
"Ayolah Enya! Mari bersama hari ini," kata Lucky Luciano mendesak gadis itu bangun.
"Baiklah. Tunggu aku di bawah, Lucky! Aku akan mandi dan bersiap-siap," jawab Reinha akhirnya bangkit malas-malasan.
Selimut ditarik untuk tutupi diri dan gadis itu berlarian ke kamar mandi dengan wajah memerah tinggalkan Lucky memeluk aroma jasmine.
Saat masuk tadi Lucky tak begitu perhatikan kamar sang gadis yang ternyata dipenuhi banyak pajangan poster dirinya. Lucky sumringah, bukan dirinya saja yang gila-gilaan stalking foto gadis itu di Instagram. Reinha lakukan hal yang sama meskipun tak segila dirinya. Oh tunggu dulu, siapa bilang Reinha tak segila dirinya? Satu poster ketika ia di padang savana dengan kaca mata gelap dan bertelanjang dada terpampang paling besar dan menarik perhatian, dipenuhi cap bibir merah menyala. Apa gadis itu bercumbu dengan posternya tiap hari? Pria itu tersenyum lebar, turun dan kembali pakai jaket. Ia mendekat pada poster citra dirinya dan geleng-geleng oleh ratusan cap bibir di sana.
"Kau pasti tergila-gila padaku," sambut Lucky saat Reinha keluar dari kamar mandi dengan kimono towel jauh di atas lutut 30 menit kemudian. Reinha terkejut dapati Lucky masih di kamarnya dengan buku prosa di tangan, menungguinya mandi.
"Kepalamu pasti langsung membesar seperti bola dunia," angguk Reinha pada poster penuh cap bibir bergincu merah.
"Aku tersanjung, Enya. I am so speechless."
"Kau harus lihat ini juga," kata Reinha buka almari dan dibaliknya poster Lucky ukuran sedang terpampang dengan banyak anak panah kecil tertancap di wajahnya.
"Eh, apa itu?" tanya Lucky bangkit berdiri dan perhatikan seksama.
"Saat kau bikin aku kesal, aku akan tembakimu dengan anak panah!"
"Kau dan kakakmu menakutkan Reinha Durante," keluh Lucky saat wajah tampannya bolong-bolong dan penuh goresan. "Bisakah, kita makan siang dulu, Enya? Ku rasa bibi Maribel buatkan penghuni Paviliun Durante masakan yang lezat," tambahnya alihkan percakapan. Ia tak suka mereka bahas kekesalan demi kekesalan di masa yang telah lewat.
"Ya, tentu saja! Kami anak rumahan, tak begitu suka makanan restoran sebab kami punya chef hebat di sini," jawab Reinha membuka almari lain dan keluarkan pakaian.
"Aku ingin menculik bibi Maribel dan membawanya ke Puri Luciano!" Lucky berandai-andai. Ia menahan napas saat Reinha berjinjit dan handuk mandinya terangkat.
"Satu Durante Land akan berperang dengan Luciano, bisa dipastikan itu! Bibi Maribel adalah harta berharga Durante Land. Bisakah kau pergi, aku akan berganti?" tanya Reinha saat Lucky kembali duduk dengan nyaman di pinggir tempat tidur baca buku prosa sambil mengawasinya.
"Tidak, aku akan di sini dan baca buku," jawab Lucky angkat wajah dan pandangi Reinha tanpa berkedip.
"Oh baiklah, terserah kau saja!" Reinha menarik tali pengikat towel kimono, ia akan lepaskan handuk mandi dan Lucky mendesah saat gadis itu benar-benar akan bugil di depannya.
"Baiklah, baiklah Nona, aku akan pergi! Ya Tuhan, tendanganmu sungguh halus tetapi benar-benar mendalam."
Pria itu mengalah serta-merta bangun dan ambil langkah seribu sisakan Reinha yang terkekeh geli di belakangnya.
Mereka pergi ke ruangan makan kaitkan jemari dan tak terkejut saat dapati Elgio dan Marya masih ada di sana saling suap-suapan.
