
"Aku akan temani Arumi pendaftaran murid baru hari ini."
Marya berkata berat tanpa membuka mata. Ia masih sangat ngantuk, tetapi ingat janji pada Ibu, ia jadi melek. Setelah percecokkan panjang antara aunty Sunny, Ibu melawan Arumi, akhirnya Arumi yang keras kepala mau ke sekolah untuk mendaftar meski bersungut-sungut. Ia ingin fokus di karir tetapi Ibu menolak mentah-mentah.
"Lagipula, aku dan Reinha akan pergi ke sekolah dan mulai sibuk di kepanitiaan penerimaan siswa baru."
"Sssshhhhhh ... tidurlah!"
Elgio mendekap makin erat, tidak ingin bangun. Omong-kosong jika berduaan bersama kekasih bisa berakhir dengan pelepasan hasrat, tak selamanya, itu tidak terjadi semalam kendati suasana sangat mendukung. Ia hanya memeluk Marya dan Elgio gembira karena lulus atasi gelora asmara yang dikata Abner "menakutkan, maniak".
Ya ya ya Abner, kau terlalu tua untuk merasakan gairah yang berdebar dan menggetarkan. Jadi, kau lurus saja tanpa ombak. Betapa membosankan jadi dirimu.
Semalam mereka minum anggur, tak banyak minum sebab Elgio tak suka minum anggur, koktail atau lainnya. Mereka habiskan semua makanan, sisakan sedikit untuk Dilly dan Azel yang kembali ikutan kemping. Anjing dan kucing itu mungkin juga sudah saling menerima kenyataan sebagai tetangga yang tak bisa menghindar, perlu berdampingan dengan akur. Mereka bahkan berkomplot mengerjai bibi Maribel.
Bibi Maribel buatkan chocolate black forrest yang sangat lezat sebagai makanan penutup. Mereka menikmatinya sambil berpelukan di samping api unggun, hangatkan diri, dengarkan lagu dan menghitung bintang serta sepakat akan sering-sering habiskan waktu bersama di alam terbuka. Oh ... manis sekali.
Mereka juga ciptakan permainan aneh, one cake one kiss, satu suapan satu ciuman hingga akhirnya tidak tertarik pada cake karena mereka sibuk ... ya begitulah! Ketika bibir kekasihmu belepotan cokelat dan kau tak tahan untuk pergi ke sana dan membersihkannya.
Baby, we found love right where we are ....
Cinta itu indah dan sederhana, kerumitan adalah rekayasa manusia. Semoga cinta tidak bersayap dan terbang secara misterius untuk mereka berdua. Kadang hal semacam itu berkelebat di kepala Marya, saat prahara datang, kau mulai egois dan muak pada pasanganmu. Ketika tak ada titik temu dan komitmen hanya sebatas kata. Tidak, jangan terjadi. Ia akan jadi air yang selalu meredakan api amarah Elgio. Bukankah sepasang kekasih mesti begitu? Penyeimbang, saling meredam dan melengkapi sebab tak pernah ada pasangan ideal. Yang benar adalah dua orang yang saling berkomitmen, naik satu kapal bersama di bawah naungan bendera satu visi-misi.
Tak akan terjadi hal buruk sebab ia mencintai Elgio seperti helaan napasnya dan tak berhenti bersyukur Tuhan ciptakan Elgio untuknya. Berkat cinta Elgio, Marya tak perlu gelisah akan hari esok. Kecemasan, ketakutan pergi selama Elgio di samping memberi dukungan. His love so beautifull.
"Untuk semua cintamu, terima kasih banyak Elgio Durante. Terima kasih karena telah mencintaiku, apa adanya."
Marya bicara di dada pria itu pada kancing-kancing kemeja yang tertambat. Elgio masih mengantuk untuk menjawab, biarkan jemari Marya menyusuri kemeja lalu pada wajahnya. Raut sangat tampan Elgio sangat sempurna dan indah. Terasa lengkap sebab Elgio tak pernah jatuh cinta pada gadis lain, pria itu menunggunya selama bertahun-tahun. Marya berbusa seperti detergen dalam putaran mesin cuci setiap memikirkan Elgio, ia melambung padanya lagi dan lagi.
