
Elgio dan Abner terpaku di pintu, berdiri berseberangan dengan raut muram. Tidak menyangka, mereka akan berakhir di ruangan paling privasi di Paviliun Diomanta.
"Kau seperti menunggui seorang istri," kata Elgio pada Abner tanpa gairah. Abner tak menyahut, sibuk dengan pikirannya sendiri. Ini pertama kali Abner terlihat sangat kacau. Bagaimana tidak ia baru saja menabrak Sunny?
Mereka berdiri berhadapan di depan pintu ruangan Sunny dan Salsa, sedangkan Marya di dalam kamar Salsa, menunggui wanita yang sedang terlelap itu dengan setia. Marya terus mengelus wajah Salsa di antara selang-selang infus, bicara tanpa henti padanya. Pengakuan Salsa sepertinya telah menutup segala penyakit jiwa yang diderita Aruhi. Ia mengampuni Salsa untuk urapan penguatan pada penderitaan wanita itu. Gadis itu benar-benar berhati malaikat. Meski demikian, Aruhi menolak namanya. Ia ingin gunakan nama Marya Corazon seperti yang diberikan Ayahnya sekalipun ia tak keberatan dipanggil Aruhi.
Elgio berhenti mencemaskan Marya setelah melihat kondisi buruk Salsa sementara Abner menunggui Sunny yang sedang diperiksa dokter, merasa bersalah karena membuat wanita itu terluka meskipun ia benar-benar tidak sengaja.
Pintu kamar Sunny dibuka dari dalam dan dokter keluar dari sana. Abner tegapkan tubuhnya.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?"
"Kita akan tahu pasti setelah ia menjalani pemeriksaan lengkap di rumah sakit. Nona Sunny mengalami pendarahan internal, itulah mengapa ia muntah darah dan rahimnya ... kemungkinan besar mengalami trauma akibat benturan keras. Ia mungkin akan kesulitan untuk punya anak. Aku harap, Anda membawanya ke Rumah Sakit untuk pemeriksaan lengkap."
Abner tercekat, segitu buruknya? Wanita itu pasti sudah gila dengan menerjang mobil.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Abner ragu-ragu.
"Tentu saja. Kuharap Anda membujuk Nona Sunny untuk pergi ke rumah sakit."
Abner memandang Elgio, sementara yang diminta restu hanya mengangkat bahu.
"Kau selalu tampak sangat kacau bila berurusan dengan wanita itu," sahut Elgio.
Abner menggeleng tanpa daya dan masuk ke dalam kamar Sunny untuk menjenguk. Sunny melihat pria itu masuk, matanya hanya bergerak mengawasi.
"Mengapa tak ada satupun pengawal di rumah ini? Apakah mereka tak tahan denganmu yang sangat superior dan bossy?" tanya Abner membuka percakapan di antara mereka. Suasana sangat canggung. Sunny bersandar di bantal.
"Ini pertama kali seluruh pengawal kusuruh libur. Aku takut kau berprasangka kami sedang menjebakmu dan Elgio Durante, Tuan Abner," jawab Sunny ogah-ogahan.
"Mengapa kau menerjang mobil, kau tak melihat aku sedang berbalik?
Abner melempar tatapan tajam mengintimidasi, tetapi Sunny membalasnya. Tatapan Sunny fokus penuh keberanian pada Abner, seakan berkata "aku tak bisa kau remehkan".
"Aku tak mungkin menonton kau membawa Aruhi pergi sedangkan kakakku sangat ingin bertemu dengan Aruhi."
"Tapi bukan berarti, kau harus melukai dirimu."
Mata Sunny melebar, "Apa kau percaya jika aku hanya berteriak padamu?! Kami benar-benar mencari Aruhi. Kami telah berusaha selama ini. Aku bahkan menyamar menjadi teman kencan buta-mu untuk menemukan Aruhi."
"Kuakui kau sangat gigih. Lalu mengapa Salsa seakan menolaknya saat perjamuan makan malam? Bukankah kami pantas curiga?"
Mata Sunny melemah begitupun nada suaranya, "Kakakku sedang menyiksa dirinya sendiri akibat dosa masa lalu telantarkan Aruhi."
Abner merenungi situasi teraneh dalam hidupnya ini. "Maukah kau ke rumah sakit untuk pemeriksaan lengkap?"
Sunny tersenyum sinis, "Aku harus melihat Kakakku. Apa dia baik-baik saja?" tanyanya sembari turun dari ranjang dan langsung tersungkur saat kakinya mati rasa.
Abner mendekatinya dengan cepat, ingin memapahnya berdiri.
"Pergilah! Aku bisa sendiri," tepis Sunny meraih pegangan sisi pembaringan dan hendak menarik dirinya bangkit, tetapi ia terjatuh lebih keras.
