Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 162 Love Me Like You Do ...



Kepala-kepala terus saja melongok ke arah pintu Kapela saat tuts-tuts piano tenggelam oleh jemari lentik mainkan irama The Wedding. Bangku Kapela penuh oleh para umat, dominan diisi warga Durante Land. Maribella William adalah penghuni asli Durante. Ayahnya telah ikut keluarga Durante sejak beberapa generasi walaupun akhirnya kedua orang tuanya meninggal sisakan Maribella.


Tangan-tangan Arumi menari lincah di atas piano. Rambut panjang cokelat emasnya dibiarkan terurai dan tanpa riasan berlebihan raut cantik si gadis sungguh mempesona. Marya tak berhenti memuji adiknya. Arumi juga diketahui daftarkan diri untuk join dalam main core tim basket sekolah. Ia ingin ikut dalam Global League di akhir musim panas.


Penasaran, apakah Arumi dan Ethan akankah pergi kencan? Sepertinya tidak, Ethan terlihat sangat sleek dan rapi dengan potongan rambut model bro flow, sesekali tersenyum pada Sarah Daniela di sebelahnya. Jadi, benar kata Arumi, sahabatnya itu berkencan gunakan logika dengan Sarah?


Tetapi, terkadang Ethan kedapatan awasi Arumi. Tutupi jatuh cinta pada Arumi dengan sangat baik tertera di raut cute berkharisma. Sementara Archilles tak jauh dari Arumi. Dibalik kaca mata hitam, wajah tanpa ekspresi, no body knows, apa yang pria itu pikirkan?


Marya dan Reinha di bangku terdepan diapiti Elgio Durante di sisi kiri dan Lucky Luciano di sisi kanan. Di sebelah Lucky Luciano, Claire Luciano tampak bersinar.


Di bagian belakang mereka, Carlos Adelberth berdiri bersama Oriana. Sederet dengan mereka, Hellton Pascalito untuk pertama kalinya terlihat di antara keramaian bersama Irishak Bella yang tanpa senyuman sesekali menengok pada Carlos.


"Jika kau ingin bertemu dengannya, silahkan Irish!" ujar Hellton dari sebelah.


"Nanti saja! Jangan mulai perang dengannya!" balas Irish gusar seolah-olah Hellton akan lubangi kening Carlos Adelberth.


"Pergilah pada Carlos, Irishak. Kedua saudariku ada di sini, kecuali kalau kau merasa nyaman dengan mereka." Hellton berkata sabar.


Salsa Diomanta dan Sunny melangkah di antara bangku-bangku dan saat melihat Hellton, Sunny menuntun kakaknya pergi ke bangku Hellton. Tanpa buang waktu Irish tinggalkan Hellton pergi pada Carlos.


"Apa kabarmu Irish?" sapa Oriana.


"Hai Lizzy, kalian sangat serasi dengan warna dasi dan dress yang sama," balas Irish.


"Kau terdengar cemburu padahal kau punya kekasih," balas Oriana tersenyum skeptis.


Irishak melirik Hellton yang bisik-bisik dengan kedua kakaknya yang tampak sangat berbeda, terus saja tersenyum dan sesekali memeluk Sunny Diomanta. Irishak yakin, Hellton Pascalito mainkan trik untuk bebaskan Sunny dari penjara. Begitu pula Lucky Luciano yang tampak menghirup udara bebas, berdiri di bangku depan terus-menerus menengok istrinya yang belia seakan-akan takut gadis itu dicuri seseorang. Di sisi mereka, Elgio Durante terlihat. Ia memuja pria itu, cara Elgio Durante perlakukan istrinya. Irish lekas-lekas kembali pada Carlos dan amati seksama.


"Apa kau baik-baik saja?"


"Ya, maaf aku tinggalkanmu di apartemen saat kau sedang sakit. Aku tak punya pilihan berpikir untuk selamatkan cintaku ke Pesisir Timur tetapi sepertinya ia malah terpikat pada seseorang di sana."


Irishak berdecak pelan sedang Oriana menghela napas panjang.


"Well, tidak benar seperti itu Carlos. Aku ingin fokus pada karir," protes Oriana.


Irish dan Oriana terus ribut soal Carlos dan akhir dari kisah segitiga mereka sangat absurb.


"Aku penasaran siapa yang berhasil buat Lizzy tinggalkanmu?" Irish terdengar sarkasme.


