Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 102 Terbang Ke Nirwana ....



"Enya ...."


Lucky berdiri di depan pintu masuk kamar Reinha. Bertanya dalam hati mengapa ada perasaan canggung masuk dalam kamar gadis yang telah resmi jadi istrinya?


Hari menjelang malam, suasana diluar tenang dan hening. Musik telah berhenti sejak siang, orang-orang telah pergi. Elgio Durante berhasil jadi penjamin untuk Lucky Luciano meski setelah berdebat panjang dan alot dengan pihak penyidik sebelum pergi ke Paviliun Diomanta bersama Marya untuk lihat keadaan Nyonya Salsa dan ia terjebak kini di tengah mantan mafia. Bisnis Elgio Durante mungkin akan terdampak, tetapi, Elgio bersih keras akan lakukan apa yang ia bisa untuk penangguhan penahanan Lucky Luciano juga Diomanta tanpa korbankan Durante Land dan ribuan karyawannya. Pria jujur Durante Land yang dulunya gencar mengejar mereka tak disangka jadi pelindung mereka saat ini. Dunia yang aneh dan konyol.


Dream Fashion dan Double L bahkan ikut dicurigai dan disorot, mungkin akan juga diperiksa pajak dan segala macam. Reinha harus mengambil langkah untuk atasi krisis yang timbul akibat masalah yang mereka hadapi. Beruntung Francis cekatan memegang kendali untuk Double L. Lucky Luciano tampak tak begitu peduli soal pemeriksaan pada Double L berkat Francis, juga oleh sebab Outlet Factory itu mengikuti prosedur yang benar dan tidak dibangun dari hasil pencucian uang atau penggelapan pajak. Intinya ia tak bangun Double L dari uang haram.


Reinha menghapus make up di wajah menoleh pada Lucky Luciano yang berdiri ragu diambang pintu.


"Lucky?!"


"Aku akan pulang," kata pria itu.


Reinha berhenti bergerak. "Bisakah tutup pintunya? Bantu aku melepas hiasan rambut juga tali pengikat gaun ini? Emm, kurasa aku terlalu bersemangat hingga menaruh terlalu banyak gel rambut. Mutiara terjebak di dalam rambut dan aku menunggumu untuk lepaskan ini dariku."


Nada suara Reinha terdengar biasa saja atau sang kekasih berusaha untuk sembunyikan sedih, abaikan perkataan Lucky. Pria itu mendekat, lepaskan jas hitam sisakan vest, kemeja putih, dasi masih terpasang lalu sampirkan jas di atas kursi rias sang gadis kemudian memeriksa rambut kekasihnya. Kamar Reinha tanpa hiasan spesial tetapi aroma Jasmine begitu kental, aroma khas gadis itu.


"Kurasa kau butuh sesuatu agar rambutnya tidak kaku," ujar Lucky menempel di belakang gadis itu. "Virgin oil, mungkin?"


"Baiklah," sahut Reinha pendek.


Mereka bercakap dengan kaku dan kikuk.


"Maaf menyeretmu dan keluargamu ke dalam masalahku!" Lucky tuangkan sedikit minyak murni pada telapak tangannya lalu mengusap pelan ke rambut Reinha, sedikit memijat, coba cari celah untuk lepaskan untaian mutiara hair band yang terjebak di rambut kekasihnya. Wewangian Reinha langsung menyerang pusat emosional otak Lucky Luciano tanpa ampun, hingga rasanya aroma itu merangsang ingatan dan sanggar hati. Ia merasa rileks saat menghirup aroma Jasmine Reinha seakan mendapat tambahan energi. Sesuatu bernama gairah ikutan menggelitik sarafnya.


"Tetaplah di sini, Lucky. Aku tak akan melihatmu lagi lusa dan mungkin untuk waktu yang lama. Tolong jangan pergi!"


Reinha akhirnya tak tahan, separuh memelas setelah lihat pantulan kekasihnya di cermin. Gadis itu berbalik pada Lucky Luciano sekonyong-konyong memeluk pria itu erat.


"Baiklah," angguk Lucky pendek. Jika ia bicara banyak Reinha mungkin akan menangis. Lucky memeluk Reinha oleh rasa bersalah mendalam.


