Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 153 So Sorry, Aruhi ....



"Ada apa Elgio?"


Mereka berkendara keluar dari peternakan dijemput oleh asisten dan pengawal pengganti bernama Marco. Sementara Arumi terpaksa harus dengarkan bahasan lanjutan di sisi Hellton yang akhirnya memaksa sang gadis bertatapan dengannya dan duduk dekat di sisinya. Mereka bicara soal General Meeting of Shareholders, (Rapat Umum Pemegang Saham) yang akan segera digelar.


"Mari bersama Maribella, malam ini," sahut Elgio terlihat sangat gelisah dan muram. Sejak menerima telpon, pria itu terlihat tak tenang. Mereka akhirnya berpamitan untuk pergi lebih awal oleh sesuatu yang mendesak. Hellton berikan beberapa masukan untuk Elgio.


"Jika kamu tak bisa kotori tanganmu karena merasa terlalu terhormat untuk sebuah pertarungan ..., bermain kotor sangat perlu ..., kamu diijinkan gunakan pihak ketiga lakukan pertarungan untukmu. Di hadapan keperluan yang mendesak, semua hukum tak berlaku."


Elgio paham maksud Hellton, mengangguk. "Aku akan lakukan apapun untuk keluargaku, meski itu berarti harus kotori tanganku dengan darah."


Hellton menepuk pundak Elgio saat mereka hendak pergi dari sana.


"Katakan padaku ada apa?" tegur Marya buyarkan lamunan Elgio hingga pria itu segera


berbalik dan menatap Marya, mencium Marya yang ketularan gelisah dan memeluk istrinya erat.


"Apa aku membuatmu gelisah?"


Marya mengangguk. "Kau bisa berbagi denganku, Elgio."


Tangan Elgio menyusuri perut Marya. Pikirkan bayi mereka. Apakah karena tubuh Marya terlalu langsing? Perut Marya terlihat sama sekali tak bengkak. Elgio segera cemaskan hal itu juga.


"Aku tak bisa berpikir, Marya."


"Baiklah, tenangkan dirimu, Elgio Durante!" Marya bersandar pada Elgio. Jalin jemari di antara kecemasan dan kelut-melut.


Mereka sampai di rumah sakit dengan cepat. Maribella jauh lebih baik, terlihat lebih merah dibanding terakhir kali, sangat pucat pasi. Saat melihat Marya, Maribella berseri-seri tersenyum lebar. Mereka berpelukan di ranjang. Marya mendekap pengasuhnya erat segera menangis terisak-isak saat teringat penyiksaan pada Maribella.


"Marya, mengapa kamu menangis?" tanya Maribella keheranan.


"Aku mencintaimu, Maribella!" sahut Maribella mencium wajah pengasuhnya, gesekkan hidung mereka. Aku akan lakukan sesuatu yang tak bisa kau bayangkan akan aku lakukan Maribella. Aku akan menghukum mereka. Maafkan aku, karena tak bersamamu saat kau kesakitan.


"Aku menyayangimu, Maribella!" kata Marya lagi menangis akhirnya di pelukan Maribella.


"Ya, aku tahu. Aku sudah membaik dan akan segera pulang! Jangan menangis, ya Tuhan. Berhentilah cengeng. Kau akan segera lahirkan bayi. Kau tak bisa terus menangis dan keluarkan air mata. Kita akan bersama di Durante Land. Tenangkan dirimu. Aku baik-baik saja. Kita akan bepergian setelah ini, menikmati pantai dan bersenang-senang." Maribella bicara panjang lebar, menghibur Marya yang sedih.


"Benarkah?" Marya semakin erat memeluk Maribella.


Beberapa orang pria berseragam masuk, diikuti seorang bertampang gangster, seorang pria aneh. Sepertinya pihak penyidik dan rekanan Abner Luiz. Mereka berbincang di ruang tamu.


"Anda diincar oleh sekelompok orang dengan tujuan berbeda-beda. Mereka sangat hati-hati. Tapi dalam sejarah kejahatan terorganisir, ketika mereka butuh menumpas hambatan, mereka tidak pernah berpikir lagi soal konsekuensi. Itu yang terjadi saat ini." Seseorang dari mereka bicara.


"Apa yang mereka inginkan?" tanya Elgio keheranan.


"Kita berdua, Elgio Durante!" sahut Abner Luiz.


"Apa yang kita lakukan?"