"Oh ayolah Irish, apakah kita akan berdebat dan saling serang?" tanggap Oriana kepergok tak ingin ladeni Irish. "Kulihat pria yang bersamamu sangat-sangat perhatian, sampai-sampai ia membungkam semua orang yang mengejarmu dengan kebengisannya. Saranku, kau harus pertahankan dia!" Oriana menjawab dari sebelah Carlos.


"Apakah kalian sungguh akan ribut di sini?" tanya Carlos berbisik pelan, ia memeluk kedua wanita itu dan mengusap lengan keduanya bahkan ia mengecup puncak kepala Irishak. Keduanya adalah wanita-wanita dewasa tetapi saat bertemu ..., persis kucing dan anjing ..., selalu ribut. Mereka telah bersaing dalam hal apapun sejak di bangku sekolah dasar. Entah ... ada apa dengan mereka?


Lucky Luciano berbalik tangkap suara-suara berisik, mengernyit ketika temukan Oriana juga Irishak Bella dan Carlos Adelberth yang terjebak di antara kedua wanita itu.


Lucky berdecak, ajukan keberatan. "Bisik kalian sungguh sangat mengganggu, Alberth!"


"Sudah berakhir Tuan Luciano, silahkan arahkan pandanganmu ke depan sebelum adik perempuan Anda ikut-ikutan menengok kemari!" ujar Carlos sedikit membungkuk sopan.


Claire Luciano berbalik ke belakang ketika dapati ia disinggung. "Apakah aku terlihat peduli padamu, Tuan?" Claire merasa ganjil sendiri. "Who do you think you are, Mr Adelberth?"


Kata-kata tajam Claire buat Oriana juga Irishak saling pandang penuh tanya lalu mendongak pada Carlos. Sedang yang dipandang angkat bahu, ia tak punya jawaban. Carlos tersenyum geli sebab akhirnya berhasil buat dua wanita di sisinya berbaikan meski hanya sebatas curigai dirinya.


"Kamu masih marah padahal kakakmu sudah kembali?" tanya Carlos menggoda gadis di depan, lepaskan pelukan, menyangga kedua tangannya di bangku depan dan sedikit berbisik di balik punggung Claire. "Kau harus datang dua hari lagi dan bantu aku perbaiki rumahku, atau aku akan terus mengganggumu!"


Claire menoleh dan dapati Carlos sedang tersenyum padanya.


"Aku bisa menyewa orang untuk gantikan aku, Tuan Adelberth. Meskipun usiaku baru 18 tahun, aku gadis yang sangat-sangat sibuk."


"Aku tak peduli soal itu! Datang saja dan bantu aku perbaiki rumahku!"


"Oh, kau tahu, aku akan beritahu komandan-mu bahwa kau minum-minuman keras suatu malam dan lukai seorang gadis!"


"Ya, tentu saja. Mereka akan percaya padamu saat kau katakan aku mabuk lalu hancurkan rumahku sendiri," ejek Carlos hingga wajah Claire memerah. "Sebaiknya kau bertanggung jawab, Nona Claire Luciano!"


"Memangnya apa yang sudah dia lakukan, Carl?" tanya Lucky Luciano yang bergabung lagi setelah ladeni istrinya, melirik adiknya yang cemberut.


Claire cepat-cepat menengok Carlos, melotot tajam pada pria itu, beri perintah untuk tutup mulut. Abaikan instruksi Claire, Carlos tersenyum penuh kemenangan. Carlos tahu, Lucky Luciano melarang keras adik perempuannya memegang senjata.


"Menenteng senjata dan hancurkan rumahku, Tuan Luciano," balas Carlos tanpa alihkan pandangan. Ia berhenti tersenyum, kedipkan satu mata. "Dia harus ada di rumahku dua hari lagi pukul 9 pagi, atau aku akan menuntut Claire Luciano untuk sebuah penyerangan."


"Cla ... ?!"


"Jangan percaya padanya!" geleng Claire pada Lucky Luciano. "Kau hanya seorang amatiran!" dengus Claire pada Carlos.


"Well, kita lihat saja nanti!"


***


Menit-menit berlalu, Arumi telah mengganti dua lagu sebelum kembali mainkan The Wedding. Sambil menekan tuts piano, ia melirik pada Ethan, berdenyut-denyut oleh cinta saat mata mereka tak sengaja bertemu dan sakit hati ketika si pria bicara sembari tersenyum pada Sarah.


