Heart Darkness

Heart Darkness
63 Si Seksi Lucky Luciano ....



Bunyi motor menderu di jalanan. Reinha duduk di boncengan, memeluk Lucky erat-erat lantaran ia merasa akan terbang bebas ke langit biru saking ngebutnya Lucky menunggangi motor besar itu. Ia hanya bersandar pada punggung Lucky, berdebar-debar aneh sebab menaiki motor bersama pria itu telah mengganti patah hatinya berubah jadi sensasi manis. Terlebih saat tangan kiri Lucky Luciano kedapatan lepas bebas dan meremas jemarinya. Reinha merasa aliran darahnya berubah menghangat sangat nyaman juga oleh perasaan indah tanpa bisa dipahami lewat kata-kata. Mereka akan segera berbaikan. Ia akan mengontrol harga diri, pengertian pada Lucky, tak akan membuat patokan ganjil, balas dendam konyol sebab dirinya dan Lucky punya sesuatu yang istimewa. Hati mereka berdetak sangat dekat.


Mereka di jalanan menuju keluar kota, entah kemana, Lucky Luciano macam backpacker misterius. Ia punya banyak tempat rahasia dalam peta hidupnya hingga membuat Reinha terheran-heran.


Mereka tak bicara, hanya saling merapatkan jarak dan merasakan satu sama lain. Tentu saja, mengebut dengan kecepatan tinggi dengan pusara angin seakan berlomba mengejarmu, kau sebaiknya katupkan gigi-gigimu kecuali kau sangat suka makan angin.


Sementara Lucky menahan gelora dalam hati saat laju motor melambat dan Reinha menaruh dagu pada bahu dan bernapas di belakang lehernya. Tanpa jarak, kembali dekat hingga terbersit ide berlari sejauh mungkin dengan Reinha melekat di punggungnya. More chance, keduanya membuat histori yang tak mungkin terlupakan.


Motor berbelok di sebuah jalan kecil di kilometer 22 di antara Flamboyan yang teduh menuju sebuah bangunan tampak tua tetapi sangat terawat. Beberapa pekerja hilir mudik dengan mesin pengangkut barang elektrik. Mereka memutari gudang yang Reinha kenali sebagai gudang stokist sebab Dream Fashion juga punya satu persis ini untuk menaruh item setelah selesai diproduksi sebelum mengirim mereka untuk dipajang di outlet. Motor berhenti di parkiran khusus dalam ruangan lain yang tersembunyi.


"Turunlah!" Akhir-akhir ini aku sangat merindukanmu hampir sakit jiwa.


Lucky berkata tetapi terus memeluk tangan Reinha hingga gadis itu hanya diam dan menaruh dahinya di punggung Lucky. Tak ada kata hanya jeda mengisi udara dalam basement parkiran selama beberapa menit.


"Apa kau ingin kita pergi lebih jauh?" tanya Lucky berat. Jika saja pukul tujuh mereka tidak harus ke Paviliun Diomanta, Lucky ingin membawa kabur gadis itu berkelana di jalanan negara dan mungkin akan berakhir di penginapan di tengah padang savana. Mereka mungkin akan melangkah sangat jauh dan lewati batas.


No no no good! And don't!!!


Ia mungkin akan dilaporkan ke pihak berwajib karena membawa kabur anak orang. Elgio mulai luluh padanya, suatu kemajuan penting, dan Lucky tak akan hancurkan itu. Ia akan bersama Reinha di waktu yang tepat atas seijin walinya.


Lucky memegangi satu tangan Reinha kuat agar gadis itu turun dengan aman dari boncengan. Ia menarik Reina hingga mendekat padanya sebelum tanggalkan helm tanpa berani bertatapan kemudian menuntun Reinha melangkah lewati mobil-mobil rongsok, karatan dan berdebu.


"Ke mana kita?"


"Refreshing ... " sahut Lucky pendek.


"Lebih spesifik!"


