Heart Darkness

Heart Darkness
Chapter 138 Murder My Heart ....



Dear Marya & Reinha.


Sayangku berdua, aku pergi sebentar untuk dinginkan kepala dan jernihkan pikiran. Maafkan aku tak tepati janji untuk selalu menjaga kalian berdua. Seandainya aku hanya sibuk memasak di dapur dan tidak terlibat soal urusan cinta, hanya mengurus kalian bertiga, kurasa semua kesedihan ini tak akan terjadi. Aku butuh waktu untuk sendiri. Jaga diri kalian.


Maribella ....


Suasana begitu muram di ruang makan. Kepergian Maribella buat Elgio, Marya dan Reinha berkabung. Mereka sarapan malas-malasan dan ketika makanan yang dibuat Natalea rasanya sama sekali berbeda dengan tangan-tangan Maribella, piring-piring itu didorong. Marya lebih ekspresif bahkan terus saja terisak-isak sejak pagi, ia jadi sangat sensitif. Maribella adalah Ibunya dan kepergian Maribella benar-benar buat suasana hati Marya menjadi sangat buruk. Jika tak ingat akan pergi olimpiade, Marya ingin tinggal di rumah dan tiduran.


"Ini buruk sekali, Elgio. Kemana Bibi Mai pergi? Dia tak punya rumah."


Akhirnya Marya tak tahan lagi. Elgio tak sanggup melihat kesedihan Marya dan hanya terdiam pandangi Abner ke seberang meja.


"Ya, kau benar Marya," sambung Reinha. "Kemana dia pergi? Bagaimana kalau sesuatu terjadi padanya? Bagaimana kalau dia tak kembali?" Mereka tak mungkin mencari Maribella sebab pengasuh mereka butuh tenangkan diri. "Ya Tuhan, apakah kita selidiki saja kasus Maribella, Marya? Kita bisa ajak Ethan Sanchez dan minta bantuan Profesor Samael. Kulihat pengacara yang dibayar Tuan Abner tak becus bekerja. Tak bisa diandalkan selesaikan kasus jebakan sianida yang bahkan olehku saja bisa aku selesaikan jika aku diijinkan," serang Reinha gusar pada Abner yang terlihat duduk diam tak berdaya. Reinha terlihat sangat makan hati. Sejak semalam saat Luna bergelayut di lengan Abner dan pamitan pulang, Reinha terlihat ingin menjambak Luna.


"Kau benar, bagaimana kalau kita saja yang selidiki kasus ini dan bersihkan nama Maribella?" Marya berhenti menangis bicara di antara tarikan isak halus. Puncak hidung dan pipinya bersemu kemerahan. Wajah gadis itu benar-benar dibasuh air mata.


"Ya, kita bisa minta bantuan Ethan Sanchez."


"Baiklah, ayo kita pergi dan sarapan di luar, kita akan makan siang di sekolah dan makan malam di restoran." Marya terdengar seperti sedang lakukan aksi boikot rumah.


"Ya, mari kita pergi pada Tuan Hansel Adelio dan bertanya mungkin dia tahu kemana Maribella pergi. Semalam aku dapati Tuan Hansel memeluk Maribella saat Pengasuhku menangis." Reinha tahu kapan harus memantik api dan panas-panasi situasi, pikir Elgio. Amati dua gadis yang merana tanpa tahu harus bertindak. Sedangkan yang disindir, tenggelam dengan pikirannya sendiri. Entah apa yang melintasi isi pikiran Abner.


Marya dan Reinha benar-benar walk out dari ruang makan tinggalkan Elgio dan Abner yang membisu. Belakangan Abner Luiz tak bercukur dan biarkan saja wajahnya terlihat model pria yang mulai pudar bijaksana, beralih sedikit brengsek. Mungkin karena ia punya banyak masalah, tak peduli lagi soal tampilan wajah.


"Kau biarkan wajahmu seperti itu, kau hanya akan buat Luna makin tergila-gila padamu."


