
Elgio berkubang dengan kerjaan sedang Abner pergi bertemu klien ketika Marya mengetuk pintu ruang kerja Elgio. Suasana rumah lengang seperti biasa dan Marya masih tak pergi ke sekolah.
"Masuklah!"
"Kau sibuk, Elgio?"
"Ya, ada apa?" tanya Elgio. Tangannya sibuk mengetik di atas keyboard laptop abaikan yang baru masuk. Ia akan hadiri rapat penting sore nanti dengan para karyawan untuk membahas masalah kinerja internal sebelum ulang tahun perusahaan.
"Tuan Elgio Durante, namaku Marya Corazon dan aku jurnalis dari Durante Land ingin minta waktu Anda sebentar, bisakah?" tanya Marya dengan nada suara sedikit parau dan seksi hingga Elgio mengernyit.
Pria itu menoleh untuk memeriksa pendengarannya dan langsung shock berat.
"Aku ingin merilis artikel tentang pria muda Durante Land yang sukses, tampan dan berbakat," kata Marya lagi dengan tatapan misterius yang menggoda.
"Marya?!" Elgio meneguk liur susah payah.
Bagaimana tidak? Marya kenakan salah satu kemeja putih miliknya yang biasa digunakan ke kantor, besar dan sangat kedodoran di tubuh serta biarkan tiga kancing paling atas terbuka hingga dadanya yang putih dengan jejeran tulang belulang indah terkuak dan terpampang menggiurkan. Rambut coklat digelung pamerkan leher polos jenjang dan mengundang, uuuhhh, sisakan beberapa helaian menjuntai acak, disengaja, namun perkuat daya pikat wajah, seakan memanggil dirinya bergelut di sana. Berpakaian tertutup saja, gadis itu sudah sangat menggoda dan bangkitkan hasrat, apalagi kini dengan pakaian separuh ... em ... Elgio mengatur napas yang berperang di antara serangan badai yang tiba-tiba bergelora. Apa ini?! Apa yang sedang Marya lakukan?
"Eh?! Marya?! Apa kau salah makan sesuatu?"
Riasan mata Marya sendu-mendayu, pipi merona peach, dan bibir sensual merah ditimpa lipgloss shiny dipadu eyeshadow kecoklatan nyaris gelap, dibalik kacamata bening yang melorot ke puncak hidung. Astaga, Elgio Durante sesak napas, Marya berkostum campuran layaknya gadis lugu sejati sekaligus gadis penggoda.
Marya kerjab-kerjabkan mata. Akhh, semakin buat Elgio Durante kelimpungan.
"Tidak, aku bosan belajar. Aku akan jadi reporter hari ini untuk wawancarai pria tampan Durante Land. Bolehkah?!" tanya Marya mendekat.
Pria itu berhenti bernapas, duduk dengan mimik tegang. Pupilnya bergerak awasi Marya yang bergerak jalan indah, percaya diri, tebarkan pesona feminim kaki-kaki jenjang dan telanjang. Apa yang dilakukan kekasihnya?! Lupakah dia, pengendalian diri Elgio Durante sangat buruk?
"Hei Marya, mau wawancara atau merayuku?" tanya Elgio serak makin longgarkan dasi. Ia bernapas naik-turun. Ya Tuhan, apa ini?
Notes dan pena di tangan dan tanpa basa-basi Marya duduk di pangkuan Elgio yang kikuk.
"Sejak kapan Anda menyukai bisnis Tuan Elgio Durante?" tanya Marya memutar-mutar pena dan menggigit ujung pena pelan.
"Apa kau tersambet sesuatu?" tanya Elgio masih shock pada tingkah aneh kekasihnya.
Apa ia kerasukan arwah wanita centil? Elgio menggigit bibir bawah tahan napas. Marya mengoles body cream wangi manis di sekujur tubuh, juga gunakan parfum musk beraroma sensual. Gadis itu memancing gairahnya di siang bolong?! Baiklah, kekasihnya harus pergi ke sekolah besok. Otak Marya bisa korslet jika terus-menerus terbenam di dadanya. Mungkinkah bergumul dengan detak jantungnya buat Marya hilang akal sehat?
