Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 49 Jangan Menungguku!!!



Di Durante Land ....


"Abner, lakukan sesuatu! Aku tak bisa biarkan Marya tinggal di Paviliun Diomanta terlalu lama."


Elgio separuh gerah, ia kehilangan selera untuk beraktivitas. Ia hanya menekuri draft laporan dan jurnal penelitian, sesekali ia mendesah berat. Pria itu benar-benar tak bisa hidup tanpa Marya.


"Kau berlebihan Elgio, Nona Marya baru sehari saja di sana. Baguslah Nona Marya tak di sini, kau jadi bisa fokus kerja sambil mengatur ulang gairahmu padanya."


Elgio melempar pena di tangannya gusar pada Abner. "Aku tidak ingin bercanda. Mengapa kau selalu membuatku gusar? Apa kau mulai percaya pada Diomanta?"


"Elgio, kau ini pemarah sekali. Menurutmu, apa yang bisa dilakukan oleh wanita sedang ia dalam sakaratul maut?"


"Aku akan ke sana, nanti!" kata Elgio.


"Ya, kita akan ke sana tapi bereskan pekerjaanmu, Elgio Durante. Aku akan menemani Sunny ke Rumah Sakit."


Elgio mengernyit, sekejab mata melupakan gusarnya pada Abner.


"Jadian ... ?!"


Abner berdecak, "Tak ada jadi ... jadian. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral, Elgio."


"Saat kau menggendongnya, kau terlihat seperti kekasih sungguhan. Semoga Marya bisa mengubah mereka jadi baik."


****


Di Paviliun Diomanta ....


Marya seakan meniupkan keajaiban pada Salsa. Wanita yang semula sisa kerangka kosong seolah mendapat ciuman kehidupan dari sentuhan Marya. Salsa lebih bernyawa dan terlihat lebih hidup. Salsa tak banyak bicara, ia hanya perhatikan gerak-gerik Marya sembari tersenyum. Matanya terus berkaca-kaca dan Marya tak berhenti membuatnya takjub.


Gadis itu menolak bantuan perawat dan memilih mengambil tindakan langsung untuk merawat Ibu dan Aunty-nya yang sedang sakit. Marya seperti hembuskan napas damai ke Paviliun Diomanta. Sunny dan Salsa benar-benar terhibur oleh kehadirannya.


"Aruhi, adikmu akan masuk Sekolah Menengah Atas, bisakah kau temani Arumi untuk mendaftar di sekolahmu?"


Marya menyiapkan bubur chicken porridge dan memakaikan celemek pada leher Salsa. Ia mengaduk bubur pelan dan mulai menyuapi Salsa. Harusnya Ibu tidak makan sambil bicara, Marya takut Ibunya tersedak tetapi Salsa sangat antusias padanya. Jadi, ia menunggu Ibunya menelan makanan dan mereka mengobrol sebelum menyuapinya lagi. Salsa melepas infus dan memilih makan bubur yang dibuat Marya. Ia terus memuji bubur itu enak padahal Marya merasa itu hanyalah semangkuk bubur, tak ada yang spesial.


"Tentu saja, Ibu. Aku masuk dalam kepanitiaan. Aku akan mengurusnya."


"Benarkah?" Salsa bicara pelan tetapi berseri-seri. "Ceritakan prestasimu di sekolah!"


"Um, Emmm ... aku selalu di peringkat satu Ibu," jawab Marya malu-malu. Wajahnya merona, ia tak pernah pamer prestasi pada siapapun kecuali pada Ayah. Kini ia akan pamerkan prestasinya pada Ibu. Ini sungguh membahagiakan. Mereka mengobrol santai seakan mereka sangat dekat. Orang-orang bijak berkata; tali pusar anak dari ibunya hanya diputus oleh sebilah gunting dunia. Di antara mereka berdua ada pertalian abadi.


"Luar biasa hebat."