Burung-burung mulai terbangun ... berkicau riuh rendah ... seakan melafal mantra memanggil si bola raksasa cepat merayap naik, benar-benar pecahkan kesenyapan pagi. Marya betah susuri rahang tajam Elgio yang justru saat marah terpahat jelas, pada dagu runcing dengan sedikit belahan; karakter autentik wajahnya. Sungguh sangat tampan.
Marya mengingat waktu yang telah berlalu saat ia hidup dalam kesakitan dan penderitaan karena setengah sosiofobia-nya sampai Elgio datang menyelamatkannya. Ia pejamkan mata dan mengucap doa, semoga Tuhan selalu melindungi Elgio dan tidak pisahkan mereka sebab ia tak akan sanggup hidup tanpa Elgio.
"Apa kita perlu bangun sekarang?" tanya Elgio saat Marya gelisah dalam pelukannya. Ia mendesah malas.
"Um, aunty akan mengantar Arumi dan aku akan menunggu di sekolah. Lagipula aku harus pergi sekolah bersama Reinha. Ini pertama kalinya aku ke sekolah tanpa hoodie."
"Baiklah, mari kita bangun meskipun aku ingin memelukmu seharian. Aku juga harus ke sekolahmu untuk materi seminar daring, jadi kita akan pergi bersama."
Semoga Lucky Luciano terlalu sibuk untuk datang, mood Elgio benar-benar terganggu melihat Lucky Luciano.
***
Mereka pergi ke sekolah 45 menit kemudian sebab Reinha berangkat pagi-pagi tanpa sarapan, cuma tinggalkan pesan agar Marya segera menyusul. Pagi yang menyenangkan jika saja pemandangan di depan sekolah Marya tidak memprovokasi Elgio.
Yup ....
Lucky Luciano bersandar pada mobil, kenakan kaca mata hitam, abaikan tatapan pengunjung sekolah yang tertarik padanya, berdiri dengan gaya khas dan memikat, fokus ke depan. Ia menunggu seseorang ... dan seseorang itu adalah ....
Reinha Durante, adik perempuannya.
Reinha separuh berlari pada Lucky dengan wajah bersinar cerah kalahkan mentari pagi. Ia melompat ke dalam pelukan Lucky yang langsung sigap menangkapnya. Mereka berpelukan seperti sepasang kekasih yang saling melepas rindu. Elgio berdecak, keningnya berkerut, satu alisnya terangkat sangat tinggi. Seperti prediksi diawal, Reinha telah terjebak pada pesona jantan pria itu. Elgio kembali berdecak. Sementara ia sibuk, adiknya bermain-main dengan penjahat itu. Lihatlah mereka, kasmaran berat. Lebih lucu lagi, keduanya tak sadar pada kedatangan mobilnya. Dunia milik berdua, hal lain tak penting, termasuk kakak laki-laki dan mobilnya yang mendekat.
"Elgio ... " panggil Marya memegang tangan Elgio memaksa Elgio berpaling. Mata kelabu pria itu benar-benar mendung. Marya langsung menebak isi hati kekasihnya. Sementara Elgio tersenyum kecil, pasrah.
"Turunlah Honey, tunggu aku di luar!"
"Baiklah ... " jawab Marya was-was melihat raut masam dibalik kemudi itu. Elgio akan memanggilnya "honey" saat suasana hatinya tak tentu. Hal itu, beri tanda pada Marya untuk segera mengendalikannya.
Tanpa diduga Elgio menginjak gas kuat dan sengaja menabrak belakang mobil Lucky dengan keras hingga buat mobil Lucky terlontar ke depan.
Bruuuuukkkkk ....