"Jangan keras kepala, Sunny! Kakimu mungkin bermasalah, biarkan aku menolongmu."
"Menjauhlah, Tuan Abner Luiz. Aku hanya berpura-pura sakit untuk mendapat empati-mu," balasnya menyindir. Sunny mengesot di lantai.
"Apa kepalamu terbuat dari batu?!" tanya Abner berdecak sebelum merunduk dan menggendong Sunny.
Mereka keluar kamar dan dapati wajah Elgio yang tercengang. Abner tahu, apa yang akan dikatakan Elgio?
"Mengapa tak ada satupun pengawal di rumah ini? Ya ampun, merepotkan saja," gerutu Abner agak besar sehingga terdengar di telinga Elgio.
Sunny mencibir, "Bukankah sudah kubilang, jika aku menaruh banyak pengawal, Kau dan Elgio Durante akan berpikir ini jebakan."
"Bisakah kau bukakan pintu? Ia akan melihat Salsa," tanya Abner pada Elgio yang mematung di pintu.
"Tentu saja," jawab Elgio kikuk. Aneh sekali, mereka ada di rumah pembunuh Ayahnya. Ibu mertuanya kini, adalah anak pembunuh Ayahnya dan ia akan menikahi Aruhi yang memiliki darah langsung pembunuh Ayahnya. Takdir sungguh aneh.
Abner kembali menemaninya di luar sementara Sunny terdengar mengobrol dengan Marya.
"Kita ada di kediaman salah satu mafia terkemuka di negara ini," bisik Elgio muram.
"Aku sudah menyiapkan berkas file. Sekali pencet, kita bisa mengirim Sunny dan Salsa ke balik jeruji."
"Tidak, Abner. Bisa jadi, aku menyakiti Marya. Apa kau serius akan mengirim Sunny ke penjara? Kau terlihat memendam asmara tersembunyi padanya."
Pertanyaan yang bagus, pikir Abner. "Aku tak sepertimu, Elgio. Menggebu-gebu saat jatuh cinta bahkan Dilly dan Azel sampai tahu kau sedang mabuk cinta. Otakku terlalu canggih hingga cinta tak begitu mempan padaku."
Mereka mengobrol sedikit lalu sisakan keheningan sampai seseorang terdengar menaiki tangga.
Arumi Diomanta Chavez keheranan melihat Abner dan Elgio Durante.
"Apakah sesuatu terjadi pada Ibuku?!" tanyanya curiga. Ia melesat cepat ke depan pintu, tak dipungkiri ia melirik terpesona pada Elgio.
"Ibu?!"
Ia membuka pintu dan terperangah saat melihat gadis lain semirip dirinya duduk di samping Ibunya.
"Apa dia Aruhi, anak Ibu yang telah menyiksa Ibunya selama ini?!"
"Rumi, jaga bahasamu. Aruhi itu kakakmu!"
Arumi tak menyukai Aruhi untuk banyak alasan, termasuk Marya punya sesuatu yang tidak dimilikinya. Aruhi terlihat memiliki hati yang bersih seperti kertas putih dan Aruhi berhasil memikat Elgio Durante. Hal itu membuat Arumi sangat cemburu.
***
Di sebuah perbukitan, Lucky menyaru di antara rerimbunan semak dan Francis meniarap di sampingnya. Mereka telah merangkak di sana seharian sebelum mendapatkan posisi istimewa untuk menembak. Keduanya menunggu Rocco Anthony terlihat di taman kota sambil mempelajari situasi, menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi Rocco.
Rocco Anthony akan bersepeda di sore hari dengan pengawasan yang sangat ketat bahkan sniper runduk berjaga-jaga dari radius 900 meter. Pemerintah sepertinya unjuk gigi, meredam animo publik, menyatakan berhasil menekuk para mafia atau sebagai pesan, Anda akan dilindungi jika Anda berbalik dari jahat menjadi baik, caranya cuma bekerja sama agar pemerintah bisa membasmi kejahatan. Minggu-minggu tenang untuk Rocco Anthony si pengkhianat dan juga para Mafia.
"Taman kota mulai ramai dan target terlihat. Rocco dikawal ketat," ujar Francis mengidentifikasi lokasi.
"Pemerintah melindunginya padahal ia menusuk mereka dari belakang."
Lucky menyetel senjata memasang alat peredam untuk mengurangi hentakan dan kilat yang dihasilkan dari tembakan sembari memperkirakan jalur jatuh peluru. Dari jarak 1000 meter, jarak yang sangat jauh, kepala Rocco sudah terpampang di teleskop. Francis di sisinya mulai merinci kecepatan angin, lintasan peluru dan efek-efek lain yang berpengaruh pada lintasan peluru.