Marya menyuapi makanan lagi, ingin bilang kita akan mengobrol nanti.


"Apa pendaftarannya sudah dimulai?" tanya Salsa tidak sabaran ingin terus mendengar Marya bicara, suara gadis itu sangat merdu dan halus juga sangat sopan. Saat bicara Marya menghindari tatapan langsung tetapi nadanya penuh penghargaan dan ia cepat merona. Salsa menyebutnya "kecantikan karakter".


Marya mengangguk. "Sudah dimulai, Bu. Arumi harus bergegas ke sekolah. Ibu tahu, sekolahku paling unggul di distrik ini?"


"Ya, tentu saja. Bicaralah pada adikmu dan bawa dia untuk pendaftaran."


Marya tidak yakin, sebab Arumi jelas-jelas tidak menyukainya. Meski demikian ia tetap menyahut untuk buat Ibu tenang.


"Tentu, Ibu. Makanlah yang banyak agar Ibu cepat sembuh. Aku tak sabar ingin mendorong Ibu keluar rumah dan menikmati udara segar."


Wajah ceria Aruhi menjangkiti Salsa. Ia ikut tersenyum melihat Aruhi yang bersemangat dan mengutuk kejahatannya dulu. Bukankah sangat kejam meninggalkan Aruhi waktu itu? Salsa juga mengetahui Ibunya membakar rumah mereka saking membenci Ebenn meskipun terlambat untuk mencegah. Salsa menghembuskan napas berat, menemukan gadis ini berhati mulia tanpa dukungannya yang kejam dan jahat, membuat Salsa merasa gagal jadi manusia. Ia merasa sangat buruk meskipun dalam hati kecilnya dipenuhi rasa syukur Aruhi tumbuh menjadi gadis baik.


"Ibu, bisakah Ibu memanggilku Marya?"


Salsa terdiam. Apakah nama Aruhi begitu buruk? Ia menamakan adik Aruhi, Arumi ... agar terus mengingat Aruhi. Agar terus mengingat dosa tak tertebus pada Aruhi.


"Ohh, maafkan aku jika permintaanku berlebihan. Ibu bisa panggil aku Aruhi, seperti yang Ibu mau. Aku tak akan keberatan."


Marya buru-buru minta maaf ketika dilihatnya Salsa menerawang jauh, gundah gulana. Hanya saja tiap kali Aruhi disebut, ia masih merasa sedih pada masa lalu yang kelam.


Pintu diketuk dan Sunny masuk menggunakan kursi roda.


"Apakah Aunty akan pergi ke rumah sakit hari ini?" tanya Marya melempar senyuman. "Tuan Abner akan kemari untuk mengantar Aunty."


Sunny membalas senyuman Marya seadanya.


"Temani Ibumu ya! Jika kamu butuh bantuan, perawat ada di luar."


"Tentu saja, Aunty. Semoga pemeriksaan berjalan lancar."


***


Jauh di Ibukota kembali pada kisah asmara Lucky dan Reinha ....


Masih pukul 2 pagi ketika Francis meminta akses masuk ke dalam suit Lucky, di mana, Reinha terlelap dalam mimpi dan Lucky terjaga, menikmati momen yang mungkin tak akan pernah terulang. Instingnya terus berdering memberitahunya telah terjadi sesuatu yang buruk. Apakah para eksekutif akan memaksanya ke rapat dan menendangnya keluar dari Family Club'? Apa mereka memaksa V memencet tombol "In Silence" dan mengeksekusinya? Ataukah sesuatu yang lebih buruk, ia mengira-ngira tetapi tak temukan jawaban. Viktor tak menghubunginya.


"Axel Anthony, menyerang peternakan Mendeleya semalam dan menculik Nona Pequeena," lapor Francis setelah mereka agak menjauh dari Reinha, benarkan insting Lucky tetapi ia tak menduga jika ini tentang Queena. Itu berarti penyamaran V berakhir dan persembunyian V telah ditemukan.