Mainkan melody Dreams Come True, Arumi akhirnya hanya bisa berharap Ethan Sanchez berhasil dengan cita-citanya dan jadi orang hebat di masa depan. Ia akan tetap menyukai pria itu kendati harapan Ethan mengubah segala hal untuk mereka tetap timbul di hatinya.


Lagu berakhir ketika masih belum ada pertanda kehadiran pengantin.


Marya dan Reinha saling pandang, agak gugup. Bagaimana tidak? Mereka punya trauma buruk soal wedding Day. Tidak akan pernah lupa bahkan tak akan hilang seiring waktu, lantaran memori itu jadi salah satu peristiwa hidup yang akan selalu terpatri dalam otak.


"Mengapa Tuan Abner belum datang?" tanya Marya kuatir, menengok ke pintu masuk. Padre Pio telah lama berdiri di depan altar.


"Oh ya Tuhan, apakah sesuatu terjadi? Maribella belum benar-benar pulih kakinya," sambung Reinha. Tangan keduanya saling menggenggam.


Elgio Durante dan Lucky Luciano mau tidak mau ikutan menengok pintu.


"Kurasa ide buruk tinggalkan Maribella!" kata Marya mulai sangat-sangat gelisah. Elgio terpaksa harus mendekap istrinya erat dan menenangkannya.


"Abner yakinkan kita untuk menunggu di Kapela. Jadi, kurasa pria itu telah siapkan sesuatu!"


Ya, tepat sekali.


Abner akhirnya terlihat di pintu, mendorong Maribella di kursi roda, sebatas di tiang bunga.


"Elgio, bukankah kau harus pergi ke sana dan mendorong kursi roda itu?" tanya Marya, nadanya memelas. Ia mulai menangis. Mereka tak punya orang tua di hari pernikahan dan hidup hanya andalkan kasih sayang yang kuat di antara mereka. Kasih sayang universal tanpa ikatan darah.


"Marya, Abner bersih kukuh mereka akan pergi bersama ke depan altar. Jangan cemas!" ujar Elgio mendekap kekasihnya semakin erat.


Abner Luiz ulurkan tangan pada Maribella, membantu wanita itu berdiri.


You by my side, that's how I see us


I close my eyes, and I can see us


We're on our way to say I do


My secret dreams have all come true


"Mari pergi bersama, Maribella Wiliam."


Maribella mengangguk, tetapi tak bisa gunakan tongkatnya. Jadi, sangat tersanjung dan berbunga-bunga saat Abner Luiz menggendongnya berbalik dan menghadap ke altar, bersiap menyusuri lorong.


"Mereka manis sekali," bisik Reinha berkaca-kaca. "Mereka akhirnya menikah," katanya lagi, pecah juga kaca-kaca di mata indahnya, bahu segera terguncang.


"Ayolah Enya, jangan merusak hari dengan air mata," hibur Lucky Luciano. Saat Reinha menangis, merengek, gadis itu tampak seperti remaja 18 tahun.


"Mereka berdua orang tuaku, Lucky. Ibuku meninggal karena kanker, Ayahku lalu menyusul, meninggal dalam sebuah kecelakaan bersama Ayah Marya. Kakek dan nenekku terlalu tua untuk merawatku. Elgio dan Tuan Abner datang padaku, mengajakku pergi ke Durante Land. Sejak saat itu, hidupku hanya bersama mereka. Kini, Elgio punya Ibu dan adik perempuan sungguhan, kurasa Kakakku akan lupakan aku," bisiknya merambat ke segala arah.


Lucky Luciano memeluk Reinha yang sedih hati.


"Kau dengar sendiri bahwa kakakmu hanya mengakuimu sebagai adik perempuannya. Kalian mirip di segala aspek. Pemarah, keras kepala tetapi sangat-sangat manis," ujar Lucky. "Ayolah baby! Kau tak akan kehilangan Abner juga Maribella apalagi Elgio Durante. Lihatlah mereka sangat-sangat bahagia." Reinha mengangguk dan tersenyum haru-biru.