"Menembak seseorang. Hanya itu yang bisa kulakukan. Aku tak bisa membantumu membuat karya ilmiah karena amunisi otakku hanya berisi sesuatu yang praktis, pragmatis, anarkis. Kecuali karya ilmiahmu adalah prosa dan puisi, aku akan berdiri di sampingmu. Kau bisa salurkan amarahmu dengan menembaki target sesuka hati, setelah itu kau akan merasa baikan. Beri saja aku kesempatan." Kata-kata Lucky Luciano terdengar antara memendam marah, sakit hati, cemburu dan harga diri yang terluka.


"Aku tak ingin itu!" protes Reinha pelan. Lebih baik berkendara berjam-jam. Mungkin suasana baru bisa membantunya mengontrol emosi. Ia menyukai Lucky di atas motor.


"Apa kau mau melihat para pekerja mengisi item ke loker? Kita bisa ke gudang dan menaiki hand stacker," Lucky berhenti dan berbalik padanya. Hand stacker, mesin pengangkut barang di gudang yang modelnya seperti garfu. Reinha palingkan wajah hindari Lucky.


"Aku tak tahu caranya minta maaf padamu dan obati luka hatimu. Aku tak bisa mengajakmu ke restoran atau ke hotel dengan jutaan mawar, minum kaviar dan dengarkan musik yang memabukkan karena endingnya akan buruk." Ia berkata sangat jujur. Sepasang kekasih yang sedang ribut biasanya menyimpan hasrat menggebu yang meledak-ledak dan akan susah di atasi setelah satu kecupan perdamaian. Apalagi jika kondisi cukup kondusif, well, tak perlu mencoba.


"Baiklah. Terserah kau saja."


"Aku akan jadi instruktur-mu kemudian kamu bisa tahu bisnis yang sedang aku kerjakan, kau tak akan terkejut sih. Untuk saat ini kita hanya akan bersenang-senang. Hmmm?!"


Bersenang-senang ala Lucky agak berbeda dengan bersenang-senang versi pria romantis tetapi Reinha seakan menunggu bersenang-senang yang pria itu maksudkan. Terakhir kali pria itu katakan bersenang-senang, mereka berakhir dengan tujuh ciuman di tengah hutan, bonus satu di bawah lampu merah.


Lucky membuat keputusan. Mereka akan lakukan keduanya. Ia akan jadi instruktur dadakan Reinha hari ini kemudian mereka akan mengurus item untuk distro yang baru selesai diproduksi. Kaki-kaki mereka menggema di gedung yang kosong. Lucky melepas jaket dan menaruh tas sekolah Reinha di laci penyimpanan.


"Bos?! Anda di sini?"


Seorang pria setengah baya menyapa keheranan terlebih si pria yang dipanggil Bos itu, membawa seorang gadis berseragam sekolah. Apa yang hendak dilakukannya bersama gadis itu?


"Hai D. Kami akan berlatih menembak." Lucky berbalik ke Reinha. "Ini ... D. Beliau yang bertugas menjaga dan merawat persenjataan dan amunisi, sangat ahli."


"Hai Tuan, aku Reinha Durante. Senang mengenalmu," sapa Reinha sopan.


Si pria mengernyit, "Nona Durante yang membuat kekacauan di Puri Luciano beberapa Minggu lalu, kan?"


Reinha tersenyum seadanya, melirik Lucky Luciano yang terlihat kedipkan bahunya. Mereka punya banyak kisah ternyata.


"Katakan apa yang Anda butuhkan, Bos?" tanya D kembali pada Lucky.


"Aku butuh Macarov dan Revolver, D," kata Lucky.


"Baik, Tuan."


Seandainya Reinha Durante adalah wanita dari kartel mafia lain yang sedang menyamar maka selesailah mereka. Lucky menatap Reinha, mencoba mencari tahu isi hati gadisnya. Tetapi Reinha tidak tertebak. Reinha hanya tak habis pikir, cara berbaikan yang tidak lazim dari Lucky Luciano. Memang luar biasa.


