
Dua jam selepas Reinha pergi ke Puri Luciano. Marya dan Elgio bersantai di taman belakang, perhatikan pagi yang berseri-seri.
"Elgio, kurasa, Tuan Abner menyukai Maribella kita," ujar Marya seraya mengelus punggung kelinci pemberian Paman Hellton lupakan buku-buku sains yang menumpuk di atas meja di taman belakang. Saat Marya lelap semalam, Elgio buat ringkasan tentang dualisme gelombang dan selesaikan beberapa soal yang menurut Marya pening sebelum mendekap Marya hingga pagi. Marya tercengang karena Elgio sangat paham materi Fisika dan kepandaian Elgio buat Marya kehilangan kata. Jadi, bukan dia si jenius di rumah ini, tetapi suaminya, Elgio Durante. Ia tak butuh profesor sains sebab Elgio akan jadi mentornya. Dengan Elgio di sisinya, Marya semakin yakin akan mengalungi medali emas.
"Kupikir Tuan Abner menyukai, Aunty Sunny. Mereka berdua selalu bersama kemana-mana," katanya lagi lekas murung teringat pada Aunty Sunny.
Elgio perhatikan Marya dan kelinci di pangkuannya. Abner dan Maribella? Elgio mengerut.
"Kurasa Abner tak menyukai Nona Sunny sebab Nona Sunny terlalu canggih untuknya. Abner menyukai seseorang yang sederhana, kepribadian lembut dan rendah hati."
"Seperti Bibi Mai?"
"Em, kita harus sepakat berhenti memanggilnya Bibi Mai atau Bibi Maribel. Usianya belum sampai 30 tahun dan ia seperti guru taman kanak-kanak yang penyayang, sangat manis. Kita membuatnya tampak seperti pengasuh tua yang jelek."
"Dan kalian adalah bocah-bocah nakal Taman Kanak-Kanak Durante Land!" sambung Abner di belakang mereka.
"Eh?! Kupikir kau sudah pergi Abner?" tanya Elgio bangun seketika. Abner menyipit pada mereka.
"Kau bergosip tentang wali-mu, Elgio Durante?"
"Kau pemarah sekali hari ini, Abner Luiz. Apa kau kesal karena Maribella pergi kencan dengan Tuan Hansel dan kau bingung mau kemana?" olok Elgio Durante senang bikin panas hati Abner. "Tuan Hansel sungguh sopan dan sepertinya ia akan menjaga Maribella kita dengan sangat baik," tambah Elgio lagi. "Kau bisa pergi kencan buta, aku akan daftarkan kau jika kau mau. Hmm?"
"Kau memang bocah sialan, Elgio Durante. Kau berani menentangku di hadapan orang asing? Awas saja kau nanti!" ancam Abner. "Aku harus ke kantor dan aku akan berkencan dengan salah satu staf di sana! Aku akan kemari untuk makan malam, sebaiknya buatkan makanan yang enak," serunya berusaha tidak gusar tetapi Elgio telah memancing sisi lain dirinya. Abner pergi dari sana tinggalkan Elgio yang terkekeh geli.
"Lampiaskan saja amarahmu padaku, Abner! Aku siap menerimanya. By the way, bawa teman kencanmu kemari. Marya akan memasak sesuatu untuk calon Ibu wali kami," teriak Elgio kencang berharap Abner tambah kesal.
"Ya Tuhan, Elgio Durante! Kau tak harus mengganggunya!" omel Marya.
"Kau lihat kan? Dia bahkan tak sembunyikan cemburu?" Elgio masih tersenyum kecil, mengira-ngira siapa staf-nya yang akan diajak Abner untuk berkencan sebelum menarik Marya bersamanya untuk rebahan di atas rumput.
Sementara Abner bersungut-sungut naik mobil, perhatikan raut masam di cermin, setengah tak percaya bahwa itu benar dirinya.
