
"Enya ...."
Pondokan tenang. Derauan jari-jari pepohonan pinus terkecup bayu malam, gulungan ombak danau dan suara binatang malam belakang pondokan, menyatu sebagai simponi sabda alam yang syahdu. Mereka seperti bersenandung, berlagu cinta untuk dirinya dan seorang gadis perawan bernama Reinha Durante, yang terkulai di atas bantal dengan surai cokelat terbentang menakjubkan.
Lucky memilih tak tidur hanya tengkurap di atas pembaringan, menopang dagu di atas bantal dan menonton Reinha terlelap dalam mimpi damai. Ia mengatur selimut hingga tutupi leher kekasihnya dan singkirkan helaian rambut dari kening di wajah keemasan yang sangat rupawan itu.
"Enya ...."
Entah berapa banyak kali ia menyebut nama terindah baginya itu. Mereka barusan lintasi waktu manis ketika ayunan-ayunan tubuh rapatkan jarak, terhimpit gairah dan cinta. Keindahan yang lambungkan jiwa raga, ketika tubuh padatnya bertemu tubuh lembut Reinha. Lucky mengecup punggung tangan Reinha penuh kasih sayang. Ia akan rindukan momen ini, saat ia pergi ke balik sel, terbaring di dinginnya lantai penjara, mengenang Reinha dan mengerang dalam rindu. Apa jadinya nanti? Kekasihnya akan bersedih di minggu-minggu awal perpisahan mereka. Setelah itu, Lucky berharap Reinha hanya sibuk belajar.
"Kau tidak tidur?" tanya Reinha serak, mendadak bangun. "Bisakah kau memelukku erat, Lucky? Jangan coba-coba pergi saat aku sedang tidur!" celotehnya di antara kantuk, tidak ingin buka mata. Tangan sang gadis menggapai-gapai berusaha meraih padanya. Lucky genggam tangan Reinha kuat dan bergerak ke sisi gadis itu, dekap, berikan kehangatan. Ia melanggar janji pranikah untuk tak menyentuh Reinha. Gerakan Reinha di lengan buatnya bergidik.
"Kita melanggar janji pranikah, Enya!"
"Aku tak peduli," sahut si gadis berpindah, pergi ke dadanya. "Aku menginginkanmu. Sangat menginginkanmu nyaris gila." Perkataan Reinha terdengar lazim dan wajar.
"Enya ...."
"Kau tahu, aku yakin tak akan ada wanita dari masa lalumu yang berani macam-macam denganku kini." Teringat ia diculik oleh Valerie dan hampir hilang kesucian, lalu diculik Seoza lagi-lagi karena kesuciannya. Sekarang ia milik Lucky Luciano dan ia akan menembaki setiap wanita yang berani cari masalah dengannya. I
"Kau tidak tidur?"
"Aku tak mengantuk," sahut Lucky, tempelkan tangan Reinha di dadanya lalu menjalin jari-jari lentik sang gadis. Cincin pernikahan mereka berkilau di bawah lampu kamar.
"Bagaimana kalau kita duduk di beranda dan nikmati malam? Siapa tahu kita beruntung melihat milky way, Lucky? Kita bisa minum wine dan makan sesuatu," tawar Reinha.
"Baiklah," sahut Lucky tetapi tak ingin bangkit dari ranjang. Ia mendekap Reinha lebih kuat, mengecup puncak kepala gadis itu.
"Aku tak pernah menyangka suamiku akan ditangkap setelah dua hari pernikahan. Sama sekali tak menduga akan terjebak pada pesonamu dan jatuh cinta padamu."
"Seandainya kita bertemu lebih awal dan aku bukan penjahat, kita mungkin akan honey moon ke suatu tempat."
"It's okay. Kita lewati banyak kenangan indah. Kupikir itu lebih dari cukup, Lucky. Tak boleh ada bayi seperti instruksi Tuan Abner."
"Kenangan mana yang paling indah?"
"Banyak, berciuman di balik batu, ku rasa yang paling berkesan. Bisakah kita lakukan lagi nanti? Aku ingin menang dari Francis."
"Sangat sulit, Enya. Bahkan Francis lebih fokus dariku."
"Jika suatu waktu ia temukan cinta, mungkin saja ia akan kehilangan fokus."
"Francis tidak pernah terlihat tertarik pada wanita. Atau ia belum temukan wanita yang tepat."
"Mungkin kita akan berperang dengan Francis dan kekasihnya, nanti. Aku berharap ia tak sungguh-sungguh menikahi September."