Sisa mereka berdua di meja makan, saling menatap, berbagi mendung dan pikirkan solusi yang tak terlihat.


"Apa kita masih bisa bercanda saat ini, Elgio Durante?" Melirih.


Abner hanya tak bisa berpikir dikarenakan ketika melihat Maribella semalam lumayan hancurkan dirinya. Jika tak ingat ada Luna, Abner ingin datangi Maribella yang tampak kurus dan lelah kemudian memeluknya hingga pagi. Wajah Maribella tak lagi bersinar, hanya ada luka dan perih. Kini, wanita itu pergi, Abner tak punya kata untuk diucapkan.


Keheningan lama bahkan tak menyentuh sarapan. Hanya hening. Natalea mengintip, perhatikan ruang makan. Mendesah kecewa pada piring makanan yang utuh, bersandar di tembok dapur. Tak ada yang bisa ia ajak bicara atau mintai tolong ajari dirinya. Maribella pergi dan ia dititipi untuk merawat seorang gadis yang sedang hamil juga gadis lain yang ditinggal suami. Sementara Augusto tak sabaran saat hadapi dirinya, selalu marah-marah. Rumah ini kacau.


"Abner, apa kau tahu kemana Maribel pergi? Bagaimanapun kalian sangat dekat dulu."


Abner menatap Elgio letih. "Mari selesaikan kasus ini dan aku akan jemput Maribella. Kurasa Maribella tenangkan diri di kediaman Pamannya di Mora. Biarkan saja dia beberapa waktu."


"Bagaimana jika dia tak di sana, Abner. Aku pikir, kita harus bawa pulang Maribella. Kau tahu Carlos akan kemari nanti sore dan aku tak tak tahu harus bagaimana atasi situasi ini. Ya Tuhan usiaku masih sangat muda tapi aku harus urusi banyak masalah."


"Jangan cengeng! Hadapi ini! Kau tak berdiri di posisiku Elgio Durante. Aku harus temani seorang wanita sementara wanitaku menderita di suatu tempat." Abner mengeluh dan itu pertama kalinya Abner Luiz terdengar kepayahan.


"Mari lakukan sesuatu! Aku benar-benar tertekan, Abner! Marya kembali gelisah di malam hari dan tak bisa tidur selama Maribella di penjara. Kini, Maribella pergi dan aku yakin Marya akan kesulitan hadapi hari. Ya Tuhan, besok sore mereka akan pergi ke Ibukota ikut kompetisi."


"Kau akan pergi temani Marya dan Reinha. Aku akan menunda pergi ke Bali. Elgio, ada penyusup di kantor, investigasi kita sedang berlangsung dan aku harus fokus meski Maribella termasuk prioritas tetapi aku terpaksa abaikan dia saat ini, demi kebaikan Maribella, juga kita semua sebelum sesuatu yang buruk menimpa kita. Kasus ini sangat sulit, kurasa, kita berurusan dengan seorang ahli. Jika Luna terbukti menjebak Maribella, kau bisa lihat akhir untuk Luna. Sejauh ini, aku temukan bahwa Luna tak tahu ia diracuni. Itu berarti seseorang ada di kantor sedang menebar teror."


Elgio tahu diam-diam Luna diselidiki, bukan hanya Luna tapi semua staff. Namun, tak temukan apapun.


"Kasus ini terlalu rapi Elgio, itu pertanda, dilakukan oleh seseorang yang sangat profesional. Bisakah tahan Carlos untuk tidak datang? Kita sedang dalam masalah. Kau tahu apa yang akan terjadi jika Reinha tahu kabar tentang suaminya?"


"Tidak, kita tak bisa menolak Carlos. Pencarian dihentikan. Carlos hanya akan andalkan kabar dari prajurit intelijen yang ia kirim. Ya Tuhan, bukankah mereka punya gadget untuk akses lokasi Lucky Luciano yang pernah dipegang Reinha waktu mereka akan pergi?"


