Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 76 Elgio Durante & Lucky Luciano....



Lucky bersiap keluar dari ruangan untuk temui Axel dan menjemput Reinha ketika Elgio menerobos masuk tanpa basa-basi, merengkuh kerah pria itu, mendorongnya keras hingga mentok di tembok.


Abner menyusul dari belakang dengan raut tak terbaca, menyipit pada Francis meminta Francis tidak bertindak. Dua pria itu akan bicara.


"Bisa-bisanya kau tenang di sini setelah menyeret kami pada masalah kalian? Kau tahu adikku menghilang pagi ini?!"


Elgio Durante masih dengan kemeja putih, rompi dan celana biru dongker, atribut yang sama saat pergi ke pemberkatan tadi pagi tanpa jas juga dasi, kecuali rambut klasik pompdour yang berubah acak-acakan serta matanya yang sembab dan memerah. Pria itu sepertinya habis menangis.


Tentu saja Elgio Durante terpukul, hari bahagianya berubah malapetaka. Pengantin wanita dan adik perempuannya hilang diculik. Elgio kuatirkan keduanya, meski Reinha adalah gadis yang kuat, pandai Muay Thai dan tak mudah tersakiti, tetapi Elgio tetap cemas, para penjahat menyakiti adiknya. Sedang Marya yang rapuh dan lemah, baru selesai dengan setengah sosiofobia-nya, Elgio pikirkan psikologi Marya. Bagaimana raut ketakutan itu saat berhadapan dengan penjahat-penjahat berwajah kejam? Apakah gadisnya akan baik-baik saja? Ia menggigit bibir bawahnya kuat menahan nyeri di dada, dalam kehampaan, suara Marya terdengar memanggilnya, berseru minta tolong.


"Hei Elgio, kendalikan dirimu! Kau tak akan bisa selesaikan masalah jika terus marah-marah?" Lucky coba tenangkan pria yang tampak semerawut di depannya.


Rengkuhan Elgio pada kerah jaket Lucky, makin kencang.


"Aku tak punya pengendalian diri yang baik sepertimu brengsek, apalagi bila istri dan adik perempuanku diculik di hari pernikahanku." Susah payah mengatur napas dan seakan ia ingin mengunyah Lucky Luciano hidup-hidup.


"Hei pria terhormat! Adik perempuanmu itu ... kekasihku, aku cemaskan dia juga, Elgio! Tetapi saat ini kau butuh tenangkan dirimu!" seru Lucky untuk pertama kali terpancing emosi. "Hanya karena aku tampak terkendali bukan berarti aku tak pikirkan, Enya! Saat panik, otakku tak bekerja dengan baik."


Elgio longgarkan pegangannya pada Lucky, pria itu ada benarnya. Elgio akhirnya lepaskan kerah jaket Lucky Luciano dan mundur beberapa langkah, amati pria itu. Lucky angkat kedua tangannya.


"Baiklah. Maafkan aku. Enya telah ditemukan!"


Elgio tampak terobati. "Benarkah? Di mana? Apa dia bersama Marya?"


"Sayangnya tidak ..., keduanya terpisah saat di terowongan Black Hole. Yang harus kita lakukan adalah temukan keberadaan Nona Marya. Valerie mungkin menyekapnya di suatu tempat."


"Mereka dibawa ke Black Hole?" tanya Elgio terdengar depresi, rahangnya membatu, tangan-tangan terkepal di kedua sisi. Semoga keduanya baik-baik saja.


Tuhan, tolong aku!


"Baik, bawa Enya pulang ke Durante Land! Aku akan bertamu ke Mansion Valerie dan temukan Marya!"


Lucky memegang bahu Elgio saat pria itu berbalik mencegahnya untuk tidak pergi dulu. Elgio Durante tak bisa menyerang Valerie tanpa strategi. Peluit telah ditiup, rencana telah dilaksanakan, walaupun soal Reinha, Valerie blunder tanpa wanita itu sadari. Valerie mungkin berharap Reinha dinodai oleh seseorang tetapi Reinha jatuh ke tangan Axel Anthony yang mengejar Queena. Sesuatu yang tak habis Lucky Luciano syukuri. Jika keperawanan sangat berbahaya dan jadi masalah, maka ia akan tidur dengan Reinha nanti malam saat mereka bersua. Pikir Lucky dangkal. Arwah brengseknya bangkit dan gentayangan kesana-kemari bawa serta Reinha Durante yang polos di atas ranjang dengan jutaan helaian mawar. Jantungnya mulai berdegup aneh.


Fokuslah bodoh!


Sesuatu dalam dirinya memaki. Lucky lekas terbangun dari dunia halusinasi, kedip-kedipkan mata lantas menatap Elgio Durante lurus, berusaha cegah pria itu.