Sedang ..., sisakan senyuman lebar di wajah-wajah para tamu dan tatapan memuja padanya, Abner Luiz melangkah pasti. Otot lengannya mencuat dibalik jas silver yang membalut tubuhnya. Ia terus menatap ke depan, tersenyum khas, yakin berhasil buat Maribella kepincut bolak-balik padanya. Benar sekali, dari balik kerudung pendek dan tipis yang menutupi wajah, Maribella tak berhenti menatap penuh cinta. Gaun putih beraksen brokat berlengan panjang dan tail medium, yang tidak megar tetapi sangat-sangat elegan membungkus tubuh mungil sang wanita. Model rambut half updo dengan keriting yang sangat definitif, sedikit hiasan rambut, Maribella tak gunakan banyak aksen pada wajahnya. Ia tahu Abner mencintai sesuatu yang alami dari wajahnya, dan seorang make up artist menambah sedikit ketegasan cantik natural soft pada rautnya.


"Kau sangat manis, Tuan Abner," ujar Maribella merona merah.


"Ini belum seberapa, Maribella! Segala sesuatu baru dimulai. Kita akan pergi berbulan madu ke manapun yang kau suka."


"Aku ingin di Durante Land," sahut Maribella. Mereka lewati setengah lorong.


"Oh yang benar saja, Mai. Kita digrebek tiga kali."


Maribella tersenyum lebar, "Keempat kali kita akan benar-benar melakukannya, kita telah resmi sepsang kekasih. Mari naik Van dan pergi bersama anak-anak ke pantai."


"Baiklah, saat ini, mari kita mengikat janji!" balas Abner bernapas cepat diliputi kegugupan.


Suasana pemberkatan berlangsung khusyuk. Maribella duduk di bangku yang disiapkan, masih tak kuat berdiri terlalu lama. Well, setelah hari-hari panjang nan melelahkan, mereka akhirnya menikah. Kerudung wanita itu dibuka pelan dan wajah cantik Maribella menunggu. Mata mereka bertautan.


Waktunya mencium kekasih. Maribella menunduk pada wajah Abner Luiz yang berlutut di hadapannya, menatapnya dengan kasih sayang murni yang dimiliki. Ia akhirnya menikahi pria yang berlarian bersamanya di tepian hutan bertahun-tahun lalu. Tak menyangka Abner berakhir dengannya. Ciuman sopan itu berlangsung di bawah iringan tepuk tangan. Marya dan Reinha berpelukan dalam kebahagiaan.


Suasana kediaman Durante benar-benar gemerlap sebab Elgio Durante dan Reinha mengubah konsep pernikahan dari private go public. Semacam inagurasi. Taman belakang dipenuhi warga Durante Land seketika berubah gegap gempita.


Tamu-tamu penting Abner Luiz menyapa di sore hari tetapi tetap tinggal saat mendengar pesta rakyat akan digelar di malam hari. It's amazing karena akan ada tarian masal seperti yang sering dilakukan leluhur mereka saat hari raya besar.


Maribella tak bisa berdiri dengan benar, gara-gara kaki engkel sebelahnya, jadi Abner terus menopangnya. Ia kemudian hanya duduk saja, tak mampu menyapa tamu satu-persatu.


Di sudut lain meski tak miliki Maribella sebagai istri, Hansel Adelio mengatur persiapan makanan dalam dua hari bersama Marya dan Reinha. Berharap ia juga temukan cinta, seseorang seperti Maribella.


Kejutan saat Ibu Luna tampak ikut hadir bersama suaminya. Elgio Durante mengirim undangan untuk Luna dan keluarganya. Ia lantas menyambut mereka, menyapa basa-basi, tanyakan keadaan Luna.


"Terima kasih berkenan ikut dalam sukacita kami," sambut Elgio.


"Terima kasih, Tuan Elgio sudah mengundang kami," balas Christian Hugo.


"Bagaimana keadaan Luna?" tanya Elgio masih sulit percaya, ia punya saudara kembar bernama Laluna.


"Luna membaik, dia gadis yang kuat. Oh ya, mungkin ini tidak sopan, tapi aku tak temukan waktu yang tepat. Kami mengundang Anda sekeluarga untuk datang makan malam ke kediaman kami sebagai ucapan terima kasih telah selamatkan Luna," ujar Christian Hugo sedang istrinya berkaca-kaca di sisinya menanti penuh harap jawaban Elgio Durante.


"Baiklah, Tuan. Aku akan datang."


Christian Hugo menatap istrinya yang berbinar-binar, yang tak mampu sembunyikan ekspresi keharuan, seakan ingin menatap Elgio Durante sepanjang malam.