Kedua orang yang sedang mabuk cinta, sangat terkejut lalu menoleh padanya. Bisa ditebak kelanjutannya. Reinha memucat dan mati kutu seperti tikus basah kecebur air. Sementara Lucky terperangah untuk beberapa waktu sebelum tetap tenang tanpa emosi, ia malah menggenggam tangan Reinha erat, menarik gadis itu merapat. Bibirnya bicara.
"Tenanglah, Enya! Lebih baik ketahuan. Kau tak akan bisa terus back-street." Lucky menengok Reinha yang gelisah, "Kalian itu pemarah sekali, ya?!"
Elgio turun dari mobil dan Marya cepat-cepat menyusul dari belakang. Melingkari lengan Elgio kuat, coba tenangkan pria itu.
"Hai, Dik. Tak menduga aku akan datang dan melihat drama romantis pagi-pagi?" tanya Elgio kalem.
"Ka, Ka-kaaakkk ... a, aa-ku ... ka-kaami ...." ujar Reinha terputus-putus.
"Sudah sarapan, Enya?"
"Ka, ka-kaaak ... ak ak aku ... em, ka-kaami -" Masih tersendat-sendat. Mengapa ia bodoh sekali tidak mengenali mobil kakaknya? Itu gara-gara Lucky alihkan dunianya.
"Kami berkencan ... " sambung Lucky tenang buat yang mendengar terpana termasuk Reinha yang melongo padanya. Lucky lepaskan kaca mata dan bicara lurus pada Elgio. Saatnya berterus - terang.
Elgio menatap Lucky sementara Marya makin erat memeluk lengan Elgio.
"I am so speechless," guman Elgio merespon pengakuan Lucky Luciano. "Aku akan menunggumu di D'Gym Muay Thai nanti sore. Datanglah! Kita akan bicara sambil sparing."
Elgio mengundang, ia tersenyum mematikan. Tangan Marya diturunkan dan digenggam kuat coba alihkan fokusnya.
"Ka, kakak ... ?!"
"Kau boleh ikut, Enya! Aku berdoa dia ... " mengangguk ke arah Lucky, "tidak menyakitimu. Dia tahu akibatnya jika adikku sampai terluka ...."
Lalu Elgio mengangguk pada bagian belakang mobil Lucky yang penyok seakan bilang "kau akan bernasib seperti mobilmu malah mungkin lebih buruk". Nada itu terurai penuh kecaman, diutarakan mendalam dan serius, dingin serta mengancam.
"Tidak mau bareng?" tanya Elgio lagi, "Bukankah kita harus menghadap kepala sekolah untuk mengatur jadwal? Honey bawa Enya!" Menatap Marya.
Elgio beralih tanpa ekspresi saat melihat Reinha yang hampir menangis.
"Enya ... ada apa dengan wajahmu? Kita akan bicara nanti di rumah. Apa aku melarangmu jatuh cinta?"
"Aku mencintainya, Kak." Suara adiknya memelas. Pernyataan itu membuat Lucky menoleh pada Reinha. Karakter gadis itu memang luar biasa dan dia kekasihnya. No one like her.
"Baiklah, Enya." Elgio kedipkan bahunya mencoba bersabar.
"Kakak tak boleh menyakitinya!" seru Reinha lagi, napasnya memburu cepat.
"Ya, baiklah. Meski begitu, bukankah tetap harus ada 'masa orientasi'?" Menatap Reinha tajam. "Aku Kakakmu ..., jadi aku akan lakukan itu pada kekasih adikku. Aku hanya jalankan tugas melindungi adik perempuanku."
Elgio berkata kalem, wait ... pria itu menyeringai pada Lucky. Senang bisa memelintir batang leher Lucky nanti sore. Gambaran Lucky Luciano berkeliaran dengan gips di leher dan wajah jantannya tak berbentuk ... Elgio berapi-api ... ia akan menghajar pria itu sebagai peringatan dini jika ia berani sakiti Reinha.
