
Reinha pergi ke Puri Luciano pagi itu setelah selesai sarapan. Meskipun tak ada Lucky Luciano di sana, ia ingin Francis membawanya menemui bayi September, ingin sekali melihat keadaan si bayi. Entah ada apa dengannya? Ia ingin lakukan sejak lama tetapi sangat sibuk di sekolah. Juga belakangan ia sibuk di pinggiran kota, memasak makanan di dapur umum yang dibangun tim layanan sosial dan bagi-bagikan kepada tunawisma juga orang lain yang butuh makanan hangat sebelum beranjak tidur.
"Francis, aku akan pergi melihat bayi September hari ini!"
Ia bicara pada Francis yang kebetulan ada di Puri, ekor mata bergerak ke kamar Lucky di lantai dua. Ia rindukan suaminya dan tak ada satupun kata mampu ekspresikan perasaanya.
Reinha kunjungi Lucky di penjara. Kekasihnya itu terlihat sehat bahkan udara penjara buat ia bertambah tampan. Adakah seorang pria yang sangat luar biasa memikat dengan pakaian seragam tahanan? Suaminya lebih mirip model untuk kostum tersebut ketimbang narapidana sungguhan. Mereka tak banyak bicara bahkan hanya bicara dua kalimat.
"Aku sangat mencintaimu. Aku merindukanmu."
Selebihnya Reinha menyangga dagu dan mereka hanya saling menatap dengan beberapa kedipan saja, hingga jam kunjungan habis lalu Lucky mengusirnya pergi dari sana. Tak ingin Reinha lihat ia pergi ke balik penjara.
"Reinha?! Ini kejutan kau mampir kemari," sapa Claire tampak sangat gembira walaupun agak cacat saat melongok ke belakang punggungnya seakan berharap ada orang lain bersamanya.
"Apa kau menunggu seseorang, Claire?" tanya Reinha penuh selidik. Apa Claire mencari Augusto?
"Oh tidak, hanya ..., sungguh kejutan kau berkunjung," jawab Claire menggeleng.
"Aku ingin Francis mengajakku melihat bayi September, kurasa aku ingin tahu keadaanya," ujar Reinha. "Tapi sebelum itu, aku akan pergi ke ruang atas," katanya lagi agak galau.
"Eh, tentu saja. Kamar hanya dibuka untuk dibersihkan. Setelah itu ditutup dan merana menunggu tuannya kembali. Turunlah setelah kau lepas rindu, ada strawberry cakes yang sangat enak, aku akan siapkan untukmu."
Reinha mengangguk. "Jika berlebih, tolong siapkan juga untuk September, ya!"
Claire terlihat keberatan tapi hanya iyakan saja. Ia dan Francis saling pandang, sama-sama tak bisa sembunyikan kekaguman.
"Kau kemari beberapa bulan lalu dan menggigit Lucky di ruang atas. Aku tak menyangka, hari ini kau kemari sebagai istrinya." Claire bernostalgia.
"Hubungan kita sempat renggang waktu itu, Cla," balas Reinha. Rautnya sedih ingat pada Lucky Luciano. Mereka lewati banyak hal manis dan sekarang ia hanya mengisi dirinya dengan rindukan pria itu. "Aku merindukannya."
"Kakakku beruntung miliki dirimu sebagai istrinya. A lot of Lucky."
Reinha tak ingin tahu kasus terbaru Lucky Luciano sebab hanya akan buatnya bertambah nyeri pikirkan pria itu. Ia melangkah ke ruang atas, lewati ruangan di mana Seoza dan Lucky pernah berpesta minuman keras. Hari di mana ia temukan Lucky Luciano tanpa atasan. Ia sampai di kamar Lucky, mendorong pintu dan aroma glacier pria itu terhirup mengisi paru-parunya. Bersandar di pintu kamar setelah pintu tertutup, ia meneguk ludah dan pandangannya buram. Apakah mereka akan berpisah selama lima tahun? 10 tahun? Ia mendengar banyak gosip bahwa akan ada pihak yang menentang Irish nanti di pengadilan untuk ringankan suaminya. Lucky memang terkenal akan kehidupan dan gayanya yang urakan tetapi lebih dari itu banyak beranggapan; Lucky Luciano adalah dewa penolong bahkan ia lebih populer sebagai seorang dermawan dibanding pecinta wanita.
Reinha pergi ke ranjang, Lucky pernah memeluknya setelah malam suaminya diberi obat perangsang dosis tinggi oleh Valerie. Ia berbaring di sana, pejamkan mata sebentar, biarkan bara-bara rindu makin merah sebelum bernyala-nyala.