"Jawab saja pertanyaanku, Sayang?!"
Elgio berdecak memeluk pinggang gadis itu dan mengangguk. Berusaha tidak terpancing. Marya mungkin bosan dan ingin bermain-main dengannya. Ya Tuhan, jika begini tiap hari, pekerjaannya dipastikan berantakan dan Abner akan dengan senang hati mencambuk kepalanya.
"Baiklah! Kau harus ke sekolah, besok!" bisik Elgio mengendus lengan Marya dan menggesek hidungnya di sana.
"Ceritakan padaku tentang bisnismu, Tuan dan bagaimana cara Anda mengelolanya hingga sampai sehebat ini?" tanya Marya.
Elgio menghirup aroma gadis itu lekas mabuk. Memang ada reporter lakukan pekerjaannya sambil bergelayut di pangkuan narasumbernya?
"Kau tahu kalau Durante Land diwariskan padaku dan bisnis ini awalnya dibangun oleh kakek buyutku turun temurun pada Ayahku lalu padaku."
"Ya, aku akan mencatat tahun berdiri dan bagaimana proses serta riwayat berdirinya perusahaan dari arsip keluarga. Jadi, Anda jatuh di atas tumpukan gandum, Tuan?" tanya Marya lagi sambil membuat coretan penting untuk dicatat nanti. Ia mengecup bibir Elgio sebelum pria itu menjawab. Aroma stroberi lipgloss bikin jantung Elgio ketar-ketir. Jakun pria itu naik turun akibat gairah liar yang menerpa. Apa yang dilakukan gadis ini padanya? Elgio menahan dirinya sekuat tenaga, berusaha tak terpengaruh.
"Ya, tetapi gandum bisa habis, Nona, karena terus dikonsumsi. Aku meneruskan bisnis yang sudah ada dengan cara lebih modern. Kita mengganti banyak material pabrik meski beberapa produk tradisional masih tetap dipakai, lalu ada peningkatan kualitas, marketing yang hebat. Semuanya adalah satu kesatuan, berjalan beriringan," jawab Elgio susah payah di leher gadis itu. Marya sedikit mengelak.
"Apa kau punya strategi khusus untuk penjualan?"
"Emm, aku bekerja bersama orang-orang profesional yang handal di bidangnya. Mereka lakukan pekerjaan mereka dengan baik dan sangat maksimal."
"Bagaimana dengan kehidupan pribadimu, Tuan Elgio? Apa kau punya kekasih?" tanya Marya dan bernapas hangat di leher Elgio, naik ke rahang pria itu, ikuti tulang rahang yang menegang. Gadis itu sengaja memancingnya. Tunggu sampai mereka kepergok Abner. Walinya itu mungkin akan gunakan ekor kuda sungguhan untuk mencambuk mereka berdua.
"Baiklah, kau tidak perlu menjawab. Aku akan kembali di sesi berikutnya untuk bertanya jika temukan kendala."
Marya melompat turun dan kabur sebelum Elgio sempat menyentuh bibirnya yang menggoda. Pria itu mengelus kening. Apa Marya salah minum obat?
Marya masih kembali ke ruangan kerjanya, tapi bersandar di pintu dengan satu kaki, sedang kaki lain mengetuk-ngetuk lantai, ia memeriksa tulisan, lingkari notes di tangan bacakan pertanyaan dan mencatat jawaban. Sungguh menggemaskan sekali saat berdiri seperti itu dan terlihat serius. Tak peduli bahwa prianya sekarat akibat terpesona padanya.
"Orang pasti penasaran, mengapa Anda tertarik meneruskan bisnis keluarga? Apa tidak terpikirkan untuk merintis bisnis sendiri?"
"Hei, Marya, kau serius de ... ?!"
"Jawab saja aku, Elgio!"
"Baiklah, baiklah. Kemarilah!"
"Ayolah, Elgio!"
"Bisnis warisan keluarga itu tujuannya cuma satu Marya, membangun kekayaan dan kesejahteraan untuk generasi-generasi Durante selanjutnya. Ada lagi? Tambahkan ini, bisnis ini telah banyak pekerjakan banyak orang. Kau tahu secara tidak langsung, bisnis keluarga kita membantu negara dalam mengurangi pengangguran dan memberdayakan orang lain."