"Ya, tapi Francis masih kritis. Itulah mengapa Lucky tak bisa ditemukan."


"Abner, apakah kita perlu hubungi Thomas Adolfus? Bagaimana kalau Lucky ternyata disembunyikan mereka?"


"Carlos telah kembali menemui Thomas Adolfus menyamar seperti terakhir kali saat pergi bersama Lucky tetapi Thomas katakan banyak prajurit yang tewas di hari itu dan Lucky Luciano tak ditemukan. Entah, apa yang terjadi padanya? Thomas berjanji akan secepatnya temukan Lucky Luciano. Kecuali jika benar meledak bersama mobil seperti yang Carlos lihat, kurasa, semua akan sia-sia. Sebab ia mungkin sisa abu."


"Tidak, itu tak mungkin terjadi. Lucky Luciano punya jiwa petarung sejati dan insting yang sangat tajam, tak mudah mati begitu saja."


Bel pintu berbunyi, Natalea tergopoh-gopoh berlari ke ruang tamu belum terbiasa sesibuk ini. Dalam dua Minggu pelayan baru itu harus lakukan ini-itu dan ia berakhir pegal-pegal di kamar. Natalea berdiri takut-takut saat Hansel Adelio mendesak masuk ke ruang tengah.


"Apa Maribella pergi?" tanya Hansel tanpa menyapa dan tak basa-basi. Elgio menebak Hansel langsung berlarian saat tahu Maribella pergi. Itu pertanda Reinha dan Marya sarapan pagi di restoran pria itu. Kedua gadis itu benar-benar akan mendukung Hansel dan Maribella?


"Hansel?!" Abner berdiri.


"Maafkan aku, kurasa kau harus tahu Tuan Abner Luiz. Maribella demam semalam dan ia mungkin telah disiksa dengan kejam selama di penjara. Ia meringis kesakitan saat aku sentuh lengannya dan lehernya dipenuhi banyak bekas luka baru. Hebat sekali kau biarkan dia pergi?" Hansel berubah dari sopan jadi emosional.


"Apa maksudmu?"


Hansel terlihat sangat marah. "Aku akan menyusulnya. Bisakah kau beritahu kira-kira kemana dia pergi?"


"Apa kau yakin soal Maribella disiksa?" tanya Elgio kalut, ia memang menduga Maribella sakit sebab wajah pengasuhnya sangat pucat dan ia seperti tak makan selama berhari-hari.


"Aku yakin sebab aku tak sengaja lihat banyak luka di lehernya semalam saat aku memeluknya," jawab Hansel cepat.


"Apa Reinha dan Marya tahu?"


"Aku tak beritahu Reinha juga Marya sebab aku lihat mereka cukup tertekan."


Elgio menatap Abner dengan pikiran kosong.


"Hansel, jika aku pergi sekarang untuk temukan Maribella an bersama Maribella maka ia mungkin akan di penjara kembali dalam waktu lama."


"Kau tak perlu bersamanya, Tuan. Aku akan menemukannya. Kurasa, kau harus relakan saja dia bersamaku."


"Tuan Hansel?!" tegur Elgio. Abner juga sedang di posisi yang sulit.


"Anda sangat populer dan diincar banyak wanita, Tuan Abner Luiz, tidak menutup kemungkinan kejadian seperti ini akan berulang kembali. Maribella mungkin akan sangat menderita nantinya."


"Tidak, jika ia kesakitan seperti semalam, aku tak bisa ijinkan Maribella bersamamu. Kurasa, aku tak akan dapat jawaban di sini. Aku akan mencarinya sendiri! Aku tak peduli Maribella tak mencintaiku, saat sadari aku tulus padanya, Maribella mungkin akan melihat aku."


Hansel berbalik pergi dengan tekad bulat di wajahnya. Ketika itulah Abner hilang ketenangan.