D kembali dengan cepat bersamaan dengan dua orang lain memasuki ruangan. Reinha kenali keduanya, para gangster yang temani kencan aneh di pondokan tepi danau.


"Bos memanggil kami?" tanya B.


Lucky mengangguk langsung menunjuk ke arah papan target berukuran sangat besar, 20 meter di depan.


"Berdiri di sana, B!"


"Hai Nona Durante. Apa kabarmu? Kita kalah waktu itu gara-gara Bos-ku mengacau dengan salah satu prajurit wanitanya."


Lucky berdecak, "Kau ini, cepat ke sana!"


"Baik Bos."


B menyengir. Ia patuh dan melesat cepat ke papan sasaran berdiri sembari bentangkan kedua tangan. Lucky ancang-ancang menembaknya. Reinha perhatikan dalam diam. Ia akan melihat pria itu menembak, sesuatu yang hanya ada dalam imajinasinya. Wow, dia luar biasa jika saja pria itu, Pasukan Khusus, agen FBI atau CIA alih-alih seorang mafia. Reinha akan menyebut kekasihnya kini, Cowboy.


Tidak berapa lama, dentingan peluru mendesing dan gelegarnya memecahkan keheningan ruangan. Selongsong demi selongsong melenting jatuh ke lantai. B berdiri tak gentar. Jadi ketika Lucky memberi aba-aba, Reinha gantikan posisinya, B langsung gemetar. Sesegera mungkin hendak kabur.


"Bos, aku harus ke toilet!" serunya mencari alasan. Lucky acungkan pistol ke tempatnya berdiri.


"Diam di tempatmu atau dengan senang hati kau kutembak!"


"Bos, aku tak ragukan Anda, tapi ...." Pria itu melihat ke Reinha ketakutan sambil gerayangi badannya sendiri. Mengerikan jika salah satu organnya terkena peluru kekasih bosnya itu.


"Kau mau mati sungguhan?" Lucky mengangkat pistol.


"B ba, ba-aik Bos." Pria itu berdiri pasrah sementara Revolve berpindah ke tangan Reinha.


"Kau tahu Enya, dalam menggunakan senjata kau butuh konsentrasi yang tinggi, tidak emosional dan fokus." Ia pergi ke belakang Reinha sedang Reinha memutar bola mata jengkel. Pria brengsek ini, harusnya mengajaknya berdamai alih-alih bertingkah seperti instruktur sungguhan dalam latihan menembaki sasaran. Reinha telah latihan menembak secara teratur dan disiplin sangat tinggi agar bisa menculik Lucky Luciano suatu waktu meski ia tidak maksimal malah kemajuannya lambat.


"Angkat senjatamu, tahan napas, bidik dan tembak. Kau bisa?" tanya Lucky.


Reinha mengangguk tak yakin sehingga B yang membaca gelagat Reinha semakin menciut di papan sasaran. Ya Tuhan, apa yang sedang bosnya lakukan? Ia menyuruhnya jadi kelinci percobaan untuk kekasihnya yang baru belajar menembak?


Reinha mengangkat senjata, mencoba fokus dan itu sangat susah sebab Lucky bernapas di belakangnya. Reinha bingung, apakah ia harus berbalik saja dan menembak Lucky Luciano? Lucky tampak sangat percaya diri saat menghadang mereka di gerbang sekolah dengan motor besarnya. Apakah ini cara mereka akan berdamai? Reinha menggeleng, coba fokus.


"B-Bbb-bossss, taaahannnnnn!" seru B takut mati. "Bisakah aku ambil napas sebentar?"


"Tenanglah B! Kau lihatkan waktu Enya di hutan? One shoot - one kill, ia hanya akan menembaki angka di sekitarmu bukan menembaki kepalamu! Kau ini percuma tampang seperti gangster tapi hati bak buah melon?"