"Mari selesaikan, aku ingin mengencani Reinha Durante. Apa kau sudah siapkan tempat yang nyaman untukku berduaan dengannya?" Ia bicara, gregetan bayangkan akan bersama Reinha nanti malam.
"Ya, Bos. Anda menolak jamuan makan malam dengan Nyonya Valerie. Ia pasti sangat kesal."
"Biarkan Viktor mengurus betina siluman itu."
"Bos benar tetapi Nona Reinha Durante belum menerima undangan kencan Anda. Ia malah akan memenuhi undangan jamuan bisnis dengan Giuseppe Gustav?!"
Waktu yang tepat untuk menembak. Lucky mengatur nafas, mengokang senjata dan bersiap menembak. Di ujung teleskop kepala besar Rocco tiba-tiba lenyap beralih pada wajah cantik Reinha, tersenyum menawan dan menggodanya.
"Francis?!"
"Ada apa, Bos?! Inilah waktunya. Anda harus menembak sekarang."
"Francis?! Pembesaran optik ini memperlihatkan gadisku diujung teleskop. Ada apa ini?!"
"Bos, jangan bercanda! Kita bisa kehilangan dia!"
Lucky menarik napas dalam-dalam dan kembali pada senjatanya. Tak ada yang berubah, Reinha di sudut teleskop melepas blazer, kemeja dan celana kerjanya. Gadis itu berjinjit ke balik selimut dan bergelung di sana. Ia tersenyum menggoda seakan memanggilnya bergabung.
Lucky mengangkat kepala dan mengerjabkan matanya.
"Bos?! Segera lakukan!"
Lucky kembali ke senjata dan ia bersiap. Namun, sebelum ia menembak, sebuah letusan tunggal terdengar tak jauh dari mereka.
DOR!!!
Sebuah peluru melesat kencang dan tidak sampai satu detik, peluru bersarang di leher Rocco tepat di bawah telinga. Merobek bagian itu. Rocco Anthony roboh dengan luka menganga lebar di lehernya.
"Francis?!"
"Bos, kita harus segera mundur. Sniper stalking, Jiuvanni Brusca terlacak ada di sisi barat kita."
"Siapa yang menyewa Brusca untuk mengeksekusi Rocco?"
Mereka mundur perlahan dari sana sebab sumber bahaya ... sniper lawan ..., menargetkan lokasi mereka. Setelah aman, keduanya bergerak cepat ke titik penjemputan.
"Francis, caritahu apa yang terjadi! Siapa yang mengacaukan misi-ku hari ini?!"
Francis ingin mengatakan, Nona Reinha Durante telah mengacaukan Anda hingga misi ini gagal tetapi Lucky sedang sangat marah.
***
Menjelang malam ....
Lampu-lampu Civic Center di Pusat Distrik itu menyala gemerlap di malam hari. Kendaraan lalu-lalang tetapi tidak begitu padat. Orang-orang di kota ini tidak begitu menyukai deru kendaraan, mereka lebih memilih berjalan kaki atau naik bis untuk bepergian.
Di Dream Fashion lantai paling atas, Reinha mendorong gantungan display beroda dengan begitu banyak dress beraneka model ke dalam kamar tidurnya. Kerai jendela telah ditutup sempurna, tak sisakan cela sedikitpun untuk Lucky Luciano bisa mengintainya lagi. Tetapi entah mengapa, ia ingin membiarkan jendela polos tanpa tirai. Kemarin siang, mereka berpelukan di ruang ganti nomer 5 dan ia berdebar oleh Lucky yang sangat tampan. Apa yang terjadi padanya? Ia mengibas jemarinya mengusir Lucky dari sana. Sungguh berbahaya.
Ia mulai fitting berulang kali untuk menemukan dress yang cocok. Empat gaun dan ia merengut, tidak sesuai dengan matanya. Reinha akan memenuhi undangan makan malam dengan Giussepe Gustav. Mereka akan resmi bekerja sama dan melakukan beberapa penawaran menarik untuk bulan depan.
"Aku akan berpakaian biasa saja, jika Lucky melihatku, ia akan berpikir aku seperti orang yang sedang jatuh cinta."
"Apa ini?!" Reinha memutar dirinya di cermin. Ia memakai gaun body shape yang sangat seksi. "Ya, Tuhan. Gaun ini terlalu berlebihan. Kau hanya akan memancing gairah pria lain, dengan dress ketat ini," desisnya jengkel mengutip gaya bicara Lucky Luciano. Ia melepas gaun itu lalu melempar ke sembarang arah.
