
"Elgio ...."
Marya berlarian menyusul Elgio. Pria itu naik mobil dan Marya mengikutinya ke sana. Apa yang Ethan lakukan?
"Ya Tuhan, Ethan Sanchez sengaja membuatmu cemburu. Sadarlah!" seru Marya pelan, memohon pria itu berbalik padanya. Elgio tak gubris.
"Dan kau berkomplot dengannya, Marya? Turunlah dan pergi ke bioskop dengannya! Aku akan kembali ke kantor dan bekerja 24 jam penuh selama setahun hingga terkena anemia akut."
Pria itu memutar mobil kesal.
"Elgio .... Mengapa tak percaya padaku?" tanya Marya mulai stres. "Tolong lihat aku sebentar!"
Elgio diam tak tanggapi dan terus mengemudi. Marya duduk di sisinya serba salah hampir menangis.
"Elgio, kita harus antarkan Ibu."
Tersadar, Elgio buru-buru injak rem dan berbalik. Sementara Salsa perhatikan dua anak itu. Mereka bertengkar setelah perdengarkan tawa bahagia nan mesra tengah malam di rumah ini? Tawa yang tak pernah ada sebelumnya. Salsa bahkan mendengar kata-kata penuh cinta. Ada apakah gerangan?
"Elgio ... " sapa Salsa dan duduk di bangku belakang. Meski balas tersenyum, raut Elgio tak bisa sembunyikan kesal sedang Marya curi-curi pandang pada kekasihnya. Ya Tuhan, sial sekali Ethan Sanchez harus mengada-ada seperti tadi. Lebih sial lagi Elgio termakan umpan Ethan. Mengapa pria sepintar Elgio bisa begini? Marya menutup wajahnya frustasi.
"Kau boleh bangun menara dan mengurungku, aku tak peduli!" kata Marya untuk pertama kali gadis itu merajuk.
"Bukankah aku yang harus marah? Kau pegang-pegangan tangan dengannya, Marya?" serang Elgio gusar. Bagaimana bisa Marya tidak rasakan deritanya? Mengapa Marya tidak juga peka bahwa ia tak suka pada Ethan? Semakin buruk saja. Apakah mereka selalu pegangan tangan di sekolah? Meskipun yang mereka bahas adalah dirinya?
"Demi Tuhan, tak ada apa-apa di antara kami Elgio. Ethan suka kejam padaku dan Reinha. Ethan suka memanas-manasi dirimu dan Tuan Lucky. Tak bisakah kau lihat, dia itu sangat usil? Kalian berdua itukan pria dewasa ... apa tidak konyol menurutku cemburui Ethan?" balas Marya pedas.
Salsa perhatikan keduanya yang ribut di mobil. Manis sekali mereka terang-terangan bertengkar oleh cemburu. Salsa semakin penasaran pada Ethan Sanchez. Arumi uring-uringan sejak pulang sekolah gara-gara Ethan Sanchez dan sekarang Aruhi? Lagi-lagi ... gegara Ethan Sanchez.
"Mengapa Ethan ada di rumahmu?" tanya Elgio tajam.
"Ethan jadi guru les private Arumi."
"Ada banyak orang pintar di luar, mengapa Ethan Sanchez?" Elgio tersenyum sinis.
"Baiklah, bagaimana kalau kau saja yang hadapi Arumi? Kau salah satu orang pintar di luar sana, bagaimana kalau kau saja jadi guru les Arumi? Hmmm?!" Marya makin tertekan. Cemburu memang manis tetapi kalau dengan kadar yang tepat, bukankah Elgio berlebihan? Tadi itu bahkan bukan pegang-pegangan tangan.
"Mengapa kau suka menjawab pertanyaan dengan pertanyaan, Marya? Kau boleh berdekatan dengan siapa saja di dunia ini tetapi jangan Ethan Sanchez, aku tak suka padanya."
Semua cinta, kata-kata manis pada Elgio tentang kekasih, pahlawan, penyelamat seakan tak berfaedah. Marya mendesah jengkel. Apakah Elgio punya insting Ethan sangat menyukainya? Itukah yang buat Elgio sangat benci pada Ethan? Marya sibuk dengan ponsel di sisa perjalanan, searching artikel.