B meneguk ludah, "Baiklah!"


Ia menutup mata mengucap selamat tinggal pada dunia sebab Nona Durante sangat meragukan.


Lucky menuntun untuk mulai menembak. Pria itu menarik napas berat. Omong-omong soal fokus, bagaimana ia bisa fokus sementara aroma Jasmine itu mengganggu jalan pikirannya. Jika sedang di medan laga sungguhan, ia adalah orang pertama yang gugur sia-sia.


Lucky betulkan posisi berdiri Reinha. Pria itu berbisik, "tarik napasmu, tahan, bidik dan tembak!"


Dorrr!!!


Peluru menyala, melesat dan mendarat di ujung pucuk telinga B nyaris melukainya. Si kelinci percobaan bergidik ngeri. Dibantu saja begitu apalagi tak dibantu?


"Kau bisa sendiri?" tanya Lucky.


Reinha merasakan detak jantung pria itu berdenyut tidak normal. Napas pria itu memburu di dekatnya. Well, jadi mereka gugup berdekatan satu sama lain.


"Kau sepertinya tidak fokus, Lucky Luciano!" gerutu Reinha spontan berbalik padanya. Ia menodong senjata pada Lucky.


"Ke sanalah, Lucky Luciano! Aku tak bisa menarik napas sementara kau bergairah di punggungku. Lagipula, bukan B yang harus kutembak." Reinha anggukan pistol dari Lucky ke arah papan sasaran. Mendengar itu, B langsung melompat dan menghilang. "Aku harus ke toilet Bos!"


"Hei, Enya?!"


Lucky terperanjat menatap gadis yang kelihatannya sangat serius.


"Pergilah ke sana, Lucky Luciano! Aku serius."


Seperti sandera benaran, Lucky pergi ke papan target.


"Aku mendapat nilai sangat rendah untuk akurasi," kata Reinha wanti-wanti.


"It's okay, kau hanya perlu tahan napas, bidik dan tembak! Okay?" Lucky mendukung gadis itu sungguh-sungguh meski nyali-nya menyusut drastis.


"Apa kau takut? Kau belum pernah dengar seorang murid jadikan instrukturnya sasaran?"


"Baiklah, terserah kau saja, asal kau merasa baikan dan kita bisa bersama."


Lucky menyerah pada Reinha, pasrah. Reinha mengangkat pistol tetapi tiba-tiba Lucky bergerak di kancing-kancing kemejanya, melepas mereka satu-persatu dan menjatuhkannya di lantai.


"Apa yang kau lakukan? Kau bisa mengganggu konsentrasi-ku?" keluh Reinha tak menyangka Lucky akan begitu.


"Kau tak akan mampu menembak pria seksi, jadi, untuk jaga-jaga saja," sahut Lucky Luciano jahil. Ia mengangkat tangannya. Otot-otot mencuat keluar tanpa malu-malu di lengan cokelat terang kemerahan dan ia bersandar santai bak seorang model saat pembuatan poster. Terpampang candid pada busa di belakangnya. Reinha menahan napas.


Em, apa dia termasuk 10 pria tertampan di dunia? Mampuslah kau, Enya.


"Baiklah, tembak saja hatinya atau jantungnya. Tahan napas, bidik ...." Reinha menggeleng bimbang. "Fokus!" Ia menurunkan pistol masih ragu-ragu.


"Bagaimana aku bisa fokus, dia kelihatan sangat seksi di sana, menyerah padaku," gerutunya jengkel. Apa ia jadi peluru saja? Menerjang pria itu di papan sasaran? Wajahnya memerah.


"Apa yang kau tunggu?"


"Oh sial, brengsek gila itu menggodaku," keluhnya mulai limbung. Apakah seseorang bisa menembak target jika targetnya adalah seorang pria tampan dengan dada bidang berkotak-kotak kering yang sangat menggiurkan. Rambutnya sengaja dicerai-beraikan dan itu bikin Reinha semakin menggila.