"Apa Anda senang, Nyonya?" tanya sang suami menggoda istrinya sebelum kembali pada Elgio Durante. "Aku harap Anda membawa istri Anda, Tuan Durante."


"Tentu saja, kami akan datang bersama. Tetapi para waliku mungkin tak akan ikut, mereka akan segera berbulan madu," jawab Elgio arahkan pandangan pada Maribella dan Abner yang tak berhenti tersenyum.


Abner terlihat katakan sesuatu hingga Maribella tersenyum malu-malu sebelum mencium Maribella kuat dan dalam, tak peduli pada lautan manusia. Dua orang itu sepertinya tak ingin menunda malam pertama.


"Kami menunggu Anda, Tuan Elgio."


Elgio segera mengangguk lalu berpamitan berpapasan dengan Queena dan menggiring wanita itu ke bagian dalam rumah bergabung bersama Lucky Luciano, Carlos Adelberth dan lainnya. Queena hadir meski bukan dengan Axel Anthony, gadis itu ikut bersama walikota dan istrinya. Lucky Luciano tak ingin bertanya, tetapi yang ia dengar, Queena bekerja bersama Anna. Itu berarti di klinik khusus yang biasa tangani para Mafia saat terluka. Lucky Luciano hanya tak habis pikir, Axel lepaskan wanita itu begitu saja setelah tampak tak bisa hidup tanpa Queena. Atau Queena yang keras kepala menendang Axel darinya.


Semakin malam semakin ramai. Salsa dan Sunny memilih nikmati suasana dari balkon. Ingin pulang tapi sangat penasaran dengan lautan manusia yang mulai berbaris dengan pasangan mereka masing-masing.


"Walikota dan istrinya," kata Salsa menunjuk dengan gelas ke arah walikota dan Istrinya yang dituntun ke ruang dalam, ke tempat yang lebih private. Elgio menemani juga Marya terlihat bicarakan sesuatu dengan istri sang walikota. "Kau tak menyapa mereka?"


Sunny sinis, "Suatu waktu."


"Lihatlah Aruhi, Sunny! Gadis kecil kita sangat-sangat elegan dan luar biasa cantik."


"Warisan Diomanta. Elgio Durante akan jadi walikota suatu waktu dan Aruhi akan setia di sisi pria itu. Mereka manis sekali, ya," kata Sunny penuh angan.


"Tidak, jangan masuk ke sana! Lihatlah Jeremy Mendeleya, sangat-sangat kewalahan hadapi kejahatan."


"Ya, kau benar Kak. Elgio dan Aruhi kita akan hidup dengan tenang dan damai, mengurus bisnis mereka."


Salsa mendesah. "Lihatlah Arumi!" kata Salsa Diomanta beralih pada Arumi. Tatapan matanya penuh gelisah.


"Apakah Ethan Sanchez berhenti jadi guru lesnya?"


"Entahlah, Ethan bersama seorang gadis. Arumi terus bersedih beberapa hari belakangan. Mungkin karena Ethan," sahut Salsa serius amati Arumi. Puterinya meraih tangan Archilles yang tak kuasa menolak, pergi ke tengah kerumunan saat pesta rakyat dimulai. Musik diputar dan orang berpasang-pasangan akan mulai menari. Kaki-kaki dihentak, tangan ikut bergerak menggandeng pasangan sedikit meloncat dan berputar-putar.


Arumi begitu gemilang. Bersinar di bawah gemerlapan lampu. Dalam sekejab menarik perhatian tamu. Saat tubuhnya tersenggol peserta lain, Archilles sigap memeluknya.


"Nona, sebaiknya Anda ke dalam, di sini terlalu ramai!" seru Archilles di antara suara musik. "Anda bisa terluka."


Arumi lepaskan pelukan dan tersenyum. Ia berulang kali menginjak kaki Archilles. Meskipun sakit terinjak sepatu Arumi, Archilles tampak tetap berdiri kokoh.


"Nona, ayo ke dalam! Suasana ini tidak cocok untuk Anda!" teriaknya lagi.


Ethan Sanchez perhatikan keduanya. Bagaimana Arumi menari dengan gembira.


Archilles membawa gadis itu berputar-putar. Ethan duduk satu meja dengan teman-teman satu komunitas yang diundang oleh Reinha dan Marya.


"Arumi Chavez, tercantik malam ini. Dia adik perempuan Marya Corazon, benar-benar kakak beradik yang silaukan mata," kata salah seorang remaja pria terlihat benar-benar terpesona pada Arumi Chavez.