Lucky tersenyum kecut, mengecup jemari gadis itu sementara Reinha makin merapat padanya. Ia bisa rasakan kesedihan Reinha karena waktu mereka yang sangat sedikit.
"Jangan bersedih, mari nikmati malam ini." Menarik Reinha bangkit dari ranjang. Lucky turun dan memungut pakaiannya.
Siluet pria itu tanpa pakaian benar-benar bikin Reinha bergetar. Tak heran ia sangat dipuja kaum hawa terlebih wanita-wanita dewasa.
"Apa kau pernah berkencan dengan gadis remaja sebelumnya?"
"Tidak," jawab Lucky. "Aku tak suka gadis remaja. Aku hanya pergi dengan wanita dewasa tetapi tak pernah ada yang bisa buatku jatuh cinta. Saat aku melihatmu di podium, aku menyesal sebab tak mengenalmu lebih cepat padahal Claire sering bercerita tentangmu."
"Begitukah?"
"Ummm ...."
"Aku penasaran, apa yang Claire katakan tentangku."
"Seorang gadis tercantik, paling popular, cerdas dan idola satu sekolah. Aku tak tertarik, karena kau hanya seorang anak-anak, seorang gadis seumuran Claire."
"Mengapa kau berkelahi dengan Kakakku waktu itu?"
Lucky berbalik, kembali ke ranjang, duduk di pinggir. Ia membelai rambut Reinha, mengelus kening, turun ke hidung dan berakhir dengan mengusap bibir Reinha.
"Aku mengusik Elgio. Kukatakan aku ingin tahu rasanya menyeret adiknya yang perawan pergi ke ranjang. Elgio sangat murka saat itu, kini aku tahu alasannya. Ia punya seorang adik luar biasa," jawab Lucky berat menerawangi raut feminim Reinha.
"Sudah kuduga."
"Aku menginginkanmu sejak itu, Enya. Saat kau menggigitku di rumahku, saat itu aku benar-benar jatuh cinta padamu. Tak pernah ada wanita seekstrim dirimu. Meski begitu, aku tak ingin mengejarmu. Elgio memburu aktivitas kami, ia punya banyak berkas kejahatan kami. Aku tak berani ambil resiko dengan dekati adik perempuannya. Aku tak percaya kita bertemu di The Windows. Jadi, aku rasa kau memang milikku oleh takdir."
"Saat kita bertemu di The Windows, itu hari pertama aku bekerja di sana."
"Kau memang takdirku. Seorang malaikat untuk pendosa sepertiku."
Reinha bangun dari tidur, menahan selimut di dada dan sedikit meringis saat paha-pahanya mengejang kaku.
"Kurasa, aku tak bisa pergi ke beranda. Apa kau ingin makan sesuatu?"
Mereka tak makan sejak siang oleh gundah gulana dan belakangan Reinha menyukai masakan Queena. Lucky selesai dengan kemejanya.
"Bagian belakang Gaunmu terlalu ribet untuk pria sepertiku," keluh Lucky. Pria itu melilit tubuh Reinha dengan selimut dan membawa kekasihnya ke teras pondok. "Tunggu aku, Enya!"
Ia pergi ke dapur mengambil white wine berasa fruity kental dan daging sapi muda panggang beraroma lezat, membawanya keluar sedang Reinha bersandar di tiang pendopo tenda nikmati malam, tak lagi mengantuk. Hari yang berat menunggu.
Mereka makan dan wajah kekasih yang bersemu merah saat ditatap tak henti-henti bikin Lucky berdecak. Hatinya mencintai Reinha hingga mati rasa. Bintang berpijar di atas sana dan irama alam masih sama. Sebotol wine berdua cukup untuk buat tubuh rileks, sedikit mabuk dan oleng. Lucky membawa kekasihnya kembali ke ranjang sebab Reinha kekenyangan dan mulai mengantuk. Ia ingin waktu berhenti dan segala keinginannya berpusat pada satu hal, bersama Lucky Luciano.
"Aku akan sangat sakit saat mengingat malam ini, Lucky! Aku akan sangat cemburu pada udara yang kau hirup sebab mereka selalu bersamamu," guman Reinha pedih hati. Lucky menidurkan gadis itu.
"Aku akan datang padamu dengan cara tak terduga, Enya. Sampai waktu itu tiba, tunggu aku!"
Begitulah malam itu berlalu, sementara jarum jam berdetak, berputar perlahan siap untuk menjemput kekasihnya. Lengan Reinha melingkar di leher Lucky posesif berharap satu keajaiban datang meski itu mustahil terjadi.