"Satu masalah terselesaikan, biarkan Hansel temukan Maribella!" kata Elgio bikin Abner kebakaran. Abner mendengus kesal segera hubungi perusahaan taxi setelah dapatkan deskripsi taxi yang menjemput Maribella dari Natalea.


"Tuan Abner, aku tahu di mana Maribella," kata Augusto tiba-tiba muncul di ruang makan. Ia tampak baru kembali dari suatu tempat sebab tak terlihat sejak pagi.


"Benarkah?"


"Ya, aku mengikuti Maribella tadi pagi saat ia pergi sebab aku pikir Anda mungkin tak tahu Maribella pergi."


"Augusto, aku senang kau pikirkan keluarga ini," sahut Elgio senang.


"Kemana Maribella pergi?"


***


Klakson mobil berbunyi menjelang sore hari. Reinha mengintip dari kamar, mendadak jantungnya berdegup kencang dapati mobil Carlos masuki halaman rumah lalu waspada sebab tak diikuti mobil suaminya. Buku-buku masih berserakan di atas tempat tidur, ia tak fokus belajar sebab banyak hal terutama pikirkan Maribella. Ia berpikir untuk berhenti belajar selama dua hari guna istirahatkan otak.


Satu semprotan parfum Jasmine, Reinha mematut dirinya di cermin. Ia sangat gugup karena akan melihat Lucky Luciano kembali. Mereka akan segera bersama. Oriana Fritteli selamat dan wanita itu tampil di televisi bicarakan soal keinginan Thomas Adolfus tentang kemerdekaan, hak hidup dan hak sebagai warga negara. Oriana berhasil menarik banyak perhatian karena keberaniannya. Well, meski tak di ekspos tapi Oriana diselamatkan oleh suaminya dan asistennya. Baiklah, semua telah berakhir meski hati Reinha masih terus gelisah oleh sesuatu. Mungkin karena Maribella pergi.


Reinha memoles lipstik merah dan saat melihat itu terlalu terang, ia menghapusnya lagi, gantikan dengan lip cream merah muda yang natural senada warna bibir. Sunyi berselang dan Reinha yang gugup segera pergi ke ruang tamu. Elgio, Marya, Tuan Abner berkumpul di ruang tamu. Carlos Adelberth turun dari mobil, masuk ke dalam rumah saat Reinha turuni tangga. Reinha hampir meledak karena ingin melihat suaminya. Sejak Lucky pergi, tak bisa dipungkiri ia tidur dalam kegelisahan dan suasana hati menegang.


"Tuan Abner ... " sapa Carlos sedikit membungkuk. "Elgio Durante," angguknya pada Elgio lalu pada Marya. Reinha berdiri di tengah tangga, firasatnya berubah buruk saat dengar nada suara Carlos.


"Carlos, glad to meet you," balas Elgio.


"Nona Reinha ... " tegur Carlos menatap lurus padanya. Reinha perlahan turuni tangga melongok keluar pintu, apakah Lucky bersama Francis sedang dalam perjalanan? Apa Lucky pergi membeli bunga atau sesuatu? Manis sekali dia. Ia harap-harap cemas. Mengapa hatinya berbunga-bunga tetapi sangat mencekam dan mengerikan.


"Carlos, kau sendirian? Di mana Lucky Luciano? Di mana Francis?" tanya Reinha berharap Lucky segera muncul akhiri kegelisahan.


"Reinha ...."


"Mengapa kau sendirian? Di mana suamiku? Apa dia mampir ke suatu tempat sebelum kemari?" tanya Reinha lagi.


"Reinha ...."


"Carlos, mengapa kau sendirian? Di mana Lucky Luciano? Di mana Francis? ulang Reinha lagi tanpa berkedip.


"I am so sorry, Reinha ...."


"Di mana suamiku?" tanya Reinha keras semakin menjadi-jadi dan tubuhnya gemetaran terhasut pikiran buruk. "Carlos ...?!" bentaknya lagi kasar.