"Baiklah, Sayang. I see."
Elgio tak mengerti apa yang dilakukan Marya, tetapi sepertinya gadis itu lakukan hal konyol untuk menyaingi Irish Bella.
"Elgio ... " panggil Marya kembali lagi.
"Ada apa lagi?!" Elgio menutup laptop sebab ia tak bisa kerja sedang Marya mondar-mandir di depannya dengan kemeja putih kedodoran, senteng jauh di atas lutut hingga paha-paha putih mulus terkuak, lunturkan konsentrasi kerjanya. Oh, yang benar saja. Bikin gregetan lagi, Marya seolah tak menyadari kalau tingkahnya bikin Elgio meremang kepanasan. Atau gadis itu memang sengaja, jadi gadis lugu-lugu nakal hari ini?
"Aku pergi!" seru Marya tak sadari Elgio mendekat dengan cepat dan menangkapnya.
"Apa motifmu yang sesungguhnya, Nona?"
Marya tertawa lebar hingga wajahnya bersemu merah. "Aku sedang jadi reporter, kau tidak lihat?"
"Reporter seksi dan mengacaukan otak narasumber-mu, huh? Berani sekali kau, ya!" Elgio memeluk Marya erat-erat dan berusaha lepaskan kancing kemeja paling atas dengan gigi-giginya.
Abner muncul di pintu berikut Maribel dengan nampan teh dan camilan.
"Ya Tuhan, Ya Tuhan, aku bisa gila. Apa ini?" pekik Abner hingga tawa Marya dan Elgio lenyap. Elgio buru-buru turunkan Marya dan mendekapnya berbalik arah, sembunyikan Marya di dadanya.
"Aku menjemputmu untuk rapat, Elgio Durante!"
"Sekarang?!" tanya Elgio keberatan.
"Ya, sekarang! Cepat ganti bajumu!" teriak Abner sambil pegangi tengkuknya yang tiba-tiba keram. "Kau lihat mereka Maribel? Kau lihat?" tanya Abner geleng-geleng.
"Baiklah, tunggu aku di bawah Abner!"
"Lima menit Elgio, aku benar-benar akan hancurkan kepalamu jika kau tak bersiap dalam 5 menit." Abner pergi diikuti Maribel yang tahan senyum.
"Ini semua ulahmu, Marya!" Elgio mengecup gadis itu, lepaskan jas dan mengikatnya di pinggang Marya. Ia mencumbu bibir gadis itu membara seakan balas dendam hingga Marya kerepotan.
"Hentikan!"
"Kau selamat kali ini, lain kali, kau akan tahu akibatnya menggodaku di siang bolong," ujar Elgio sebelum buru-buru pergi.
Marya kembali ke kamarnya dan memakai midi skirt sebelum turun menemui Abner.
"Tuan Abner, bolehkah aku minta tolong?!"
Abner pandangi gadis itu dengan dua tangan terlipat. Kemejanya kedodoran tapi telah dikancing hingga ke ujung dagu dan ia telah memakai rok yang sopan. Abner pegangi tengkuknya, panjang-panjangkan sabar.
"Ada apa?! Apa kau ingin sesuatu?!"
***
Ketika pintu dibuka, pria itu terkejut luar biasa melihat siapa yang datang.
"Irish?!" tanya Elgio keheranan. Ia memeriksa ponsel dan tidak ada kesalahan.
"Elgio?!" Irish coba terlihat santai tetapi ia terlihat bergairah.
"Mengapa kau di sini?" tanya Elgio dan berencana angkat kaki. Irish kenakan sleeves dress ketat biru tua dengan potongan pas body tanpa sembunyikan lekukan tubuh langsingnya hingga terlihat semakin semampai, seksi dan anggun ..., keluar dari seragam kerja formal reporter, skirt dan blazer yang kaku.
"Aku diundang olehmu, makanya aku datang," kata Irish tersenyum manis. Pandangi Elgio Durante yang tampan dalam balutan jas abu-abu, berharap mereka akan makan malam sebagai sepasang kekasih. "Kurasa istrimu yang mengundang sebab ekspresimu jelas-jelas berbeda," tebak Irish pura-pura terkejut.