"Kau tak boleh ceroboh! Valerie bukan sembarang wanita!"


"Apa aku peduli?" sergah Elgio. Raut mata Elgio semakin merah menakutkan. "Harusnya tak kuijinkan kau dan Diomanta bersentuhan dengan kami. Aku sesali sekarang! Kau akan bawa Enya kembali!"


"Dengar aku, Elgio Durante! Saat kau bertindak penuh hasutan, Valerie akan dengan senang hati menyiksamu dan sakiti Nona Marya. Jangan ikuti amarahmu!" desak Lucky lagi. Hanya asal bicara, jika di posisi Elgio, bisa jadi ia lebih ganas.


"Valerie tak akan menyentuh Nona Marya, Tuan Elgio. Wanita itu hanya ingin beri pelajaran pada Nyonya Salsa dan Sunny!" Francis akhirnya buka suara. Mereka akan menguras emosi dengan berdebat dan Valerie akan dengan senang hati mengadu domba keduanya nanti. "Jika Valerie berniat jahat padanya, Nona Marya pasti akan masuk dalam bursa yang ditawarkan di situs Black Hole seperti yang dilakukannya pada Nona Reinha," kata Francis lebih lanjut dan segera tersadar oleh kekeliruannya. Lucky Luciano menatap nanar pada pengawalnya dan Francis bungkuk minta maaf karena telah salah bicara.


"Apa maksudmu situs Black Hole? Enya dipajang di sana?" tanya Elgio dengan napas memburu. Ia menatap Abner katupkan bibirnya dan giginya gemelutuk. Pria itu terpaku di tengah ruangan tampak menderita oleh amarah. Berani sekali pajang adik perempuannya untuk di perdagangkan.


"Elgio, Reinha tak akan disakiti. Pria yang membelinya telah hubungi aku. Dia tak akan menyentuh Reinha."


"Benarkah? Apa kau yakin?" tanya Abner dari sisi lain. "Bisakah kita jemput Reinha sekarang?"


"Ya ... " angguk Lucky. Elgio Durante di posisi sulit karena ada istri-nya di satu sisi dan adik perempuannya di sisi lain. Pria itu benar-benar kacau.


"Anda perlu tahu, Tuan Elgio. Sepertinya Valerie sembunyikan Nona Marya di suatu tempat dan akan melepasnya setelah capai kesepakatan dengan Nyonya Salsa dan Sunny," lanjut Francis sangat masuk akal.


Lucky menggeleng. "Tidak, Valerie juga mengincarmu Elgio Durante! Kau punya banyak berkas kejahatan yang bisa buat karirnya berakhir dan itu membuatnya naik pitam."


"Aku tak pernah berurusan dengannya!" sahut Elgio dingin.


"Kita mengejar Lucky Luciano dan Diomanta, ingat? Sebenarnya kita juga mengusik Family Club," sambung Abner coba jelaskan situasi.


"Abner benar soal itu," ujar Lucky.


"Itulah mengapa aku tak pernah suka kau ada di sekitar adik perempuanku meski Enya sangat mencintaimu."


"Berhenti debat, Elgio!" Abner menyela lagi. "Tak ada gunanya. Saat ini yang harus kita lakukan adalah selamatkan Nona Reinha dan bertemu Valerie untuk tahu pasti keadaan Nona Marya! Aku akan jemput Reinha dan kau pergilah ke tempat Valerie!"


"Baiklah, aku akan bicara langsung pada wanita itu atau mungkin menembak kepalanya sebelum dia bicara."


Elgio berbalik pergi dan Lucky mengekor di belakangnya. Dia tak bisa biarkan Elgio hadapi Valerie sendirian tetapi ia harus bertemu Axel sebelum pria itu berubah pikiran. Valerie pasti pasang jebakan untuk Elgio, pasti menunggu kedatangan Elgio. Lucky kirimkan kode pada Francis untuk siapkan senjata dan dibalas Francis pertanda ready, dalam perjalanan ke Double L.


"Abner, apa kau sudah dapat kabar?" tanya Elgio melangkah cepat. Masih tak percaya hari ini, hari yang harusnya jadi hari bahagia, ia mungkin akan membunuh seseorang karena berani menyentuh Marya dan Reinha.


"Valerie ada di kediamannya, Elgio. Sebaiknya kau pergi sekarang, lebih cepat lebih baik."


"Bayar Scout sniper dan bersihkan lokasi itu, aku akan masuk dan hadapi Valerie sendirian!" Elgio berbalik pada Lucky, "Kau akan pergi selamatkan adikku! Kau tahu akibatnya jika kau tak bawa ia kembali. Aku tak peduli jika kau mati di sana. Bawa Enya kembali padaku, Lucky Luciano!" seru Elgio tak ingin dibantah.