***
Elgio berbaring di sisi Marya yang tak mampu sembunyikan kesedihan. Kekasihnya itu hanya diam seribu bahasa. Suasana hati Marya memburuk dan pikiran bahwa, Irish Bella pasti sedang tertawakan kondisinya saat ini, perburuk keadaan. Ibu terlihat tabah saat Marya berkunjung. Malah berikan penguatan tetapi kondisi Ibu perlahan menurun. Aunty Sunny sepertinya akan pergi sendiri ke penjara sedang Elgio berusaha agar Ibu jadi tahanan rumah. Marya sesumbar akan mendukung Irish, kini, meskipun Irish benar-benar bekerja untuk kebenaran; Marya membenci wanita itu. Ia tak semurni pikiran banyak orang sebab meski dunia menentang Ibunya yang penjahat, Marya tak sanggup musuhi Ibu. Dunia hanya tak tahu, keluarganya sedang melangkah menuju pemulihan diri.
"Ingin cokelat? Ice cream? Ingin sesuatu, Honey?" tanya Elgio dengan tatapan lembut. Membelai rambut kekasihnya berusaha menghibur.
Marya menggeleng lemah, terbenam makin jauh di dada Elgio. Menghirup aroma cologne, hanya itu yang bisa menolongnya.
"Trims Elgio, sudah berkorban untuk Ibuku. Aku sangat menghargainya," bisik Marya di dada suaminya.
"Hmmm, kau berkata seolah-olah aku seorang asing. Kita bersama dalam banyak kejadian buruk. Kau tahu aku tak akan pergi dari sisimu.
Tetapi aku harus bekerja keras besok, Marya. Kau tahu, aku disorot kini sebab menikahimu dan Reinha menikahi Lucky Luciano. Aku harus mengurus banyak masalah."
"Jika dunia tahu apa yang dilakukan Ibuku dulu padaku, bisa jadi mereka akan menyerangnya membabi buta, Elgio. Orang berpikir, kau menikahi Puteri mafia Queen. Kenyataannya, Ibuku telah berhenti jadi jahat saat temukan puterinya kembali."
"Jangan sedih, Marya."
"Maafkan Ibuku. Elgio, aku akan temani Ibu selama beberapa hari, bisakah?" tanya Marya ragu. Belakangan tanpa pelukan Elgio, Marya tak bisa tidur. Ia ingin terus dekat-dekat suaminya lekas cemburu bahkan jika ada yang tersenyum pada suaminya. Namun, Ibu butuh teman sebab Aunty akan segera pergi ke tahanan. Marya memijat keningnya.
"Kepalamu sakit?" tanya Elgio kuatir.
"Tidak, aku cemburu jika ada yang senyum-senyum padamu. Bukankah itu kelewatan?" keluh Marya hingga Elgio terkekeh.
"Kau manis sekali, Marya. Sangat manis. Aku akan pakai topeng mulai besok biar tak ada yang melihatku," balas Elgio mengecup kening.
"Kita akan tinggal di sini sementara waktu, jika kau ingin. Apa tak sebaiknya kita bawa Arumi kembali?"
"Kau benar, aku rasa, aku butuh panggil Arumi pulang."
"Kau dan Reinha hanya dapat ijinan dari sekolah selama dua hari. Setelah itu kalian harus giat belajar, Marya. Kalian berdua disorot saat ini sebab terseret dalam kondisi Nyonya Salsa juga Lucky Luciano."
"Baiklah, Elgio. Aku ingin tidur sebentar. Ubun-ubunku mendidih rasanya seperti dipanggang dalam oven," gerutu Marya menguap dan pejamkan mata.
Elgio usap puncak kepala Marya, perhatikan wanita yang mulai lelap. Teringat, bagaimana mereka bertemu setelah sekian lama di Broken Boulivard, hatinya berdebar -debar. Bisa-bisanya Marya sembunyi di dekatnya selama bertahun-tahun tanpa ketahuan. Raut polos dibawah naungan alis natural dan kelopak mata simetris yang sempurna, kulit lembut dan halus; ekspresi paling wajar dan jujur dari seorang Aruhi. Elgio menunduk dan mengecup bibir istrinya. Tak bosan pandangi Marya. Entah berapa lama, ia hanyut pada wajah indah Marya hingga ponselnya bergetar. Abner menelpon.
"Elgio, kita dapat masalah. Jika kau bersama Nona Marya, tolong menjauhlah!" sambut Abner.
"Huh?" Elgio pandangi Marya beri satu kecupan dan lerai pelukan, lepaskan Marya. Ia bangkit berdiri pergi ke jendela. Paviliun Diomanta benar-benar sunyi senyap.