"Baiklah, 10 tahun, 100 tahun, 1000 tahun, aku akan menunggumu," kata Reinha tak mampu bendung gejolak yang berkecamuk di hati. Ia sangat-sangat rindukan pria itu. Reinha bangkit dari sana, tinggalkan separuh hati tetap berbaring untuk rasakan aroma Lucky Luciano. Ia turun ke lantai satu dengan mata sembab dan makan sedikit cake untuk menghibur hati yang gundah gulana.
Francis mengemudi dengan tenang keluar dari kota. Claire dan Reinha di belakangnya. Reinha membawa box berisi perlengkapan bayi dan Claire memangku box berisi strawberry dessert yang aromanya membaui satu mobil.
"Apakah keadaan September membaik, Francis?" tanya Reinha ingin menepis galau. Mereka lewati setapak dipenuhi pepohonan Pinus, terantuk-antuk di jalanan bebatuan. Cukup lama.
"September menderita sindrom baby blue, Nona. Ia tak bisa kendalikan dirinya sendiri. Jadi, aku mengurungnya di vila."
"Maksudmu stress pasca melahirkan?" tanya Claire.
"Ya, ia sepertinya depresi karena cintanya pada Tuan Lucky tak terbalas, lalu bayinya lahir prematur, ia menjadi hilang akal. Tetapi lebih dari itu ia merasa tertekan karena akan menikahiku."
"Apa tak ada cara lain? Kau tak perlu lakukan itu, Francis!" keluh Reinha dan Claire mengangguk.
"Posisi Bos kurang menguntungkan, kita tak bisa tambahkan skandal September ke dalamnya. Aku akan menikahinya untuk berjaga-jaga jika Irish menyerang. Meski aku ragukan itu sekarang sebab Tuan Abner beritahu aku bahwa Irish Bella diserahkan Tuan Elgio Durante pada sepupu terdekat Nyonya Salsa Diomanta, Hellton Pascalito."
Reinha terperanjat heran. "Apa maksudmu, kakakku serahkan Irish pada seseorang bernama Hellton?"
"Ya, Tuan Elgio dan Tuan Abner sembunyikan Irish Bella atas permintaan Irish ...."
"Apa kedua orang itu sudah gila? Apa Marya tahu?"
Mata Reinha menyempit, Marya dan Elgio tak terlihat marahan berarti memang tak ada masalah. Berani sekali Elgio sembunyikan Irish, meski Irish ada di pihak yang benar, Elgio harusnya tidak menurut saja. Bagaimana jika ia terjebak Irish?
"Situasinya membaik, Irish menghilang beberapa hari ini. Ia bahkan tak muncul di televisi sebagai pewarta berita seperti yang sering ia lakukan."
"Oh, yang benar saja. Bagaimana jika Elgio dituduh sembunyikan Irish? Bukankah sangat beresiko?"
"Tuan Hellton telah amankan Irish, Nona."
"Apa maksudmu amankan?"
"Emm, aku tak tahu pasti. Kurasa Tuan Hellton membungkam Irish!"
"Wanita sombong itu? Aku penasaran pada Tuan Hellton."
"Pria itu sangat tertutup, Nona. Beliau salah satu CEO ternama dari sebuah perusahaan susu murni terbesar di negara ini, tetapi ia juga sama-sama member Familly Club sama seperti Tuan Lucky. Bahkan Nyonya Salsa dan Sunny sangat merahasiakan keberadaannya. Ia tak sembarang terekspos."
Oh terserahlah, ia tak peduli pada Irish. Lagipula Lucky bukan lagi member Familly Club'.
Sebuah Vila tampak di antara perbukitan, hanya berisi hamparan rerumputan hijau yang sedikit menguning karena kemarau panjang. Bangunan batu bata merah beratap genteng dan sedikit halaman berdiri di tengah-tengah suasana yang asri.
"Apa di sini tempatnya?" tanya Reinha.
"Iya, Nona."
"Ini tempat persembunyian kami, Reinha. Lucky sering selundupkan aku di sini jika ia lagi sedang bermasalah dengan mafia lainnya," tambah Claire. "Ayo turun!"
Mereka turun dari mobil. Samar-samar terdengar deru air mengalir, sepertinya ada sebuah sungai dekat-dekat sini. Tempat yang sangat nyaman untuk berlibur. Reinha langsung jatuh cinta pada suasana hening yang sejuk itu. Seorang asisten rumah tangga hampiri mereka dengan wajah panik.
"Ada apa?" Francis mulai was-was.