Elgio Durante tampan dan maskulin tetapi sangat konservatif. Ia hanya mencintai seorang gadis remaja. Sangat disesalkan.
Seakan benarkan perkataan Irish, pintu kembali terbuka dan Marya berdiri di ambang pintu. Napas Elgio tercekat saat melihat Marya.
Slit dress warna putih terang detil kerut sepanjang dada, membungkus tubuhnya, sisakan bukit bahu indah nan menggoda. Pria itu berdecak. Ia akan peringatkan Marya untuk tidak gunakan dress seperti itu di hadapan banyak orang sebab ia tak akan suka jika ada pria lain yang menikmati bahu indah miliknya itu. Potongan gaun asimetris yang sama sekali tidak seksi, malah sangat sederhana tetapi anehnya terlihat sangat mewah saat gadis itu melangkah di atas kaki-kaki jenjangnya yang terbungkus heels stiletto.
Rambut dikepang besar dan poninya disingkirkan sisakan dua kumpulan kecil yang membingkai kening dengan beberapa helaian dibiarkan begitu saja. Riasan mata, warna bibir natural dan perona merah samar, sungguh aneh, ada seseorang begitu seksi dengan penampilan sesimpel itu. Marya do that. Elgio terpesona di tempatnya berdiri, gadis itu sederhana tapi luar biasa berkelas.
Marya tersenyum lebar saat melihat Irish dengan tatapan malu-malu seperti biasa, seakan Irish adalah seorang yang sangat dekat dengannya, bukan seseorang yang ingin ia serang.
"Nona Irishak Bella, aku ... Marya Corazon Durante. Terima kasih sudah datang penuhi undangan dariku," kata Marya pelan dan lembut, membungkuk sopan pada Irish.
"Hai ... " sahut Irish tidak nyaman pada sikap Marya.
"Silahkan duduk," kata Marya, mampir pada Elgio, mengecup kilat bibir pria yang takjub padanya itu dan rapikan dasinya.
"Apa rapatmu lancar?" Marya kedipkan satu mata hingga Elgio berharap Irish segera pergi, ia ingin berdansa dengan Marya dan berkelana di pundak gadis itu.
"Ya ... kau cantik hari ini. Aku suka. Aku akan menyeretmu ke ranjang malam ini karena kau telah buatku mabuk sepanjang hari. Tunggu saja nanti!" bisik Elgio separuh mengerang.
"Baiklah, aku tak keberatan," sahut Marya dan pergi ke tempat duduknya.
"Aku penuhi undanganmu karena Anda menyimpan ponselku di hari aku wawancara dengan Elgio," sela Irish berusaha tersenyum biasa saja, sedikit lipat kening ketika profil gadis kuno tak sesuai ekspetasinya.
"Aku terkejut saat mengetahui ponsel itu ternyata milik Anda, Nona Irish. Kru-mu mengambil gambar suamiku, aku rasa itu tidak etis. Aku tahu kadang jurnalis kelewatan mengganggu privasi orang tetapi aku sungguh terkejut ketika itu terjadi padaku." Marya tersenyum, keluarkan ponsel dari clutchnya tetapi menahannya di atas meja.
"Ini ponselmu Nona Irishak. Aku menghapus beberapa gambar di dalamnya. Maafkan aku!" kata Marya benar-benar penuh penyesalan.
"Kamu memeriksa ponselku, Nona? Bukankah itu tidak etis?" sergah Irish tak suka.
"Maafkan aku, tetapi rasanya tak benar memotret suami seseorang saat ia terbaring di rumah sakit tanpa atasan."
"Kalian belum menikah, Nona. Elgio Durante bukan suamimu, aku rasa."
"Em, kami akan menikah beberapa hari lagi, aku akan pastikan Anda menerima undangan pernikahan kami dan sangat berharap Anda datang untuk beri dukungan. Aku akan berikan wawancara eksklusif padamu, Nona Irish," sahut Marya tenang meski ia merasa resah dan murka pada Irish.
"Baiklah, bisa kembalikan ponselku?"