"Apa kalian berdua akan seperti itu tiap hari?" tanya Reinha mencibir lihat Marya di pangkuan kakaknya dan bersuapan seakan dunia milik berdua.
"Tak perlu sewot, saat kau menikahinya, kurasa kalian akan lebih gila dari kami," sahut Elgio mengangguk pada Lucky Luciano. Jika bikin tato abadi di tubuh terlihat sah, normal dan harga mati, maka Elgio yakin saat jadi suami Reinha, pria itu lebih gila darinya. Bisa jadi, Lucky Luciano posesif dan dramatis.
"Bisa jadi. Kami akan makan dan pergi," kata Reinha sembari mendorong Lucky duduk.
"Ya, nikmati waktu kalian! Besok, semua kembali normal, kau dan Marya harus serius pergi ke sekolah dan berhenti pacaran!"
"Kau mulai lagi. Tidak ke Bali untuk bulan madu?" tanya Reinha.
"Belum tahu, jika aku bisa dapat ijinan untuk Marya. Sementara waktu kembalilah fokus belajar, Enya!"
"Aku sih bisa, aku yakin Marya tak akan mampu sebab kau pasti akan terus menggoda dan melengket padanya hingga dia kehilangan konsentrasi. Semoga ia jatuh dari peringkat pertama," sahut Reinha nyengir pada kakaknya.
"No way, Reinha. Aku akan tetap yang pertama," imbuh Marya sambil menggeleng keras.
"Ya, I know. Susah sekali kalahkanmu, Marya!"
"Kau punya banyak kelebihan Reinha, dan aku iri padamu," ujar Marya sambil makan satu suapan dari Elgio.
"Well, aku terpesona. Tak percaya kau iri padaku," balas Reinha sodorkan piring pada Lucky dan mengisi makanan untuknya.
"Kalahkan Ethan Sanchez dan aku akan sangat bangga pergi ke sekolah dengan nilai-nilai peringkat satu dan dua."
"Ya, aku akan kalahkan Ethan meskipun sangat sulit, Ethan smart dan sangat jenius."
"Just smart, jenius hanya dipakai untuk gambarkan istriku!" potong Elgio dan menciumi tengkuk Marya.
Reinha berdecak lihat tingkah laku dua orang di depannya.
"Selamat jalani honeymoon. Tak ada yang akan ganggu kalian berdua. Aku akan pindah ke kamar lamaku dan Tuan Abner kembali ke apartemennya. Kalian bisa bikin bayi sesuka hati."
Tinggalkan Marya dan Elgio yang kasmaran tanpa henti, Lucky Luciano mengebut di jalanan dengan Reinha lengket di punggung pria itu, tak ingin bertanya kemana Lucky membawanya. Ia memeluk pinggang Lucky erat nikmati perjalanan menyenangkan bersama kekasih. Ternyata mereka pergi ke sebuah bangunan dengan banyak material kayu di dalamnya. Papan, balok, lat dan segala macam bahan bangunan dari kayu terlihat. Aroma serbuk kayu terendus. Reinha lekatkan hidung pada jaket Lucky dan menghirup aroma pria itu untuk mengusir bau kayu yang mengganggu hidung.
"Tempat apa ini, Lucky?" tanya Reinha.
"Gudang kayu," sahut Lucky pendek. "Maafkan aku membawamu kemari," katanya lagi sembari memeriksa bahan-bahan kayu dari rak ke rak.
"Apa yang akan kita lakukan?"
"Maukah temani aku, Enya?" tanya Lucky. "Aku akan membuat tempat tidur bayi dan Francis akan kirimkan pada September." Lucky bicara pelan dan menunggu reaksi Reinha. Gadis itu terdiam sejenak. "Aku tak ingin bersinggungan langsung dengan September, jadi, aku ingin lakukan banyak hal untuk bayinya tanpa harus bertemu dengannya. Jika kau keberatan, kita bisa naik motor dan bepergian." Lucky bicara ragu-ragu saat lihat ekspresi datar Reinha.