"Tuan ..., Nyonya menghilang," kata si pelayan dengan raut cemas dan ketakutan.
"Hilang?" tanya Francis heran. "Bagaimana bisa hilang? Bayinya?"
"Bayi Anda baik-baik saja, Tuan. Hanya saja Nyonya ...."
Pria itu sapu pandangan sekitar vila. Di sini hanya perbukitan rumput luas, September punya keahlian baru. Kabur darinya. Dua bukit setelah vila ada hutan Flamboyan juga jembatan tua yang telah rusak parah dan sebuah sungai. Apa dia pergi ke sana? Francis mendesah jengkel.
"Aku akan mencarinya. Anda bisa di sini, Nona Reinha." Tanpa menunggu jawaban Francis berlari kencang ke arah belakang vila.
Ia tak perhatikan ternyata Claire berlari di belakangnya. Reinha pegangi dadanya akibat mendaki bukit.
"Oh wanita itu menyebalkan," keluh Claire sama sepertinya kehabisan napas. Francis di kaki bukit, berlari dengan langkah panjang.
"Hei, lihatlah dia! Pria itu tak pernah peduli pada siapapun kecuali pada kakakku, aku, kini dirimu dan ... " berdecak, "aku mencium aroma jatuh cinta."
Reinha mengatur napas. "Cinta di mana-mana. Di matamu juga. Apa kau berharap Augusto datang bersamaku tadi?"
Claire cemberut. "Tidak, lupakan!"
"Kau tahu bahwa Augusto mengurusi neneknya yang sedang sakit?"
"Kurasa dia berbohong, Reinha. Dia pergi untuk menikahi wanita pilihan neneknya," sahut Claire. "Seorang gadis desa santun."
"Kalian benaran berkencan? Kau dan Augusto?"
"Ya, tapi itu sudah berakhir. Kami berciuman di depan jalan Durante Land seperti kata Abram. Tapi itu akhirnya."
"Oh, ya ampun." Mereka turuni bukit. "I am so sorry, Cla."
"It's okay. Aku akan pergi ke universitas dan berkencan dengan senior paling tampan di sana," seru Claire terdengar ceria.
"Semoga saja," angguk Reinha. "Ngomong-ngomong, kalian sangat beruntung miliki, Francis."
"Kau benar," angguk Claire, "Oh Me Deus, apa yang terjadi?" seru Claire saat mereka mendekat ke jembatan rusak, September tampak di atas sana di antara beton-beton yang terkoyak. Sebuah jembatan terbelah dua, satu sisi menukik tajam menantang langit sedang tengahnya terdapat celah yang sangat besar.
Francis lompati pembatas peringatan pergi pada wanita yang tampak tak ingin hidup itu. Claire juga Reinha saling tatap, cemas.
"Oh dia banyak drama, Reinha. Jika ingin mati, dia bisa saja lompat dari tadi, mengapa dia menunggu Francis datang? Dia mungkin ingin Francis saksikan dia mati agar bisa menyiksa pria itu," desah Claire di antara napas memburu, benci, kesal dan wajah gelisah.
"Mari kita pergi ke bawah jembatan, jika dia benaran melompat, ku rasa kita bisa menahannya."
"Airnya sangat deras, Reinha. Kau tahu alirannya sangat kuat. Tak ada yang tahu di mana ujungnya." Claire menahan tangan Reinha.
Sementara Francis berusaha membujuk September.
"Dengar, aku akan penuhi semua keinginanmu!"
"Aku tak ingin menikahimu," kata September.
"Baiklah, kita tak akan menikah. Aku janji!"
"Biarkan aku pergi bersama bayiku!"
Wanita itu bicara lagi. Francis berpikir sejenak, mengangguk cepat saat September makin ke tepi jembatan.
"Baiklah, kau boleh bawa bayimu juga! Aku janji!"
"Kau tak akan bohong padaku, kan?"
Francis mengangguk lagi. Ia berjanji, "Ya, Septie! Aku bersumpah tak akan bohong! Aku bisa bawa kau pulang pada kehidupanmu dan aku bisa jalani kehidupanku sendiri. Terus terang aku juga keberatan menikahi wanita yang tidak waras."
"Ya, kau benar, aku tidak waras. Oleh sebab itu, kau akan bawa kami pulang hari ini ke kota, kembalikan aku dan jangan ganggu aku!"
"Baiklah Septie! Kemarilah! Kau akan melompat dengan hati-hati dan aku akan menangkapmu? Lalu, kita akan kembali ke vila, kau bisa berkemas dan pulang."