Cara Ampuh Atasi Kekasih Yang Cemburu
Cara Jitu Merayu Kekasih yang Sedang Marah
Cara Hadapi Kekasih yang Cemburu
Marya mendesah kian kesal saat tak ada satupun artikel yang sesuai dengan keinginannya. Oh konyol sekali. Ia tak tahu cara membujuk Elgio. Wajah Elgio muram seperti sore tanpa mentari dan kabut yang mulai berhembus dari sela-sela pohon tambahkan galau. Marya melirik Elgio, ingin minta maaf tetapi ia yakin Elgio akan menyemprotnya lagi dengan kata-kata pedas.
Mereka sampai di Biara dan Padre Pio menyambut mereka dengan jubah kasula lengkap. Marya menggandeng Salsa dan Ibunya berlutut di depan bilik confession untuk mulai pengakuan dosa dan pertobatan. Marya dan Elgio, duduk di bangku paling belakang Kapel saling diam.
Samar-samar, Salsa terisak dan menangis, mengaku dosa pada Tuhan yang tak pernah diakuinya selama selama bertahun-tahun dan mulai mengeluh. Marya tertunduk lesu, tak tega dengar ratap tangis Ibunya. Tetapi Ibu butuh pembebasan jiwa dari dosa dan kesalahan masa lalu. Semoga Ibu benar-benar bertobat setelah ini dan mulai hidup dengan baik dan benar. Tangan Marya terkait oleh perasaan suntuk pada masa lalu mereka yang buruk, juga pada Elgio yang sangsi pada persahabatan dirinya dan Ethan.
Melirik kekasihnya yang suram, Elgio tak sanggup menahan diri untuk memeluk Marya, tetapi teringat Ethan dan Marya tampak sangat mesra bisik-bisik seperti tadi, cemburunya kambuh, jengkelnya betah bertahta lama-lama dalam hati. Terpikirkan untuk membalas Marya, buat gadis itu cemburu, setidaknya Marya rasakan apa yang ia rasakan. Masalahnya, Elgio tidak nyaman berdekatan dengan wanita lain selain Marya meskipun itu cuma mengobrol. Satu perusahaan tahu sikapnya yang satu itu. Lagipula, Marya cukup menderita selama bertahun-tahun, Elgio tak sanggup buat gadis itu sengsara meski cuma pura-pura buat Marya cemburu. Baiklah, ia akan menelan cemburu buta bulat-bulat hingga dinding-dinding ususnya menebal, demi tak akan membalas Marya.
Marya meremas jemarinya semakin kuat dan Elgio tak bisa lebih lama tersiksa lihat Marya begitu. Tangannya terulur menjalin jemari Marya dan rasa-rasa manis menjalari nadi, hangatkan hati yang marah. Marya menoleh berterima-kasih sebelum bersandar pada bahunya dan genggaman mereka makin erat.
Salsa di bangku paling depan, di hadapan altar suci, menerima penitensi untuk dosa-dosanya.
"Apakah kita berbaikan?" tanya Marya pelan.
"Ya, maafkan aku yang berlebihan," ujar Elgio.
"Aku juga minta maaf karena buatmu kesal."
"Sudahlah, aku akan membalas Ethan Sanchez nanti. Berani sekali ia kejam pada Istriku dan adik Perempuanku."
"Itu karena kami di luar kontrol. Kami selalu melamun saat belajar." Ternyata perkataan Marya barusan disalah tafsir oleh Elgio. Pria itu hempaskan napas keras.
"Kau membelanya Marya? Apa ini? Apa mau-mu?"
"Kenyataannya Ethan tidak salah, aku memikirkanmu sepanjang hari dan hilang fokus."
Mereka krasak-krusuk di bangku belakang, terus berbisik keras dan beradu pendapat.
"Terserah kau saja, Marya." Elgio gemas dan kembali ngambek.
Mereka kembali ke Paviliun dalam diam dan saling berengut sama lain. Marya duduk di bangku belakang bersandar pada Salsa, saling berbagi kasih. Mata Marya dan mata Elgio sering bertemu di spion mobil. Mata Elgio yang sangat Marya sukai tetapi Elgio tak lama-lama di sana buat Marya kecewa.
"Elgio, kau bilang cinta padaku tetapi cinta saja tidak cukup, kau harus percaya padaku. Itu intinya," jerit hati Marya.