"Ya ... aku datang untuk itu," jawab Lucky tanpa kedip. Dan untuk adikmu yang sudah buat aku tak bisa tidur. Lucky bicara dalam hati.
Betapa Reinha telah mengacaukan ia sepanjang hari. Lucky terjaga hingga pagi sebab bayangan Reinha mengikutinya, menyesal telah tinggalkan Reinha di bukit. Ia berlarian seperti orang gila sebab pikirnya Queena akan bunuh diri dan terkejut saat Queena mengerut dan berkata seakan ide Lucky soal bunuh diri sangat tidak masuk akal, "Aku hanya sedang menenangkan diri."
"Baiklah, ayo kita pergi bersama ... " ajak Elgio buyarkan lamunan Lucky.
"Em, tidak," cegah Reinha cepat. "Bagaimana kalau Kakak duluan saja?"
Kekasihnya yang berandalan itu suka memancing Elgio dan Kakaknya yang pemarah mudah terpancing. Di mata Elgio, Lucky butuh dilenyapkan, pemikiran Reinha dulunya ... sebelum ia jatuh cinta pada Lucky Luciano. Reinha tak percaya mereka berdua akan selamat sampai ruangan Kepala Sekolah tanpa buka jurus. Ia tak akan menanggung malu jika sampai terulang lagi.
"Terserah padamu, Enya," sahut Elgio membaca kekuatiran adiknya. Reinha yang tangguh telah benar-benar terpikat pesona Lucky Luciano, sayang sekali. Elgio mengatur pertemuan bisnis untuknya dan Gustav tetapi Reinha batalkan secara sepihak, ia tidak tertarik pada Giuseppe Gustav.
Elgio menarik Marya dan pergi lebih dulu. Genggamannya pada Marya makin kuat, ia mencium tangan itu dan menaruhnya dalam saku mantel. Sementara Reinha hembuskan napas, ia hampir mati kehabisan udara.
"Hei, tenanglah!" Lucky masukan kedua tangannya di saku celana. Jika tidak ia akan menggenggam Reinha dan bisa jadi memancing Elgio untuk murka.
"Doamu terkabul, Elgio akan hancurkan wajahku mungkin juga otak kecilku akan tercecer dalam arena tinju," seru Lucky pura-pura muram.
"Ya. Kau harus segera memesan hidung palsu," ujar Reinha bukannya prihatin malah meledek Lucky.
"Tidak akan terjadi, Enya."
Ia bisa mati-matian membela diri, keluarkan seluruh keahlian bela diri dan balas menyerang Elgio tetapi ... ia akan ikuti permainan Elgio dan cari aman. Ia akan membaca situasi.
"Apa gadis itu ... kekasihnya?"
Reinha mengangguk, mereka bersejajar ke sekolah.
"Marya Corazon ... istrinya. Mereka akan menikah Minggu depan jika tak ada hambatan."
"Gadis yang sekelasmu, bukan? Yang agak aneh dan mencium Elgio di kelas waktu itu?"
"Ya ... "
"Wajahnya mirip Puteri seseorang."
"Benarkah?"
Reinha terdengar murung sebab gelisah Lucky akan dihajar Elgio. Seakan tahu sesuatu sedang berkecamuk di dalam diri Reinha, Lucky menenangkannya.
"Kau tahu, Enya .... Namaku sebenarnya bukan Lucky."
"Ha?!" Reinha berhenti melangkah.
"Ya, nama asliku Salvatorez Luciano. Suatu ketika, aku pernah disergap dan diserang secara membabi buta dengan belati hingga nyaris tewas. Aku lalu selamat. Beberapa hari kemudian, aku diincar sniper dan nyaris tewas tetapi lagi-lagi aku selamat. Orang-orang menjuluki aku 'beruntung' sebab berhasil lolos banyak kali dari kematian. Jadi, aku dipanggil Lucky ... Salvatorez Lucky Luciano. Kau tak perlu cemas, aku akan hadapi kakakmu dan ikuti keinginannya."
