky Luciano dari arah belakang. Ketiganya sontak berbalik dan terperangah dapati Lucky Luciano bersandar di rak tak jauh dari mereka. Reinha mesem-mesem pegang jidat yang memerah.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Reinha keheranan tak dipungkiri Reinha bersorak gembira melihat pria itu. Ia mulai meleleh dapati Lucky tersenyum hangat padanya disertai sorot mata lembut.


"Memangnya aku tak boleh ke perpustakaan sekolah ini?" tanya Lucky dengan kening terlipat. Pria itu pergi ke depan orang-orang yang melongo bingung, ambil posisi duduk. Beberapa buku di tangannya. "Aku akan menungguimu sampai jadwal belajarmu selesai dan kita bisa pergi kencan."


Lucky bicara santai tetapi tatapannya tajam menghujam Ethan Sanchez yang terjepit antara Marya Corazon dan Reinha Durante. Ethan tampak tak peduli.


"Halo Nona Marya ... " sapa Lucky melambai pada Marya.


"Hai, apakah urusan Anda dengan Pak Jerry sudah beres Tuan Lucky?" tanya Marya. Mereka sempat berpapasan tadi di ruang guru saat Pak Jerry memanggilnya.


"Tentu saja, Nona. Aku dihukum lagi gara-gara absen di seminar hari kedua tanpa pemberitahuan. Seseorang mengacaukan aku," sahut Lucky tersenyum pada Reinha. Sore yang menyenangkan saat Reinha menyentuhnya di gudang penyimpanan senjata.


"Anda serius akan menunggui Reinha belajar, Tuan Lucky?" tanya Marya lagi.


"Ya, tentu. Anda bisa lihat Enya sangat gelisah, jadi aku akan duduk di sini temani Enya meski tak ada yang bisa kulakukan. Kami akan pergi setelah lonceng pulang berbunyi."


Ethan Sanchez berdecak, "Baiklah. Hanya karena ada dirimu di sini atau sekalipun ada Elgio Durante, bukan berarti aku tak boleh mengetuk kening mereka berdua. Kalian satu tim untuk urusan asmara tetapi di sekolah kami bertiga satu tim, mohon jangan ikut campur. Kadang cinta buat orang mabuk, jadi, mereka hilang fokus pada prioritas. Kita tidak ditanyai 'reaksi kimia dalam tubuh saat berdekatan dengan kekasih' di lomba karya ilmiah."


Lucky Luciano manggut-manggut oleh sinisan itu. "Meski begitu, jauhkan tanganmu dari Enya, Ethan! Aku keberatan begitupula Elgio Durante."


"Jadi kalian satu kubu sekarang?" ledek Ethan Sanchez. Mereka seperti dua beruang kutub berebut ikan salmon terakhir kali yang Ethan lihat. Bahkan kemarin dulu saat seminar dimulai, mereka duduk di ruang Kepala Sekolah, seberang menyeberang, seperti kucing dan anjing.


"Tidak juga. Aku susah diajak satu kompi." Lucky angkat bahu dan buka buku. "Silahkan belajar! Aku akan baca buku. Rak paling akhir dari perpustakaan ini, sungguh menarik perhatianku." Lucky mengangkat lembar pinjaman buku perpustakaan dan perlihatkan pada Ethan Sanchez. Tulisan-tulisan itu dibaca penuh penghayatan oleh Lucky Luciano, seakan dialah yang menulis coretan penuh umpatan itu, dibaca sambil berterima kasih untuk penulis yang sangat-sangat mewakili isi otaknya.


"Balada ini kukasih judul 'Ethan Sanchez', ya! Dengar ini!"


Ethan Sanchez jelek ....


Ethan Sanchez brengsek ....


Ethan Sanchez bedebah sialan ....


Ethan Sanchez penjahat ... bodoh sialan ....


Ethan Sanchez aku akan membalasmu ....


Ethan Sanchez, aku benci kau ....


Ethan berkerut, condongkan tubuh lewati meja dan menyambar kertas-kertas itu dari tangan Lucky Luciano seakan-akan pria itu mengarang bebas.


"Sepertinya ada seseorang yang sangat tersiksa karenamu, Ethan Sanchez," kata Lucky Luciano dalam.


Ethan geleng-geleng jengkel dan biarkan Marya juga Reinha melihat kartu-kartu di buku pinjaman itu.


"Arumi?!" desis Marya mengenali tanda tangan Arumi.