"Bagaimana Brigitta? Apa ia baik-baik saja?!"


"Ia juga menghilang bersama Viktor, Bos."


"Ada tanggapan dari Valerie?"


"Belum untuk saat ini. Tetapi kita tak bisa berharap padanya. Aku menduga, Valerie adalah dalang dibalik semua ini."


Mereka berdiri di tepian kaca, perhatikan pagi lengang jalanan By Pass Civic Center. Bukan Viktor yang membunuh Rocco Anthony tetapi ini pasti konspirasi Valerie. Wanita itu telah memulai perang untuk menjelma sebagai Dewi yang berkuasa, the next Capo. Ia pasti telah menyewa Brusca untuk menghabisi Rocco Anthony dan memfitnah Viktor dan dirinya. Mungkin Valerie punya rencana lain, Lucky tidak ingin spekulasi sekarang ini, Queena jelas dalam bahaya. Axel Anthony lancarkan aksi balas dendam salah alamat dan Lucky harus pergi menyelamatkan Queena.


"Di mana Viktor?"


"Tidak terlacak."


"Ke mana Axel membawa Queena?"


Francis berdiam diri. Pequeena di bawah ke salah satu hutan terluas dan terlebat di bumi ini, di tempat para ter*ris dan se*aratis biasa bersembunyi.


"Francis?! Apakah ke Giant Blue Forest?"


"Ya, Bos. Axel membangun markas di sana dengan beberapa menara pengawas yang mampu mendeteksi penyusup dari jarak 1000 meter."


"Aku akan menjemput Queena. Siapkan Sweet Girl, aku akan kencan dengannya."


Sweet girl, cara Lucky Luciano menyebut Artic Warfare Super Magnun, senjata kaliber besar, sangat efektif membunuh target dari jarak sangat jauh, 1.500 meter.


"Tidak, tinggalah di sini."


"Aku akan ikut Anda. Aku minta ijin aktifkan 'Stealth Squad', Bos. Axel punya banyak prajurit. Kita berdua saja bisa menghabisinya dari 1.000 meter tetapi kemungkinan besar lainnya, Nona Pequeena akan dipindahkan dan dilarikan bahkan dibunuh, sebelum kita mencapai markas mereka."


Tepat sekali, ia tak akan bisa bekerja sendirian. Stealth Squad (regu siluman) akan diturunkan cukup jauh dari markas Axel Anthony dan merayap tiarap berhari-hari ke dalam hutan mencapai posisi ideal untuk menembak, merangkak 3 - 4 meter perjam, tanpa makan, tanpa minum berlebih dan tanpa tidur. Mereka hanya terus merangkak pelan. Mereka akan bersembunyi beberapa hari di jarak 1000 meter sembari mengintai, mempelajari situasi, aktifitas markas, membaca peluang tepat sebelum menyerang markas Axel hingga kocar-kacir.


"Tambahkan SS ke dalam Squad! Bayar dia berapapun yang dia minta!"


Scout Sniper bernama SS untuk Silvester Stanislaus adalah seorang penembak runduk hebat lainnya selain Jiuvanni Brusca. Mereka tidak berpihak, bekerja atas uang, pada siapapun dengan bayaran tertinggi.


Sementara Scout Sniper mengacaukan markas, ia akan pergi menyelamatkan Pequeena dan membawanya pulang. Semudah teori ... di lapangan, banyak hal tak terduga terjadi. Termasuk serangan dari sniper lawan, operator senapan mesin dan operator peluncur roket. No body knows.


"Persiapkan dengan matang maka kita akan membuat keberuntungan, Francis. Kumpulkan mereka, kita akan pergi pagi-pagi sebelum matahari terbit," katanya suram.


Bagaimana jika hal yang sama terjadi pada Claire dan Reinha, apakah ia akan sanggup?!


"Francis, bawa Claire ke tempat aman. Kosongkan Puri Luciano! Bawa Augusto untuk menjaga, Enya!"