Laptop dinyalakan. Seorang pria berusia 23 tahunan, masuk kantor sebagai office boy. Pria itu terpeta di layar laptop, tampak seperti pekerja lainnya. Dengan alat kebersihan di tangan, ia mulai bekerja dalam kantor. Tak ada kejanggalan setelah dua hari ia bekerja. Hari ketiga, si pria datang lebih awal ke kantor. Mulai bersih-bersih dan pindahkan pot berisi bunga palem setinggi 1.5 meter lebih ke arah dekat pantry. Tak ada yang aneh, pria itu bersihkan lantai bagian bawah pot bunga. Luna terlihat mulai bekerja dengan rok kembang, diluar kebiasaannya. Hari di mana, Luna kembali ke apartemen Abner dan dapati pria itu menyeret Maribella ke dalam apartemennya.


"Apa dia pekerja tetap kita?"


"Tidak, office boy yang lama tiba-tiba sakit dan pria ini direkrut oleh bagian HRD."


Hari ke empat, hari Luna keracunan, si office boy terlihat sedang bersih-bersih sementara Luna pergi ke pantry. Buatkan dua cangkir kopi, satu cangkir untuk dirinya dan untuk Abner sebab terlihat gadis itu antarkan satu cangkir ke dalam ruangan Abner dan kembali beberapa saat kemudian. Ketika hendak mengambil kopi, tak sengaja tersenggol si office boy hingga kopi tumpah. Luna buru-buru lepaskan blazer juga name tag nya. Si office boy membungkuk minta maaf berulang kali, bantu Luna dengan meraih kotak tisu dan menaruhnya di dekat Luna yang berbalik untuk bersihkan kemejanya. Saat Luna sedang bersihkan kemejanya, di sanalah terlihat meski tak jelas, butuh proses pengamatan berulang-ulang untuk temukan sesuatu.


"Dia menukar name tag Nona Luna Hugo!" kata detektif.


"Tidak begitu jelas," balas Elgio.


Mereka mengulang rekaman.


"Dia menukar name tag Nona Luna Hugo dengan replika name tag yang telah diisi bubuk sianida di dalamnya dan bagian bawah name tag telah dimodifikasi hingga bisa dioperasikan dengan remote dari jarak 100 meter."


Elgio terhenyak. Ia tak perhatikan name tag karyawannya. Tapi name tag sepertinya gunakan sejenis bahan mirip kaca dengan identitas pemakai ditaruh di tengah-tengah sedang dua lempeng arkilik apiti kedua sisi.


"Apakah pria itu telah teridentifikasi?" tanya Elgio Durante mengakui kehebatan mekanisme keracunan Luna. Benar-benar rapi dan jenius.


"Ya, Black Hajun, kaki tangan Hedgar Sangdeto. BH disebut pionero (perintis) untuk eksekusi anggota atau target mereka dan memulai pembunuhan diam dan mematikan."


"Siapa Hedgar?"


"Salah satu Mafia yang mengejar Irish Bella. Kamu ingat suatu malam, kau pernah menembak gangster saat selamatkan seorang Lady Babushka? Kau berkelahi dan menembak adik laki-laki Hedgar bernama Fernando Sangdeto tanpa kau sadari saat selamatkan Irishak Bella," sahut Abner.


"Wow wow ... aku tidak membunuh siapapun malam itu. Aku memang gunakan senjata tapi aku tak membunuh mereka."


"Tapi, adik laki-laki Sangdeto ditemukan mati terbunuh dan para gangster bersaksi Anda menembak lalu selamatkan Irish Bella," sahut sang detektif.


Elgio, pegangi kepalanya.


"Hedgar tak bisa habisi kita dengan menarik pelatuk sebab beruntunglah kita sangat berharga di mata negara ini. Para pengusaha meskipun bersaing denganmu jelas akan nyatakan perang dengan para Mafia sebab ekspor perusahaan kita menambah cadangan devisa negara. Perusahaan juga patuh pada pajak, hingga negara benar-benar ada di pihak kita. Hedgar lakukan sesuatu diluar paradigma Mafia untuk runtuhkan kita, tidak gunakan kekerasan tetapi intrik. Sianida dalam perusahaan makanan cukup untuk hancurkan kita. Kehilangan konsumen 50% saat ini, loyalitas pelanggan, akan terus menurun hingga kita lumpuh."


Elgio berpaling pada Abner perhatikan saat pria itu bicara. Tatapan matanya hanya bisa dimengerti Abner. Elgio melirik ke dalam kamar. Napasnya sedikit memburu. Ia berdiri serentak dan pergi ke ruangan kamar, bernapas lega saat Marya berbaring di sisi Maribella. Seakan-akan takut sniper awasi keluarganya, pria itu pergi ke jendela dan menutup tirai. Ia hampiri ranjang, mengecup belakang kepala Marya.


"Harusnya aku pulang saja padamu waktu itu!" keluhnya. "I am so sorry, Aruhi!"