"Aku akan mulai memberinya les privat nanti sore, Marya," kata Ethan Sanchez tiba-tiba. Jadi, gadis bodoh itu rapikan buku-buku di rak belakang sambil memaki dirinya. Ethan Sanchez tersenyum jahat, well, ia punya alasan kini untuk menyiksa Arumi Chavez. Bodoh sekali gadis itu, mengumpat orang tetapi bubuhi tanda tangannya persis di surat penggemar.


Seakan harinya lagi sial, Arumi muncul di perpustakaan dengan buku-buku pelajaran tingkat satu bersama seorang siswi lain. Gadis itu berbinar melihat Lucky Luciano,


namun langsung merengut saat tatapannya bertemu Ethan Sanchez. Wajah Arumi ditekuk.


"Arumi?!" panggil Lucky. "Kau tampak keren dengan pakaian seragam itu."


Sedang Ethan bangkit berdiri dan pergi ke balik rak-rak memilih banyak buku pelajaran, hindari Arumi.


"Kakak, apa yang kau lakukan di sini? Apakah kau harus juga ke sekolah dan menjaga kekasihmu? Jangan cemas, Kak. Seisi dunia tahu dia milikmu. Tak akan ada yang berani macam-macam," ujar Arumi mengolok-olok.


Lucky tersenyum lebar. "Kau menulis puisi yang sangat indah di kartu pengembalian beberapa buku-buku di rak paling belakang. Trims. Aku sangat menyukainya," balas Lucky Luciano.


"Apa maksudmu, Kak?" tanya Arumi heran. "Aku tak bisa bikin puisi."


"Oh, lupakan saja."


Arumi kembalikan buku-buku ke tempat penyimpanan kelas satu.


"Aku pergi ya, Kak!" Arumi melambai pada Lucky.


"Arumi Chavez, tunggu!" cegah Ethan Sanchez bergerak cepat datangi Arumi yang langsung merengut tidak senang. "Mana tanganmu?"


Ethan menaruh satu tumpukan buku di tangan Arumi hingga gadis itu hampir limbung. "Ini ...."


"Apa ini?!" tanya Arumi kesal. "Kau tak punya tangan? Aku bukan budakmu!"


Beruntung perpustakaan kosong dan pegawai perpustakaan masih di lantai dua, jika tidak, Arumi pasti sudah kena teguran untuk lengkingannya.


"Ini buku pelajaranmu nanti sore. Pukul 5 sore sampai pukul 8 malam, pelajaran Matematika. Belajar yang rajin, aku akan mengetuk keningmu dengan keras," jawab Ethan kalem.


"A,A,Apa, apa?!" gagap Arumi.


"Kenapa? Kaget? Aku guru privatmu selama tiga tahun."


"Tiga tahun?" tanya Arumi hampir pingsan. Sehari saja rasa seperti di neraka, tiga tahun?


"Tunggu aku, ya!" Mengedip sebelah mata sebelum kembali ke tempat duduknya.


"Tidak, aku tidak mau. Kau pasti akan menyiksaku lagi!" seru Arumi berang.


"Memang ada guru les privat menyiksa muridnya selain disuruh hapalkan rumus! Kau sebut itu penyiksaan?" balas Ethan tegas. "Pergilah! Tunggu aku nanti sore."


Arumi pandangi Marya murka. Gadis itu pergi bersungut-sungut.


"Kau serius akan jadi guru les-nya?" tanya Reinha. Gadis itu sedikit menjauh dari Ethan saat ekor mata menangkap Lucky Luciano sedang mengawasinya dari balik buku.


"Ya, Marya mengemis padaku. Kau kan tahu aku tak tegaan pada kalian berdua!" kata Ethan genit, tak hiraukan Lucky Luciano.


"Apa yang kau bicarakan?" tanya Reinha berbisik, melirik pada Lucky Luciano.


"Kau pura-pura lupa atau apa?" Ethan balas bertanya.


"Hentikan! Aku pergi lebih dulu." Bangkit berdiri, menarik paksa Lucky yang curiga. "Ayo pergi!"


"Lain kali, jangan libatkan aku dalam kisah cinta kalian!" seru Ethan bikin Reinha Durante makan hati.


***


Wait me up ....


Do you like this chapter Readers?! Chapter 3 ketenangan sebelum badai. Terus terang, cobaannya lumayan berat. Kita lihat apakah mereka berhasil lewati badai?! Siapakah yang akan selamat dari badai nanti?!