
Pagi berikutnya ....
Semua orang berkumpul dan duduk mengelilingi meja makan kecuali seorang bodyguard yang direkrut menjadi asisten Reinha ..., berdiri kikuk di pojok ruangan. Tatapan pria itu lurus ke depan tanpa ekspresi; mematung bak manekin di M23 Fashion. Muka datar itu lahirkan pertanyaan .... Apakah semua bodyguard harus bertampang macam begitu? Ia menolak bergabung padahal Elgio telah memanggil berulang kali.
Di satu sisi meja, Marya Corazon duduk diliputi ketegangan lantaran belum terbiasa dipandangi banyak pasang mata, apalagi tanpa hoodie yang selalu jadi tameng. Tekad membuih awali terapi mandiri dengan membuka diri pada lingkungan sekitarnya menjadi keputusan tersulit ... ia pikir yang pernah dibuat. Ia terus memakan pancakes blueberry sedikit demi sedikit dengan gerakan lamban dan menyembunyikan tangan kiri di atas pangkuan, padahal sepanjang malam ia telah pandangi cincin indah pemberian Elgio itu sampai kantuk mengalahkannya.
Marya tak akan pernah melupakan momen di pagi itu takkala ia duduk amat gugup di samping Elgio sambil menusuki potongan pancakes dengan garpu sementara pikirannya terus-menerus menjerit panik, "Tolong jangan tanyai aku ... tolong jangan melihat padaku!"
Sayang sekali.
"Jadi, selama ini kamu tinggal di hunian Maribel?"
Suara bariton Abner bertanya dari seberang meja tampilkan raut muka tidak senang oleh banyak sebab. Paling mungkin adalah ia merasa telah dipecundangi soal keberadaan Marya selama ini, terlebih Elgio menang taruhan sekalipun 'hadiah' bagi yang menang tak mungkin diambil. Baik Abner maupun Reinha berperilaku sama, menelantarkan pancakes blueberry dan mengawasi Marya dengan antusiasme mencengangkan. Tingkah keduanya membuat Marya tidak nyaman.
"Ehm," guman Marya pelan. Ia mendorong piring sarapan yang telah kosong, dimakan sampai tandas akibat gugup sedangkan pemilik piring lainnya tak tersentuh sama sekali.
Telapak tangan Marya lekas berkeringat dan lidahnya berubah kering, seolah ada bongkahan kapas di dalam mulut yang menyedot habis liurnya. Marya ingin menyelinap ke bawah kolong meja ketika semua mata penuh selidik tertuju padanya ... menunggu - lebih tepat mendesak ia bicara. Elgio perhatikan reaksi Marya segera meraih tangan kiri gadis yang cemas itu, menggenggam kuat beri dukungan penuh hingga akhirnya Marya angkat bicara.
"Um, aku ... ehm, sebenarnya, um. Maafkan aku. Aku tak bermaksud ...."
Bagian akhir dari kalimat tertahan itu menghilang tinggalkan bunyi tidak begitu jelas. Jawaban Marya semakin menambah rasa ingin tahu. Mereka jelas memelototinya kini.
Marya berharap bisa bicara fasih dan tak terbata-bata agar mereka segera beralih pada Elgio, yang duduk di sebelahnya dengan sikap tenang. Namun, dua orang di seberang meja hanya penasaran padanya. Marya menarik napas dalam-dalam mengatur intonasi agar tidak terdengar ngos-ngosan.
"Aku tahu, ini mungkin terdengar aneh bagi kalian ... aku telah tinggal di rumah Bibi Mai - maksudku Bibi Maribel sejak Ayahku meninggal dunia," jawab Marya lirih.
Ia tak berani mengangkat wajah tetapi tak ketakutan, hanya merasa aneh sebab ini pertama kali ia duduk sarapan bersama sekumpulan orang. Maribel tak tahan melihat Marya gelisah sengaja bergabung di ruang makan sembari memegangi dada yang terasa nyeri. Ia berdiri di belakang bangku Marya bersiap jadi perisai. Abner berdecak dan menatap tajam menyambut Maribel. Jidatnya bertuliskan "kau datang juga".
Abner berucap dengan nada dingin, "Ironisnya, aku telah ditipu oleh Asisten rumah ini! Anggota rumah sendiri, pengasuh. Ini semacam konspirasi!"
"Tuan Abner! Anda berlebihan!" Maribel tersudut dan tak sengaja memekik. "Pada kenyataan, Anda tak ingin Tuan Muda benar-benar menemukan Nona, agar Tuan Muda bisa menimba ilmu di luar negeri."