"Tidak, Lucky. Mari lakukan," jawab Reinha cepat. "Jadi, apa yang harus aku lakukan? Kamu yakin bisa buat box bayi? Kamu tak tampak seperti tukang kayu?" tanya Reinha ragukan pria itu.
Meski didorong semangat karena akan bersama Lucky, Reinha tak yakin apakah akan benar-benar tulus bikin tempat tidur bayi untuk wanita lain yang mengandung bayi kekasihnya? Makin ribet saja.
Lucky tersenyum. "Kita akan bikin pagar box terlebih dahulu. Francis akan datang dan mulai mengukur kayu untuk penopang box."
Seakan tahu dirinya disebut, asisten pribadi Lucky yang setia itu muncul di pintu gudang dengan celemek kerja dan bawakan dua lagi untuk Lucky dan Reinha.
"Kemarilah, pakai ini!" pinta Lucky seraya lepaskan jaket Reinha.
Ia menggulung kemeja Reinha kemudian pakaikan celemek berbahan kanvas denim lalu kaca mata pelindung agar mata Reinha tak terkena serbuk kayu.
Francis siapkan mesin gergaji listrik dan berikan satu pada Lucky yang langsung mengajari Reinha cara menggunakannya. Mesin mulai berdengung dan keduanya menikmati kegiatan bersama, memotong banyak kayu untuk pagar box bayi. Tangan-tangannya membungkus tangan lembut Reinha, bimbing Enya memotong kayu. Sesekali Lucky mencium gadis di depannya yang terlihat lebih antusias untuk bekerja dibanding dirinya. Tak tahan pada aroma Jasmine dan aura sang gadis, Lucky terlihat hanya main-main di punggung Reinha.
"Hei, brengsek, hentikan! Ini berat, aku tak kuat pegangi gergaji sendirian sementara kau cuma main-main. Ayolah, aku tak sabar lihat hasilnya," keluh Reinha sambil mengomel saat Lucky recoki lehernya. "Apa kau ingin gergaji ini pindah ke batang lehermu?"
"Wajah seriusmu sungguh menggemaskan, Enya," sahut Lucky.
Francis perhatikan keduanya, senyum-senyum. Bosnya yang aneh sedang menggoda kekasih yang sibuk gergaji kayu, padahal box dibuat untuk bayinya bukan bayi si gadis. Francis diam-diam mengambil video dan beberapa foto. Suatu waktu mungkin bos-nya banyak tingkah, Francis akan tunjukan foto-foto mesra mereka.
"Wah, banyak juga ya," kata Reinha saat lihat tumpukan kayu berukuran sama dan sangat rapi, padahal mereka cuma amatiran. "Permukaan kayu sangat kasar Lucky, tak mengapa nanti di kulit bayi?" tanya Reinha meraba-raba kayu. Jari jemarinya bahkan tertusuk serat kasar kayu.
Lucky mengangguk-angguk dalam kekaguman tanpa batas. Gadisnya lebih tekun darinya, padahal sempat takut Reinha akan menolak ide bikin box.
"Luar biasa cerdas dan peka," puji Lucky. "Pekerjaan selanjutnya adalah gosok kayu dengan amplas agar lebih halus sebelum dicat."
Satu persatu kayu diamplas. Francis memutar lagu sendu Ronan Keating, She's believe in Me dan ketiganya sibuk mengamplas kayu yang sudah dipotong.
"Mengapa tak pergi ke toko bayi dan membelinya saja, Lucky?" tanya Reinha. Tangannya lincah dengan kertas amplas.
"Mahal," sahut Lucky pendek.
"Mahal?!" pekik Reinha. "Ya ampun, kau punya banyak uang dan harga box kayu tak seberapa mahal dibandingkan bayimu," ujar Reinha keheranan.
"Sebenarnya Enya, buat sendiri akan lebih bercita rasa. Aku harap si bayi akan rasakan ketulusan saat berbaring dalam box."