"Reinha ... " guman Carlos. "Maafkan aku. Francis masih jalani perawatan intensif di rumah sakit perbatasan."


"Apa Lucky bersamanya?"


Carlos lepaskan topi, sedikit membungkuk pada Reinha dan itu cukup untuk berikan kabar pada Reinha bahwa firasat buruknya bukan bohongan.


"Reinha ... i am so sorry." Carlos mendekat.


"Apa yang terjadi?" tanya Reinha dan lihat raut wajah Elgio juga Abner, Reinha tiba-tiba berubah sangat murka. "Kalian berdua tahu, Kak? Itukah alasannya kalian berdua sangat perhatian padaku? Kalian tahu sejak lama? Dua Minggu lalu, tidak ... tidak ... kau khianati aku, Elgio Durante!"


"Enya ...." Elgio mendekat tapi adiknya menjauh, ia menepis tangan Elgio tak ingin disentuh. Ia sangat marah pada Elgio.


"Francis terluka parah dan Lucky memaksa untuk tinggal agar kami bisa lepas landas. Kami berpisah hari itu. Aku kembali untuk mencari suamimu tetapi tak temukan Lucky Luciano di sana. Mobil tempat persembunyiannya meledak ...."


Reinha terdiam di tempat, beberapa menit sebab berita dari Carlos buat tubuhnya shock berat. Ya, ya, ya, jadi si brengsek itu tak tepati janjinya untuk menjaga diri? Tega sekali dia.


"Enya ... " Panggil Elgio pelan saat lihat Reinha mematung seakan tanpa napas. Reinha tak ingin percaya, ia menggeleng keras. "Kau berjanji padaku, akan baik-baik saja," guman Reinha pelan.


Ia menatap Elgio nanar dengan kehancuran di mata beningnya. "Lihatkan?! Sudah kubilang biarkan saja suamiku di penjara! Aku akan menunggu bahkan 100 tahun, aku tahu dia di sana."


Reinha menggeleng, menoleh pada Carlos dengan tatapan tajam. Ketika Carlos hanya membeku dengan raut datar, Reinha mendadak merasa kehampaannya berlipat ganda dan kesakitan di dalam tubuh seolah ia diremas-remas hingga babak-belur. Reinha tidak ingin percayai itu, tetapi firasatnya terus saja beri warning bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, sejak tahu Lucky akan pergi "bersenang-senang" dengan Francis dan Carlos. Harusnya ia tetap pada pendiriannya untuk tak biarkan Lucky pergi. Apa jadinya sekarang?


"Maafkan aku, Reinha! Kami kembali ke sana, tetapi seorang informan mengatakan ...."


"Cukup," potong Reinha kasar. Ia dekati Carlos kalap, sekonyong-konyong meraih senjata dari pinggang Carlos dan arahkan moncongnya ke leher pria itu, tepat di bawah rahang Carlos yang diam terpaku.


"Reinha!!!" seru Abner dan hampir bersamaan pekikan itu terdengar dari Marya.


"Enya!!!" Elgio mendekat memeluk adiknya dari belakang. Mengecup puncak kepala Reinha coba tenangkan gadis itu. "Kendalikan dirimu, Enya!"


"Aku percaya padamu, Carlos! Tega sekali kau. Bawa dia kembali padaku, aku tak ingin dengar alasan bodohmu! Bawa dia kembali, Carlos Adelberth." Reinha separuh menjerit.


"Reinha ...."


Tatapan marah dan benci Reinha di antara pupil melebar yang mulai buram oleh air mata, cukup untuk katakan ia tak bisa menerima berita yang dibawa Carlos tentang Lucky Luciano. Dadanya sesak. Reinha menahan napas.


"BAWA SUAMIKU KEMBALI, CARLOS!!!" pekiknya marah sebelum tak sadarkan diri.


***


Cintai saja aku ... huhuhuhu .....