"Dia single," sahut yang lain.


"Adakah yang berani taklukan hatinya?"


"Kudengar dia tergila-gila pada Ethan Sanchez," sambung yang lain menoleh pada Ethan yang pura-pura tak peduli tapi menyimak percakapan teman-temannya.


"Jika kau tak keberatan, Ethan Sanchez, aku ingin menggaetnya."


"Kau harus lewati pengawalnya," sahut yang lain sebelum Ethan menjawab.


Arumi Chavez sungguh bikin para pria lajang di pesta itu jatuh hati. Bagaimana tidak, dengan wajah rupawan, halus dan proporsional, gadis itu sangat memikat.


"Apa Anda berhenti bersedih, Nona?" tanya Archilles di tengah hiruk pikuk suara musik yang bergaung dan gelegar riuh suara-suara pengunjung pesta itu. Kaki-kaki mereka bergerak ikuti irama.


"Ya." Arumi mengangguk. Hatinya masih sedih tiap lihat Ethan dan Sarah meskipun Ethan tak mungkin berbohong soal tak ingin kencan. Ethan dan Sarah tadi berdansa sangat rapat dan dekat, Arumi tak sukai itu, ia amat cemburu. Tak bisa abaikan Ethan sekalipun telah memcoba. Tanpa sengaja kakinya lagi-lagi menginjak kaki Archilles dan pengawalnya itu tampak tak keberatan.


"Anda bisa berdansa gunakan kakiku, Nona!"


"Berat badanku bertambah ketika aku patah hati."


"Ya, aku bisa lihat. Berhentilah sedih, Nona. Hanya pria bodoh yang tak menyadari betapa cantiknya Anda," ujar Archilles menghibur.


"Kau mengolok aku? Ingin sogok aku atau apa, Archilles Lucca?"


"Baiklah, aku tak akan bicara lagi."


Arumi tersenyum tetapi lantas meringis ketika kakinya tak sengaja terinjak penari lain.


"Anda tak apa, Nona? Jika Anda menaruh kaki Anda di atas kakiku, Anda mungkin tak akan terinjak."


"Kau baik sekali, Archilles," keluh Arumi tak ingin ambil kesempatan itu sebab itu berarti ia akan kian rapat pada Archilles. Arumi menoleh pada Ethan Sanchez, cukup dapati pria itu sedang amati dirinya, abaikan Sarah di sebelahnya. Tak buang-buang waktu, Arumi lepaskan heelsnya.


"Apa kau sungguh tak keberatan jika aku menginjak kakimu, Tuan?" tanya Arumi pada Archilles.


Si pengawal mengangguk. Entah apa yang terjadi, ia tahu Nona Arumi ingin bikin Ethan Sanchez cemburu. Kaki-kaki Arumi di atas kaki-kakinya, itu berarti ia harus memeluk si gadis makin erat.


Ya Tuhan, ia terjebak lagi antara Nona Arumi dan Ethan Sanchez?


Sepertinya Arumi berhasil nyalakan api. Ethan Sanchez tak lepaskan mata dari Arumi. Gadis itu, tercantik di antara pengunjung yang datang dan masuk ke dalam lengan Archilles ketika tak sengaja disenggol penari lain. Gadis itu tak buru-buru lepaskan pelukan dan tersenyum pada Archilles. Sedang sang pengawal tanpa ekspresi seakan tak ingin goyah, tetapi berapa lama Archilles akan tabah?


Ethan tak menyangka gilirannya tiba, ia sadari berubah idiot, ingin menyeruak kerumunan dan menarik Arumi pergi dari sana. Ia berperang dengan logikanya, mengatur napas dan biarkan hatinya bicara; pria itu menyerah. Ia sangat jatuh cinta pada si bodoh yang sangat cantik. Ibunya mungkin akan meneriakinya tapi ia berjanji tak akan telantarkan apapun, entah Ibunya, adiknya atau masa depannya. Ia hanya ingin bersama Arumi.


"Sarah, maafkan aku. Tetapi, aku harus pergi! Bisakah kamu pulang bareng teman-teman lain?"


"Ethan?! Ada apa?"


"Aku tak suka melihatnya bersama orang lain, kurasa aku jatuh cinta padanya."


"Siapa maksudmu?" tanya Sarah, "Arumi?"