"Ayah yang baik." Reinha tersenyum lebar dan mengecup bibir pria di sampingnya. Ia kembali mengamplas kayu dan Lucky Luciano amati gadisnya, tak berhenti takjub. Reinha Durante sangat memukau, sejak awal ia melihat gadis itu berdiri di podium dan berpidato. Saat Reinha berdiri di ambang pintu, di ruang atas Puri Luciano dengan riasan extra ordinary terhebat yang pernah Lucky lihat. Ia terpukau pada Reinha saat bibir tipis memakinya "brengsek" dan jelas-jelas menolaknya. Reinha Durante, one and only, wanita yang berhasil bikin dirinya jatuh cinta hingga jadi tak waras dan wanitanya itu belum lagi berumur 18 tahun.
"Kurasa kita akan mengecat ini dengan warna creamy, white atau mint. Keren sekali nantinya," usul Reinha berimajinasi.
"Anda benar, Nona. Warna cerah akan bagus untuk bayi," sambut Francis hangat, juga berbinar-binar lihat hasil kerjanya.
"Akan terlihat lebih fresh tetapi tetap pertahankan kesan nuansa kalem," tambah Reinha lagi.
"Kita satu ide, Nona. Aku beli dua cat tadi, creamy dan biru mint. Wah, Anda benar-benar luar biasa," puji Francis.
"Mari kita mulai," sambung Lucky tertular gairah keduanya.
Pengecatan dimulai, semprotan demi semprotan mendesis dari spray gun kayu. Lucky dan Francis bergantian mengecat sedang Reinha menonton keduanya dengan senyuman di wajah. Prianya terlihat hebat saat jadi Ayah sungguhan. Semoga Tuhan ampuni dosa-dosa seorang Lucky Luciano di masa lalu dan berikan pria itu kehidupan yang lebih baik.
Sambil menunggu cat kering, ketiganya minum kopi.
"Bagaimana keadaan September, Francis?" tanya Reinha mengisi jeda. Aroma cat terendus di antara aroma kopi. Lucky tampak tak begitu nyaman saat nama September disebut-sebut.
"Baik saja, Nona," jawab Francis pendek.
"Kau tak mengancamnya kan?"
"Kadang," sahut pria itu lagi kedipkan bahunya.
"Aku penasaran."
"Catnya mudah kering, Nona." Francis berdiri, terang-terangan menolak percakapan itu. "Aku akan pasang blok penyangga dan rel gantung di bagian sisi bawah box. Anda berdua bisa bersantai."
"Baiklah. Kami berdua yang akan pasang pagarnya," ujar Lucky.
"Francis sangat setia padamu," kata Reinha.
Francis memeriksa cat dan mengangguk beri tanda bahwa catnya mengering. Waktu yang tepat untuk memasang blok penyangga.
"Ya," angguk Lucky.
"Kau beruntung, Lucky. Pertahankan dia di sisimu, kau kadang tak waras, Francis bisa jadi sandaranmu."
"Kau terdengar seolah akan pergi tinggalkan aku?" Lucky ketakutan. Mata berubah kelabu dan pekat. Ia menarik Reinha datang pada pangkuannya dan memeluk Reinha sebagai ganti kata-kata, "jangan lepaskan aku!"
Kau mungkin berubah saat bayimu datang. Aku mungkin tak bisa bertahan.
Pekerjaan Francis selesai dengan cepat.
"Aku akan tetap di sampingmu, kita sudah berjanji," sahut Reinha ketika dirasa Lucky berubah suram. "Ayo kita selesaikan pekerjaan kita!"
Keduanya gunakan sekrup untuk pasangkan pagar di sisi-sisi box hingga keempat sisinya terpasang pagar dengan baik.
Francis menenteng kasur berukuran sama dengan ukuran blok penopang box, letakan di atas box dan tempat tidur bayi telah jadi. Reinha berdecak, hebat sekali benda itu terlihat.
Lucky memeluk Reinha erat. "Keren sekali, kurasa bayinya akan tidur dengan pelukan cinta tiga orang di dalamnya."
"Ya, kau benar, Lucky."
"Tolong segera kirimkan pada September, Francis!" kata Lucky. "Aku akan pergi kencan dengan kekasihku yang hebat ini. Mau ke mana, ya, kita?"