"Sebaiknya aku terima saja ajakan Luna Hugo untuk berkencan dan membawa wanita itu ke Durante Land agar anak-anak bodoh itu berhenti mengolok-olok aku," gumannya bertekad. Luna adalah salah satu pegawai di kantor. Wanita itu populer di kantor karena sangat seksi. Belakangan Luna menggodanya di kantor dan jelas-jelas kirim sinyal untuk berkencan, tetapi Abner tak bereaksi dan biarkan Luna berpikir dirinya homoseksual. Luna suka pria mapan dan ia baru putus dengan pacarnya. Jika Luna ada di kantor hari ini, ia akan langsung ajak gadis muda itu berkencan dan makan malam di rumah.
Mobilnya keluar dari Broken Boulivard menuju kota. Ia dengarkan musik dan mengemudi dengan pelan di jalanan Minggu pagi yang lengang.
"Eh?! Bukankah itu Maribel?"
Abner pelankan laju mobil, tajamkan penglihatan dan ia tak salah lihat. Maribel berdiri di halte seberang dengan kotak makanan. Sebuah bus datang, para penumpang naik, Abner perhatikan seksama. Busnya pergi tetapi Maribel masih di sana. Wajah wanita itu terlihat sendu padahal ia pergi dengan berseri-seri tadi. Apakah si sopan Hansel Adelio tiba-tiba berubah pikiran? Apakah ia datangi Maribel? Bagaimana jika wanita itu tiba-tiba malu? Abner memutar ke jalur sebelah dan berhenti di depan Maribel. Saat kaca diturunkan wajah Maribel tampak sangat terkejut melihatnya. Ia menunduk dengan malu.
"Masuklah!"
Maribella tampak ragu. Abner turun dari mobil dan meraih kotak makanan, masukan ke mobil.
"Masuklah!"
Mendorong wanita itu ke dalam mobil sebelum ia pergi ke belakang kemudi.
"Apa kencanmu batal?" tanya Abner pelan.
Maribel mengangguk, ia tak menutupi sedih. "Tuan Hansel tiba-tiba ada urusan mendadak."
"Lalu mengapa kau tak pulang ke rumah? Mengapa berdiri linglung di halte?"
Maribel terdiam. Abner menerka, Maribel malu pulang ke rumah karena telah pamitan keluar rumah untuk berkencan.
"Lupakan! Ikut denganku ke kantor dan kau bisa mengajaknya berkencan di lain waktu."
"Berpakaian begini?" tanya Maribella keberatan.
"Ini hari Minggu dan kau tampak bagus dengan dress itu."
Mereka berkendara dalam diam. Tanpa disadari mereka telah bersama sejak usia mereka masih belia. Abner dibawa Tuan Ebenn, Ayah Marya untuk jadi sopir pengganti. Kemudian dididik jadi asisten. Abner bersekolah dibiayai Tuan Leon sambil bekerja di Durante Land. Bukan hanya Abner, ada banyak pemuda yang dibiayai sekolahnya oleh Tuan Leon, Carlos Adelberth salah satunya.
Ketika Tuan Leon meninggal, Abner yang masih muda dimandatkan tanggung jawab besar sebagai wali untuk Elgio Durante dan Reinha Durante. Bersumpah sebelum Tuan Leon hembuskan napas terakhir akan menjaga dan merawat Elgio, putera semata wayangnya, Aruhi dan Reinha. Begitupula Maribella dan Ibunya, Nyonya Stevan.
Sementara Maribel telah sejak lahir di Paviliun Durante. Orang tua Maribel bekerja pada Tuan Leon sejak sangat lama, secara turun-temurun. Mereka sangat dekat dulunya sebagai sahabat. Sering pergi ke tepian hutan dan meniup dandelion tua saat jenuh di rumah. Ketika Abner pergi ke luar negeri untuk temani Elgio, mereka mulai membuat jarak. Ditambah Maribel yang selalu menghindar jika kebetulan Abner pulang ke Durante Land. Hubungan persahabatan mereka berakhir kaku.
"Kupikir kau masih susah lupakan Tuan Benn. Susah untuk move on. Kejutan kau pergi berkencan."
Abner tahu, Maribel sangat-sangat menyukai Tuan Benn. Jika Ebenn tak meninggal, Abner yakin Maribel akan menikahi pria dewasa itu.
"Kau besarkan Marya karena mencintai Ayahnya, kurasa Marya harus tahu dan berhenti mendorongmu untuk pergi kencan."