Setelah bolak-balik menyortir gaun, pilihan terakhir jatuh pada peplum dress navy blueberry bis off white yang memiliki bentuk ruffle di bagian pinggang, berlengan panjang dan leher tertutup. Tidak ada cela bagi pria untuk jelajatan padanya. Itu seperti keinginan Lucky Luciano. Ia menggelung rambut asal-asalan, memoles lipstik seadanya, menyemprot parfum di belakang telinga.
Reinha Durante terkesan imut dan playfull saat tubuhnya terpantul di cermin. Ia memakai boot kesayangannya, meraih clutch dan melangkah dari ruang tidurnya dengan percaya diri. Augusto menyambut di depan lift.
"Apa kau tahu lokasi yang akan kita datangi?" tanya Reinha. Ia memicingkan mata saat melihat Augusto yang tampak klimis dalam balutan setelan jas hitam dan kaca mata gelap.
"Tidak Nona, aku akan nyalakan google maps."
"Bagaimana hubunganmu dengan Claire? Apakah kau serius berkencan dengan Claire Luciano?" Mereka memasuki lift.
Augusto membungkuk, "Tidak Nona."
"Um, baiklah. Kau tampak luar biasa hari ini dengan rambut mengkilap dan wangi-mu ...., aduhai."
"Apa Anda tidak menyukai penampilanku?"
"Oh, itu penampilan terbaik yang kulihat. Kau benar-benar luar biasa mewakili Dream Fashion."
"Terima kasih, Nona."
Mereka keluar dari Dream Fashion pergi ke sebuah restoran yang di share lokasinya oleh asisten Giussepe Gustav.
Mobil melaju pelan ketika memasuki jalan yang agak sepi. Reinha memutar-mutar gelang pemberian Lucky sangat gugup. Gelang yang sangat aneh dan terlihat murahan tetapi berhasil membuatnya deg-degan tiap ingat asal-muasal gelang itu melingkar di tangannya.
"Kau yakin lokasinya di sini Augusto?" Reinha cemas menyadari mereka melaju menuju ke luar kota. Jalanan tampak sangat sunyi menjelang pukul tujuh malam. Pinus terlihat di sisi-sisi jalan menjulang tinggi. Mengapa Giussepe ingin jamuan bisnis di tempat sunyi?
"Nona, sepertinya mobil kita sedang dibuntuti," kata Augusto melirik pada kaca spion. Sebuah sedan hitam mengekor di belakang mereka sejak mereka meninggalkan Dream Fashion.
"Apakah itu Lucky?! Bedebah itu, apakah ingin mengacaukan kerjaanku?"
"Bukan Nona, Tuan Lucky sedang ada kerjaan penting. Aku akan coba menghindar."
"Baiklah."
Augusto menekan gas dan mobil melesat cepat. Reinha mengambil ponsel dan menekan calling pada kontak "UnLucky", tidak tersambung.
"Sepertinya kita berhasil," lapor Augusto dan kembali fokus ke depan. Tiba-tiba ia menginjak pedal rem kuat. Dua buah mobil muncul dari arah berlawanan dan membentuk formasi, berbaris melintang di depan mereka.
Ban mobil berdecit panjang sebelum berhenti sempurna.
"Jangan keluar, Nona! Berpindahlah ke kemudi. Jika sesuatu terjadi padaku, Anda bisa memutar mobil dan berbalik pergi."
"Itu tidak mungkin, Augusto. Kita telah di kepung," sahut Reinha mencoba tenangkan diri setelah memutar kepalanya melihat ke belakang. Meskipun ia terlihat berani, ia tak pernah menghadapi situasi seserius ini. Ia hanya mengancam Lucky dengan Barret M82, kenyataannya ia tak lulus kursus menembak. Ia juga tak selesaikan latihan Muay Thai. Sekali lagi ia memencet kontak Lucky dan tidak tersambung.
"Nona, lindungi diri Anda dengan pistol di ujung sepatu Anda, di bawah karpet."
Augusto keluar dan belum sampai lima langkah, pengawalnya itu ditembak dengan senjata kejut listrik. Reinha membekap mulutnya sendiri. Matanya membeliak ketakutan saat beberapa pria bertopeng menghampirinya.
"Ikut kami, Nona!" perintah seseorang bernada dingin dan menakutkan.
"Siapa kalian? Menjauh dariku!" Reinha menodongkan senjata berusaha tegar dan tidak gemetar.
Namun, moncong senapan terarah padanya dari sisi sebelah jendela. Reinha tak punya pilihan lain selain mengangkat kedua tangan. Senjatanya diambil dan ia turun perlahan dari mobil. Kepalanya tiba-tiba dikarungkan dan sebelum kesadarannya hilang, si pria bicara lagi.
"Bawa dia, Bos sedang menunggu."
***
Well, seperti biasa, Author akan bertanya.
Seberapa deg-degan kah chapter ini?!