Saat mengetahui dirinya sungguh-sungguh pada Reinha, Tuan Abner Luiz menarik mata-matanya dan percaya ia tak akan menyakiti Reinha.


"Baik, Bos!"


Lucky menghempas napas kuat, teringat pada Queena. Gadis malang itu akhirnya tahu, siapa Viktor. Apakah Queena baik-baik saja? Axel Anthony tidak mungkin hanya menyandera Queena. Ia pasti akan melakukan hal buruk pada gadis itu, pria jahat itu bisa jadi menodai Queena. Empat hari mencapai markas Axel, terlampau lama. Queena akan merasa hidup di neraka. Lucky mendesah marah, tanpa sengaja menumbuk kaca dengan kepalan.


"Apa yang kau lakukan di sana?" tanya Reinha mengangkat kepala dari bantal. Suaranya berat akibat ngantuk, ia bahkan bicara dengan mata nyaris tertutup. Lucky berbalik dan mendatanginya dengan cepat. Ia menyodorkan lengan pada tengkuk Reinha dan berbaring di sisi gadis itu, memeluknya erat.


"Tidurlah," ujar Lucky pelan mengecup puncak kening gadisnya dan mengelus kening Reinha halus.


"Kau membuatku terbangun."


"Maafkan aku."


"Apa kau ingin mengobrol?!" tanya Reinha.


"Hmmm ... jika kau tak mengantuk."


"Aku sangat mengantuk. Kita akan mengobrol seharian besok."


"Baiklah. Aku akan memelukmu sampai pagi. Kemarilah!"


Lucky merapatkan Reinha yang tergulung bak kepompong cantik dalam selimut putih, sisakan wajah kuning emas dan rambut cokelat tua yang tergerai di bantal, sungguhan mirip malaikat yang tersesat di bumi. Lucky mengatup lengan hingga gadis itu melengket padanya. Sementara ia tak akan tidur, tak akan terlelap, hanya akan berbaring memeluk Reinha dan menghitung napas gadis itu dalam kesunyian. Ia akan menikmati momen berharga ini dan merasakan hati mereka yang menempel begitu dekat. Ia tak akan membuang-buang waktu menutup mata apalagi sampai tertidur.


Reinha kembali pulas sementara Lucky mendengar detak jantung gadis itu dan tersesat di raut indah yang bermimpi lelap. Ia mengecup mata Reinha, bertanya penasaran, siapa yang dilihat gadis itu dalam mimpi? Apakah dirinya ada di dalam sana?


Dekapan lengan makin erat saat Reinha mengerang memanggil namanya. Penyerahan termanis Reinha padanya bukan tentang hal-hal intim, itu tidak begitu penting malah, tetapi ketika gadis itu menyebut namanya dalam mimpi lelap, Lucky menghargai itu sebagai penyerahan terindah.


Lucky tidak ingin melewatkan apapun sebab ia akan merindukan Reinha. Merindukan momen ketika mereka berciuman dan gadis itu pasrah padanya. Matanya melihat gadis itu tetapi jiwanya merasakan Reinha hingga ke dalam tulang-belulangnya.


"Jika nanti aku tak kembali, temuilah seorang pria terhormat dan hiduplah bahagia dengannya," kata Lucky pada gadis menawan dalam pelukannya.


Sang gadis terlampau lelap, tidur tanpa curiga. Tanpa menyadari, ia tak akan menemukan kekasihnya saat bangun pagi. Pria itu turun dari ranjang setelah menyemat cincin yang sangat indah di jari manis Reinha. Ia beri kecupan terakhir, menaruh buku Love Looks Pretty On You di bantal yang ia tiduri, di sisi kepala Reinha dan memandang gadis itu muram, seakan ia tak akan pernah melihat Reinha lagi.


Lucky Luciano menghilang sebelum fajar tepat sebelum kekasihnya terbangun.