"Tentu, aku juga menghapus foto ciuman di bibir yang bisa bikin sensasi. Aku rasa Anda adalah orang yang suka prestasi dan sensasi bukan gayamu, Nona Irish."
Ada sesuatu yang salah dengan Marya, pikir Elgio. Marya tidak secara terbuka menyerang Irish, ia sedang memanipulasi keadaan. Gadisnya mendominasi secara pasif tetapi kata-katanya sangat agresif. Sesuatu yang benar-benar tidak diketahui Elgio bisa dilakukan gadis itu. Marya lemah lembut tetapi tegas saat bicara hingga Irish keliru soal kekasih Elgio Durante yang lemah dan kuno.
"Itu tidak disengaja, Nona!"
"Tidak disengaja?! Tetapi kru Anda siaga mengambil gambar dan Anda menahan ciuman selama 10 detik dengan kontak mata intim, bukankah tujuannya patut dipertanyakan?" Meski sangat gugup Marya coba mengontrol diri dan bahasa yang keluar.
Irish mengatur posisi duduk, menaruh tangannya di atas meja, saling menggenggam. Ia menatap Marya tajam mengintimidasi khas seorang reporter saat membantai narasumber yang tidak mereka sukai.
"Apakah Anda cemburu, Nona?"
Marya kagumi tatapan itu, ia tak punya sorot mata menggertak seperti Irish Bella, yang bisa bikin lawan kena serangan jantung dan gemetaran.
"Tentu saja aku cemburu. Pria ini suamiku. Ia menikahiku suatu pagi di Broken Boulivard disaksikan Tuhan dan alam semesta, kami hanya akan mengukuhkan pernikahan kami agar sah secara hukum dan agama." Marya berhasil buat Irish tersudut dan terhenyak.
"Terus terang, Elgio adalah kekasih masa depanku yang dilukis Al Shiva. Aku yakini itu bukan kebetulan," ujar Irish tanpa basa-basi pandangi Elgio Durante intens sambil minum seteguk wine. Sementara pria yang ditatapnya sibuk terpukau pada wanita di sebelahnya. Wajah cinta pria itu pada Marya sungguh bikin Irish cemburu. "Elgio Durante selamatkan aku saat kami bertemu Valerie, ia rela tertembak agar aku tak terkena peluru."
Marya terperanjat sebelum tersenyum masygul dengar ucapan Irish dan menoleh pada Elgio. Prianya tak pernah cerita soal tertembak selamatkan Irish bahkan Irish ke rumah sakit dan bawakan Elgio bunga mawar merah hati yang mengandung umpan. Marya temukan di ponsel Irish.
"Mungkin itu maksud Al Shiva. Jadi, menurutku Al Shiva memberitahumu bahwa suamiku ada untuk selamatkan dirimu, Irish, suatu waktu."
Marya menatap Elgio dengan rasa sayang tinggi. Matanya bersinar terang. Tangannya meraih sesuatu, sebuah amplop cokelat dan ia sodorkan pada Irish.
Ia tersenyum sedih untuk Irish. "Anda perlu lihat ini, sketsa yang dibuat Al Shiva untuk beberapa gadis di Kastil Tua. Elgio Durante adalah kekasih masa depan banyak gadis."
Seakan ditampar keras, Irish meraih amplop dan melihat isinya. Empat sketsa wajah Elgio Durante meski dengan sudut pandang berbeda, tercetak untuk gadis berbeda - beda diambil dari empat akun instagram yang berbeda di pages fans Al Shiva. Marya beruntung Ethan menolongnya dalam banyak hal.
"Berhentilah mengejar suamiku, Nona Irish! Anda terlalu independen untuk berlebihan merespon pada sesuatu," kata Marya lagi tetap dengan nada lembut dan tenang.
Elgio tercengang menengok gadis di sebelahnya. Sayangnya, Marya tak buat-buat. Gadis itu berkata apa adanya dengan tetap menyimpan banyak nilai kejujuran, kesopanan dan tanpa menghakimi. Sesuatu yang buat Elgio takjub dan makin jatuh cinta padanya.
Irish mengangkat bahu, "Ini tidak buruk."