Queena tiba-tiba bergabung dalam lingkungan yang tidak kondusif itu.


"Tidak, Tuan Durante. Lucky akan ikut dengan Anda pergi pada Valerie. Aku yang akan bawa Nona Reinha kembali!"


"Siapa kamu?" tanya Elgio mengernyit.


"Nona Reinha bersama seseorang yang aku kenal dan inginkan aku. Kau hanya perlu percaya padaku untuk membawa Reinha kembali," jawab Queena.


"Hei, Pequeena ... apa yang kau bicarakan? Tidak, kau tak akan pergi ke sana tanpa aku." Lucky berbalik dan memegang kedua bahu Queena.


"Lucky, Axel tak akan sakiti aku. Aku mengandung anaknya. Kau dan Tuan Durante akan kembali menjemputku dan Reinha." Queena bersih keras meski tak mengerti, apa yang akan dia lakukan nanti saat bertemu Axel.


"Baiklah, Francis dan Tuan Abner akan menemanimu!" Lucky mengangguk pada Francis. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan? Awasi Axel, jika dia bertingkah, kau bisa habisi dia, Francis."


"Tuhan bersamamu, Elgio Durante! Ayahmu bersamamu."


Elgio mengangguk dan lebih dulu pergi ke mobil sedang Lucky mengekor dari belakang.


"Senjataku hampir tiba, Elgio!"


"Tidak perlu, aku bawa lebih dari cukup!"


Elgio membuka belakang mobil dan Lucky tercengang. Mobil itu dipenuhi amunisi, bahan peledak, granat, mortir, dinamit dan senjata termasuk Barret M95 yang getarkan hati dan pistol double-action revolver S&W Model 29. Ia seperti hendak hancurkan satu daratan.


"Ini flashbang, aku namakan Little Boy." Elgio menunjuk ke kotak penuh granat kejut. "Aku produksi mereka dengan tanganku sendiri. Sebenarnya hanya untuk kesenangan, aku tak percaya akan gunakan ini. Granat ini hasilkan cahaya membutakan 10 candela dan ledakan keras maksimal 200 desibel, terisi 7,5 gram peledak campuran oksida logam magnesium dan ammonium perklorat. Kau tahu apa artinya? Aku akan mencabik-cabik Valerie hingga hancur dan istananya akan rata dengan tanah karena berani menyentuh keluargaku."


Lucky manggut-manggut tak menyangka Elgio Durante sangat eksklusif.


"Kau tak akan gunakan mereka, Elgio. Sebab kemungkinan Nona Marya ada di dalam sana!"


Lucky Luciano benar. Ia tak mungkin ratakan tempat itu sebelum temukan Marya.


"Kau ada ide?!" tanya Elgio.


"Temukan Nona Marya baru hancurkan tempat itu."


Mereka segera naik mobil disambut salam dari Dilly yang menyalak pada Lucky dari jok belakang. Hewan itu persis tuannya, terlihat kacau.


"Kau belum berkenalan dengannya." Elgio melirik spion. "Dilly ... berhenti menggeram, pria ini kekasih Enya. Berkat Dilly aku tahu bahwa aku telah ditipu oleh Arumi." Elgio memutar mobil tinggalkan parkiran Double L.


"Arumi mudah dikendalikan, kita tak akan sangka, gadis itu lakukan hal konyol begini," sesal Lucky. Keduanya duduk dengan kemelut di bangku masing-masing. Lucky memikirkan Reinha.


"Kupikir kau cuma produksi selai Murbey?" kata Lucky tanpa menoleh pada Elgio coba cairkan suasana penuh ketegangan.


"Aku orang Scientist, Lucky meskipun kerjaan di dunia nyata berbeda. Aku punya mini laboratorium dan serius belajar Fisika Inti (Nuclear) juga Fisika Atom."


"Liar biasa."


"Tetapi percayalah, ini pertama kalinya aku gunakan senjata. Kau tahu, Marya dan Enya adalah segalanya bagiku, sakiti mereka sama seperti hancurkan duniaku." Ia menutup kap mobil.


"Ya, aku lihat bagaimana kau marah padaku soal Enya," sahut Lucky.


Elgio tersenyum sedikit. "Trims sudah ikut denganku."


Nada merendah Elgio berhasil bikin Lucky Luciano sekali lagi terpaku. Here they are, Elgio Durante si pria terhormat dan Lucky Luciano si berandal, naik satu mobil untuk pertama kalinya karena musuh mereka sama.


"Tetapi apakah kau yakin, adikku baik-baik saja?"


"Kita beruntung, pria yang membeli Enya bukan mendapatkannya untuk bersenang-senang. Ia ingin menukar Enya dengan Queena, gadis yang bicara denganmu tadi. Queena mengandung bayi pria itu!"