Ethan mengangguk tanpa ragu. Mereka bersama hampir tiap hari, Arumi terus terang berkata sangat suka padanya, tak malu-malu mengecupnya juga berharap dirinya punya perasaan yang sama. Namun, ia abaikan karena sibuk bertahan dengan logika. Kini, bagaimana Arumi tertawa pada pengawalnya yang terlihat bersedia lakukan apa saja untuk gadis bodoh itu, Ethan Sanchez cemburu berat. Oh tidak, pikiran Ethan kacau dan hatinya kalang kabut.


Sarah terlihat sangat kecewa tetapi pahami Ethan Sanchez.


"Maafkan aku, Sarah. Aku harus pergi!"


Ethan bergerak ke arah Arumi, menerobos keramaian ia sampai pada Arumi yang terperangah kaget, juga Archilles yang bernapas lega atau pasrah, entahlah. Tanpa banyak kata, Ethan meraih tangan Arumi dan menyeretnya pergi dari sana. Archilles mematung sejenak sebelum ikut dari belakang.


Ethan terus menggenggam tangan Arumi seolah takut gadis itu terbang.


"Ethan?!"


Arumi sedikit pincang. Kakinya tadi terinjak seseorang.


"Apa sesuatu terjadi?" Ethan berbalik pada Arumi dan lihat gadis itu meringis kesakitan, ia menarik Arumi pergi ke punggungnya sebelum Archilles lakukan itu. Mereka berhasil keluar dari kerumunan, sementara teman-teman satu komunitasnya bersorak-sorai dengan tepuk tangan. Sikap Ethan cukup sebagai informasi tegas bahwa teman-temannya tak boleh berniat jadikan Arumi gebetan.


"Apa yang terjadi?" tanya Arumi. "Aku sedang bersenang-senang," tambah Arumi lagi.


"Bisa aku lihat! Apa kau menikmati berbaring di paha pengawalmu, berada dalam dekapannya?"


Arumi gelagapan, sangat suka Ethan cemburu.


"A ... ku ... itu ...."


"Mari pergi denganku!"


"Kemana?"


"Ikut saja!"


Salsa dan Sunny saling pandang.


"Aku menyukai Ethan Sanchez," kata Sunny.


Salsa meneguk minuman dari sari buah jeruk, merasa aneh lantaran deja vu bertamu padanya. Ia tiba-tiba condong pada sang pengawal.


"Ya, Ethan sempurna," sahut Salsabila bertukar keyakinan dengan cepat atau ia sedang abaikan sesuatu yang familiar dalam dirinya. "Arumi akan mengejar mimpi, cita-cita dan impiannya Sunny. Ia tak boleh menikah muda seperti kakaknya."


Sunny sepakat. "Biarkan dia kembali ke dunia hiburan. Itu bisa alihkan energinya dari pacaran, Kak."


Sementara Arumi hendak naik di boncengan, lupakan jaketnya hanya dress tanpa lengan. Archilles berlari dari belakang, tepat waktu untuk selimuti Arumi. Ethan kancingkan jaket Arumi, menatap gadis itu gregetan sendiri.


"Maukah kau jadi pacarku?" tanya Ethan hingga si gadis bodoh ternganga.


"Aku?!" tanya Arumi gagap. "Kau mungkin akan sangat malu saat namaku dibacakan di peringkat terakhir, Ethan." Arumi lekas berbunga-bunga langsung mekar besar tanpa lewati kuncup.


"Aku tak peduli," jawab Ethan Sanchez cepat.


Sebelum Arumi mengangguk, Ethan Sanchez membawa gadis itu pergi bersamanya. Rangsangan tiba-tiba di hatinya bak arus listrik, penuh kejut dan menggetarkan saat tangan-tangan Arumi melingkar di pinggangnya. Inikah rasanya jatuh cinta?


"Mau kemana kita, Ethan?"


"Rumah Hantu!"


"Jam segini?"


"Hantunya baru eksis jam segini setelah dipancing jiwanya dengan banyak mantra berulang-kali."


***


Kirim vote-nya dong....


Ada Reinha, ada Francis. Ada Arumi yang bingung, Ada malam pertamanya Abner. apakah mereka berhasil atau gagal lagi? Silahkan readers pilih mau kisah siapa yang aku tulis lebih dulu di chapter bonus.


Aku akan perbaiki chapter ini besok ya. aku nulisnya buru-buru, baru balik dari luar kota....