Sementara Ethan Sanchez duduk perhatikan Arumi yang belajar. Ia berikan soal paling mudah untuk Arumi dan pening saat gadis itu hanya putar-putar balpoin di tangannya seakan itu lebih menarik ketimbang rumus Matematika.
"Kau mau minum?" tanya Arumi mulai bosan, pandangi Ethan takut-takut.
"Tidak. Aku bawa minum," sahut Ethan tanpa senyum sembari keluarkan botol minum ukuran kecil dan letakan botol itu di meja dekat Arumi.
Arumi mengambil botol minum Ethan dan minum sampai tandas.
"Hei Arumi ... apa yang kau lakukan?"
"Nah, kau tak punya minuman." Botol itu digoyang-goyang depan Ethan. "Aku ambilkan ya?" Gadis itu bangkit dengan cepat dan segera menghilang.
"Kembali kau, gadis bodoh. Kau belum selesai kerja ...."
Braaaakkkkk!!! Pintu ditutup dengan sangat keras seakan ingin berteriak, "Bicaralah pada pintu."
"Aku bisa gila kalau terus begini. Baiklah, aku menyerah saja. Lebih baik aku beri les privat pada lumba-lumba atau para domba di padang," keluhnya. Entah apa yang harus Ethan lakukan padanya. Arumi kembali dengan dua gelas lemon tea.
"Minumlah, kau pasti haus," katanya dengan tampang menyebalkan seperti biasa.
"Tidak! Selesaikan soal itu Arumi. Kau tahu itu soal sistem persamaan linear paling mudah, masa segitu saja kau tak tahu?"
Arumi berengut dan mulai mengoceh panjang. "Memangnya kita butuh sistem linear dalam kehidupan sehari-hari? Apa kita ke supermarket dan bawa-bawa rumus ax + by + cz \= d ... bukannya uang? Apa pentingnya fungsi linear? Apa para pekerjaku mencuci piring gunakan rumus linear? Apa para petani menanam tanaman gunakan fungsi linear?"
Ethan terperanjat. Ingin sekali memukuli otak kecill gadis itu dengan buku.
"Ya Tuhan, Arumi. Apa kau sebodoh ini?" tanya Ethan keheranan. Seumur hidup baru pertama kali ia bertemu dengan seseorang yang sangat bodoh. "Kau tak pantas ada di sekolahku!"
"Baiklah. Aku akan coba selesaikan!"
Lima menit kemudian Ethan mengecek pekerjaan Arumi dan terbelalak, tak ada jawaban, hanya ada sketsa wajah tidak jelas dengan tanduk tujuh di kepala.
Reinkarnasi iblis bertanduk 7 ... Ethan Sanchez ....
"Gadis bodoh ini benar-benar. Berdiri di pojok sana dan jongkok bangun 20 kali!" hardik Ethan coba bersabar.
Arumi melotot, "Tidak mau!"
"Ke sana cepat! Kau menulis umpatan untukku di kartu perpustakaan, aku belum lupa," seru Ethan Sanchez habis sabar dan mengetuk kepala gadis itu tiga kali hingga Arumi meringis kesakitan.
"A,a,apa? Bukan aku! Darimana kau tahu itu aku?" Arumi gagap, gugup dan ketakutan.
"Hanya orang idiot yang menulis umpatan dan bubuhi tanda tangan. Sana atau mau kuketuk lagi otakmu biar terang-benderang?" Ethan mengepal tangannya dan siap buat beberapa ketukan saking gregetan pada Arumi.
Arumi cepat-cepat menyingkir ke pojok masih menggerutu. Ia jongkok bangun di sana sambil mengumpat. Sedang Ethan mencari cara agar gadis itu paham sistem linear. Ini tak akan mudah, gadis itu tak suka matematika dan tak suka padanya. Relasi yang bagus untuk membuatnya malas belajar.
"Jika Matematika tidak penting untuk kehidupan, manusia tak akan repot-repot masukan Matematika sebagai pelajaran wajib dalam kurikulum!"
"Baiklah, kemarilah dan minum teh-mu! Kau pasti capek jongkok bangun di situ."
"Kau tak minum?" tanya Arumi. "Itu enak!"
"Kau duluan! Bagaimana jika kau tak bisa bedakan gula dan garam?"
Arumi yang kesal meraih lemon tea-nya dan segera minum. Masih sedikit, ketika pupil matanya melebar pertanda minuman itu tidak enak tetapi ia terus saja minum sampai habis untuk yakini Ethan. Arumi angguk-angguk pada gelas yang kosong.