"Oh hentikan!" Wajah Maribel merona malu. Itu konyol sekali, menyukai Benn Amarante yang punya istri sangat cantik. Abner tahu rahasianya. "Lagipula, aku tak lakukan itu karena menyukai Tuan Benn. Ibuku juga sangat menyayangi Tuan Benn."
"Kupikir kau sudah move on darinya, Mai," ujar Abner dan menyebut nama kecil wanita itu.
Maribel tersenyum. "Aku hanya gadis bodoh. Tuan Benn tak mungkin khianati istrinya yang cantik jelita dan menikahi seorang pelayan ingusan seperti aku, Abner." Terdengar merendah.
"Mereka telah dewasa dan lucunya mereka telah menikah."
"Ya, dan kita telah bersama mereka untuk melihat banyak penderitaan juga kebahagiaan."
"Hingga lupa bahwa kita juga butuh seseorang di samping," keluh Abner.
"Kupikir Anda bersama Nona Sunny. Kalian tampak sangat serasi dan sangat dekat," ucap Maribel. Saat bicara jemarinya bergesekan dengan gelisah.
"Em, begitukah terlihat? Kami saling mendukung dan berteman baik. Sunny punya standar yang sangat tinggi dan aku tak begitu menyukai wanita yang terlalu sempurna."
Mereka sampai di kantor sambil bercakap-cakap ringan.
"Ikut aku Maribella, suasana baru mungkin bisa buatmu senang."
Maribella mengikuti Abner dari belakang, tak percaya ia datang ke perusahaan setelah hanya mendengar kata "kantor" tiap hari. Ia selalu buatkan makanan untuk makan siang Elgio Durante dan Abner Luiz kadang buatkan makanan ketika ada rapat penting, tetapi tak pernah datang ke kantor sampai Abner mengajaknya hari ini. Maribella tersenyum saat amati Abner yang tampak sangat pas dengan tempat ini.
"Tuan Abner kau di sini?"
Mereka baru keluar dari lift menuju ruang pribadi ketika Luna yang cantik dan sangat seksi dengan rok span mini dan kemeja putih menyapa Abner. Suara wanita itu sangat-sangat renyah terdengar.
"Ya." Melirik Maribel sejenak. "Berkatmu, aku punya banyak kerjaan untuk diselesaikan. Apakah Anda berkencan dengan Nona di belakangmu? Itukah alasan Anda tak respon padaku?" tanya Luna terus terang. Ia menyipit curiga pada Maribella yang sederhana.
"Bukan seperti itu, Luna. Maribella adalah keluargaku," sahut Abner. "Kau bisa mulai berkenalan dengannya."
"Lalu, apakah ...."
"Baiklah, mari berkencan," potong Abner. "Aku akan membawamu makan malam di Durante Land dan berkenalan dengan keluargaku."
"Benarkah?" tanya Luna berbinar-binar. "Kau sungguh ingin kita berkencan dan makan malam bersama di rumah keluargamu?" tanya lagi seolah tak percaya pendengarannya.
"Ya, jika kau tak keberatan."
"Tidak, Tuan Abner. Aku sangat gembira." Berbalik pada Maribella. "Hai, senang berkenalan dengan Anda, Nona!"
***
Irish Bella terbangun di pagi hari oleh aroma-aroma daging di atas panggangan yang berasal dari dapurnya. Teringat kejadian semalam, wanita itu menggeram gusar. Mungkin pengaruh obat anti nyeri, kompresan es atau oleh sebuah dekapan, ia merasa baikan, sedikit lebih ringan dari hari kemarin. Jika tak salah ingat, ia tidur dalam dekapan seseorang. Lihatlah kau Irishak, berbaring sangat dekat dengan kejahatan yang kau kejar dengan penuh ambisi.
Sesuatu berdenting di dapur, walaupun demikian bukan berarti penjahat itu berhak berkeliaran di apartemennya. Irish bingung apa yang akan ia lakukan. Ia ingin bangkit pergi ke dapur karena kelaparan atau pura-pura tidur saja hingga Hellton pergi lalu kabur diam-diam. Ia kemudian turun dari pembaringan, masih agak lemas, terseret meraih ponsel dari sofa dan menelpon seseorang.