Septie mengangguk, percaya pada Francis. Namun, ia cepat pesimis pada jembatan patah bercelah cukup lebar sedangkan air mengalir di bawahnya. Bagaimana wanita itu bisa pergi ke sana tapi tak tahu jalan kembali? Entah apa yang merasukinya?
"Jangan lihat ke bawah, Septie! Melompatlah dengan kuat, ya!" pinta Francis. Marahi wanita itu hanya bikin keadaan akan jadi rumit untuk mereka. "Melompatlah dalam hitungan ketiga ... kau bisa?" tanya Francis lagi. Jika ia lompati pecahan jembatan ikuti Septie pergi ke seberang, bagaimana nanti ia akan bawa Septie kembali? Mereka akan terjebak di sana. Sepertinya setelah Septie menyeberang tadi, jembatan itu rubuh sebagian, menganga makin lebar.
Francis mulai menghitung dan September segera melompat, tak cukup kuat untuk mendorong tubuhnya sendiri sebab kakinya berpijak di seberang di ujung jembatan yang rapuh dan Francis tak cukup cepat untuk menjangkau tubuh September. Wanita itu jatuh dan Francis hanya sempat meraih tangan September. Beton-beton tajam langsung merobek jas yang pria itu kenakan, menancap lengannya. Ia abaikan sebab lebih dari itu ia hanya fokus selamatkan September.
"Francis, aku tak bermaksud bunuh diri. Aku hanya ingin kau lepaskan kami, jangan biarkan aku mati. Bagaimana dengan bayiku?" September menjerit histeris dan memeluk pergelangan tangan Francis erat-erat takut pria itu melepaskannya.
"Baiklah, jangan cemas! Aku akan menarikmu. Kau hanya harus berjanji tak akan ulangi hal ini lagi," kata Francis berusaha tenang tetapi tak bisa dipungkiri napasnya tersendat-sendat. Ia tengkurap di pinggir jembatan dan sodorkan tangan lainnya untuk menggapai September, meski itu berarti kedua lengannya siap dirajam besi-besi sisa jembatan yang mencuat di bibir jembatan yang patah. Tanpa ampun darah mengalir dari lengan-lengannya menetes turun dan itu buat pegangan September padanya mulai licin.
September makin ketakutan di kolong jembatan.
"Dengar Septie, pergilah ke bawah dan aku akan menyusulmu. Aku janji!"
"Tidak! Aku tak pandai berenang!" Septie meraung ketakutan, pegangi tangan Francis makin erat. Namun, darah mengucur makin banyak banjiri lengan-lengan itu turun ke pergelangan tangan.
"Francis, aku tak ingin mati. Tolong aku!" Ia menengadah dan Francis yang biasanya tak sabaran berkata lembut padanya.
"Percaya saja padaku, aku akan menolongmu. Jatuhkan dirimu dan aku akan melompat padamu!"
September menggeleng ngeri saat menoleh sungai di bawah sana.
"Lihat aku Septie!" paksa Francis. "Percayalah padaku!"
Wanita itu pejamkan mata tepat saat tangannya tak kuat lagi bergelantungan. Ia terjatuh, berteriak menyebut nama Francis sebelum tak terlihat di bawah air. Francis bebaskan tangannya dari besi-besi tajam sebelum terjun ke bawah dari sisi sebelah jembatan.
Tubuh September menyembul di air, hilang muncul, hanyut ikuti arus sungai. Ia coba berenang tapi arus terlalu kuat. Ia akan berakhir di sungai akibat ketololannya sendiri. Tanpa diduga, seseorang pegangi tangannya kuat, bukan Francis tetapi ... Reinha Durante.
"Berpegang saja padaku!" seru Reinha di antara deru air sungai.
Kedua wanita itu mengalir terbawa air sungai. Di ujung sana, sepertinya, aliran air berakhir. Apakah air terjun? Oh tidak, Reinha dengan cepat sadari. Air terlihat berputar-putar di suatu tempat pertanda itu bukan air terjun. Sungai ini anomali alam sedang sisi lainnya adalah sebuah danau yang sangat tenang. Aliran air dari sisi di mana mereka hanyut menghilang dalam pusaran dan apakah airnya kembali ke dalam perut bumi? Reinha merasa lemas seluruh tubuhnya.
"Oh habislah kita, kurasa kau akan senang kita akhirnya berbagi tempat kematian."
***
Wait Me Up, Honey....
Please, Vote Heart Darkness. I Love You So Much, Readers.... Tinggalkan komentar ya, dengan bahasa yang sopan dan baik.