"Ada apa lagi?" tanya Elgio pelan, mengira-ngira.
"Irish menyeret namamu sebagai salah satu saksi untuk kejahatan Familly Club'. Wanita itu bersih keras kau menyimpan banyak bukti kejahatan Diomanta dan Luciano, bisa dipakai sebagai bukti kuat dan jaksa penuntut umum akan memanggilmu sebagai saksi yang memberatkan Familly Club'."
"Ada apa dengan wanita itu? Dia mengada-ada. Aku adalah penjamin untuk Luciano juga Diomanta, sangkanya aku akan bersaksi untuk beratkan mereka?"
"Atensi publik pada kita sangat besar. Apakah kau akan lindungi mantan mafia itu atau lindungi negara dari Mafia, bantu negara berantas mafia."
"Atur pertemuanku dengan Iris, Abner!"
"Irish menolak keras. Kita akan bertemu di pengadilan! Irish lakukan sesuatu seperti yang ingin kau lakukan selama ini."
"Apa yang harus aku lakukan Abner? Aku tak mau terseret di pengadilan. Aku tidak ingin merusak reputasi perusahaan. Bisakah temukan langkah antisipatif untuk hadapi dampak dari masalah ini Abner?"
"Aku akan pelajari keadaan. Irish juga akan publikasikan skandal Lucky Luciano dan salah satu kru televisi, bernama September."
"Di mana Lucky Luciano?"
"Bersama Enya di pondokan!"
"Hubungi Francis! Asistennya itu selalu punya solusi untuk masalah yang dibuat bosnya!"
"Ya kau benar. Kau dan Lucky Luciano bisanya buat keonaran dan limpahkan masalah kalian pada orang lain untuk bereskan!" gerutu Abner.
"Abner? Apakah kita perlu berdebat sekarang?"
"Aku akan urus sekali ini kemudian biarkan aku pergi kencan dan miliki keturunan. Aku tak bisa terjebak pada kalian selamanya dan hancurkan keturunanku!"
"Kupikir kau serius dengan Nona Sunny!"
"Tidak, aku akan kencani wanita biasa-biasa saja! Bukan wanita perfeksionis," sambar Abner cepat lebih mirip mengomel. "Apakah Sunny baik-baik saja, Elgio?"
"Mengapa tak sendiri datang dan menengoknya? Aku bukan mata-matamu, Abner Luiz," jawab Elgio ketus. "Bawa Irish padaku, Abner!"
"Irish dilindungi pemerintah, Elgio. Ia mengungkapkan banyak bukti kejahatan, kau tahu banyak pihak yang geram dengan tingkah lakunya. Ia punya banyak bukti kejahatan Familly Club' juga beberapa kartel Mafia lain. ia dibawah pengawalan ketat saat ini. Lagipula, Irish menolak menemui kita!"
"Baiklah, jangan lakukan apapun, kita lihat situasinya! Hubungi Francis. Entahlah, aku harus mengurusi istriku yang sedang hamil. Aku sedang berbunga-bunga," keluh Elgio. Mengapa banyak sekali interupsi. Terpikirkan untuk membawa Marya ke suatu pedalaman terpencil, tanpa listrik tanpa sinyal ponsel. Ke tempat yang tak ada orang bisa temukan mereka berdua. Ia hanya ingin bersama kekasihnya sepanjang waktu.
"Kau berbunga-bunga tiap detik, Elgio Durante," sinis Abner dari sebelah. "Kehilangan fokus dan otakmu sudah setengah bagian lumpuh total. Kau bahkan lari dari rapat agar bisa pergi ke pelukan Nona Marya. Lakukan terus dan kita akan menuju kebangkrutan."
"Berhentilah mengomel! Temukan saja cara agar kita bisa hentikan Irish. Bawa wanita itu padaku."
"Apa kau akan bujuk dia? Jika tidak, hentikan saja! Irish akan sangat senang kau memburunya. Lagipula tak ada gunanya kini, semua bukti telah ada di meja penuntut umum. Kau bicarakan dengan Nona Marya. Aku tak ingin jadi wasit saat pecah perang."
"Situasi ini rumit," keluh Elgio. "Aku tak yakin akan bujuk Irish, aku akan terlihat mendukung kejahatan."
"Aku akan cari cara!"
Elgio matikan ponsel, menghembus napas panjang dan terperangah saat Marya menggerutu dari ranjang.
"Jangan coba-coba bertemu Irish untuk alasan apapun, Elgio! Biarkan saja wanita itu bertindak."
***
Wait me up ....