"Bos, Anda harus ke Double L dan tanda tangan berkas. Kurasa kalian sebaiknya berkencan di kantor Anda." Francis menyela.
"Oh sayang sekali," keluh Lucky.
"Not bad, Lucky. Aku ingin tahu, apa yang kau lakukan hingga Double L sangat melejit. Aku akan mencuri rahasia darimu dan terapkan di Dream Fashion."
Mereka akhirnya berpisah di ujung senja. Francis berkendara dengan mobil box lakukan pengiriman. Francis pergi ke rumah September dan menekan bel. Saat pintu terbuka, September berdiri di ambang pintu terlihat girang awalnya tetapi langsung kuyu.
"Apa kau berharap Bos Lucky datang, Septie?" tanya Francis dengan sorot mengejek.
"Apa maumu?"
"Jangan sedih, aku antarkan kiriman, tempat tidur bayi."
"Apa Lucky yang mengirimnya?" tanya September kembali senang.
"Ya, dibuat dengan tangan-tangan sendiri," sahut Francis lambungkan September hingga ke jambul-jambul awan.
Dua orang pria membawa masuk tempat tidur bayi dan September tak tahan haru. Wanita hamil yang sedang sensitif itu membiru.
"Bisakah ia datang makan malam? Aku akan masakan sesuatu untuknya sebagai ucapan terima kasih," pinta September.
Francis berdecak. "Septie, dokumen perjanjian sebelum para wanita-wanita sepertimu kencan dengan bos ada padaku. Tolong jangan memaksaku tunjukan padamu dan pada bos. Okay?"
"Kau jahat sekali, Francis." September mengeluh. "Jika Lucky membuat box ini dengan tangannya sendiri, bukankah berarti dia sangat perhatian?"
Francis berhembus kasar. Membungkuk pada perut September dan bicara pelan dan hangat.
"Halo bayi, kamu dapat hadiah hari ini. Box-mu menunggu." Tegak berdiri dan berwajah datar pada September. "Benda itu dibuat oleh Tuan Lucky, kekasih cantiknya yang rupawan dan olehku. Jangan berharap lebih September. Bos sangat mencintai Nona Reinha Durante."
"Apa maksudmu?"
Teringat akan video di gudang kayu tadi, Francis mengambil ponsel dan buka Video.
"Lihatlah!"
September menegang saat lihat tayangan, Reinha Durante yang sangat cantik sedang menggergaji kayu sedang Lucky di leher gadis itu merayunya.
"Kau bisa buang box itu," seru September kesal.
"Apa yang kau harapkan? Lagipula, box itu bukan untukmu tetapi untuk bayi Tuan Lucky. Aku pamit, tolong jangan ganggu cinta seseorang September. Bos Lucky lebih memilih kekasihnya ketimbang dirimu, kau harus terima kenyataan. Kau tak bisa paksakan cintamu pada seseorang."
"Aku tahu caranya buat dia datang padaku!"
"Coba saja, nomer 5 isi perjanjian, tak boleh ada bayi, atas kesepakatan bersama. Seandainya ada, tak akan dianggap ada. Bos sangat hati-hati pada setiap wanita yang bersamanya, kuduga kau sengaja menjebaknya. Beruntung bos bertanggung jawab pada bayimu. Tidak cukup?"
"Kau tak bisa terus mengancamku."
"Nomer 6 September ...."
"Baiklah," potong September dan membanting pintu di depan wajah Francis, tak ingin dengar soal perjanjian terakhir yang akan diucapkan Francis.
***
You are not alone, Enya...
Aku juga punya si berandal itu meski tak setampan Lucky Luciano, aku jatuh cinta padanya saat usiaku belum sampai 18 tahun, putus nyambung selama 10 tahun, akhirnya menikah di tahun 2015.
Aku dan suami, Mr. Gorgonius Pio, Juni 17 - 2015 on our Prawedding. Bukit Cinta Campuhan - Ubud - Bali. 17 Juli 2015 kami menikah di Bali.