"Aku punya hadiah untukmu, Nona Irish."
Marya mengambil kartu Jokernya.
"Ini adalah artikel yang kutulis tentang seorang pria bernama Elgio Durante. Di sini berisi perjalanan lengkap semenjak bisnis ini berdiri di akhir perang dunia ke II dan terus berkembang hingga saat ini. Anda tak akan temukan ini di google sebab ini berasal dari arsip keluarga Durante yang belum dimutakhirkan ke google. Profil dan perjalanan Elgio Durante juga banyak dimuat di dalam bahkan hingga kehidupan pribadinya. Anda bisa gunakan sebagai referensi untuk merilis artikel sesuai yang Anda butuhkan."
Marya dengan sopan sodorkan berkas yang dikumpulkan dalam waktu sehari termasuk rangkuman dalam bentuk artikel cetak dan siap tayang.
"Aku tak sepandai Anda tetapi aku adalah penulis artikel untuk majalah sekolah The Horizon dan juga penulis artikel untuk situs resmi pemerintah, kamu mungkin lupa Irish ... dirimu adalah juri saat itu. Aku berharap bisa sehebat Anda suatu waktu," kata Marya merendah.
Irish Bella meraih bundelan berkas dan memeriksanya dengan kening berkerut. Marya mencatat hal-hal secara detil, seakan ingin pastikan dirinya tak perlu mengusik Elgio Durante lagi. Wanita itu tak percaya, tak sanggup hadapi gadis berusia 17 tahun.
Elgio tersenyum lebar dengan wajah tak dapat sembunyikan kekaguman. Gadisnya membalas Irish bukan dengan kekuatan fisik, tetapi dengan kibasan intelektual yang hanya bisa dilakukan oleh gadis-gadis dengan level kejeniusan tingkat tinggi.
"Aku mengundang Oriana Fritelli untuk wawancara resmi di hari ulang tahun The Durante Company, Anda bisa datang bergabung bersama kami. Ini undangan resmi dariku," pungkas Marya sekali lagi buat Irish Bella kesemutan karena bawa-bawa Elizabeth Oriana Fritelli.
Elizabeth Oriana Fritelli adalah jurnalis hebat lain saingan Irish Bella. Lagi-lagi Ethan menolongnya dapatkan banyak informasi tentang Irish dan Tuan Abner membantu menghubungi Oriana untuk hadir di acara ulang tahun perusahaan menendang Irish Bella menjauh.
Irish Bella menyipit pada Marya yang bercahaya seperti malaikat tetapi samar-samar seperti miliki dua tanduk iblis di kepalanya. Saat Marya tersenyum, Irish melihat gadis itu menyeringai senang padanya.
"Anda terlihat sangat mirip Nyonya Salsa Diomanta, Ibu Anda. Berwajah malaikat tetapi orang tahu, betapa banyak kejahatan yang dibuatnya. Aku harap Anda tidak sepertinya," ujar Irish satukan artikel Marya.
Marya tak percaya Irish menyerang keluarganya.
"Anda berhak laporkan tiap kejahatan pada pihak berwajib. Aku tak keberatan, begitupula Ibuku," sahut Marya menahan marah.
"Tentu saja. Aku sedang kumpulkan bukti. Kurasa suamimu punya bukti lengkapnya, hanya saja, butuh pria benar-benar pemberani untuk menindak kejahatan. Diomanta, Lucky Luciano, Anthony dan Capo Tua mereka yang hilang tanpa kabar, sangat beruntung dengan kematian Valerie. Narkoba, pencucian uang, penggelapan pajak, perdagangan manusia, aku menunggu hari di mana semuanya terungkap ke publik dan dapat melihat keadaanmu secara langsung, Marya."
Marya lumayan gentar dengan ancaman itu, ia coba tersenyum meski dalam hatinya sangat kalut bayangkan Ibu dan Auntynya akan di penjara sebab Irish terdengar serius pada kata-katanya.
"Percayalah Irishak Bella, aku bersamamu untuk berantas kejahatan."
***
Cintai aku, aku mencintaimu ....
Happy Birthday untuk Puteri semata wayangku, Florabella Christall Uma La Pio....
I Love You Do Much Girl....