Reinha mengangkat pistol sekali lagi, ia pejamkan mata sejenak. Ia tarik picu lalu dengan lembut melepas tembakan ke empat sisi tubuh Lucky.


Empat selongsong berdentingan dan satu yang terakhir ketika ia melihat Lucky Luciano meringis.


Aaarrrggghhhhh .... Tembakan itu mengiris bahu Lucky. Gadis itu terkejut.


"Apa kau baik-baik saja di sana?" tanya Reinha.


Lucky memegang bahunya yang berdarah dan berdiri kesakitan.


"Ya Tuhan ... apa kau baik-baik saja?" Gadis itu berlari panik dan wajahnya yang ketakutan membuat Lucky Luciano semakin pura-pura menderita.


"Apa kau benar-benar ingin membunuhku?" tanya Lucky keheranan. Ia terperosot duduk di lantai pegangi bahunya.


"Kau sengaja mengangkat bahumu, kan? Kau ingin menjebakku? Bukankah kau instruktur hebat? Masa kau tak bisa melihat kemana peluru terbang?" Reinha memeriksa pundak pria itu. "Mengapa kau melepas kemejamu? Kau mengacaukan penglihatanku! Nah, di mana kotak obat?"


"Oh tidak, jangan pergi mencari kotak obat, kau akan temukan aku mati terkapar sebab di sini tak ada kotak obat."


Reinha lepaskan dasinya, singkirkan tangan Lucky dan menahan luka.


"Maafkan aku," ujarnya pelan sembari berlutut dan menopang satu kaki.


"Apakah kau berhenti marah padaku kini?!"


"Sejak pagi tadi. Aku takut kau pergi dan menghilang," jawab Reinha muram.


"Tidak akan tanpa seijinmu, Enya." Pria itu bicara sangat lirih, matanya bersinar kelabu. Ia tak ingin menatap mata Reinha takut berakhir ricuh.


Reinha meraih wajah Lucky dan menatapnya dalam-dalam. Ia tersenyum lembut dan tulus hingga Lucky merasa mereka benar-benar telah baikan. Ia menyatukan dahi mereka.


"Kau sungguh menakutkan saat merajuk. Aku benar-benar tak akan asal bicara lagi."


Ketika kekasihmu mengirimkan isyarat kontak mata, memandang bergulir ke bibirmu dan kembali ke matamu? Apa yang dia inginkan selain berciuman?


Reinha melakukan hal itu mencoba jujur pada apa yang ia rasakan. Ia menangkup pipi Lucky Luciano yang tumben membeku seperti patung salju, miringkan kepalanya dan menyentuh Lucky dengan satu sapuan lembut.


Lucky Luciano tak pernah menyangka suatu waktu ia akan pasrah pada seorang Reinha Durante. Ia menyambut bibir gadis itu dengan kehendak bebas, melupakan goresan di bahunya, menjatuhkan gadis itu di atas pangkuan dan menciumnya mendalam. Tangan Reinha membelai wajahnya, turun ke lehernya, bersenang-senang di sana dan Lucky Luciano mengerang hampir mati gila.


French kiss dimulai setelah intensitas pandangan yang menggetarkan kalbu. Ciuman basah nan panjang yang romantis di ruang penyimpanan senjata seorang badboy.


***


Ya ya ya, halu saja mbak-mbak.


Akh, aku malas mau nulis soal mereka ciuman panjang lebar. Kecuali ada yang mau nanggung dosaku. Aku akan menulisnya dalam 500 kata... Hehe....


Follow me ya, aku akan mengundang Readers ke group dan Readers boleh menyerangku atau mengomel padaku (atau boleh barengan halu).


Greeting from dataran tinggi Bajawa.


Senja Cewen...


Rimagasi, Jao Mora Neè Masa Miu ....


Makasih untuk dukungannya (membungkuk)....