"Maukah pergi ke pondokan denganku? Queena telah menghiasi tempat itu untuk kita habisi malam bersama. Kita hanya akan berdansa sampai pagi."


"Begitukah?" Reinha mengangguk antusias. "Baiklah."


Reinha mengambil jas Lucky dan mereka keluar. Naik mobil, pergi ke pondokan. Mungkin mereka bisa mengusir sedih sambil mengobrol. Benar saja, mood buruk Reinha perlahan berubah lihat pondokan temaram dengan banyak lampion, lilin-lilin dan tiang bunga vintage yang indah. Api unggun menyala di tempat biasa. Lucky menggiring Reinha turun dari mobil dan menggendong kekasihnya itu pergi ke pondokan. Serambi dipenuhi bunga-bunga mawar, jutaan kelopak mawar.


"So cool, apa aku bisa tiduran di atas kelopak bunga?" tanya Reinha berseri walau masih sedikit suram.


"Ada kejutan menantimu di dalam, Enya!"


Aroma mawar sungguh menggugah selera. Lucky mendorong pintu pondokan, biarkan terbuka dan Reinha yang penasaran melongok ke dalamnya; tak kalah mencengangkan. Mawar rambat tertempel di seluruh ruangan seperti box berisi mawar dan sofanya telah lenyap berganti bed ukuran dua orang. Ada laptop dan layar tancap. Mereka mungkin akan menonton film sampai pagi.


Lucky menggendong Reinha ke atas pangkuannya dan duduk di kursi yang ada di depan pondokan.


Sisa-sisa make up masih tersisa di wajah sang kekasih yang kuning keemasan. Sepertinya diam-diam Reinha menangis, tampak dari mata yang kemerah-merahan. Mungkin memikirkan, berapa lama Lucky akan mendekam di penjara? Berapa lama mereka akan tersiksa karena saling merindu?


"Jangan bersedih Enya, aku akan kembali dan hidup dengan terhormat di sisimu."


Mata mereka bertemu, luka dan sedih kembali dengan cepat. Reinha longgarkan dasi dan menarik lepas. Gadis itu menutup mata Lucky, buat simpul di belakang kepala pria itu, sisakan semburat senyuman getir di sisi cekungan lesung pipi di atas rahang kokoh yang memikat. Orang bicara tentang pernikahan yang indah, itu tak terjadi pada mereka, untuk saat ini, pikir Reinha kelabu tetapi mereka masih miliki hari istimewa ini. Reinha pergi ke bibir pria itu mengecupnya pelan lalu menelusuri, seakan mengukir wajah kekasihnya di ingatan untuk disimpan dalam kenangan. Jemarinya menyusuri rahang bergerak turun ke rompi dan lepaskan kancing pengait vest, sisakan kemeja. Mungkin ini yang Elgio maksudkan, saat kau takut kehilangan seseorang, kau akan terjebak dalam hasrat ingin memiliki. Kakaknya benar, dan saat itu terjadi, sepasang kekasih memang akan kehilangan kontrol diri mereka. Reinha membuka kancing kemeja Lucky Luciano satu-persatu.


"Enya ...."


"Sssshhh ...." Bibirnya menyentuh Lucky lembut, sekali lagi. Tangannya bergerak di dada sang kekasih saat kemeja itu terlepas. Cinta mengikat mereka, detak jantung Lucky Luciano menari di telapak tangannya. Ia jelajahi lekukan padat dan menggiurkan sementara Lucky berhenti bernapas, tercekat di rongga tenggorokan. Lucky sendiri temukan dirinya menegang kaku. Em, ada apa dengannya? Ia playboy sejati dulunya, menaklukan wanita dan menyeret mereka ke atas ranjang adalah keahliannya. Tetapi kini saat Reinha menutup matanya dan mulai berburu, ia jadi gugup juga grogi, seakan ini pertama kali ia bersama seorang wanita. Otaknya mendadak gelap gulita.


Tak pedulikan Lucky, Reinha bergerak makin intens. Betapa pria ini digilai wanita hampir satu kota, apakah alasannya karena tubuh indah yang memukau ini? Yang kini telah jadi miliknya? Perut kotak-kotaknya yang bergaris tegas terpampang sangat indah.