"Aku butuh carter pesawat ke perbatasan, aku tak tahu waktu pastinya kapan. Siap saja di landasan hari ini!" kata Irish di telpon. Sambungan segera diputus saat langkah kaki mendekat, ia segera kembali ke ranjang dan pergi ke balik selimut. Ia hanya harus hindari iblis angkuh, temperamental dan agresif seperti Hellton Pascalito. Demi Tuhan, ia tak akan sudi bersama penjahat itu dan akan pergi ke Islandia lalu berganti identitas. Karirnya akan berakhir sebagai seorang jurnalis, ia pasti nanti menderita tapi ia akan bertahan dan menulis buku dari suatu tempat.
"Kau harus bangun dan makan, Irishak!"
Irish Bella tak mengerti nada suara penjahat yang memanggil namanya Irishak dengan sangat intim seakan mereka sepasang kekasih, tetapi satu yang pasti ia benci pada tekanan ditiap kata seolah-olah ucapannya harus dituruti. Hellton menarik tirai hingga ruangan jadi terang oleh cahaya mentari pagi.
Selimut dibuka, ia menerobos celah di bawah tengkuk Irish, memaksanya bangun.
"Jangan ganggu aku! Pergilah, aku akan makan. Tolong pergi saja!" serang Irish kasar.
"Tidak, kau akan makan dan minum obatmu lalu aku akan pergi!" jawab Hellton tegas hingga Irish mau tak mau termakan bujukan itu. Duduk menyender di kepala ranjang dan ikuti mau Hellton.
Irish merasa aneh sebab ia disuapi oleh tangan yang sama yang telah menahan tangan-tangannya untuk sebuah pelampiasan. Sedikit berbulu halus dengan urat-urat menyembul di tangan yang sangat besar Hellton bikin Irish merinding ngeri. Wajahnya tak kalah sangar seperti tangan-tangannya.
"Aku tak pandai masak, semoga kau suka ...."
"Rasanya tidak enak, kelebihan garam dan sangat asin!" potong Irish menolak suapan.
"Benarkah? Jangan bohongi aku Irishak, aku tak menaruh banyak garam di dagingnya!"
"Aku akan habiskan makanannya agar kau segera pergi!" tatap Irish tajam pada Hellton. "Aku harus beristirahat. Oleh karenamu, aku kesulitan bernapas di rumahku sendiri dan susah tidur."
"Susah tidur?" ejek Hellton keheranan. "Kulihat kau sangat lelap semalam didekap."
"Aku minum banyak obat dan sedang sakit, pergi saja dari sini dan jangan ganggu aku!" Wajah Irish memerah.
Ia biasa hadapi ter*r***s, atau penjahat kejam lainnya. Sekali ini ia akan hadapi Hellton sebelum pria itu kendalikan hidupnya. Irish menelan semua makanan tanpa sisa agar Hellton puas dan segera lenyap. Ia minum obat, menguap sangat lebar dan tidur dibalik selimut. Ia kelabui Hellton yang percaya pada tingkahnya.
"Aku akan kembali di jam makan siang," ujar Hellton dan keluar dari apartemennya.
Menunggu dalam senyap. Irish amati jam yang berputar. Lima menit, 10 menit, 15 menit dan di menit ke 20, Irish bangkit dari ranjang, meraih koper dan mengisi barang-barang pentingnya dengan buru-buru. Ia mulai menelpon.
"Aku akan di bandara dalam 30 menit, bawa aku ke pulau terdekat dengan perbatasan!"
Perhatikan pahanya yang masih memar malah menghitam seperti sekumpulan darah membeku di sana, ia abaikan. Kenakan celana jeans, kaos putih dan kemeja kotak-kotak biru putih, Irish tak perlu repot-repot bercermin atau ia akan kepergok Hellton. Tak lupa gunakan selendang dan kaca mata gelap, untuk menyamar, wanita itu keluar dari apartemennya. Celingukan takut si iblis Hellton datang dan menyergap, ia keluar lewat pintu darurat menuju mobil. Gunakan mobil yang berbeda dengan mobil yang selalu dipakai saat menyamar, Irish Bella keluar dari parkiran apartemen. Bersyukur tak ada satupun orang terlihat. Ia mengebut di jalanan, berlomba dengan waktu menuju keluar kota.