"Enak sekali!" katanya tetapi ekspresi wajahnya tampilkan hal kebalikan. Ethan meneguk sedikit dan geleng-geleng.
"Ini asinan lemon atau apa? Sudah kuduga kau tak bisa bedakan gula dan garam," keluh Ethan. "Jika ada kontes kebodohan, kaulah pemenangnya."
Ethan bereskan buku-bukunya, ia akan pergi dan hadapi Arumi tanpa strategi yang tepat seperti pergi ke Medan pertempuran tanpa senjata.
"Apa kau menyerah padaku?" tanya Arumi penuh harap.
"Tidak, besok sore aku akan datang lagi dan aku akan lebih serius dari hari ini. Sampai jumpa Arumi, trims untuk lemon tea-mu yang berasa seperti minum air laut."
Arumi jatuhkan diri di sofa. Menyebalkan sekali. Jadi artis jauh lebih menggairahkan.
Ethan keluar dari sana tepat ketika Salsa, Elgio dan Marya datang.
"Nyonya ... aku Ethan Sanchez," kata Ethan menyapa Salsa.
"Halo Ethan. Senang kau bisa datang hari ini. Bagaimana Arumi?" tanya Salsa penasaran.
Okey, anak-anaknya perdebatkan Ethan Sanchez dan itu sangat masuk akal. Meski masih remaja, Ethan Sanchez tampan, berkarisma dan sangat dewasa. Tatapan matanya juga tajam dan kejam tetapi saat ia tersenyum ia menangkan atensi orang lain.
"Bagus Nyonya ... " jawab Ethan berbohong. "Jika diijinkan aku ingin bicara Marya? Bisakah?" tanya Ethan Sanchez.
"Ya, katakan saja di depanku!" sahut Elgio dingin sebelum Marya sempat menjawab.
Marya menengok Elgio lalu pada Ethan, "Ada apa?"
"Aku tak bisa jadi guru les Arumi."
"Kenapa?" Salsa dan Marya barengan bertanya heran.
"Baguslah! Aku akan cari orang lain yang lebih kompeten," sahut Elgio Durante.
"Ya Tuhan, Elgio ...." Marya pandangi Elgio gelengkan kepala seakan bertanya, "Ada apa denganmu?"
"Kalian sedang marahan?" tanya Ethan penuh selidik. "Apa karena aku?!"
"Mengapa kami harus marahan? Karenamu pula? Kami baik-baik saja. Sentimen-mu benar-benar buruk, Ethan Sanchez." Elgio menarik Marya mendekat dan memeluknya mesra. Salsa batuk-batuk kecil dari sebelah. Elgio cemburunya terlalu terang-terangan. Astaga.
"Aku rasa sentimen-mu tak terkendali, Elgio Durante. Meski begitu, aku tersanjung kau sangat cemburu padaku. Gadis itu memikirkanmu sepanjang hari sampai-sampai tak fokus belajar. Ia sering malu-malu sendiri seperti orang bodoh di sekolah."
Elgio dongkol hingga ke ubun-ubun dan sangat ingin menendang Ethan keluar dari dalam rumah sementara Marya mendelik pada Ethan Sanchez dan dibalas mata Ethan yang menyipit.
"Apa aku salah? Jangan terlalu pacaran Marya! Kau dan Reinha akan aku keluarkan dari tim jika kalian terus saja mengingat ciuman bersama kekasih saat sedang belajar! Itulah mengapa remaja 17 tahun tak boleh mengenal berciuman. Otak mereka mulai hang oleh produksi hormon berlebihan, baik kau dan Lucky Luciano bertanggung jawab untuk efek negatif yang mereka berdua derita. Aku tak mungkin bawa Arumi pergi ke lomba karya ilmiah dan permalukan nama baik sekolah."
"Baiklah, Ethan. Aku dan Reinha akan berusaha untuk fokus. Nah, ada apa dengan Arumi? Apa kau masih marah soal puisi umpatan yang Arumi tulis dan dibaca oleh Tuan Lucky tadi siang?" tanya Marya pelan.
Wajah Ethan merah padam kentara ia sangat marah soal itu hingga Elgio penasaran.
"Tidak ...." Adikmu sangat bodoh. "Bukan itu."
"Lalu ada apa?"