Indera peraba Lucky Luciano tanggapi sinyal sentuhan itu sebagai sesuatu yang erotis dan sensual saat Reinha berjinjit di atas otot, ikuti alur urat-urat tangan yang mencuat dibalik kulit kecokelatan. Kuduknya berdiri oleh dingin angin malam juga jemari lembut kekasih yang mematikan akal.


"Enya ...." Susah payah meneguk cairan di tenggorokan yang tiba-tiba menguap.


"Saat kau pergi dan tak terlihat oleh mataku, aku akan merasa tak lengkap. Jangan katakan apapun!" bujuk gadis yang sekarat oleh sedih itu. Mereka akan bersama dalam 24 jam lalu berpisah. Sedang tak melihatnya dalam beberapa hari, Reinha merasa akan menggila.


"Aku akan menebus dosa dan kembali padamu, aku tak kemana-mana. Jika beruntung aku dibebaskan oleh pemerintah dengan banyak syarat."


"Hidup mengikatku denganmu Lucky, aku akan menunggumu. Jangan coba-coba keluar dari penjara dan berkeluyuran. Jangan cari gara-gara, aku akan berkunjung tiap Sabtu. Awas saja kalau kau tak ada di sana nanti!"


Lucky tersenyum di antara desah napas dengar celotehan penuh ancaman Reinha. "Kapan kau akan ikut olimpiade?"


"Sebulan lagi," kata Reinha galau. Ia berharap pergi ke Ibukota dengan Lucky. Ia akan sendirian nanti.


"Jadi, apakah kau akan lepaskan kemejaku dan biarkan aku kedinginan?"


"Tidak," sahutnya kembali daratkan ciuman menggoda.


"Kita mungkin akan melanggar janji pranikah, Elgio akan dengan senang hati biarkan aku membusuk di penjara."


"Maka aku akan bersamamu," sahut Reinha lupakan soal Olimpiade. Ia pergi ke leher Lucky Luciano yang mati kutu dan menyentuh pria itu. Satu gerakan cukup kirimkan tanda bahwa mereka akan segera berkelana.


Jemari Reinha di punggung Lucky, menggoda belikat, menarik Lucky lebih dekat, pergi ke balik telinga, bermain-main di tengkuk prianya hingga Lucky mendesah frustasi. Reinha tersenyum senang saat pria itu gelisah. Tangannya bergerak seksi turuni lengan dan pergi ke dadanya. Satu ciuman adalah hal paling nyata dan sederhana untuk aktifkan gelora Lucky Luciano. Wajah tampannya sungguh mempesona saat ia pasang indera pendengaran dan peraba seksama untuk merespon Reinha. Bibirnya separuh basah.


"Enya, jangan lakukan ini padaku!" bisik Lucky Luciano kalang kabut, lepaskan penutup mata, tetapi tak ingin Reinha berhenti. Ia menggendong Reinha masuk ke dalam pondokan. Menendang pintu hingga tertutup keras lalu pergi ke ranjang dengan Reinha di pangkuannya. Kedua tangan pergi ke belakang punggung sang gadis, coba lepaskan tali pengikat gaun, susah payah karena harus meraba-raba dan karena Reinha telah lumpuhkan fokus. Pikiran buntu saat ia lingkari tengkuk Reinha dan mulai mencumbu istrinya dengan dahsyat. Bibir-bibir terkulum lalu berpagutan. Reinha menyukai sorot mata pria itu saat terpaku padanya segera lupa bahwa mereka tak boleh pergi terlalu jauh.


"I want you," desah gadis itu lirih dengan tatapan yang bikin Lucky Luciano meleleh dan menyerah. Lucky tak ingin tegar lagi melawan pengendalian dirinya.


Pria itu bawa Reinha berdiri, memutar tubuh Reinha untuk lepaskan tali pengikat gaun yang bersilangan di punggung gadisnya hingga melorot jatuh. Bibir bergerak di tengkuk mulus susuri tulang punggung gadis itu, membelai halus. Otaknya masih bekerja meski hatinya menjerit untuk segera berpetualang. Dalam remang- remang pondokan, ia ikuti insting meniti kulit halus hingga sang gadis bernapas cepat dan kuat.


"Kekasihku sangat indah," bisik Lucky berat lekas mabuk, menyusuri rahang feminim lembut yang getarkan sukma.