***


Sementara gemerlap fajar masuk dan menembus kaca, menyentuh wajah Reinha hangat, ia semakin bergelung dalam selimut. Mata enggan terbuka, agak terkejut saat mendapati dirinya sendirian di ruangan. Ia bangun dan menengok ke seluruh ruangan, mungkin saja Lucky di kamar mandi. Ia menggenggam selimut di dada kembali terpana menemukan sebuah cincin mutiara yang sangat indah melingkari jari manisnya. Ia berseri-seri, cintanya bersama Lucky telah dimulai.


Reinha turun dari ranjang, menyeret kaki malas-malasan. Ponsel dan clutchnya di atas meja. Semalam meja itu ... Reinha merona merah di tengah ruangan. Ia ingin melihat Lucky Luciano saat ini, sangat ingin. Tak ada suara, begitu hening. Ia mulai was-was, apakah sesuatu terjadi? Ia meraih ponsel dan menelpon nomer Lucky.


"Nomer yang Anda tuju tidak terdaftar."


Reinha melipat kening. Ia akan menelpon Claire dan semakin heran saat nomer Claire juga tak bisa dihubungi. Meski sekedar tak bisa dihubungi, nomer mereka tidak terdaftar.


Reinha memungut gaun semalam yang tergeletak di lantai lantas memakai kembali gaun itu. Ia pergi ke dekat kaca, dan berdecak, dari ruangan ini Dream Fashion terlihat sangat jelas meskipun ruang tidurnya tidak cukup jelas.


Bell akses masuk menyala dan Reinha setengah berlari gembira memencet tombol pintu terbuka. Ia begitu muram saat mendapati bukan Lucky yang datang.


"Pagi Nona. Apa tidurmu nyenyak?"


"Augusto. Apa kau baik-baik saja?" tanya Reinha balik bertanya cemas.


"Ya Nona, aku akan mengawal Anda pulang ke Dream Fashion."


"Di mana Lucky Luciano?! Apa kau tahu di mana dia?" tanya Reinha penuh selidik.


Augusto terdiam. Reinha memutari kepala menyapu seluruh ruangan. Ia berlari ke kamar mandi dan tidak menemukan apapun.


"Nona, Tuan Lucky telah pergi sebelum fajar."


"Kemana?!"


Ia kembali ke ranjang dan menemukan buku warna tosca tulisan pink yang sangat manis, semanis judul dan puisi-puisi di dalamnya yang sangat disukai Reinha, Love Looks Pretty On You. Ia memeluk buku itu erat, aroma glacier Lucky menempel di sana pertanda Lucky baru saja menyentuh buku itu.


"Beliau berpesan agar Nona Reinha tidak menunggunya kembali."


"Apa maksudmu?"


"Aku tidak tahu, Nona. Tuan Lucky pergi buru-buru dan sepertinya sesuatu sedang terjadi. Apakah aku perlu mencari tahu?"


Reinha menggeleng. Untuk sebuah alasan, ia tak ingin tahu kemana Lucky pergi. Pria itu pasti kembali dan mengintainya, jadi ia akan menunggu.


"Tidak Augusto. Aku akan menunggu, jika ia tidak datang, aku akan menemukannya sebab aku kekasihnya."


"Nona, Tuan Abner baru saja mengirim pesan, meminta Anda berkemas dan kembali ke Durante Land sebab Kakak Anda akan segera menikah."


"Baiklah, aku juga perlu mengunjungi Puri Luciano atau aku akan mati penasaran ...."


***


Dear Readers :


Augusto tidak mati ya di chapter kemarin sebab yang digunakan untuk menembaknya adalah Senjata Kejut Listrik yang hanya membuat orang pingsan.


Apakah Arumi akan menyukai Marya? Apakah Lucky berhasil selamatkan Queena? Apakah Reinha berhasil temukan Lucky?


Jangan lupa tinggalkan komentarmu, Readers.