Aku juga senang namaku Lucky sebab aku sangat beruntung dicintai seorang gadis hebat sepertimu.
Mereka masih mengobrol di depan ruangan tempat siswa baru akan mendaftar. Terkejut ketika tiba-tiba seorang gadis berlari dan berteriak senang melihat Lucky.
"Kakak ... ?!"
Arumi sampai dengan cepat dan berjinjit memeluk Lucky.
"Mengapa kau di sini, Kak? Apa kau mendaftar jadi murid baru juga?"
Sunny Diomanta menyusul dari belakang setengah pincang.
"Kejutan menyenangkan ... " sindir Sunny.
"Aunty ... kau sudah di sini?" tanya Marya dan prihatin melihat Sunny yang agak susah melangkah.
"Aruhi ...."
"Harusnya biarkan saja Arumi kemari seorang diri, dia itu bukan anak 5 tahunan, kakimu pasti sakit. Bisakah kau duduk saja ... Aunty ..., di ruang tunggu?"
"Berhenti menyudutkanku, Kak!" bentak Arumi gusar. Ia membelalak pada Marya yang tak indahkan tingkahnya.
Lucky mengernyit, ia berdecak. Jadi, ini Aruhi ... istri Elgio Durante dan Puteri Salsa Diomanta? Apakah itu pertanda perseteruan telah berakhir?
"Sedang apa di sini?" tanya Sunny pada Lucky keheranan.
"Ya, Kakak sedang apa di sini?" Arumi bergelayut manja pada Lucky sementara Reinha tiba-tiba ingin menarik rambut Arumi. Gadis itu sangat mirip Marya tetapi kelakuannya berbanding terbalik.
"Aku sedikit ada urusan ... " jawab Lucky tak berpaling dari Reinha. Ekor mata Sunny mengikuti Lucky. Ia mencibir pada Lucky.
"Hai Reinha ... senang bertemu denganmu lagi," sapa Sunny. Dugaannya benar, Lucky Luciano terpikat pada adik perempuan Elgio Durante dan bodoh sekali ... ia tak menutupinya sama sekali. Orang berubah karena cinta buta.
"Umm, akhirnya kalian berhasil temukan Aruhi. Semoga kalian tidak membuatnya menderita," kata Reinha tanpa basa-basi.
Sunny tersenyum kecil. Reinha terlalu blak-blakan.
"Reinha ... Marya ... apakah kalian akan terus mengobrol? Dan ... Anda Tuan Lucky, Kepala Sekolah menunggu Anda."
Ethan Sanchez melongok dari pintu dengan setumpuk map di tangannya.
"Aku pergi ...." Reinha melambai pada Lucky, melirik pada lengan-lengan Arumi yang melingkar pada kekasihnya. Berapa banyak lagi wanita yang begitu dekat dengannya? Kemarin Queena, hari ini Arumi, besok siapa lagi? Sementara Lucky berdiri kikuk.
"Aku juga Aunty ... kami belum buka loketnya. Aunty bisa menunggu sebentar, ya." Marya bicara lemah-lembut sedang Arumi terlihat sangat tidak menyukai kakaknya yang seperti malaikat.
Jadi, jika Elgio Durante beruntung punya istri seperti bidadari maka Lucky Luciano juga sangat beruntung memiliki kekasih rupawan berkarakter langka seperti Reinha Durante.
Hanya saja ... apakah nasibnya bersama Reinha akan seberuntung Elgio dan bidadarinya?
***
Aku selalu merasa gak enak hati sebab gak balas komentar Readers satu-persatu. Maafkan aku, ya... sebagai gantinya, aku akan selalu persembahkan chapter terbaik untuk kalian.
Jangan lupa tinggalkan like, komentar, jika kalian merasa Novel ini bagus, kirimkan aku vote tiap hari Senin. Tau gak komentar Reader benar-benar buatku semangat nulis.
Jao Mora NeƩ Miu (I Love You, always)