Amarah kecil Maribel membuat semua orang terkejut. Abner tak percaya Maribel baru saja menghardik. Ia menatap geram pada wanita muda itu.
"Setidaknya, kamu harus memberitahuku. Aku mungkin bisa memberinya pengasuhan terbaik," ujar Abner membela diri.
"Baiklah, maafkan aku tentang poin pengasuhan itu. Jika aku memberitahu Anda, apakah hasilnya akan berbeda? Apakah Anda akan memberitahu Tuan Muda tentang keberadaan Nona dan biarkan mereka bertemu?"
Abner tercengang oleh serangan balik itu berikut jutaan kosakata menghitam di langit kepalanya hanya sisakan dua kata "Maribel benar". Abner memang akan menutupi keberadaan Marya untuk menjaga Elgio tetap waras. Lihat saja seminggu ini, Elgio mendadak aneh.
"Kau benar," tukas Abner mengalah.
"Jadi, kalian bertemu saat usia Marya sama sepertiku. Namamu Aruhi? Ini sungguh kebetulan yang hebat, kita dikumpulkan di sebuah ruangan akibat kehilangan orang tua."
Reinha mencincang pancakes blueberry keras, hingga dentingan peralatan makan beradu memaksa semua orang menoleh padanya. Ia menyusun banyak pertanyaan semalam tetapi yang terlontarkan cuma satu, "Namamu Aruhi?".
Marya kagumi ketabahan Reinha Durante. Betapa gadis itu tumbuh kuat tanpa terganggu kekelaman masa lalu. Ia seperti anggrek hutan dari pegunungan stratovolcano di tepi daratan Flores, tumbuh melengket di bebatuan keras tetapi merekah indah di antara ilalang.
"Elgio ... kau terlihat gelisah! Apa kau ingin segera kabur dan berduaan dengan Marya?"
Abner benar-benar kreatif dalam berpikir dan berbicara. Elgio mendelik pada walinya itu, jengkel.
"Aih, kau ini!"
Abner abaikan Elgio dan serius bicara pada Marya.
"Aku tahu kalian mungkin belum puas melepas rindu. Tapi bisakah kalian berhenti saling menggenggam dikolong meja dan beraktivitas seperti biasa? Kekasihmu itu punya setumpuk berkas yang harus dipelajari. Kau bisa bermain bersama Reinha."
Marya tersentak oleh teguran itu lantas segera berdiri hingga bangkunya berderak. Genggaman Elgio terlepas dan cincin berlian yang indah membuat Abner terpana.
"Maaf Tuan Abner, aku juga harus segera pergi bekerja." Marya sedikit membungkuk, meminta maaf.
"Bekerja?" Elgio mendongak pada Marya, "Dimana? Kau tak akan kemana-mana hari ini dan seterusnya!"
"Oh Tidak, Marya," Bibi Maribel ikut dalam percakapan menjurus ke perseteruan itu. "No-na Muda," ralatnya. "Madam Niels telah ijinkan kamu hari ini libur untuk membantuku."
"Bi-bi Mai. Panggil aku Marya!"
"Baiklah, Anda akan bersama saya di dapur sepanjang hari ini."
"Bermain? Memangnya kami anak TK? Aku juga harus pergi bekerja. Aku tak akan ikut makan malam konyol sementara yang dijodohkan telah menikahi teman sekelasku."
Reinha ikut berdiri dan melap mulut. Ia semakin kesal saat bibirnya tak sengaja disentuh lap.
"Hei ... Enya. Kau bekerja di mana?" Elgio kembali bertanya heran, kali ini pada Reinha.
"Aku belajar bisnis manajemen di sebuah perusahaan kecil di kota, Kak. Alih-alih datangkan guru dan pelajari teori, lebih baik aku belajar langsung. Aku akan ikut dalam tim branding atau networking. Setidaknya aku tidak mengantuk oleh angka dan mungkin rumus."
"Jangan lupakan kelas bela dirimu nanti!"
"Tentu saja, Kak. Aku menyayangimu."
Reinha pergi diikuti pengawal sedang Marya mengekor di belakang Bibi Mai menuju ke dapur. Tersisa Abner menyelidiki Elgio yang sibuk memutar cincin di jari manisnya sementara tatapan Elgio tak lepas dari bayangan Marya yang telah lama hilang.
"Kau akan biarkan Aruhi bertemu Ibunya nanti malam?"
***
Dukung Senja Cewen selalu ....
I Love you All .... Ja'o Mora Nee Miu....