Elgio hembuskan napas tertahan di dalam dadanya. Meskipun belum tahu pasti keadaan Reinha, Elgio percaya pada Lucky. Mobil melaju tinggalkan kota pergi ke Mansion Valerie.


"Kita tidak bisa percaya pada Scout Sniper bayaranmu, Elgio. Kau akan masuk dan aku akan lindungimu dari jauh."


"Tidak, Abner membayar seseorang yang punya integritas tinggi. Bukan penjahat, pria ini salah satu anggota The Red Devil's, milik negara dan terkenal di kemiliteran. Ia akan lindungi kita."


"Kau tahu, Valerie mungkin membayar Jiuvanni Brusca dan pria itu sangat berbahaya. Kau masuklah, aku akan bantu bersih-bersih sebentar dan menyusulmu."


"Baiklah! Aku akan bawa revolver, sisanya urusanmu Lucky. Cepatlah kembali!"


"Dengar Elgio, Valerie itu beracun dan mematikan! Dia akan memancing naluri lelakimu!"


"Jangan cemas, Lucky! Kalau itu keahliannya, aku tak mudah terpancing. Kau tahu, aku lebih menyukai tubuhku sendiri dibanding tubuh seorang wanita, sampai aku temukan Marya. Dulunya aku mungkin penyuka sesama jenis."


Dengar ucapan Elgio Durante, Lucky Luciano merinding geli seraya angkat satu kaki dan memeluk tubuhnya sendiri. Ia menengok Elgio Durante atas bawah, ngilu-ngilu.


"Ya Tuhan. Kau menakutiku, Elgio Durante!" seru Lucky Luciano.


Elgio tersenyum, sedikit terhibur lihat wajah preman Lucky Luciano bergidik ngeri oleh bualannya. Elgio tak menyangka mereka akan bersama dalam satu mobil dan bicara akrab seperti sobatan.


Lima ratus meter dari Mansion Valerie, Lucky Luciano turun mengambil senjata laras panjang dan perlengkapan lainnya begitupun Dilly, bersiap-siap turun akan cari jalan masuknya sendiri.


"Dilly, temukan dia! Aku mengandalkanmu!" Elgio mengelus Dilly. "Kembalilah padaku!"


Pria itu mencium cincin pertunangan di jari kelingkingnya, cincin bertuliskan nama Aruhi yang dicuri Arumi sebelum bergerak ke Mansion Valerie. Suasana di Mansion itu tampak sepi dan lengang tanpa penjaga atau daerah itu sudah benar-benar bersih untuknya. Patung malaikat memegang jam pasir di kedua tangan, tegak di depan Mansion. Elgio awasi mata patung yang terlihat hidup, ada kamera pengawas di dalamnya dan tak ingin peduli. Ia mengambil revolver lalu menembak mata patung hingga percikan api keluar dari sana.


Elgio Durante masuk tanpa rasa takut. Ingin hati menembaki rumah itu tapi takut mungkin saja Marya ada di dalam sana. Ruang tamu Mansion lengang. Alarm bawah sadarnya beri warning, agar ia waspada. Ia mendongak ke lantai atas dan dari sana terdengar denting piano yang dimainkan dengan sangat ahli dan lincah. Mendayu-dayu. Melodi-nya penuh tekanan gelombang, mistik dan misterius dari Ludwig Van Beethoven - Für Elise. Dalam keadaan biasa, feel dan groove nada-nada simponi begitu memikat telinga.


Musik Für Elise tidak asing sebab seluruh Ibu di dunia perdengarkan simponi indah itu pada bayi-bayi mereka karena dipercaya dapat optimalkan kemampuan kerja saraf-saraf otak. Elgio naik ke lantai dua, pergi pada sumber suara sembari acungkan senjata dan bergerak masuk, pelan-pelan didorongnya pintu. Seorang wanita bermain piano dan Elgio Durante terkejut ketika didapatinya, Irish Bella duduk disana sedang jemarinya menari lincah di atas piano.


"Irish, apa yang kau lakukan di sini?"


Denting piano terjeda. Irish menatap Elgio beri sinyal ke arah belakang pintu. Namun, terlambat. Sebuah moncong pistol di belakang kepala Elgio dan suara lembut Valerie berbisik sensual di kupingnya.


"Elgio Durante, aku menunggumu."


***


Aku anak Fisika Murni (MIPA), suka sastra dan owner sebuah Bridal. Kehidupan yang gak nyambung.


Kasih komentar soal dua chapter ini 75 dan 76, sebab aku sangat-sangat suka komentar Readers.


Cintai saja Aku .... Aku mencintaimu ....