Apakah ini waktunya ia akan ajari Reinha bercinta? Otak dan hatinya masih berdebat antara iya dan tidak. Tapi tubuhnya telah terhasut. Lucky tidak pernah tidur dengan seorang gadis yang masih suci. Ia hanya menebar teror pada Elgio tentang menyeret anak perawan Durante, tak disangka ucapan tololnya waktu itu akan benaran terjadi. Ia bingung bagaimana harus perlakukan Reinha, takut menyakiti gadis itu.


Dunia berjalan lambat saat kekasihnya berbaring pasrah, berkilau dalam kepolosan. Bibir kekasih yang merebak adalah ayat-ayat prosa yang butuh dirangkai oleh bibirnya sendiri. Tiap lekukan semacam satu bait prosa yang kehilangan kata butuh disempurnakan dan dilafalkan dengan penghayatan tinggi.


Memeluk naluri, Lucky akhirnya menuntun Reinha untuk beriringan dalam hasrat, perlahan tapaki satu-pesatu tangga asmara yang bergelora, merengkuh Reinha untuk meneguk cangkir-cangkir kenikmatan. Mereka mulai tersulut api asmara. Rangkulan mesra, ciuman panas, kata-kata bujuk rayu penuh godaan, isyaratkan mereka sedang bentangkan layar, dan bersiap melintasi samudera biru. Tanpa kata hanya lenguhan demi lenguhan terbang beruntun dari bibir ekspresikan cinta lewat gairah sensual yang tidak terlupakan.


Tak menunggu lama saat tuntutan mendorong raga berpadu, tidak tergesa-gesa. Kekasih menggigit bahunya kuat tak mampu menjerit. Lucky membujuknya dengan pagutan sebelum benar-benar menyelam lebih dalam. Ia merayu kekasihnya dengan kecupan pada mata terpejam dibalik bulu mata lentik yang memesona. Desahan dan erangan terekam di telinga, Lucky semakin tenggelam pada cengkeraman keindahan tanpa batas. Tangan kekasih membelit leher, terjerumus hasrat lalu berubah jadi cakar-cakar liar yang tertancap pada kulit di tubuh padat kecokelatan, bergelayut pada tubuhnya yang perkasa, membuatnya merinding gila. Sang gadis meracau namanya berulang kali sebab tak punya kata untuk diungkapkan, persembahkan kemurnian sejati sebagai hadiah pernikahan yang manis. Tak menyangka akan berlabuh pada Lucky Luciano.


Sedang sang badboy yang bertobat hanyut dalam tubuh kekasih yang selembut sutera. Kepala terkulai di leher jenjang oleh hasrat membuncah, mengerang di tulang-tulang selangka yang indah. Jalur-jalur kenikmatan dijalin berdesakan hingga ke ujung bulu roma.


Hembusan napas kekasih juga rintihannya, memintal gairah hingga memuncak dalam tetesan keringat dan aliran yang berdesir di balik pembuluh darah.


"Akh, Enya ...."


Mereka terbang ke nirwana, rayakan keagungan cinta.


***


Sementara Francis setelah terpaku pada box bayi, tanpa ingin tahu keadaan September, hendak pulang ke rumah sebab hari telah malam. Meski sangat sibuk, ia selalu mengunjungi si bayi. Awalnya ingin bayi itu mati, lama-kelamaan ia berharap bayi itu baik-baik saja. Ia harus cepat pulang dan bersiap-siap dengan banyak berkas Double L. Asisten Lucky Luciano itu pergi ke parkiran basement rumah sakit dan masuk ke mobilnya tanpa curiga, hidupkan mesin dan bergerak keluar dari parkiran rumah sakit. Ia memukul setir keras akibat kesal dan marah. Bosnya akan di penjara dan Lucky Luciano kokoh pada pendirian bahwa Francis tidak terlibat.


"Kau terlihat depresi, Francis!" tegur seseorang dari belakang berikut moncong pistol bersarang di lehernya. Mobilnya oleng sebab pria itu lumayan terkejut.


"Septie?" sapa Francis datar setelah kendalikan dirinya, tanpa ekspresi wajah. "Kau di sini? Sepertinya kau tak bisa hidup tanpaku. Apa kau merindukan aku?" tanya Francis sunggingkan senyum kejamnya.