Di sisi barat kota terdapat sebuah bandara kecil, bandara perintis yang tampilannya simple, dibangun untuk kepentingan militer. Bandara itu hanya memiliki satu landasan pacu dengan ukuran pendek, cuma 680 meter. Ia akan pergi ke pulau paling dekat berjarak 25 menit sebelum bergerak ke perbatasan dan keluar dari negara ini. Ia tak mungkin hubungi Carlos Adelberth. Semoga pria itu baik-baik saja.
Beechcraft King Air B200GT terlihat di landasan pacu, bersiap-siap dari suaranya yang bising menderu. Tanpa basa-basi Irish naik ke atas sana setelah kopernya diambil seorang petugas dan ia duduk di kabin yang mewah dan nyaman dengan gelisah.
"Breath ... breath ... breath Irishak Bella. Bernapaslah dan mari kita pergi!"
Ia merasa sangat gugup dan jantungnya berdetak cepat hingga tubuhnya susah kendalikan dirinya sendiri. Irish mengumpat pelan pada reaksi aneh tubuhnya. Hal semacam ini pernah terjadi ketika ia diculik dulu. Ia telah pastikan tak ada yang mengikutinya, lagipula pesawat akan segera lepas landas.
"Kita akan segera flight, Nona. Ketinggian jelajah pesawat 12.000 kaki dan akan ditempuh dalam waktu 25 menit."
"Sebaiknya kita segera pergi." Irish pasang sabuk pengaman sementara seorang pramugari menutup pintu kabin lalu kembali ke tempat duduk khusus pramugari dan pasang sabuk pengaman.
Pesawat bergerak pelan ke ujung landas pacu. Berputar perlahan di garis-garis zebra ikuti petunjuk. Mendadak saja, pilot bicara dari pengeras suara.
"Nona Irish, apakah penerbangan ini bermasalah? Apakah Anda kabur dari kekasih Anda?"
"Apa maksudnya?" Irish bertanya pada pramugari yang juga keheranan. Langsung saja lepaskan sabuk pengaman, ikuti pramugari pergi ke depan ruangan pilot.
Di ujung pacu landasan, sebuah mobil tampak meraung marah, bersiap bergerak menghadang pesawat. Hellton Pascalito muncul di atap dengan senjata roket di pundak yang moncong runcingnya mengarah pada pesawat. Pria gila itu melambai, tersenyum aneh, sebelum membidik hingga pilot tak punya pilihan selain diam tak berkutik. Irish lemas seluruh tubuhnya seketika. Mobil Hellton melaju, mengancam di tengah landasan, di area take off, di zona di mana roda-roda pesawat biasanya menyentuh landasan saat mendarat ... touch down ..., dan melandas.
"Oh shit!" umpat Irish. Ia jadi sering memaki belakangan sebab iblis durjana di depan sana bertingkah seperti kekasih posesif. Sekali ini habislah riwayatnya.
"Kita tak bisa take off sekalipun Anda membayar saya dengan seluruh emas yang ada di bumi ini, Nona! Maafkan saya."
"Oh shit!" Irish menggeram frustasi saat mobil Hellton melaju kencang padanya. Irish kembali ke kabin dan pasrah saat pintu kabin dibuka, tangga dipasang. Hellton muncul di sana menyeringai padanya lalu tanpa basa-basi merengkuh sangat kasar sebelum memanggulnya turun.
"Lepaskan aku, Hellton! Kau Iblis sialan! Hellton, lepaskan aku! Kau keparat sialan!"
"Senang mengejarmu Irishak," sahut pria itu ladeni makian Irish seraya pakai kaca mata hitamnya turuni dua tangga pesawat sekaligus.
"Go to the hell! Keparat kau!"
***
Wait Me Up yeah....
Dengan rendah hati aku mohon bantuannya untuk promosi. Share Heart Darkness di media sosial yang kalian punya agar cerita ini semakin lebih dikenal. Itu membantu Author tak terkenal sepertiku dan selamatkan Heart Darkness dari plagiat dan peniruan karya.
Bantu aku, ya.
Rimagazi Senoe (Terima kasih banyak)