"Lupakan saja! Aku akan datang besok sore. Aku permisi."
Ethan buru-buru pergi dan Elgio lepaskan tangannya dari Marya.
"Aku juga harus pergi, Nyonya Salsa," kata Elgio hingga Marya menoleh padanya.
"Tidak, tolonglah! Jangan pergi!" ujar Marya panik. Pria itu masih kesal. Mereka tak boleh berpisah tanpa berbaikan tetapi Marya tak tahu caranya buat mood Elgio membaik.
"Kami pergi Ibu!"
Marya memegang tangan Elgio dan menyeret paksa pria itu pergi ke lantai dua, ke ruang buku. Arumi keluar dari sana dengan wajah tak beraturan. Marya tidak ingin bertanya, tahu pasti Ethan sangat keras pada Arumi. Berbeda dengan Elgio yang tersenyum sok-kenal-sok-dekat saat melihat Arumi.
"Kau memang gadis hebat, Arumi," kata Elgio hingga Arumi terheran-heran.
"Sepertinya puisimu untuk Ethan Sanchez sangat bagus meski aku belum baca. Tingkatkan ya, aku ada di pihakmu. Semangat lah!"
Dahi Arumi mengerut keheranan, "Puisi apa, Kak? Tadi Lucky Luciano juga bilang soal puisi ... puisi apa? Aku tak pandai menulis puisi, untuk Ethan Sanchez pula? Kalian sungguh aneh. Aku hanya memakinya!"
"Nah, itu dia maksudku. Isi pikiran kita sama." Elgio kerlingkan mata jenaka.
Arumi perhatikan Elgio seolah pria itu mendadak gila sebelum melengos pergi. Marya menutup pintu di belakang mereka setelah Arumi pergi.
"Bisakah kita berbaikan? Kau dengar sendiri, Ethan suka jahil."
Elgio pergi ke rak buku. "Aku punya perasaan aneh tiap lihat Ethan. Aku yakin jika tak bertemu aku, kau akan pacaran dengannya."
Marya setengah berlari pada Elgio dan memeluk pinggang pria itu dari belakang.
"Baiklah, katakan apa maumu Elgio Durante. Aku sangat mencintaimu tetapi kau selalu ragukan aku," kata Marya terdengar putus-asa.
"Apa pendapatmu, jika seorang wanita lain punya foto lukisanku dari Al Shiva untuk kekasih masa depannya?"
"Eh?! Apa yang kau bicarakan?"
"Reporter yang dilukis Al Shiva setelah kamu, dia punya lukisan wajahku untuk kekasih masa depannya. Bagaimana menurutmu?" tanya Elgio berbalik pada Marya dan melihat reaksi gadis itu.
"A,aku tak mengerti."
"Aku adalah kekasih masa depan dari seorang gadis lain bernama Irish Bella."
Marya lepaskan pelukannya, ia tercengang dan menatap Elgio tidak suka. Matanya bergerak gelisah, tidak nyaman dan serangan akan takut kehilangan yang tampak sangat nyata.
"Itu tidak benar, kau milikku," guman Marya melirih. "Aku tak akan membagimu dengan wanita manapun di dunia ini, tidak akan," gumannya nelangsa nyaris menangis.
"Apa kau cemburu?"
"Aku sakit hati," kata Marya memegangi dadanya. "Kau milikku dan tak ada yang boleh menyentuhmu selain aku."
Elgio mengangkat wajah yang ketakutan itu.
"Nah, seperti itu aku, jika kau dekat-dekat dengan laki-laki lain."
"Apa kau berencana punya istri lebih dari satu, Elgio?"
"Jangan konyol, itu tidak akan terjadi." Elgio mendekapnya erat-erat. Kecupan di puncak kepala dan pelukan hangat.
"Aku mencintaimu, Marya. Kau lihat aku cemburu seperti orang idiot, bertingkah seperti pria gila. Aku hanya mencintaimu."
***
Chapter ini semoga suka. Aslinya udah kutulis tadi pagi jam 3 sebelum aku pergi rias pengantin. Tapi pas mau di-update, draftnya sisa 300 kata, 2000 kata lebih ilang. Kebayang shock-nya aku, harus nulis ulang dan udah tak sama lagi.... Huhuhuuuuuu .... Banyak tipo di sini. Tolong beritahu aku.
Siapkan batinmu untuk Chapter 71.