"Jangan banyak tingkah, Francis! Bawa aku pada Reinha Durante sekarang!" balas Septie tidak kalah dingin.


"Apa yang terjadi? Kau ingin serahkan bayinya pada Nona Reinha?"


Pistol semakin rapat di leher Francis berikut suara geraman.


"Bawa saja aku, keparat kau!"


"Mereka mungkin lagi lakukan ritual malam pertama," ujar Francis panas-panasi September. "Kau tahu, Lucky Luciano sangat mencintai Reinha Durante. Aku bersama Lucky Luciano bertahun-tahun dan temukan kenyataan bahwa hanya Reinha Durante yang bisa bangkitkan gairah serta cinta tetapi bisa sekaligus meredam pria itu."


"Diamlah, aku bisa menembak!" ancam Septie.


"Ya, aku tak ragukan itu," ejek Francis. "Kita ke sana sekarang!" Francis mengebut di jalanan dengan kecepatan tinggi membawa September ke pondokan. Bos pasti di sana sebab Nona Queena membuat persiapan yang sangat romantis untuk malam pertama bosnya meski itu berarti melanggar janji pranikah.


Mereka sampai di pondokan.


"Kita sudah sampai, Septie. Kau bisa turun!"


Dari spion mobil, Francis amati September. Wanita itu diketahui menderita baby blues sindrom yang biasa menyerang wanita yang baru habis melahirkan, hingga bertingkah cari perhatian. September turun dari mobil, acungkan senjata pada Francis dan anggukan kepala menyuruh Francis turun. Mendesah jengkel, Francis ikuti keinginan September.


"Kau bisa lihatkan?" Francis seperti menang door prize. Di beranda pondokan Bosnya bersama sang istri, berciuman sangat dalam dan penuh gairah. Si bos tanpa atasan dan dengan mata tertutup dasi.


"Pemandangan yang indah. Saling ******* lidah. Bos tak pernah begitu bersama wanita lain. Ia tak suka bergerilya di dalam bibir para wanita karena takut kuman. Kau pasti tahulah. Kau pernah bersamanya. Kau tahu Septie, mereka pernah begitu sebelumnya di suatu waktu. Pasrah satu sama lain," ungkap Francis tak peduli pada raut murka September dan tak takut September menembaknya. Bos Lucky menggendong kekasihnya ke dalam pondokan. Bisa ditebak kelanjutannya. September meradang cepat bergerak ke arah pondokan tetapi Francis dengan sigap meraih tangan wanita itu, menariknya dan menguncinya di mobil.


"Kau tak akan ganggu mereka, September! Kau terobsesi pada Bos Lucky! Hanya karena kau lahirkan bayinya bukan berarti kau paksakan cintanya. Kau tak waras," desis Francis dingin. Ia menahan tangan-tangan September di sisi mobil hingga wanita itu tak bisa bergerak.


"Kau keparat sialan, aku ingin kau mati!" jerit September marah. Francis coba bersabar.


"Aku akan bawa kau pulang!" kata Francis tegas.


"Tidak, aku akan bertemu Reinha Durante!"


"Kau tahu, aku sangat tidak sabaran hadapi tingkahmu, Septie. Kau menjijikan!" kata pria itu menghina.


Francis merebut senjata dari tangan Septie dan lemparkan ke dalam mobil. Ia memanggul Septie ke dermaga.


"Apa yang kau lakukan?"


"Membunuhmu!"


Tanpa basa-basi, Francis melompat bersama wanita itu ke danau. Ia lepaskan pegangannya di sana biarkan September terombang-ambing di air danau. Wanita itu terlihat masih lemah habis melahirkan. Salahnya sendiri cari gara-gara.


"Harusnya aku menembakmu tadi!" jerit September.


"Kau tak bisa menembak, dan aku akan memotong tangan orang yang memberimu senjata. Nah, rendamlah otakmu di dalam air dan jadilah waras, September!"


***


Susah nulis chapter ini, serius. Sebab harus hindari kata-kata dan kalimat yang dipakai di chapter 83 untuk Elgio dan Marya.


Aku mencintaimu. Cintai saja aku dengan Vote tiap Senin.


Rimagazi (Membungkuk)....