Belakangan ia suka memanggil nama Aruhi. Merasa sangat mencintai nama itu dan gadis bernama Aruhi. Elgio kembali ke ruang tamu, hempaskan tubuhnya ke sofa, terlihat kacau. Istrinya bisa jadi target. Pengasuhnya bahkan telah jadi target.


"Ada perkelahian malam itu, aku menembak seseorang di kaki juga di lengan, tetapi untuk lumpuhkannya. Aku tak membunuhnya, aku hanya selamatkan seorang wanita dari todongan pistol. Wanita itu ternyata Irish Bella. Aku juga lindungi diriku sendiri!"


Yang ada di dalam ruangan kecuali Abner Luiz saling pandang.


"Dua peluru," guman si petugas pada temannya."Tetapi, ada 5 peluru di temukan di tubuh Fernando, cukup untuk buat Hedgar marah dan menuntut balas pada Anda!"


Mafia terkenal akan persaudaraan yang kuat dan rasa kekeluargaan yang tinggi. Irish mengganggu banyak mafia dan entah kartel mana yang mengejar Irishak, Elgio tak tahu. Ia juga tak menduga akan terlibat dengan Irishak Bella malam itu.


"Anggap saja ini konspirasi. Beberapa orang tak sukai Fernando dan kambing hitamkan diri Anda. Tetapi kita tak bisa menangkap mereka dengan mudah. Anda tak bisa salah melangkah sebab ranjau ada di mana-mana, Tuan!"


Rekaman berlanjut. Luna memakai kembali blazer hitamnya dan name tag.


"Inilah alasan mengapa kita yakin name tag nya di tukar."


Sang detektif tunjukan dua foto yang telah di kolase. Sebelum tersiram kopi dan sesudah. Name tag sebelum tersiram kopi lebih panjang 5 centi, tetapi setelah terkena kopi, kalung name tag Luna jadi lebih pendek. Luna sadari itu, terlihat coba panjangkan tali tapi pemutar pada name tag rusak atau lebih tepatnya disetel sesuai keinginan si office boy.


Office boy pergi dari sana. Menjelang siang Maribella datang. Pergi ke ruangan Abner sambil menenteng kantung makanan. Tak berselang Luna dekati pintu, mengetuk dan menunggu. Kemudian ia membuka pintu setelah dapat jawaban dari Abner, ragu-ragu, bicara sesuatu. Terlihat hendak menutup pintu dan pergi.


"Maribella menahan Luna untuk tinggal," jelas Abner. "Mereka saling bicara dan minta maaf lalu Maribella berikan kantung makanan."


"Ya, ini lanjutannya."


Luna keluar dari kantor dengan berkas di tangan kembali ke kabinet menaruh berkas, meraih kotak bekal yang sempat di taruh meja dan pergi ke lift. Tak ada gerakan mencurigakan dalam lift, beberapa karyawan terlihat.


"Ruang makan kafetaria. Si office boy bersih-bersih meja." Cursor laptop terarah ke office boy yang mengelap meja tampak seperti sedang bekerja sungguh-sungguh. Ia bahkan abaikan Luna.


Luna terlihat berdiri di depan pintu lift mencari-cari. Salah seorang rekannya melambai. Si office boy di dekat sana, bersihkan meja dekat meja yang akan Luna datangi. Ia menarik kursi sedikit jauh dari meja dan bersihkan kursinya. Kembalikan kursi ke posisi. Teman Luna minta bersihkan juga kursi yang akan Luna duduki sebab terlihat sedikit basah.


Luna melangkah dengan gembira, tanpa curiga. Teman-temannya menunggu. Ia menarik bangku dan duduk. Kotak makan dibuka. Luna sedikit mengatur posisi duduk.


"This is the peak of this case. Name tag, jatuh tepat di atas makanan. Tombol dipencet dari jarak 20 atau 30 langkah. Bagian bawah name tag terbuka dan bubuk sianida jatuh saat dihentak. Tak banyak taburan sebab Luna tak begitu lama mengatur posisi duduknya. Jika ia lebih lama bergerak, ia mungkin mati hari itu." Detektif jelaskan masalah mereka.


"Weird genius (jenius parah) ...."


"Ini pekerjaan seorang agen rahasia."


"Atau penjahat level tinggi!"


Luna mulai makan, satu suap ketika ia berhenti dan seperti katakan pada temannya; makanan ini aneh. Minum air. Suapan kedua, mengunyah lalu pegangi perut dan leher. Mulai keracunan, menggelepar di tempat duduk. Teman-temannya panik, mendekat. Seseorang lepaskan blazer juga name tag. Hiruk-pikuk. Beberapa orang menelpon.


"Where is name tag?"


"Kembali ditukar. Sebab saat dibawa pihak penyidik, name tag-nya bersih. Pengatur scroll tali-nya berfungsi baik."


"Masalah selesai bagi mereka, Abner Luiz terseret, perusahaan Anda terseret. Luna tak sadar kalau ia dijadikan umpan. Jadi, Anda berdua sedang diawasi sejak Anda datang ke kantor sampai Anda kembali pulang. Bahkan ponsel Anda disadap."


Elgio mengelus keningnya.


"Bagaimana cara menangkap mereka?"


"Silahkan periksa spam email Anda, Tuan Elgio. Aku yakin Hedgar akan mengirim pesan pada Anda. Kalian akan bicara dan selesaikan masalah tanpa libatkan polisi atau para agen. Itu aturan main saat berurusan dengan para mafia."


"Hedgar pasti akan hubungi Anda dan kita akan lihat apa maunya," ujar salah seorang di antara mereka.


"Hedgar menghubungiku, Elgio Durante. Minta bertemu!" kata Abner Luiz. "Kemungkinan besar, ia inginkan sisipan paketnya dalam paket kita yang akan diekspor ke Asia."


"Tango, berhasil dapatkan sipir penjara atas bantuan informasi sebuah akun anonim bernama "Daredevil" dan dapatkan bukti rekaman percakapan perintah menyiksa Maribella di penjara!" ujar Abner samarkan identitas Hellton Pascalito.


"Luna tak terlibat, Tuan Abner," kata detektif. "Pengacara Luna butuh pengakuan Maribella agar ia dapatkan banyak uang dari keluarga Luna. Kasus ini tak sesederhana yang terlihat."


Marya tak tidur tetapi diam-diam menguping dan menyimak percakapan di ruang tamu. Lalu, apa hubungan Elgio dan Luna?


"Anda bisa laporkan pada Lembaga Koreksi Negara untuk mulai investigasi dalam penjara. Biasanya mereka akan bekerja bersama agen-agen federal untuk mulai penyelidikan," saran pengacara yang membantu Abner dan Elgio. "Nona Maribella Williams bisa buat laporan dan para penyerang akan dapatkan hukuman."


Marya mendesis, hukuman seperti apa? Para psikopat itu bolak-balik masuk penjara dan tak kapok-kapok. Marya tak ingin berikan rekaman pada Tuan Abner, tidak saat ini.


"Aku akan urus si pengacara! Kita hanya perlu mengirim bukti pada Organisasi Advokat dan ia bisa dipecat dari keanggotaan profesi. Itu lebih mematikan ketimbang ditembak mati." Pengacara bicara lagi, berikan solusi untuk karir akhir si pengacara kotor. "Ditambah banyak bukti yang kita dapat, ia akan segera tamat."


"Bagaimana dengan Luna? Apakah Luna salah satu anggota dari sindikat kejahatan ini? Mereka mengirim Luna untuk perangkap?" tanya Elgio sebab ia harus putuskan nasib Luna. Tak bisa pecat Luna tanpa alasan yang jelas. Jika Luna terlibat jelas akan dengan mudah menendangnya keluar dari perusahaan. Luna sangat profesional dan berdedikasi, smart dan jenius, ternyata untuk tujuan penghancuran. Gadis itu cocok untuk jadi mata-mata.


"Elgio ... " panggil Abner melihat pada Elgio. Menarik napas panjang dan kuat. "Seseorang mengirim Luna kemari."


"Ya, Abner?! Kau terus katakan itu di telepon. Seseorang mengirim Luna. Siapa? Aku bertanya sedari tadi tentang Luna, siapa yang mengirim Luna? Jika bukan Hedgar?" tanya Elgio tak mampu berpikir, mulai naik pitam.


Sedang Marya pegangi dadanya yang berdetak kencang. Mengapa mengirim Luna menggoda Tuan Abner? Paman Hellton benar, beberapa orang menunggangi satu kuda untuk membasmi karakter suaminya dan Tuan Abner Luiz.


"Luna dikirim untuk menggodaku dan menyingkirkanku dari sisimu!" sahut Abner. "Kebetulan yang bagus bagi Hedgar menumpang pada Luna dan guncangkan bisnis kita oleh dendam."


"Siapa yang mengirim Luna?"


"Ibumu."


"Ibuku? Aku tak punya Ibu. Ibuku adalah kau, Abner Luiz."


"Luna Hugo, adik tirimu, Elgio Durante."


***


Wait me up ....


Maaf, tak ada Reinha dan Lucky sebab kejadian yang menimpa Elgio terjadi saat


Reinha di Pesisir Timur untuk mencari Lucky.


Aku akan ajak kalian jadi Reinha Durante. Tapi nanti! Jamin dikau menggelepar pada Lucky Luciano.


Wait me up.... Aku cintai komentarmu, Readers.